MODUL IAQD201 INTERNATIONAL OPEN UNIVERSITY


image


image

image

-

RINGKASAN SVARAH AKIDAH THAHAWIYAH

image lbnu Abil lzz AI-Hanafi


DIRINGKAS OLEH: ABDUL MUN'IM SHALIH AI-IZZI

image

RINGKASAN SYARAH AKIDAH THAHAWIYAH

Terjemah Islamic Creed by Abu Jafar Ahmed Salamah Al-Azadi Al-Thahawi (English) / Ushul Al- Akidah Al-Islamiyah Allati Qarraraha Al-Imam Abu Jafar Ahmad bin Salamah Al-Azadi Ath- Thahawi (Arab)

Karya Abdul Mun’im Shalih al-Ali al-Izzi

Dalihbahasakan dari versi Bahasa Inggris karya Syed Iqbal Zaherr oleh Tim Penerjemah IOU

Disunting dan diberikan catatakan kaki oleh Salik Abu Suhayl

Email: salik@bahasa.iou.edu.gm / salik.asuhayl@gmail.com

Jika Anda menemukan kesalahan tulis, kekeliruan penerjemahan, atau terdapat bagian dalam buku ini yang kurang dimengerti, silakan hubungi penerjemah via email atau sosial media.

Follow Salik Abu Suhayl

Facebook : https://web.facebook.com/salik.abu.suhayl Instagram : https://www.instagram.com/salik_abu_suhayl/ Telegram : https://t.me/salik_abu_suhayl

Youtube : https://www.youtube.com/@salik_abu_suhayl

Follow IOU Indonesia

Facebook : https://web.facebook.com/iouindonesia1 Instagram : https://www.instagram.com/iouindonesia/ Telegram : https://t.me/officialiouindonesia

Youtube : https://www.youtube.com/@iouindonesia3927

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i

PENGANTAR PENERBIT iii

KATA PENGANTAR vi

MUKADIMAH IBNU ABI AL-IZZ xiv

FASAL: TAUHID 1

FASAL: TIDAK ADA YANG SERUPA DENGAN ALLAH 14

FASAL: TIDAK ADA YANG BISA MENGALAHKAN ALLAH 18

FASAL: TIDAK ADA YANG ILAH YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLAH 20

FASAL: DIALAH YANG AWAL DAN YANG AKHIR 21

FASAL: DIA TIDAK FANA DAN TIDAK MUSNAH 24

FASAL: APA YANG ALLAH KEHENDAKI PASTI TERJADI 25

FASAL: DIA TIDAK BISA DIJANGKAU OLEH AKAL MANUSIA 28

FASAL: ALLAH TIDAK SERUPA DENGAN MAKHLUK 29

FASAL: ALLAH MAHA HIDUP DAN MENGURUSI MAKHLUKNYA 31

FASAL: ALLAH MAHA PENCIPTA DAN PEMBERI REZEKI 33

FASAL: ALLAH MEMATIKAN MAKHLUK DAN MEMBANGKITKANNYA 35

FASAL: ALLAH SENANTIASA DISIFATI DENGAN SIFAT-SIFATNYA 36

FASAL: TASALSUL AL-HAWADITS 39

FASAL: ALLAH SENANITASA DISIFATI DENGAN SIFAT-SIFATNYA 43

FASAL: “TIDAK ADA SESUATU PUN YANG SERUPA DENGAN-NYA. DAN DIALAH YANG MAHA

MENDENGAR LAGI MAHA MELIHAT.” 44

FASAL: ALLAH MENCIPTAKAN MAKHLUK DENGAN ILMUNYA 46

FASAL: ALLAH MENETAPKAN TAKDIR DAN AJAL 48

FASAL: TIDAK ADA YANG TERSEMBUNYI BAGI ALLAH 52

FASAL: PERINTAH DAN LARANGAN ALLAH 53

FASAL: SEGALA SESUATU TERJADI DENGAN TAKDIR-NYA 54

FASAL: HIDAYAH TAUFIK DI TANGAN ALLAH 56

FASAL: IMAN KEPADA NABI MUHAMMAD 58

FASAL: AL-QURAN ADALAH KALAMULLAH 68

FASAL: TIDAK BOLEH MENYIFATI ALLAH DENGAN SIFAT MANUSIA 80

FASAL: MELIHAT ALLAH DI SURGA 81

FASAL: KOKOHNYA KEISLAMAN SESEORANG 93

FASAL: (LANJUTAN) BERIMAN KEPADA RU’YATULLAH 96

FASAL: SIFAT-SIFAT KEESAAN ALLAH 102

FASAL: MENETAPKAN JIHAH (ARAH) DAN JISIM (JASAD) UNTUK ALLAH 103

FASAL: ISRA DAN MIKRAJ 108

FASAL: TELAGA RASULULLAH 114

FASAL: SYAFAAT 115

FASAL: PERJANJIAN ADAM DENGAN ALLAH 123

FASAL: PENGHUNI SURGA DAN NERAKA SUDAH DITETAPKAN 124

FASAL: TAKDIR ADALAH RAHASIA ALLAH 127

FASAL: WALI-WALI ALLAH 134

FASAL: IMAN KEPADA LAUH MAHFUZH DAN TAKDIR YANG TERTULIS DI DALAMNYA 136

FASAL: ARSY DAN KURSI ALLAH 145

FASAL: IBRAHIM KHALILULLAH DAN MUSA KALIMULLAH 155

FASAL: MENGAFIRKAN AHLI KIBLAT 161

FASAL: BERDEBAT TENTANG ALLAH DAN AGAMANYA 162

FASAL: (LANJUTAN) MENGAFIRKAN AHLI KIBLAT 164

FASAL: TENTANG IMAN 176

FASAL: WALI ALLAH 181

FASAL: PELAKU DOSA BESAR 190

FASAL: SHALAT DIBELAKANG IMAM FAJIR 192

FASAL: TIDAK BOLEH MEMASTIKAN SESEORANG MASUK SURGA ATAU NERAKA 197

FASAL: TIDAK BOLEH MENGARAHKAN SENJATA KEPADA SESAMA MUSLIM 199

FASAL: MEMBERONTAK KEPADA PEMIMPIN 200

FASAL: MENGIKUTI JAMAAH 203

FASAL: PERMASALAHAN BERMACAM-MACAM YANG BERKAITAN DENGAN AKIDAH 205

FASAL: HAJI DAN JIHAD DILAKSANAKAN BERSAMA PEMIMPIN 207

FASAL: TUGAS-TUGAS MALAIKAT 208

FASAL: KEJADIAN ALAM KUBUR 211

FASAL: IMAN KEPADA HARI KEBANGKITAN 216

FASAL: SURGA DAN NERAKA 222

FASAL: PERBUATAN MANUSIA 228

FASAL: PERMASALAHAN TERKAIT DOA 239

FASAL: ALLAH MEMILIKI SEGALA SESUATU 246

FASAL: SAHABAT NABI 249

FASAL: AL-KHULAFA AR-RASYIDUN 252

FASAL: PARA SAHABAT YANG DIJAMIN MASUK SURGA 264

FASAL: LARANGAN MENCELA PARA SAHABAT 267

FASAL: KARAMAH WALI 269

FASAL: BERIMAN KEPADA TANDA-TANDA KIAMAT 273

FASAL: DUKUN DAN HAL GHAIB 275

FASAL: PERSATUAN DAN PERPECAHAN 280

FASAL: AGAMA YANG DIRIDHAI OLEH ALLAH 286

PENGANTAR PENERBIT

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada rasul terbaik, ciptaan terbaik, Muhammad, seorang hamba dan utusan Allah, suri teladan terbaik. Sholawat dan salam juga kepada keluarga beliau, para sahabat serta semua pengikut setianya hingga akhir zaman.

Kami merasa sangat bahagia mempersembahkan hasil alih bahasa Aqidah Ath- Thahawiyah karya Imam Ath-Thahawi yang dilengkapi penjelasan dari Ibnu Abi Al-Izz. Pada titik ini, tampaknya tepat bagi kami untuk menuliskan kembali baris berikut yang terdapat pada pengantar teks asli dengan penjelasan ringkasnya dari Kementrian Keadilan dan Urusan Wakaf Uni Emirat Arab.

Titik mula perjalanan pergerakan Islam di zaman modern ini harus bersandar pada agama dan keimanan yang benar, terutama yang terkait dengan konsep Keesaan Allah, sehingga bersih dari kesyrikan. Kebangkitan Islam di masa sekarang harus memiliki konsep ‘kebenaran di atas semua kebenaran’ yang benar-benar teguh agar generasi baru melangkah pada jalur yang benar. Di sisi lain, generasi terdahulu harus diperingatkan akan adanya penyusupan takhayul, tipu daya, dan pemalsuan ke dalam sistem nilai Islam. Dengan demikian, tugas berat dan mulia tersebut di tangan kita.

Para ulama dan ahli fikih sepakat bahwa matan Akidah yang disusun oleh Imam Ath- Thahawi rahimahullah adalah matan yang paling akurat dalam mencerminkan pemikiran dan pemahaman Islam generasi Salaf terdahulu. Karya beliau bebas dari takwil, pemberian contoh yang berlebihan, serta penyimpangan gagasan yang diusung Islam. Bagitu juga telah mafhum bahwa Syarah Qadi Ibnu Abi al-Izz Al-Adzru’i untuk matan Akidah Ath- Thahawiyah dinilai sebagai syarah yang berisi pemaparan akurat atas poin-poin pemikiran Imam Ath-Thahawi. Penjelasannya dipenuhi dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa melebih- lebihkan makna, dan berupaya untuk memproyeksikan pendapat dari mayoritas ulama atas perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka.

Syarah Ibnu Abi Al-Izz diterbitkan 75 tahun silam di Mekkah al-Mukaramah di tahun 1394 Hijriyah, di bawah pengawasan tim ulama yang diketuai oleh Syaikh Abdullah bin Hasan bin Husain Alu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Kemudian, dicetak ulang di Mesir, di bawah pengawasan Syaikh al-Muhadits, Ahmad Muhammad Syakir. Terbitan ketiga kemudian diluncurkan di bawah pengawasan Syaikh Nasiruddin al-Albani, semoga Allah menjaga beliau semuanya. Semua penerbitan itu merupakan upaya untuk memperbaiki karya aslinya dengan memberikan banyak komentar dan catatan kaki yang bermanfaat. Kami memilih untuk mencetak ulang edisi yang direvisi oleh Syaikh Muhammad Syakir.

Penulis aslinya, Ath-Thahawi merupakan seorang ulama hadits dan ahli fikih. Beliau lahir di tahun 293 H di Mesir. Guru utama beliau adalah pamannya sendiri, Isma’il bin Yahya al-Muzani, yang merupakan salah satu murid terdekat Imam Syafi’i. Namun, pada akhirnya Imam Ath-Thahawi keluar dari mazhab pamannya, untuk mengadopsi pemikiran mazhab Hanafi. Namun hal tersebut tidak membatasi beliau untuk berbeda pendapat dari Imam Abu Hanifah dalam hal-hal tertentu dan memilih pendapat ulama lain.

Imam Ath-Thahawi juga belajar dari berbagai ulama hadits yang jumlahnya mencapai tiga ratus. Oleh karena itu, tidak mengherankan, beberapa ulama besar telah memuji Imam Ath-Thahawi. Ibnu Yunus berkata: “Thahawi adalah seorang ulama yang kredibel, masyhur, dan cerdas, yang tidak bisa ditandingi oleh ulama semasanya.” Pendapat ini sudah dinilai cukup mewakili kualitas Imam Ath-Thahawi, karena Ibnu Yunus dinilai sangat jujur, terutama jika beliau mengeluarkan pendapat mengenai ulama yang berasal dari Mesir.

Adz-Dzahabi juga mengeluarkan pernyataan dalam “Tarikh al-Kabir,” bahwa Ath- Thahawi adalah seorang ulama mayshur yang cerdas dan menonjol.” Ibnu Katsir pun telah menilai Imam Ath-Thahawi dalam Al-Bidayah wa al-Hinayah bahwa beliau adalah salah satu ulama hadits yang cemerlang dan kredibel.”

Keunggulan kualitas tulisan Imam Ath-Thahawi tercermin dalam risetnya yang menyeluruh, kekayaan materi, dan penyampaiannya yang menarik. Salah satu karyanya, Aqidah ath-Thahawiah, sudah tersedia di pasaran. Meskipun secara tekstual dinilai hanya berupa matan yang ringkas, namun karya ini kaya akan makna. Tulisannya itu mengikuti metodologi ulama generasi terdahulu (generasi salaf), lalu dibingkai dengan kata-kata yang bagus sehingga tidak mudah untuk ditakwil ataupun samar hingga sulit untuk dipahami maknanya.

Bukunya yang lain, Ma’ani Al-Atsar merupakan karya dalam bidang fikih, yang di dalamnya beliau menuliskan suatu hukum kemudian membuktikannya dengan berbagai dalil. Dalam pembahasan, beliau pun membawakan perselisihan para ahli fikih, menghadirkan berbagai sudut pandang, kemudian menyatakan pendapat yang beliau anggap sebagai rajih (kuat). Karyanya ini berupaya menanamkan daya pikir untuk meneliti dan menelaah kepada para pembacanya agar mereka yang mempelajarinya bertambah malakah keilmuannya.

Karyanya yang lain, Musykil al-Atsar, dimana beliau membahas Sunnah-sunnah Nabi (ﷺ) yang seolah saling bertentangan satu sama lain. Dalam upayanya, beliau berhasil menunjukkan bahwa semuanya dalam .

Karyanya yang lain, Mukhtasar fi al-Fikih ‘Ala Furu’ al-Hanafiyah yang membahas tentang Ilmu fikih.

Selain karya yang sudah diterbitkan ini, ada juga beberapa karya lain beliau. Beliau wafat di tahun 321 Hijriyah. Semoga Allah merahmatinya.

Pensyarah (yang membuat penjelasan) matan Akidah Ath-Thahawiyah, Sadrudin Ali bin Ali bin Muhammad bin Ali al-Izz al-Adzru’i (721-792 Hijriyah) juga seorang ulama Hanafi. Beliau adalah kepala Qadhi di provinsi Damaskus. Kemudian, beliau menjadi kepala Qadhi di sejumlah provinsi di Mesir. Beberapa saat kemudian beliau kembali ke Damaskus dengan jabatan yang sama. Beliau adalah salah satu murid seorang ulama ternama, Al-Hafiz Ibnu Katsir. Ibnu Hajar al-Asqalani telah menuliskan biografi singkat pada seri ketiga karyanya Al-Durar al-Kaminah fi A’yan al-Mi’ah al-Tsaminah.

Meskipun demikian, kami merasa bahwa Syarah Ibnu Abi Al-Izz memerlukan sedikit penyuntingan dan peringkasan agar lebih efektif untuk melatih generasi baru para penuntut ilmu. Untuk tujuan tersebut, ringasan yang tulis oleh Syaikh Abdul Mun’im Salih al-Izzi kami pilih sebagai ringkasan yang kami terjemahkan. Karya tersebut diterbitkan pertama

kalinya oleh Kementrian Hukum dan Kehakiman Uni Emirat Arab pada tahun 1401 Hijriyah.

Ringkasan yang ditulis Syaikh Abdul Mun’im memudahkan orang awam untuk memahaminya dan menjadikannya lebih sesuai untuk digunakan oleh lembaga pendidikan Islam dalam kelas mereka. Selain itu, karya ini pun bisa digunakan dalam kajian-kajian yang diselenggarakan di masjid atau bagi para pemuda. Dalam ringkasan tersebut, beberapa materi yang tidak lagi relevan dengan masa sekarang sudah dihapuskan. Contohnya adalah argumen- argumen untuk membantah sekte Muktazilah. Sejumlah pernyataan yang berulang pun telah dihapuskan. Begitu pula dengan sejumlah dalil yang dihadirkan sebagai bantahan terhadap bid’ah tertentu diringkas menjadi hanya beberapa saja. Namun, tidak ada satu pun dari matan akidah Ath-Thahawiyah yang dihapuskan.

Penerbit pun ingin mengucapkan terima kasih kepada “The World Assembly of Muslim Youth” yang berbasis di Arab Saudi yang telah mengizinkan kami menerbitkan karya ini. Kami, demikian juga tim penerjemah, juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Sekjen Dr. Mani Al-Juhani dan koleganya di Kantor Pusat Riyadh, atas kesabaran mereka dalam membaca terjemahan ini serta memberikan perbaikan bagi penerjemahan kami. Kami pun berterima kasih kepada saudara kami, Hafizullah Baig (Al-Saif, Riyadh) yang telah membaca Kata Pengantar buku ini dan memberi beberapa perubahan yang berguna. Semoga Allah memberikan balasan yang berlipat bagi semua pihak yang telah membantu kami.


M.R Attique Penerbit Toronto, Canada Mei 17, 2000

KATA PENGANTAR


Jika disusun sebuah daftar berisikan buku-buku penting (selain Al-Qur’an dan Sunah) yang harus dibaca oleh setiap Muslim, maka buku yang ada di tangan anda ini akan termasuk dalam 10 peringkat teratas. Buku ini merupakan karya klasik; sebuah mahakarya dalam logika dan akal sehat. Karya ini bebas dari nafsu dan prasangka. Kekayaan materi di dalamnya juga menantang intelektualitas kita. Bahkan, akan sangat berguna bagi para filsuf penganut paham Darwinisme masa sekarang, untuk membaca buku ini sebagai contoh karya tulis yang jauh dari hawa nafsu karena berisi penalaran deduktif yang menghubungkan gagasan-gagasan ke dalam sebuah rantai pemikiran logis. Ia memberikan suguhan bagi para pemikir yang dapat membedakan antara argumen yang terlihat benar dan kebenaran hakiki serta antara pikiran yang dilanda kebingunan dengan perpaduan pemikiran yang abstrak, yang akhirnya menjadi sebuah ide utuh yang konkrit.

Dalam buku ini tidak ada upaya untuk mengharmonisasikan sesuatu yang tidak bisa dicocokkan ataupun membombardir pembaca dengan serangkaian pemikiran yang mengarahkan mereka pada makna yang tidak kukuh atau yang lebih buruk. Seperti segelintir konsep logika yang dapat diterima, yang mengarahkan pada teori yang terlihat masuk akal (padahal tidak). Contohnya seperti penjelasan bagaimana “a” ditambah “b” kuadrat sama dengan jumlah “a” kuadrat, “b” kuadrat, dan dua dikalikan dengan “a” dan “b”. Mungkin membingungkan bagi sebagian orang karena tidak menggunakan rumusan matematika yang umum [(a + b)2 = a2 + b2 + 2ab)]. Namun, hal ini sepenuhnya logis dan dengan pikiran yang fokus, tidak terlalu sulit untuk memahami hal tersebut. Ini bukanlah jenis konsep dogmatis “saya tahu sedangkan kamu tidak tahu, jadi ikutilah perkataan saya,” yang sering digunakan pada literatur agama-agama selain Islam. Karya ini seperti latihan dimana seseorang menyaksikan debat antara dua sudut pandang. Dengan dibantu nalar dan logika, pada akhirnya pembaca akan sepakat dengan Ath-Thahawi dan pensyarahnya, yaitu Ibnu Abi Al- Izz.

Matan akidah Ath-Thahawi adalah matan yang ringkas, padat, tepat, penuh makna, namun disusun dengan indah. Selain menjelaskan aqidah, matan ini juga memberikan gambaran pola pikir generasi Salaf terdahulu yang dijelaskan dalam Al-Qur’an. Pernyataan- pernyatannya yang lugas dalam matan tersebut menantang para pembaca untuk membawakan ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengan dirinya. Juga sangat luar biasa bagaimana Ath- Thahawi menutup semua persimpangan bagi segala jenis takwil yang mungkin timbul dari uraian kata-katanya. Kalimat-kalimatnya yang menarik dan tepat mengingatkan kita pada matan karya ulama-ulama fikih yang menjelaskan Hukum Islam. Namun, hal ini tidak mengherankan karena Ath-Thahawi sendiri merupakan ahli fikih yang hebat.

Tak kalah mengagumkan, meskipun terdapat rentang waktu 500 tahun antara keduanya, yaitu Ath-Thahawi dan Ibnu Abi al-Izz, keduanya memandang akidah Islam dengan koherensi dan bersesuaian. Keduanya saling bertautan dan sepakat satu sama lain bahkan untuk masalah-masalah yang rumit dan beragam, dilengkapi keharmonisan pemikiran mereka yang begitu memukau. Dua tulisan yang terpisah waktu, akankah mendapati keselarasan semacam ini? Sulit menemukan dua tulisan berbeda zaman lainnya yang bisa

menujukkan keharmonisan seperti ini. Agama, ilmu pengetahuan, filsafat, sastra; adakah contoh lain yang lebih baik dari tulisan mereka berdua? Tentunya, penggabungan kekuatan yang saling mengikat adalah sifat kedua sumber hukum Islam: Al-Qur’an dan Sunnah.

Siapapun yang memahami Al-Qur’an dan hadits nabi, memahami apa yang Ath- Thahawi dan Ibnu Abi al-Izz bahas. Dalam karya ini, dalil Al-Qur’an-lah yang mendominasi, baik risalah maupun penjelasannya. Tidak ada satu pernyataan pun yang tidak didukung oleh ayat Al-Qur’an. Aqidah Islam adalah Al-Qur’an yang dibahasakan ulang mengikuti rangkaian pemikiran yang spesifik. Mungkin kebanyakan orang yang familiar dengan mambaca Al-Qur’an akan terkejut mendapati fakta bahwa semua konsep dalam Al-Qur’an tertuang di dalam karya keduanya. Namun tidak terlintas dalam benak mereka, bahwa keduanya dapat menyimpulkannya dari Al-Qur’an.

Hal ini menjelaskan kepercayaan diri penulis dan pensyarahnya. Mereka berdua menghadirkan sebuah tantangan kepada para pembaca: Jika anda menemukan apapun dalam buku ini yang bertentangan dengan pemikiran anda, maka pemahaman anda akan Al-Qur’an dan Sunnah tidak sempurna. Ibnu Abi al-Izz dengan tenang melemparkan pukulannya: “Pelajari kembali Al-Qur’an dan carilah contoh lebih banyak lagi.”

Jika dilihat dari sudut pandang lain, kitab suci agama mana yang bisa bertahan dengan tantangan semacam ini? Kitab suci manakah yang benar-benar mendukung keyakinan yang dianut oleh para pengikutnya sebagai suatu kebenaran? Konsep Trinitas telah dibantah bahkan oleh Yesus (Nabi Isa) sendiri: “Di situ ada seorang guru Taurat yang mendengar perbincangan mereka. Dia melihat bahwa Yesus telah menjawab soalan orang Saduki dengan baik. Oleh karena itu dia bertanya kepada Yesus, “Perintah manakah yang paling utama di antara semua perintah?” Yesus menjawab: “Inilah perintah yang paling utama: Dengarlah, hai bangsa Israel, Tuhan Allah kita, Dialah Tuhan Yang Esa” (Markus,12:28-29). Ini adalah pukulan telak bagi mereka sejak awal. Juga sebuah pukulan telak bagi keyakinan lain umat Kristiani yang dituliskan pada 12 kalimat pendek, berkisar pada kepribadian Yesus Kristus. Bukan tentang hal lainnya, melainkan tentang Yesus itu sendiri.

Keyakinan Yahudi satu baris lebih panjang dari mereka. Salah satu barisnya menyatakan: “Nabi-nabi lainnya harus menunggu diturunkannya wahyu, sementara Musa diberi kuasa untuk memintanya.” Juga dinyatakan, “Hukum ini (seperti yang disebutkan di dalam Taurat) tidak akan dihapuskan, ataupun digantikan dengan hukum Tuhan lainnya.” Sementara pernyataan yang pertama menunjukkan Tuhan mendengar seruan, pernyataan kedua ditolak oleh dewan teolog Yahudi bahwa Taurat di masa kini bukanlah wahyu yang asli. Taurat tersebut merupakan tulisan ulang dari ingatan, setelah versi aslinya dihancurkan beberapa abad sepeninggal Musa.

Walaupun demikian, Konsep Islam sangat berlainan dengan Budhisme. Ensyclopedia of Religion and Ethics memuat pernyataan berikut ini tentang kredo agama tersebut. “Agama baru ini (Budhisme) sangat materialistik, yaitu Budha menyangkal ruh atau ego; atheistik, yaitu tidak ada tempat bagi Tuhan dalam sistem pemikirannya; pesimistik, yaitu dia menilai semua eksistensi secara intrinsik jahat; egoistik yaitu, pada skemanya tentang kehidupan, budha mengajarkan manusia untuk meikirkan kemakmuran diri mereka sendiri; nihilistik, yaitu ia menganggap ketiadaan sebagai realitas tertinggi.” Jelas bahwa tidak ada dasar umum

untuk dapat membandingkan antara Islam dan Budha. Memang, jika seseorang menempatkan penganut agama Budha, Yahudi, atau umat Kristiani berdampingan dengan penganut Islam, ia akan mulai memahami mengapa agama Islam bertahan berabad-abad lamanya dalam wujud yang murni sebagaimana kemunculannya.

Tanpa mengecilkan upaya Ibnu Abi al-Izz untuk menjelaskan dengan sederhana tulisan Ath-Thahawi, karya ini tetap sulit untuk dipahami oleh pembaca di zaman modern. Namun, secara mengejutkan, manusia zaman sekarang lebih kurang logis pemikirannya dibandingkan pendahulunya. Generasi kita adalah generasi dengan pola pikir yang ruwet. Misalnya saja ahli biologi evolusionis asal Turki yang berpendapat mengenai salah satu enzim yang penting bagi kehidupan kita: “Peluang pembentukan rangkaian Cythocrome C hampir mendekati nol. Dengan kata lain jika kehidupan memerlukan suatu rangkaian tertentu, bisa dikatakan bahwa peluangnya untuk terwujud adalah satu kali di alam semesta. Kalau tidak, kekuatan metafisik di luar definisi kita mestinya telah bertindak dalam pembentukannya. Menerima prinsip yang terakhir ini tidak tepat demi tujuan-tujuan ilmu pengetahuan. Karena itu, kita harus menengok hipotesis pertama.” Namun, tragisnya pemikiran-pemikiran baru tampaknya tidak menyadari kejanggalan ini, atau mereka tidak mampu menerima yang sebenarnya sudah terlihat mengikuti logika yang jelas dan gamblang.

Kembali pada topik bahasan kita. Sesuatu yang menambah kesulitan adalah meskipun pemikiran masa kini penuh dengan gagasan salah yang sama seperti yang dianut oleh sekte- sekte menyimpang di masa lalu, mereka masih saja gagal mengenali kemiripan tersebut. Salah satu penyebabnya mungkin karena konsep-konsep tersebut dikomunikasikan dengan kata-kata yang berbeda atau seperti yang dinyatakan oleh al-Izz, dibungkus dengan “takwil” serta tertanam dalam pikiran mereka sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.

Muktazilah, Jahmiyah, Qadariyyah, dan masih banyak sekte lainnya yang disebutkan di buku ini terdengar seperti nama-nama aneh di telinga pembaca modern. Namun, seperti yang dinyatakan oleh Qurtubi, semua sekte itu akan muncul kembali sepanjang zaman dengan nama-nama baru. Bahkan, banyak pemikiran sekte-sekte masa lalu yang diterima oleh masyarakat di masa kita. Perbedaannya adalah sekte-sekte itu telah lenyap bersamaan dengan pencetus gagasan aslinya. Namun, pemikiran mereka tetap bertahan. Nama-nama sekte itu bisa digunakan untuk menjadi penanda pemikiran yang menyimpang. Cara itu memudahkan untuk klasifikasi. Sekarang, tidak perlu menyelidiki sejarah untuk mencari tahu misalnya siapa sebenarnya Qadariyah. Siapapun yang menganut pendapat Qadariyah seperti yang diterangkan oleh al-Izz, maka dia adalah seorang Qadari.

Kesulitan lain telah ditemukan bagi pembaca di zaman ini. Meskipun pembahasan al- Izz merupakan pembahasan yang komprehensif, bahasan mengenai kehendak bebas dan takdir masih membingungkan bagi sebagian kalangan. Namun, hal ini tidak mengherankan. Selama berabad-abad lamanya, pertanyaan ini membuat membingungkan banyak orang baik di kalangan umat Islam maupun non-Muslim. Pembahasan Ath-Thahawi dan Ibnu Abi Al-Izz bukan ditujukan untuk menyelesaikan misteri tersebut melainkan untuk meyakinkan pembaca bahwa apa pun yang menurut mereka salah dalam pembahasan takdir, tidaklah salah menurut sebagaimana anggapan mereka. Pendapat yang dianut oleh para ulama, meskipun tidak dapat memuaskan seluruh kalangan, namun bisa dipertahankan dari segala argumen yang kontra

padanya.

Terdapat dua elemen di buku ini: observasi dan teori. Anehnya, dari hasil yang kami amati –apa yang kita pahami dan alami sebagai kehendak bebas– terbukti salah dengan asumsi kita sendiri, yang kemudian mengantarkan kita untuk meyakini bahwa semua tindakan kita telah ditakdirkan sebelumnya. Dukungan untuk teori tersebut tidak hanya berasal dari sumber agama saja. Bahkan, dukungan itu berasal dari sumber yang tak terduga yaitu ilmu sains.

Saat ini, para ilmuwan menerapkan konsep kehendak bebas pada benda mati dan menjaganya interfensi makhluk hidup. Beberapa fisikawan memberitahukan bahwa benda mati nampak bebas dalam membuat keputusan. Bergantung pada apakah benda mati tersebut sedang diamati atau tidak, partikel-partikel sub-atomik bisa mengambil bentuk baik sebagai gelombang atau sebagai partikel. Mereka memilih celah yang mereka lewati jika diarahkan pada dua celah berurutan satu setelah yang lainnya. Tampaknya mereka memiliki kehendak mereka sendiri. Memang, kita pun diberi tahu bahwa energi, bentuk materi lainnya, bebas muncul dalam sekejap dan memilih untuk musnah. Bahkan ketiadaan memiliki kehendak bebas. Dalam sebuah artikel terkini, seorang ilmuwan menuliskan: “Ternyata, partikel elementer (melalui sejumlah percobaan) dapat muncul secara spontan kemudian menghilang kembali, jika terjadi untuk waktu yang sangat singkat sehingga ilmuwan tidak bisa mengukurnya secara langsung. Partikel-partikel virtual seperti ini, tampak sama tidak masuk akalnya dengan malaikat yang sedang duduk di ujung jarum. Namun, ada perbedaan. Partikel-partikel tak kasat mata menghasilkan efek yang bisa diukur, seperti perubahan menjadi tingkat energi atom dan daya-daya antara lempengan logam yang saling berdekatan. Teori tentang partikel-partikel virtual sejalan dengan pengamatan terhadap tempat-tempat sembilan desimal.” (Cosmological Antigravity, by Lawrence M. Kraus, Scientific American, Jan, 99).

Perhatikan sindiran tentang konsep malaikat. Hal ini dimaksudkan untuk mengalihkan pikiran dari membuat kesimpulan religius. Namun, sebagian dari neo-Darwinist zaman sekarang, justru berkubu pada spektrum berlawanan. Mereka dengan dermawan memberikan kehendak bebas pada benda mati, sekalipun hanya berupa molekul. Namun, mereka merampas kehendak bebas dari organisme hidup, termasuk manusia. Mereka memandang organisme hidup sebagai entitas yang tak berdaya yang hanya berupa wujud dari asam nukleat mereka sendiri. Terikat pada DNA mereka dengan kode genetik yang sudah tertulis, yang akan memerlukan 30 jilid Ensyclopedia Britanica untuk memaparkannya, manusia hanyalah detak jarum jam yang digerakkan oleh gen. Seorang manusia tidak berani menantang molekul. Richard Dawkins, penganut Darwinis setia, menyatakan bahwa: “Gen- gen memang secara tidak langsung mengendalikan pembentukan tubuh kita, dan pengaruhnya berlaku satu arah; sifat yang telah ada ini tidak diturunkan” (The Selfish Genes, Oxford Univ Press, hal 23). Karyanya yang lain yang berjudul The Blind Watchmaker, di dalamnya dia berupaya membuktikan bahwa mesin gen tidak memiliki kesadaran. Mesin gen ini menunjukkan bahwa organisme hidup semata-mata hanya bekerja layaknya jam. Namun, meski organisme seperti jarum jam yang tak berdaya, termasuk kita sebagai manusia. Gen- gen itu mempengaruhi kita dalam menjadikan diri kita dalam wujud yang sekarang. Namun,

kita tidak bisa mempengaruhi gen-gen itu sendiri dengan cara apapun. Hanya melalui perubahan mutasi, kita bisa mempengaruhi gen. Lebih jauh lagi, ke dalam sistem pemikiran tersebut, jika pikiran bisa berkehendak bebas, maka ia bisa memutuskan tindakan apapun sesuai dengan pilihannya. Akan tetapi pilihan itu sendiri sebelumnya sudah ditentukan oleh perintah yang tidak bisa dilanggar dari gen-gen yang berdiam di inti sel.

Pertanyaan mengenai kehendak bebas dan takdir benar-benar mengusik pikiran kita, dan dalam perkataan John Searle (Minds, Brains and Science), “permasalahan tersebut (kehendak bebas dan takdir) akan selalu menyertai kita.”

Atau mungkin, para ilmuwan mendekati konsep Islam. Posisi Islam telah dinyatakan dengan tepat oleh perkataan Abdul Qadir Jaelani: “Tindakan kita milik Allah (khalaq), dan ganjarannya untuk hamba-Nya (kasb),” Futuh al-Ghaib, Muhtar Holland. Ali bin Abi Thalib diriwayatkan telah menggambarkannya secara praktis. Ketika beliau ditanya apakah manusia bebas ataukah terikat, beliau meminta penanya untuk mengangkat satu kakinya. Ketika dia melakukannya, dia diminta untuk mengangkat kaki satunya lagi tanpa menurunkan kaki yang pertama. Ketika dia menjawab tidak bisa melakukannya, Ali menjelaskan bahwa itu batasan antara kebebasan dan takdir (qada).

Sebuah ilustrasi mungkin bisa membantu. Misalnya seseorang membangun sebuah pabrik. Dia memilih sebuah produk, lalu menentukan sistem pembuatannya, membeli mesin- mesin, peralatan dan perlengkapan dipasangkan pada lantai toko, merekrut pekerja yang dibutuhkan, kemudian merancang bagan alur yang menggambarkan kapan dan dimana bahan baku akan tiba dan dipindahkan ke berbagai mesin untuk menjalankan beberapa proses. Mesin-mesin juga dirancang untuk menjalankan operasi tertentu. Dengan demikian, bagian- bagian yang telah diproduksi tersebut ditambahkan dengan komponen lainnya, hingga akhirnya sampai di bagian akhir perakitan sebagai produk akhir, diperiksa, kemudian dikemas, lalu disimpan. Orang pada jabatan teratas melakukan semua perencanaan, merancang, menentukan sistem kerja dan rangkaian operasi. Dia bukan hanya menjalankan pabrik, namun juga mendirikan fasilitas pendukung, seperti kantor administrasi, akunting, penjualan, penyimpanan, perawatan, dan beberapa departemen lainnya yang juga dikendalikan oleh system yang dirancang sebelumnya, sehingga, misalnya setiap daftar di tabel akuntansi hanya dapat menerima angka-angka tertentu dalam kolom tertentu untuk menghasilkan tabel dan grafik tertentu. Berhubung dia merancang seluruh tempat, maka pria itu memiliki gambaran lengkap akan pabrik tersebut di dalam pikirannya. Bahkan, dia mengetahui, di setiap waktu, apa yang terjadi, di mana dan siapa yang melakukan apa.

Kita katakan dia merekrut seorang insinyur untuk pekerjaan yang tertata dengan baik. Insinyur tersebut harus mengikuti sistem dan menjaganya agar berjalan mulus. Dia harus mengurus mesin, memeriksa gangguan, memastikan ketersediaan bahan baku, dan memastikan produk yang diproduksi sesuai standar kualitas dan kuantitas dengan ratusan pekerja dan mesin-mesin yang terlibat. Dalam melakukan semua ini, dia harus mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan sebelumnya; yang ditetapkan oleh atasannya; orang yang menggambarkan bagan operasional dan menentukan siapa yang akan melakukan apa, kapan dan bagaimana. Pada kenyataan di lapangan, sang insinyur tersebut melaksanakan lebih dari yang dikehendaki atasannya.

Namun, adakah kemungkinan pada sistim di atas, sang insinyur sepenuhnya terikat dan tidak melakukan apapun selain kehendak pihak lain? Dia bisa saja melawan system dan bekerja sekehendaknya. Jika dia tidak melakukannya, alasannya karena hasilnya dia menyadari yang terbaik baginya adalah mengikuti sistim yang berlaku, daripada mengikuti kehendaknya sendiri. Namun, sistim itu tidak lantas menjadikannya mesin otomatis. Dia masih bebas bahkan tetap menjalankan kehendaknya dengan bebas. Misalnya terkadang dia bermalas-malasan atau bertindak yang tidak sejalan dengan kepentingan pabrik. Terkadang, dia bertindak secara berbeda karena itu lebih sesuai dengan dirinya. Itulah sebabnya, industri menempatkan sistim lain yang dirancang untuk mengukur kinerjanya. Berdasarkan pilihan sang insinyur, grafik kinerjanya menilai kerjanya baik atau buruk; apakah jasanya bisa terus digunakan ataukah diberhentikan. Jika dia tidak pernah melaksanakan kehendaknya sendiri, dan, jika pilihannya tidak berdampak, maka segala yang terjadi di pabrik yang telah direncanakan sebelumnya, pabrik tidak akan mengukur kinerjanya, menghukum ataupun memberi imbalan kepadanya.

Setelah mengakui kebebasan dirinya, kita masih harus mengingatkan diri kita sendiri bahwa sang insinyur yang disebutkan di atas tidak bebas melakukan apapun yang dia kehendaki. Dia tidak bisa, misalnya, mengubah produk tersebut. Pabrik tersebut tidak dirancang selain untuk menghasilkan produk tertentu. Dia tidak bisa mengubah rangkaian operasinya. Rangkaian mesin yang sudah ditentukan sebelumnya tidak mengizinkan hal tersebut. Dia bisa, karena kebebasannya, bertindak memilih satu cara tertentu atau cara lainnya, hanya dalam beberapa perkara tertentu. Sehingga, dia tidak sepenuhnya memiliki kehendak bebas juga tidak sepenuhnya terikat olehnya.

Kenyataan tentang insinyur di pabrik tersebut sebenarnya adalah kenyataan manusia di dunia ini. Kita semua terikat pada sebuah sistim yang sudah ditakdirkan sebelumnya. Sistim itu berjalan dengan jalur yang sudah ditakdirkan, membentangkan serangkaian peristiwa yang ditakdirkan, dan akan berakhir pada waktu yang sudah ditakdirkan. Dan tidak ada yang bisa kita perbuat tentangnya. Misalnya, kita tidak bisa mengubah kecepatan berputarnya bumi atau rotasinya. Kita tidak bisa mengeluarkan bumi dari sistim tata surya. Kita, manusia, sepenuhnya dan tidak dapat mengelak, terikat pada sistem tersebut. Takdir sistem tersebut adalah takdir kita. Tidak ada jalan untuk menghindarinya. Kita bisa berkehendak bebas, namun kehendak itu tetap terikat pada sistim yang menentukan seberapa banyak yang bisa kita lakukan dalam hidup kita, mau tidak mau. Meskipun menjalankan kehendak bebas kita, kita tetap tidak bisa mengubah cuaca. Yang bisa kita lakukan hanya memilih pakaian kita. Lagi-lagi, meskipun kita bebas memilih pakaian musim panas untuk musim dingin, atau sebaliknya pakaian musim dingin untuk musim panas, sepertinya kita tetap tidak dapat melaksanakan pilihan tersebut. Kita bisa jatuh sakit bila kita melakukannya. Sehingga, apa yang kita kenakan sudah ditentukan sebelumnya. Bahkan, hal ini sudah ditentukan untuk kita oleh pihak lain. Contohnya, di dunia Barat, seseorang tidak bisa menghadiri pesta yang diadakan oleh pejabat tanpa mengenakan pakaian resmi untuk acara pesta tersebut. Memang kita telah diberikan kehendak bebas. Namun, tampaknya itu tidak banyak berarti. Kebanyakan dari tindakan kita sudah ditentukan sebelumnya.

Dengan mempertimbangkan semua hal di atas, kita dapat bertanya pada diri kita

sendiri: Apakah kita sepenuhnya terikat dan bergerak layaknya mesin otomatis tanpa memiliki kehendak sendiri? Apakah dunia ini bekerja layaknya mesin jam? Tentu saja tidak. Bukankah kita bisa mengubah bentangan daratan di bumi dengan menanam pohon? Tentu hal ini tak mungkin terjadi jika jagat raya layaknya mesin jam. Bukankah kita bebas memilih pakaian yang ingin kita pakai? Bukankah kita bebas mendeklarasikan perdamaian atau peperangan? Kita bisa. Namun, apakah kita bebas memilih baik perdamaian maupun peperangan? Tidak demikian. Dengan terpaksa, kita harus memilih salah satu dari keduanya. Namun, meskipun kita sudah memilih salah satu dari keduanya, apakah kita bebas untuk memilih rangkaian kejadian yang akan menyertai pilihan yang kita buat? Kebanyakan yang terjadi justru bertentangan dengan kehendak kita sendiri. Kita “dipaksa” untuk bereaksi. Bahkan, seringkali kita bereaksi terhadap peristiwa yang sudah dipaksakan atas diri kita. Kita memilih dari salah satu pilihan yang tersedia, tindakan yang mungkin bisa kita lakukan sebatas kemampuan kita, kodrat, keanehan, potensi, dan sebagainya, dan kita harus bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Pertanyaannya kemudian, antara kehendak bebas dan takdir itu sendiri, terletak di antara keduanya. Kita tidak sepenuhnya bebas berkehendak atau tidak pula sepenuhnya ditentukan. Kegagalan kita adalah tidak mampu mengenali batasan- batasannya. Namun, ketidakpastian garis pembagi tidak lantas membebaskan kita dari tanggungjawab atas pilihan kita tersebut, seperti halnya insyinyur pada pabrik tersebut di atas.

Dalam contoh yang kita kutip di atas, pabrik sudah ditentukan sebelumnya oleh manajemen atas. Orang teratas itu memiliki pengetahuan atas serangkaian peristiwa yang akan terjadi di tempat tersebut. Semuanya sudah dalam perencanaannya. Contohnya, dia sudah mengetahui apa yang akan keluar dari rangkaian operasi tersebut, kapan, berapa jumlahnya dan bagaimana kualitasnya. Dia memungut satu kotak dan tahu betul apa yang ada di dalamnya; ukuran, jumlahnya dan sebagainya. Dia mengetahui apa yang tersembunyi. Ketika dia melihat melewati dinding kaca yang memisahkan antara kantor dan ruang operasional, dia mendapati setiap orang bekerja sesuai dengan apa yang sudah ditetapkannya bagi masing-masing dari mereka. Dia telah memprogram semuanya. Bukan berarti dia sudah berbicara kepada semuanya di lantai operasi, memerintahkan mereka, mengarahkan mereka mengenai pekerjaan yang harus mereka lakukan setiap menitnya. Namun dia mendesain systemnya, sehingga dia dapat memprediksi bagaimana mereka akan bertindak. Meskipun kenyataannya memang, tak satupun karyawan pada line manufaktur telah kehilangan kebebasannya: untuk bekerja atau tidak bekerja, untuk melakukan hal yang benar atau tidak, namun, tetap saja kehendak bos teratas akan terlaksana.

Sekarang, jika insinyur yang dia pekerjakan menjalankan kehendak bebasnya dan memutuskan untuk hengkang, apa yang akan terjadi? Mungkin, dia akan masuk ke pabrik lainnya, mengikuti kehendak pihak lain, recana kerja orang lain yang sudah ditentukan, bukan miliknya sendiri. Inilah yang dimaksud oleh Umar bin Khatab, ketika beliau memutuskan untuk tidak memasuki wilayah yang terkena wabah penyakit. Beliau ditanya: “Apakah engkau lari dari Qadar Allah?” Beliau menjawab: “Ya, saya lari dari Qadar Allah untuk menuju Qadar Allah yang lainnya.” Dengan demikian, meskipun dunia dan segala rangkaian peristiwa yang terjadi di dalamnya telah ditakdirkan Allah, bahkan reaksi kita terhadap semua peristiwa tersebut, kita masih bisa membuat pilihan kita sendiri, dan

menanggung konsekuensi pilihan tersebut, baik atau buruk, di dunia ini ataupun di akhirat kelak.

Akhirnya, marilah kita menambahkan dimensi lain pada contoh di atas. Menyadari bahwa jalannya tidak akan diikuti dan kerjasama penuh tidak akan diperoleh, kecuali jika para pekerjanya berpikir sebagaimana bos tersebut meyakini bagaimana mereka seharusnya berpikir, maka bos tersebut mengumpulkan mereka semua dari waktu ke waktu guna menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi di sekitarnya, dan menegaskan bahwa semua itu tidak lain demi kebaikan mereka sendiri. Dia menyampaikan argumennya dengan sangat baik sehingga mereka gagal memahami bahwa dia sebenarnya masuk ke dalam pikiran mereka dan menempatkan mereka pada jalur yang telah dia tentukan untuk mereka. Pada akhirnya mereka mulai berpikir sesuai dengan pikiran yang diharapkan oleh bos tersebut. Karenanya, dia dapat memprediksi apa yang akan mereka pikirkan karena sampai tingkatan tertentu ia mengendalikan pikiran dan kehendak para pekerjanya. Bukan berarti mereka berhenti berpikir, atau berhenti mempertimbangkan baik buruknya situasi mereka atau berhenti melakukan penilaian; namun, sebagian besarnya, mereka berpikir dengan cara yang ditentukan bos tersebut. Dengan ilustrasi inilah, ayat Al-Qur’an ini harus dipahami, “Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah,” (Q.S, 76:30).

Sehingga, rangkaian kata Ath-Thahawi di akhir karya ini: “Agama ini (adalah jalan tengah) antara dua jalan yang ekstrim; antara Antroformisme dan penyangkalan sifat-sifat Allah; antara kehendak bebas dan takdir; antara pengharapan dan keputusasaan.


Syed Iqbal Zaheer

Maret, 1999

MUKADIMAH IBNU ABI AL-IZZ


Segala puji bagi Allah, kami memohon pertolongan dan Ampunan kepadaNya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yang bisa me nyesatkannya, dan barangsiapa yang Dia sesatkan, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Aku bersaksi bahwa Sayyid kita, Muhammad, adalah hamba dan utusanNya, shalawat dan salam Allah yang melimpah kepada beliau, keluarga, dan para sahabat beliau.

Ilmu paling afdhal dalam agama Islam adalah ilmu tentang Ushuluddin (Akidah). Hal ini dikarenakan manusia sangat bergantung pada ilmu tersebut melebihi kebergantungannya pada ilmu lainnya. Begitu juga hidupnya hati bergantung pada ilmu seorang hamba tentang Tuhan dan objek peribadahannya, yang harus dipahami secara terperinci termasuk Nama- nama, Sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Karena pikiran manusia tidak mungkin memperoleh detail pengetahuan ini melalui usahanya sendiri, rahmat Allah menuntut seorang Rasul diutus kepada mereka dengan membawa pengetahuan tentang Diri-Nya, menyeru manusia padanya, memberikan kabar gembira kepada mereka yang menjawab seruan tersebut, serta memberi peringatan kepada mereka yang menentangnya. Oleh karena itu, inti dari risalah adalah pengetahuan tentang Allah. Dari akidah inilah risalah para Rasul dibangun dari awal hingga akhir.

Pengetahuan tentang Allah ini diikuti oleh dua prinsip utama:

  1. Prinsip pertama: Cara meraihnya; dengan memahami Syariah terkait perintah dan larangan.

  2. Prinsip kedua: Memahami imbalan yang disediakan bagi mereka yang menempuh jalan ini, berupa rahmat dan pahala;

Golongan yang paling mengenal Allah adalah mereka yang (i) sungguh-sungguh mengikuti jalan untuk menuju Allah dan (ii) mereka yang mengetahui imbalan yang disediakan oleh-Nya ketika mereka mencapai tujuan mereka. Oleh karena itu, kita mendapati bahwa Allah (ﷻ) menyebut risalah yang dibawa para Rasul sebagai “ruh.” Karena kehidupan yang sebenarnya bergantung padanya. Allah juga menyebutnya sebagai “nur,” karena jalan hidayah diterangi oleh cahaya tersebut. Sebagaimana firman-Nya:

ﵞ٥١ ..... ۦهِدِابَعِ نۡمِ ءُآشَيَ نمَ ىَٰلعَ ۦهِرِمۡأَ نۡمِ حَورُّلٱ يقِلۡيُ ....

Yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya (QS. Ghafir: 15)

Serta Allah (ﷻ) berfirman:

هُنَٰلۡعَجَ نكِلَٰوَ نُمَٰيإِۡلٱ اَلوَ بُتَٰكِلۡٱ امَ يرِدۡتَ تَنكُ امَ اۚنَرِمۡأَ نۡمِ احٗورُ كَيۡلَإِ آنَيۡحَوۡأَ كَلِذَٰكَوَﵟ

ﵞ ٢٥ مٖيقِتَسۡمُّ طٖرَٰصِ ىَٰلإِ يٓدِهۡتَلَ كَنَِّإوَ اۚنَدِابَعِ نۡمِ ءُآشََّن نمَ ۦهِبِ يدِهۡنَّ ارٗونُ

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu kami beri petunjuk bagi siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS. Asy- Syura: 52)

Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang harus meyakini risalah dibawa oleh Nabi Muhammad (ﷺ) dengan Iman yang global1. Namun, kewajiban setiap individu untuk memahami akidah berbeda sesuai dengan keadaan dan kebutuhan mereka masing-masing. Mengetahui sebagian ilmu atau memahami bagian yang rinci (detil) darinya diwajibkan atas siapa yang mampu, di saat yang sama tidak diwajibkan atas siapa yang tidak mampu. Contohnya, wajib bagi orang yang telah mendengar serta memahami suatu topik tertentu dari tema akidah lanjutan untuk mengimaninya dan tidak wajib bagi orang yang tidak memahaminya.2 Demikian pula apa yang wajib diketahui oleh seorang ulama fikih, atau seorang ahli hadits, atau seorang pemimpin, tidak diwajibkan bagi orang yang tidak menduduki jabatan tersebut.

Juga harus disadari bahwa kebanyakan orang yang salah kaprah pada bidang ilmu ini, atau mereka yang gagal memahami makna sebenarnya, ialah mereka yang gagal mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasulullah atau mereka yang menolak untuk merenungi segala sesuatu yang membimbingnya pada pengetahuan tersebut. Saat mereka mengabaikan Kitabullah, maka mereka tersesat dari jalan. Allah (ﷻ) berfirman mengenai mereka:

الَفَ يَادَهُ عَبَتَّٱ نِمَفَ ىدٗهُ ينِ مِ مكُنَّيَتِأۡيَ امَّإِفَۖ و دُعَ ضٍعۡبَلِ مۡكُضُعۡبَ اۖعََۢيمِجَ اهَنۡمِ اطَبِهۡٱ لَاقَ ﵟ

ىٰمَعۡأَ ةِمَيَٰقِلۡٱ مَوۡيَ ۥهُرُشُۡحنَوَ اكٗنضَ ةٗشَيعِمَ ۥهُلَ نَّإِفَ يرِكۡذِ نعَ ضَرَعۡأَ نۡمَوَ ٣٢١ يٰقَشۡيَ اَلوَ لُّضِيَ

كَلِذَٰكَوَ اۖهَتَيسِنَفَ انَتُيَٰاءَ كَتۡتَأَ كَلِذَٰكَ لَاقَ ٥٢١ ارٗيصِبَ تُنكُ دۡقَوَ ىٰمَعۡأَ يٓنِتَرۡشَحَ مَلِ بِ رَ لَاقَ ٤٢١ ﵞ ٦٢١ يٰسَنتُ مَوۡيَلۡٱ

Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku. Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang


image

1 Mengimani akidah terbagi menjadi dua:

  1. Iman Mujmal: mengimani kandungan akidah dengan iman yang global tanpa mengimani perkara yang rinci. Inilah kadar iman minimal yang wajib bagi setiap muslim agar sah keimanan mereka.

  2. Iman Mufashal: mengimani kandungan akidah yang rinci yang merupakan detail dari iman yang global. Hukumnya Fardhu Kifayah bagi Ulama dan Sunnah bagi selainnya.

Penjelasan yang lebih mendalam tentang Iman Mujmal dan Mufashal bisa merujuk ke kitab Syarah Ushul Iman

karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh. (SAS)

2 Di antara karakteristik Iman Maufashal adalah wajib hukumnya untuk mengimani rincian yang datang dalam Iman Mufashal bagi yang mengetahui dan memahaminya. Jika seseorang setelah mengetahui dan memahami suatu rincian Iman kemudian tidak mengimaninya, maka dia terjatuh dalam kekufuran. (SAS)

sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata wahai Rabbku mengapa Kau kumpulkanku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku bisa melihat. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan.” (QS. Thaha, 123- 126)

Kita pun semestinya mengingat bahwa Allah (ﷻ) menyatakan diri-Nya jauh melebihi apa yang hamba-Nya sifati dan hanya berhak disifati dengan sifat yang ditetapkan oleh para Rasul-Nya. Allah (ﷻ) berfirman:

نَيمِلَعَٰلۡٱ بِرَ ِّلِلَِّ دُمۡحَلۡٱوَ ١٨١ نَيلِسَرۡمُلۡٱ ىَلعَ مٌلَٰسَوَ ٠٨١ نَوفُصِيَ امَّعَ ةِزَّعِلۡٱ بِرَ كَبِ رَ نَحَٰبۡسُﵟ

ﵞ٢٨١

Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Mahaperkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. (QS. Ash-Shafat: 180-182)

Kita lihat pada ayat Al-Qur’an di atas bahwa Allah menyucikan diri-Nya dari segala sifat yang dinisbatkan kaum musyrikin kepada-Nya. Setelahnya, Allah (ﷻ) bershalawat kepada para rasul karena tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan kaum musyrikin dalam Sifat-Sifat Allah. Terakhir, Dia (ﷻ) memuji diri-Nya dengan segala pujian.

Sepeninggal Nabi (ﷺ), Kemurnian Tauhid diteruskan melalui para sahabat. Kemudian setelahnya oleh para tabi’in. Selanjutnya, oleh tabi’ut tabi’in; semuanya mengikuti manhaj yang ditetapkan oleh Nabi (ﷺ) dalam memahami nama dan sifat-Nya. Allah mengkonfirmasi sikap mereka yang benar dalam firman-Nya:

ﵞ ٨٠١ ..... يۖنِعَبَتَّٱ نِمَوَ ا۠نَأَ ةٍرَيصِبَ ىَٰلعَ ِّۚلِلَّٱ ىَلإِ اْوٓعُدۡأَ يٓلِيبِسَ ۦهِذِهَٰ لۡقُﵟ

Katakanlah: “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS. Yusuf:108)

Namun, setelah tiga gerenasi terbaik berlalu, datanglah suatu kaum yang mengikuti hawa nafsu dan memisahkan diri dari akidah yang lurus. Allah pun mendatangkan kaum lain yang membela agama-Nya. Nabi (ﷺ) telah memprediksi hal ini ketika beliau bersabda:

مَُْلاذا اخ نْما مْهُرُّضُاي َلا ،ق ِ اْلْا ىلاعا انيرِهِااظ ِتِمَّأُ نْمِ ةٌفائِااط لُازا ات َلا

Selalu ada dari umatku senantiasa yang menegakkan perintah Allah. Tidak dapat mencelakai mereka orang yang menghinanya dan juga orang yang menyelisihinya3

Salah satu dari mereka yang bangkit untuk membela agama ini adalah Muhammad bin Salamah al-Azadi Ath-Thahawi. Beliau menuliskan apa yang diketahuinya sebagai akidah salafus shalih, menjabarkan apa yang Imam Abu Hanifah an-Nu’man al-Kufi dan kedua muridnya, Imam Abu Yusuf bin Ibrahim al-Himyari al-Anshari dan Muhammad bin Hasan


image

3 Diriwayatkan oleh Muslim (1920), At-Tirmidzi (2908), Ibnu Majah (10), Ad-Darimi (2/435), dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (1181)

al-Syaibani –semoga Allah merahmati mereka- yakini sebagai akidah seorang Muslim yang lurus.

Seiring berjalannya waktu, kelompok yang menyimpang bermunculan dan sebagai akibatnya, lebih banyak penyimpangan yang terjadi. Hal itu mungkin terjadi karena mereka yang menyebarluaskan kesesatan melakukannya dengan dalih penafsiran agar kesesatan mereka dapat diterima. Selain itu, hanya segelintir orang yang mampu membedakan antara takwil dengan tafsir yang benar. Seringkali, satu kata diberikan makna yang mungkin dapat disimpulkan darinya, namun bukan merupakan makna zahir yang dimaksud dari kata tersebut meski faktanya konteks tersebut tidak menuntut makna yang mungkin tadi. Inilah akar yang menyebabkan kerusakan pada keimanan karena ketika mereka menamakan penyimpangan mereka sebagai “penafsiran” padahal itu merupakan takwil yang menyimpang, Akhirnya, kesesatan tersebut diterima oleh orang-orang yang tidak bisa membedakan keduanya.

Bagaimanapun juga, terdapat berbagai jenis dan macam penyimpangan. Sebagian diantaranya bisa digolongkan sebagai kemurtadan yang nyata, sebagiannya lagi bisa digolongkan kesesata, sebagiannya lagi merupakan dosa, dan sebagiannya hanya kekeliruan.

Telah menjadi kewajiban bagi kita untuk mengikuti para rasul dan wahyu yang diturunkan kepada mereka dari Allah. Allah menyempurnakan rangkaian risalah-Nya dengan risalah yang dibawah oleh Nabi Muhammad (ﷺ) dan menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah penjaga seluruh wahyu yang telah diturunkan-Nya. Dia (ﷻ) menyatakan bahwa ketaatan kepada rasul-Nya sama dengan ketaatan kepada Allah (ﷻ) dan pembangkangan kepada rasul- Nya sama dengan pembangkangan kepada Allah. Allah pun bersumpah dengan nama-Nya bahwa manusia tidak akan beriman sampai mereka menerima rasul-Nya sebagai hakim dalam segala urusan dimana mereka berselisih di antara mereka sendiri.

Kekeliruan yang dilakukan oleh mayoritas umat Islam adalah mereka secara bertahap telah lalai terhadap risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Kelalaian ini bukan hanya dalam perkara terkait akidah dan keimanan, namun juga perkara terkait ibadah, pemerintahan, dan sebagainya. Dalam kelalaian mereka, mereka menisbatkan kepada Nabi segala hal yang mereka warisi dari nenek moyang mereka atau membuang dari risalahnya apa yang sebenarnya menjadi bagian darinya.

Karena kelalaian, kekeliruan, dan perbuatan mereka yang melampaui batas, serta karena kedzaliman mereka, kemunafikan pun menyusup dalam skala besar yang kemudian menghapuskan ilmu yang dibawa oleh wahyu.

Jika seorang hamba tidak mampu untuk memahami keseluruhan dari ajaran rasul atau mengamalkan ajarannya, hal tersebut tidak boleh menjadikannya melarang orang lain untuk mengejar apa yang ia tidak bisa capai dari segi ilmu dan amal. Baginya, ia telah terbebas dari celaan karena tidak bisa mencapai keduanya. Justru, Ia harus merasa bahagia melihat sebagian golongan yang mampu menjalankan keduanya dan ridha atas hal tersebut. Hendaknya Ia berangan-angan termasuk pada golongan tersebut.

Ia tidak boleh menjadi pribadi yang beriman suatu bagian dan menolak bagian lainnya, melainkan harus beriman kepada Al-Qur’an seluruhnya dan berusaha keras untuk menjauhkan apapun yang bukan bagian dari Al-Qur’an baik itu berupa pendapat maupun

riwayat. Ia juga menahan diri dari mengikuti sumber yang bukan berasal dari Allah, baik dalam keimanan maupun amalan. Allah () berfirman:

ﵞ ٢٤ نَومُلَعۡتَ مۡتُنأَوَ قَّحَلۡٱ اْومُتُكۡتَوَ لِطِبَٰلۡٱبِ قَّحَلۡٱ اْوسُبِلۡتَ اَلوَﵟ

Dan jangan kamu campur adukkan yang benar dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang benar itu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 42)

Saya berkehendak untuk mensyarah matan akidah yang disusun oleh Ath-Thahawi dengan mengikuti jalan salafus shalih, berpegang teguh pada jalan mereka, dan meniru mereka, agar saya bisa menjadi salah satu pengikut jalan mereka, dihitung sebagai salah dari mereka, dan diangkat bersama mereka di akhirat kelak.

ﵞ ٩٦ .... نَۚيحِلِصَّٰلٱوَ ءِآدَهَشُّلٱوَ نَيقِيدِ صِ لٱوَ نَـۧيِ بِنَّلٱ نَمِ مهِيۡلَعَ ّلِلَُّٱ مَعَنۡأَ نَيذِلَّٱ عَمَ ....

Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shaleh (QS. An-Nisa:69)

FASAL: TAUHID


مِيحِرَّلا نِـَمحْرَّلا ّللِه ا مِسْبِ

Imam Ath-Thahawi memulai matannya dengan kalimat berikut ini:


image

Kami berkata tentang mentauhidkan Allah diringi dengan keyakinan keesaannya bahwa:‘Sesungguhnya Allah adalah Esa, tidak ada sekutu bagiNya

Seorang Muslim harus mengetahui bahwa mengimani Keesaan Allah senantiasa menjadi pembuka dakwah yang disampaikan oleh para rasul. Ini adalah pijakan pertama menuju jalan kebenaran dan gerbang pertama yang harus dilalui setiap musafir yang berjalan menuju Allah. Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ ٩٥ .....ۥهُرُيۡغَ هٍلَٰإِ نۡمِ مكُلَ امَ ّلِلََّٱ اْودُبُعۡٱ مِوۡقَيَٰ لَاقَفَ ۦهِمِوۡقَ ىَٰلإِ احًونُ انَلۡسَرۡأَ دۡقَلَﵟ

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan bagimu selain Dia. (QS: Al-Araf: 59)

Nabi Hud telah berkata:

ﵞ٥٦ .... ۥٓهُۚرُيۡغَ هٍلَٰإِ نۡمِ مكُلَ امَ ّلِلََّٱ اْودُبُعۡٱﵟ

sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan bagimu selain Dia. (QS: Al-Araf: 65)

Kalimat ini pun disampaikan oleh Nabi Saleh dan Syu’aib:

ﵞ٦٣ ....تَوغُطَّٰلٱ اْوبُنِتَجۡٱوَ ّلِلََّٱ اْودُبُعۡٱ نِأَ اًلوسُرَّ ةٖمَّأُ لِ كُ ىِف انَثۡعَبَ دۡقَلَوَﵟ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thagut. (QS. An-Nahl: 36)

Allah () juga berfirman:

ﵞ٥٢ نِودُبُعۡٱفَ ا۠نَأَ آَّلإِ هَلَٰإِ آَل ۥهُنَّأَ هِيۡلَإِ يٓحِونُ اَّلإِ لٍوسُرَّ نمِ كَلِبۡقَ نمِ انَلۡسَرۡأَ آمَوَﵟ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25)

Nabi(ﷺ) telah bersabda; “Aku diperintahkan agar memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Oleh sebab itu, bisa dikatakan bahwa kewajiban pertama seorang manusia adalah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa perkar pertama yang memasukkan seseorang ke dalam Islam adalah Tauhid dan Tauhid juga menjadi hal terakhir yang diwajibkan kepadanya sebelum dia meninggalkan dunia ini, sebagaimana sabda Nabi(ﷺ), “Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah 'lailaha illallah', maka dia akan masuk surga.” Bisa dikatakan bahwa Tauhid adalah kewajiban pertama dan terakhir.

Apa yang kami maksud dengan tauhid di atas maksudnya adalah Tauhid Uluhiyah.

Karena tauhid sendiri terbagi menjadi tiga:

  1. Tauhid Asma wa Sifat

  2. Tauhid Rububiyah

    Kedua Tauhid ini menegaskan pada kita bahwa Allah sajalah Pencipta segala sesuatu, dan

  3. Tauhid Uluhiyah

Menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah, tanpa ada sekutu baginya.

Mereka yang menyangkal jenis Tauhid yang pertama, yaitu Tauhid Asma wa Sifat, salah satunya adalah Jahm bin Safwan dan para pengikutnya. Mereka terjatuh dalam kesesatan yang besar. Karena suatu dzat tanpa sifat tidak mungkin memiliki eksistensi. Pikiran akan terjatuh pada membayangkan hal yang tidak mungkin dan membiarkan imajinasi bergerak liar. Ini adalah cara terburuk untuk menyatakan bahwa alam semesta tidak memiliki pencipta.

Tauhid yang kedua yaitu Tauhid Rububiyah artinya bersaksi bahwa Dia adalah pencipta segala sesuatu yang ada. Tauhid ini merupakan kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat. Sehingga, sepengetahuan kami, tidak ada satu sekte pun yang menyangkal tauhid jenis ini. Ketauhidan ini tertanam dalam jiwa manusia. Sebagai perbandingan, tidak ada eksistensi lain yang lebih diyakini manusia lebih dari keberadaan sosok pencipta. Hal ini selaras dengan yang dikatakan para rasul, dalam firman Allah:

ﵞ ٠١ .... ضِۖۡرأَۡلٱوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ رِطِافَ ك شَ ِّلِلَّٱ ىفِأَ مۡهُلُسُرُ تۡلَاقَﵟ

Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?”(QS. Ibrahim: 10)

Di antara para pembangkang yang paling terkenal, yang menyangkal keberadaan Sang Pencipta sambil berpura-pura tidak tahu akan eksistensi Tuhan adalah Fir’aun. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, dia mengetahui kebenarannya. Musa i pun berkata padanya.

ﵞ٢٠١ ..... رَئِآصَبَ ضِۡرأَۡلٱوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ بُّرَ اَّلإِ ءِآَلؤُهَٰٓ َ لَزَنأَ آمَ تَمۡلِعَ دۡقَلَ لَاقَﵟ

Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.”(QS. Al-Isra: 102)

Dan Allah () berfirman tentang Firaun dan kaumnya:

ﵞ٤١ .... اۚوٗ لُعُوَ امٗلۡظُ مۡهُسُفُنأَ آهَتۡنَقَيۡتَسۡٱوَ اهَبِ اْودُحَجَوَﵟ

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenarannya). (QS. An-Naml: 14)

Oleh sebab itu, tidak ada satu kelompok pun di dunia ini yang mengklaim adanya dua pencipta dengan kekuatan setara. Konsep ini digugurkan oleh konsep lain yang dikenal sebagai At-Tamanu’ [عنامتلا]) yaitu “kemustahilan.” Maksudnya adalah jika dunia ini memiliki dua tuhan, maka andaikan mereka berselisih: satu tuhan menginginkan suatu benda diam di tempat sementara tuhan lainnya ingin benda itu bergerak atau satu tuhan ingin objek itu hidup sementara tuhan lainnya ingin objek itu mati, maka ada beberapa kemungkinan:

  1. Keduanya bisa melaksanakan ketetapan mereka (benda itu bergerak dan diam dalam satu waktu atau hidup dan mati dalam satu waktu)

  2. Hanya salah satunya yang berhasil menjalankan ketetapannya (benda itu bergerak atau diam; hidup atau mati; mengikuti keinginan salah satu pencipta)

  3. tidak ada satupun diantara mereka yang berhasil menjalankan ketetapannya (benda itu tidak bergerak tidak juga diam; tidak hidup tidak juga mati).4

Opsi yang pertama adalah kemustahilan, karena artinya menyelaraskan dua hal yang berlawanan. Opsi ketiga pun suatu kemustahilan, karena dalam kasus tersebut keduanya gagal menjalankan fungsinya sebagai tuhan. Oleh sebab itu, kita hanya disisakan opsi kedua, yaitu salah satunya berhasil dalam melaksanakan kehendak mereka sedangkan yang lainnya gagal.

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa sosok yang berhasil menjalankan kehendaknya sah ditetapkan sebagai tuhan. Adapun yang gagal, tidak bisa dianggap sebagai tuhan. Banyak yang meyakini bahwa dalil dari konsep At-Tamanu’ adalah makna yang dikandung oleh ayat:

ﵞ٢٢ .... اۚتَدَسَفَلَ ّلِلَُّٱ اَّلإِ ةٌهَلِاءَ آمَهِيفِ نَاكَ وۡلَﵟ

Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa. (QS. Al-Anbiya: 22)

Dasar pemikiran mereka yang memahami ayat tersebut dengan pemahaman demikian adalah konsep penyamaan Tauhid Rububiyah yang mereka yakini dengan Tauhid Uluhiyah yang digambarkan dalam Al-Qur’an dan yang diserukan oleh semua rasul.5 Namun, Tauhid yang diserukan oleh para rasul dan dengannya diturunkan kitab suci adalah Tauhid Uluhiyah


image

4 Ini merupakan bahasan Ilmu Mantiq. Bagi yang ingin lebih memahami bagian ini, silahkan membuka referensi Ilmu Mantiq. Bagi yang ingin hanya memahami bagian ini saja, ada pembahasan yang mirip di bagian-bagian awal kitab At-Tadmuriyah kareya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Penjelasan yang mudah bisa merujuk ke Syarah Akidah At-Tadmuriyah karya Syaikh Ibnu Utsaimin (SAS).

5 Hal ini karena dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata “Al-Ilah (ةلإلا)” yang bermakna sesembahan sebagai kata ganti “Ar-Rabb (ب رلا)” yang bermakna Tuhan. Oleh karenanya, mereka beranggapan bahwa Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah itu sama. Padahal hakikatnya tidak demikian. (SAS)

yang di dalamnya termasuk Tauhid Rububiyah. Tauhid Uluhiyah didefinisikan sebagai penyembahan kepada Allah saja tanpa menyekutukannya. Pembedaan ini harus ditegaskan karena bangsa Arab jahiliyah mengakui Tauhid Rububiyah dan bahwa pencipta alam semesta adalah Tuhan yang Esa6. Allah (ﷻ) berfirman mengenai mereka:

ﵞ ٥٢ .... ّۚلِلَُّٱ نَّلُوقُيَلَ ضَۡرأَۡلٱوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ قَلَخَ نۡمَّ مهُتَلۡأَسَ نئِلَوَﵟ

Dam sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.” (QS. Luqman: 25)

Dan,

ﵞ٥٨ نَورُكَّذَتَ الَفَأَ لۡقُ ِّۚلِلَِّ نَولُوقُيَسَ ٤٨ نَومُلَعۡتَ مۡتُنكُ نإِ آهَيفِ نمَوَ ضُۡرأَۡلٱ نِمَِ ل لقُﵟ

Katakanlah:”Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah. “Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” (QS. Al-Mu’minun: 84-85)

Masih banyak contoh lainnya yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Kaum musyrikin tidak meyakini bahwa patung berhala mereka ikut serta dalam penciptaan alam semesta ini. Mereka hanya menganut keyakinan yang serupa dengan penyembah berhala di India, Turki dan tempat-tempat lainnya. Mereka meyakini bahwa berhala mereka itu merupakan perwujudan orang-orang shaleh. Mereka memohon syafaat dan mencoba mendekatkan diri kepada Allah melalui berhala mereka. Ini adalah hakikat syirik (mempersekutukan Allah) yang dianut oleh kaum musyrikin Arab, sebagaimana firman Allah (ﷻ) tentang kaum Nabi Nuh:

ﵞ٣٢ ارٗسَۡنوَ قَوعُيَوَ ثَوغُيَ اَلوَ اعٗاوَسُ اَلوَ ادٗ وَ نَّرُذَتَ اَلوَ مۡكُتَهَلِاءَ نَّرُذَتَ اَل اْولُاقَوَﵟ

Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 23)

Telah ditegaskan dalam hadits di dalam Shahih Bukhari dan juga dalam Al-Qur’an bahwa nama-nama yang disebutkan pada ayat di atas adalah nama-nama orang shaleh dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka wafat, orang-orang bersimpuh di makam mereka. Kemudian mereka membuat patung orang-orang shaleh tersebut. Hingga pada akhirnya, seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyembah patung-patung yang mereka buat.

Orang-orang ini mengakui bahwa hanya ada satu pencipta dan tidak ada dua pencipta di dunia ini. Adapun sesembahan mereka, mereka menganggapnya sebagai perantara. Sebagaimana firman Allah (ﷻ):

ﵞ٣ ..... يفَلۡزُ ِّلِلَّٱ ىَلإِ آنَوبُرِ قَيُلِ اَّلإِ مۡهُدُبُعۡنَ امَ ءَآيَلِوۡأَ ۦٓهِنِودُ نمِ اْوذَُختَّٱ نَيذِلَّٱوَ ....

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah


image

6 Keyakinan ini hanya keyakinan Tauhid Rubuiyah belaka tanpa diiringi Tauhid Uluhiyah (SAS)

mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Al-Zumar: 3)

Allah () pun berfirman:

ﵞ ٨١ ... ِّۚلِلَّٱ دَنعِ انَؤُعَٰٓ َ فَشُ ءِآَلؤُهَٰٓ َ نَولُوقُيَوَ مۡهُعُفَنيَ اَلوَ مۡهُرُّضُيَ اَل امَ ِّلِلَّٱ نِودُ نمِ نَودُبُعۡيَوَﵟ

Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.”(QS. Yunus: 18)

Ini menunjukkan bahwa Tauhid yang dituntut dari manusia adalah Tauhid Uluhiyah

yang di dalamnya termasuk Tauhid Rububiyah, sebagaimana firman Allah (ﷻ):

نُيدِ لٱ كَلِذَٰ ِّۚلِلَّٱ قِلۡخَلِ لَيدِبۡتَ اَل اۚهَيۡلَعَ سَانَّلٱ رَطَفَ يتِلَّٱ ِّلِلَّٱ تَرَطۡفِ اۚفٗينِحَ نِيدِ للِ كَهَجۡوَ مۡقِأَفَﵟ ﵞ ٠٣ نَومُلَعۡيَ اَل سِانَّلٱ رَثَكۡأَ نَّكِلَٰوَ مُيِ قَلۡٱ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam), (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum: 30)

Allah () pun berfirman:

مۡهُنَيدِ اْوقُرَّفَ نَيذِلَّٱ نَمِ ١٣ نَيكِرِشۡمُلۡٱ نَمِ اْونُوكُتَ اَلوَ ةَوٰلَصَّلٱ اْومُيقِأَوَ هُوقُتَّٱوَ هِيۡلَإِ نَيبِينِمُ ۞ﵟ ﵞ ٢٣ نَوحُرِفَ مۡهِيۡدَلَ امَبِ بِۭزۡحِ لُّكُ اۖعٗيَشِ اْونُاكَوَ

Kembalilah bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka (QS. Ar-Rum: 31- 32)

Al-Qur’an dipenuhi ayat-ayat yang menekankan Tauhid Uluhiyah dan konsep serupa yang menjelaskannya. Tauhid Uluhiyah juga menetapkan Tauhid rububiyah, menekankan bahwa tiada Pencipta selain Allah dan berkonsekuensi tidak ada sosok yang berhak disembah kecuali Allah. Al-Qur’an menggunakan Tauhid Rububiyah sebagai dalil untuk Tauhid Uluhiyah. Karena orang-orang yang mengakui Tauhid Rububiyah menyangkal Tauhid Uluhiyah.

Seakan-akan Allah menjelaskan kepada mereka bahwa: ‘jika kalian mengakui bahwa tiada pencipta selain Allah, bahwa Dialah yang menganugerahkan kepada manusia apa yang bermanfaat bagi mereka, serta menghilangkan apa yang menyakitkan bagi mereka, yang dalam perbuatan-Nya tersebut Allah tidak memiliki sekutu, lalu mengapa kalian menyembah kepada selain Allah, menunjukkan bahwa ada tuhan-tuhan lain selain Allah?’

Ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah () berikut ini:

تِوَٰمَٰسَّلٱ قَلَخَ نۡمَّأَ ٩٥ نَوكُرِشُۡي امَّأَ رٌيۡخَ ّلِلَُّآءَ ٰۗٓيَٰٓ فَطَصۡٱ نَيذِلَّٱ هِدِابَعِ ىَٰلعَ مٌلَٰسَوَ ِّلِلَِّ دُمۡحَلۡٱ لِقُﵟ

اْوتُبِۢنتُ نأَ مۡكُلَ نَاكَ امَّ ةٖجَهۡبَ تَاذَ قَئِآدَحَ ۦهِبِ انَتۡبَۢنأَفَ ءٗآمَ ءِآمَسَّلٱ نَمِ مكُلَ لَزَنأَوَ ضَۡرأَۡلٱوَ

ﵞ ٠٦ نَولُدِعۡيَ م وۡقَ مۡهُ لۡبَ ِّۚلِلَّٱ عَمَّ هلَٰءِأَ ٰۗٓآهَرَجَشَ

Katakanlah (Muhammad), “Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba-hamba- Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia? Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). (QS. An-Naml: 59-60)

Dari ayat-ayat yang disebutkan di atas, bisa diketahui bahwa setelah berbagai dalil yang dihadirkan Allah, satu demi satu, Allah kemudian berkata: “Adakah Tuhan selain Allah?” Maksudnya, tuhan mana selain Allah yang mampu melakukan hal-hal ini? Ini adalah penyangkalan dalam bentuk pertanyaan. Ketika mereka sudah mengakui bahwa tiada yang dapat melakukan semua itu selain Allah, dengan demikian Dia telah membungkam mereka. Allah tidak mengajukan pertanyaan kepada mereka, yang dapat dijawab secara negatif atau positif.

Namun pertanyaan yang diajukan di atas justru merupakan sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa tiada tuhan selain Allah meskipun orang-orang telah menyekutukan Allah dengan sesembahan mereka. Allah () berfirman:

ﵞ ٩١ .... دُۚهَشۡأَ آَّل لقُ ىٰٰۚرَخۡأُ ةًهَلِاءَ ِّلِلَّٱ عَمَ نَّأَ نَودُهَشۡتَلَ مۡكُنَّئِأَ ...

Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah? Katakanlah: “Aku tidak dapat bersaksi.” (QS. Al-An’am: 19)

Jika Tauhid rububiyah terkandung dalam konsep Tauhid uluhiyah yang dibawa oleh para Rasul, yang karenanya diturunkan kitab-kitab suci, maka tidak mengherankan jika dalil- dalil yang tersedia begitu beragam. Contohnya seperti dalil-dalil yang mendukung bahwa Allah sebagai pencipta atau dalil-dalil yang mendukung kebenaran Nabi. Secara umum, semakin banyak manusia membutuhkan pengetahuan tertentu, maka semakin beragama pula dalil-dalil tersebut. Ini berkat rahmat dari Allah untuk makhluk-Nya.7

Oleh karena itu, Al-Qur’an menyampaikan sejumlah permisalan yang mendukung konsep ini. Permisalan ini merupakan alat ukur yang rasional untuk membantu memahami agama. Al-Qur’an menyatakan kebenaran kemudian menyampaikan dalilnya. Lalu apa yang tersisa setelah datangnya petunjuk, selain kesesatan?

Adapun terkait dalil Mukaddimah8 sudah disepakati, Al-Qur’an tidak


image

7 Penjelasan yang lebih mudah mengenai hubungan Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah bisa merujuk bagian awal dari kitab Al-Irsyad Ila Shahih Al-Itiqad karya Syaikh Shalih Al-Fauzan (SAS)

8 Dalil Mukadimah yang dimaksud disini adalah istilah dalam ilmu mantik tentang konsep pembuktian kebenaran yang serupa dengan pembuktian kebenaran dalam logika matematika. Dalil Mukadimah biasanya

menyampaikannya karena sudah diketahui secara umum. Al-Qur’an menggunakannya untuk tujuannya sendiri tanpa membangun dalil pendukung untuk membuktikan kebeneran konsep tersebut.

Karena manusia memahami bahwa dualisme ketuhanan akan mengarahkan mereka pada situasi yang mustahil, yaitu mengakui dua tuhan dengan sifat dan kekuatan yang setara, sebagian penyembah berhala (musyrikin) mengadopsi pemikiran bahwa sebagian dari alam semesta diciptakan oleh satu tuhan (sedangkan tuhan lain menciptakan bagian lainnya). Sebagai contoh, sekte Qadariyah meyakini bahwa kemunkaran diciptakan oleh sosok selain Allah atau seperti klaim beberapa filsuf berkaitan dengan benda-benda langit. Para filsuf menyatakan bahwa segala sesuatu dan peristiwa terjadi tanpa Allah menyebabkan terjadinya.

Dengan demikian, mereka menisbatkan sebagian sifat ketuhanan kepada selain Allah. Sebagian musyrikin Arab pun meyakini bahwa manfaat dan mudharat berasal dari sesembahan mereka, tanpa Allah menciptakan manfaat dan madarat tersebut. Berhubung banyaknya penyekutuan rububiyah Allah di tengah-tengah manusia, Al-Qur’an membantahnya. Allah (ﷻ) berfirman:

ىَٰلعَ مۡهُضُعۡبَ الَعَلَوَ قَلَخَ امَبِ هِۭلَٰإِ لُّكُ بَهَذَلَّ اذٗإِ هٍٰۚلَٰإِ نۡمِ ۥهُعَمَ نَاكَ امَوَ دٖلَوَ نمِ ّلِلَُّٱ ذََختَّٱ امَﵟ

ﵞ ١٩ ..... ضٰٖۚعۡبَ

Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya, (sekiranya tuhan banyak), maka masing-masing tuhan itu akan membawa apa (makhluk) yang diciptakannya, dan sebagian tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. (QS. Al-Mu’minun: 91)

Silahkan menelaah ayat ini lagi, ayat yang tepat sasaran dan langsung pada intinya. Tuhan yang haq (benar) harus memiliki kekuatan menciptakan, memberikan manfaat kepada ciptaan-Nya, dan menghalau bahaya dari mereka. Apabila ada tuhan lain selain-Nya dalam kerajaan-Nya, maka tuhan lain tersebut tentu memiliki ciptaannya sendiri.

Namun tentu saja, Tuhan lain tadi tidak akan puas hanya menjadi bagian dari kerajaan Tuhan lain. Jika dia mampu, tentu dia akan merebut semua kekuasaan itu dengan menggunakan kekuatan dan menyingkirkan tuhan lainnya. Jika dia tidak memiliki kekuatan semacam itu, maka tentunya dia akan memisahkan diri bersama seluruh ciptaannya. Ini


image

terdiri dari Mukadimah Kubra (Pernyataan yang terbukti kebenarannya), Mukadimah Sughra (Pernyataan yang ingin dibuktikan kebenarannya), dan Natijah (Hasil Pembuktian). Misal:

Mukadimah Kubra: Semua yang bersifat baru (Hadits) pasti diciptakan (makhluk)

Mukadimah Sughra: Manusia bersifat baru

Natijah: Manusia adalah makhluk

Disini Mukadimah menggunakan konsep silogisme untuk membuktikan kebenaran manusia adalah makhluk. Penjelasan yang mudah tentang konsep mukadimah ini bisa merujuk ke awal-awal kitab Al-Muhadzab fi Ushul Fiqh Al-Muqaran.

Istilah baru (Hadits) yang dimaksud adalah ada setelah sebelumnya tiada sebagai lawan dari lama (Qidam) yang merupakan sifat dari pencipta. Konsep Hadits dan Qadim adalah salah satu konsep utama yang digunakan Ahli Kalam untuk membangun postulat filsafat mereka dalam kajian teologi (SAS).

lumrah terjadi di muka bumi ketika ada lebih dari satu penguasa yang menduduki wilayah yang sama, maka mereka akan menyingkir dari wilayah tersebut mereka jika salah satu dari mereka tidak bisa mengalahkan yang lainnya.

Dari kasus di atas, setidaknya kita akan sampai pada salah satu dari tiga opsi:

  1. Mereka bisa saling memisahkan diri, masing-masing dengan kerajaan masing-masing

  2. Mereka bertempur dan saling mengalahkan satu sama lain

  3. Mereka semua akan dikalahkan oleh sosok terkuat. Sosok yang lain akan berada di bawah kekuasannya dan mereka akan bertindak sesuai dengan kehendaknya, pada akhirnya mereka tidak dapat melakukan apapun tentang itu. Maka, soso-sosok lain tidak ada lagi yang menjadi tuhan. Mereka akan menjadi budak yang ditundukkan.

Keteraturan dunia ini yang diatur dalam satu sistem adalah salah satu dalil yang paling efektif dan tak terbantahkan bahwa dunia ini memiliki satu pencipta, satu tuhan. Penciptaan dunia ini tidak memiliki tuhan selain Dia dan tiada ilah lain selain Dia. Karena tidak mungkin ada dua tuhan dengan kekuatan setara, tidak mungkin juga memiliki dua ilah yang layak disembah. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri, argumen tentang satu Tuhan juga mengantarkan kita pada satu ilah.

Ayat di atas juga sejalan dengan dalil yang menegaskan apa yang manusia secara alamiah yakini mengenai adanya satu tuhan untuk alam semesta ini. Ayat ini pun menunjukkan Tauhid uluhiyah. Konsep yang sangat mirip dengannya dinyatakan dalam ayat

berikut ini:

ﵞ٢٢ ..... اۚتَدَسَفَلَ ّلِلَُّٱ اَّلإِ ةٌهَلِاءَ آمَهِيفِ نَاكَ وۡلَﵟ

Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. (QS. Al-Anbiya: 22)

Sebagian orang juga berpikir bahwa ayat ini membicarakan tentang kemustahilan adanya dua tuhan. Tidak demikian. Melainkan ayat ini menyatakan kemustahilan adanya dua ilah. Kata “tuhan” tidak digunakan dalam ayat ini.

Lebih jauh lagi, maksud potongan ayat “keduanya (langit dan bumi) itu telah rusak binasa,” hanya mungkin terjadi setelah penciptaan. Dia tidak menyatakan “keduanya (langit dan bumi) tidak akan tercipta”.

Konsep Tauhid Rububiyah terkandung dalam Tauhid Uluhiyah. Namun tidak berlaku sebaliknya. Karena sosok yang tidak mampu tidak bisa menciptakan adalah sosok yang lemah dan sosok yang lemah tidak mungkin menjadi tuhan. Allah (ﷻ) berfirman:


ﵞ ١٩١ نَوقُلَۡخيُ مۡهُوَ ا ـٗيۡشَ قُلُۡخيَ اَل امَ نَوكُرِشُۡيأَﵟ

Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatupun? (QS. Al-Araf: 191)

Lebih lanjut, Tauhid yang diserukan oleh para Rasul dan merupakan isi utama Kitab Suci ada dua jenis:

  1. Tauhid fil itsbati wal makrifah

  2. Tauhid fith-tholabi wal qashdi

Tauhid jenis yang pertama adalah tauhid yang berkaitan dengan penetapan Dzat Allah Yang Maha Tinggi, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan nama-nama-Nya. Tidak ada yang semisal dengan-Nya. Tidak ada satupun yang menyerupai-Nya dalam semua karakteristik ketuhanan-Nya, seperti yang dikabarkan oleh Allah dan rasul-Nya kepada kita.

Tauhid jenis kedua yaitu tauhid dalam ibadah dan telah didefinisikan dengan baik dalam ayat Al-Qur’an berikut ini:

امَّ د بِاعَ ا۠نَأَ آَلوَ ٣ دُبُعۡأَ آمَ نَودُبِعَٰ مۡتُنأَ آَلوَ ٢ نَودُبُعۡتَ امَ دُبُعۡأَ آَل ١ نَورُفِكَٰلۡٱ اهَيُّأَيَٰٓ َ لۡقُﵟ

ﵞ٤ مۡتُّدبَعَ

Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah (QS. Al-Kafirun: 1-4)

Serta dalam firman Allah(ﷻ):

ﵞ٤٦ ....ّلِلََّٱ اَّلإِ دَبُعۡنَ اَّلأَ مۡكُنَيۡبَوَ انَنَيۡبَ ءِۭآوَسَ ةٖمَلِكَ ىَٰلإِ اْوۡلَاعَتَ بِتَٰكِلۡٱ لَهۡأَيَٰٓ َ لۡقُﵟ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berperang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah selain Allah” (QS. Al-Imran: 64)

Sebagian besar surah dalam Al-Qur’an, bahkan seluruhnya, berkaitan dengan dua jenis tauhid ini. Karena ayat-ayat Al-Qur’an berisi:

  1. Informasi tentang Allah, sifatnya, ataupun nama Allah. Ini adalah Tauhid Al-Ilmi Al- Khabari9 (yang diterima oleh berbagai nabi dari Allah); atau

  2. Seruan untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukannya serta untuk meninggalkan semua sesembahan selain Dia. Tauhid ini bisa disebut dengan Tauhid Al-Iradi Ath-Thalabi 10; atau,

  3. Berisikan larangan dan perintah dan sebagainya. Ini adalah tuntutan dan kesempurnaan tauhid; atau,

  4. Informasi mengenai ahli tauhid seperti tentang apa yang telah Dia lakukan pada mereka di dunia ini, serta bagaimana Allah akan memuliakan mereka di akhirat: ini adalah balasan untuk tauhid yang benar; atau,

  5. Informasi tentang orang-orang yang mempersekutukan Allah, tentang perlakuan Allah


image

9 Tauhid Al-Ilmi Al-Khabari = Tauhid Al-Itsbat wal Makrifah = Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah (SAS)

10 Tauhid Al-Iradi Ath-Thalabi = Tauhid Ath-Thalab wal Qashd = Tauhid Uluhiyah (SAS)

kepada mereka di dunia dan tentang bagaimana Allah akan memperlakukan mereka di akhirat: ini adalah ganjaran yang diterima oleh mereka yang mengabaikan tauhid.

Allah sendiri telah bersaksi pada tauhid ini, demikian pula para malaikat dan para Rasul. Allah (ﷻ) berfirman:

نَيدِ لٱ نَّإِ ٨١ مُيكِحَلۡٱ زُيزِعَلۡٱ وَهُ اَّلإِ هَلَٰإِ آَل طِٰۚسۡقِلۡٱبِ امََۢئِآقَ مِلۡعِلۡٱ اْولُوْأُوَ ةُكَئِلَٰٓ َ مَلۡٱوَ وَهُ اَّلإِ هَلَٰإِﵟ

نمَوَ ٰۗٓمۡهُنَيۡبَ اَۢيَغۡبَ مُلۡعِلۡٱ مُهُءَآجَ امَ دِعۡبَ نَۢمِ اَّلإِ بَتَٰكِلۡٱ اْوتُوأُ نَيذِلَّٱ فَلَتَخۡٱ امَوَ ٰۗٓمُلَٰسۡإِۡلٱ ِّلِلَّٱ دَنعِ ﵞ٩١ بِاسَحِلۡٱ عُيرِسَ ّلِلََّٱ نَّإِفَ ِّلِلَّٱ تِيَٰأَـِب رۡفُكۡيَ

Allah menyatakan bahwasanya tida ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), demikian pula para malaikat, ahli ilmu yang menegakkan keadilan. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesunguhnya agama yang diridhai di sisi Allah, hanyalah Islam. (QS. Al-Imran: 18-19)

Ayat ini menegakkan kebenaran tauhid dan menyangkal semua kelompok yang sesat. Ayat-ayat ini terdiri dari persaksian yang paling baik, paling terpercaya, paling jujur, dari saksi Yang Maha Terpuji sebagai saksi paling mulia dan tauhid sebagai objek yang dipersaksikan paling mulia.11

Adapun kata “syahida” dalam ayat di atas, ulama salaf terdahulu telah menafsirkannya sebagai perintah, hukum, pemberitahuan, pernyataan yang tegas, serta kabar. Semua makna ini bisa dipadukan, karena memberikan kesaksian sama artinya dengan mengeluarkan pernyataan, mengeluarkan perintah, memberikan hukum dan sebagainya.

Persaksian terdiri dari empat tingkatan:

  1. Pertama; Ilmu, pengetahuan, dan keyakinan atas sesuatu yang dipersaksikan sebagai kebenaran dan validitasnya.

  2. Kedua; mengikrarkan kesaksian tersebut, meskipun tidak ada orang lain yang memiliki pengetahuan akan hal itu. Seseorang dapat menyatakan pada dirinya sendiri atau menuliskannya.

  3. Ketiga; memberitahukan kepada yang lain tentang apa yang dipersaksikannya dan menjelaskannya kepada mereka.

  4. Yang keempat; menjalankan konsekuensi persaksian tersebut dan menuntutnya untuk melaksanakannya.

Persaksian Allah atas tauhid mengandung empat hal berikut: pengetahuan-Nya, pernyataan-Nya, pemberitahuan kepada makhluk-Nya, dan perintah-Nya kepada makhluk- Nya untuk menerimanya dan mewajibkan mereka kepada persaksian tersebut.

Tingkatan terpenting dari empat tingkatan ini adalah untuk menjalankan konsekuensi dari persaksian tersebut dan menuntutnya untuk melaksanakannya. Karena Allah mempersaksikan tauhid ini berarti kesaksian oleh Yang memerintahkannya, Yang menuntutnya, dan Yang mewajibkan atas makhluk-Nya. Allah () berfirman:


image

11 Maksud dari persaksian ini adalah Dua Kalimah Syahadat (SAS)

ﵞ٣٢ .... هُايَّإِ آَّلإِ اْوٓدُبُعۡتَ اَّلأَ كَبُّرَ يٰضَقَوَ ﵟ

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (QS. Al- Isra: 23)

Dia (ﷻ) pun berfirman:

ﵞ ١٥ .... نِۖيۡنَثۡٱ نِيۡهَلَٰإِ اْوٓذُخِتَّتَ اَل ....

Janganlah kamu menyembah dua tuhan (QS. An-Nahl: 51)

Sisi pendalilan bahwa persaksian Allah Yang Maha Tinggi berkonsekuensi atas hal tersebut adalah jika Allah telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan selain-Nya, artinya Dia telah mengumumkan, menetapkan, dan memerintahkan bahwa selain Dia bukanlah Tuhan yang hakiki dan apa yang dianggap sebagai tuhan selain Dia tidak sempurna serta cacat. Oleh karena itu, tidak ada yang layak disembah selain Dia seperti halnya rububiyah tidak dimiliki selain oleh-Nya saja. Ini semua melazimkan bahwa hanya Dia satu-satunya Tuhan dan tidak ada yang boleh dijadikan Tuhan selain Allah. Inilah yang akan dipahami seorang manusia ketika mereka mendengar Itsbat dan Nafi dalam dua kalimah Syahadat.

Ketetapan dan konsekuensi yang terkandung di dalam Syahadat Laa Ilaaha Ilallah menuntut penerimaan dan pengakuan (oleh hamba-hamba-Nya). Jika ini merupakan persaksian yang biasa, maka manusia tidak bisa untuk memahaminya, tidak akan memperoleh manfaat apapun darinya, dan tidak akan tegak hujjah atasnya. Namun persaksian itu ditujukan sebagai infomasi bagi manusia, agar mereka jelas memahami apa yang dipersaksikan Allah. Jika tidak demikian, maka situasinya sama dengan orang yang memberikan kesaksian atas suatu hal, namun menyimpan informasi tersebut untuk dirinya sendiri, tanpa mengucapkannya. Sudah jelas, tidak akan ada orang yang mendapatkan manfaat dari kesaksian itu dan tidak akan tegak hujjah.

Jika persaksian tersebut tidak akan bermanfaat bagi manusia kecuali dijelaskan kepada mereka dengan sejelas-jelasnya, Allah membawakan kepada manusia persaksian ini melalui tiga sarana; pendengaran, penglihatan, dan akal.

Adapun melalui sarana pendengaran, manusia dapat mendengar wahyu yang menerangkan seluruh sifat-Nya yang sempurna, keesaan-Nya, dan sebagainya sebagaimana firman Allah (ﷻ):

ﵞ٨٣١ نَيقِتَّمُلِۡ ل ةظَعِوۡمَوَ ىدٗهُوَ سِانَّلِ ل ن ايَبَ اذَهَٰ....

(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Imran: 138)

Allah () pun berfirman:

ﵞ ٢٩ نُيبِمُلۡٱ غُلَٰبَلۡٱ انَلِوسُرَ ىَٰلعَ امَنَّأَ اْوٓمُلَعۡٱفَ....

Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul kami, hanyalah menyampaikan

(amanatAllah) dengan terang. (QS. Al-Maidah: 92)

Dia (ﷻ) pun berfirman:

مْهِيْالإِ لازِ ُ ن اما سِانَّللِ ّيا ِاب تُلِ راكِْذ لا اكيْالإِ اانلْزاناأوا

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS. An-Nahl: 44)

Sunnah pun menjelaskan dan menegaskan apa yang dinyatakan Al-Qur’an. Allah Yang Maha Tinggi tidak membiarkan kita tanpa petunjuk sehingga membutuhkan pendapat individu ini dan itu untuk menjelaskan akidah yang harus diyakini. Sehingga, engkau akan mendapati mereka yang menentang Al-Qur’an dan Sunnah selalu berada dalam kebingungan dan kesesatan. Padahal Allah () telah berfirman:

اماالسْإلِا مُكُال تُي ضِراوا ِتِما عْنِ مْكُيْلاعا تُمْاْتْاأوا مْكُانيدِ مْكُال تُلْما كْاأ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3)

Adapun ayat-ayat yang bisa dijangkau oleh sarana penglihatan yang bisa dilihat pada ciptaan-Nya, maka dengan mengamati dan meneliti makhluk ciptaan-Nya, hasil yang sama akan diperoleh sebagaimana apa yang diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur’an. Akal memadukan semuanya (apa yang didengar dan dilihat) dan memberikan kesaksian atas kebenaran apa yang diterima melalui para Nabi. Sehingga, kesaksian dengan pendengaran, penglihatan, dan akal, sejalan satu sama lainnya.

Dengan demikian, atas dasar keadilan,rahmat, kebijaksanaan, cinta dan karena alasan tidak meninggalkan ruang untuk penyangkalan, Allah tidak mengutus seorang nabi, melainkan dengan menyertakan tanda yang menjadi saksi atas kejujuran risalah yang telah dibawanya. Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ٥٢ .... طِۖسۡقِلۡٱبِ سُانَّلٱ مَوقُيَلِ نَازَيمِلۡٱوَ بَتَٰكِلۡٱ مُهُعَمَ انَلۡزَنأَوَ تِنَٰيِ بَلۡٱبِ انَلَسُرُ انَلۡسَرۡأَ دۡقَلَﵟ

Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. (QS. Al-Hadid: 25)

Allah () pun berfirman:


رِينِمُلۡٱ بِتَٰكِلۡٱبِوَ رِبُزُّلٱبِوَ تِنَٰيِ بَلۡٱبِ مهُلُسُرُ مۡهُتۡءَآجَ مۡهِلِبۡقَ نمِ نَيذِلَّٱ بَذَّكَ دۡقَفَ كَوبُذِ كَيُ نِإوَﵟ

ﵞ ٥٢

Dan jika mereka mendustakanmu (Muhammad), maka sungguh orang-orang yang sebelum mereka pun telah mendustakan (rasul-rasul); ketika rasul-rasulnya datang dengan membawa keterangan yang nyata (mukjizat), zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. (QS. Fathir: 25)

Salah satu nama Allah (ﷻ) adalah “Al-Mukmin.” Menurut salah satu dari dua tafsirnya, Al- Mukmin berarti: Yang memberikan kesaksian atas kebenaran yang disampaikan oleh orang jujur, berdasarkan kesaksian yang mendukung kejujuran mereka.

Merupakan sebuah kewajiban bagi Allah untuk menunjukkan kepada umat manusia tanda-tanda yang secara nyata nampak terlihat dan tanda-tanda yang ada dalam diri mereka sendiri sebagai bukti yang membenarkan apa yang telah mereka terima dari wahyu melalui para Rasul. Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ٣٥ .....ٰۗٓ قُّحَلۡٱ هُنَّأَ مۡهُلَ نَيَّبَتَيَ يٰتَّحَ مۡهِسِفُنأَ ىِٓفوَ قِافَٓأۡلٱ ىِف انَتِيَٰاءَ مۡهِيرِنُسَﵟ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri (QS. Fussilat: 53)

Ayat yang disebutkan di atas didahului oleh:

ﵞ ٢٥ ...... ِّلِلَّٱ دِنعِ نۡمِ نَاكَ نإِ مۡتُيۡءَرَأَ لۡقُﵟ

Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu jika (Al-Qur’an) itu datang dari sisi Allah (QS. Fussilat: 52)

Kemudian Allah menambahkan:

ﵞ٣٥ دٌيهِشَ ءٖيۡشَ لِ كُ ىَٰلعَ ۥهُنَّأَ كَبِ رَبِ فِكۡيَ مۡلَوَأَ ٰۗٓ ....

Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu. (QS. Fussilat: 53)

Dengan demikian, Allah telah memberikan persaksian bahwa risalah yang dibawa oleh para rasul adalah benar serta menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia akan menunjukkan tanda-tanda dalam ciptaan-Nya, yang akan membuktikan bahwa kebenaran risalah itu. Setelah itu, Dia menyebutkan apa yang lebih agung dari semua itu, yaitu fakta bahwa Dia menjadi saksi atas segala sesuatu. Sehingga salah satu nama-Nya adalah “Asy- Syahid”: yaitu Yang dari pengetahuan-Nya tidak ada yang tersembunyi.

Melainkan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, mengamati semuanya, dan mengetahui semua aspek serta rinciannya. Ini adalah dalil dari nama dan sifat-Nya. Dalil yang pertama adalah Kalam-Nya sendiri. Adapun dalil lain berupa tanda-tanda dalam dunia nyata dan tanda-tanda di dalam diri mereka sendiri, ini adalah bukti yang didasarkan pada perbuatan-Nya dan penciptaan-Nya.

FASAL: TIDAK ADA YANG SERUPA DENGAN ALLAH


image

Tidak ada yang menyerupai-Nya

Ahlus Sunnah bersepakat bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya: baik dalam Dzat- Nya, sifat-Nya, ataupun dalam perbuatan-Nya. Dalam penggunaannya, kata tasybih (penyerupaan) telah menjadi kata yang Mujmal12 meskipun kata tersebut tetap dipahami dengan pemaknaan yang benar. Logika yang benar adalah apa yang khusus bagi Allah tidak bisa dinisbatkan kepada makhluk-Nya dan tidak ada satu sifat pun dalam makhluk-Nya yang serupa dengan sifat Allah. Dengan demikian, Ayat “Tidak ada yang serupa dengan-Nya” adalah penyangkalan terhadap tasybih (penyerupaan), sedangkan kalimat “Dia Maha Mendengar, dan Maha Melihat” adalah bantahan terhadap ta’thil (peniadaan/penafian)

Barangsiapa yang berpendapat bahwa sifat Allah sama dengan sifat makhluk-Nya adalah seorang musyabbih (yang menyerupakan) dan barangsiapa yang berpendapat bahwa sifat manusia itu serupa dengan sifat Allah, maka dia dinilai sama dengan umat Nasrani dalam kekufurannya.

Dari sisi ekstrem lain, dalam usaha penyangkalan konsep tasybih, muncul konsep ta’thil, yaitu sebuah pemikiran yang didasarkan pada menyangkal bahwa Allah memiliki nama atau sifat. Mereka yang mengambil pemikiran ini tersebut berdalih: “Kami tidak menisbatkan kekuatan (qudrah) kepada-Nya, tidak juga pengetahuan atau kehidupan, karena manusia pun disifati demikian.” Konsekuensi dari pemikiran tersebut adalah Allah tidak bisa dikatakan: Berkuasa, Maha Mengetahui, dan Hidup karena manusia pun memiliki semua sifat ini. Prinsip ini pun berlaku untuk sifat-sifat Allah lainnya yaitu Kalam, Mendengar, Melihat dan sebagainya. Meskipun golongan ini sepakat dengan umat Islam secara umum, yang meyakini bahwa Allah itu Ada, Mengetahui, Berkuasa, dan Hidup sebagainya sebagaimana mereka tahu bahwa manusia pun ada, mengetahui, berkuasa, dan hidup tetapi mereka tidak menyatakan bahwa ini adalah Tasybih.

Inilah arahan yang diberikan oleh Al-Qur’an dan Sunnah pada kita13 dan begitu pula yang diarahkan oleh penalaran manusia. Tidak ada satu pun orang yang rasional yang akan menentangnya. Allah sendiri menamai Diri-Nya dengan beberapa nama, padahal Dia pun menamai makhluk-Nya dengan beberapa nama tersebut. Dia mensifati Diri-Nya dengan sifat-


image

12 Mujmal: Kata yang memiliki banyak makna tetapi belum jelas makna mana yang dimaksud untuk konteks kalimat tersebut. Lawan dari Mujmal adalah Mubayyan, yaitu kata yang telah ditetapkan maknanya sesuai konteks kalimatnya. Ini merupakan pembahasan Ushul Fikih. Bagi yang ingin lebih mendalami bisa merujuk ke kitab-kitab Ushul Fiqh. (SAS)

13 Yaitu ada kesamaan makna dasar antara sifat dan karakteristik manusia dan Tuhan tetapi dalam hakikatnya berbeda. Sifat manusia penuh kekurangan sedangkan sifat Tuhan sempurna dari segala sisi tanpa cacat sedikitpun. Pembahasan lebih lanjut bisa rujuk bagian kandungan makna kata dalam bahasa (Lughat) dari pembahasan Ushul Fiqih. Di antara yang mudah penjelasannya bisa merujuk Syarah Mukhtashar Ushul Fiqh karya Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsri. (SAS)

sifat tertentu, padahal Dia pun mensifati makhluk-Nya dengan sifat-sifat yang sama. Contohnya, Dia menyebut Diri-Nya Hidup, Lembut, Penyayang, Mengetahui, Mendengar, Melihat, Berkuasa, Bangga, Menaklukan, dan sebagainya, meskipun Dia juga menggunakan

semua sifat ini untuk makhluk-Nya. Dia (ﷻ) berfirman:

ﵞ ٩١ ... تِيِ مَلۡٱ نَمِ يَّحَلۡٱ جُرِۡخيُﵟ

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati (QS. Ar-Rum: 19)

Atau,

ﵞ٨٢١ م يحِرَّ ف وءُرَ نَينِمِؤۡمُلۡٱبِ....

Dia (yaitu nabi Muhammad) amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah: 128)

Atau,

ﵞ٨٢ مٖيلِعَ مٍلَٰغُبِ هُورُشَّبَوَ....

Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). (QS. Az-Zariyat: 28)

Atau,

ﵞ ٢ ارًيصِبَ اعََۢيمِسَ هُنَٰلۡعَجَفَ....

Karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat (QS. Al-Insan: 2)

Atau,


Berkata istri Al-Aziz (QS. Yusuf: 51)

ﵞ١٥ .... زِيزِعَلۡٱ تُأَرَمۡٱ تِلَاقَ....


ﵞ٥٣ رٖابَّجَ رِٖ بكَتَمُ بِلۡقَ لِ كُ ىَٰلعَ ّلِلَُّٱ عُبَطۡيَ كَلِذَٰكَ....

Demikianlah Allah mengunci mati hari orang yang sombong dan sewenang-wenang (QS. Ghafir: 35)

Kita tahu pasti, bahwa setiap makhluk hidup tidak sama satu sama lainnya. Seorang yang berilmu dengan orang berilmu lainnya berbeda, seorang yang kuat dengan orang kuat lainnya berbeda, dan seterusnya. Setiap orang dengan akal sehat akan mengetahuinya.

Oleh sebab itu, jika seseorang menyangkal satu sifat Allah yang telah disifatkan oleh Allah sendiri, seperti Murka, Cinta, Benci, dan sebagainya, karena hal ini seolah menyerupakan-Nya dengan makhluk atau menyematkan suatu bentuk (jism) kepada-Nya, maka katakan padanya: “Jika kamu mengakui sifat-sifat Allah, seperti kehendak, berbicara, mendengar, dan melihat dengan keyakinan bahwa ini tidak sama dengan sifat makhluk, maka ini sama saja dengan sifat-sifat lain yang Allah dan Rasul-Nya nafikan atau tetapkan.

Hukumilah seperti sebagian sifat yang kamu tetapkan karena tidak ada perbedaan antara keduanya”14

Kemudian jika ada orang yang berkata bahwa dia tidak akan mensifati Allah dengan sifat apapun, maka tanyalah dia, apakah dia tidak menetapkan dan mengakui nama-nama untuk Allah seperti Yang Maha Hidup (Al-Hayyu), Yang Maha Mengetahui (Al-Alim), Yang Maha Kuasa (Al-Qadir), dan seterusnya? Tentu dia mengakuinya. Namun, bagaimana bisa, dia mengikuti prinsipnya sendiri, mengakui hal itu jika ia mengetahui bahwa nama-nama itu juga dimiliki makhluk-Nya? Sebenarnya, apa yang ditetapkan pada nama juga berlaku pada sifat.15 Perbedaannya sudah diterangkan di atas: nama dan sifat-sifat itu bisa digunakan, namun nama dan sifat yang diterapkan kepada Allah itu tidak sama dengan yang diterapkan kepada manusia.

Kekeliruannya terletak pada tidak memahami bahwa semua sifat ini, jika ditemukan pada manusia bukanlah Sifat-Sifat yang Sempurna yang hanya dimiliki oleh Allah. Ketika didapati pada makhluk-Nya, maka sifat-sifat tersebut dalam bentuk yang tidak sempurna dan cacat atau hanya mencerminkan satu dari beberapa aspek Sifat-Sifat tersebut. Oleh sebab itu, nama-nama Allah, saat digunakan untuk Allah, berarti spesifik hanya untuk Allah. Sebaliknya ketika digunakan untuk makhluk-Nya, maka spesifik untuk makhluk tersebut.

Keberadaan (Wujud) Allah atau sifatnya sebagai Yang Hidup, tidak sama dengan makhluk-Nya yang manapun. Sudah tentu, keberadaan semua nama dan sifat pada makhluk Allah sangat spesifik pada makhluk itu sendiri, sehingga tidak ada individu lainnya yang juga turut memilikinya dengan derajat yang sama. Lalu, bagaimana bisa dibayangkan bahwa Allah memiliki sifat yang sama dengan makhluk-Nya dalam hakikat dan tingkatan yang sama? Tidakkah anda pahami bahwa ketika anda berkata: “Ini adalah dia,” lalu orang yang ditunjuk adalah satu tetapi terlihat sebagai dua orang yang berbeda (bagi dua pengamat yang berbeda).

Keterangan ini akan memperjelas bahwa mereka yang melakukan tasybih mengambil pemaknaan di atas, namun menambahkan konsep menyimpang yang berasal dari pemikiran mereka sendiri, sehingga menjadi tersesat. Sebaliknya, mereka yang menafikan sifat-sifat Allah menolak kesamaan dalam satu sisi, namun juga menambahkan konsep menyimpang dari pemikiran mereka sendiri sehingga menjadi tersesat.16


image

14 Ini berdasarkan kaidah masyhur: “Hukum yang ditetapkan pada sebagian berlaku juga pada sifat lainnya (Al- Qaul fi ba’dhi Ash-Shifat kal Qaul fi ba’dhi al-Akhar)” yang ditunjukkan sebagai bantahan kepada golongan menyimpang yang menafikan sebagain sifat Allah tetapi mereka menetapkan sebagian lain. Contohnya seperti sifat 7 atau 20 yang diyakini oleh golongan Asyairah. Mereka menetapakan 7 atau 20 sifat bagi Allah tetapi menafikan sifat lain diluar sebagian sifat yang mereka tetapkan. Penjelasan lebih lanjut bisa merujuk Al- Qawaid Al-Mutsla atau At-Tadmuriyah beserta syuruhatnya. (SAS).

15 Ini berdasarkan kaidah masyhur: “Hukum yang ditetapkan pada Dzat berlaku juga pada sifat (Al-Qaul fi Adz- Dzar kal Qaul fi Ash-Shifat)” yang ditunjukkan sebagai bantahan kepada golongan menyimpang yang menetapkan nama untuk Allah tetapi menafikan sifat-Nya. Ini bantahan untuk Muktazilah yang menetapkan nama untuk Allah tetapi menafikan adanya hakikat sifat yang dikandung oleh nama tersebut. Penjelasan lebih lanjut bisa merujuk Al-Qawaid Al-Mutsla atau At-Tadmuriyah beserta syuruhatnya. (SAS)

16 Ini adalah lanjutan dari konsep qadr Isytirak dari makna (catatan kaki nomor 13). Jika suatu sifat dimisalkan memiliki kadar kesempurnaan dari 0-100, maka manusia ketika memiliki sifat seperti “berilmu”, mustahil

Namun, Al-Quran menyampaikan konsep yang benar tentang nama dan Sifat Allah yang dbisa dipahami oleh akal yang lurus, yaitu pertengahan antara persamaan antara Makhluk dan Khaliq17. Mu’athillah yang menolak sifat apapun kepada Allah melakukan hal yang benar; namun mereka keliru dalam hal menyangkal sifat yang sudah dibuktikan sebagai sifat Allah. Adapun mereka yang mengakui beberapa sifat kepada Allah, mereka pun melakukan hal yang benar, namun mereka keliru karena telah berlebihan.


image

baginya untuk mencapai kadar 100 dalam sifat ilmu tersebut. Adapun Allah, Yang Maha Sempurna, akan mencapai derajat kesempurnaan dalam sifat ilmu hingga angka 100 bahkan lebih hingga tidak terbatas. Musyabiihah keliru ketika menyamakan sifat “ilmu” yang dimiliki oleh manusia dan Allah dianggap memiliki kadar kesempurnaan di angka yang sama. Inilah yang dimaksud “tambahan” dari sisi mereka, yaitu menetapkan adanya kesamaan dalam tingkat kesempurnaan. Begitu juga Mu’athillah terjebak dalam konsep kesamaan tingkat kesempurnaan itu. Meyakini jika manusia dan Allah memiliki sifat yang sama, pasti akan sama 100% sehingga mereka tidak menetapkan sifat tersebut karena takut terjatuh pada kesyirikan karena menyamakan antara makhluk dan Pencipta. Namun hakikatnya tentu tidak demikian. Manusia dan Allah bisa memiliki kesamaan dalam sifat tetapi tidak sama dalam tingkatan kesempurnaan sehingga ada tetap tidak sama antara makhluk dan Pencipta. (SAS)

17 Yaitu adanya kesamaan dalam asal makna pada sifat Makhluk dan Khaliq tetapi berbeda dalam hakikat dan tingkat kesempurnaan (SAS).

FASAL: TIDAK ADA YANG BISA MENGALAHKAN ALLAH


image

Tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya

Karena kesempurnaan kekuasaan-Nya, Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ ٢١ ....

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. At-Talaq: 12)

Dia (ﷻ) pun berfirman:

ر يدِقَ ءٖيۡشَ لِ كُ ىَٰلعَ ّلِلََّٱ نَّأَ ....

ﵞ ٤٤ ارٗيدِقَ امٗيلِعَ نَاكَ ۥهُنَّإِ ضِٰۚۡرأَۡلٱ ىِف اَلوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ ىِف ءٖيۡشَ نمِ ۥهُزَجِعۡيُلِ ّلِلَُّٱ نَاكَ امَوَ ...

Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (QS. Fathir: 44)

Dia (ﷻ) pun berfirman:

ﵞ ٥٥٢ مُيظِعَلۡٱ يُّلِعَلۡٱ وَهُوَ اۚمَهُظُفۡحِ ۥهُدُو ـُيَ اَلوَ ضَۖۡرأَۡلٱوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ هُيُّسِرۡكُ عَسِوَ ....

Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS. Al-Baqarah: 255)

Kata ya’uduhuu (هُدُوؤُ اي), pada ayat di atas artinya, keduanya (langit dan bumi) tidak memberatkan-Nya atau melemahkan-Nya. Penafian kelemahan ini adalah sebagai bentuk

penetapan lawannya yaitu Kemahakuasaan-Nya. Oleh karena itu, kaidahnya adalah setiap sifat yang dinafikan dari Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah menunjukkan kesempurnaan lawan dari sifat yang dinafikan tersebut. Misalnya firman Allah berikut ini:

ﵞ٩٤ ادٗحَأَ كَبُّرَ مُلِظۡيَ اَلوَ ...

Tidaklah Rabbmu menzalimi seorangpun (QS. Al-Kahfi: 49)

Ayat di atas mengungkapkan kesempurnaan keadilan-Nya. Atau firman-Nya:

ﵞ ٣ .... ضِۡرأَۡلٱ ىِف اَلوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ ىِف ةٖرَّذَ لُاقَثۡمِ هُنۡعَ بُزُعۡيَ اَل ...

Tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya sebesar atom pun yang ada di langit dan yang ada di bumi (QS. Saba: 3)

Ayat tersebut mengungkapkan kesempurnaan ilmu-Nya. Atau firman-Nya:


ﵞ٥٥٢ .... موۡنَ اَلوَ ةنَسِ ۥهُذُخُأۡتَ اَل ....

Tidaklah kantuk dan tidur menguasai-Nya (QS. Al-Baqarah: 255)

Ayat di atas mengungkapkan kesempurnaan sifat Hidup yang melekat pada Allah dan kuasa penuh-Nya dalam mengendalikan semua hal.

Jika tidak demikian, maka penafian Allah dari sifat yang berisi kelemahan tidak berisi pujian sama sekali untuk-Nya

FASAL: TIDAK ADA YANG ILAH YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLAH


image

Tidak ada Tuhan Yang Berhak Disembah selain Dia

Ini adalah tauhid yang diserukan oleh semua rasul kepada kaumnya. Merealisasikan Tauhid Uluhiyah ini butuh kepada pemenuhan rukun Nafi dan Itsbat18. Karena sekedar menetapkan adanya tuhan memberikan ruang untuk adanya tuhan lain yang berhak disembah juga. Sehingga setelah menyatakan:

ﵞ ٣٦١ ..... دۖ حِوَٰ هلَٰإِ مۡكُهُلَِٰإوَﵟ

Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, ... (QS. Al-Baqarah: 163)

Allah menambahkan:

ﵞ ٣٦١ مُيحِرَّلٱ نُمَٰحۡرَّلٱ وَهُ اَّلإِ هَلَٰإِ آَّل......

... tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 163)

Pikiran yang sederhana mungkin tertipu oleh Setan: Jika kita mengakui bahwa Tuhan kita adalah Esa, bukankah berarti ada kemungkinan yang lain memiliki tuhan mereka selain Dia? Oleh sebab itu, Allah menambahkan:

ﵞ ٣٦١ ..... وَهُ اَّلإِ هَلَٰإِ آَّل......

... tidak ada tuhan selain Dia, (QS. Al-Baqarah: 163)


image

18 Rukun Nafi: Menafikan seluruh sesembahan yang Batil dan Rukun Itsbat: Menetapkan hanya Allah saja satu- satunya Ilah yang berhak disembah. (SAS)

FASAL: DIALAH YANG AWAL DAN YANG AKHIR


image

Dia yang Qadim (dahulu) Tanpa Permulaan, Abadi Tanpa Berkesudahan.

Konsep ini diungkapkan dalam firman Allah (ﷻ):


Dialah Yang Awal dan Yang Akhir (QS. Al-Hadid: 3)

Dan Rasulullah (ﷺ) bersabda:

ﵞ ٣ ....

رُخِٓأۡلٱوَ لُوَّأَۡلٱ وَهُ ﵟ

»ءٌيْشَ كَدَعْبَ سَيْلَفَ رُخِْلْا تَنْأَوَ ،ءٌيْشَ كَلَبْقَ سَيْلَفَ لُوََّْلْا تَنْأَ مَّهُلَّلا«


Engkau adalah Al Awwal tidak ada sesuatu sebelumMu dan Engkau adalah Al Akhir, tidak ada sesuatu pun setelahMu

sehingga, maksud Ath-Thahawi: “Dia yang Qadim (dahulu) Tanpa Permulaan, Abadi Tanpa Berkesudahan” adalah nama-nama-Nya: Yang Awal dan Akhir.

Pengetahuan akan kedua sifat tersebut ada dalam fitrah manusia. Karena segala “wujud” pasti bergantung kepada Dzat yang “wajib al-wujud19 karena adanya At-Tasalsul20. Misalnya saja, seseorang melihat keberadaan binatang, tanaman, mineral atau fenomena yang berasal dari langit misalnya turunnya hujan, dan sebagainya. Semua peristiwa tersebut bukan sesuatu yang mumtani’21 (mustahil ada). Karena sesuatu yang mustahil ada tidak mungkin bisa berwujud atau tercipta. Mereka semua pun bukan sesuatu yang wajib ada (wajib al- wujud) karena sesuatu yang wajib ada tidak bisa dibayangkan ketidakberadaannya (al- ‘adam).

Semua makhluk tadi yang disebutkan asalnya tidak ada kemudian kemudian mereka menjadi ada (diciptakan). Sehingga, fakta bahwa mereka tidak ada menyangkal kemampuannya untuk senantiasa ada dan keberadaannya menggugurkan kemustahihan keberadaannya. Kesimpulannya, sesuatu yang mungkin ada dan tidak ada, tidak menciptakan dirinya sendiri. Allah (ﷻ) berfirman:


image

image

19 Dalam tinjauan keberadaan (wujud), sesuatu (ئيشلا) bisa dibagi menjadi sesuatu yang wajib al-wujud (pasti ada) yaitu Tuhan dan mumkin al-wujud (bisa ada atau tidak ada) yaitu makhluk. Tuhan disebut wajib al-wujud karena keberadaan makhluk yang mungkin ada atau tidak ada bergabung kepada sosok yang pasti ada tersebut (SAS)

20

21 Sesuatu (ئيشلا) dalam tinjauan keberadaannya juga bisa bersifat mumtani’ (mustahil ada). Contohnya sesuatu yang bergerak sekaligus diam atau sesuatu yang tidak hidup tidak juga mati. Kedua hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil ada karena sesuatu harus bergerak atau diam, mati atau hidup. (SAS)

ﵞ ٥٣ نَوقُلِخَٰلۡٱ مُهُ مۡأَ ءٍيۡشَ رِيۡغَ نۡمِ اْوقُلِخُ مۡأَ ﵟ

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (QS. Ath-Thur: 35)

Dengan kata lain, apakah mereka diciptakan tanpa seorang pencipta, ataukah, mereka menciptakan diri mereka sendiri? Telah diketahui bahwa sesuatu yang diciptakan tidak bisa terwujud (ada) dengan sendirinya. Sesuatu yang tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan dirinya sendiri atau tidak juga berada dalam ketiadaan (al-‘Adam), tidak bisa terwujud oleh dirinya sendiri. Ia tetap dalam ketiadaan hingga akhirnya diciptakan. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang berada dalam kemungkinan untuk ada atau kemungkinan untuk tidak ada, tidak memiliki kelaziman untuk harus ada atau harus tiada.

Jika seseorang merenungkan apa yang dikatakan oleh para filsuf dan ahli teologi secara rasional, dia akan mendapati bahwa konsep yang mereka bawa telah dinyatakan dalam Al-Qur’an dengan cara yang lebih baik, lebih sederhana dan lebih jelas. Dalam Al-Qur’an,

terdapat retorika dan daya pikat yang tidak terdapat pada pernyataan mereka. Allah () telah

berfirman:

ﵞ٣٣ ارًيسِفۡتَ نَسَحۡأَوَ قِ حَلۡٱبِ كَنَٰئۡجِ اَّلإِ لٍثَمَبِ كَنَوتُأۡيَ اَلوَﵟ

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (QS. Al-Furqan: 33)

Tentu saja, kami tidak mengatakan bahwa upaya penggunaan dalil Al-Muqadimah22 tidak bermanfaat untuk menghadirkan poin kesimpulan yang samar dan tersembunyi. Sesuatu terlihat samar atau tampak, semuanya itu merupakan hal yang relatif. Ada beberapa hal yang tampak jelas bagi sebagian orang, namun tampak samar bagi sebagian lainnya. Sungguh, ada satu hal yang jelas bagi seseorang pada keadaan tertentu, namun tampak samar dalam keadaan lainnya.

Dari penjelasan di atas, berdalil dengan logika menggunakan konsep Al-Mudakimah meski terkesan rumit, berdalil dengan konsep ini malah diterima oleh sebagaian manusia dan memang tidak terlalu bermanfaat jika dibandingkan dengan yang lebih mulia seperti Al- Quran. Manusia terkadang merasa lebih senang dengan apa yang mereka pahami melalui penelitian dan analisis dibandingkan pada apa yang tampak jelas di depan mata. Tidak ada keraguan bahwa konsep adanya Pencipta dan pentingnya keberadaan Pencipta, merupakan salah satu yang tertanam dengan kuat pada jiwa manusia, meskipun, pada sebagian orang, keraguan muncul, yang mengarahkan mereka pada pendalilan secara rasional.

Para ahli Kalam telah menggagas bahwa Al-Qadim merupakan nama Allah. Namun, ini suatu kekeliruan. Al-Qadim bukan salah satu dari nama Allah. Bangsa Arab biasa menggunakan kata qadim untuk suatu hal yang mendahului hal lainnya. Ketika mereka mengatakan qadim, maka yang mereka maksud adalah “tua (dahulu)” sama halnya ketika


image

22 Maksudnya tentang pendalilan di paragraf sebelumnya menggunakan konsep Al-Mukadimah. Lihat kembali catatan kaki nomor 3 tentang definisi Al-Mukadimah. (SAS)

mereka mengatakan atiq (tua) dan menggunakan kata hadits untuk sesuatu yang “baru.” Kata itu tidak pernah digunakan kecuali dalam arti sesuatu yang mendahului hal lainnya dan tidak pernah digunakan dalam konteks sesuatu yang tidak didahuili ketiadaan.23 Contohnya, Allah (ﷻ) berfirman:

﴾ ميِدِقالْا نِوجُرْعُلْااك اداعا َّتَّاح لازِاانما هَُنارْدَّاق راما قالْاوا ﴿

Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. (QS. Yasin: 39)

Tandan tua adalah tandan yang masih tersisa pada pucuk pohon kurma, hingga muncul tandan yang baru, bila muncul tandan yang baru, maka tandan sebelumnya disebut (ميِدِاقلْا نِوجُرْعُلْا) “tandan yang tua”.

Allah () pun berfirman:

ميٌدِاق كٌفْإِ اذا ها انولُوقُ اياساف هِبِ اودُاتهْ اي اَْل ذْإِوا

Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta sejak dahulu.” (QS. Al-Ahqaf: 11)

Maksudnya adalah waktu yang telah berlalu dahulu.

Adapun masuknya Al-Qadim dalam nama-nama Allah, maka ini adalah pendapat para ahli kalam. Banyak kalangan dari Salaf dan khalaf yang mengingkarinya, dan di antara mereka adalah Ibnu Hazm.

Tidak diragukan bahwa kata qadim, bila dipakai untuk keterdahuluan maka apa yang mendahului semua makhluk lebih berhak mendahului daripada selainnya. Akan tetapi, Asma'ul Husna milik Allah adalah nama-nama yang indah, yang menunjukkan kekhususan apa yang dengannya Dia disanjung, sedangkan kata "mendahului" dalam bahasa arab adalah mutlak, tidak khusus digunakan untuk mendahului seluruh makhluk.

Jadi Al-Qadim tidak bisa dimasukkan ke dalam Asma'ul Husna dan Syariat hadir dengan Nama Al-Awwal, ia lebih baik daripada Al-Qadim, sebab Al-Awwal mengandung makna bahwa apa yang sesudah-nya kembali kepadanya, mengikutinya, berbeda dengan al- qadim dan Allah hanya memiliki Asma'ul Husna (nama-nama yang Indah).


image

23 Maksudnya, kata Qadim digunakan untuk sesuatu yang dahulu tetapi di dahului oleh sesuatu sebelumnya dan tidak digunakan untuk sesuatu yang sebelumnya ketiadaan. Nama ini tidak cocok untuk Allah karena ini menafikan namanya: “Al-Awwal” yang artinya Yang Pertama dan tidak didahului oleh sesuatu pun. (SAS)

FASAL: DIA TIDAK FANA DAN TIDAK MUSNAH


image

Dia Tidak Akan Fana Dan Tidak Musnah

Dengan kata lain, Dia (ﷻ) abadi, seperti firman Allah (ﷻ):

ﵞ ٧٢ مِارَكۡإِۡلٱوَ لِلَٰجَلۡٱ وذُ كَبِ رَ هُجۡوَ يٰقَبۡيَوَ ٦٢ نٖافَ اهَيۡلَعَ نۡمَ لُّكُﵟ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahman: 26-27)

Kedua istilah “fana” dan “musnah” memiliki makna yang dekat. Keduanya dihadirkan untuk memberikan penekanan. Keduanya pun bermanfaat untuk menggabungkan ungkapan “abadi, tanpa adanya akhir”.

FASAL: APA YANG ALLAH KEHENDAKI PASTI TERJADI


image

Tidak Akan Terjadi kecuali Apa Yang Dia Kehendaki

Ini merupakan sanggahan terhadap Qadariyah dan Muk tazilah. Mereka berpendapat bahwa Allah menghendaki semua manusia beriman, sementara orang kafir menghendaki kekufuran. Pendapat mereka itu rusak, tertolak, bertentangan dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan akal yang lurus. Qadariyah disebut demikian karena mereka mengingkari takdir. Jabariyah yang menetapkan takdir secara berlebih-lebihan juga disebut dengan Qadariyah, tetapi nama ini lebih dominan untuk kelompok pertama. Ahlus Sunnah berkata, "Sekalipun Allah menghendaki kemaksiatan secara takdir, tetapi Dia tidak mencintai dan tidak memerintahkannya, sebaliknya Allah membenci, memurkai, mengutuk, dan melarangnya." Ini adalah pendapat seluruh Salafush Shalih. Mereka berkata,

"Apa yang Allah kehendaki, pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi."

Para ulama pengkaji (muhaqqiq) di kalangan Ahlus Sunnah berkata: “Iradah (kehendak) Allah dalam KitabNya terbagi menjadi dua:

  1. Pertarna: Iradah Qadariyah Kauniyah Khalqiyah (Kehendak yang berkenaan dengan takdir dan hukum Alam dari Makhluknya yang pasti terjadi)

  2. Kedua: Iradah Diniyah Amriyah Syar’iyyah (Kehendak yang berkenaan dengan perintah Agama dan Syariah yang tidak mesti terjadi)24

Iradah yang kedua mengandung kecintaan dan keridhaan, sedangkan yang pertama adalah kehendak Allah yang mencakup segala peristiwa.”

Hal ini dapat disimpulkan dari pernyataan Al-Qur’an berikut ini:

اجٗرَحَ اقًيِ ضَ ۥهُرَدۡصَ لۡعَۡجيَ ۥهُلَّضِيُ نأَ دۡرِيُ نمَوَ مِۖلَٰسۡإِلۡلِ ۥهُرَدۡصَ حۡرَشۡيَ ۥهُيَدِهۡيَ نأَ ّلِلَُّٱ دِرِيُ نمَفَﵟ

ﵞ٥٢١ ... ءِٰۚآمَسَّلٱ ىِف دُعَّصَّيَ امَنَّأَكَ

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit. Seolah ia sedang mendaki langit. (QS. Al-An’am: 125)

Dan firman Allah (ﷻ):


image

24 Konsep Iradah ini penting untuk dipahami karena pemahaman yang lurus mengenai takdir salah satunya bergantung pada pemahaman terhadap konsep ini. Murjiah dan Qadariyah serta sekte lain yang sesat dalam masalah takdir menyimpang karena gagal memahami konsep ini. Akan datang pembahasannya nanti di kitab ini dibahasan lain mengenai takdir. (SAS)

ﵞ ٤٣ .... مۚۡكُيَوِغۡيُ نأَ دُيرِيُ ّلِلَُّٱ نَاكَ نإِ مۡكُلَ حَصَنأَ نۡأَ تُّدرَأَ نۡإِ يٓحِصۡنُ مۡكُعُفَنيَ اَلوَﵟ

Dan tidak bermanfaat nasehatku sekalipun aku ingin memeberi nasehat kepadamu kalau Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Rabbmu dan kepada-Nya kamu kembali (QS. Hud: 34)

Dan firman Allah (ﷻ):

ﵞ ٣٥٢ دُيرِيُ امَ لُعَفۡيَ ّلِلََّٱ نَّكِلَٰوَﵟ

Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya (QS. Al-Baqarah: 253)

Adapun mengenai Iradah Diniyah Amriyah Syar’iyyah, Allah (ﷻ) berfirman mengenai hal itu.

ﵞ٥٨١ ... رَسۡعُلۡٱ مُكُبِ دُيرِيُ اَلوَ رَسۡيُلۡٱ مُكُبِ ّلِلَُّٱ دُيرِيُﵟ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al- Baqarah: 185)

Dan firman-Nya:

ﵞ٧٢ امٗيظِعَ الًيۡمَ اْولُيمِتَ نأَ تِوَٰهَشَّلٱ نَوعُبِتَّيَ نَيذِلَّٱ دُيرِيُوَ مۡكُيۡلَعَ بَوتُيَ نأَ دُيرِيُ ّلِلَُّٱوَﵟ

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsu menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran) (QS. An-Nisa: 27)

lradah (kehendak) ini tersebut dalam ucapan orang-orang terhadap pelaku keburukan, "Orang ini melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki Allah."

Maksud mereka, tidak Allah cintai, tidak Allah ridhai, dan tidak Allah perintahkan. Adapun berkenaan dengan Iradah (kehendak) Kauniyah, ini seperti perkaraan kaum Muslimin:

“Yang Allah kehendaki terjadi, dan Yang tidak Allah Kehendaki, tidak terjadi.”

Bedanya jelas antara keinginan seorang hamba untuk berbuat sendiri dengan keinginannya terhadap orang lain agar berbuat. Bila seorang pelaku ingin mengeriakan sesuatu, maka ini adalah keinginan yang berkaitan perbuatannya. Bila dia menginginkan orang yang lain melakukan sesuatu, maka ini adalah kehendak terhadap orang lain untuk berbuat. Dan kedua bentuk ini dipahami oleh akal manusia. Perintah menuntut iradah (kehendak) yang kedua bukan yang pertama. Allah memerintahkan para hamba dengan sebuah perintah, ada kemungkinan Allah berkehendak membantu hamba melakukan apa yang Dia perintahkan dan ada kemungkinan tidak, sekalipun Allah berkehendak dari hamba untuk melakukan.

Maksudnya, mungkin bagi manusia yang bijak memerintahkan orang lain dengan sesuatu dan tidak membantunya, bila demikian maka Allah Yang Mencipta lebih patut di samping hikmah-Nya. Barangsiapa yang Allah perintah dan Allah bantu melakukan apa yang Dia perintahkan, maka apa yang diperintahkan tersebut telah berkaitan dengan penciptaan

dan perintah-Nya dari sisi pengadaan, penciptaan dan kecintaan, sehingga sesuatu tersebut memang sesuatu yang dimaksud dari sisi penciptaan dan dimaksud dari sisi perintah.

Barangsiapa tidak Allah bantu melakukan apa yang diperintahkan, maka apa yang diperintahkan tersebut berkaitan dengan perintah-Nya dan tidak berkaitan dengan penciptaanNya, karena tidak adanya hikmah yang menuntut keterkaitan penciptaan dengannya, karena terwujudnya hikmah yang menuntut penciptaan sebaliknya..

Prinsip ini mengikuti aturan penciptaan salah satu di antara dua hal yang berlawanan menyangkal penciptaan hal lainnya. Untuk memperjelas, penciptaan penyakit pada seorang manusia - yang membantu menanamkan kerendah-hatian dalam diri manusia, memotivasinya untuk berdoa, bertaubat, melembutkan hati, menebus dosa serta menghilangkan kesombongan- berlawanan dengan penciptaan “sehat” yang dengannya maslahat yang disebutkan tadi tidak bisa diraih oleh seseorang yang sedang sakit tersebut. Kita pun harus ingat bahwa pemahaman yang sempurna akan kebijaksanaan Allah dalam penciptaan makhluk-Nya serta dalam perintah-Nya di luar jangkauan kekuatan manusia.

FASAL: DIA TIDAK BISA DIJANGKAU OLEH AKAL MANUSIA


image

Tidak Dijangkau Oleh Angan-Angan dan Tidak Pula Oleh Nalar (Daya Pikir Manusia).

Ini adalah makna yang terkandung dalam firman Allah:

ﵞ٠١١ امٗلۡعِ ۦهِبِ نَوطُيِحيُ اَلوَﵟ

Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya (QS. Thaha: 110)

Jawhari telah memaparkannya dalam kamus-nya:

“(ئَيْشَلا تُمْهَّوَتَ) artinya, aku menduga sesuatu dan dikatakan (ءَيْشَلا تُمْهِفَ), artinya, aku memahaminya.”

Maksud Ath-Thahawi adalah bahwa Allah tidak terjangkau oleh khayalan dan tidak

terliputi oleh ilmu. Ada yang berkata, dugaan adalah sesuatu yang diharapkan kejadiannya, yakni diduga begini, sedangkan pemahaman adalah apa yang dihasilkan oleh akal dan diliputi olehnya. Allah, tidak ada yang mengetahui bagaimana hakikat Diri-Nya, kecuali Allah sendiri. Kita hanya mengetahui-Nya dengan Sifat-sifat-Nya, Dia adalah Allah yang Maha Esa, tempat bergantung para makhluk, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak seorang pun yang setara dengan-Nya.

FASAL: ALLAH TIDAK SERUPA DENGAN MAKHLUK


image

Tidak Serupa dengan Makhluk-makhluk-Nya

Ini adalah bantahan kepada para musyabbihah yang menyamakan Allah dengan makhluk. Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ١١ رُيصِبَلۡٱ عُيمِسَّلٱ وَهُوَ ۖ ءيۡشَ ۦهِلِثۡمِكَ سَيۡلَﵟ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat (QS. Asy-Syura: 11)

Apa yang dimaksud bukanlah menafikan Sifat-sifat Allah sebagaimana yang diklaim oleh ahli bid'ah. Imam Abu Hanifah berkata dalam Al-Fiqhul Akbar,

"Allah tidak serupa dengan satu pun dari makhluk-Nya dan tidak ada satu pun dari makhluk-Nya yang serupa dengan Allah."

Kemudian Imam Abu Hanifah berkata,

"Seluruh Sifat-sifat-Nya berbeda dengan sifat-sifat makhluk, Allah mengetahui tapi bukan seperti pengetahuan kita, berkuasa bukan seperti kuasa kita, melihat bukan seperti penglihatan kita."

Nu’am bin Hammad, Ahli Hadits yang terpercaya berkata:

“Barangsiapa menyamakan Allah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka dia kafir. Barangsiapa mengingkari sifat yang Allah tetapkan untuk Diri-Nya, maka dia kafir. Sifat yang Allah tetapkan untuk Diri-Nya, dan yang Rasul-Nya tetapkan, tidak berarti tasybih."

Makna masyhur dari penggunaan kata ini menurut ulama sunnah yar.g masyhur adalah bahwa menafikan tasybih menurut mereka bukan menafikan sifat, mereka tidak memberikan julukan musyabbihah kepada siapa yang menetapkan sifat, akan tetapi maksud mereka adalah bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya pada nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatann mereka sebagaimana yang dinyatakan oleh Abu Hanifah yang telah dikutip di atas. Ini adalah makna dari ayat yang dikutip tersebut. Karena bisa dipahami pada ayat tersebut, bahwa Allah membantah penyerupaan-Nya, tetapi membenarkan Sifat-Sifat- Nya.

Akan datang nanti pernyataan Ath-Thahawi mengenai penegasan sifat-sifat Allah, sebagai pengingat bahwa penyangkalan terhadap penyerupaan Allah bukan berarti penyangkalan akan sifat-sifat-Nya.

Sebagai contoh: Ilmu Allah tidak bisa dipahami dengan:

  1. Qiyas tamsil (analogi permisalan) yang dengannya terjadi penyetaraan antara ushul dan furu; dan

  2. Tidak pula dengan bantuan Qiyas Syumuli (analogi menyeluruh) yang di dalamnya setiap bagian-bagian komponennya diperlakukan sama. Karena tidak ada yang serupa dengan Allah.

Oleh sebab itu, tidak boleh untuk menyerupakan-Nya dan Allah pun tidak bisa ditinjau dengan konsep apapun yang menempatkan Diri-Nya dengan yang lainnya pada kedudukan yang setara. Oleh sebab itu, ketika para filsuf dan para teolog mencoba membuat analogi mengenai Allah dalam pembahasan tentang rububiyah-Nya, mereka gagal mencapai keimanan yang kokoh, melainkan, mereka malah mengalami kontradiksi dan berakhir pada kebingungan.

Namun, boleh bagi kita menggunakan Qiyas Al-Aula baik berupa penytaraan tamtsil

maupun syumuli. Allah sendiri berfirman:


“Bagi Allah permisalan yang tinggi” (QS. An-Nahl: 16)

ﵞ ٠٦ .... ىَٰٰۚلعۡأَۡلٱ لُثَمَلۡٱ ِّلِلَِّوَ....

Misalnya diketahui kesempurnaan apapun yang dianggap layak ada dalam makhluk- Nya, atau yang mungkin ada (muhdats), yang tidak ada kekurangan sama sekali, dari sudut pandang manapun -yaitu kesempurnaan bagi pasti ada dan tidak terpengaruh oleh sesuatu yang tidak ada (ma’dum)- maka, bisa dikatakan bahwa Allah (ﷻ) lebih berhak atas kesempurnaan tersebut. Lebih lanjut, karena setiap kesempurnaan yang tidak memiliki kekurangan dari segi apapun, ditemukan dalam makhluk yang dipelihara oleh pihak lain, ia hanya bisa memperoleh kesempurnaan itu dari penciptanya, pemelihara, dan yang mengawasinya, (jika demikian adanya, maka) penciptanya lebih layak atas kesempurnaan tersebut. Lain daripada itu, setiap kelemahan atau kekurangan dalam sesuatu -yang harusnya dihilangkan dari kesempurnaan itu-, di saat penafian ini dianggap perlu pada makhluk- maka penafian ini lebih layak dan tepat untuk Tuhan.

FASAL: ALLAH MAHA HIDUP DAN MENGURUSI MAKHLUKNYA


image

Maha Hidup dan Tidak Akan Mati, Maha Mengurusi makhluk-Nya, dan Tidak Pernah Tidur.

Konsep ini berdasarkan firman Allah (ﷻ):

مٌوْ ان اَلوا ةٌانسِ هُذُخَُْتا اَل مُويُّقالْا يُّاْلْا وا هُ ََّلإِ اه الإِ اَل ُّلل ا

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus- menerus mengurus (makhluk-Nya) tidaklah kantuk dan tidur menguasai-Nya. (QS. Al- Baqarah: 255)

Ketiadaan rasa kantuk dan tidur adalah bukti kesempurnaan sifat Hidup Allah yang tidak bergantung pada makhluk-Nya, tempat bergantung semua makhluk. Nabi (ﷺ) berkata:

اماان اي نْاأ هُال يغِاب نْ اي َلاوا مُاان اي َلا اّللَّا نَّإِ

“Allah tidak pernah tidur dan tidak perlu bagi-Nya untuk tidur.” 25

Setelah Ath-Thahawi menafikan tasybih, beliau mengisyaratkan kepada sesuatu yang menjadi titik pembeda antara Allah dengan makhlukNya dengan sifat-sifat yang Allah

,Jgmiliki dan tidak dimiliki makhlukNya. Di antaranya adalah bahwa Allahils Mahahidup tidak mati, sifat hidup abadi hanya khusus bagiNya semata, tidak dimiliki makhlukNya, sebab mereka akan mati. Di antaranya adalah Qayyum yang tidak tidur, karena Allah semata yarrg khusus memiliki sifat tidak mengantuk dan tidak tidur dan tidak dimiliki makhluk, karena mereka tidur. Ini mengandung isyarat kepada penafian terhadap tasybih dan bukan menafikan sifat, sebaliknya Allah tla disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan karena kesempurnaan DzatNya. Yang hidup dengan kehidupan abadi tidak sama dengan hidupnya hanya sementara. Sehingga, kehidupan di dunia ini disebut sebagai kehidupan sementara atau fana; sebentar dan cepat berlalu, sedangkan:

نُاوا اياْلْا ايَِلا اةراخِْلْا راادَّلا نَّإِوا

Dan sesungguhnya kehidupan akhirat itu adalah kehidupan sesungguhnya. (QS. Al- Ankabut: 64)

Kehidupan di dunia ini serupa dengan tidur, sedangkan kehidupan di akhirat sama dengan ketika terbangun. Sehingga, tidak bisa dikatakan jika kehidupan di akhirat adalah kehidupan yang sempurna; dalam konteks makhluk. Namun kita katakan, Yang Maha Hidup (Allah) yang kehidupa kekal hanya milik-Nya adalah yang memberikan sifat keabadian kepada makhluk-Nya di kehidupan akhirat. Jika makhluk kekal, ini karena Allah (ﷻ) yang memberikan sifat kekal itu, bukan karena sifat kekal itu secara lahiriyah adalah miliknya, berbeda dengan sifa Hidup milik Allah. Prinsip ini berlaku untuk sifat-sifat Allah lainnya.


image

25 Diriwayatkan oleh Muslim (179, 293) dan Ibnu Majah (195, 196)

Dengan kata lain, Sifat-Sifat Allah adalah jenis-jenis sifat yang sesuai dengan keagungan- Nya, sedangkan sifat-sifat makhluk-Nya adalah yang sesuai kelemahan dan ketidaksempurnaan mereka.

Ketahuilah bahwa kedua nama Allah ini, yaitu Al-Hayyu dan Al-Qayyum telah disebutkan dalam Al-Qur’an secara bersamaan dalam tiga surat. Keduanya termasuk dalam jajaran nama Allah yang Agung. Memang, beberapa mengatakanbahwa keduanya adalah nama yang paling Agung dibandingkan dengan nama-nama lainnya. Karena keduanya menggabungkan berbagai sifat Allah dengan cara paling menyeluruh. Sifat Al-Qayyum (Yang Berdiri Sendiri, tempat semua makhluk bergantung), memiliki konotasi keabadian yang tidak ditemukan dalam istilah Al-Qadim. Konsep itu pun menekankan fakta bahwa Dia ada dengan sendiri-Nya, yang pada gilirannya sama artinya dengan Maha Berdiri Sendiri (yaitu sosok yang bisa ada dengan sendirinya). Dipasangkan dengan nama Allah Al-Hayyu yang mensifati semua sifat kesempurnaan bagi-Nya, sembari juga memastikan sifat kekekalan. Semua sifat kesempurnaan ini pun menyangkal setiap sifat kelemahan selamanya. Sebagaimana ayat

berikut ini:

ﵞ ٥٥٢ ... مُۚويُّقَلۡٱ يُّحَلۡٱ وَهُ اَّلإِ هَلَٰإِ آَل ّلِلَُّٱﵟ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus- menerus mengurus (makhluk-Nya). (QS. Al-Baqarah: 255)

Ayat ini telah dinyatakan oleh Nabi (ﷺ) sebagai ayat paling agung dalam sejumlah riwayat yang shahih.

Kedua nama ini adalah poros bagi nama-nama Allah yang lainnya dan makna- maknanya terikat pada makna kedua nama ini. Kita tahu bahwa sifat hidup menjamin keberadaan sifat-sifat suatu Dzat; tidaklah suatu sifat hilang, melainkan karena adanya beberapa kelemahan dalam kehidupan itu sendiri. Dan karena hidup-Nya Allah adalah Yang Maha Sempurna, maka penegasannya sama dengan penegasan untuk setiap kesempurnaan, yang penyangkalannya akan berarti ketidaksempurnaan sifat hidup Allah.

Sifat “Tidak bergantung pada apapun dan kepada-Nya segala sesuatu bergantung” juga menyatakan Kemahakayaan-Nya dan kesempurnaan Kekuasaan-Nya, karena Dia memelihara Diri-Nya sendiri dan tidak bergantung pada siapapun, dengan cara apapun.

FASAL: ALLAH MAHA PENCIPTA DAN PEMBERI REZEKI


image

Maha Pencipta Tanpa Membutuhan (Ciptaan-Nya), Maha Pemberi Rizki Tanpa Pernah Kekurangan.

Allah () telah berfirman:

نَّإِ ٧٥ نِومُعِطۡيُ نأَ دُيرِأُ آمَوَ قٖزۡرِ نمِ مهُنۡمِ دُيرِأُ آمَ ٦٥ نِودُبُعۡيَلِ اَّلإِ سَنإِۡلٱوَ نَّجلِۡٱ تُقۡلَخَ امَوَﵟ ﵞ ٨٥ نُيتِمَلۡٱ ةِوَّقُلۡٱ وذُ قُازَّرَّلٱ وَهُ ّلِلََّٱ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka tidak pula supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mamepunyai Kekuatan lagi Maha Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)

Dia (ﷻ) juga berfirman:

ﵞ٥١ دُيمِحَلۡٱ يُّنِغَلۡٱ وَهُ ّلِلَُّٱوَ ِّۖلِلَّٱ ىَلإِ ءُآرَقَفُلۡٱ مُتُنأَ سُانَّلٱ اهَيُّأَيَٰٓ َ

Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir: 15)

Nabi (ﷺ) bersabda, meriwayatkan kata-kata Tuhannya:

اكلِاذ ادازا اما مْكُنْمِ دٍحِاوا لٍجُرا بِلْ اق ىقا تْاأ ىلاعا اونُااك مْكُنَّجِوا مْكُاسنْإِوا مْكُراخِآوا مْكُالوَّاأ نَّاأ وْال يدِاابعِ َيا

دٍحِاوا لٍجُرا بِلْ اق رِاجفْاأ ىلاعا اونُااك مْكُنَّجِوا مْكُاسنْإِوا مْكُراخِآوا مْكُالوَّاأ نَّاأ وْال يدِاابعِ َيا ،ائً يْاش يكِلْمُ ِفِ

دٍيعِاص ِفِ اومُااق مْكُنَّجِوا مْكُاسنْإِوا مْكُراخِآوا مْكُالوَّاأ نَّاأ وْال يدِاابعِ َيا ،ائً يْاش يكِلْمُ ِفِ اكلِاذ اصقا ان اما مْكُنْمِ

ااذإِ طُايخْمِلْا صُقُ نْ اي اما اك َلَّإِ يدِنْعِ اكلِاذ اصقا ان اما - هُاتالاأسْما نٍااسنْإِ لَّكُ تُيْاطعْأااف ،ِنِولُاأاساف دٍحِاوا

راحْابلْا الخِدْأُ

Wahai hamba-hambaKu, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, mereka semua berada pada taraf ketakwaan seorang paling tinggi tingkat ketakwaannya di antara kalian, hal itu takkan menambah kerajaanKu sedikit pun. Seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari kalangan bangsa jin dan manusia, mereka semua berada pada taraf kedurhakaan seorang yang paling tinggi tingkat kedurhakaannya di antara kalian, hal itu takkan mengurangi kerajaanKu sedikit pun.” 26


image

26 Diriwayatkan oleh Muslim (2577)

Perkataan Ath-Thahawi: (ة نَؤمُ َلَبِ) maksudnya tanpa kesulitan maupun kesusahan.

FASAL: ALLAH MEMATIKAN MAKHLUK DAN MEMBANGKITKANNYA


image

Maha Mematikan Tanpa Takut (pada mereka), Maha Membangkitkan Kembali (makhluk yang telah Dia matikan) Tanpa Kesulitan

Pernyataan di atas dihadirkan untuk menegaskan bahwa kematian memiliki wujud, berlainan dengan pendapat para filsuf dan pihak lain yang meyakini sebaliknya. Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ ٢ ... اۚلٗمَعَ نُسَحۡأَ مۡكُيُّأَ مۡكُوَلُبۡيَلِ ةَوٰيَحَلۡٱوَ تَوۡمَلۡٱ قَلَخَ يذِلَّٱﵟ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk: 2)

Tentu saja yang tidak berwujud tidak bisa disebut sebagai makhluk. Dan sebuah hadits menyatakan:

رِانَّلاوا ةِنَّاْلْا ّيا ْاب حُابذْيُ اف ،احلامْاأ شٍبْاك ةِراوصُ ىلاعا ةِمااايقِلْا اموْ اي تِوْما لِْبِ ىاتؤُْ ي هُنَّاأ

“Kematian didatangkan pada bentuk kambing berkulit hitam putih, lalu disembelih diantara surga dan neraka.” 27

Meskipun kematian tidak berwujud, namun Allah akan memberikannya wujud di Hari Penghakiman.

Serta telah diriwayatkan bahwa amal perbuatan akan ditimbang pada Neraca. Meskipun kita tahu bahwa yang memiliki berat adalah dzat dan bukan sesuatu yang maknawiyah (abstrak). Demikian pula telah diriwayatkan mengenai surah Al-Baqarah dan Al-Imran, keduanya nanti akan datang pada hari kiamat bagaikan awan atau bagaikan naungan atau keduanya bagaikan dua kelompok burung putih yang akan menaungi orangnya. Riwayat-riwayat yang terpercaya juga mengatakan bahwa amal perbuatan yang baik akan dinaikkan ke atas langit.


image

27 Diriwayatkan Bukhari (4730) dan Muslim (2849)

FASAL: ALLAH SENANTIASA DISIFATI DENGAN SIFAT-SIFATNYA


image

Dia senantiasa dengan sifat-sifat-Nya sebagai yang Qadim sebelum penciptaan (yang dilakukan)Nya, sedikit pun tidak bertambah (dari sifatNya) dengan keberadaan mereka, yang sebelum keberadaan mereka memang bukan sifatNya, dan sebagaimana Dia dengan sifat- sifatNya adalah azali, maka Dia senantiasa dengan sifat-sifatNya tersebut abadi selamanya.

Allah senantiasa menyandang sifat-sifat kesempurnaan, baik sifat-sifat dzat dan sifat- sifat perbuatan (fi’liyah). Tidak boleh diyakini bahwa Allah disifati dengan satu sifat setelah sebelumnya tidak disifati dengannya, karena Sifat-sifat Allah adalah sifat-sifat kesempurnaan, hilangnya sifat-sifat tersebut merupakan kekurangan, tidak boleh Allah sempurna setelah sebelumnya kurang.

Begitu juga hal tersebut berlaku untuk sifat-sifat perbuatan seperti mencipta, membentuk, menghidupkan, mematikart menggenggam, membentangkan, melipat, bersemayam, datang, hadir, turun, marah, ridha, dan lainnya yang Dia sifatkan pada diri-Nya sendiri, atau yang disifatkan oleh rasul-Nya meskipun manusia makhluk yang fana tidak mengetahui dan memahami realitas semua sifat Allah itu atau pun tidak mampu menafsirkannya dengan baik.

Oleh sebab itu, kita tidak membahasnya secara mendalam, menafsirkannya dengan pendapat pribadi ataupun nafsu belaka. Meski demikian, kita mengetahui makna istilah yang digunakan, seperti yang dinyatakan oleh Imam Malik, ketika beliau ditanya,

“Bagaimanakah Allah bersemayam (istiwa’) di atas ‘Arsy?” pada ayat berikut:

ﵞ٤٥ ...شِرۡعَلۡٱ ىَلعَ ىٰوَتَسۡٱ مَّثُ...

Lalu Dia bersemayam di atas Arsy (QS. Al-A’raf, 54)

Beliau menjawab,

“Istiwa’ sudah kita pahami maknanya sedangkan bagaimana kaifiyatnya tidak kita ketahui.”

Kaidah ini berlaku pada semua sifat termasuk sifat yang muncul dari waktu ke waktu, seperti yang dinyatakan oleh Nabi dalam sebuah hadits:

»هُال ثْمِ هُدا عْ اب اباضغْ اي نْالوا ،هُلا ثْمِ هُلا بْ اق بْاضغْا ي اَْل ابًاضغا اموْ ايلْا ابضِغا دْاق ّب رِا نَّإِ«

“Sesungguhnya Rabbku telah benar-benar murka pada hari ini, Dia tidak pernah murka

sebelumnya seperti itu, dan tidak akan murka setelahnya seperti itu.” 28

Karena kemunculan (sifat) dalam bentuk ini tidaklah mustahil dan tidak bisa dikatakan bahwa sifat tersebut muncul setelah sebelumnya tidak ada. Tidakkah anda memahami bahwa seorang penulis adalah seorang penulis ketika dia sedang menulis dan dia tetap seorang penulis meskipun dia tidak sedang menulis?

Terjadinya hal-hal baru pada Allah yang dinafikan oleh ilmu kalam yang tercela tidak ada penafian dan penetapannya dalam al-Qur'an dan as-Sunnah. Ia bersifat global. Bila maksudnya adalah bahwa dzat Allah yang suci bukan tempat bagi sesuatu pun dan makhluk- makhlukNya yar.g diciptakan, atau Allah tidak memiliki sifat baru yarrg sebelumnya tidak Dia miliki, maka ini adalah penafian shahih. Namun, bila maksudnya adalah menafikan sifat- sifat Allah yang berkenaan dengan kehendakNya, bahwa Dia tidak melakukan apa yang Dia ingir; tidak berbicara kapan Dia ingin dengan apa yang Dia ingin, tidak pula Dia marah dan rela yang tidak sama dengan makhlukNya, tidak disifati dengan sifat yang Dia tetapkan untuk diriNya seperti turun, istiwa, dan datang sesuai dengan keagungan dan kemuliaannya, maka ini adalah penafian yang batil.

Hal yang sama pun berlaku untuk “sifat”: apakah sifat merupakan penambahan bagi Dzat Allah atau tidak? Lafaznya masih mujmal.

Demikian pula, kata “selain (ريغلا)” membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Terkadang yang dimaksudkan adalah sesuatu yang bukan Dia dan bisa juga digunakan untuk apa yang bisa terpisahkan dari Diri-Nya.

Berdasarkan hal tersebut, para ulama Ahlus Sunnah menahan diri dari mengatakan bahwa sifat-sifat Allah atau Kalam-Nya, terpisah dari, atau bukan bagian dari Dzat-Nya. Karena lafaz tersebut jika ditetapkan secara mutlak digunakan bisa berarti bahwa sifat itu terpisah dari-Nya atau sebaliknya jika dinafikan akan dipahami jika sifat itu adalah Dia. Oleh sebab itu, kata “selain (ريغلا)” memerlukan penjelasan lebih lanjut. Kata tersebut tidak boleh digunakan tanpa penjelasan tambahan.

Jika dibayangkan bahwa terdapat Dzat yang ada dengan sendirinya, sepenuhnya terpisah dari sifat-sifatnya yang merupakan tambahan untuk Dzat tersebut, maka ini keliru. Sebaliknya, jika yang dimaksud adalah bahwa sifat tersebut merupakan tambahan pada Dzat yang maknanya dipahami selain dari apa yang dipahami dari makna sifat tersebut – maka hal tersebut benar adanya.

Namun, tidak ada Dzat yang ada tanpa sifat. Melainkan Dzat tersebut disifati dengan sifat-sifat sempurna sebagai bagian dari Dzat itu dan tak terpisahkan darinya. Pikiran manusia lah yang membayangkan Dzat dan Sifat sebagai dua entitas yang terpisah, padahal, di luar pikiran, tidak ada dzat yang tidak memiliki sifat. Tentu saja hal itu tidak mungkin. Kalaupun ada, misalnya saja sifat dari suatu wujud, maka pastinya sifat itu tidak bisa terpisahkan dari dzat tersebut, meskipun pikiran kita berpikir bahwa keduanya adalah entitas yang terpisah: yaitu Dzat dan Sifat-Nya. Namun, di luar pikiran, keduanya tidak mungkin terpisahkan.

Seseorang mungkin berkata: sifat bukanlah dzat itu sendiri, dan bukan bagian darinya.


image

28 Diriwayatkan oleh Bukhari (3340, 3361, 3712) dan Muslim (194)

Satu aspek dari pernyatan ini memang benar, yakni sifat bukan dzat itu sendiri yang dibayangkan pikiran sebagai entitas yang terpisah, daripada itu, sifat terpisah dari dzat. Namun, sifat itu bukan pula sebuah dzat yang lain. Melainkan Dzat mencakup di dalamnya sifat, ia adalah satu kesatuan dan bukan berbilang.

Misalnya jika kita berkata, “Aku memohon perlindungan kepada Allah,” kita telah memohon perlindungan kepada Dzat yang disifati dengan sifat-sifat yang sempurna dan tidak bisa dipisahkan dari-Nya dengan cara apapun. Namun, ketika kalian berkata, ‘Aku berlindung dengan kekuatan Allah’ artinya kita telah berlindung dengan salah satu dari beberapa sifat Allah, namun kita tidak berlindung kepada selain Allah. Ini adalah makna yang bisa disimpulkan dari kata “Dzat”. Karena kata “Dzat” tidak digunakan secara tersendiri. Kata “Dzat” terkait dengan sesuatu yang lain. Misalnya “Dzatnya wujud,” atau “Dzat yang berkuasa,” atau “Dzat yang terpuji” dan seterusnya. Oleh karena itu, Dzat maksudnya adalah “pemilik sesuatu” karena ia adalah bentuk muannats dari Dzu (وذ) [pemilik]. Itu adalah asal maknanya.

Dari sini kita pahami bahwa suatu dzat tidak bisa dibayangkan terpisah dari sifat- sifatnya, meskipun pikiran mampu membayangkan dzat yang tidak memiliki sifat apapun sebagaimana pikiran mampu membayangkan kemustahilan.

Nabi (ﷺ) telah bersabda:

»رُذِااحأُوا دُجِاأ اما رِ اش نْمِ هِتِرادْقُوا ِّللَّا ةِزَّعِبِ ذُوعُاأ«

“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya, dari kejahatan apa yang aku rasakan dan aku khawatirkan.” 29

Beliau (ﷺ) juga berdoa:

»اقالاخ اما رِ اش نْمِ تِامَّاتَّلا ِّللَّا تِاما لِاكبِ ذُوعُاأ«

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya.” 30

Doa lainnya diriwayatkan sebagai berikut:

» اكنْمِ اكبِ ذُوعُاأوا ، اكتِابوقُعُ نْمِ اكتِاافاعاُِبِوا ، اكطِاخاس نْمِ كا ااضرِبِ ذُوعُاأ ِن ِإِ مَّهُلَّلا«

Ya Allah aku berlindung dengan Ridho-Mu dari murka-Mu, dengan ampunan-Mu dari azab- Mu, dan aku berlindung pada-Mu dari diri-Mu.” 31

Nabi tidak pernah memohon perlindungan kepada selain Allah.


image

29 Diriwayatkan oleh Muslim (2202)

30 Diriwayatkan oleh Muslim (2708)

31 Diriwayatkan oleh Muslim (486)

FASAL: TASALSUL AL-HAWADITS


image

Bukan setelah menciptakan makhluk, Allah mendapat nama ‘Al-Khaliq’ (Pencipta), dan bukan pula karena membuat makhluk (Al-Bariyyah) Allah mendapatkan nama ‘Al-Bari’

Pernyataan Ath-Thahawi di atas menunjukkan bahwa beliau menolak konsep Tasalsul Al-Hawadits32 jika rangkaian tersebut di arahan ke masa lalu. Namun, nanti kita akan temukan pernyataan beliau bahwa beliau membenarkannya jika di arahkan ke masa depan, ketika beliau mengatakan: “Surga dan Neraka diciptakan. Keduanya tidak akan musnah tidak pula hilang.” Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Maka tidak diragukan lagi, orang-orang yang menyangkal keduanya, baik di masa lalu maupun masa depan, telah keliru, seperti yang dilakukan Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya. Ia mengambil pendapat bahwa Surga dan Neraka tidak abadi. Namun, konsep ini akan dijelaskan lebih lanjut pada tempatnya, insya Allah.

Adapun bagi mereka yang meyakini penciptaan tanpa permulaan, atau mereka yang telah menyatakan penciptaan tanpa adanya akhir, maka pendapat yang benar adalah untuk memisahkan dan membedakan antara keduanya. Karena Allah telah hidup sejak dahulu, dan Perbuatan merupakan bagian dari Hidup-Nya, oleh sebab itu, Dia pasti melakukan yang Dia kehendaki. Inilah yang disifatkan Allah untuk Diri-Nya, ketika Dia berkata:

ﵞ ٦١ دُيرِيُ امَِ ل ل اعَّفَ ٥١ دُيجِمَلۡٱ شِرۡعَلۡٱ وذُﵟ

Yang memiliki Arsy, lagi Mahamulia, Mahakuasa berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Al- Buruj: 15-16).

Ayat-ayat di atas menerangkan beberapa aspek.

Pertama: Allah bertindak sesuai dengan Kehendak dan keinginan-Nya.

Kedua: Dia senantiasa demikian karena Dia menyatakannya sebagai pujian atas Diri-Nya sendiri.

Ketiga: ketika Dia menghendaki sesuatu maka Dia pasti melakukannya. Kata “ma” (ام) dalam ayat di atas (diterjemahkan sebagai “apa) adalah istilah umum bagi semua yang Dia kehendaki dan Dia inginkan. Prinsip ini diterapkan pada kehendak yang berkaitan dengan perbuatan-Nya sendiri. Adapun kehendak-Nya yang berkaitan dengan perbuatan hamba-Nya, maka sifatnya berbeda. Jika Dia menghendaki suatu perbuatan dari makhluk-Nya, namun tidak berkeinginan untuk membantunya dalam perbuatan itu, maka perbuatan itu tidak akan terwujud. Namun, jika Dia menginginkan suatu perbuatan dari hamba-Nya, serta ingin membantu dalam melaksanakan perbuatan itu, maka Dia pasti membantunya dan


image

32 Tasalsul Hawadits adalah konsep

mewujudkan perbuatan itu. Inilah poin yang terlewatkan oleh Qadariyyah dan Jabariyah sehingga mereka mengalami kesulitan memahami konsep takdir.

Keempat: Perbuatan dan Kehendak-Nya sejalan. Ketika Dia menghendaki sesuatu, maka Dia melakukannya. Sebaliknya, apapun yang Dia perbuat, pasti telah dikehendaki-Nya. Berlawanan dengan itu, makhluk mengharapkan bisa melakukan yang tidak bisa mereka lakukan, dan terkadang melakukan apa yang tidak mereka inginkan. Tidak ada yang dapat melakukan semua keinginannya kecuali Allah.

Kelima: Pembenaran adanya beberapa Iradah (kehendak), yang sesuai dengan perbuatan dan bahwa setiap perbuatan mungkin memiliki kehendaknya sendiri di baliknya. Hal ini logis untuk makhluk, namun Allah memiliki niat yang kekal dan pasti melakukan kehendak-Nya.

Keenam: Setiap yang boleh untuk menjadi kehendak-Nya, maka bisa untuk dilakukan oleh- Nya. Misalnya Dia berkehendak untuk “turun” ke langit pertama setiap penghujung malam, atau berkehendak untuk “datang” di Hari Kiamat, atau berkehendak untuk menunjukkan diri- Nya kepada makhluk-Nya, atau muncul di hadapan mereka sesuai kehendak-Nya, atau berkehendak untuk berbicara kepada mereka, atau tertawa dan sebagainya, semua pasti bisa dilakukannya. Namu benar atau tidaknya, bergantung pada kesahihah Hadits Nabi yang berisi informasi tersebut.

Pendapat yang menyatakan bahwa makhluk memiliki permulaan melazimkan adanya ketiadaan sebelumnya, yang artinya Allah bersifat statis atau inaktif. Allah diam tanpa perbuatan kemudian mulai berbuat sesuatu. Namun, hal ini tidak lantas mengarah pada keabadian alam semesta. Karena segala hal selain Allah merupakan makhluk ciptaan dan mungkin diciptakan (mumkin al-wujud). Ia terwujud karena penciptaan Allah atasnya. Keberadaan bukanlah sifat intrinsik (dzatiyah). Kebergantungan dan kebutuhan kepada pihak lain adalah suatu sifat intrinsik yang senantiasa melekat kepada segala sesuatu selain Allah. Sebaliknya Allah adalah Yang Maha Berdiri Sendiri dan Tidak Membutuhkan Yang Lain. Sifat ini adalah sifat intrinsik yang lazim bagi Dzat Allah.

Ada dua pendapat yang berkembang tentang alam semesta. Apakah alam semesta ini ciptaan dalam wujud materi ataukah tidak? Terdapat perselisihan tentang karakteristik awal alam semesta itu sendiri. Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ ٧ ... آمَلۡٱ ىَلعَ ۥهُشُرۡعَ نَاكَوَ مٖايَّأَ ةِتَّسِ ىِف ضَۡرأَۡلٱوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ قَلَخَ يذِلَّٱ وَهُوَﵟ

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan Asrynya berada di atas air (QS. Hud: 7)

Al-Bukhari dan yang lainnya meriwayatkan bahwa Imran bin Husain telah berkata:

]لِوَّاأ[

نْعا اكالاأسْانلِوا

،نِيدِ لا ِفِ اهقَّفا ات انلِ كا انا ئْجِ :املَّاسوا

هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص - ِّللَّا لِوسُرالِ نِماايلْا لُهْاأ لاااق«

:هِْيِْغا

ةِاياوارِ ِفِوا

،"هُعاما

ءٌ يْاش نْكُاي اَْلوا" :ةٍاياوارِ ِفِوا

،"هُال بْ اق ءٌ يْاش نْكُاي اَْلوا ُّللَّا انااك" :لااقا اف ،رِمْاْلْا اذا ها

اقالاخ ثَُّ" :ظٍفْال ِفِوا ،" اضرْاْلْاوا تِاوااما سَّلا اقلااخوا ،ءٍ يْاش لَّكُ رِكِْذ لا ِفِ ابتااكوا ؛ءِاما لْا ىلاعا هُشُرْعا انااكوا"

» اضرْاْلْاوا تِاوااما سَّلا

“Penduduk Yaman pernah berkata kepada Nabi: “Kami datang kepada anda untuk belajar agama dan bertanya kepada anda tentang awal mula perkala (alam raya) ini.” Maka beliau menjawab, Allah telah ada, dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya.’ Dalam riwayat lainnya: “Arsy Allah di atas air. Dia menulis dalam adz-Dzikr (lauhul mahfudz) segala sesuatu dan Dia menciptakan langit dan bumi.” Dalam riwayat lainnya: “Kemudian Dia menciptakan langit dan bumi.” 33

Merujuk pada riwayat-riwayat tersebut, ada dua pendapat yang terkait.

Pendapat pertama: Salah satunya meyakini bahwa tujuan semua riwayat itu untuk mengabarkan bahwa Allah telah ada sejak dahulu dan senantiasa demikian. Kemudian Dia mulai menciptakan segala sesuatu dan kejadian. Dengan kata lain, ciptaan-ciptaan itu awalnya tidak ada. Dan waktu itu sendiri merupakan entitas yang diciptakan dan Allah mencipta setelah sebelumnya tidak menciptakan.

Pendapat kedua: meyakini bahwa semua riwayat tersebut hanya menerangkan kepada kita tentang rentang waktu dimana penciptaan semua yang bisa diamati telah dimulai, yang diciptakannya dalam enam hari, dan bahwa Arsy-Nya berada di atas air. Hal ini dinyatakan di sejumlah tempat di dalam Al-Qur’an. Lebih lanjut Muslim meriwayatkan dari Abdulah bin Amr:

ىالعا هُشُرْعا انااكوا ،ةٍاناس افلْاأ ّيا سِمْاِبِ اضرْاْلْاوا تِاوااما سَّلا اقلَُْيا نْاأ البْ اق قِلْاْلْا رايدِاقاما َلااعا ات ُّللَّا رادَّاق« »ءِاما لْا

“Allah menulis takdir makhluk-makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Dan Arsy-Nya berada di atas air.” 34

Sehingga Nabi telah menerangkan bahwa ketetapan takdir untuk segenap makhluk-Nya telah Allah dituliskan di lauhul mahfuz lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi selama enam hari, dan Arsy-Nya saat itu berada di atas air.

Kebenaran dari pendapat yang kedua ini diambil dari kata-kata penduduk Yaman: “Kami datang kepada anda untuk bertanya kepada anda tentang awal mula perkala (alam raya) ini.” Yang mereka maksud adalah yang diciptakan dan disaksikan oleh mereka. Dan ‘al-amr’ dari teks tersebut (yang diterjemahkan sebagai urusan) merupakan kiasan atas “yang telah Allah ciptakan dengan perintah-Nya.” Menjawab mereka, Nabi memberitahukan tentang awal penciptaan dunia yang bisa diamati ini, dan bukan mengenai jenis dan macam dunia ini. Karena mereka tidak ingin mengetahui persoalan itu. Beliau (ﷺ) pun menerangkan kepada mereka tentang awal mula langit dan bumi, sementara Arsy berada di atas air. Beliau


image

33 Diriwayatkan oleh Bukhari (3191, 7418)

34 Diriwayatkan oleh Muslim (2653)

tidak menjelaskan tentang penciptaan Arsy, yang diciptakan sebelum langit dan bumi diciptakan.

Beliau (ﷺ) pun berkata: “Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Menurut beberapa lafaz, “tidak ada sesuatu pun bersama-Nya” (ma’ahu). lafaz lainnya menyatakan, “tidak ada selain Dia,” (ghayuruhu).35 Namun, semua riwayat itu bersal dari satu peristiwa. Sepertinya salah satu perawi menggunakan lafaz aslinya, sementara perawi lainnya menggunakan kata yang semakna dengannya. Namun, kata “sebelumnya” muncul di riwayat lainnya. Sebagai contoh, Imam Muslim telah meriwayatkan doa yang dipanjatkan Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

»ءٌيْاش اكال بْ اق اسيْال اف لُوَّاْلْا اتنْاأ مَّهُلَّلا

“Ya Allah Engkaulah Yang Awal, dan tidak ada yang sebelum-Mu.” 36

Sedangkan dua kata yang lainnya (yaitu ma’ahu dan ghayruhu) tidak muncul secara tersendiri di riwayat-riwayat lainnya. Sebagian besar ulama hadits seperti Humaidi, Baghawi dan Ibnu Al-Atsir meriwayatkan hadits ini dengan kata “sebelum” (qabla). Jika dengan lafaz ini kita menerima riwayatnya, maka pertanyaan tentang apa yang ada sebelum penciptaan dan apa yang tidak ada, bukanlah subjek hadits yang diriwayatkan oleh Imran bin Husain.


image

35 Riwayat ini tidak ditemukan di mana pun menurut penelitian Syaikh Al-Arnauth. Lihat komentar beliau dalam Syarah Akidah Ath-Thahawiyah li Ibnu Abil Izz tahqiq Al-Arnauth (2/112) (SAS).

36 Diriwayatkan oleh Muslim (2713)

FASAL: ALLAH SENANITASA DISIFATI DENGAN SIFAT-SIFATNYA


image

Dia (telah) memiliki Sifat Rububiyah semenjak makhluk yang bertuhan belum ada, dan memiliki sifat mencipta sebelum ada ciptaan (makhluk)

Yang dimaksud penulis adalah Allah (ﷻ) disifati dengan sifat rububiyah sebelum Dia menciptakan apapun dan Dia disifati dengan sifat penciptaan sebelum makhluk diciptakan.


image

Sebagaimana Dia (menyandang nama) Maha Menghidupkan yang telah mati setelah Dia menghidupkan, Allah telah berhak menyandang nama ini sebelum menghidupkan mereka, demikian pula, Dia berhak menyandang nama Yang Maha Mencipta sebelum menciptakan mereka.

Yaitu, seperti halnya Allah berhak disebut “Maha Menghidupkan,” sebelum apapun menjadi hidup, Dia pun berhak disebut “Pencipta” sebelum Dia menciptakan apapun. Ini untuk membantah pendapat Muktazilah dan orang-orang yang mengikuti mereka. Kami telah menjelaskan bahwa Allah senantiasa melakukan yang Dia kehendaki.

FASAL: “TIDAK ADA SESUATU PUN YANG SERUPA DENGAN-NYA. DAN DIALAH YANG MAHA MENDENGAR LAGI MAHA MELIHAT.”


image

Semua itu adalah karena Dia (Allah) Mahakuasa atas segala sesuatu, segala sesuatu faqir (butuh) pada-Nya, dan segala perkara bagi-Nya adalah mudah. Allah tidak butuh kepada sesuatu pun: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura:11)

Maksud dari pernyataan Ath-Thahawi di atas adalah untuk sekali lagi menekankan bahwa sifat-sifat-Nya itu abadi. Namun, kelompok Muktazilah telah menakwil firman Allah

berikut ini:

ﵞ ٦ ر يدِقَ ءٖيۡشَ لِ كُ ىَٰلعَ ّلِلَُّٱوَ ....

Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Hasyr: 6)

Mereka berkata:

“Allah hanya mampu dalam cakupan kekuasaan-Nya, adapun perbuatan makhluk- Nya, Dia tidak berkuasa atasnya”

Apabila pernyataan ini benar, maka akan dikatakan; “Dia Maha Mengetahui apa yang dapat diketahui,” atau “Pencipta dari yang Dia ciptakan.” Dengan menyimpulkan seperti ini, sebenarnya mereka merampas dari Allah sifat kesempurnaan kekuasaan Allah atas segala sesuatu.

Adapun Ahlus Sunnah, mereka meyakini bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu sehingga, segala hal yang mungkin termasuk dalam kekuasaan Allah. Adapun sesuatu yang tidak mungkin itu sendiri, seperti dzat yang ada dan tidak ada dalam waktu bersamaan, tidak memiliki hakikat. Keberadaan hal yang demikian tidak bisa dibayangkan. Ia tidak bisa dianggap sebagai “sesuatu” oleh siapapun yang dianugerahi akal.

Inilah dasar keimanan yang sempurna dalam rububiyah Allah. Tidak ada yang pernah meyakini bahwa Dia Tuhan segala sesuatu tanpa juga meyakini bahwa Dia memiliki kekuasaan atas segala sesuatu. Dan dia pun tidak akan meyakini kelengkapan dan kesempurnaan kekuasaan Allah, tanpa meyakini bahwa Dia memiliki kekuasaan atas segala sesuatu.

Perkataan Ath-Thahawi “Tidak ada yang serupa dengan-Nya,” digunakan untuk membantah musyabbihah; dan perkataan beliau, “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” untuk membantah mu’atahilah. Allah (ﷻ) memiliki sifat-sifat kesempurnaan dimana tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya. Maksudnya, jika salah satu makhluk-Nya disifati mendengar, melihat, maka tidak mengarah pada arti bahwa indra pendengar dan penglihatan

yang dimiliki makhluk tersebut serupa dengan milik Allah. Namun, mensifati-Nya dengan sifat-sifat tersebut tidak lantas menyerupakan keduanya (Allah dan makhluk-Nya). Karena masing-masing disifati dengan sifat-sifat yang layak bagi keduanya. Sifat-sifat yang dimiliki makhluk adalah sifat yang sesuai dengan mereka. Dan sifat-sifat untuk Allah hanya sesuai untuk-Nya. Allah sendiri telah menyatakan bahwa sifat yang Mahatinggi hanya milik-Nya.

ﵞ ٠٦ ... ىَٰٰۚلعۡأَۡلٱ لُثَمَلۡٱ ِّلِلَِّوَ ءِۖوۡسَّلٱ لُثَمَ ةِرَخِٓأۡلٱبِ نَونُمِؤۡيُ اَل نَيذِلَّلِﵟ

Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat buruk dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi (QS. An-Nahl: 60)

Dia (ﷻ) pun berfirman:

ﵞ ٧٢ .... ضِٰۚۡرأَۡلٱوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ ىِف ىَٰلعۡأَۡلٱ لُثَمَلۡٱ هُلَوَﵟ

Dan bagi-Nya-lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi (QS. Ar-Rum: 27)

Sehingga kita lihat bahwa Allah (ﷻ) menyatakan sifat buruk bagi musuh-musuh-Nya,

-yaitu para penyembah berhala dan sesembahan mereka-, yang penuh dengan kelemahan dan ketidaksempurnaan, kemudian memberitahukan kepada mereka bahwa sifat tertinggi hanya milik-Nya, yang terbebas dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Oleh sebab itu, siapapun yang menghilangkan sifat-sifat kesempurnaan dari Allah telah menetapkan sifat-sifat keburukan bagi Allah dan menyangkal sifat Mahatinggi yang telah Dia tetapkan untuk diri- Nya, yaitu kesempurnaan mutlak. Mereka merusak perumpamaan yang agung dan citra-Nya yang agung yang meliputi semua sifat positif dan sifat-sifat yang mulia.

Jika Allah memiliki sifat-sifat yang terhebat dan paling sempurna, maka hanya Dia yang berhak atas Sifat Mahatinggi, tidak dengan yang lain. Tentu saja, tidak mungkin ada dua Dzat yang sama-sama memiliki sifat Mahatinggi, karena jika mereka setara dalam segala segi, maka salah satunya tidak bisa dibayangkan lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Sebaliknya, jika mereka tidak setara, maka hanya salah satu di antara keduanya yang bisa disifati Mahatinggi. Yang Mahatinggi tidak bisa memiliki tandingan yang setara.

FASAL: ALLAH MENCIPTAKAN MAKHLUK DENGAN ILMUNYA


image

Dia menciptakan makhluk dengan Ilmu-Nya

Khalaqa (Menciptakan) bermakna memulai, mengawali, dan mewujudkan. Terkadang kata bahasa Arab, khalaqa juga digunakan dalam pengertian “menakar”. Khalq adalah kata benda verbal infinitif (masdar) yang memiliki makna makhluk, 'yang diciptakan'.

Adapun perkataan Ath-Thahawi: “dengan ilmu-Nya,” digunakan untuk menekankan

bahwa Dia menciptakan mereka dalam keadaan mengetahui hal ihwal mereka. Allah (ﷻ) berfirman:

اَّلإِ ةٍقَرَوَ نمِ طُقُسَۡ ت امَوَ رِٰۚحۡبَلۡٱوَ رِ بَلۡٱ ىِف امَ مُلَعۡيَوَ وَۚهُ اَّلإِ آهَمَُلَعۡيَ اَل بِيۡغَلۡٱ حُتِافَمَ ۥهُدَنعِوَﵟ

يذِلَّٱ وَهُوَ ٩٥ نٖيبِمُّ َ بٖتَٰكِ ىِف اَّلإِ سٍبِايَ اَلوَ بٖطۡرَ اَلوَ ضِۡرأۡلٱ تِمَٰلُظُ ىِف ةٖبَّحَ اَلوَ اهَمُلَعۡيَ

هِيۡلَإِ مَّثُ ىۖمٗسَ مُّ ل جَأ يَٰٓ ضَقۡيُلِ هِيفِ مۡكُثُعَبۡيَ مَّثُ رِاهَنَّلٱبِ متُحۡرَجَ امَ مُلَعۡيَوَ لِيۡلَّٱبِ مكُىٰفَّوَتَيَ ﵞ٠٦ نَولُمَعۡتَ مۡتُنكُ امَبِ مكُئُبِ نَيُ مَّثُ مۡكُعُجِرۡمَ

Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengatahui apa yang di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (lauhul mahfuz). Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui yang kamu kerjakan di siang hari. (QS. Al-An’am: 59-60)

Dalil-dalil rasional37 yang membuktikan bahwa Allah memiliki sifat ilmu adalah sebagai berikut:

Pertama: Allah tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa mengetahui apa adanya. Menciptakan sesuatu berarti menjadikan sesuatu itu ada atas kehendak-Nya. Berkehendak berarti Dia mengonseptualisasikan apa yang Dia kehendaki. Konsep tentang apa yang Dia kehendaki adalah pengetahuan tentang sesuatu yang dikehendaki. Oleh karena itu, penciptaan tentu saja menyiratkan pengetahuan.

Kedua: kesempurnaan dan keteraturan yang kita lihat pada hal-hal di dunia ini mengharuskan Dia yang menciptakannya untuk mengetahuinya secara menyeluruh. Karya yang sempurna tidak dapat diharapkan dari makhluk yang bodoh.

Ketiga: di antara makhluk-makhluk di dunia ini ada yang berilmu dan karena ilmu merupakan sifat kesempurnaan, maka tidak mungkin Sang Pencipta tidak memiliki ilmu.


image

37 Sangat jauh dengan apa yang terjadi dengan saintis di zaman modern yang mereka memilih untuk menjadi Ateis padahal bukti-bukti sains modern dengan jelas menunjukkan apa akan dijelaskan dibawah ini. Namun mereka memilih untuk sombong dan tidak mau mengakui bukti yang ada di depan kepala mereka (SAS)

Argumen ini dapat diuraikan dalam dua cara:

Pertama: kita tahu bahwa pencipta harus lebih sempurna daripada yang diciptakan, yakni Tempat Bergantung Makhluk harus lebih sempurna daripada yang diciptakan, yaitu mereka yang bergantung. Seandainya kita memikirkan adanya dua sosok: satu memiliki ilmu, dan satu lagi tidak memilikinya. Maka salah satunya pasti lebih sempurna dibandingkan yang lain. Kelaziman dari argumen ini adalah jika pencipta tidak berilmu, maka yang diciptakan akan lebih sempurna daripada Pencipta. Ini adalah kemustahilan.

Kedua: Bisa dikatakan bahwa semua ilmu yang mungkin, yaitu, pada makhluk berasal dari Dia. Oleh karena itu, tidak mungkin membayangkan pihak yang memberikan kesempurnaan tidak memiliki kesempurnaan itu dalam diri-Nya sendiri. Melainkan, Dia pasti lebih berhak untuk memilikinya dan bagi Allah permisalan yang Agung. Dia dan ciptaan-Nya tidak setara: baik dalam qiyas tamtsili maupun qiyas syumuli. Setiap kesempurnaan yang dimiliki oleh makhluk, maka Dia lebih berhak untuk memilikinya dan apapun yang tidak layak dimiliki oleh makhluk-Nya maka lebih layak untuk tidak dimiliki oleh-Nya.

FASAL: ALLAH MENETAPKAN TAKDIR DAN AJAL


image

Dia Telah Menetapkan Segala Ketetapan Takdir Bagi Mereka

Allah () berfirman:

ﵞ ٢ ارٗيدِقۡتَ ۥهُرَدَّقَفَ ءٖيۡشَ لَّكُ قَلَخَوَﵟ

Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat (QS. Al- Furqan: 2)

Dan firman-Nya,

ﵞ ٩٤ رٖدَقَبِ هُنَٰقۡلَخَ ءٍيۡشَ لَّكُ انَّإِﵟ

Sungguh Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (QS. Al-Qamar: 49)


image

Dan (Allah) menetapkan ajal bagi mereka

Maksudnya Allah menentukan ajal untuk makhluk-Nya, sehingga saat waktu tersebut tiba, tidak akan ditunda barang sedikit pun ataupun dipercepat. Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ٥٤١.... ٰۗٓالٗجَّؤَمُّ ابٗتَٰكِ ِّلِلَّٱ نِذۡإِبِ اَّلإِ تَومُتَ نأَ سٍفۡنَلِ نَاكَ امَوَﵟ

Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang yang telah ditentukan baginya (QS. Al-Imran: 145)

Imam Muslim pun meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan bahwa ketika Ummu Habibah, salah satu istrinya Nabi Muhammad berdoa:

اةايوِاعا مُ يخِاِبِوا ،اناايفْسُ ّبِاأ ّبِاِبِوا ،ِّللَّا لِوسُرا يجِوْزابِ ِنِعْتِمْاأ مَّهُلَّلا

“Ya Allah berilah aku kebahagiaan dengan suamiku, Rasulullah, bapakku Abu Sufyan, dan saudaraku Muawiyah,”

Maka Nabi (ﷺ) bersabda:

راخ ِ ؤاُ ي نْالوا ،هِلِاجاأ البْ اق ائً يْاش الج ِ عاُ ي نْلا ،ةٍماوسُقْما قٍازارْاأوا ،ةٍادودُعْما مٍَيَّاأوا ،ةٍابورُضْما لٍااجْلِ اّللَّا تِالاأاس دْاق

اًْيْاخ انااك :-بِْقالْا ِفِ بٍاذا عاوا رِانَّلا ِفِ بٍاذا عا نْمِ كِذا يعِيُ نْاأ اّللَّا تِلْاأاس تِنْكُ وْلاوا ،هِلِاجاأ نْعا ائً يْاش

»الاضفْاأوا

“Kamu memohon kepada Allah ajal yang sudah ditetapkan, hari-hari yang terhitung, dan rizki-rizki yang dibagi, dan tidak memajukan sedikit pun darinya sebelum saatnya dan tidak menunda sedikit pun darinya dari saatnya, seandainya kamu memohon kepada Allah agar melindungimu dari azab Neraka dan azab kubur, maka itu lebih baik dan lebih utama.” 38

Orang yang dibunuh telah mati dengan ajalnya. Allah telah mengetahui dan telah menentukan bahwa seseorang akan mati karena suatu penyakit, yang lain karena dibunuh, yang lainnya karena terjatuh, dan seterusnya karena alasan yang berbeda. Allah menciptakan kehidupan, kematian serta penyebab kematian dan kehidupan.

Kelompok Muktazilah berpendapat bahwa ajal orang yang terbunuh telah berkurang ajalnya. Seandainya tidak terbunuh, dia akan tetap hidup untuk melanjutkan ajalnya. Kelaziman pendapat ini adalah seakan-akan dia memiliki dua ajal. Namun, tentu saja ini tidak benar. Tidak masuk akal jika Allah menetapkan takdir yang Dia ketahui tidak akan pernah dicapai oleh makhluknya atau menetapkan dua waktu untuknya seperti perbuatan seseorang yang lalai terhadap akibat yang ditimbulkannya, serta kewajiban pembalasan dan tanggung jawab terhadap si pembunuh, karena melakukan perbuatan terlarang tersebut dan melakukan sebab terlarang tersebut.

Prinsip ini sejalan dengan hadits Rasulullah yang harus dipahami, hadits ini menyatakan:

»رِمُعُلْا ِفِ دُيزِتا مِحِرَّلا ةُلا صِ«

“Menjalin tali silaturahmi akan memperpanjang umur.” 39

maksudnya berperilaku baik dan berbuat baik kepada kerabat adalah sebab bagi dipanjangkannya umur. Dengan kata lain, Allah telah menakdirkan bahwa orang tersebut menyambung silaturahmi dan hidup sampai usia yang juga telah ditakdirkan. Tanpa sebab itu,

-yaitu menyambung tali silaturahmi-, dia tidak akan hidup sepanjang usianya tersebut. Namun Allah telah menetapkan sebab tersebut. Sebaliknya, Allah telah menakdirkan untuk orang lain memutus tali silaturahmi dan hidup hingga usia tertentu.

Jika ditanyakan: Bila menyambung tali silaturahmi bisa menambah atau mengurangi usia kita, apakah doa bisa berdampak sama?

Jawabannya adalah tidak semestinya, berdasarkan keterangan tentang perkataan Nabi kepada Ummu Habibah yang sedang berdoa,


image

38 Diriwayatkan oleh Muslim (2663)

39 Lafaz ini diriwayatkan oleh Asy-Syihab Al-Qadha’i (100) dalam Musnadnya. Di dalamnya sanadnya ada Nashr bin Hammad, seorang perawi yang lemah sekali. Diriwayatkan juga yang semakna dengan ini dalam Bukhari (2067) dan Muslim (2557). Takhrij lengkap bisa merujuk ke Syarah Akidah Ath-Thahawiyah li Ibnu Abil Izz tahqiq Al-Arnauth (2/128) (SAS).

“Kamu memohon kepada Allah ajal yang sudah ditetapkan,”... hingga akhir hadits tersebut.

Artinya waktu sudah ditetapkan sebelumnya. Doa untuk mengubahnya tidak akan dibolehkan. Hal ini berlainan dengan lari dari dari siksa akhirat. Karena doa untuk mendapatkan perlindungan ini telah diperintahkan, dan bisa bermanfaat. Tidakkah kalian menyadari bahwa doa untuk mengubah ketentuan takdir seseorang, ketika hal ini bermanfaat di akhirat telah diperbolehkan? Seperti diterangkan dalam hadits Nasa’i yang meriwayatkan dari Ammar bin Yasir yang meriwayatkan doa Nabi sebagai berikut: “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan ini baik bagiku, dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.”

Hadits di atas senada dengan riwayat yang diriwayatkan oleh Hakim dalam Shahihnya. Tsauban mengabarkan bahwa Nabi (ﷺ) telah berkata:

»هُبُيصِيُ بِنْذَّلِبِ قازْرِ لا مُراحْيُال الجُرَّلا نَّإِوا ،بُِّلْا َلَّإِ رِمُعُلْا ِفِ دُيزِاي َلاوا ،ءُاعا دُّلا َلَّإِ رادا قالْا دُّرُا ي َلا«

“Tidaklah merubah takdir melainkan doa, tidak ada yang menambah umur kecuali kebajikan. Dan sungguh seseorang benar-benar dihalangi untuk mendapat rezeki karena dosa yang ia kerjakan.” 40

Hadits (tentang Ummu Habibah) membantah manusia yang meyakini bahwa bernazar (akan beramal di jalan Allah jika doanya terkabulkan) adalah sebab dihilangkannya musibah atau memperoleh berkah. Menurut hadits dalam Bukhari Muslim, Nabi tidak menyarankan umatnya untuk bernazar. Beliau (ﷺ) bersabda:

»لِيخِابلْا انمِ هِبِ جُرا خْاتسْيُ ااَّنَّإِوا ،ْيٍِْبِا ِتَِيْا َلا هُنَّاأ :لاااقوا ،رِذْنَّلا نِعا ىاَنا هُنَّاأ«

“Sesungguhnya ia tidak pernah membawa kebaikan dan sesungguhnya ia hanya dikeluarkan (bersumber) dari orang yang bakhil.” 41

Selain itu, harus diketahui bahwa doa-doa kita bisa bermanfaat dan didengar oleh Allah dalam hal-hal tertentu, namun tidak untuk semua hal. Oleh sebab itu, Allah tidak menjawab doa-doa yang melampaui batas ketika berdoa. Imam Ahmad membenci doa memperpanjang umur. Beliau berkata: “Semua ini sudah Allah tetapkan.” Sebagaimana firman Allah(ﷻ):

ﵞ ١١ ..... بٍٰۚتَٰكِ ىِف اَّلإِ ۦٓهِرِمُعُ نۡمِ صُقَنيُ اَلوَ رٖمَّعَمُّ نمِ رُمَّعَيُ امَوَ ...

Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan sudah ditetapkan dalam Kitab (Lauhul Mahfuz). (QS. Fatir: 11)

Dikatakan tentang ayat di atas bahwa kata ganti yang digunakan pada kata “umurnya” (yaitu ha dalam umurihi) dalam pengertian yang sama dengan: “Saya memiliki satu setengah dirham.” Yang artinya dia memiliki setengah dirham lagi. Bisa dikatakan bahwa “umur orang itu tidak berkurang.” Juga dikatakan bahwa “penambahan” dan “pengurangan” merupakan


image

40 Hasan tanpa lafaz: “Dan sungguh seseorang benar-benar dihalangi untuk mendapat rezeki karena dosa yang ia kerjakan”. Diriwayatkan oleh Ahmad (5/277), Ibnu Hibban (1090), dan Ibnu Majah (90). Lihat Silsilah Al- Ahadits Ash-Shahihah (154)

41 Diriwayatkan oleh Muslim (2585) dengan lafaz yang semakna.

kiasan atas catatan para malaikat (dan bukan dalam Ummul Kitab di lauhul mahfuz), sebagaimana firman Allah (ﷻ):

ﵞ٩٣ بِتَٰكِلۡٱ مُّأُ ۥٓهُدَنعِوَ تُۖبِثۡيُوَ ءُآشَيَ امَ ّلِلَُّٱ اْوحُمۡيَ ٨٣ ب اتَكِ لٖجَأَ لِ كُلِ ....

Untuk setiap masa ada Kitab (tertentu). Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfuz) (QS. Ar-Ra’d: 38-39)

Telah dijelaskan bahwa penghapusan dan penetapan terjadi pada kitab yang berada di tangan para malaikat. Adapun kata “Ummul Kitab” dalam ayat di atas adalah Lauhul Mahfuz.

FASAL: TIDAK ADA YANG TERSEMBUNYI BAGI ALLAH


image

Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya sebelum Dia menciptakan mereka, dan Dia mengetahui apa yang mereka perbuat sebelum Dia menciptakan mereka.

Allah mengetahui peristiwa di masa lalu, apa yang akan terjadi di masa depan dan apa yang tidak akan terjadi. Dan jika hal ini akan terjadi, bagaimana terjadinya. Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ ٨٢.... هُنۡعَ اْوهُنُ امَلِ اْودُاعَلَ اْودُّرُ وۡلَوَ....

Dan jika mereka kembali mereka akan kembali melakukan apa yang dahulu dilarang (QS. Al-An’am: 28)

Meskipun Dia tahu bahwa mereka tidak akan dikembalikan, Dia memberitahu kita seandainya mereka diberikan kehidupan yang baru, mereka tetap berbuat seperti dulu. Allah

(ﷻ) pun berfirman:

ﵞ ٣٢ نَوضُرِعۡمُّ مهُوَّ اْولَّوَتَلَ مۡهُعَمَسۡأَ وۡلَوَ مۖۡهُعَمَسۡأََّل ارٗيۡخَ مۡهِيفِ ّلِلَُّٱ مَلِعَ وۡلَوَﵟ

Dan sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada diri mereka, tentu Dia jadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar niscaya mereka berpaling, sedang mereka memalingkan diri. (QS. Al-Anfal: 23)

FASAL: PERINTAH DAN LARANGAN ALLAH


image

Dia memerintahkan mereka untuk taat kepadaNya dan melarang mereka dari berbuat maksiat terhadapNya.

Setelah membahas tentang penciptaan dan ketentuan. Ath-Thahawi menyebutkan tentang perintah dan larangan untuk menunjukkan bahwa Allah (ﷻ) telah menciptakan makhluk-Nya agar mereka beribadah kepada-Nya. Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ٦٥ نِودُبُعۡيَلِ اَّلإِ سَنإِۡلٱوَ نَّجلِۡٱ تُقۡلَخَ امَوَﵟ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

FASAL: SEGALA SESUATU TERJADI DENGAN TAKDIR-NYA


image

Segala sesuatu terjadi dengan takdir dan kehendak-Nya. Kehendak-Nya pasti terlaksana, tidak ada kehendak bagi hamba-hamba, kecuali yang dikehendaki Allah bagi mereka. Maka apa yang Dia kehendaki bagi mereka, pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi.

Konsep ini sesuai dengan firman Allah (ﷻ):

ﵞ٠٣ امٗيكِحَ امًيلِعَ نَاكَ ّلِلََّٱ نَّإِ ّۚلِلَُّٱ ءَآشَيَ نأَ آَّلإِ نَوءُآشََت امَوَﵟ

Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Insan: 30)

Dan Allah () berfirman:

ﵞ ٩٢ نَيمِلَعَٰلۡٱ بُّرَ ّلِلَُّٱ ءَآشَيَ نأَ آَّلإِ نَوءُآشََت امَوَﵟ

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwir: 29)

Masih banyak ayat lain yang membuktikan bahwa hanya kehendak Allah yang akan terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi. Sulit dibayangkan jika suatu kejadian ternyata bisa terjadi dalam kerajaan-Nya tanpa persetujuan-Nya. Siapakah yang lebih sesat dari mereka yang mengira bahwa Allah menghendaki keimanan bagi orang kafir, namun orang tersebut menghendaki kekufuran untuk dirinya sendiri, sehingga kehendak orang kafir akan mengalahkan kehendak Allah? Maha Suci Allah dari segala yang mereka tuduhkan.

Jika dikatakan, ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini menyebabkan kerancuan:

ﵞ٨٤١ ..... آبَاءَ آَلوَ انَكۡرَشۡأَ آمَ ّلِلَُّٱ ءَآشَ وۡلَ اْوكُرَشۡأَ نَيذِلَّٱ لُوقُيَسَﵟ

“Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan mengatakan: ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya (QS. Al-An’am: 148)

Dan,

ﵞ ٥٣ .... ءٖيۡشَ نمِ ۦهِنِودُ نمِ انَدۡبَعَ امَ ّلِلَُّٱ ءَآشَ وۡلَ اْوكُرَشۡأَ نَيذِلَّٱ لَاقَوَﵟ

Dan orang musyrik berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, (QS. An-Nahl: 35)

Persoalan di atas telah dijawab dalam beberapa jawaban. Jawaban yang terbaik adalah

Allah (ﷻ) membantah keyakinan mereka bahwa kehendak Allah sejalan dengan (ridha) persetujuan-Nya. Mereka bermaksud menyatakan bahwa seandainya Dia tidak ridha atau tidak senang dengan hal itu, maka Allah akan mencegah mereka dari kekufuran mereka itu.

Dengan demikian, mereka mengira bahwa kehendak Allah merupakan tanda persetujuan-Nya. Namun, Allah membantah klaim mereka. Allah menegaskan bahwa kehendak-Nya bukanlah tanda persetujuan-Nya. Allah pun menunjukkan ketidaksetujuan- Nya terhadap pembangkangan mereka atas perintah yang telah diturunkan melalui para rasul- Nya, dan ketetapan-Nya yang telah Dia wahyukan dalam Kitab Suci. Sehingga mereka menganggap kehendak Allah sebagai rintangan dalam menerima apa yang telah Dia perintahkan.

Ketika mereka membicarakan kehendak Allah, mereka tidak menyebutkan bahwa kehendak-Nya berlaku pada segala hal, melainkan mereka menolak mengikuti perintah-Nya dengan dalih. Kasus mereka sama dengan sekte-sekte sesat dan orang-orang yang lalai, yang ketika mereka diperintahkan untuk melakukan sesuatu, atau dilarang melakukannya, mereka berdalih dengan konsep takdir Allah. Suatu ketika, seorang pencuri berdebat dengan Umar bahwa ia tidak mencuri melainkan karena takdir ilahi. Umar memberitahunya bahwa dia tidak menghukumnya namun hanya mengikuti takdir Allah juga.

FASAL: HIDAYAH TAUFIK DI TANGAN ALLAH


image

Dia memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, juga memberikan perlindungan dan keafiatan sebagai suatu karunia, dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki, dan menghinakan serta memberikan cobaan sebagai suatu keadilan.

Ini adalah bantahan terhadap Muktazilah yang mewajibkan Allah melakukan apa yang terbaik bagi manusia. Konsep ini terutama mengacu pada pertanyaan tentang hidayah dan kesesatan.

Muktazilah menyangka bahwa hidayah dari Allah terdiri dari penjelasan tentang jalan kebenaran. Adapun kesesatan adalah Allah telah menyatakan bahwa hamba tersebut sesat. Mereka berpendapat keputusan Allah untuk menyesatkan manusia pada saat penciptaannya adalah kesalahan di dalam diri manusia itu sendiri. Pendapat ini berdasarkan asumsi yang salah, yaitu perbuatan manusia merupakan ciptaan mereka sendiri.

Dan dalil atas apa yang kami katakana adalah ayat berikut ini:

ﵞ٦٥...... ءُۚآشَيَ نمَ يدِهۡيَ ّلِلََّٱ نَّكِلَٰوَ تَبۡبَحۡأَ نۡمَ يدِهۡتَ اَل كَنَّإِﵟ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya (QS. Al-Qasas: 56)

Jika memberi hidayah hanya berarti menunjukkan jalan, maka Allah tidak seharusnya mengingkari kemampuan Rasul dalam memberikan petunjuk, karena Nabi Muhammad menunjukkan jalan petunjuk pada semuanya: baik yang mengikutinya maupun yang mengingkarinya. Jika hidayah dari Allah hanya menunjukkan jalan yang benar -yang semua orang tentu mendapatkannya- maka, tentu saja pembatasannya dengan kehendak Allah menjadi tidak masuk akal.


image

Semua mengikuti kehendakNya, yang berkisar antara karunia dan keadilanNya

Allah () telah berfirman tentang makhluk-Nya:

ﵞ ٢ .... نۚ مِؤۡمُّ مكُنمِوَ ر فِاكَ مۡكُنمِفَ مۡكُقَلَخَ يذِلَّٱ وَهُﵟ

Dialah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. (QS. At-Taghabun: 2)

Dengan demikian, siapapun yang Allah beri petunjuk, Dia melakukannya dengan rahmat-Nya, segala puji bagi-Nya dan siapapun yang Allah sesatkan, maka itu dengan keadilan-Nya, segala puji bagi-Nya. Kami akan menjelaskannya lebih mendetail nanti. Penulis (Ath- Thahawi) tidak menempatkan semua materi terkait dengan Ketetapan Takdir pada satu tempat. Melainkan menyebarkannya, dan kami akan mengikuti cara pemaparan beliau.


image

Dia Mahatinggi dari lawan-lawan dan tandingan-tandingan

Allah tidak memiliki tandingan dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Dia () berfirman:

ﵞ ٤ دَُۢحَأَ اوًفُكُ ۥهُلَّ نكُيَ مۡلَوَﵟ

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (QS. Al-Ikhlas: 4)


image

Tidak ada yang dapat menentang ketentuan-Nya, tidak ada yang dapat menolak hukumNya, dan tidak ada yang dapat mengalahkan perintahNya

Penjelasannya: tidak ada seorang pun yang dapat menolak ketetapan takdir-Nya, tak satu pun yang dapat mempercepat atau menunda keputusan-Nya, dan tidak ada satupun yang bisa mendapat perintah yang lebih baik. Melainkan, Dia adalah Tuhan yang Esa, Yang Berkuasa atas segala sesuatu.


image

Kami beriman dengan semua itu, dan kami yakin bahwasanya semua itu adalah dari sisi-Nya

FASAL: IMAN KEPADA NABI MUHAMMAD

Dari sini, penulis membawakan topik baru berkata:


image

Dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba-Nya yang pilihan, Nabi-Nya yang terpilih dan rasulNya yang diridhai

Istilah “diangkat”, “dipilih” dan “diridhoi” berdekatan dari segi makna. Ketahuilah, bahwa kesempurnaan makhluk adalah dalam mewujudkan penghambaannya kepada Allah. Semakin tinggi derajat penghambaannya, semakin bertambah kesempurnaannya dan semakin tinggi derajatnya. Barangsiapa menyangka bahwa makhluk bisa keluar dari penghambaan, dengan bentuk kemerdekaan apapun dan menyangka bahwa memerdekakan diri keluar dari penghambaan adalah lebih sempurna, maka dia adalah orang paling bodoh dan sesat. Allah

() berfirman:

﴾ انومُراكْمُّ دٌاابعِ لْاب هُانااحبْسُ ادًالوا نُاْحْرَّلا ذااَّتَّا اولُااقوا ﴿

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak.” Mahasuci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. (QS. Al-Anbiya: 26)

Allah ketika menyebut nabi-Nya Muhammad, menyebutkan sebagai hamba dan ini terjadi pada semua tempat yang dengan penyebutan tersebut Allah ingin memuliakannya. Dia berfirman:

هِدِبْعابِ ىراسْاأ يذِلَّا انااحبْسُ

Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam (QS. Al-Isra: 1)

Adapun yang masyhur dari kalangan ahlul kalam dan filsuf, mereka meyakini bahwa para nabi dan para rasul mendapat kedudukan mereka dengan mukjizat yang mereka miliki.

Tidak diragukan lagi, mu’jizat adalah bukti yang sangat kuat untuk menunjukkan status seseorang sebagai nabi dan rasul. Namun, bukti tidak hanya terbatas pada mu’jizat. Karena orang paling jujur demikian pula pendusta paling hebat sekalipun mengaku sebagai nabi. Namun, selama akal masih mampu membedakan, maka tidak akan menimbulkan keraguan sedikit pun tentang masalah ini. Melainkan semua hal yang ada di sekitarnya menyatakan kebenaran itu sendiri. Kita tahu bahwa ada beberapa cara yang digunakan untuk membedakan orang yang benar dan jujur serta orang yang berdusta bahkan dalam urusan yang sederhana sekalipun. Lalu, bagaimana dengan pengakuan kenabian itu sendiri?. Hassan bin Tsabit berkata:

Bahkan jika tanda-tanda yang nyata tidak dibawanya

Bukti-bukti akan sampai pada kalian melalui riwayat

Nabi palsu tidak pernah muncul kecuali dengan kebodohan, kebohongan, jalannya yang rusak dan penguasaan setan atas dirinya. Ini tampak sangat nyata bagi orang-orang yang dianugerahi akal sehat sehingga tidak kesulitan menemukan kepalsuannya. Karena tidak ada jalan lain bagi seorang Nabi kecuali memerintahkan beberapa hal dan melarang beberapa lainnya. Oleh sebab itu, menjadi suatu kewajaran jika dia melakukan semua hal yang mencerminkan kejujurannya.

Adapun pendusta, apa yang ia uraikan, aturan yang ia tetapkan, dan perbuatan yang ia lakukan semuanya mengandung hal-hal yang menyingkap kebohongannya dengan cara yang berbeda. Yang satu bertolak belakang dengan yang lain. Karena setiap ada dua orang yang mengklaim hal yang sama, yang satu akan jujur dan yang lain adalah pembohong. Tidak dapat dielakkan bahwa kebenaran yang satu dan kepalsuan yang lain akan menjadi jelas bagi orang-orang, meskipun setelah berlalu beberapa waktu. Kebenaran akan menuntun kepada kebaikan dan kebatilan akan menuntun kepada kejahatan. Nabi (ﷺ) bersabda dalam riwayat yang tercatat dalam Shahih Bukhari dan Muslim:

قُدُصْاي لُجُرَّلا لُازا اي اماوا ،ةِنَّاْلْا َلاإِ يدِهْ اي بَِّلْا ]نَّإِوا[ ، ِبِلْا َلاإِ يدِهْ اي قا دْص ِ لا نَّإِاف ،قِدْص ِ لِبِ مْكُيْالعا «

،رِوجُفُلْا َلاإِ يدِهْ اي ابذِاكلْا نَّإِاف ابذِاكلْاوا مْكَُيَّإِوا ،اقًيدِ صِ ِّللَّا دا نْعِ ابتاكْيُ َّتَّاح ، ]قا دْص ِ لا ىرَّاحات ايوا[

»ِبًاذَّاك ِّللَّا دنْعِ اباتكْيُ َّتَّاح ، ابذِاكلْا ىرَّاحات ايوا بُذِكْاي لُجُرَّلا لُازا اي اماوا ،رِانَّلا َلاإِ يدِهْ اي راوجُفُلْا نَّإِوا

“Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).”42

Ketika mengetahui bahwa hal sederhana seperti kejujuran seseorang atau kedustaan seseorang terlihat dari perilakunya, lalu bagaimana seorang nabi palsu dapat menghindar? Tak seorang pun akan gagal dalam membedakan nabi yang sebenarnya dari nabi palsu.

Kita tahu bahwa Khadijah mengetahui kejujuran dan kebenaran Nabi melalui pengalaman pribadinya. Sehingga, ketika wahyu diturunkan untuk pertama kalinya, dan nabi mengungkapkan keraguannya: “Aku takut nyawaku terancam,” Khadijah menjawab, “Tidak akan pernah, Allah tidak akan pernah membiarkanmu terpuruk. Karena engkau menyambung tali silaturahmi, berbicara jujur, membantu orang yang lemah, memuliakan tamu, bekerja untuk kaum fakir miskin, dan memberikan bantuan tanpa pamrih.”

Najasyi meminta dibacakan wahyu yang telah diturunkan kepada nabi. Ketika dia mendengar bagian dari wahyu, dia berkata: “Demi Tuhan, wahyu ini dan wahyu yang dibawa Musa berasal dari cahaya yang sama.”

Waraqah bin Naufal mengatakan yang serupa ketika dia mendengar apa yang telah


image

42 Diriwayatkan oleh Muslim (2607) dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (386)

dialami Nabi (ﷺ). Waraqah bukan orang biasa. Dia sudah menjadi pengikut Nasrani dan cukup berilmu untuk dapat menulis Injil dalam bahasa Arab. Ketika Khadijah menceritakan wahyu yang telah diterima nabi, Waraqah berkata: “Ini risalah yang sama dengan yang diterima Musa.”

Terlebih lagi Allah (ﷻ) mengabadikan beberapa tanda bagaimana Dia menolong para rasul-Nya dan bagaimana Dia menghancurkan kaum-kaum terdahulu yang mendustakan mereka, misalnya tanda-tanda banjir, tenggelamnya Fir’aun dan pasukannya, dan sebagainya.

Saat Allah () mengisahkan tentang nabi-nabi dalam surah Asy-Syu’ara, seperti kisah Nabi

Musa, Ibrahim, Nuh dan yang lainnya. Allah menyertakan kata-kata berikut ini dalam setiap kisah mereka:

ﵞ ٩ مُيحِرَّلٱ زُيزِعَلۡٱ وَهُلَ كَبَّرَ نَِّإوَ ٨ نَينِمِؤۡمُّ مهُرُثَكۡأَ نَاكَ امَوَۖ ةٗيَٓأَل كَلِذَٰ ىِف نَّإِﵟ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesugguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (QS. Asy-Syu’ara: 8-9)

Kita pun di zaman ini mengetahui semua itu dari hadits yang terpercaya mengenai rincian kehidupan nabi-nabi terdahulu, tentang orang-orang shalih, serta tentang musuh- musuh mereka, untuk meyakinkan kebenaran para nabi. Hal ini bisa diketahui dengan lebih dari satu cara:

  1. Pertama: Mereka telah memperingatkan kaum mereka akan hukuman pedih yang akan ditimpakan kepada mereka jika mereka tetap membangkang.

  2. Kedua: Pertolongan Allah atas nabi-Nya dan azab yang turun kepada musuh nabi- Nya. Jika ia mengetahui kedua hal tersebut -seperti ditenggelamkannya Fir’aun dan pasukannya, serta ditenggelamkan kaum nabi Nuh- maka dia tahu kebenaran para Nabi dan Rasul.

  3. Ketiga: Siapapun yang mempelajari perjuangan dan kehidupan para nabi akan merasa yakin bahwa mereka memiliki akhlak yang sangat mulia sehingga pertanyaan apakah mereka berbicara dusta tidak patut dipertanyakan.

Berikut penjelasan argumen di atas. Andaikan Muhammad bukanlah seorang nabi, sebagaimana yang mereka katakan, tetapi hanya seorang penguasa yang zalim yang mengaku diutus oleh Allah, memerintahkan beberapa hal dan melarang yang lain, menetapkan aturan dan hukum baru serta membatalkan hukum yang lama, memerangi manusia dan membunuh para pengikut nabi terdahulu meskipun mereka tidak salah, memperbudak wanita mereka, merampas harta benda mereka, mencaplok tanah mereka, dan terus melakukan semua ini hingga ia menguasai negeri itu. Bersamaan dengan itu, ia mengaku bahwa ia bertindak atas perintah Allah dan bahwa Allah memberkatinya serta meridhoinya. Andaikan lebih jauh lagi bahwa ia terus melakukan kebohongan seperti itu selama dua puluh tiga tahun hingga Allah memberinya kemenangan, menolongnya dengan keajabain, mengabulkan doanya, menghancurkan musuh-musuhnya, dan memberinya ketenaran.

Jika ia melakukan semua hal ini karena kejahatan, sebagaimana yang mereka klaim, maka ia pastilah manusia yang paling jahat dan pembohong terbesar yang pernah ada. Di sisi

lain, Allah senantiasa menolongnya dan menganugerahkan kepadanya keberhasilan demi keberhasilan dan tidak pernah berpikir sedetik pun untuk menghentikan atau menghancurkannya. Jika (ada orang) yang meyakini hal itu, maka mereka juga harus meyakini bahwa tidak ada Pencipta, Penguasa, atau Tuhan di dunia ini, karena jika ada Penguasa dunia yang kuat dan bijaksana, Dia pasti akan menghentikannya, menghukumnya dengan keras, dan menjadikannya pelajaran bagi orang-orang setelahnya. Jika pengakuan itu tidak pantas bagi setiap pemimpin manusia, apalagi Penguasa Alam Semesta?

Kami tidak menyangkal bahwa sekarang banyak sekali pendusta yang berhasil dan memperoleh kemenangan. Namun, hal pertama yang harus diingat adalah mereka tidak sepenuhnya menang dan apa yang mereka coba ciptakan tidak bertahan lama. Seiring waktu Allah mengutus para Rasul dan pengikutnya untuk menghancurkan apa yang telah mereka tegakkan. Ini sudah menjadi Sunnatullah bagi kaum di masa lalu. Sesunguhnya, bahkan orang

kafir sekalipun sudah mengetahui hal itu, sebagaimana firman Allah ():

ﵞ١٣ نَيصِبِ رَتَمُلۡٱ نَمِ مكُعَمَ ى نِإِفَ اْوصُبَّرَتَ لۡقُ ٠٣ نِونُمَلۡٱ بَيۡرَ ۦهِبِ صُبَّرَتَنَّ ر عِاشَ نَولُوقُيَ مۡأَﵟ

Bahkan mereka berkata, “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.” Katakanlah (Muhammad), “Tungguhlah! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang sedang menunggu bersamamu. (QS. At-Tur: 30-31)43


image

Sesungguhnya beliau penutup para nabi

Dan ini berdasarkan firman Allah():

ّيا ِيبِنَّلا اَتاااخوا ِّللَّا لاوسُرَّ نكِلاوا

Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. (QS. Al-Ahzab: 40) Nabi (ﷺ) telah bersabda:

نْمِ انوبُجَّعا ات اي رُاظَّنُّلا هِبِ افااطاف ،ةٍانبِال عُضِوْما هُنْمِ كارِتُوا ،هُؤُاانبِ انسِحْأُ رٍصْقا لِثاما اك ءِاايبِنْاْلْا لُثاماوا يلِاثما«

ّبا ِ امتِخُ ةِانبِلَّلا اكلْتِ اعضِوْما تُدْدا اس َنااأ تُنْكُاف ،اها اواسِ انوبُيعِاي َلا ،ةِانبِلَّلا اكلْتِ اعضِوْما َلَّإِ ،هِئِاانبِ نِسْحُ

»لُسُرُّلا ّبا ِ امتِخُوا نُااي نْ بُلْا

Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan para nabi sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, dia membangunnya dengan baik dan indah, tetapi dia meninggalkan tempat sebuah bata di salah satu sudut, orang-orang mengelilingi rumah itu, mereka takjub kepada keindahannya, dan mereka berkata, ‘Mengapa


image

43 Yaitu, bahkan kaum musyrikin pun yakin bahwa jika nabi adalah seorang yang palsu dia akan dimusnahkan oleh Allah, sehingga yang bisa mereka lakukan adalah menunggu keputusan ilahi.

bata ini tidak dipasang?’ Akulah bata tersebut, aku adalah nabi penutup para nabi.” (Bukhari).44

Nabi (ﷺ) pun bersabda:

رُاشُْيُ يذِلَّا ،رُشِااْلْا َنااأوا ،رافْكُلْا ّبا ِ ُّللَّا وحَُْيا ،يحِاما لْا َنااأوا ،دُاْحْاأ َنااأوا ،دٌمَّاُمُ َنااأ :ءًااْسْاأ ِلِ نَّإِ«

»،ٌِّبِان هُدا عْ اب اسيْال يذِلَّا بُقِاعالْاوا ، بُقِاعالْا َنااأوا ،يَّمادااق ىلاعا سُانَّلا

“Sesungguhnya aku memiliki nama-nama; Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah al-Mahi yang dengannya Allah menghapuskan kekufuran, aku adalah Al-Hasyir yang manusia dibangkitkan mengikuti (langkah) kedua kakiku; dan aku adalah Al-Aqib dan al- Aqib adalah nabi yang sesudahnya tidak ada nabi.” (Bukhari)45


image

Imam orang-orang bertakwa

Imam dalam arti sosok yang harus diikuti. Nabi (ﷺ) diutus agar diteladani. Allah () berfirman:

ﵞ ١٣ .... مُكُبۡبِۡحيُ ىِنوعُبِتَّٱفَ ّلِلََّٱ نَوبُِّحتُ مۡتُنكُ نإِ لۡقُﵟ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencitaimu.” (QS. Al-Imran: 31)

Sehingga siapapun yang mengikuti dan meneladani nabi, maka dia termasuk orang- orang yang bertakwa.


image

Penghulu para rasul

Nabi (ﷺ) bersabda:

»عٍفَّاشمُ لُوَّاأوا ،عٍفِااش لُوَّاأوا ،بُْقالْا هُنْعا قُّاشنْ اي نْما لُوَّاأوا ،ةِمااايقِلْا اموْ اي امادآ دِالوا دُ ِياس َنااأ«

“Aku adalah sayyid (penghulu) anak cucu Nabi Adam pada hari kiamat, orang pertama yang dibuka kuburannya, pemberi syafaat pertama dan orang pertama yang syafaatnya diterima.” (Muslim)46


image

44 Diriwayatkan yang semisal oleh Bukhari (3534) dan Muslim (2276). Hadits dengan riwayat ini diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq sebagaiman dijelaskan oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami Al-Kabir (2/203).

45 Diriwayatkan oleh Bukhari (3533) dan Muslim (2354)

46 Diriwayatkan oleh Muslim (2278)

Jika riwayat di atas dianggap berlawanan dengan riwayat Sahihain:

“Janganlah kalian mengunggulkanku atas Musa, sesungguhnya manusia akan dibuat pingsan pada hari kiamat, aku adalah orang pertama yang sadarkan diri, ternyata aku melihat Musa memegang kaki Arsy, aku tidak tahu apakah Musa sudah bangkit sebelumku atau dia termasuk yang Allah kecualikan.”47

Ada alasan mengapa nabi berkata seperti itu tentang Nabi Musa. Ini karena seorang Yahudi berkata: “tidak, demi Allah yang memilih Musa atas seluruh manusia.” Maka seorang muslim menamparnya, dia berkata: “Berani kamu berkata demikian padahal Rasulullah ada di tengah-tengah kami?” Yahudi itu mendatangi Nabi (ﷺ) dan mengadukan hal itu, maka nabi bersabda seperti di atas. Rasio di balik persoalan ini adalah ketika seseorang dinyatakan lebih unggul atas dasar fanatisme, ta’ashshub dan hawa nafsu, maka ia tercela. Bahkan jihad

dikecam jika dilakukan atas dasar prasangka dan patronase. Allah () berfirman:

ﵞ٣٥٢ .... تجَٰرَدَ مۡهُضَعۡبَ عَفَرَوَ ّۖلِلَُّٱ مَلَّكَ نمَّ مهُنۡمِ ضٖٖۘعۡبَ ىَٰلعَ مۡهُضَعۡبَ انَلۡضَّفَ لُسُرُّلٱ كَلۡتِﵟ

Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian dari mereka dari sebagian yang lain. Diantara mereka ada yang diajak bicara oleh Allah dan sebagian lagi ada yang ditinggikan beberapa derajat. (QS. Al-Baqarah: 253)

Dari sini diketahui, bahwa yang tercela adalah pengunggulan dalam konteks menyombongan diri, atau bertujuan untuk meremehkan yang lainnya.

Adapun riwayat yang dikisahkan dari Nabi yang menyatakan: “Jangan mengunggulkanku atas Yunus.” Penting untuk dicatat bahwa hadits ini tidak diriwayatkan dalam kitab hadits-hadits primer manapun. Namun terdapat hadits lain yang dicatat dalam Kitab Hadits shahih, dengan perkataan: “Seorang hamba tidak patut berkata, ‘aku lebih baik daripada Yunus bin Matta’.” Hadits lainnya menyatakan: “Barangsiapa yang berkata, ‘aku lebih baik daripada Yunus bin Matta’ maka dia dusta.”

Riwayat di atas memerintahkan umat Islam agar tidak menganggap diri mereka lebih unggul daripada Yunus bin Matta tetapi mereka tidak dilarang untuk mengatakan bahwa nabi

Muhammad lebih unggul dari nabi Yunus. Alasannya karena Allah () berfirman mengenai

nabi Yunus yang telah ditelan seekor Paus, dan beliau melakukan kesalahan. Setelah itu Allah () berfirman:

تَنأَ آَّلإِ هَلَٰإِ آَّل نأَ تِمَٰلُظُّلٱ ىِف ىٰدَانَفَ هِيۡلَعَ رَدِقۡنَّ نلَّ نأَ نَّظَفَ ابٗضِغَٰمُ بَهَذَّ ذإِ نِونُّلٱ اذَوَ ٦٨ﵟ ﵞ ٧٨ نَيمِلِظَّٰلٱ نَمِ تُنكُ ى نِإِ كَنَحَٰبۡسُ

Dan (ingatlah kisah) Zun-Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau Sungguh Aku termasuk orang- orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya: 87)


image

47 Diriwayatkan oleh Bukhari (2411) dan Muslim (2373)

(Karena ayat di atas), mungkin sebagian orang merasa mereka lebih unggul dari nabi Yunus sehingga mereka tidak merasa perlu memohon ampun dan mengakui dosa-dosa mereka di hadapan Allah, dan mengagungkan nama-Nya. Siapapun yang berpikir demikian, maka dia telah berdusta. Karena setiap hamba Allah harus mengucapkan apa yang dikatakan

Nabi Yunus.

ﵞ ٧٨ نَيمِلِظَّٰلٱ نَمِ تُنكُ ى نِإِ كَنَحَٰبۡسُ تَنأَ آَّلإِ هَلَٰإِ آَّل

Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sungguh Aku termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya: 87)

Hal ini pun dikatakan oleh nabi lain, Yang pertama adalah nabi Adam, beliau berkata:

ﵞ٣٢ نَيرِسِخَٰلۡٱ نَمِ نَّنَوكُنَلَ انَمۡحَرۡتَوَ انَلَ رۡفِغۡتَ مۡلَّ نِإوَ انَسَفُنأَ آنَمۡلَظَ انَبَّرَ اَلاقَﵟ

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-A’raf: 23).

Demikian pula dengan Nabi terakhir kita berkata demikian, seperti yang diriwayatkan dalam hadits yang shahih:

ِلِ رْفِغْااف ،ِبِنْذا بِ تْافاَتاعْاوا ،يسِفْا ن تُمْلااظ ،كا دُبْعا َنااأوا ّب رِا اتنْاأ ، اتنْاأ َلَّإِ اهالإِ َلا كُلِما لْا اتنْاأ مَّهُلَّلا«

» اتنْاأ َلَّإِ ابونُذُّلا رُفِغْ اي َلا ،اعًيَجِا ّبِونُذُ

“Ya Allah Engkaulah Raja yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engakau, Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu, aku telah mendzalimi diri sendiri, aku mengakui dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku semuanya, karena tidak ada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau.” 48

Dalam riwayat Shahih Muslim, Nabi(ﷺ) bersabda kepada para sahabatnya:

»دٍاحاأ ىالعا دٌاحاأ ايغِبْ اي َلاوا ،دٍاحاأ ىلاعا دٌاحاأ رااخفْا ي َلا َّتَّاح ،اوعُاضاوا ات نْاأ َِّلاإِ ايحِوأُ«

“Telah diwahyukan padaku agar kalian saling bertawadhu’, sehingga seseorang tidak membanggakan atas diri orang lain, dan seseorang tidak berlaku aniaya atas orang lain.” 49

Allah () melarang seorang Muslim menyombongkan diri di depan Muslim lainnya, lalu bagaimana bila di depan seorang nabi yang mulia?

Nabi (ﷺ) telah memberitahu kita bahwa beliau adalah keturunan Adam yang terbaik. Seandainya beliau tidak menyampaikannya kepada kita, maka kita tidak akan mengetahuinya, karena tidak ada lagi nabi setelah beliau yang akan memberitahukannya kepada kita. Demikian pula beliau memberitahukan pada kita tentang kemuliaan nabi sebelum beliau ‘alaihimus salam. Masih dalam riwayat yang sama, ketika beliau menyatakan sebagai yang


image

48 Diriwayatkan oleh Muslim (771)

49 Diriwayatkan oleh Muslim (2865)

terbaik di antara para nabi, beliau menambahkan, “tanpa membanggakan.”

Bisakah seseorang menyatakan bahwa orang yang telah dibawa ke surga di perjalanan Mi’raj, dan yang dekat dengan Allah menduduki derajat yang sama dengan yang ditelan seekor Paus dan yang disebut “menzalimi diri sendiri?”


image

Dan (beliau adalah) kekasih Tuhan semesta alam

Kedudukan cinta tertinggi telah terbukti bagi nabi kita . Kedudukan yang tertinggi itu dikenal dengan sebutan “khullah” (kekasih). Keterangan ini didukung oleh riwayat yang menyatakan,

الًيلِاخ اميهِارا بْإِ ذااَّتَّا اما اك الًيلِاخ ِنِذااَّتَّا اّللَّا نَّإِ

“Sesungguhnya Allah mengangkatku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Dia mengangkat Ibrahim sebagai kekasih-Nya.”

Beliau pun bersabda:

»نِاْحْرَّلا لُيلِاخ مْكُابحِااص نَّكِالوا ،الًيلِاخ رٍكْاب ِبااأ تُذْاَّتََّلا الًيلِاخ ضِرْاْلْا لِهْاأ نْمِ اذًخِتَّمُ تُنْكُ وْالوا

“Seandainya aku mengangkat seorang “khalil” dari penduduk bumi, niscaya aku mengangkat Abu Bakar bin Abu Qufahah, akan tetapi nabi kalian ini adalah khalil ar- Rahman.” 50

Kedua riwayat shahih di atas membatalkan bahwa Ibrahim adalah kekasih-Nya sedangkan mahabbah (kecintaan) adalah milik Muhammad. Mereka harus tahu bahwa Allah telah menyatakan kecintaannya pada yang selain para nabi dalam ayat berikut.

ُ

انيْرِه ِاطاتلا بُُّيُِوا ّيا ْبِاوَّ تَّلا بُُّيُِ اللا نَّإِ

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertaubat dan orang yang menyucikan diri (QS. Al-Baqarah: 22)

Adapun hadits: “Ibrahim adalah khalilullah, dan aku adalah kecintaan-Nya dan tidak ada kesombongan di dalamnya,” yang diriwayatkan oleh Tirmizi, sebenarnya riwayat ini lemah karena salah satu perawinya Zam’ah bin Saleh.


image

Setiap klaim kenabian setelah beliau adalah kesesatan dan hawa nafsu semata.


image

50 Diriwayatkan oleh Muslim (532 dan 2383)

Karena beliau adalah nabi terakhir. Maka siapapun yang mengaku sebagai nabi sepeninggal beliau adalah penipu.

Tidak boleh dikatakan, “Bagaimana bisa kita menolak seseorang yang datang dengan membawa mukjizat dan tanda-tanda nabi yang lainnya?” Jawabannya adalah tidak akan ada satu pun semacam itu yang terjadi. Memikirkan hal itu terjadi sama dengan memikirkan kemustahilan menjadi mungkin terjadi. Ketika Allah mengutus beliau sebagai nabi terakhir, mustahil untuk berpikir bahwa seseorang yang mengaku sebagai nabi dan Allah tidak mengungkap kebohongannya.


image

Beliau adalah utusan kepada semua bangsa jin dan segenap manusia dengan membawa kebenaran dan hidayah, juga dengan membawa cahaya dan sinar terang.

Adapun dalil diutusnya nabi untuk bangsa jin, hal tersebut ditetapkan dalam ayat Al-Qur’an berikut ini:

١٣ مٖيلِأَ بٍاذَعَ نۡمِ مكُرۡجِيُوَ مۡكُبِونُذُ نمِ مكُلَ رۡفِغۡيَ ۦهِبِ اْونُمِاءَوَ ِّلِلَّٱ يَعِادَ اْوبُيجِأَ آنَمَوۡقَيَٰ ﵟ

Wahai kaum kami! Terimalah (seruan) orang (Muhammad) yang menyeru kepada Allah. Dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosamu, dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. (QS. Al-Ahqaf: 31)

Yang diseru dalam ayat di atas dan mereka yang berkata: “Kaum kami” adalah kaum Jin yang telah Allah beri petunjuk untuk menuju ke arah nabi , sehingga mereka bisa mendengar Al-Qur’an. Mereka kembali dan memperingatkan kaum mereka. Surah Jin pun menjabarkan tentang hal ini. Sama halnya dengan Nabi Musa yang juga diutus pada kaum jin

dan manusia. Hal ini didukung firman Allah ():

ىَٰلِإوَ قِ حَلۡٱ ىَلإِ يٓدِهۡيَ هِيۡدَيَ نَيۡبَ امَِ ل اقٗدِ صَمُ يٰسَومُ دِعۡبَ نَۢمِ لَزِنأُ ابًتَٰكِ انَعۡمِسَ انَّإِ آنَمَوۡقَيَٰ اْولُاقَ ﵟ ﵞ ٠٣ مٖيقِتَسۡمُّ قٖيرِطَ

Mereka berkata, “Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing pada kebenaran, dan kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Ahqaf: 30)

Adapun pernyataan bahwa Rasulullah (ﷺ) diutus ke seluruh umat manusia, hal tersebut terdapat dalam firman Allah () berikut ini:

ﵞ٨٢ .... رٗيذِنَوَ ارٗيشِبَ سِانَّلِ ل ةٗفَّآكَ اَّلإِ كَنَٰلۡسَرۡأَ آمَوَﵟ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pembawa peringatan (QS. Saba: 28)

Allah () pun berfirman:

ﵞ ٨٥١ .... اعًيمِجَ مۡكُيۡلَإِ ِّلِلَّٱ لُوسُرَ ى نِإِ سُانَّلٱ اهَيُّأَيَٰٓ َ لۡقُﵟ

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kalian semua.”(QS. Al-A’raf: 158)

Nabi (ﷺ) telah bersabda:

ضُرْاْلْا ِلا ِ تْلاعِجُوا ،رٍهْاش اةاْيسِما بِعْرُّلِبِ تُرْ صِنُ :يلِبْ اق ءِاايبِنْاْلْا انمِ دٌاحاأ نَّهُاطعْ ُي اَْل اسًَْخا تُيطِعْأُ«

،يلِبْ اق دٍاحاْلِ لَّاُتُ اَْلوا ،مُئِااناغلْا ِلا ِ تْلَّحِأُوا ، لِاصيُلْ اف ةُالاصَّلا هُتْاكرادْاأ ِتِمَّأُ نْمِ لٍجُرا ااَيُّأااف ،ارًوهُاطوا ادًجِسْما

»ةًمَّاعا سِانَّلا َلاإِ تُثْعِبُوا ةًصَّااخ هِمِوْ اق َلاإِ ثُعا بُْ ي ِبُِّنَّلا انااكوا ،اةعا افاشَّلا تُيطِعْأُوا

“Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku, yaitu aku dimenangkan oleh rasa takut (yang menimpa musuh) dalam jarak perjalanan satu bulan, bumi dijadikan bagiku sebagai masjid dan alat bersuci, maka laki-laki manapun dari umatku yang mendapatkan (waktu) shalat maka hendaknya dia shalat, harta rampasan perang dihalalkan bagiku dan tidak pernah dihalalkan bagi siapa pun sebelumku, aku diberi syafaat, dan seorang nabi diutus kepada kaumnya secara khusus, sementara aku diutus kepada seluruh manusia.” (Bukhari dan Muslim).51

Beliau pun bersabda:

»راانَّلا الاخاد َلَّإِ ّبِ نُمِؤُْ ي َلا ثَُّ ٌِّنِاراصْان َلاوا يٌّدِوهُ اي ةِمَُّْلْا هِذِها نْمِ لٌجُرا ّبِ عُما سْاي َلا«

“Tiada seorang pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka.” (Muslim).52

Adapun klaim umat Nasrani bahwa beliau adalah nabi yang diutus hanya untuk bangsa Arab, maka klaim itu tidak berdasar. Karena Rasulullah (ﷺ) sendiri telah menyatakan bahwa dirinya diutus kepada seluruh umat manusia dan seorang nabi tidaklah berdusta. Beliau mengirimkan surat-surat kepada raja Romawi, Persia, dan penguasa negara lain seperti Mesir.


image

51 Diriwayatkan oleh Bukhari (335) dan Muslim (521)

52 Diriwayatkan oleh Muslim (153)

image

FASAL: AL-QURAN ADALAH KALAMULLAH

Al-Qur’an adalah Kalamullah, bermula dariNya tanpa menetapkan kaifiyahnya bagaimana Dia berfirman dan Dia menurunkannya kepada rasul-Nya sebagai wahyu. Orang-orang mukmin membenarkan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah secara haq, dan bukan makhluk, sebagaimana perkataan makhluk. Barangsiapa yang mendengarnya lalu menganggap bahwa Al-Qur’an adalah kata-kata manusia maka dia telah kafir. Allah telah mencela, mengecam, dan mengancam orang yang demikian dengan neraka saqar. Dia berfirman: “Aku akan memasukkan dia ke (neraka) saqar.”(Al-Muddatsir:26). Ketika Allah mengancam dengan neraka saqar bagi orang yang berkata: “Ini (Al-Qur’an) tidak lain hanyalah perkataan manusia,” (Al-Muddatsir:25), maka kita menjadi tahu dan meyakini bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Sang Pencipta manusia dan tidak menyerupai perkataan manusia.

Ini adalah kaidah yang mulia, salah satu prinsip dasar agama Islam, yang mana banyak sekte tersesat di dalamnya. Meskipun demikian, ini adalah kebenaran, yang bisa disimpulkan oleh siapapun yang merenungkan persoalan tersebut, dengan dalil-dalil dari Al- Qur’an dan Sunnah di pikiran mereka, dengan menerapkan logika dan pemikiran yang lurus yang tidak dipengaruhi syubhat, keraguan, dan pemikiran rusak.

Adapun perkataan penulis:

“Al-Qur’an adalah Kalamullah, bermula dari-Nya tanpa menetapkan kaifiyatnya bagaimana Dia berfirman dan Dia menurunkannya kepada rasul-Nya sebagai wahyu”

adalah untuk membantah Muktazilah dan sekte lainnya yang mengklaim bahwa Al-Qur’an tidak berasal dari Allah. Mereka berkata penisbatan kalam kepada Allah hanyalah idhafah tasyrif (penghormatan) seperti halnya rumah Allah (batitullah), unta Allah, dan sebagainya.

Namun, pendapat mereka salah karena penisbatan kepada Allah terdiri dari dua jenis: yang bersifat nonmateri (berkaitan dengan konsep dan pemikiran) dan yang bersifat materi. Tidak diragukan lagi penisbatan yang berbentuk materi kepada-Nya merupakan bentuk penghormatan pada benda-benda itu, karena benda-benda itu diciptakan, seperti “Rumah Allah (Baitullah)” Namun, penisbatan yang tidak berbentuk materi adalah suatu hal yang sepenuhnya berbeda. Contohnya Ilmu Allah, Kekuasaan Allah, Kalamullah, dll. Inilah sifat- sifat Allah. Sungguh tidak masuk akal jika salah satu diantaranya merupakan makhluk.

Penyifatan dengan sifat berbicara (kalam) merupakan tanda kesempurnaan. Hilangnya sifat ini adalah tanda ketidaksempurnaan. Allah () berfirman:

اَلوَ مۡهُمُِ لكَيُ اَل ۥهُنَّأَ اْوۡرَيَ مۡلَأَ رٌۚاوَخُ ۥهُلَّ ادٗسَجَ الٗجۡعِ مۡهِيِ لِحُ نۡمِ ۦهِدِعۡبَ نَۢمِ يٰسَومُ مُوۡقَ ذََختَّٱوَ ﵟ

ﵞ٨٤١ ... اۘلًيبِسَ مۡهِيدِهۡيَ

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa (ke Gunung Sinai) membuat dari perhiasan- perhiasan (emas) patung anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? (QS. Al-A’raf: 148)

Tentu saja, mereka yang menyembah anak sapi dengan kekafiran mereka lebih mengetahui Allah daripada Muktazilah. Mereka tidak mencela Musa dengan melayangkan bantahan: “Tuhanmu juga tidak berbicara?”

Allah () pun berfirman:


ﵞ ٩٨ اعٗفۡنَ اَلوَ ارٗ ضَ مۡهُلَ كُلِمۡيَ اَلوَ اٗلوۡقَ مۡهِيۡلَإِ عُجِرۡيَ اَّلأَ نَوۡرَيَ الَفَأَ ﵟ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat pula memberi kemadaratan kepada mereka dan tidak pula memberi kemanfaatan.?” (QS. Thaha: 89)

Dari ayat diatas diketahui bahwa ketidakmampuan patung lembu untuk menjawab dan berbicara adalah bukti yang membatalkan klaim ketuhanannya.

Muktazilah berkata adalah bahwa jika Allah berbicara maka ini mengarah pada Taysbih dan Tajsim. Kita katakan kepada mereka: jika kita menetapkan bahwa Allah berbicara sesuai dengan keagugannya-Nya, maka klaim tadi terbantahkan. Tidakkah kalian membaca firman Allah berikut ini?

ﵞ٥٦ نَوبُسِكۡيَ اْونُاكَ امَبِ مهُلُجُرۡأَ دُهَشَۡتوَ مۡهِيدِيۡأَ آنَمُِ لكَتُوَ مۡهِهِوَٰفۡأَ ىَٰٓ َ لعَ مُتِۡخنَ مَوۡيَلۡٱ ﵟ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Yasin: 65)

Kita percaya bahwa anggota badan kita akan berbicara, meskipun kita tidak tahu pasti

bagaimana hal itu akan terjadi. 53

ﵞ ١٢ .... انَقَطَنأَ اْوٓلُاقَ اۖنَيۡلَعَ مۡتُّدهِشَ مَلِ مۡهِدِولُجُلِ اْولُاقَوَﵟ

Dan mereka berkata kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan kami berbicara.” (QS. Fussilat: 21)

Penulis pun menunjukkan hal ini dengan ungkapannya:

“Al-Qur’an adalah Kalamullah, bermula dari-Nya tanpa menetapkan kaifiyatnya bagaimana Dia berfirman dan Dia menurunkannya kepada rasul-Nya sebagai wahyu”

Yaitu mengatakan Al-Qur’an berasal dari Allah, namun kita tidak bisa menguraikan bagaimana kalam tersebut terjadi. Beliau menekankan perkataannya dengan menggunakan kata “Kalam,” yang seharusnya tidak meninggalkan keraguan bahwa Kalamullah merupakan suatu hal yang nyata (hakiki) dan bukan kiasan (majas). Dengan cara yang sama pula Allah menekankan kalam-Nya kepada Musa dengan berfirman:

ﵞ٤٦١ امٗيلِكۡتَ يٰسَومُ ّلِلَُّٱ مَلَّكَوَﵟ

Dan Allah berbicara langsung kepada Musa (QS. An-Nisa: 164) Apa yang tersisa setelah kebenaran selain kesesatan?

Telah diriwayatkan bahwa salah satu pengikut sekte Muktazilah meminta Amr bin ‘Ala, salah satu ahli Qira’at yang tujuh untuk membacakan ayat tersebut dengan qiraah:

ﵞ٤٦١ امٗيلِكۡتَ يٰسَومُ ّلِلََّٱ مَلَّكَوَﵟ

Dan Musa berbicara pada Allah secara langsung (QS. An-Nisa: 164) [bukan cara baca yang benar, sehingga artinya pun berubah]

Yaitu dengan Allah pada teks tersebut menjadi objek yang akan mengubah maknanya menjadi: “Dan Musa berbicara kepada Allah” dan bukan “Allah berbicara kepada Musa.” Saat dia mendesaknya, Amr menjawab, “Anggaplah aku menuruti kemauanmu membacanya demikian, lalu apa yang akan kamu lakukan terhadap firman Allah:

ﵞ ٣٤١ .... ۥهُمَلَّكَوَ انَتِقَٰيمِلِ يٰسَومُ ءَآجَ امَّلَوَﵟ

Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung kepadanya). (QS. Al-A’raf: 143)

Maka laki-laki Muktazilah tersebut hanya diam.

Berapa kalikah Al-Qur’an dan Sunnah tidak menyatakan bahwa Allah berbicara langsung dengan penghuni Surga dan yang lainnya? Allah () berfirman:


image

53 Begitu juga dengan Allah. Dia berbicara tetapi kita tidak mengetahui bagaimana Dia berbicara (SAS)

ﵞ ٨٥ مٖيحِرَّ بٖ رَّ نمِ اٗلوۡقَ م لَٰسَﵟ

“Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (QS. Yasin: 58)

Dia () pun berfirman:

مُهُمُِ لكَيُ اَلوَ ةِرَخِٓأۡلٱ ىِف مۡهُلَ قَلَٰخَ اَل كَئِلَٰٓ َ وْأُ الًيلِقَ انٗمَثَ مۡهِنِمَٰيۡأَوَ ِّلِلَّٱ دِهۡعَبِ نَورُتَشۡيَ نَيذِلَّٱ نَّإِ ﵟ ﵞ ٧٧ ..... مۡهِيۡلَإِ رُظُنيَ اَلوَ ّلِلَُّٱ

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dan tidak akan melihat kepada mereka (QS. Ali Imran, 77)

Allah menghinakan mereka dengan tidak berbicara kepada mereka, maksudnya adalah tidak berbicara kepada mereka dengan pembicaraan penghormatan karena Dia berfirman di tempat lainnya bahwa Allah akan berbicara kepada mereka saat mereka berada di neraka.

ﵞ٨٠١ نِومُِ لكَتُ اَلوَ اهَيفِ اْو ـُسَخۡٱ لَاقَﵟ

Allah berfirman: “Tinggalah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kalian berbicara dengan Aku.” (QS. Al-Mu’minun: 108)

Jika Allah tidak berkata-kata kepada kaum mu’minun, maka antara orang beriman dan kafir akan menjadi sama saja, dan tidak ada faidahnya Firman Allah bahwa Dia tidak akan berbicara pada orang-orang kafir. Imam Bukhari pun menafsirkan riwayat tersebut dengan cara yang sama. Beliau menyusun satu bab: “Bab tentang berbicaranya Allah dengan para penghuni Surga”, dengan meriwayatkan sejumlah hadits dalam bab tersebut.

Nikmat terbesar bagi penghuni Surga adalah melihat Wajah Allah dan Allah berbincang dengan mereka. Mengingkarinya sama artinya dengan mengingkari nikmat terbesar di Surga.

Adapun argumen Muktazilah dengan firman-Nya:

ﵞ٦١ .... ءٖيۡشَ لِ كُ قُلِخَٰ ّلِلَُّٱﵟ

Allah adalah pencipta segala sesuatu (QS. Ar-Ra’d: 16)

Al-Qur’an adalah sesuatu, maka ia tercakup ke dalam keumuman ayat tersebut sehingga Al- Qur’an adalah makhluk.

Ini adalah pernyataan yang ganjil yang mereka buat-buat. Karena mereka sendiri meyakini bahwa amal perbuatan manusia adalah hasil ciptaan mereka sendiri dan bukan ciptaan Allah. Bagaimana bisa mereka mengecualikan “sesuatu” ini dari keumuman tadi dan memasukkan Kalamullah, yang bukan sesuatu, melainkan sebuah Sifat? Padahal dengan Kalamullah seluruh makhluk tercipta, yaitu dengan perintah-Nya seluruh makhluk tercipta. Allah berfirman:

ﵞ٤٥ نَيمِلَعَٰلۡٱ بُّرَ ّلِلَُّٱ كَرَابَتَ ٰۗٓ رُمۡأَۡلٱوَ قُلۡخَلۡٱ هُلَ اَلأَ ۦٰٓۗٓهِرِمۡأَبِ تِۭرَٰخَّسَمُ مَوجُنُّلٱوَ رَمَقَلۡٱوَ سَمۡشَّلٱوَﵟ

Matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Milik- Nya lah seluruh ciptaan dan urusan (perintah) (QS. Al-A’raf: 54)

Bisa kita pahami dari pernyataan di atas bahwa Allah membedakan antara “ciptaan” dengan “perintah.” Jika perintah merupakan makhluk juga, maka akan membutuhkan perintah lain untuk menciptakannya, dan perintah selanjutnya dan seterusnya. Kita akan berputar-putar dalam lingkaran tanpa akhir dan ini tentu tidak mungkin.

Namun, makna kata “kullu (seluruh)” akan bergantung pada konteksnya. Tidakkah kalian melihat bahwa Allah () telah berfirman:

ﵞ ٥٢ ..... مۚۡهُنُكِسَٰمَ اَّلإِ ىَٰٓ رَيُ اَل اْوحُبَصۡأَفَ اهَبِ رَ رِمۡأَبِ ءِۭيۡشَ لَّكُ رُمِ دَتُﵟ

Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. (QS. Al-Ahqaf: 25)

Kalian lihat pada kata-kata di atas, kata “segala” tidak termasuk bekas-bekas tempat tinggal mereka. Apa yang dimaksudkan adalah angin menghancurkan semua yang umumnya dihancurkan angin. Dengan cara yang sama pula, kita memahami kata-kata Allah mengenai

Bilqis:

ﵞ٣٢ .... ءٖيۡشَ لِ كُ نمِ تۡيَتِوأُوَ....

dia diberikan segala sesuatu.” (QS. An-Naml: 23)

yaitu segala sesuatu yang dibutuhkan seorang penguasa. Jenis dan sifat “persyaratan” yang berlaku akan bergantung pada konteksnya. Pada konteks yang ada, Bilqis merupakan ratu yang sepenuhnya mandiri dan memiliki kekuatan yang diperlukan untuk menjadi penguasa. Masih banyak contoh lainnya yang bisa kita kutip.

Kemudian makna dari, ‘Allah adalah pencipta segala sesuatu’ adalah ‘segala sesuatu yang diciptakan’, yaitu semua yang telah diciptakan kecuali Allah sendiri. Termasuk amal perbuatan manusia, tetapi tidak termasuk Allah. Sifat-sifat Allah merupakan bagian dari Dzat Allah, tidak bisa dipisahkan dari-Nya.

Adapun argumen mereka yang berdasarkan ayat ini:

ﵞ ٣ نَولُقِعۡتَ مۡكُلَّعَلَّ ايٗ بِرَعَ انًَٰءرۡقُ هُنَٰلۡعَجَ انَّإِﵟ

Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). (QS. Al-Zukhruf: 3)

Argumen mereka tidak cerdas. Karena kata ja’ala pada teks di atas, bisa digunakan menurut tata bahasa arab dalam dua cara: bisa disertai objek tunggal atau dua objek. Jika disertai satu objek, maka mungkin untuk menyimpulkan makna “menciptakan.” Beberapa contoh lainya adalah:

ﵞ ١ ... رَۖونُّلٱوَ تِمَٰلُظُّلٱ لَعَجَوَ ....

Dan mengadakan gelap dan terang (QS. Al-An’am: 1) Atau,

ﵞ٠٣ .... يۚ ٍ حَ ءٍيۡشَ لَّكُ ءِآمَلۡٱ نَمِ انَلۡعَجَوَ ...

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup (QS. Al-Anbiya: 30)

Apabila kata ja’ala diikuti dua objek, maka maknanya bukan “menciptakan.” Allah () berfirman:

امَ مُلَعۡيَ ّلِلََّٱ نَّإِ اۚلًيفِكَ مۡكُيۡلَعَ ّلِلََّٱ مُتُلۡعَجَ دۡقَوَ اهَدِيكِوۡتَ دَعۡبَ نَمَٰيۡأَۡلٱ اْوضُقُنتَ اَلوَ .....

ﵞ ١٩ نَولُعَفۡتَ

Dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu. (QS. An-Nahl: 91)

Pada ayat di atas kata “Allah” dan “sumpah” adalah dua objek untuk kata ja’ala.

Begitu pula dengan ayat ini.

ﵞ١٩ نَيضِعِ نَاءَرۡقُلۡٱ اْولُعَجَ نَيذِلَّٱﵟ

Yaitu orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur’an itu terbagi-bagi (QS. Al-Hijr: 91)

Sekali lagi, ada dua objek, yaitu “Qur’an” dan “sumpah.”

Ayat berikut pun diungkapkan dengan gaya bahasa yang sama.

ﵞ ٣ نَولُقِعۡتَ مۡكُلَّعَلَّ ايٗ بِرَعَ انًَٰءرۡقُ هُنَٰلۡعَجَ انَّإِﵟ

Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). (QS. Al-Zukhruf: 3)

Pada ayat di atas, ‘Bahasa Arab” dan “Qur’an” adalah dua objek.

Kemudian, jika ditanyakan, lalu apa jawaban kalian untuk ayat berikut ini.

ﵞ ٠٤ مٖيرِكَ لٖوسُرَ لُوۡقَلَ ۥهُنَّإِﵟ

Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril) (QS. Al-Takwir: 19 dan Al-Haqqah: 40)

Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu dari kedua Utusan Allah menciptakannya, yakni Muhammad atau Jibril.

Jawabannya adalah penggunaan kata ‘utusan’ menunjukkan kepada kita bahwa dia diutus dan membawa risalah dari pihak lain. Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa ia merupakan perkataan malaikat ataupun perkataan Nabi, (melainkan kata yang digunakan adalah ‘utusan’).

Begitu juga penggunaan kata utusan pada salah satu ayat dengan Jibril dan ayat lain dengan Muhammad, penisbatan Al-Quran kepada keduanya menjelaskan bahwa keduanya hanyalah rasul. Karena jika salah satu adalah yang menciptakan Al-Quran, maka ayat yang lain tidak bisa bermakna bahwa rasul satunya ikut menciptakan juga.

Serta pada ayat berikutnya setelah ayat yang dikutip di atas, kemunculan kata sifat “terpercaya” memberikan makna bahwa Utusan tidak menambahkan ataupun mengurangi. Mereka semata-mata hanya menyampaikan apa yang telah diwahyukan kepadanya.

Lebih lanjut, Allah () pun mengkafirkan orang yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kata-kata manusia. Muhammad adalah seorang manusia. Oleh sebab itu, siapapun

yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah ciptaan Muhammad, maka ia telah kafir. Kemudian, tidak memandang apakah Al-Qur’an dikatakan sebagai perkataan manusia, jin ataupun malaikat. Karena kalam dihitung dari pengucapnya yang pertama bukan mereka yang menyampaikannya.

Kesimpulannya, Ahlus Sunnah, semuanya, termasuk para ulama empat mazhab dan para ulama terdahulu dan yang setelah mereka sepakat bahwa Kalamullah bukan makhluk. Jika orang-orang dibiarkan dengan pemahaman mereka yang murni, maka tidak akan ada perbedaan di antara mereka. Namun, setan telah membisikkan ide-ide sesat pada mereka untuk menciptakan perbedaan di antara mereka. Tentunya, mereka yang terpecah belah karena Kitab Allah telah terpisah sejauh-jauhnya.

Namun, yang ditekankan oleh pernyataan Ath-Thahawi adalah Allah senantiasa berbicara, kapanpun Dia kehendaki, kepada siapapun Dia kehendaki, dan bahwa kalam-Nya adalah abadi. Imam Abu Hanifah pun berpendapat hampir sama dalam kitabnya Al Fikih al- Akbar:

“Al-Qur’an yang dituliskan dalam kitab suci dan yang dijaga di dalam hati, dibacakan oleh lisan, dan diturunkan kepada nabi kita adalah, ketika diucapkan oleh mulut kita, menjadi kata-kata yang diciptakan, meskipun Al-Qur’an itu sendiri bukan makhluk.”

Tidak diragukan pula, ketika Nabi menyampaikannya kepada manusia dan memberitahukan kepada mereka bahwa Allah telah berbicara kepada mereka, menyeru mereka, berbisik kepada mereka atau bahwa “Dia berfirman”, dan sebagainya tidak bermaksud bahwa semua itu adalah sifat-sifat yang diciptakan dan terpisah dari Dzat-Nya. Melainkan yang dimaksud oleh Nabi adalah bahwa Allah-lah yang berbicara dan bahwa pembicaraan terjadi pada-Nya dan bukan pada selain-Nya bahwa Dia-lah yang berbicara (bukan pihak lain atas nama Allah). Begitu pula telah diriwayatkan bahwa Aisyah berkata:

ىال تُْ ي يٍحْوابِ َِّفِ ُّللَّا املَّاكات اي نْاأ نْمِ راقا حْاأ انااك يسِفْ ان ِفِ ِنِأْاشالوا

“Kedudukanku dalam diriku adalah lebih rendah daripada Allah berfirman dengan suatu wahyu tentangku yang akan dibaca.” 54

Seandainya maknanya berbeda dengan pemahamannya55, maka beliau pasti akan


image

54 Diriwyatkan oleh Bukhari (2661, 4141, 4750)

55 yaitu Allah berbicara secara langsung bukan menciptakan kalam untuk didengar (SAS)

menjelaskannya, namun, inilah pengertian yang sebenarnya. Karena mengakhirkan penjelasan ketika dibutuhkan tidak diperbolehkan.56

Nabi sendiri berkata:

»تِامَّاتَّلا ِّللَّا تِاما لِاكبِ ذُوعُاأ«

“Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang Sempurna.” 57

Bisakah seseorang mengklaim bahwa Nabi berlindung pada makhluk? Perkataan beliau tadi sama dengan sabdanya:

»، اكتِابوقُعُ نْمِ اكتِاافاعاُِبِ ذُوعُاأوا . اكطِاخاس نْمِ كا ااضرِبِ ذُوعُاأ«

“Ya Allah aku berlindung dengan Keridoan-Mu dari murka-Mu, dan aku berlindung dengan ampunan-Mu dari azab-Mu.” 58

Semua kata ini (kalimat, ampunan dan sebagainya) adalah jelas-jelas merupakan sifat-sifat Allah.

Aspek eksternal dari Kalamullah adalah yang bisa didengar dari-Nya atau dari seseorang yang menyampaikan kalam ini dari-Nya. Jika seseorang mendengarnya, memahaminya dan menghafalnya, maka bagi dia, Kalamullah adalah yang didengar dan yang dihafal. Sehingga, ketika orang yang mendengar tadi mengulangi pelafalannya, maka hal tersebut adalah lantunan qira’atnya. Ketika Kalamullah dituliskan, maka menjadi kata-kata tertulis.

Dalam semua kasus ini, Kalamullah mengambil bentuk nyata. Tidak bisa diingkari sebagai Kalamullah. Sedangkan seperti kita tahu, majas dapat diingkari sehingga tidak tepat untuk mengatakan, misalnya, yang tertulis dalam kitab suci bukanlah Kalamullah atau mereka yang membaca Al-Qur’an tidak membaca Kalamullah. Padahal Allah berfirman:

ﵞ ٦ .... ِّلِلَّٱ مَلَٰكَ عَمَسۡيَ يٰتَّحَ هُرۡجِأَفَ كَرَاجَتَسۡٱ نَيكِرِشۡمُلۡٱ نَمِ د حَأَ نِۡإوَ ﵟ

Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah (QS. At-Taubah: 6)

Tentu saja, dia tidak mendengar Kalamullah dari Allah. Melainkan dia mendengarnya dari orang yang menyampaikannya dari Allah. Ayat di atas juga membantah mereka yang mengklaim bahwa yang didengarkan hanya ungkapan dari kalam yang berasal dari Allah,


image

56 Ini berdasarka kaidah ushul fiqh: Takhirul Bayan ‘an Waqtil Hajah La Yajuz (Mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkannya tidak diperbolehkan). Maksudnya adalah Nabi tidak boleh mengakhirkan penjelasan suatu hukum ketika penjelasan terhadap hukum tersebut dibutuhkan karena membiarkan manusia tanpa penjelasan sama dengan membiarkan mereka dalam kesesatan dan menyelisihi tugas beliau dalam “tabligh” yaitu menyampaikan risalah (SAS).

57 Diriwayatkan oleh Ahmad (3/419) dan Ibnu Sunni dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lailah (642) dengan sanad yang Shahih.

58 Diriwayatkan oleh Muslim (486)

namun itu bukan ‘kalam’ milik Allah. Pendapat tersebut digugurkan karena Allah () berfirman:

ﵞ ٦ .... ِّلِلَّٱ مَلَٰكَ عَمَسۡيَ يٰتَّحَ ...

supaya ia sempat mendengar firman Allah (QS. At-Taubah: 6)

Perhatikan kata-kata yang digunakan, Allah tidak berkata: “supaya ia sempat mendengar firman Allah” dan bukan “hingga dia mendengar ungkapan dari Kalamullah.”

Mereka yang berkata bahwa yang tertulis di kitab Allah adalah “ungkapan (ibarah) Kalamullah” atau “hikayat Kalamullah,” dan bukan Kalamullah, maka dia menyelisihi Al- Qur’an, Sunnah dan akidah salafus sholeh umat ini. Keyakinan ini cukup sebagai bukti kesesatan.

Pernyataan Ath-Thahawi pun membantah mereka yang meyakini bahwa “ia merupakan makna” yang tak terbayangkan didengar dari Allah, sedangkan yang didengar, yang diwahyukan dan dibaca atau dituliskan adalah “semisal dengan makna Kalamullah” bukan Kalamullah itu sendiri. Karena orang tersebut berkata, “Ia berasal dari-Nya.” Pernyataan para Salaf pun demikian adanya. Mereka berkata: “berasal dari-Nya dan akan kembali pada-Nya”. Mereka harus menyatakan kata-kata secara spesifik “Qur’an berasal dari Allah” karena Jahmiyah - sempalan dari Muktazilah - berkata bahwa Allah menciptakan kalam pada tempat dan posisi tertentu, kemudian pada titik itu termanifestasi setelahnya. Para Salaf membantahnya dengan mengatakan: “Ia (Qur’an) berasal dari Allah,” yaitu Allah-lah yang Berbicara. Dengan kata lain, Al-Qur’an termanifestasi dari Allah, dan bukan dari makhluk-Nya yang mana pun. Karena Allah () berfirman:

ﵞ١ مِيكِحَلۡٱ زِيزِعَلۡٱ ِّلِلَّٱ نَمِ بِتَٰكِلۡٱ لُيزِنتَﵟ

Kitab (Al-Qur’an) dirutunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al- Zumar: 1)

Dia () pun berfirman:

ﵞ٣١ ... ينِ مِ لُوۡقَلۡٱ قَّحَ نۡكِلَٰوَ ....

Akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripada-Ku.” (QS. Al-Sajdah: 13)

Makna dari kata-kata yang diucapkan para ulama Salaf yang mengatakan: “Kepada- Nya ia akan kembali” artinya Kalamullah akan diangkat dari dada-dada manusia dan kitab- kitab, sehingga tidak akan tersisa satu ayat pun di dada manusia ataupun dalam bentuk tertulis seperti yang diriwayatkan dalam beberapa hadits.

Pernyataan (Thahawi): “tanpa menetapkan kaifiyatnya Dia berfirman,” bertujuan untuk menyampaikan makna bahwa kita tidak tahu bagaimana Allah bicara senyatanya, bukan secara kiasan. Kemudian kalimat lainnya, “Dia menurunkannya kepada rasul-Nya sebagai wahyu,” artinya Allah mewahyukannya kepada rasul melalui malaikat, sehingga malaikat Jibril mendengarnya dari Allah dan utusan Allah mendengarnya dari Jibril

kemudian membacakannya kepada manusia. Allah () berfirman:

ﵞ٥٩١ نٖيبِمُّ ىٖ بِرَعَ نٍاسَلِبِ ٤٩١ نَيرِذِنمُلۡٱ نَمِ نَوكُتَلِ كَبِلۡقَ ىَٰلعَ ٣٩١ نُيمِأَۡلٱ حُورُّلٱ هِبِ لَزَنَ ٢٩١ﵟ

ia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas (QS. Asy-Syu’ara: 193-195)

Pernyataan Ath-Thahawi,

“Orang-orang mukmin membenarkan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah secara haq, dan bukan makhluk sebagaimana perkataan makhluk,”

dimaksudkan untuk membantah Muktazilah dan sekte-sekte lain yang menyatakan bahwa Al- Qur’an “adalah makna yang ada di dalam Dzat Allah” yang belum didengar dari Allah (sendiri) melainkan ia hanya sekedar adalah suara hati/jiwa.

Pendapat tersebut terbantahkan karena jika seseorang berbicara kepada dirinya sendiri tanpa diucapkan secara langsung, maka bisa dikatakan sebenarnya dia tidak berbicara sama sekali. Jika kita ikuti pendapat muktazilah, maka orang bisu kita anggap bisa berbicara sehingga bisa juga dikatakan “yang tertulis dalam kitab suci bukanlah Al-Qur’an ataupun Kalamullah, melainkan suatu ungkapan dari Allah.”

Ini sebagaimana isyarat orang bisu. Anggaplah orang lain memahami maknanya, lalu dia menuliskannya dalam bentuk kata-kata yang ingin diucapkan oleh orang bisu tersebut. Tentu saja, apa yang dituliskan adalah ungkapan dari orang bisu atau yang dituliskan adalah pemahaman orang (yang diberi isyarat) tentang makna yang diisyaratkan. Inilah contoh apa yang dikatakan sekte Muktazilah.

Meski tak ada satupun dari mereka yang berani mengatakan bahwa Allah bisu, namun yang mereka katakan adalah yang dipahami Jibril adalah makna yang “terkandung” dalam diri-Nya, tanpa mendengarnya dalam bentuk kata-kata atau suara dari Allah. Melainkan dia (Jibril) memahaminya sendiri. Kemudian dia mengungkapkannya dengan kata-katanya sendiri. Sehingga selanjutnya mengimplikasikan bahwa Al-Qur’an berasal dari Jibril, demikian pula kitab suci kita dalam bahasa Arab.

Kata-kata dari hadits berikut ini bisa dikutip untuk membantah mereka yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah “makna yang ada dalam diri Allah.” Nabi (ﷺ) bersabda:

سِانَّلا مِالا اك نْمِ ءٌ يْاش اهايفِ حُلُصْاي َلا هِذِها اان اتالا اص نَّإِ

“Sesungguhnya di dalam shalat kita itu tidak boleh ada sedikit pun dari perkataan manusia.” 59

Nabi (ﷺ) pun berkata:


image

59 Diriwayatkan oleh Muslim (537)

ةِالاصَّلا ِفِ اومُلَّاكات َلا نْاأ اثدا حْاأ اَِّمِ نَّإِوا ،ءُااشاي اما هِرِمْاأ نْمِ ثُدُِْيُ اّللَّا نَّإِ

“Allah berfirman mengenai suatu urusan yang Dia kehendaki, dan di antara hal yang Dia perintahkan adalah kamu tidak berbicara dalam sholat.” 60

Oleh karenanya para ulama sepakat bahwa jika seseorang berbicara selama sholat, secara disengaja, tanpa ada kebutuhan dalam sholat, maka sholatnya menjadi tidak sah. Mereka pun sepakat berkata ketika seseorang berbicara pada dirinya sendiri, baik dalam pikiran atau hati, mengenai berbagai hal duniawi, ini tidak membatalkan sholatnya. Apa yang akan membatalkan sholatnya adalah ucapan yang keluar dari mulut. Hal ini memberitahu kita bahwa para Ulama sepakat bahwa yang diucapkan kepada dirinya sendiri, dalam hati, bukanlah “kalam”.

Oleh sebab itu, siapapun yang berpendapat bahwa Kalamullah adalah makna yang ditetapkan dalam Diri Allah serta apa yang diucapkan, yang dituliskan pada kitab suci, dan didengar dari qari adalah ungkapan dari Kalamullah dan semua itu diyakini sebagai makhluk, maka dia telah berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk tanpa dia sadari. Allah ()

berfirman:

نَاكَ وۡلَوَ ۦهِلِثۡمِبِ نَوتُأۡيَ اَل نِاءَرۡقُلۡٱ اذَهَٰ لِثۡمِبِ اْوتُأۡيَ نأَ ىََٰٓ لعَ نُّجِ لۡٱوَ سُنإِۡلٱ تِعَمَتَجۡٱ نِئِلَّ لقُﵟ ﵞ٨٨ ارٗيهِظَ ضٖعۡبَلِ مۡهُضُعۡبَ

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al- Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. Al-Isra: 88)

Apakah kalian mengira bahwa kata-kata di atas Allah membicarakan makna yang ada dalam Diri Allah atau sebagai apa yang dibaca dan didengarkan? Tidak diragukan lagi yang Allah bicarakan adalah sesuatu yang dibaca dan yang didengar karena yang telah diucapkan itu satu hal dan yang didengar serta dibacakan adalah hal lainnya.

Firman Allah: “mereka tidak akan mampu membuat yang serupa.” Apakah kalian mengira Allah mengatakan: “mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengan apa yang ada pada Diriku – atau apa yang tidak pernah mereka dengar dan ketahui?” sedangkan apa yang ada di dalam Diri Allah tidak mungkin untuk bisa diketahui.

Pernyataan Ath-Thahawi, “Barangsiapa yang mendengarnya lalu menganggap bahwa Al-Qur’an adalah perkataan manusia maka dia telah kafir,” adalah benar. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai pengkafiran orang yang berkata bahwa Al-Qur’an bukanlah kalamullah, atau yang mengira bahwa ia adalah kata-kata Muhammad, atau orang lain, baik malaikat ataupun manusia. Faktanya, jika seseorang mengakui bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah, kemudian mencoba menakwil atau mengubah kalamullah, maka dia termasuk ke dalam golongan orang yang mengatakan:


image

60 Diriwayatkan oleh Bukhari (13/496) secara Muallaq dengan Jazm. Diriwayatkan juga oleh Abu Daud (2209) dengan derajat Hasan Li Ghayrihi. Lihat Shahin Sunan Abu Dawud (857)

ﵞ٥٢ رِشَبَلۡٱ لُوۡقَ اَّلإِ آذَهَٰ نۡإِﵟ

Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia (QS. Al-Mudatsir: 25)

Makna dari pernyataan Ath-Thahawi: “Al-Qur’an adalah perkataan Sang Pencipta manusia dan tidak menyerupai perkataan manusia,” juga adalah untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam yang paling mulia, yang paling tinggi bahasanya, sempurna dan

benar perkataannya. Allah () berfirman:

ﵞ ٧٨ اثٗيدِحَ ِّلِلَّٱ نَمِ قُدَصۡأَ نۡمَوَ....

Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah? (QS. An-Nisa: 87)

Dan Dia () berfirman:

ﵞ٨٣ ... ثۡمِ ةٖرَوسُبِ اْوتُأۡفَ لۡقُ...

Katakanlah (kalau benar yang dikatakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat semisal

(QS. Yunus: 38)

Ketika mereka -bangsa Arab terdahulu- gagal, meski mereka adalah sastrawan terbaik dan musuh terburuk Islam dalam membuat yang serupa dengan Quran, keotentikan klaim Rasulullah bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah terbukti.

Adapun mu’jizat Al-Qur’an didapati pada makna maupun gaya bahasa, bukan dari salah satunya secara tersendiri.

FASAL: TIDAK BOLEH MENYIFATI ALLAH DENGAN SIFAT MANUSIA


image

Barangsiapa yang mensifati kepada Allah dengan suatu makna dari makna-makna (sifat- sifat) manusia, maka dia telah kafir. Barangsiapa yang melihat dengan seksama, dia pasti dapat mengambil pelajaran dan terhalang dari (kebatilan) seperti perkataan orang-orang kafir, dan dia pasti mengetahui, bahwa Allah dengan segala sifat-Nya bukan seperti manusia.

Ketika Ath-Thahawi menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, dimana Al- Qur’an bersumber dari-Nya, beliau memperingatkan pada argumen tersebut di atas bahwa tidak ada satu pun Sifat Allah yang menyerupai sifat manusia, sehingga semua tidak boleh ada tasybih dalam penetapan sifat-Nya. Dengan kata lain, jika Allah () mendeskripsikan Diri-Nya sebagai Yang Bericara, maka Dia tidak bisa disifati dengan makna dan arti seperti manusia mensifati bicara pada diri mereka. Karena tidak ada yang menyerupai Allah, Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar.

FASAL: MELIHAT ALLAH DI SURGA


image

Ar-Ru’yah (Memandang Wajah Allah bagi Orang-orang mukmin di Hari Kiamat) adalah haq (benar adanya) bagi penduduk surga, tanpa meliputi-Nya dan tanpa menentukan cara (atau seperti apa adanya), sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Quran: ‘Wajah-wajah (orang- orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya-lah mereka melihat.’ (Al- Qiyamah: 22-23). Dan tafsirnya adalah sebagaimana yang dikehendaki Allah dan diketahui oleh-Nya. Semua (dalil) yang ada tentang hal itu yang terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah, maka hal itu sebagaimana yang beliau sabdakan, dan maknanya adalah yang beliau kehendaki. Kita tidak boleh masuk dalam permasalahan tersebut dengan menakwilkan berdasarkan (asumsi) pandangan-pandangan kita, dan tidak menerka-nerka berdasarkan (keinginan) hawa nafsu kita. Karena sesungguhnya tidak ada orang yang selamat dalam agamanya, kecuali orang yang menyerahkan sepenuhnya kepada Allah dan rasulNya, dan mengembalikan apa yang tidak jelas baginya kepada yang mengetahuinya”

Ini adalah bantahan Ath-Thahawi yang ditujukan pada mereka yang mengingkari Ru’yatullah; yaitu kaum mukminin akan melihat Wajah Allah ketika mereka masuk Surga. Jahmiyah, Muktazilah dan sejumlah kelompok yang mengikuti mereka, mengingkari kebenaran ini. Pendapat mereka digugurkan oleh pernyataan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Para sahabat, para tabi’in, para imam terkemuka, para Ahli Hadits, dan mereka yang menisbatkan diri pada Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menyepakati Ru’yatullah ini. Ath- Thahawi telah memaparkan ayat berikut sebagai dalil:

ﵞ ٣٢ ةرَظِانَ اهَبِ رَ ىَٰلإِ ٢٢ ةٌرَضِانَّ ذٖئِمَوۡيَ هوجُوُﵟ

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Ayat ini merupakan salah satu dalil yang paling jelas. Adapun mereka yang condong pada takwil (menyelewengkan) makna dengan berdalih menafsirkan (mereka gagal memahami bahwa) menakwil Hari Kebangkitan, Surga, Neraka, Hisab, dan sebagainya jauh lebih mudah daripada menakwil ayat tersebut. Jika seseorang memang menghendaki untuk memberikan takwil pada dalil-dalil tersebut, pasti dia akan menemukan cara untuk melakukannya, seperti mereka yang menakwil ayat ini.

Sebenarnya, ini adalah salah satu perkara yang merusak agama dan kehidupan secara umum. Inilah yang dilakukan umat Yahudi dan Nasrani dengan kitab suci mereka; Taurah (perjanjian lama) dan Injil (perjanjian baru). Kita telah diperingatkan untuk menghindari jalan mereka. Namun, mereka yang sesat enggan untuk tunduk.

Penisbatan penglihatan (mata) pada wajah (dari orang yang melihat) pada ayat ini dan penambahan huruf ‘ila’ dengan jelas menunjukkan makna penglihatan oleh mata itu sendiri. Kemudian ketiadaan qarinah menunjukkan bahwa bukan makna lain yang diinginkan dan apa yang dimaksudkan adalah melihat Allah secara langsung dengan mata.

Kata nazhar (melihat) digunakan dalam beberapa cara, bergantung pada kata sambung dan objeknya. Jika digunakan dalam bentuk transitif yang kembali pada dirinya sendiri, maka

maknanya adalah “menunggu” atau “jeda.” Seperti pada firman Allah () berikut ini:

ﵞ٣١ ... مۡكُرِونُّ نمِ سۡبِتَقۡنَ انَورُظُنٱ ....

“Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu.”(QS. Al-Hadid: 13)

Sebaliknya, jika ia memiliki awalan “fi” pada kata, maka maknanya menjadi “pertimbangan” atau “perenungan” dan sebagainya, seperti dalam kalamullah:

ﵞ ٥٨١ .... ضِۡرأَۡلٱوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ تِوكُلَمَ ىِف اْورُظُنيَ مۡلَوَأَ ٤٨١ﵟ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi? (QS. Al-A’raf: 185)

Lain daripada itu, jika diakhiri dengan “ila”, maka artinya adalah “menelaah sesuatu,” “melihatnya” atau “memandang” dan sebagainya dengan mata seseorang. Allah () berfirman:

ﵞ٩٩ ... ۦٓهِۚعِنۡيَوَ رَمَثۡأَ آذَإِ ۦٓهِرِمَثَ ىَٰلإِ اْوٓرُظُنٱ ....

Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah dan menjadi masak (QS. Al-An’am: 99)

Lalu bagaimana jika “memandang” dinisbatka dengan wajah yang dengannya digunakan sebagai alat untuk memandang?61

Allah () pun berfirman di tempat lain:


image

61 Maksudnya adalah mata di wajah yang digunakan untuk memandang (SAS)

ﵞ٦٢ ... ۖ ةدَايَزِوَ يٰنَسۡحُلۡٱ اْونُسَحۡأَ نَيذِلَِّ لﵟ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.

(QS. Yunus: 26)

Pada ayat tersebut di atas, “husna” diterjemahkan sebagai “pahala yang terbaik,” yaitu Surga, dan kata “dan tambahannya” maknanya adalah melihat Allah, seperti yang dijelaskan oleh Nabi (). Suatu riwayat yang dikisahkan oleh Syu’aib yang mengatakan:

لُهْاأ الاخاد ااذإِ(( :لاااق ،)8( }ةٌادَيازِوا َنا سُْْلْا اونُاسحْاأ انيذِلَّلِ{ :املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا اأرا اق«

،هُومُكُزاجِنُْ ي نْاأ دُيرِيُ ادًعِوْما ِّللَّا دا نْعِ مْكُال نَّإِ ،ةِنَّاْلْا الهْاأ َيا :دٍاانمُ ىادَنا ،راانَّلا رِانَّلا لُهْاأوا ،اةنَّاْلْا ةِنَّاْلْا

فُشِكْيُ اف ؟رِانَّلا انمِ َنارُْيُِوا اةنَّاْلْا اانلْخِدْيُوا اانهاوجُوُ ضْي ِ ابُ يوا اان انيزِاواما لْق ِ اثُ ي اَْلاأ ؟وا هُ اما :انولُوقُ اي اف

»ةُادَيازِ لا ايهِوا ،هِيْالإِ رِاظنَّلا انمِ مْهِيْالإِ بَّاحاأ ائً يْاش مْهُااطعْاأ امااف ،هِيْالإِ انورُظُنْ اي اف ، ابااجِْلْا

“Nabi (ﷺ) membacakan ayat ini: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya,” kemudian bersabda, “Bila penghui Surga telah masuk surga, dan penghuni neraka telah masuk neraka, seorang penyeru mengumumkan: “Wahai penghuni surga, sesungguhnya kalian mempunyai janji di sisi Tuhan kalian yang Dia ingin menunaikannya bagi kalian’. Mereka bertanya: “Apakah itu? Bukankah Allah telah memberatkan timbangan amal kebaikan kami, mencerahkan wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari api neraka? Lalu Allah menyingkap tabir, maka mereka melihat kepada-Nya. Mereka tidak akan diberikan sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Allah. Dan ini adalah ziyadah (tambahan itu). 62

Ada sejumlah riwayat lainnya, dengan redaksi kata yang berbeda, dengan makna yang sama. Para sahabat pun memahaminya dengan cara yang sama. Ibnu Jarir al-Tabari telah mengisahkan Abu Bakar, Huzaifah, Abu Musa Al-Anshari dan Ibnu Abbas semua berpendapat sama.

Allah () pun berfirman:

ﵞ٥١ نَوبُوجُحۡمَلَّ ذٖئِمَوۡيَ مۡهِبِ رَّ نعَ مۡهُنَّإِ آلَّكَﵟ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka (QS. Al-Mutaffifin: 15)

Imam Asy-Syafi’i dan para imam lainnya menggunakan ayat ini juga sebagai dalil Ru’yatullah (melihat Allah) bagi para penghuni surga. At-Tabari telah meriwayatkan bahwa Muzani, meriwayatkan kalimat dari Imam Syafi’i:

“Manakala mereka terhalangi dalam keadaan Dia murka, maka ia menunjukkan bahwa wali-wali Allah (para kekasih)-Nya akan melihat-Nya saat dia ridha.”


image

62 Diriwayatkan oleh Muslim (2555)

Adapun Muktazilah berdalil dengan ayat Al-Qur’an:


Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku (QS. Al-A’raf: 143)

Atau firman-Nya,


ﵞ ٣٤١ ... ينِىٰرَتَ نلَ ...

ﵞ ٣٠١ .... رَۖصَٰبۡأَۡلٱ كُرِدۡيُ وَهُوَ رُصَٰبۡأَۡلٱ هُكُرِدۡتُ اَّل ﵟ

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata (QS. Al-An’am: 103)

Sebenarnya, dua ayat tersebut di atas membantah mereka. Ayat pertama menerangkan kepada kita tentang Ru’yatullah dalam beberapa cara:

Pertama: Tidak bisa dibayangkan bahwa Musa, nabi satu-satunya yang telah berbicara langsung kepada Allah, seorang Rasul, dan beliau adalah orang yang paling berilmu tentang Allah (pada masanya), meminta Allah suatu perkara yang tidak layak dipertanyakan. (Yaitu, jika memang melihat Allah itu tidak mungkin, maka nabi Musa tidak akan memohon hal tersebut, pen).

Kedua: Allah () tidak menolak permintaannya. Sebaliknya, Nabi Nuh yang memohon keselamatan untuk anaknya, namun Allah () berfirman padanya dalam surat Hud, 46:

ﵞ ٦٤ نَيلِهِجَٰلۡٱ نَمِ نَوكُتَ نأَ كَظُعِأَ ىٓ نِإِ ...

Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” (QS. Hud: 46) Ketiga: Allah menjawab pertanyaan Nabi Musa tersebut dengan berkata:

ﵞ ٣٤١ ... ينِىٰرَتَ نلَ ...

Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku (QS. Al-A’raf: 143)

Allah tidak menjawab: “Aku tidak akan bisa dilihat,” atau “Tidak mungkin bisa melihat-Ku.” Perbedaan antara kedua jawaban tersebut sangatlah jelas. Yang dimaksud adalah Nabi Musa tidak sanggup melihat Allah di dunia ini, karena kelemahan indra penglihatan yang dimiliki manusia.

Keempat: Firman Allah ():

ﵞ ٣٤١ .... يٰۚنِىٰرَتَ فَوۡسَفَ ۥهُنَاكَمَ رَّقَتَسۡٱ نِإِفَ لِبَجَلۡٱ ىَلإِ رۡظُنٱ نِكِلَٰوَ ....

Tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sedia kala), niscaya kamu dapat melihat-Ku. (QS. Al-A’raf: 143)

Allah telah memberitahukannya bahwa jika gunung –meski sangat kuat- tidak sanggup melihat-Nya, lalu bagaimana bisa manusia yang lebih lemah dari gunung bisa melihat Allah?

Kelima: berdasarkan firman Allah () ini

ﵞ ٣٤١ ...كٗ دَ ۥهُلَعَجَ لِبَجَلۡلِ ۥهُبُّرَ يَّٰلَجتَ امَّلَفَ ....

Dan tatkala Tuhannya menampakkan diri pada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh (QS. Al- A’raf: 143)

Jika Allah memang mungkin menampakkan diri pada gunung, yang tidak bernyawa, lalu bagaimana bisa dianggap tidak mungkin Allah menampakakan dirinya kepada Rasulullah dan para sahabatnya di Surga? Namun Allah hanya menunjukkan kepada Musa, bahwa jika gunung tidak sanggup melihat-Nya, maka tentu saja manusia lebih lemah daripada gunung.

Keenam: Allah berfirman kepada Musa, menyeru, dan berbisik kepadanya. Jika berbicara langsung tanpa perantara adalah mungkin, maka melihat Allah tanpa perantara pun mungkin. Oleh sebab itu, Ru’yatullah tidak bisa diingkari tanpa mengingkari Kalamullah.

Muktazilah berdalih bahwa awalan “lan” pada kata (lan tarani, yang lan itu secara harfiah artinya adalah “tidak pernah”). Namun merupakan pandangan yang keliru jika kita pun menganggap kemustahilan itu berlaku untuk penglihatan di kehidupan akhirat jika mendasarkan pada kata-kata ini. Kehadiran awalan “lan” tidak bermakna pengingkaran penglihatan tersebut selamanya. Lalu bagaimana jika tidak ada awalan “lan?”

Berikut ini contohnya, Allah () berfirman:

ﵞ٥٩ .... ادََۢبَأَ هُوۡنَّمَتَيَ نلَوَﵟ

Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya (QS. Al- Baqarah: 95)

Namun, selain semua keterangan di atas, Allah pun berfirman mengenai mereka.

ﵞ ٧٧ .... كَۖبُّرَ انَيۡلَعَ ضِقۡيَلِ كُلِمَٰيَٰ اْوۡدَانَوَﵟ

Mereka berseru.” Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.” (QS. Zukhruf: 77)

Ayat di atas menunjukkan bahwa awalan “lan” pada teks bukan dimaksudkan tidak pernah yang bermakna selama-lamanya. Namun, dimaksudkan untuk sementara waktu. Jika dimaksudkan untuk selama-lamanya maka pengecualian itu itu tidak mungkin, seperti dalam

firman Allah():

ﵞ ٠٨.... ىٓبِأَ ىِٓل نَذَأۡيَ يٰتَّحَ ضَۡرأَۡلٱ حَرَبۡأَ نۡلَفَ ...

Sebab itu aku tidak akan meninggalkan Mesir, sampai ayahku megizinkan kepadaku (untuk kembali) (QS. Yusuf: 80)

Ayat di atas menunjukkan bahwa “lan” tidak menunjukkan penafian selama-lamanya.

Dalam salah matan bahasa Arab yang terdiri dari 1000 bait63, Syaikh Jamaludin bin


image

63 Matan yang dimaksud adalah Al-Kafiyah Asy-Syafiyah (SAS)

Malik rahimahullah telah menyatakan bahwa “lan” tidak selalu menyiratkan keabadian:

ادا ضُعْااف هُاواسِوا

دْدُرْا هُلُوْقا اف * ادًبَّؤامُ نْالبِ ايفْ نَّلا ىاأرا

نْماوا

Adapun ayat yang kedua (Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata), dalil itu pun mengantarkan pada kesimpulan lain meski hampir tak kentara, tentang kemungkinan ru’yatullah. Berikut ini penjabarannya.

Allah () mengucapkan kata-kata itu dalam konteks sanjungan, dan sudah dimaklumi bahwa sanjungan hanya terwujud dengan sifat-sifat mulia. Adapun ketiadaan yang murni, maka ia bukan kesempurnaan sehingga tidak dijadikan sebagai sanjungan. Allah disanjung dengan penafian hanya jika penafian tersebut mengandung sesuatu yang nyata.

Misalnya menyanjung Allah dengan ‘tidak mengantuk’ dan ‘tidak tidur’. Karena ini mengandung sifat Maha Mengurusi makhlukNya secara sempurna. Penafian kematian menjamin kesempurnaan hidup. Penafian rasa lelah memastikan kesempurnaan kekuasaan Allah. Penafian pasangan, anak atau pembantu memastikan kesempurnaan Rububiyah-Nya, Uluhiyah, dan Sifat di Atas Segala Sesuatu. Negasi kezaliman untuk menunjukkan kesempurnaan keadilan-Nya, Ilmu, dan Keberkuasaan-Nya. Penafian lupa dan ceroboh mengantarkan pada ilmu-Nya, dan sifat Meliputi segala sesuatu. Penafian atas sesuatu yang serupa dengan-Nya untuk memastikan kesempurnaan Dzat dan Sifat-Nya.

Dengan demikian, bisa kita pahami bahwa pujian itu tidak diucapkan dengan menafikan kekurangan di dalam diri seseorang -kecuali mengharuskan lawannya berupa sifat positif ada pada diri orang tersebut-. Hal ini karena Ma’dum (sesuatu yang tidak ada) juga sama-sama memiliki ketiadaan sifat tersebut bersamaan dengan sosok yang disifati dengan ketiadaan.64 Di lain pihak, Dzat yang sempurna tidak disifati dengan sifat apapun yang turut dimiliki oleh sesuatu yang tidak ada.

Maksud dari “Allah dilihat” adalah “dipandang” bukan “diliputi penglihatan”. Oleh sebab itu, firman-Nya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata” bermaksud menekankan Kemahaperkasaan-Nya, yaitu Dia jauh lebih agung dari apapun, sehingga Dia tidak bisa dicapai oleh penglihatan manusia sepenuhnya, karena ‘idrak’ dalam bahasa Arab digunakan untuk meliputi sesuatu hal seutuhnya, lebih dari sekedar melihat. Jadi, Allah bisa dilihat namun Dia tidak bisa diliputi penghlihatan seperti Allah bisa diketahui manusia tetapi pengetahuan manusia tidak bisa meliputi Allah. Inilah yang dipahami oleh para sahabat dan para Imam terkait ayat ini. Bahkan matahari adalah makhluk yang pandangan mata manusia tidak mampu meliputinya.

Terdapat sejumlah hadits yang membahas tentang Ru’yatullah, salah satunya adalah hadits dari Abu Hurairah yang dicatat dalam Shahihain. Dikisahkan salah satu sahabat bertanya kepada Rasul:


image

64 Maksudnya, sesuatu yang tidak eksis (non-existent [Inggris]/ma’dum [Arab]) juga tidak memiliki sifat apapun. Oleh karena itu, sekedar mengatakan kepada seseorang: “kamu tidak jelek” jika tidak mengandung maksud terbalik bahwa dia adalah sosok yang rupawan, perkataan tersebut hanyalah perkataan kosong. Karena sesuatu yang tidak eksis juga bisa disifati dengan “tidak jelek” karena dia memang tidak bisa memiliki sifat jelek tersebut akibat ketiadaannya. (SAS)

اةال يْال رِما قالْا ةِايؤْرُ ِفِ انورُّااضتُ لْها :املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا لااقا اف ؟ةِمااايقِلْا اموْ اي اانَّ برا ىرا ان لْها

لاااق ،َلا :اولُااق ؟ بٌااحاس ااَناودُ اسيْال سِمْشَّلا ِفِ انورُّااضتُ لْها :لاااق ،ِّللَّا لاوسُرا َيا َلا :اولُااق ؟رِدْابلْا

اكلِذا اك هُانوْرا ات مْكُنَّإِاف

“Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Allah di Hari Kiamat?” Rasulullah (ﷺ) menjawab: “Apakah kalian harus berdesak-desakan saat melihat rembulan pada malam bulan purnama?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau pun bertanya lagi: “Apakah kalian harus berdesak-desakan saat melihat matahari yang tidak berawan?” Mereka menjawab: “Tidak.” Nabi bersabda: “Kalian akan melihat-Nya demikian.” 65

Terdapat hadits lain dalam Shahihain yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri yang memiliki makna serupa. Versi yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah Al-Bajali bunyinya:

انوْاَتااس مْكُنَّإِ :لااقا اف ،اةراشْعا اعابرْاأ اةلا يْال رِما قالْا َلاإِ رااظنا اف ،املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِب ِ ِنَّلا اعما اسًولُجُ انَّكُ«

»هِتِايؤْرُ ِفِ انومُّااضتُ َلا ،اذا ها انوْرا ات اما اك ،َنًاايعِ مْكُبَّرا

“Kami sedang duduk bersama Rasulullah, lalu beliau melihat rembulan di malam ke 14, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian dengan mata kepala kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, kalian tidak perlu berdesakan melihatnya.” 66

Namun, melihat matahari dan bulan tidaklah sama dengan melihat Allah. Melainkan itu hanya kemiripan kondisi melihat yang dibahas bukan membandingkan matahari beserta bulan dengan Allah.

Pernyataan Ath-Thahawi: “Ar-Ru’yah (Memandang Wajah Allah bagi Orang-orang mukmin di Hari Kiamat) adalah haq (benar adanya).” adalah untuk menekankan bahwa selain penghuni surga tidak akan mampu melihat-Nya. Kemudian, sebelum mereka melihat Allah di Surga, mereka pun akan melihat Allah di Padang Mahsyar seperti yang diriwayatkan

dalam Shahihain. Hal ini pun tersirat dalam firman Allah ():

ﵞ ٤٤ ... مۚ لَٰسَ ۥهُنَوۡقَلۡيَ مَوۡيَ مۡهُتُيَِّحتَﵟ

Salam penghortmatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui- Nya (QS. Al-Ahzab: 44)

Terdapat ijma’ di kalangan ulama umat bahwa tidak ada satu pun yang mampu melihat Allah di dunia ini. Mereka tidak berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai apakah Nabi melihat Allah ketika Isra Mikraj? Sebagian mengingkari bahwa Nabi melihat Allah dengan penglihatannya sendiri. Sebagian lagi


image

65 Diriwayatkan Bukhari (7437) dan Muslim (182)

66 Diriwayatkan Bukhari (554) dan Muslim (633)

membenarkannya. Al-Qadhi ‘Iyadh telah membahas persoalan ini dengan rinci dalam karyanya, Al-Syifa yang menjabarkan perbedaan pendapat di kalangan para sahabat dan tabi’in.

Beliau telah meriwayatkan pendapat Aisyah bahwa Rasulullah tidak melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri. Ketika Masruq bertanya padanya:

دْقا اف هُبَّرا ىاأرا ادًمَّاُمُ نَّاأ اكاثدَّاح نْما : تْلاااق ثَُّ ، اتلْ قُ اَِّمِ يرِعْشِ فَّاق دْقاال : تْلااقا اف ؟هُبَّرا دٌمَّاُمُ ىاأرا لْها

ابذا اك

“Apakah Nabi Muhammad melihat tuhannya?” Beliau (Aisyah) menjawab: “Bulu kudukku berdiri mendengar perkataanmu itu.” Kemudian beliau menambahkan: “Barang siapa mengatakan bahwa Muhammad melihat Tuhannya, maka ia telah salah.”

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa sejumlah sahabat berpendapat sama. Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah pun menyatakan pendapat yang serupa. Al-Qadhi ‘Iyadh pun menyatakan bahwa sejumlah ulama hadits, para ahli fikih, dan para ahli kalam (Mutakallimun) juga menolak adanya kemungkinan seseorang bisa melihat Allah di kehidupan dunia ini. Namun, Ibnu Abbas berpendapat bahwa Nabi telah melihat Allah. Atha’ mengatakan bahwa Rasul telah melihat-Nya dengan mata batinnya.

Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan:

“Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi telah melihat-Nya dengan mata kepalanya sendiri tidak didukung oleh dalil nash. Pendapat itu mungkin didasarkan pada pemahaman dua ayat dalam surah An-Najm. Perbedaan pendapat itu sudah sejak dulu, dan kemungkinan salah satu dari keduanya tidak dapat dikesampingkan.”

Pernyataan Al-Qadhi ‘Iyadh sepertinya benar. Karena melihat Allah di dunia ini adalah suatu hal yang mungkin. Jika memang tidak mungkin, maka Nabi Musa tidak akan memohon suatu hal yang tidak mungkin. Lain daripada itu, tidak ada riwayat dari Nabi bahwa beliau melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri. Ada sejumlah riwayat yang membuktikan bahwa sebenarnya beliau tidak melihat-Nya. Ada satu riwayat dalam shahih Muslim dari Abu Dzar yang menyatakan:

»هُارااأ َّنَّاأ رٌونُ« :لااقا اف ؟ اكبَّرا اتيْاأرا لْها املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لاوسُرا تُلْاأاس

Saya pernah bertanya kepada Rasulullah, apakah engkau telah melihat Allah”, beliau menjawab: “Cahaya yang menghalangi-ku untuk melihatNya”

Muslim pun meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari. Beliau menyatakan:

نْاأ هُال يغِاب نْ اي َلاوا مُاان اي َلا اّللَّا نَّإِ(( :لااقا اف ،تٍاما لِاك سِمْاِبِ املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا اانيفِ امااق«

،لِيْلَّلا لِما عا البْ اق رِاها نَّلا لُما عاوا ،رِاها نَّلا لِما عا البْ اق لِيْلَّلا لُما عا هِيْالإِ عُافرْ ُي ،هُعُ افرْا يوا اطسْقِلْا ضُفَِيْا ،اماان اي

نْمِ هُرُاصاب هِيْالإِ ىها ات نْا اما هِهِجْوا تُااحبُسُ تْقاراحْاْلا هُفا اشاك وْال« ، )رُانَّلا :ةٍاياوارِ ِفِوا( ، »رُونُّلا هُبُااجحِ »هِقِلْاخ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah menyampaikan 5 kalimat: ‘Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak layak Allah disifati dengan tidur, Dia yang menaik-turunkan timbangan, amalan malam hari dilaporkan kepada-Nya sebelum datang amalan siang, dan amalan siang hari dilaporkan kepada-Nya sebelum datang amalan malam. Hijab-Nya adalah cahaya.” Menurut riwayat lainnya, beliau berkata: “Andaikan Allah menyingkap cahaya itu, tentu subuhat (pancaran) wajahnya akan membakar makhluk- Nya sejauh pandangan-Nya.”

Cahaya yang disebutkan dalam riwayat dari Abu Dzar ini, tampaknya - Allah Yang Maha Mengetahuinya - ketika Rasulullah berkata:


“Cahaya yang menghalangi-ku untuk melihatNya”

»هُارااأ َّنَّاأ رٌونُ«

cahaya menghalangi pandangan layaknya tabir. Oleh sebab itu, bagaimana beliau (ﷺ) melihat-Nya. Karenanya, bagaimana nabi bisa melihat-Nya?” Yaitu, ‘Bagaimana aku bisa melihat-Nya jika cahaya ada antara aku dan Allah, yang menghalangiku melihat-Nya.?’

Inilah menjadi indikasi yang jelas bahwa Rasulullah tidak melihat Allah. Allahu

A’lam.

Adapun pernyataan Ath-Thahawi: “tanpa meliputi dan tanpa menentukan cara (atau

seperti apa adanya).” Kedua pernyataan itu dimaksudkan untuk menekankan Kesempurnaan

Keagungan-Nya. Allah () berfirman:

ﵞ ٠١١ امٗلۡعِ ۦهِبِ نَوطُيِحيُ اَلوَ...

Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya (QS. Thaha: 110) Ath-Thahawi berkata:

“tidak ada orang yang selamat dalam agamanya, kecuali orang yang menyerahkan sepenuhnya kepada Allah dan rasulNya, dan mengembalikan apa yang tidak jelas baginya kepada yang mengetahuinya”

Yang beliau maksud adalah orang yang selamat yaitu yang berpegang teguh pada Al- Qur’an dan Sunnah dan tidak terlibat dalam keraguan, syubhat, dan takwil atau mereka yang berkata:

“Akal menyelisihi dari apa yang dinyatakan Al-Qur’an dan Sunnah sedangkan Akal adalah pondasi bagi Al-Quran dan As-Sunnah sehingga jika ada kontradiksi antara keduanya, maka akal harus didahulukan”.

Namun, pertentang antara akal dan naql (Al-Quran dan Sunnah) hakikatnya tidak

mungkin terjadi. Jika ternyata terlihat jika ada pertentangan antara keduanya: Apabila riwayatnya shahih, maka apa yang ditangkap oleh akal (berupa kontradiksi) harus ditetapkan sebagai sesuatu yang keliru. Penelitian mendalam akan mengungkap kesalahan akal tadi. Kemudian, jika riwayatnya tidak otentik, maka tidak ada manfaatnya berusaha mentangkannya dengan akal.

Akal yang benar (shahih) dengan riwayat yang benar (sharih) tidak akan saling berkontradiksi. Oleh sebab itu, siapapun yang bersikukuh (yaitu jika riwayat dan akal saling bertentangan, maka akal yang diutamakan) dibantah dengan pernyataan berikut: “Jika ada pertentangan antara dalil naqli dan akal, maka kita harus mendahulukan dalil naqli.” Karena (jika ada pertentangan), menyelaraskan keduanya adalah suatu usaha untuk menyelaraskan dua hal yang tidak bisa diselaraskan.

Selain itu, mengutamakan akal sudah pasti terlarang. Karena akal sendiri yang memberitahu kita (serta menjadi dalil) untuk mendengarkan dan menaati apa yang kita terima dari riwayat nabi . Jika kita membatalkan dalil naqli, kita membatalkan apa yang akal tunjukkan sebagai sesuatu yang dapat diterima. Akibatnya, jika kita mengabaikan apa yang ditujukkan oleh akal, maka tidak layak untuk mendudukkannya untuk menentang dalil naqli. Karena sesuatu yang bukan dalil tidak bisa digunakan untuk membatalkan dalil lainnya. Sehingga, mengutamakan akal menyebabkan kita harus mendudukan akal dibawah dalil naqli dan tidak meletakannya diatasnya. Ini tentu sangat jelas.

Akal adalah sesuatu yang membuat kita menerima wahyu sebagai sebuah kebenaran. Sehingga, wahyu tersebut sejalan dengan akal. Jika suatu dalil naqli itu tidak bisa diterima karena dianggap tidak masuk akal, maka artinya akal tersebut tidak berdasar pada pondasi yang benar. Jika argumen yang diajukan oleh logika tidak dapat diandalkan sama sekali, maka logika tidak bisa diikuti sama sekali, jauh dari memilihnya dibandingkan wahyu. Sehingga mengutamakan logika di atas wahyu sama artinya dengan pengakuan adanya kekuarangan dalam logika kita.

Yang diwajibkan kepada kita adalah tunduk sepenuhnya kepada Rasulullah dan menerima segala hal yang beliau bawa. Perkataannya harus diakui sebagai kebenaran dan diterima apa adanya tanpa menyusupkan pemikiran yang sesat dengan mengatasnamakan rasionalisme, atau membumbuinya dengan keraguan dan olok-olok, atau lebih mengutamakan pendapat manusia dibandingkan wahyu. Dengan kata lain, kita menyatukan ketundukan dan ketaatan kita kepada beliau, seperti kita menyatukan sholat, doa, kerendahan, taubat dan tawakkal kita kepada yang mengutusnya (Allah).

Dari penjelasan di atas, diketahui bahwa ada dua jenis totalitas (penyerahan diri) yang tanpa keduanya, seseorang tidak bisa membebaskan diri dari neraka, yaitu penyerahan diri secara penuh pada risalah yang Allah wahyukan dan ketaatan penuh pada Nabi(ﷺ).

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Anas bin ‘Iyad dimana Abu Hazim berkata:

نْمِ ةٌاخايشْما ااذإِوا ،يخِاأوا َنااأ تُلْ اب قْاأ« ،مِعا نَّلا

راْْحُ هِبِ ِلِ نَّاأ بُّحِأُ اما

اسًلَِْما يخِاأوا َنااأ تُسْلااج دْقاال

،مْهُ ان يْ اب قا رِ فاُ ن نْاأ اانهْرِاكاف ،هِبِاوا بْاأ نْمِ بٍِبا

دا نْعِ سٌولُجُ املَّاسوا هِيْلاعا

ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لِوسُرا

بِااحصْاأ

ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا اجرااخفا ،مُُْتُاوا صْاأ تْعافا اترْا َّتَّاح ،اهايفِ اوْرااماات اف ،نِآرْقُلْا انمِ ةًايآ اورُاكاذ ذْإِ ،ةًراجْاح اانسْالاجفا

نْمِ مُماُْلْا تِاكلِهْأُ اذااِبِ !مِوْ اق َيا الًهْما :لُوقُا يوا ،بِاَتُّلا ِبِ مْهِيمِرْا ي ،هُهُجْوا رَّْحْا ا دِاق ،ابًاضغْمُ املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا

هُضُعْ اب بُذِ اكيُ لْزِنْ اي اَْل انآرْقُلْا نَّإِ ، ضٍعْ اببِ اها اضعْا ب ابتُكُلْا مُِبِِ رْاضوا ،مْهِئِاايبِنْاأ ىلاعا مْهِفِالاتِخِْبِ ،مْكُلِبْ اق

»هِمِلِاعا َلاإِ هُودُّرُ اف هُنْمِ مْتُلْهِاج اماوا ،هِبِ اولُما عْااف هُنْمِ مْتُ فْراعا امااف ،اضًعْا ب هُضُعْا ب قُدِ اصيُ لْاب ،اضًعْا ب

“Aku dan saudaraku hadir ketika terjadi suatu peristiwa yang aku tidak akan menukarnya untuk unta merah. Aku dan saudaraku menemui beberapa sahabat Rasul yang tengah duduk di dekat rumah nabi. Kami tidak suka mengganggu mereka hingga kami memutuskan untuk duduk di sekitarnya. Tiba-tiba di antara mereka ada yang menyebutkan salah satu dari ayat Al-Qur-an, lantas mereka bertengkar sehingga semakin keras suara mereka, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dalam keadaan marah dan merah mukanya, sambil melemparkan debu seraya bersabda: “Tenanglah wahai kaumku! Sesungguhnya cara bertengkar seperti ini telah membinasakan umat-umat sebelum kalian, yaitu mereka menyelisihi para Nabi mereka serta berpendapat bahwa sebagian isi kitab itu bertentangan dengan sebagian yang lain. Ingat! Sesungguhnya Al-Qur-an tidak turun untuk mendustakan sebagian dengan sebagian yang lainnya, bahkan ayat-ayat Al-Qur-an sebagian membenarkan sebagian yang lainnya. Karena itu apa yang telah kalian ketahui, maka amalkanlah dan apa yang kalian tidak ketahui serahkanlah kepada yang paling mengetahui”

67


Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah menyatakan bahwa perkataan yang tidak berdasarkan ilmu adalah haram. Allah () berfirman:

ِّلِلَّٱبِ اْوكُرِشُۡت نأَوَ قِ حَلۡٱ رِيۡغَبِ يَغۡبَلۡٱوَ مَثۡإِۡلٱوَ نَطَبَ امَوَ اهَنۡمِ رَهَظَ امَ شَحِوَٰفَلۡٱ ىَِ برَ مَرَّحَ امَنَّإِ لۡقُﵟ ﵞ ٣٣ نَومُلَعۡتَ اَل امَ ِّلِلَّٱ ىَلعَ اْولُوقُتَ نأَوَ انٗطَٰلۡسُ ۦهِبِ لۡزِ نَيُ مۡلَ امَ

Katakanlah (Muhamamd), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan dzalim tanpa alasan yang benar, dan mengharamkan kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-A’raf: 33)

Allah () pun berfirman:

ﵞ٦٣ ..... مٌۚلۡعِ ۦهِبِ كَلَ سَيۡلَ امَ فُقۡتَ اَلوَﵟ

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui (QS. Al-Isra: 36)

Oleh sebab itu, yang diwajibkan pada setiap manusia adalah dia harus menerima yang diwahyukan Allah melalui Utusan-Nya dan Kitab Suci-Nya sebagai “kebenaran” yang harus


image

67 Diriwayatkan oleh Ahmad (2/181). Diriwayatkan yang semisal oleh Muslim (2666) dari Hadits Abdullah bin Amr

dikuti. Dia harus mengakui bahwa itu adalah kebenaran, dan apapun yang datang seperti pendapat manusia, harus diukur dengan wahyu. Jika sesuai, maka itu adalah kebenaran. Jika tidak, maka itu adalah kekeliruan.

Namun, jika seseorang tidak bisa memahami apakah itu benar atau tidak, maka pendapat tersebut bias (mujmal) sehingga tidak jelas maksud dan tujuannya atau maknanya jelas, tetapi mungkin belum diketahui jika apa yang dibawakan Rasul bersesuaian dengannya atau tidak. Dalam situasi seperti itu, maka seseorang harus menahan diri dari berpendapat. Seseorang tidak seharusnya berbicara, kecuali dengan berdasarkan ilmu. Ilmu berarti sesuatu yang didukung dalil yang baik dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Rasulullah. Terkadang, ilmu bisa saja berasal dari siapapun selain Nabi. Namun, semua ilmu tersebut bersifat duniawi, misalnya saja ilmu kedokteran dan matematika. Adapun ilmu agama, maka ilmu itu harus diambil dari Nabi dan tidak bisa dari pihak lain.

FASAL: KOKOHNYA KEISLAMAN SESEORANG


image

Tidak tsabit (kokoh) keislaman (seseorang) kecuali berdasarkan sikap berserah diri dan kepasrahan sepenuhnya

Ini adalah pernyataan kiasan. Beliau bermaksud menyatakan bahwa keislaman seseorang tidak akan kokoh jika dia tidak berserah diri sepenuhnya pada dua sumber wahyu: Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa mengajukan keberatan terhadap keduanya dan tanpa mempertentangkannya dengan pendapat pribadi seseorang baik berdasarkan akal maupun dugaan.

Bukhari telah mengabarkan bahwa Imam Zuhri berkata:

“Risalah berasal dari Allah. Penyampaiannya melalui Utusan Allah dan kewajiban kita adalah mentaatinya.”


image

Barangsiapa yang ingin mengetahui sesuatu yang tidak diperlihatkan ilmu tentangnya dan pemahamannya tidak puas dengan sikap penyerahan diri, maka dia akan dihalangi oleh keinginannya tersebut dari tauhid yang murni, dan ma’rifat yang jernih, serta iman yang shahih.

Ini adalah penjelasan atas apa yang dinyatakan Ath-Thahawi pada kalimat sebelumnya. Penjelasan ini untuk menekankan bahwa seseorang tidak boleh berbicara tanpa

ilmu dalam urusan agama. Allah () berfirman:

ﵞ ٣ دٖيرِمَّ نٖطَٰيۡشَ لَّكُ عُبِتَّيَوَ مٖلۡعِ رِيۡغَبِ ِّلِلَّٱ ىفِ لُدِجَٰيُ نمَ سِانَّلٱ نَمِوَﵟ

Dan di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat. (QS. Al-Hajj: 3)

Dia () pun berfirman:

ﵞ ٠٥ نَيمِلِظَّٰلٱ مَوۡقَلۡٱ يدِهۡيَ اَل ّلِلََّٱ نَّإِ ِّۚلِلَّٱ نَمِ ىدٗهُ رِيۡغَبِ هُىٰوَهَ عَبَتَّٱ نِمَّمِ لُّضَأَ نۡمَوَ ....

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Qasas: 50)

Abu Umamah Al-Bahiliy mengabarkan bahwa Rasulullah (ﷺ) telah bersabda:

}َلًدا اج َلَّإِ اكال هُوبُرااض اما{ :الاات ثَُّ لادااْلْا اوتُوأُ َلَّإِ هِيْالعا اونُااك ىدًهُ دا عْ اب مٌوْ اق لَّاض اما«

“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah hidayah yang mereka pegang teguh kecuali diberikan sifat berdebat,” kemudian beliau membaca (ayat). “Dan mereka tidak memberikan (perumpamaan itu) kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.(Az-Zukhruf 58)”

At-Tirmizi telah meriwayatkan hadits ini dan berkata: “Hadits hasan”.68


image

Sehingga dia ragu-ragu antara kufur dan iman, antara membenarkan dan mendustakan, antara menetapkan dan mengingkari. Dia senantiasa waswas, kehilangan arah, dan ragu- ragu; tidak sebagai mu’min yang membenarkan, tapi juga tidak sebagai seorang yang mengingkari lagi mendustakan.

Inilah penggambaran Ath-Thahawi mengenai mereka yang meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah lalu mengambil ilmu kalam yang tercela; yang berharap bisa menyelaraskan Al- Qur’an dan Sunnah dengan akal. Ketika malah mengalami pertentangan, mereka memilih untuk menakwilnya dan mengembalikannya kepada akal merekasehinga ia terus menerus tenggelam dalam keraguan dan kesesatan.

Ibnu Rusydi, ahli dalam iman dan filsafat berkata dalam kitabnya Tahafut At-Tahafut:

“Siapa diantara mereka yang menulis tentang ketuhanan dengan akal kemudian menjadi pakar di dalamnya?”

Amidi, orang yang paling berilmu di masanya berakhir pada kebingungan yang mendalam. Al-Ghazali berhasil meloloskan diri. Ketika dia terlibat dalam perbincangan tentang Uluhiyah dan kalam, dia terjebak dalam kebingungan. Kemudian, segera menyadari kesalahannya, lalu meninggalkan jalan lamanya tersebut, memperbaharui keimanannya sesuai ajaran nabi, dan wafat dalam keadaan memeluk kitab shohih Bukhari di atas dadanya.

Begitu pula dengan Abu Abdullah Muhammad Ibnu ‘Umar Ar-Razi. Dia berkata:

“Aku sudah mencermati metode-metode ilmu Kalam dan manhaj-manhaj filsafat, aku tidak melihatnya menyembuhkan orang sakit, tidak menghilangkan haus orang dahaga, aku melihat bahwa jalan terdekat adalah jalan Al-Qur’an. Bacalah dalam penetapan. “(Yaitu) Yang Maha Pengasih, Yang bersemayam (istiwa) di atas Arsy” (Thaha:5), dan “KepadaNya-lah akan naik perkataan-perkataan yang baik.” (Fathir:10) kemudian bacalah dalam penafian: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.”(Asy-Syura:11) dan, “Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu- Nya.”(Thaha:110). Kemu/dian dia menambahkan, “Barangsiapa mengalami seperti


image

68 Diriwayatkan oleh Tirmidzi (3250) dan Ibnu Majah (48)

yang aku alami, dia mengetahuinya sebagaimana yang aku ketahui.”

Begitu pula dengan kasus Muhammad bin Abdul Karim al-Syahristani. Dia berkata:

“Aku tidak menemukan pada para filsuf dan ahli kalam selain kebingungan dan penyesalan.”

Kemudian beliau menuliskan bait yang bermakna:

“Aku bersumpah aku sudah menjelajah aliran-aliran semuanya. Melangkahkan kakiku di antara rambu-rambu tersebut. Aku tidak melihat kecuali orang yang bingung meletakkan. Dagunya di atas telapak tangannya atau menggigit jari penyesalan”

Ada pula kasus sebelum jaman kita, yaitu Abu al-Ma’ali al-Juwani, yang berkata:

“Sungguh aku telah menyelami samudera yang dalam, aku meninggalkan orang-orang ulama Islam dan ilmu mereka, aku masuk ke dalam apa yang mereka telah melarangku darinya, sekarang bila Rabbku tidak menolongku dengan rahmat-Nya, maka celaka bagi Ibn al-Juwaini. Lihatlah inilah aku akan mati atas akidah ibuku.” Atau dia berkata, “Di atas akidah wanita-wanita tua Naisabur.”

Obat yang menjanjikan kesembuhan untuk jenis penyakit seperti ini adalah yang telah diriwayatkan oleh Dokter hati, . Di saat bangkit dari sholat malamnya, beliau biasa berdoa:

مُكُُْتا اتنْاأ ،ةِاداهاشَّلاوا بِيْاغلْا اَلِاعا ، ضِرْاْلْاوا تِاوااما سَّلا راطِااف ،اليفِاراسْإِوا اليئِااكيمِوا اليبِْجِ بَّرا مَّهُلَّلا«

َلاإِ ءُااشات نْما يدُِْتا اكنَّإِ ، اكنِذِْبِِ ق ِ اْلْا انمِ هِيفِ افلِتُخْا اما لِ ِنِدِهْا ،انوفُلِاتَْيا هِيفِ اونُااك اما يفِ كا دِاابعِ ّيا ْاب »مٍيقِتاسْمُ طٍارا صِ

Wahai Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui Yang gaib dan yang Nampak. Engkaulah yang memutuskan perselisihan di antara para hamba-Mu, berilah aku petunjuk yang dengannya aku membedakan yang benar dari apa yang diperselisihkan, sungguh, Engkau beri petunjuk pada jalan yang lurus kepada siapapun yang Engkau Kehendaki. (Muslim).69


image

69 Diriwayatkan oleh Muslim (770)

FASAL: (LANJUTAN) BERIMAN KEPADA RU’YATULLAH

image

Tidak sah keimanan terhadap Ar-ru’yah (akan dilihatnya Allah) oleh penduduk surga bagi orang yang mengibaratkan dengan sangkaan atau mentakwilkannya dengan pemahaman menyimpang, karena menafsirkan ‘ar-Ru’yah’ dan semua makna yang disandarkan kepada Ar-Rububiyah justru dengan meninggalkan takwil dan berpegang pada sikap berserah diri. Berdasarkan itulah agama kaum muslimin. Dan barangsiapa yang tidak menjauhi sikap menafikan dan menyerupakan, dia akan terperosok dan keliru dalam menyucikan (Allah).

Nampaknya yang dimaksud Imam Ath-Thahawi adalah Muktazilah dan mereka yang mengikuti Muktazilah dalam menolak Ru’yatullah. Pernyataan itu juga ditujukan untuk membantah siapa pun yang menyerupakan dalam jenis apapun antara Allah dan makhluk- Nya. Nabi telah berkata:

»رِدْابلْا اةال يْال راما قالْا انوْرا ات اما اك مْكُبَّرا انوْرا ات مْكُنَّإِ«

“Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian dengan mata kepala kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini.” 70

Perkataan beliau, “sebagaimana kalian melihat” tidak menyisakan ruang untuk penafsiran lain, selain yang telah jelas. Kemiripan di sini adalah dalam hal penglihatan dan bukan dalam hal “Objek yang dilihat,” (yaitu bukan persamaan antara Allah dengan bulan purnama). Nash tersebut sangat jelas tentangnya, tidak ada ambiguitas di dalamnya. Apa yang datang setelah kebenaran selain kesesatan? Apakah kata-kata di sini bermakna: “Kalian akan mengetahui tuhan kalian seperti kalian mengetahui bulan?

Ayat berikut ini dan beberapa ayat lainnya yang serupa, mungkin memberikan penafsiran yang berbeda untuk “penglihatan.”

﴾ لِيفِلْا بِااحصْاِبِ اكبُّرا العا اف افيْاك را ات اَْلاأ ﴿

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? (QS. Al-Fil: 1)


image

70 Diriwayatkan Bukhari (7437) dan Muslim (182)

Pada ayat di atas, melihat di sini adalah dengan hati dan pikiran (dan bukan mata, karena Rasul sendiri bukan saksi peristiwa tersebut). Tak diragukan lagi “melihat” pun terkadang bisa digunakan untuk melihat dengan mata dan di kesempatan lain bisa pula digunakan untuk penglihatan dengan hati. Bisa juga digunakan untuk melihat dalam keadaan tidur, yaitu mimpi. Selain itu, masih ada penggunaan lainnya.

Konteks selalu memberikan kita pengertian tentang bagaimana memahami makna yang seharusnya. Namun, jika pembicara tidak memperjelas konteks yang digunakannya, maka kalimat itu tetap samar. Tidak akan didapatkan makna yang jelas. Namun, dalam hal ini, ketika Nabi bersabda:

» بٌااحاس ااَناودُ اسيْال ةِاْيهِظَّلا ِفِ اسمْشَّلا انوْرا ات اما اك مْكُبَّرا

“Kalian akan melihat-Nya seperti melihat matahari di langit yang tidak berawan.” 71

Maka siapakah yang bisa menyatakan kalimat ini samar? Bila mereka berkata:

انوْرا ات«

“kami terpaksa melakukan takwil karena menurut akal melihat Allah adalah sesuatu yang mustahil.”

Jawabannya adalah:

‘itu hanyalah anggapanmu, yang mana orang yang berakal akan menentangnya.’

Tidak ada pemikiran atau logikan dalam akal yang menyatakannya mustahil. Untuk meyakinkan, jika akal dihadirkan dengan suatu hal yang berwujud namun tidak terlihat, maka akal dengan segera mengatakannya tidak mungkin.

Pernyataan Ath-Thahawi: “bagi orang yang mengibaratkan dengan sangkaan” yaitu menyangka bahwa Allah akan bisa dilihat dengan cara yang ini dan itu. Artinya dia membuat penyerupaan dengan Allah. Lalu, setelah dugaan tersebut, jika dia berbuat kesalahan dengan mengaitkan suatu gambaran tertentu kepada Allah, maka dia seorang musyabbih.

Selain daripada itu, jika dia mengingkari melihat Allah (di hari kiamat) itu sendiri, karena dugaannya itu, maka dia adalah seorang yang menentang wahyu (jahid) dan menolak menetapkan sifat bagi Allah (mu’athil). Sehingga, sikap yang benar adalah menjauhi sangkaan (wahm) tersebut. Ia juga tidak boleh menafikan seluruhnya baik berupa kebenaran maupun kebatilan72 sehingga menolak keduanya demi menafikan kebatilan73. Namun, sikap yang benar adalah menolak yang batil dan menetapkan kebenaran.

Ath-Thahawi telah menekankan makna ini:

Dan barangsiapa yang tidak menjauhi sikap menafikan dan menyerupakan, dia akan


image

71 Diriwayatkan Bukhari (7437) dan Muslim (182)

72 Kebenaran maksudnya adalah bisa melihat Allah dan kebatilan adalah Allah serupa dengan makhluk karena bisa dilihat (SAS)

73 Yaitu penyerupaan Allah dengan makhluk (SAS)

terperosok dan keliru dalam menyucikan (Allah)”.74

Muktazilah berpendapat bahwa mereka menyucikan Allah dengan mengingkari bahwa Allah dapat dilihat. Namun, bisakah seseorang menghilangkan ketidaksempurnaan dengan mengingkari Sifat Kesempurnaan? Sudah jelas, kemustahilan untuk dilihat bukanlah sifat yang Kesempurnaan. Yang tidak bisa dilihat adalah yang tidak berwujud (non- existent/ma’dum). Kesempurnaan Allah justru terletak pada dapat dilihat Allah di Hari Kiamat. Apa yang kita tolak adalah penglihatan yang menyeluruh dan meliputi-Nya.

Demikian pula dengan ilmu tentang Allah. Penafian kepemilikan ilmu tentang Allah bukanlah suatu kesempurnaan. Kesempurnaan justru terletak pada menetapkan ilmu tentang Allah tetapi bukan ilmu yang meyeluruh dan meliputi-Nya. Demikian pula Allah tidak bisa diliputi sepenuhnya dengan penglihatan karena Allah tidak bisa diliputi oleh pengetahuan manusia.

Pernyataan Ath-Thahawi, “atau menakwilnya dengan suatu pemahaman yang menyimpang” maksudnya adalah klaim bahwa mereka memahaminya dengan suatu takwil yang menyelisihi zhahirnya. Kata “takwil” itu sendiri telah diberikan suatu makna berbeda oleh generasi berikutnya. Pada masa ini, maksud dari takwil adalah memberikan makna yang berbeda dari makna zahirnya. Inilah bagaimana orang sesat berhasil menyelewegkan wahyu. Mereka menyebut penyelewengan yang mereka lakukan sebagai ‘takwil’ untuk memperindah kesesatan mereka dan menjadikannya dapat diterima. Namun Allah telah mencela mereka

yang telah memperindah kesesatan. Dia berfirman:

لِوۡقَلۡٱ فَرُخۡزُ ضٖعۡبَ ىَٰلإِ مۡهُضُعۡبَ يحِويُ نِج لِۡٱوَ سِنإِۡلٱ نَيطِيَٰشَ اوٗدُعَ يٍ بِنَ لِ كُلِ انَلۡعَجَ كَلِذَٰكَوَﵟ ﵞ ٢١١ ... اۚرٗورُغُ

Dengan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebahagian dari mereka membisikkan kepada sebahagian yang lainnya perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS. Al- An’am: 112)

Yang penting adalah maknanya bukan kata-katanya. Seringkali kesesatan dibungkus dengan kata-kata yang manis yang menyingkirkan kebenaran itu sendiri.

Tentu saja, Ath-Thahawi tidak bermaksud bahwa setiap penafsiran harus dijauhi. Yang beliau maksud adalah setiap penafsiran yang menyimpang dan bid’ah harus dihindari. (Bagi generasi terdahulu, penafsiran memiliki konotasi yang berbeda:tr.). Takwil yang ditekankan dalam Al-Qur’an dan Sunnah adalah: kata-kata yang mengacu pada kebenaran. Penafsiran sepenggal kabar, misalnya, harus sesuai dengan kabar itu sendiri. Dengan cara


image

74 Menafikan disini maksudnya menafikan sifat Allah secara total dan menyerupakan disini adalah menyerupakan antara Allah dengan makhluk. Maksudnya adalah barangsiapa yang tidak menjauhi menafikan sifat Allah secara total atau dalam bayangannya memberikan sifat kepada Allah berarti menyerupakannya dengan makhluk sehingga ia pun tidak mau memberikan sifat kepada Allah dan memiliki untuk menakwilnya, maka kedua golongan ini telah keliru dalam usaha mereka menyucikan Allah dari sifat-sifat ketidaksempurnaan (SAS)

yang sama, penafsiran yang benar atas suatu perintah merupakan tindakan yang telah diperintahkan. Aisyah menggunakan kata itu, seperti dalam Hadits:

»انآرْقُلْا لُوَّاأات اي ))ِلِ رْفِغْا مَّهُلَّلا ،كا دِمْاِبِوا انَّا برا مَّهُلَّلا اكانااحبْسُ((

Rasulullah biasa berdoa ketika rukuk dalam sholatnya: “Segala puji bagi Allah Rabb kami segala puji bagi-Mu. Ya Allah ampuni aku, karena telah menakwil Al-Qur’an.” 75

Allah () sendiri menggunakan kata takwil dalam Al-Qur’an dengan cara yang sama.

Dia() berfirman:

انَبِ رَ لُسُرُ تۡءَآجَ دۡقَ لُبۡقَ نمِ هُوسَُن نَيذِلَّٱ لُوقُيَ ۥهُلُيوِأۡتَ ىِتأۡيَ مَوۡيَ ۥهُۚلَيوِأۡتَ اَّلإِ نَورُظُنيَ لۡهَ ﵟ ﵞ٣٥ ... قِحَ لۡٱبِ

Tidaklah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitahuan Al-Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang benar (QS. Al-A’raf: 53)

Pada pengertian di atas konsep seperti ‘penafsiran mimpi, atau penafsiran perbuatan

digunakan. Allah () berfirman:

ﵞ ٦ .... لۡٱ لِيوِأۡتَ نمِ كَمُِ لعَيُوَ ....

Dan Dia mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi (QS. Yusuf: 6) Lalu, siapakah yang mampu menyangkal penggunaan kata takwil di atas?

Apa yang bersifat riwayat seperti khabar tentang Allah, Hari Kiamat, dan sebagainya, maka “takwil” dalam masalah ini tidak ada yang mengetahuinya, yaitu berupa hakikat asli76 dari semua hal tersebut. Karena khabar jika tidak dimengerti gambarannya atau tidak dipahami, maka tidak bisa diketahui hakikatnya, yaitu takwilnya dengan hanya dengan bantuan sepenggal khabar (berita) itu sendiri.

Inilah takwil yang hanya diketahui oleh Allah. Meskipun demikian, tidak mengetahui takwilnya tidak lantas diartikan bahwa seseorang tidak mengetahui makna77 yang dimaksudkan pembicara untuk dipahami oleh pendengar. Untuk memastikan, tidak ada satu pun ayat dalam Al-Qur’an yang Allah tidak memerintahkan kita untuk merenungkannya. Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an melainkan menuntut untuk dipahami, meskipun hakikat aslinya hanya diketahui oleh Allah. Maka inilah makna dari kata takwil yang digunakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah atau oleh para ulama Salaf, baik takwil tersebut


image

75 Diriwayatkan oleh Bukhari (817, 4968) dan Muslim (484)

76 Yaitu pengetahuan sempurna. Adapun pengetahuan yang terbatas, maka manusia bisa memahaminya sebatas khabar yang sampai kepadanya sebagaimana akan dijelaskan oleh Ibnu Abi Al-Izz di paragraf selanjutnya (SAS)

77 Yaitu pengetahuan terbatas yang cukup memberikan gambaran dasar mengenai apa yang hendak disampaikan oleh Syariat (SAS)

sejalan dengan zhahir ataupun tidak.

Namun, bagi generasi para ulama fikih dan ahli kalam yang datang setelahnya, kata takwil memperoleh makna berbeda. Takwil adalah mengalihkan makna dari makna asal (zhahir) ke makna yang lain yang dianggap sejalan dengan konteks. Inilah takwil yang menyebabkan banyak perdebatan di kalangan manusia ketika diterapkan pada perintah atau khabar yang diterima (melalui wahyu). Takwil yang benar adalah yang sesuai dengan teks Al-Qur’an dan Sunnah yang lain. Adapun yang bertentangan dengan keduanya, maka itu adalah takwil yang menyimpang.

Bagi mereka yang terjerumus pada takwil yang dicela semacam ini, maka bisa dikatakan: pintu yang sudah kalian buka telah menjadi jalan masuk bagi kaum musyrikin dan para ahlul bid’ah yang tidak akan mampu kalian hentikan. Ketika kalian menyelewengkan makna Al-Qur’an dan Sunnah dari makna asalnya tanpa bukti (dalil), maka dengan parameter (dhabit) apakah sesuatu bisa diketahui boleh ditakwil atau tidak? Jika kalian menyatakan:

“Apa yang menurut akal mustahil untuk terjadi atau dipahami, maka kami akan menakwilnya dan apa yang boleh menurut akal, maka kami akan menetapkannya”

Jika demikian, akan muncul pertanyaan baru: akal siapa yang harus menjadi kriteria penentu?

Sekte Qarmati menyatakan bahwa ada hujjah yang pasti untuk menghapus aturan syari’at yang zahir. Sekte filsuf meyakini bahwa ada hujjah yang pasti yang menentang kebangkitan. Sekte Muktazilah mempercayai bahwa ada hujjah yang pasti terkait mustahilnya melihat Allah. Jika kita mengikuti metode penalaran ini, maka kita akan terjerumus pada dua akibat yang berbahaya dan tidak bisa dihindari:

Pertama: Kita tidak menerima tafsir apapun dari Kitab dan Sunnah, sebelum menelaah secara luas dan menyeluruh untuk menentukan apakah penafsirannya diterima oleh akal. Kemudian, karena setiap kelompok mengklaim bahwa mereka menyeru orang-orang pada makna yang benar, maka semua orang akan menjadi bingung.

Kedua: Hati manusia condong untuk tidak teguh pada apapun yang mereka yakini dari khabar yang disampaikan oleh Rasul. Hal ini karena makna yang zahir dari khabar-khabar tersebut tidak bisa dipastikan dan takwil yang ada pun malah memunculkan keraguan. Konsekuensinya adalah pencabutan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dalil serta petujuk kepada apa yang dikhabarkan oleh Allah kepada hamba-Nya. Khususnya nabi sebagai pembawa berita dan Al-Quran sebagai berita yang agung.

Dengan demikian, kita melihat bahwa mereka yang memilih takwil biasanya mengutip Al-Qur’an dan Sunnah untuk mendukung pemahaman mereka yang menyimpang dan bukan sebagai dalil yang mereka pegang. Apapun yang sejalan dengan keyakinan mereka dan menurut mereka akal juga menunjukkan kebenaran hal tersebut, mereka menerimanya. Adapun yang tidak sejalan dengan mereka, mereka menakwilnya. Dengan cara inilah, mereka membuka pintu bagi para zindiq. Semoga Allah melindungi kita.

Adapun pernyataan Ath-Thahawi:

Dan barangsiapa yang tidak menjauhi sikap menafikan dan menyerupakan, dia akan terperosok dan keliru dalam menyucikan (Allah)”.

adalah karena baik penafian (ta’thil) maupun penyerupaan (tasybih) adalah penyakit hati. Penyakit hati terdiri dari dua jenis: yang pertama adalah syubhat dan yang kedua adalah syahwat. Keduanya telah disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah () berfirman:

ﵞ٢٣ .... ض رَمَ ۦهِبِلۡقَ ىفِ يذِلَّٱ عَمَطۡيَفَ لِوۡقَلۡٱبِ نَعۡضَۡختَ الَفَ ....

Maka janganlah terlalu lembut dalam bicara, karena akan berkeinginan orang yang dalam hatinya ada penyakit (QS. Al-Ahzab: 32)

Itu adalah penyakit yang didasari hawa nafsu. Allah () juga berfirman:

ﵞ٥٢١ ....مۡهِسِجۡرِ ىَٰلإِ اسًجۡرِ مۡهُتۡدَازَفَ ض رَمَّ مهِبِولُقُ ىِف نَيذِلَّٱ امَّأَوَ ﵟ

Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) (QS. Taubah: 125)

Ini adalah penyakit syubhat. Penyakit ini lebih buruk daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat bisa sembuh jika sudah mendapatkan yang diinginkannya. Namun, penyakit syubhat tidak ada obatnya, kecuali Allah berkehendak mengobati dengan rahmat- Nya.

Adapun dalam perkara yang melibatkan sifat-sifat Allah, maka penyakit itu antara penafian (ta’thil) atau penyerupaan (tasybih). Dari keduanya, ragu atas dasar penafian lebih buruk daripada keraguan atas dasar penyerupaan. Karena keraguan atas dasar penafian adalah penolakan dan kekufuran atas risalah yang dibawa nabi, sedangkan penyerupaan adalah bertindak berlebihan dan melampaui batas.

FASAL: SIFAT-SIFAT KEESAAN ALLAH


image

Karena sesungguhnya Tuhan kita yang Mahaagung lagi Mahatinggi menyandang sifat-sifat keesaan. Allah tersifati dengan sifat-sifat yang tak tertandingi (an-Nu’ut al-Fardaniyah), yang tidak seorang pun dari makhluk-Nya yang menyandang makna yang sebanding dengannya.

Dengan pernyataan di atas, Ath-Thahawi bermaksud mengeliminasi setiap penyerupaan sifat-sifat Allah (dengan makhluk-Nya) baik yang berupa itsbat (penepatan) maupun penafian (nafi). Pernyataan ini diambil dari tafsir surah Al-Ikhlas. Perkataan Ath- Thahawi: “menyandang sifat-sifat keesaan,” diambil dari firman Allah:

ﵞ ١ دٌحَأَ ّلِلَُّٱ وَهُ لۡقُﵟ

Katakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa (QS. Al-Ikhlas: 1)

Dan perkataannya, “Allah tersifati dengan sifat-sifat yang tak tertandingi (an-Nu’uat al-Fardaniyah)” berakar pada Firman Allah:

ﵞ ٣ دۡلَويُ مۡلَوَ دۡلِيَ مۡلَ ٢ دُمَصَّلٱ ّلِلَُّٱﵟ

Allah adalah Tuhan yang Bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dan tiada beranak dan tidak pula dipernakkan (QS. Al-Ikhlas: 2-3)

Dan perkataannya, “yang tidak seorang pun dari makhlukNya yang menyandang makna yang sebanding dengannya” berdasarkan pada:

ﵞ ٤ دَُۢحَأَ اوًفُكُ ۥهُلَّ نكُيَ مۡلَوَﵟ

Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia (QS. Al-Ikhlas: 4)

Lebih lanjut, penekanan pada titik ini oleh Syaikh (Thahawi) adalah untuk menekankan kembali bahwa apapun yang beliau katakan sebelumnya tentang penetapan sifat dan penafian penyerupaannya.

Al-Washfu dan An-Na’at adalah sinonim78. Namun, (jika ditetapkan untuk Allah) kata Al-Washfu digunakan untuk Dzat-Nya sedangkan An-Na’at digunakan untuk tindakan-Nya. Begitu juga Al-Wahdaniyah dan Al-Fardaniyah digunakan. Sebagian ulama membedakan bahwa Al-Wahdaniyah digunakan untuk Dzat-Nya, sedangkan Al-Fardaniyah digunakan untuk Sifat-Sifat-Nya. Dalam setiap kesempatan, Allah adalah Esa dalam Dzat-Nya dan Esa pada Sifat-Sifat-Nya.


image

78 Sama-sama diterjemahkan sebagai sifat dalam bahasa Indone

FASAL: MENETAPKAN JIHAH (ARAH) DAN JISIM (JASAD) UNTUK ALLAH


image

Allah Mahatinggi (tidak dibatasi oleh) batas-batas dan ujung akhir, dan (tidak membutuhkan) bagian-bagian, anggota-anggota, maupun perangkat-perangkat. Allah tidak dilingkupi oleh arah yang enam sebagaimana semua makhluk yang diciptakan(Nya)

Dalam pembahasan di atas bisa dikatakan ada tiga golongan:

  1. Mereka yang mengingkari

  2. Mereka yang membenarkan secara mutlak

  3. Mereka yang merinci permasalahan tersebut

Golongan terakhir terakhir disebutkan adalah pengikut salafush shalih. Mereka tidak menolak ataupun menerima hingga persoalan menjadi jelas bagi mereka. Mereka menetapkan apa yang benar dan menafikan apa yang salah.

Namun, di kalangan generasi berikutnya, kata-kata ini menjadi bias dalam penggunaannya seperti yang terjadi pada istilah-istilah lainnya. Tidak semua orang menggunakan istilah tersebut dengan pengertian yang sama. Akibatnya, ada yang mengingkari baik yang benar maupun yang salah dan berkata atas golongan yang membenarkan, hal-hal yang tidak mereka ucapkan. Ada pula yang membenarkan namun memperkenalkan makna yang bukan bagian darinya.

Dalam hal ini mereka bertentangan dengan generasi salaf serta Al-Qur’an dan acuan yang menuntun kita. Karena baik Al-Qur’an maupun Sunnah tidak menjelaskan apapun tentang penerimaan dan penolakan istilah di atas. Bukan hak kita untuk mensifati kepada Allah apa yang tidak Dia sifatkan bagi dirinya sendiri atau apa yang tidak disifatkan oleh Rasulullah bagi-Nya, baik dalam hal itsbat maupun nafi. Dalam hal ini, kita hanya diwajibkan ittiba’ dan bukan berbuat bid’ah.79

Wajib bagi kita untuk menetapkan segala sifat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan dan mengingkari apa yang Allah dan Rasul-Nya ingkari. Begitu pun untuk untuk itsbat maupun nafi, hanya yang lafaz-lafaz yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang boleh ditetapkan kepastiannya. Adapun untuk kata-kata yang tidak ada dalilnya baik untuk itsbat maupun nafi, maka tidak boleh digunakan hingga jelas apa yang dimaksud oleh pembicara.

Jika maknanya terbukti benar, maka boleh untuk ditetapkan dan penggunaan lafaznya tetap mengacu kepada lafaz yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah itu sendiri. Tidak menggunakan istilah yang ambigu, kecuali ada kebutuhan mendesak untuk itu. Jika terpaksa menggunakan kata yang ambigu, harus dilengkapi dengan konteks yang akan memperjelas


image

79 Dengan melewati wewenang Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan istilah-istilah yang berkaitan dengan asma dan sifat Allah (SAS).

makna yang dimaksud. Contoh kebutuhan tersebut misalnya menyebut orang yang tidak bisa memahami makna yang dimaksud kecuali kata-kata ambigu tersebut digunakan.

Ath-Thahawi bermaksud untuk membantah para musyabbih yang menyatakan bahwa Allah memiliki jisim (jasad), punggung, anggota badan, dan sebagainya, -Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan-. Apa yang diingkari oleh Ath-Thahawi adalah benar. Namun, sepeninggal beliau, muncullah sekelompok orang yang memperkenalkan ungkapan baru, baik yang benar ataupun salah. Hal tersebut perlu dijelaskan lebih lanjut. Penjelasannya adalah terdapat kesepakatan di kalangan salafus shalih sesungguh manusia tidak mengetahui bahwa Allah memiliki batasan dan mereka tidak menempatkan batasan kepada sifat-sifat Allah.

Abu Dawud Tayalisi menyatakan:

“Sufyan Tsauri, Syu’bah, Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, Syarik dan Abu Uwanah tidak menetapkan had (batasan) bagi Allah, tidak melakukan tasybih dan tidak melakukan tamtsil. Mereka semua meriwayatkan hadits tanpa berkata “bagaimana.” Bila mereka ditanya, mereka menjawab sesuai dengan atsar.”

Telah diketahui bahwa batasan adalah suatu hal yang membantu memisahkan sesuatu dari hal lainnya yang dengannya sesuatu bisa dibedakan dari yang lain. Allah tidak bersemayam dalam makhluk-Nya, tidak pula bergantung pada mereka. Melainkan Allah hidup dengan Diri-Nya dan pada-Nya segala sesuatu bergantung.

Dari sini dipahami, kata “batasan” tidak bisa digunakan dalam konteks yang bertentangan dengan makna di atas. Karena di balik pengingkaran, tidak ada yang lainnya kecuali pengingkaran eksistensi Tuhan itu sendiri dan penolakan Realitas-Nya. Adapun batasan-batasan mengenai ilmu dan Firman-Nya, ini adalah batasan-batasan yang dinisbatkan pada-Nya oleh manusia. Inilah yang ditolak oleh ijma Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

Abu al-Qasim al-Qusyairi menyatakan:

“Aku mendengar Abdul Rahman Al-Sulami, ia berkata: aku mendengar Abu Mansur bin Abdullah, ia berkata: aku mendengar Abu al-Hasan al-‘Anbari, ia berkata: aku mendengar Sahl bin al-Tustari menjawab ketika ditanya tentang Dzat Allah, ia berkata:

“Dzat Allah disifati dengan Ilmu, tidak bisa diliputi batasan-batasan, yang tidak bisa dilihat di dunia ini. Dia hadir dengan kebenaran iman, tanpa batasan, di luar pemahaman, dan tidak berinkarnasi (dalam siapapun atau apapun). Dia akan dilihat oleh mata di akhirat. Dia nyata dalam Kerajaan dan Kekuasaannya, namun telah menghalangi makhluk-Nya dari mengetahui esensi Dzat-Nya, mengarahkan mereka pada tanda-tanda kebesaran-Nya. Oleh sebab itu, hati bisa mengenalnya dan Mata akan melihat-Nya. Orang-orang mukmin akan melihat-Nya dengan mata mereka, namun tanpa memahami-Nya ataupun meliputi-Nya.”

Adapun untuk kata “bagian-bagian,” “anggota-anggota” dan “perangkat-perangkat,” orang-orang yang menafikan menggunakanya untuk mengingkari sifat-sifat tertentu dari-Nya yang telah terbukti datang via perantaan wahyu Al-Qur’an dan Sunnah yang tak

terbantahkan: misalnya tangan dan wajah.

Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu berkata dalam Al-Fikih al-Akbar:

‘Allah memiliki “Tangan”, “Wajah” dan “Jiwa”, sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa Dia memiliki semua itu. Itu adalah sifat-Nya tanpa menentukan bentuk dan kaifiyatnya, tidak dikatakan bahwa Tangan-Nya adalah kekuasaan dan rahmat-Nya, karena perkataan seperti ini mengingkari sifat-sifat-Nya.

Apa yang dikatakan Imam di atas dibuktikan oleh bukti-bukti yang tak terbantahkan. Allah (ﷻ) berfirman:

ﵞ ٥٧ ... يَّدَيَبِ تُقۡلَخَ امَلِ دَجُسَۡت نأَ كَعَنَمَ امَ...

Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku (QS. Shad: 75)

Dan Dia () berfirman:

ﵞ ٧٦ .... ۦهِنِيمِيَبِ تَُۢيَّٰوِطۡمَ تُوَٰمَٰسَّلٱوَ ةِمَيَٰقِلۡٱ مَوۡيَ ۥهُتُضَبۡقَ اعٗيمِجَ ضُۡرأَۡلٱوَ ...

Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya (QS. Az-Zumar: 67)

Allah () pun berfirman:

ﵞ ٨٨ .... ۥهُۚهَجۡوَ اَّلإِ كٌلِاهَ ءٍيۡشَ لُّكُ ...

Segala sesuatu akan binasa, kecuali wajah-Nya (QS. Al-Qasas: 88) Dan Dia() berfirman:

ﵞ٦١١ ..... كَۚسِفۡنَ ىِف امَ مُلَعۡأَ آَلوَ يسِفۡنَ ىِف امَ مُلَعۡتَ ....

Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu (QS. Al-Ma’idah: 116)

Nabi bersabda dalam hadits yang panjang mengenai syafaat:


“Yaitu manusia akan menemui Adam untuk meminta syafaatnya, mereka akan berkata padanya: Allah telah menciptakan Anda dengan tangan-Nya, meniupkan ruh ciptaanNya dalam diri anda, memerintahkan para malaikat bersujud kepada Anda.”

Tidak benar jika seseorang berkata bahwa yang dimaksud dengan “Tangan” adalah kekuatan. Karena Allah menggunakan kata-kata:

ﵞ ٥٧ ... يَّدَيَبِ تُقۡلَخَ امَلِ ...

kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku (QS. Shad: 75)

Allah menggunakan bentuk tatsniyah (ganda) untuk kata tangan sehingga menakwilnya menjadi kekuatan adalah tidak mungkin.

Tidak pula ada dasar dalam dalil mereka (bahwa Allah menggunakan Tangan dalam bentuk jamak, yang akan menyiratkan Allah memiliki tiga tangan atau lebih) dengan ayat:

ﵞ١٧ نَوكُلِمَٰ اهَلَ مۡهُفَ امٗعَٰنۡأَ آنَيدِيۡأَ تۡلَمِعَ امَّمِ مهُلَ انَقۡلَخَ انَّأَ اْوۡرَيَ مۡلَوَأَﵟ

Dan tidaklah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan tangan Kami, lalu mereka memilikinya? (QS. Yasin: 71)

Pada ayat di atas, Allah menggunakan kata Tangan dalam bentuk jamak agar kedua jamak bisa serasi dari segi lafadz.

Meskipun demikian, dengan sifat-sifat ini, tidak boleh dibayangkan bahwa maksudnya adalah bagian-bagian tubuh, atau perangkat-perangkat, atau anggota-anggota badan. Karena bagian adalah bagian susunan yang membentuk satu kesatuan.

Allah () adalah Esa, Yang Kekal, yang tidak bisa dibagi, Maha Tinggi Allah dari semua itu. Konsep anggota tubuh mengarah pada pembagian. Maha Suci Allah dari semua itu. Anggota-anggota tubuh juga mengandung makna usaha mendapatkan sesuatu dan

mendapatkan manfaat, demikian juga alat-alat dan perangkat-perangkat yang digunakan untuk menghadirkan manfaat dan menolak mudarat. Semua konsep ini dinafikan dari Allah dan tidak disebutkan dalam pembahasan sifat-sifat Allah.

Hal ini dikarenakan konsep atau lafaz syar’i harus memberikan makna yang benar dan bebas dari kemungkinan makna yang batil. Oleh sebab itu, diwajibkan untuk tidak memberikan makna baru pada kata-kata tersebut, baik dalam itsbat ataupun nafi, agar bukan makna salah yang disematkan dan makna yang benar justru disangkal. Tidak dapat dipungkiri bahwa kata-kata yang digunakan disini bias sehingga mungkin untuk disalahgunakan.

Adapun menengai lafaz jihah “arah”, maksudnya bisa arah yang ada (maujud) atau arah yang tidak ada (ma’dum). Sudah ditahui bahwa tidak ada sesuatu yang maujud kecuali Khaliq (pencipta) dan makhluk (yang diciptakan). Oleh sebab itu, jika yang dimaksud dengan “arah,” adalah sesuatu yang ada selain Allah, maka sesuatu itu pasti ciptaan atau makhluk. Adapun Allah, Dia tidak terikat dengan siapapun dan tidak bisa diliputi oleh makhluk-Nya, Maha Suci Allah dari semua itu.

Kemudian, jika yang dimaksud dengan ‘arah’ adalah sesuatu yang tidak ada, yaitu sesuatu di atas alam, maka tidak ada di atas sana kecuali Allah yang Maha Esa. Jika dikatakan bahwa Dia ada pada arah tertentu dengan pengertian ini, maka tidak masalah bila menyatakannya demikian. Maknanya adalah Dia di atas ciptaan-Nya. Dengan kata lain, Dia di atas segala sesuatu, Berkuasa atas segalanya.

Mereka yang menolak istilah “arah” (saat digunakan untuk Allah) – mereka yang bermaksud mengingkari “di atas segalanya” melalui penolakan mereka - berkata membela pernyataan mereka:

“Seluruh arah adalah ciptaan Allah. Dia ada sebelum arah ada. Jika seseorang

mengatakan bahwa Dia ada dalam ‘arah’ tertentu, maka ia menyatakan bawha makhluk telah ada sejak qadim. Begitu juga penetapan arah berkonsekuensi allah berada dalam lingkup “arah” setelah terbebas dan tidak membutuhkannya”

Jenis argumen ini membuat kita yakin bahwa Dia tidak berada dalam bagian apapun dari makhluk-Nya, baik kita menyebutnya arah atau yang lainnya. Tentu saja, ini adalah suatu kebenaran. Namun arah tidak ada dengan sendirinya. Melainkan, sesuatu yang ada karena sudut pandang. Meskipun demikian, tidak ada keraguan tentangnya bahwa arah tidak memiliki batasan dan yang tidak berbatas, tidak memiliki keberadaan (ghayru maujud).

Perkataan Imam Ath-Thahawi: “Allah tidak diliputi arah yang enam sebagaimana semua makhluk yang diciptakan-Nya,” berarti tidak ada makhluk-Nya yang bisa meliputi- Nya. Melainkan Dia meliputi segala hal dan di atas segala hal. Kemudian Ath-Thahawi menjelaskan lebih lanjut, pada karya ini, bahwa Allah, “meliputi segala hal dan Dia di atas segala sesuatu.” Oleh sebab itu, jika kita menggabungkan kedua pernyataan ini, yaitu, “Allah tidak diliputi arah yang enam sebagaimana semua makhluk yang diciptakan-Nya”, dan “Allah meliputi segala hal, Dia berada di atas segala sesuatu” dapat diambil kesimpulan bahwa makna yang dimaksudkan yaitu Dia tidak diliputi oleh apapun, pun tidak ada yang dapat meliputi-Nya berbeda dengan makhluk yang bisa diliputi oleh sesuatu. Allah meliputi segala sesuatu dan bahwa Dia di atas segalanya.

Adapun orang-orang bodoh mereka memiliki khayalan. Diantaranya penggambaran batil mengenai turunnya Allah ke langit dunia, untuk mendengarkan mereka yang berdoa kepada-Nya. Apa yang mereka bayangkan adalah ketika Allah turun, seperti yang diriwayatkan oleh Nabi, maka Arsy berada di atas-Nya kemudian Dia terkurung di antara langit dan bumi. Cara pemikiran ini bertentangan dengan ijma Salaf serta Al-Qur’an, dan Sunnah.

Syaikh al-Islam abu Utsman bin Abdul al-Rahman Ash-Shabuni menyatakan bahwa dia mendengar gurunya Abu Mansur bin Hammad berkata, setelah beliau membicarakan tentang Allah turun ke langit dunia: “Abu Hanifah ditanya mengenai perkara ini, beliau menjawab: “Ya Dia turun, tanpa (kita mampu memahami) bagaimana Dia turun.”

Sebagian tawaquf tentang perkara Istiwa Allah di atas Arsy dan terpisah makhluk- Nya dikarenakan kurangnya pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah dan pendapat para salaf. Mereka malah memilih untuk menolak bahwa Allah di atas Arsy, mereka berkata:

“Dia tidak melekat padanya tidak pula terpisah darinya, demikian pula tidak di dalam maupun diluar”

sehingga mereka menggambarkan-Nya dengan sifat-sifat ketiadaan dan perkara yang mustahil. Mereka tidak mensifati-Nya dengan cara Dia Menggambarkan Diri-Nya dengan sifat Uluw dan Istiwa di atas Arsy.

FASAL: ISRA DAN MIKRAJ


image

Mi’raj adalah haq (benar) adanya, dan Nabi telah diisrakan (oleh Allah). Beliau dimikrajkan ke langit dengan tubuh (jasmani)nya dalam keadaan terjaga, kemudian ke tempat yang paling tinggi sesuai dengan kehendak Allah. Dan Allah memuliakannya dengan apa yang dikehendakiNya. Dan Allah mewahyukan kepada beliau apa yang telah Dia wahyukan ‘Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.’ (An-Najm: 11). Maka shalawat dan salam semoga selalu Allah curahkan kepada beliau di akhirat dan di dunia

Kata mikraj berasal dari wazan mif’al dan memiliki makna alat untuk naik. Fungsinya hampir mirip dengan tangga. Namun tidak ada yang mengetahui bagaimana atau seperti apa. Ini disikapi dengan prinsip yang sama dengan hal ghaib lainnya. Kita meyakininya dan tidak tenggelam dalam mencari periciannya.

Namun, terdapat sejumlah perbedaan pendapat mengenai rincian perjalanan tersebut. Misalnya, telah dinyatakan bahwa perjalanan tersebut melibatkan hanya ruh saja tanpa badan. Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ini adalah pendapat Aisyah. Hasan Al-Basri pun dikatakan memiliki pendapat yang sama.

Meski demikian, perbedaan antara keduanya: “Isra Mikraj terjadi dalam keadaan tidur,” dan, “yang naik adalah ruh Nabi, tanpa raganya”. Ada perbedaan besar antara keduanya. Muawiyah dan Aisyah, semoga Allah merahmati mereka, tidak menyatakan bahwa perjalanan itu terjadi dalam keadaan tidur. Melainkan berkata beliau Isra’ dengan ruhnya dan tidak dengan jasadnya.

Perbedaan di antara kedua perkara adalah bahwa apa yang dilihat oleh orang yang bermimpi boleh jadi merupakan perumpamaan sebagai perbandingan dalam bentuknya yang asli. Dia bermimpi seakan-akan diangkat ke langit dan dibawa ke Mekah, sedangkan ruhnya tidak naik dan tidak pergi. Akan tetapi, malaikat mimpi yang mendatangkan kepadanya perumpamaan tersebut.

Namun Aisyah dan Muawiyah tidak menyatakan bahwa peristiwa ini terjadi dalam mimpi. Apa yang dipahami keduanya adalah bahwa ruhnya saja yang diperjalankan dan berpisah dari jasadnya, kemudian kembali lagi kepadanya. Keduanya berpendapat bahwa

perkara ini merupakan kekhususannya, karena manusia selain beliau, ruhnya baru naik ke langit setelah kematiannya.

Adapula yang berpendapat bahwa Isra’ terjadi dua kali; Sekali dalam keadaan terjaga dan sekali dalam mimpi. Seakan-akan mereka mencoba menyelaraskan hadits yang diriwayatkan oleh Syarik yang memuat pernyataan Nabi: “kemudian saya terbangun,” dan hadits lain mengenai hal itu. Adapula yang berpendapat dua kali (dari sisi lain); Sekali sebelum turunnya wahyu, sekali lagi setelahnya.

Adapula yang berpendapat tiga kali; Sekali sebelum turunnya wahyu dan dua kali sesudahnya. Setiap kali tampak samar oleh mereka, maka mereka tambah sekali untuk mengkompromikannya. Inilah yang dilakukan para ahli hadits yang lemah. Pasalnya, yang disimpulkan oleh ulama adalah bahwa Isra’ terjadi sekali saja, di Mekah, setelah masa kenabian dan setahun sebelum hijrah. Ada yang mengatakan setahun dua bulan sebelum hijrah. Hal ini disebutkan oleh Ibnu Abdul Barr.

Syamsudin Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah telah menyatakan bahwa:

“Sungguh aneh orang-orang itu, mereka menganggap isra’ terjadi berkali-kali. Bagaimana mereka bisa menyangka bahwa pada setiap kali nabi menerima kewajiban 50 sholat, kemudian beliau bolak-balik di antara Rabbnya dengan Musa, hingga shalat menjadi lima waktu? Kemudian, Allah berfirman: “Aku telah memberlakukan kewajiban yang Aku tetapkan dan meringankan hamba-hambaKu.” Kemudian Allah mengembalikannya ke 50 pada kali kedua, kemudian menguranginya lagi menjadi lima. Para huffazh telah menyatakan kekeliruan Syarik pada lafadz-lafadz hadits Isra. Muslim meriwayatkan hadits yang bersanad darinya, kemudian dia berkata: “Dia mendahulukan dan mengakhirkan, menambah dan mengurangi, dan dia tidak memaparkan hadits (secara lengkap dan baik).” Perkataan Imam Muslim ini bagus.”

Di antara hadits tentang Isra’ yang shahih adalah bahwa beliau di Isra’kan dengan jasadnya dalam keadaan terjaga, dari Masjidil Haram hingga masjidil Aqsha. Dengan mengendarai Buraq.

Bukhari meriwayatkan:

“Hudba bin Khalid mengisahkan dengan mendengar dari Hammam bin Yahya, dia dari Qatadah, dari Anas bin Malik, dari Malik bin Sa’sa’ah, semoga Allah merahmati mereka semua bahwa Nabi memberitahu mereka tentang perjalanan malam tersebut dengan berkata: “Ketika aku berada di Hatim” - atau beliau berkata “Hijr, berbaring, datanglah seseorang yang membelah dadaku,’ Qatadah berkata, ‘aku mendengar Rasul berkata: ‘dia membelahku dari sini ke sini,’ Aku (Qatadah) bertanya kepada Jarud yang berada di sampingku, ‘Apa maksudnya?’ Dia menjawab: ‘Dari leher sampai bagian bawah perut.’ Aku juga mendengarnya mengatakan: ‘Dari tulang dada sampai ke pusar’ - dan mencucinya dengan air Zamzam. Kemudian dia membawa sebuah mangkuk besar dari emas, penuh dengan hikmah dan iman lalu menumpahkannya ke dalam dadaku. Setelah itu, dia menutupnya kembali. Lalu dibawakan ke hadapanku seekor Buraq—lebih besar daripada keledai tetapi lebih kecil daripada bagal (peranakan kuda dengan keledai). Dia (buraq tersebut) melangkahkan kakinya sejauh mata memandang. Aku mengendarainya hingga tiba di Baitul Maqdis. Kemudian aku

menambatkannya di tempat para nabi menambatkan kendaraan mereka. Aku memasuki masjid dan shalat dua raka’at. Setelah selesai, aku keluar. Tiba-tiba, Jibril ‘Alaihissalam datang membawa semangkuk susu dan semangkuk khamar. Aku memilih susu. Jibril ‘Alaihissalam berkata, “Engkau telah memilih fitrah.”

Kemudian dia menarik tanganku dan membawaku naik ke langit dunia. Ketika sampai di langit dunia, Jibril ‘Alaihissalam berkata kepada penjaganya, “Bukalah!” Penjaga itu berkata, “Siapa ini?”

Dia menjawab : “Jibril.”

Penjaga itu bertanya lagi: “Siapa yang bersamamu?”

Jibril ‘Alaihissalam menjawab: “Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Penjaga itu bertanya lagi: “Apakah dia sudah diutus?”

Kata Jibril ‘Alaihissalam: “Ya.”

Setelah pintu itu dibuka, kami naik ke langit dunia dan di sana telah ada seseorang yang sedang duduk. Di sebelah kanan dan kirinya ada bayangan sosok hitam-hitam. Jika menoleh ke kanan, dia tertawa, tetapi jika menengok ke kiri, dia menangis. Kemudian dia berkata, “Selamat datang nabi yang shalih dan putra yang shalih.”

Aku bertanya kepada Jibril ‘Alaihissalam, “Siapa dia?” Jibril ‘Alaihissalam menjawab, “Dia Adam. Adapun yang di sebelah kanan dan kirinya itu adalah roh anak-anak cucunya. Yang di sebelah kanan adalah ahlul jannah (penduduk surga), sedangkan yang di sebelah kiri adalah penduduk neraka. Kalau dia melihat ke kanan dia tertawa dan bila melihat ke kiri dia menangis.”

Kemudian Jibril membawaku naik sampai langit kedua dan berkata kepada penjaganya, “Bukalah.” Lalu berkata penjaga langit tersebut seperti apa yang dikatakan penjaga langit pertama, lalu terbukalah. Berkata Anas bin Malik, “Beliau menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa Adam, Idris, Isa, Musa, Ibrahim di langit, tetapi tidak menjelaskan kedudukan mereka kecuali hanya beliau berjumpa dengan Adam di langit dunia, Ibrahim di langit keenam.”

Beliau meneruskan ceritanya: Ketika Jibril dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa Nabi Idris, beliau (Nabi Idris) berkata, “Selamat datang nabi yang shalih dan saudara yang shalih.” Kemudian beliau berlalu dan aku bertanya (kepada Jibril), “Siapakah dia?” Jibril menjawab, “Idris.” Beliau berkata: Lalu aku berjumpa Nabi Musa dan beliau berkata, “Selamat datang nabi yang shalih dan saudara yang shalih.” Lalu aku bertanya, “Siapakah dia?” Jibril menjawab, “Itu Musa.” Lalu aku berjumpa nabi Isa dan beliau berkata, “Selama datang nabi dan saudara yang shalih.” Aku bertanya, “Siapakah dia?” Dijawab, “Itu Isa bin maryam.” Lalu berjumpa nabi Ibrahim dan berkata, “Selamat datang nabi dan anak yang shalih.” Beliau berkata: Lalu saya bertanya, “Siapakah dia?” Dia (Jibril) menjawab, “Itu Ibrahim.”

Di langit ke-7, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang bersandar di Baitul Ma’mur yang setiap harinya sekitar 70.000 malaikat

memasukinya. Bila mereka keluar darinya, maka tidak akan masuk lagi selamanya. Setelah itu beliau dibawa ke Sidratul Muntaha yang tak satu pun makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat menerangkan keindahannya. Sesampainya di Sidratul Muntaha, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apa yang Dia kehendaki. Kemudian menetapkan kewajiban shalat lima puluh kali sehari semalam.

Setelah menerima perintah ini, beliau kembali turun. Di langit ke-6, beliau bertemu dengan Nabi Musa ‘Alaihissalam. Nabi Musa ‘Alaihissalam dan bertanya, “Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan atas umatmu?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, “Lima puluh kali shalat.”

Nabi Musa ‘Alaihissalam menyarankan, “Kembalilah, mintalah keringanan! Karena umatmu tidak akan sanggup. Aku sudah pernah menguji Bani Israil.”

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meminta keringanan hingga beberapa kali. Kemudian Allah Radhiallahu’anhu menyatakan, “Wahai Muhammad. Itulah lima shalat fardhu sehari semalam, masing-masing shalat pahalanya sepuluh kali lipat, maka sama dengan lima puluh kali shalat. Siapa yang berniat mengerjakan kebaikan namun tidak mengerjakannya, ditulis untuknya satu kebaikan. Bila dia kerjakan, ditulis untuknya sepuluh kebaikan. Sebaliknya, siapa yang berniat mengerjakan kejelekan dan tidak dikerjakannya, maka tidak dicatat. Bila dia kerjakan maka ditulis satu kejelekan.”

Nabi pun melanjutkan, (kata perawi): “Ketika aku menyeberangi neraka, suara pun menyerukan: “Aku telah menetapkan kewajiban (yang Aku tetapkan) dan meringankan hamba-hamba-Ku.” 80

Humaidi meriwayatkan dari Sufyan, dari Amr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan tentang firman Allah (ﷻ):

ﵞ ٠٦ ... ةٗنَتۡفِ اَّلإِ كَنَٰيۡرَأَ يٓتِلَّٱ ايَءۡرُّلٱ انَلۡعَجَ امَوَ...

Dan Kami tidak menjadikan mimpi, yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia (QS. Al-Isra: 60)

bahwa ayat ini mengacu pada penglihatan Rasulullah di malam beliau diperjalankan ke Bait Al-Maqdis.

Perbedaan pendapat terjadi di kalangan Sahabat mengenai apakah Nabi melihat Allah dengan mata secara fisik ataukah tidak? Yang benar adalah beliau melihat-Nya dengan mata batin dan tidak dengan mata secara fisik.

Adapun firman Allah (ﷻ):


image

80 Diriwayatkan oleh Bukhari (3207, 3887) dan Muslim (164)

ﵞ٣١ ىٰرَخۡأُ ةًلَزۡنَ هُاءَرَ دۡقَلَوَ ٢١ ىٰرَيَ امَ ىَٰلعَ ۥهُنَورُمَٰتُفَأَ ١١ ىَٰٓ أَرَ امَ دُاؤَفُلۡٱ بَذَكَ امَ ﵟ

Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihat-Nya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihat-Nya itu. Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain. (QS. An-Najm: 11-13)

Riwayat yang shahih dari nabi menyatakan bahwa Jibril-lah yang disebut dalam ayat di atas. Itu adalah kali yang kedua beliau (nabi) menyaksikan Jibril dalam wujud aslinya.

Adapun firman Allah () dalam surah An-Najm berikut ini:

ﵞ ٨ ىَّٰلدَتَفَ انَدَ مَّثُﵟ

Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, (QS. An-Najm: 8)

Kata “dekat” dan “bertambah dekat lagi” tidak terkait dengan Isra Mikraj. Melainkan, yang dibicarakan adalah Jibril yang mendekat dan bertambah dekat, seperti yang dikabarkan oleh Aisyah dan Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhuma tentang firman Allah (ﷻ):

ﵞ ٨ ىَّٰلدَتَفَ انَدَ مَّثُ ٧ ىَٰلعۡأَۡلٱ قِفُأُۡلٱبِ وَهُوَ ٦ ىٰوَتَسۡٱفَ ةٖرَّمِ وذُ ٥ ىٰوَقُلۡٱ دُيدِشَ ۥهُمَلَّعَﵟ

Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang keteguhan, dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi (QS. An-Najm: 5-8)

Masing-masing kata ganti pada ayat di atas mengacu pada sesuatu yang ‘sangat kuat’. Adapun ‘mendekat dan lebih mendekat lagi’, yang dibicarakan Nabi tentang Isra Mikraj adalah mendekat dan lebih mendekat kepada Allah (). Adapun kata-kata yang terdapat

dalam surah An-Najm, yaitu Nabi melihatnya, dalam perjalanan turunnya dari langit yang

kedua di Sidratul Muntaha, yang dilihat di sini adalah Malaikat Jibril. Nabi melihatnya dua kali dalam wujud aslinya: sekali di bumi dan kedua kalinya di Sidratul Muntaha.

Adapun dalil untuk pendapat bahwa Isra Mikraj keadaan terjaga, maka maka yang dikandung dalam surah Al-Isra ini merupakan dalil yang kuat. Allah () berfirman:

ﵞ١ .... اصَقۡأَۡلٱ دِجِسۡمَلۡٱ ىَلإِ مِارَحَلۡٱ دِجِسۡمَلۡٱ نَمِ الٗيۡلَ ۦهِدِبۡعَبِ ىٰرَسۡأَ يٓذِلَّٱ نَحَٰبۡسُﵟ

Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. (QS. Al-Isra: 1)

Lafaz “hamba” adalah kalimat yang mengandung makna jasad dan ruh. Sebagaimana manusia, adalah gabungan dari fisik dan ruh. Inilah yang dikenal secara mutlak. Inilah pendapat yang benar. Dapat disimpulkan bahwa Isra’ Mikraj terjadi dengan kedua unsur tersebut. Hal itu tidak terhalang secara logika. Seandainya naiknya malaikat dengan jasad dan ruh tidak dapat diterima, maka turunnya malaikat dengan jasad dan ruh (dari langit) juga tidak dapat diterima. Akibatnya, hal ini akan berujung pada pengingkaran terhadap kenabian. Dan ini merupakan kekufuran.

Jika ditanyakan apakah hikmah Isra’ Mikraj dimulai dengan perjalanan ke Baitul Maqdis terlebih dahulu? Jawabannya adalah –Wallahu a’lam–, bahwa hal itu untuk membuktikan kebenaran berita Nabi (ﷺ) tentang mikraj ke langit. Ketika suku Quraisy meminta beliau untuk menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis, maka beliau langsung menjelaskannya. Seandainya Mikraj langsung terjadi dari Mekkah secara langsung, niscaya hikmah ini tidak terwujud, sebab nabi tidak bisa menggambarkan apa yang beliau lihat di langit pada orang-orang Qurasisy, berbeda dengan Baitul Maqdis, suku Quraisy sudah melihatnya, sehingga ketika beliau mendeskripsikannya, mereka mengetahui apa yang dijabarkan oleh beliau.

Tentu saja terdapat sejumlah dalil untuk Sifat ‘Uluw (ketinggian) Allah mengenai peristiwa ini (perjalanan ke atas langit) bagi mereka yang merenungkan.

FASAL: TELAGA RASULULLAH


image

Dan telaga Haudh (Telaga milik Rasulullah di Hari Kiamat) yang dengannya Allah memuliakan beliau dan sebagai air minum bagi umat beliau, adalah benar adanya.

Riwayat yang membahas tentang Telaga begitu banyak sampai mencapai derajat mutawatir. Sekitar tiga puluh Sahabat telah meriwayatkan tentang hal itu. Guru besar kami Imaduddin Ibnu Katsir, semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya, telah mengumpulkan semua riwayat itu dalam karya bidang sejarahnya yang dikenal sebagai Al-Bidayah wa al-Nihayah.

Di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari. Bukhari meriwayatkan dari Anas mengabarkan bahwa Nabi (ﷺ) berkata:

»ءِاما سَّلا مِوُُنُ دِدا عا اك قِيرِِبااْلْا انمِ هِيفِ نَّإِوا ،نِماايلْا انمِ اءاعا نْاص َلاإِ اةال يْاأ ّيا ْاب اما اك ي ضِوْاح رادْاق نَّإِ«

“Ukuran telagaku adalah seperti antara Aylah (kota pesisir di Laut Merah) hingga Shan’a di Yaman, dan disana ada cawan-cawan sebanyak bintang-bintang di langit.” 81

Yang bisa disimpulkan dari hadits adalah bahwa telaga ini sangat besar, tempat minum yang mulia, berhulu dari sungai Surga, yaitu Sungai Al-Kautsar. Airnya lebih putih daripada susu, lebih dingin dari salju, lebih manis dari madu, lebih harum dari kesturi. Panjang dan lebarnya sama, setiap sudut ke sudut adalah perjalanan satu bulan. Maha Suci Allah yang tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.

Sejumlah riwayat mengabarkan bahwa setiap Nabi akan memiliki telaga, tetapi telaga Nabi kita adalah yang paling besar, yang paling manis airnya dan paling banyak pengunjungnya, semoga Allah menjadikan kita salah satu dari mereka yang mengunjunginya dengan rahmat dan ampunan-Nya.


image

81 Diriwayatkan Bukhari (6580) da Muslim (2303)

FASAL: SYAFAAT


image

Syafaat yang beliau simpan (tangguhkan) bagi mereka adalah benar adanya, sebagaimana yang diriwayatkan dalam banyak hadits

Syafaat itu terdiri dari beberapa jenis: diantaranya ada yang disepakati oleh umat Islam dan di antaranya ada yang ditentang oleh Muktazilah dan yang semisal mereka dari golongan ahli bid’ah.

Syafaat Pertama adalah syafaat Uzhma. Syafaat ini diberikan khusus kepada Nabi kita, yang tidak diberikan pada saudara nabi-nabi lainnya –semoga sholawat Allah tercurah pada mereka semua–. Sejumlah Sahabat telah meriwayatkan tentang syafaat ini yang tercatat dalam Shahihain dan koleksi riwayat lainnya.

Salah satunya adalah:

ءِاان ثَّلا نِسْحُوا هِدِمِااُما نْمِ ِنِمُهِلُْ يوا يَّلاعا ُّللَّا حُاتفْا ي ثَُّ ،لَّاجوا زَّعا ّب رِالِ ادًجِااس عُاقاأاف ،شِرْعالْا اتُْتا ِتِآاف

:لُوقُاأاف ،عْفَّاشتُ عْفا شْا ،هْاطعْ تُ لْاس ، اكاسأْرا عْافرْا ،دُمَّاُمُ َيا :لُاقا يُ اف ،يلِاب اق دٍاحاأ ىلاعا هُحْتافْا ي اَْل ائً يْاش هِيْلاعا

هِيْالعا ابااسحِ َلا نْما اكتِمَّأُ نْمِ لْخِدْاأ :لُوقُ اي اف ،ِتِمَّأُ ِتِمَّأُ ب ِ را َيا ،ِتِمَّأُ ِتِمَّأُ ب ِ را َيا ،ِتِمَّأُ ِتِمَّأُ ب ِ را َيا

يسِفْ ان يذِلَّاوا :لاااق ثَُّ ،بِاوا بْاْلْا انمِ هُاواسِ اما يفِ سِانَّلا ءُااكراشُ مْهُوا ،ةِنَّاْلْا بِاوا بْاأ نْمِ نِاَيْْلْاا بِاابلْا انمِ

»ىراصْبُوا اةكَّما ّيا ْاب اما اك وْاأ ،رااجهاوا اةكَّما ّيا ْاب اما اك ةِنَّاْلْا عِيرِااصما نْمِ ّيِْعا اراصْمِ ّيا ْاب اما لِ ،هِدِايبِ

“Aku pun bangkit lalu pergi hingga sampai di bawah Arsy, lalu aku bersujud kepada Tuhanku (). Kemudian Allah akan membukakan padaku dari pujian-pujian kepadaNya dan sanjungan yang bagus kepadaNya apa yang belum pernah dibukakanNya untuk seorang pun sebelumku. Kemudian dikatakan: “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, maka permintaanmu dipenuhi dan syafaatilah, maka syafaatmu diperkenankan’. Aku pun mengangkat kepalaku seraya berkata: ‘Umatku, umatku, wahai Tuhanku’ ‘Umatku, umatku, wahai Tuhanku.’ Allah akan berfirman: “Wahai Muhammad, masukkanlah dari umatmu orang-orang yang tidak dihisab dari pintu kanan (karena amal baiknya melebihi amal buruknya). Mereka akan masuk ke pintu yang sama dengan manusia lainnya berkenaan dengan pintu-pintu lainnya.’ Kemudian Nabi menambahkan: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, lebar pintu itu setara dengan jarak antara Mekkah dan Hijr (suatu tempat di Hijaz), atau jarak antara Mekah dan Basrah.” 82

Syafaat Kedua adalah syafaat nabi bagi mereka yang timbangan amal kebaikannya sama dengan amal buruknya. Beliau akan memberi syafaat kepada mereka, sehingga mereka masuk surga.


image

82 Diriwaytkan oleh Ahmad (2/435). Diriwayatkan yang semakna oleh Bukhari (4712) dan Muslim (194)

Syafaat Ketiga adalah syafaat bagi mereka yang seharusnya masuk Neraka, namun tidak memasukinya.

Syafaat Keempat adalah syafaat untuk menaikkan derajat penghuni surga, lebih dari tuntutan pahala amal perbuatan mereka. Muktazilah menerima syafaat yang satu ini, namun menolak yang lainnya, meskipun sejumlah riwayat mengabarkan tentang masalah ini.

Syafaat Kelima akan diberikan kepada orang-orang agar masuk surga tanpa hisab. Dalilnya adalah hadits dari Ukasya bin Muhsin tentang perkara ini. Nabi mendoakannya agar menjadi salah satu dari tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa penghisaban. Hadits ini terdapat dalam Bukhari dan Muslim.

Syafaat Keenam adalah syafaat untuk meringankan azab bagi orang yang berhak mendapatkannya. Contohnya, syafaat Nabi untuk pamannya Abu Thalib agar azab diringankan darinya. Al-Qurtubi telah mengajukan pertanyaan dan menjawabnya dalam kitab Al-Tadzkirah ketika membahas jenis syafaat ini. Jika ditanyakan bagaimana bisa, sedangkan Allah telah menyatakan:

ﵞ٨٤ نَيعِفِشَّٰلٱ ةُعَفَٰشَ مۡهُعُفَنتَ امَفَﵟ

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat” (QS. Muddatsir: 48)

Jawabannya adalah syafaat tidak akan mengeluarkannya dari Neraka, sebagaimana syafaat yang berlaku bagi orang-orang beriman yang diangkat dari neraka kemudian dimasukkan ke surga.

Syafaat Ketujuh yaitu syafaat dimana setiap mukmin dibolehkan masuk surga seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Shahih Muslim meriwayatkan hadits dari Anas, yang mengabarkan bahwa Nabi telah bersabda:

»ةِنَّاْلْا ِفِ عٍيفِاش لُوَّاأ َنااأ«

“Aku adalah pemberi syafaat pertama untuk masuk surga.” 83

Syafaat Kedelapan diberikan kepada pelaku dosa-dosa besar dari umat beliau yang masuk neraka agar dikeluarkan darinya. Banyak riwayat yang telah sampai pada kita terkait dengan syafa’at ini. Namun hal ini terluput dari Muktazilah dan Khawarij sehingga mereka menyangkalnya. Hal ini disebabkan mereka tidak mengetahui hadits-hadits shahih yang membahasnya dan memilih menentang serta mempertahankan bid’ahnya.

Para malaikat, nabi dan mukmin secara umum juga memiliki syafaat ini. Syafaat ini terulang dari nabi sebanyak empat kali. Suatu riwayat yang menjabarkan hal ini dari Anas bin Malik. Nabi (ﷺ) bersabda:


image

83 Diriwayatkan oleh Muslim (196)

»ِتِمَّأُ نْمِ رِئِااباكلْا لِهْْلِا ِتِعا افا اش«

“Syafaatku untuk pelaku dosa-dosa besar dari umatku” 84

Berdasarkan syafaat itulah, manusia terbagi ke dalam tiga kategori. Kategori yang pertama adalah kaum musyrikin, orang-orang Nasrani, dan para ahli bid’ah dari kalangan orang-orang yang taklid buta kepada guru-guru mereka. Mereka meyakini bahwa yang mereka agungkan akan menjadi perantara mereka di hadapan Allah seperti halnya syafaat untuk urusan duniawi.

Muktazilah dan Khawarij tidak meyakini syafaat nabi bagi pelaku dosa besar. Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini syafaat Nabi bagi pelaku dosa besar. Mereka juga meyakini syafaat dari yang lainnya. Namun, mereka menambahkan penjelasan bahwa tidak ada yang bisa memberikan syafaat tanpa seizin Allah, dan selanjutnya mereka pun tetap harus berada dalam batasan seperti yang dikabarkan oleh riwayat yang shahih. Sebagai contoh, ada satu riwayat yang menyatakan

اوبُها ذْا :مُالاسَّلا هِيْالعا ىاسيعِ مَُْلا لُوقُ اي اف ،ىاسيعِ ثَُّ ،ىاسومُ ثَُّ ،اميهِارا بْإِ ثَُّ ،احًونُ ثَُّ ،امادآ انوتَُْيا مَُْنَّإِ«

تُرْرااخ ّب رِا تُيْاأرا ااذإِفا ، بُها ذْأااف ،ِنِوتُأْاي اف ،راخَّاَتا اماوا هِبِنْاذ نْمِ امدَّقا ات اما هُال ُّللَّا رافاغا دٌبْعا هُنَّإِاف ،دٍمَّاُمُ َلاإِ

لْقُوا ، اكاسأْرا عْافرْا ،دُمَّاُمُ يْاأ :لُوقُ اي اف ،انْلْا اها نُسِحْأُ َلا ،يَّلاعا اها حُتافْا ي دا مِااحاِبِ ّب رِا دُاْحْاأاف ،ادًجِااس هُال

ِلِ دُّحُاي اف ،دُجُسْاأاف قُلِاطنْاأ ثَُّ ،اةنَّاْلْا مُهُلُخِدْأُاف ،ادًّاح ِلِ دُّحُيا اف ،ِتِمَّأُ ّب رِا :لُوقُأااف ،عْفَّاشتُ عْفا شْاوا ،عْما سْيُ

»تٍارَّما اثالااث اهارااكاذ ادًّاح

“Sesungguhnya mereka akan datang kepada Nabi Nuh kemudian Ibrahim, kemudian Nabi Musa kemudian Nabi Isa, lalu Isa berkata kepada mereka: “Pergilah kepada nabi Muhammad. Seorang hamba yang Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang.” Mereka pun mendatangiku. Aku pun bangkit lalu pergi hingga aku melihat tuhan-Ku, lalu aku bersujud kepada-Nya. Lalu Aku memujiNya dengan pujian-pujian yang Ia ajarkan padaku dan aku tidak bisa mengatakannya saat ini. Allah berfirman: “Wahai Muhammad angkatlah kepalamu. Berkatalah, maka perkataanmu didengar, dan syafa’atilah maka syafaatmu diperkenankan. Aku berkata: “Umatku wahai Tuhanku.” Lalu Dia menetapkan batasan untukku, aku memasukkan mereka ke dalam Surga, kemudian aku beranjak lalu aku sujud, lalu Allah menetapkan batasan untukku.” Nabi mengulanginya tiga kali. 85

Adapun mencari syafaat Nabi, atau syafaat dari yang lainnya, di dunia ini, dalam doa, maka syafaat tersebut membutuhkan penjelasan. Terkadang yang bermunajat akan berkata: “Dengan hak yang dimiliki fulan dan fulan (maka berikanlah aku ini dan itu).” Dia bersumpah kepada Allah dengan nama salah satu makhluk-Nya. Hal ini dilarang karena dua


image

84 Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4739), At-Tirmidzi (2435), dan Ahmad (3/213)

85 Diriwaytkan oleh Ahmad (2/435). Diriwayatkan yang semakna oleh Bukhari (4712) dan Muslim (194)

alasan. Pertama, dia bersumpah atas nama orang lain selain Allah, yang dilarang. Yang kedua ia meyakini seseorang memiliki hak atas Allah. Namun, tidak ada satupun yang berhak atas Allah kecuali yang telah Dia wajibkan pada diri-Nya, misalnya:

ّيا نِمِؤْمُلْا رُصْان اان يْلاعا اقًّاح انااكوا

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang beriman (QS. Ar-Rum: 47)

Sebuah hadits juga menyatakan hal ini, Muadz berkata:

َلاوا هُودُبُعْا ي نْاأ مْهِيْلاعا هُقُّاح ::لاااق ،مُلاعْاأ هُلُوسُراوا ُّللَّا : تُلْ قُ ؟هِدِاابعِ ىلاعا ِّللَّا قُّاح اما يرِدْاتاأ ،ذُاعا مُ َيا«

مْهُقُّاح :لاااق ،مُالعْاأ هُلُوسُراوا ُّللَّا : تُلْ قُ ؟ اكلِاذ اولُعا اف ااذإِ ِّللَّا ىلاعا دِاابعِلْا قُّاح اما يرِدْاتاأ ،ائً يْاش هِبِ اوكُِرشْيُ

»مُِْباذِ عاُ ي َلا نْاأ هِيْالعا

“Aku pernah dibonceng oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Wahai Mu’âdz! Tahukah engkau apa hak Allâh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi oleh Allâh?’ Aku menjawab, ‘Allâh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Hak Allâh yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allâh ialah sesungguhnya Allâh tidak akan menyiksa orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.’ 86

Semua ini adalah hak yang diwajibkan Allah atas diri-Nya yang akan terwujud. Bukan karena seorang hamba berhak mendapatkan sesuatu dari Tuhannya sebagai suatu hak seperti hak sebagian makhluk atas makhluk lainnya. Allah adalah Maha Pemberi kepada hamba-hamba-Nya. Jika ada hak hamba atas Allah, maka itu adalah hak karena janji-Nya. Contohnya Allah tidak menghukum mereka. Meskipun demikian, bukan berarti seseorang bisa bersumpah dengan hak tersebut, atau menggunakannya sebagai sarana. Hanya Allah yang berhak menyatakan sesuatu sebagai sebab.

Begitulah hadits Abu Sai’d al-Khudri yang terdapat dalam Musnad Ahmad dibawah ini harus dipahami. Hadits tersebut menjelaskan doa Nabi bagi mereka yang harus bergegas menuju sholat:

» اكيْالعا ّيا لِئِاسَّلا ق ِ اِبِوا ،اذا ها ايااشِْما ق ِ اِبِ اكلُاأسْاأ«

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan semua orang yang memohon kepada-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu dengan berkat perjalananku (ke masjid) ini.” 87

sehingga ini adalah hak bagi mereka yang meminta yang Allah wajibkan atas Diri-Nya sendiri. Itu lah yang menjadikan-Nya menjawab doa para Hamba dan memberi pahala bagi orang-orang Shalih. Seorang pujangga membuatnya dalam suatu bait:


image

86 Diriwayatkan oleh Bukhari (2856) dan Muslim (30)

87 Dhaif. Diriwaytkan oleh Ahmad (3/21) dan Ibnu Majah (778). Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (24)

Hamba-hamba tidak punya hak wajib atas Allah

Tidak sama sekali, (tetapi) tidak pula ada usaha sia-sia di sisi-Nya

Bila mereka diazab, maka itu dengan keadilan-Nya, atau bila mereka diberi nikmat,

Maka (itu) dengan karunia-Nya. Dialah Yang Pemurah lagi Maha Luas karuniaNya

Jika yang dikatakan adalah apa perbedaan antara pernyataan seorang hamba: “dengan hak semua orang yang memohon kepada-Mu,” dan dengan mengatakan: “Dengan hak Nabi- Mu?”

Jawabannya adalah makna pernyataan yang pertama ialah sebagai berikut:

“Engkau telah berjanji untuk menjawab doa-doa mereka yang memohon kepada-Mu dan aku adalah salah satu dari mereka yang memohon. Oleh karenanya jawablah doa- doaku.”

Bila dibandingkan, dengan mengatakan, “Dengan haknya fulan dan fulan,” meskipun jika orang tersebut berhak atas Allah karena janji Allah padanya, namun akan menjadi seperti berkata: “Jawablah doaku, ya Allah, karena fulan dan fulan adalah orang yang sholeh.”

Ada perbedaan mendasar antara dua pernyataan tersebut. Menggunakan ungkapan di atas adalah melampaui batas. Padahal Allah telah memerintahkan kita untuk:

ﵞ٥٥ نَيدِتَعۡمُلۡٱ بُِّحيُ اَل ۥهُنَّإِۚ ةًيَفۡخُوَ اعٗرُّضَتَ مۡكُبَّرَ اْوعُدۡٱﵟ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendahdiri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS. Al-A’raf: 55)

Ungkapan yang kita bahas (yaitu dengan hak fulan dan fulan) adalah lafaz yang digunakan oleh para ahli bid’ah. Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi ataupun para sahabah, ataupun tabi’in dan para imam pernah menggunakan kata-kata tersebut. Semua ini hanya bisa ditemukan pada dinding-dinding benteng-benteng dan bangunan-bangunan dicorat-coret oleh orang-orang tak berilmu dan pengikut-pengikut Sufi. Doa adalah salah satu bentuk ibadah terbaik dan ibadah harus dilaksanakan berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah bukan berdasarkan nafsu dan bid’ah.

Apabila dengan lafaz tersebut seseorang berniat untuk bersumpah kepada Allah dengan hak fulan dan fulan, maka itupun dilarang. Tentu saja, bersumpah atas nama makhluk dengan hak makhluk lainnya pun tidak diperkenankan. Kemudian bagaimana bila bersumpah atas nama Allah? Rasulullah (ﷺ) telah bersabda:

»كاراشْاأ دْقا اف ِّللَّا ْيِْاغبِ افالاح نْما«

“Barangsiapa bersumpah selain dari pada Allah, maka dia telah berbuat syirik.’ 88

Sehingga, Abu Hanifah dan dua muridnya yang paling dekat telah berkata: “Tidak diperbolehkan bagi kita untuk mengatakan: “Aku memohon kepada-Mu atas hak fulan dan


image

88 Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/69) dan Abu Dawud (3251). Lihat Irwa Al-Ghalil (2561)

fulan” atau “atas hak Nabi dan Rasul,” atau “dengan hak Baitul Haram atau tempat suci Mekkah lainnya,’ dan sebagainya. Bahkan Abu Hanifah dan Muhammad bin Al-Hasan Asy- Syaibani telah berpendapat bahwa tidak disukai seseorang berdoa dengan mengatakan: “Aku memohon kepada-Mu dengan Kehormatan Arsy-Mu.” (Imam) Abu Yusuf membolehkannya sebelum dia mengetahui riwayat yang melarangnya.

Terkadang, seorang yang berdoa berkata:

“Dengan Kedudukan fulan di sisi-Mu dan sebagainya.”

Atau

“Kami bertawasul kepadaMu dengan nabi-Nabi-Mu, para Utusanmu dan para wali- Mu”

Maksudnya:

“Karena fulan memiliki kedudukan, kemuliaan dan tempat yang baik di sisiMu maka kabulkanlah doa kami.”

Semua pernyataan ini pun tidak bisa diterima. Andaikan itu merupakan tata cara berdoa yang digunakan para sahabah selama Nabi masih hidup, maka tentu saja mereka akan terus melakukannya hingga sepeninggal beliau.

Mereka hanya memintanya sebagai wasilah atau perantara hanya saat beliau masih hidup, dengan meminta beliau untuk mendoakan mereka dan mengaminkan doanya. Misalnya ketika berdoa meminta hujan atau hal lainnya. Namun, sepeninggal beliau, ketika mereka harus sholat Istisqa, Umar berkata dalam doanya:

اان ِيبِان م ِ عابِ اكيْالإِ لُسَّوا ات ان َنَّإِوا ،اان ايقِسْات اف اان ِيبِانبِ اكيْالإِ لُسَّوا ات ان اان بْدا جْاأ ااذإِ انَّكُ َنَّإِ مَّهُلَّلا

“Ya Allah dulu kami tertimpa kekeringan, kami bertawasul kepadaMu dengan Nabi-Mu lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami. Sekarang kami bertawasul kepadaMu dengan paman NabiMu.’ 89

Makna: “dengan Nabi-Mu” adalah dengan doa beliau, syafaat, dan permohonannya. Beliau tidak bermaksud mengatakan: “Kami bersumpah atas-Mu dengan nabiMu,” atau ‘Kami memohon kepada-Mu dengan kedudukan beliau di sisi-Mu.’ Apabila maksudnya demikian, niscaya kedudukan Nabi lebih agung di hadapan Allah daripada pamannya.

Ada pula yang berkata dalam doa mereka:

“Aku memohon kepada-Mu dengan ittiba’ku pada Nabi-Mu, cintaku pada beliau, imanku pada beliau dan para Nabi-Mu dan pembenaranku terhadap mereka (sebagai nabi dan utusan yang asli).’

Inilah salah satu bentuk doa, tawasul, dan permohonan doa yang terbaik.

‘Tawasul’ dengan seseorang dan memohon dengannya membutuhkan penjelasan lebih lanjut karenanya banyak orang tidak memahami maknanya, salah mengartikannya. Karena


image

89 Diriwayatkan oleh Bukhari (1010, 3710)

maksudnya:

  1. Menjadikan orang tersebut sebagai sebab dengan menjadikannya orang yang berdoa dan pemberi syafaat -ini semasa hidupnya-, atau

  2. Karena orang yang berdoa itu mencintainya, menaati perintahnya, dan meneladaninya: maka jadi tawasulnya bisa dengan doa wasilah dan syafaatnya, atau dengan kecintaan kepadanya dan ittiba kepadanya.

  3. Bisa juga tawasul dengan seseorang bisa bermakna bersumpah atas Allah dengan orang tersebut dan bertawasul dengan dzatnya, makna yang kedua inilah yang dibenci dan dilarang para ulama.

Aturan yang sama pun berlaku untuk berdoa dan bertawasul dengan suatu amal kebaikan. Terkadang niatnya adalah untuk berdoa dengannya sebagai wasilah, agar tindakan tersebut menjadi sebab dikabulkannya doa. Di kesempatan lain, niatnya adalah untuk bersumpah dengannya.

Contohnya yaitu hadits tentang tiga orang pemuda yang terjebak di dalam gua. Hadits ini masyhur diriwayatkan dalam Shahihain. Sebuah batu besar menutup mulut gua. Mereka memohon pertolongan Allah dengan menyebutkan amal kebaikan mereka sebagai wasilah. Masing-masing dari mereka berkata: “Bila aku melakukan itu dalam rangka mencari wajah- Mu, maka bebaskan kami dari apa yang menimpa kami ini.” Maka batu besar itupun bergeser dan akhirnya mereka pun keluar dari gua tersebut. Ketiga orang ini berdoa dengan wasilah amal kebaikan mereka sendiri. Yang pasti memohon dengan amal kebaikan seseorang merupakan salah satu cara berdoa yang terbaik kepada Allah. Dia (Allah) berjanji untuk menjawab doa tersebut bagi mereka yang berbuat kebaikan dan Dia akan memberikan lebih banyak lagi kepada mereka.

Singkatnya, syafaat di sisi Allah tidak seperti syafaat di sisi manusia. Tidak ada satupun yang bisa memberi syafaat Allah tanpa seizin-Nya. Dia sendiri yang membuat

keputusan itu. Allah () berfirman:

ﵞ٤٥١ ... ِّٰۗٓلِلَِّ ۥهُلَّكُ رَمۡأَۡلٱ نَّإِ لۡقُ ....

Katakanlah: Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah (QS. Al-Imran: 154)

Allah () pun berfirman:

ﵞ٨٢١ ... ءٌيۡشَ رِمۡأَۡلٱ نَمِ كَلَ سَيۡلَ...

Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu (QS. Al Imran: 128)

Namun, karena tidak ada satupun bisa memberi syafaat, kecuali Dia mengizinkan- Nya. Dia memuliakan pemberi syafaat dengan menerima syafaat darinya. Nabi pun telah bersabda:

ءُااشاي اما هِ ِيبِان نِااسلِ ىلاعا ُّللَّا يضِقْا يوا ،اورُاجؤْ تُ اوعُفا شْا

“Berilah syafaat maka syafaatmu akan diperkenankan. Dan Allah meyampaikan kehendak- Nya dengan lisan Nabi-Nya.’ 90

Pada saat yang sama, dalam sebuah hadits pada Shahih Bukhari, Nabi (ﷺ) telah berkata:

َلا املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لِوسُرا اةمَّعا َيا ةُيَّفِاص َيا ،ائً يْاش ِّللَّا انمِ مْكُال كُلِمْاأ َلا ،فٍاانما دِبْعا ِنِاب َيا

ائً يْاش ِّللَّا انمِ اكال كُلِمْاأ َلا ،ِّللَّا لِوسُرا مَّعا سُابَّعا َيا ،ائً يْاش ِّللَّا انمِ كِال كُلِمْاأ

Wahai Bani Abdu Manaf. Aku tidak memiliki apapun untuk melindungi kalian dari azab Allah, wahai Shafiyah –bibi rasulullah- aku tidak memiliki apapun untuk melindungimu dari azab Allah. Wahai Abbas –paman rasulullah- memiliki apapun untuk melindungimu dari azab Allah.” 91

Apabila makhluk terbaik di dunia sekalipun berkata demikian kepada orang-orang terdekatnya: “Aku tidak memiliki apapun untuk melindungimu dari azab Allah,” lalu bagaimana dengan orang lain?

Namun, apabila seorang didoakan oleh dan diberikan syafaat oleh seseorang, Dia mendengar doanya dan menerima syafaat tersebut. Sebenarnya, Syafaat ini tidak berpengaruh apapun bagi-Nya sebagaimana makhluk mempengaruhi makhluk lainnya. Karena Allah-lah yang membimbing hamba-Nya untuk berdoa dan memberi wasilah. Dia adalah pencipta perbuatan makhluk-Nya. Dia yang membimbing hamba-Nya untuk berdoa dan Dia pula yang mengabulkan-Nya. Dia (Allah) yang membimbing seorang manusia untuk berbuat baik dan mengizinkannya untuk melaksanakannya dengan benar. Allah yang mengilhaminya untuk berdoa dan Allah pula yang menjawabnya. Ini berdasarkan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka yang beriman pada Ketetapan ilahi. Allah adalah Pencipta segala sesuatu.


image

90 Diriwayatkan oleh Bukhari (1432) dan Muslim (2627)

91 Diriwayatkan oleh Bukhari (2753) dan Muslim (204)

FASAL: PERJANJIAN ADAM DENGAN ALLAH


image

Perjanjian yang Allah ambil dari Nabi Adam dan keturunannya adalah benar adanya.

Allah () berfirman dalam Al-Qur’an:

اْولُاقَ مۖۡكُبِ رَبِ تُسۡلَأَ مۡهِسِفُنأَ ىَٰٓ َ لعَ مۡهُدَهَشۡأَوَ مۡهُتَيَّرِ ذُ مۡهِرِوهُظُ نمِ مَدَاءَ يٓنِبَ نَۢمِ كَبُّرَ ذَخَأَ ذِۡإوَﵟ

ﵞ ٢٧١ نَيلِفِغَٰ اذَهَٰ نۡعَ انَّكُ انَّإِ ةِمَيَٰقِلۡٱ مَوۡيَ اْولُوقُتَ نأَ اۚٓنَدۡهِشَ يَٰلبَ

Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah). (QS. Al-A’raf: 172)

Dengan ayat ini, Allah memberitahukan kepada kita bahwa Dia mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari punggung mereka untuk bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka, dan tiada Tuhan selain Dia.

Riwayat yang mengabarkan tentang mengeluarkan anak-anak Adam dari punggung mereka juga datang dari Hadits Nabi, dengan rincian lainnya seperti pembagian mereka menjadi sisi kanan dan sisi kiri. Sebagian dari riwayat itu pun menyebutkan kesaksian bahwa Allah adalah tuhan mereka.

FASAL: PENGHUNI SURGA DAN NERAKA SUDAH DITETAPKAN


image

Dan sesungguhnya Allah telah mengetahui sejak jaman azali jumlah orang yang akan masuk surga, dan jumlah orang yang akan masuk neraka secara keseluruhan, maka jumlah itu tidak akan bertambah dan tidak akan berkurang. Demikian pula amal perbuatan mereka (hanya berkutat) pada apa yang Allah ketahui dari mereka yang akan mereka kerjakan


Allah () berfirman:


ﵞ٥١١ مٌيلِعَ ءٍيۡشَ لِ كُبِ ّلِلََّٱ نَّإِ...

Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. At-Taubah: 115)

Allah () pun berfirman:

ﵞ ٦٢ امٗيلِعَ ءٍيۡشَ لِ كُبِ ّلِلَُّٱ نَاكَوَ....

Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Fath: 26)

Allah menyifati diri-Nya sebagai Maha Mengetahui segala sesuatu, secara azali dan abadi. Ilmu-Nya tentang segala sesuatu tidak didahului ketidaktahuan. “Dan Tuhanmu tidak lupa.”

Ali berkata:

هُعاماوا ،هُالوْاح َنا دْعا اقوا دا عاقا اف ،املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا َنا َتااأاف ،دِاقرْغلْا ا عِيقِاب ِفِ ةٍزاااناج ِفِ انَّكُ«

ااَناااكما ُّللَّا ابتااك دْاقوا َلَّإِ ةٍاسوفُ نْما سٍفْ ان نْمِ اما :لاااق ثَُّ هِتِرااصخِْبِِ تُكُنْ اي العا اجفا هُاسأْرا اسكَّان اف ،ةٌرااصِْمِ

ىالعا ثُكَُّْنا الاافاأ ،ِّللَّا لاوسُرا َيا :لٌجُرا لااقا اف :لاااق ،ةًدا يعِاس وْاأ ةًيَّقِاش تْباتِكُ دْاق َلَّإِوا ،رِانَّلاوا ةِنَّاْلْا انمِ

انااك نْماوا ،ةِاداعاسَّلا ]لِهْاأ[ لِما عا َلاإِ ُْي صِيااساف ةِاداعاسَّلا لِهْاأ نْمِ انااك نْما :لااقا اف ؟الما عالْا عُداانوا اانبِااتكِ

لُهْاأ امَّاأ ،هُال اقلِخُ اما لِ رٌسَّايمُ لٌّكُاف اولُما عْا :لاااق ثَُّ .ةِوااقاشَّلا لِهْاأ لِما عا َلاإِ ُْي صِيااساف ةِوااقاشَّلا لِهْاأ نْمِ

اأرا اق ثَُّ ،ةِوااقاشَّلا لِهْاأ لِما عالِ انورُسَّاي يُ اف ةِوااقاشَّلا لُهْاأ امَّاأوا ،ةِاداعاسَّلا لِهْاأ لِما عالِ انورُسَّاي يُ اف ةِاداعاسَّلا

Kami sedang memakamkan jenazah di Baqi al-Gharqad, lalu rasulullah datang kepada kami. Beliau duduk dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Beliau memegang sebuah tongkat pendek. Beliau menundukkan kepalanya, beliau mengorek-ngorek tanah dengan tongkatnya. Kemudian beliau berkata: “Tidak ada jiwa yang bernyawa kecuali Allah menulis tempatnya di surga atau di neraka; Kecuali telah ditulis apakah dia bahagia atau sengsara. Seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulullah, mengapa kita tidak mengandalkan apa yang tertulis tersebut sehingga kita tidak perlu beramal?” Beliau menjawab: “Barangsiapa termasuk orang-orang yang berbahagia, maka dia akan dimudahkan beramal dengan amal orang-orang yang berbahagia, dan barangsiapa yang termasuk orang-orang yang sengsara, maka dia akan dimudahkan beramal dengan amal orang-orang yang sengsara.” Kemudian beliau menambahkan: “Beramallah kalian. Karena setiap orang dimudahkan kepada apa yang dia diciptakan untuknya.” Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini:

يٰنَغۡتَسۡٱوَ لَِخبَ نَۢمَ امَّأَوَ ٧ ىٰرَسۡيُلۡلِ ۥهُرُسِ يَنُسَفَ ٦ يٰنَسۡحُلۡٱبِ قَدَّصَوَ ٥ يٰقَتَّٱوَ يٰطَعۡأَ نۡمَ امَّأَفَ ﵟ

ﵞ٨

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membernarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. (QS. Al-Lail: 5-8)

Hadits di atas terdapat dalam Shahihain.


image

Dan setiap orang dimudahkan kepada apa dia diciptakan. Amal-amal perbuatan tergantung pada amal-amal penutup (di akhir hidup). Orang yang bahagia adalah orang yang bahagia dengan ketentuan Allah, dan orang yang sengsara adalah orang yang sengsara dengan ketentuan Allah

Bukhari dan Muslim telah mencatat Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan perkataan Nabi:

ةًاغضْمُ نُوكُاي ثَُّ ، اكلِاذ الثْمِ ةًقاالعا نُوكُاي ثَُّ ،ةًفاطْنُ امًوْ اي ّيا عِابرْاأ هِم ِأُ نِطْاب ِفِ هُقُلْاخ عُما ُْيُ مْكُدا احاأ نَّإِ«

هلمعو هلجأو هقزر بتكي :تاملك عبرِب رُماؤُْ يوا ،احورُّلا هِيفِ خُفُ نْ اي اف كُالما لْا هِيْالإِ لُاسرُْ ي ثَُّ ، اكلِاذ الثْمِ

اها ان يْ ابوا هُان يْ اب نُوكُاي اما َّتَّاح ةِنَّاْلْا لِهْاأ لِما عابِ لُما عْ ايال مْكُدا احاأ نَّإِ ،هُُْيْغا اهالإِ َلا يذِلَّاوا اف ،اديعس مأ ايقشو

رِانَّلا لِهْاأ لِما عابِ لُما عْ ايال مْكُدا احاأ نَّإِوا ،اهالُخُدْاي اف رِانَّلا لِهْاأ لِما عابِ لُما عْ اي اف بُااتكِلْا هِيْلاعا قُبِسْاي اف ،عٌاراذِ َلَّإِ

»اهالُخُدْاي اف ةِنَّاْلْا لِهْاأ لِما عابِ لُما عْ اي اف بُااتكِلْا هِيْالعا قُبِسْاي اف ،عٌاراذِ َلَّإِ اها ان يْ ابوا هُان يْ اب نُوكُاي اما َّتَّاح

“Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama

40 hari berupa nutfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama 40 hari. Kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama 40 hari. Kemudian menjadi mudgah (segumpal daging) selama 40 hari. Kemudian seorang malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh kepadanya, dan diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka dengan itu ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kalian beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sehasta, tetapi catatan (takdir) mendahuluinya lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, maka dia memasukinya.”92

Terdapat sejumlah riwayat yang menerangkan hal ini, ada pula beberapa riwayat dari generasi salaf. Abu Amr Ibnu Abdil Barr menulis dalam kitabnya “Al-Tahmid.” Hanya sedikit ulama yang mengumpulkan riwayat tentang perkara ini. Para peneliti telah membahasnya dengan terperinci. Ahlu Sunnah wal Jamaah berpendapat untuk meyakini riwayat-riwayat dan menahan diri dari memperdebatkannya. Berpaling kepada Allah untuk mendapatkan perlindungan dan bimbingan untuk menyikapinya dengan benar.


image

92 Diriwayatkan oleh Bukhari (3208) dan Muslim (2643)

image

FASAL: TAKDIR ADALAH RAHASIA ALLAH

Pokok dasar (masalah) Qadar adalah rahasia Allah terhadap makhluk-Nya, yang tidak diketahui oleh malaikat yang dekat dengan Allah dan tidak pula seorang nabi yang diutus. Mendalami dan meneliti terlalu jauh dalam masalah itu adalah jalan kehinaan, tangga yang terlarang, dan derajat orang-orang yang angkuh. Maka haruslah sangat berhati-hati dari masalah tersebut; baik dari segi pandangan, pikiran, dan waswas. Karena sesungguhnya Allah menutup ilmu tentang Qadar dari (pengetahuan) makhlukNya. Dan Allah melarang mereka dari keinginan mereka untuk mengetahuinya. Sebagaimana Allah berfirman dalam kitab-Nya: ‘Dia tidak ditanyai tentang apa yang diperbuatNya, namun mereka [manusia]lah yang akan ditanyai.’ (Al-Anbiya: 23). Maka barangsiapa bertanya: mengapa Dia berbuat demikian? Berarti dia telah melawan kitabullah dan barangsiapa yang menolak (membantah) hukum Al-Quran, maka dia termasuk di antara orang-orang kafir.

Ini merupakan keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa segala sesuatu terjadi karena ketetapan takdir dari Allah. Namun, Qadariyah dan Mutazilah menentang dalam hal ini. Mereka mengira bahwa Allah menginginkan keimanan dari orang kafir, namun orang kafirlah yang menginginkan dirinya sendiri kafir. Akhirnya, kehendak orang kafir yang terjadi dan kehendak Allah tidak terjadi. Namun, keyakinan ini sangat sesat.93 Terlebih lagi, keyakinan ini tidak didukung bukti, justru ini adalah pendapat yang bertentangan dengan dalil yang ada. Allah (ﷻ) berfirman:


image

93 Hal ini melazimkan bahwa Allah memiliki kelemahan karena Kehendak Allah kalah oleh Kehendak makhluk padahal Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah dari segala yang mereka sifatkan (SAS).

سِانَّلٱوَ ةِنَّجلِۡٱ نَمِ مَنَّهَجَ نَّأَلَمۡأََل ينِ مِ لُوۡقَلۡٱ قَّحَ نۡكِلَٰوَ اهَىٰدَهُ سٍفۡنَ لَّكُ انَيۡتَٓأَل انَئۡشِ وۡلَوَﵟ ﵞ٣١ نَيعِمَجۡأَ

Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari pada-Ku: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia seluruhnya. (QS. As-Sajdah: 13)

Allah () pun berfirman:

اجٗرَحَ اقًيِ ضَ ۥهُرَدۡصَ لۡعَۡجيَ ۥهُلَّضِيُ نأَ دۡرِيُ نمَوَ مِۖلَٰسۡإِلۡلِ ۥهُرَدۡصَ حۡرَشۡيَ ۥهُيَدِهۡيَ نأَ ّلِلَُّٱ دِرِيُ نمَفَﵟ ﵞ ٥٢١ .... ءِٰۚآمَسَّلٱ ىِف دُعَّصَّيَ امَنَّأَكَ

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki langit. (QS. Al-An’am: 125)

Kesalahan di sini adalah menyelaraskan dan melazimkan Kehendak dan Keinginan Allah dengan Cinta dan Ridho-Nya. Jabariyah dan Qadariyah gagal membedakan antara keduanya.94 Keduanya berselisih pendapat di antara mereka sendiri. Jabariyah berpendapat: “Segala sesuatu terjadi sesuai kehendak dan takdir Allah. Oleh sebab itu perbuatan dosa itu disukai dan diridhoi oleh Allah.” Sebaliknya, Qadariyah berpendapat: “Dosa itu tidak diridhoi oleh Allah dan tidak pula dicintai-Nya. Dosa bukan dari kehendakNya maupun takdir-Nya. Perbuatan dosa itu di luar kehendak Allah dan ciptaan-Nya.”95

Namun, kitab Allah sekaligus Sunnah Nabi dan orang yang masih lurus akalnya bisa membedakan antara Kehendak dan Ridho Allah. Adapun kehendak Allah, kami sudah menyatakan dalilnya dari Al-Quran. Adapun untuk Cinta dan Keridhoannya, berikut dalilnya. Allah berfirman:

ﵞ ٥٠٢ دَاسَفَلۡٱ بُِّحيُ اَل ّلِلَُّٱوَ ...

Allah tidak menyukai kebinasaan (QS. Al-Baqarah: 205)

Dan,


image

94 Keduanya berpendapat bahwa jika Allah berkehendak, maka Allah mencintai dan meridhai-Nya karena tidak mungkin ada yang terjadi di alam semesta kecuali dicintai dan diridhai oleh-Nya. Akhirnya, Jabariyah berpendapat kemaksiatan juga bagian dari takdir dan menisbatkan keburukan kepada Allah sedangkan Qadariyah tidak ingin menisbatkan keburukan kepada Allah dengan menggagas konsep manusia menciptakan perbuatannya sendiri sehingga keburukan tidak dinisbatkan kepada Allah. (SAS)

95 Keduanya berusaha untuk menyucikan Allah dengan caranya masing-masing tetapi malah terjadi dalam konsekuensi yang lebih buruk. Satu menisbatkan kepada Allah keburukan dan ini dilarang. Adapun golongan lain menjadikan Allah lemah dan kalah oleh makhluk. (SAS)

ﵞ ٧ .... رَۖفۡكُلۡٱ هِدِابَعِلِ يٰضَرۡيَ اَلوَ ﵟ

Dan Dia tidak meridoi kekafiran hamba-Nya (QS. Az-Zumar: 7)

Sejumlah riwayat yang valid mengabarkan bahwa Nabi (ﷺ) telah bersabda:

»لِاما لْا اةعا ااضإِوا ،لِاؤاسُّلا اةرا ثْاكوا ،لاااقوا اليقِ :ًثًالااث مْكُال اهرِاكاّللَّا نَّإِ«

Allah tidak meridhoi tiga hal dari kalian: Yang pertama yaitu pembicaraan sia-sia, kedua terlalu banyak bertanya, yang ketiga menghambur-hamburkan harta.” 96

Dalam hadits lainnya dalam Musnad Ahmad:

»هُتُ اي صِعْما ىاتؤْ تُ نْاأ هُراكْاي اما اك ،هِصِاخرُبِ ذا اخؤُْ ي نْاأ بُُّيُِ اّللَّا نَّإِ«

“Allah suka hamba-Nya mengambil rukhshah, sebagaimana Dia benci hamba-Nya melakukan maksiat.” 97

Jika ditanyakan bagaimana Allah bisa menghendaki sesuatu namun tidak meridoi- Nya? Bagaimana Dia menghendaki dan bagaimana itu terjadi? Bagaimana kehendak dan tidak ridhonya Allah berkumpul menjadi satu?

Jawabannya adalah: pertanyaan semacam ini telah memecah belah manusia menjadi sekte-sekte yang membuat mereka berselisih paham. Singkatnya, kita harus memahami bahwa “kehendak” itu terdiri dari dua jenis:

Pertama: Kehendak yang mendasari suatu takdir terjadi untuk sesuatu yang ditakdirkan tersebut.

Kedua: Kehendak yang mendasari suatu takdir terjadi tetapi untuk sesuatu yang lain dan bukan untuk takdir yang dikehendaki tersebut

Jenis yang pertama adalah kehendak yang selaras dengan yang takdir yang diinginkan dan dicintai secara dzatnya serta untuk kebaikan yang diperoleh dari kejadian tersebut. Itu adalah kehendak yang sesuai dengan tujuan utamanya.

Adapun jenis yang kedua, terkadang kehendak tersebut mendasarinya untuk terjadi tetapi bukan secar murni agar terjadinya takdir ini. Begitu juga mungkin tidak ada maslahat di dalamnya. Ia dibutuhkan karena menjadi sarana untuk takdir yang lain sehingga mungkin bukan takdir yang secara dzatnya diinginkan terjadi tetapi ia terjadi demi tercapainya maksud dari takdir lain. Oleh karena itu, dua faktor tergabung menjadi satu: (1) Apa yang tidak diridhoi-Nya dan (2) Kehendak-Nya. Ini bisa tergabung tanpa kontradiksi karena keduanya terhubung dengan konsekuensinya masing-masing.

Contohnya obat yang pahit yang memiliki manfaat di dalamnya atau mengamputasi suatu anggota badan, yang dengan amputasi tersebut bisa menyelamatkan anggota badan


image

96 Diriwayatkan oleh Bukhari (1477) dan Muslim (1593)

97 Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/108). Lihat Irwa Al-Ghalil (564)

lainnya.98 Contoh lainnya adalah menempuh suatu perjalanan yang penuh dengan kesulitan demi menuju suatu tujuan dan keinginan. Tentu saja, seorang manusia yang bijaksana akan menanggung kesulitan sekeras apapun meski tanpa keyakinan penuh. Lalu, bagaimana dengan Dzat yang tidak ada hal tersembunyi darinya? Allah mungkin tidak meridhoi sesuatu, namun tidak menghalangiNya menghendaki sesuatu untuk memberikan manfaat bagi yang lain dan menjadi sebab sesuatu yang lebih dicintai oleh-Nya.

Mari kita ambil beberapa contoh. Dia menciptakan Iblis yang merupakan sumber keburukan dalam agama, amal perbuatan, keyakinan, dan hasrat. Ia datang sebagai sumber banyak kemalangan bagi manusia dan melahirkan perbuatan yang memicu amarah Allah. Setan selalu mencoba untuk mengarahkan kita pada segala hal yang tidak diridoi Allah. Namun, dia menjadi sebab bagi banyak hal yang disukai dan diridoi Allah serta menjadi wasilah bagi banyak yang hal yang dicintai Allah terjadi pada makhluk-Nya99, yang keberadaannya lebih disukai daripada ketiadaannya.

Diantara hal tersebut adalah untuk memperlihatkan kepada hamba Kemahakuasaan Allah dalam menciptakan perbedaan. Dia menciptakan makhluk ini (Setan) yang merupakan sosok paling jahat dari makhluk-Nya, lalu menciptakan Jibril yang merupakan salah satu makhluk yang paling mulia. Maha Besar Allah, Pencipta segala sesuatu. Hal ini pun tercermin pada penciptaan siang dan malam, penyakit dan obat, yang cantik dan jelek: semuanya merupakan bukti Kekuatan dan KesempurnaanNya.

Termasuk di dalamnya adalah manifestasi Sifat Allah yang berupa berkaitan dengan Kekuatan Yang Maha Perkasa dan Penundukkan seperti Al-Qahhar (Yang Maha Perkasa) dan Al-Muntaqim (Maha Penuntut Balas), Syadid al-Iqab (Amat Keras Siksaannya), Dzu al- Buthsy (Yang Amat Keras Perampasannya) dan sebagainya. Semua nama dan sifat ini merupakan tanda-tanda kesempurnaan-Nya yang menuntut manifestasi di alam. Seandainya Jin dan manusia bersifat sama dengan malaikat, sifat-sifat ini tidak akan nampak dengan nyata.

Termasuk juga di dalamnya adalah manifestasi nama-nama Allah yang terikat dengan rahmat dan ampunan-Nya. Mungkin, Nabi mengacu pada hal ini, ketika beliau bersabda:

مَُْلا رُفِغْ اي اف انورُفِغْ اتسْايوا انوبُنِذْيُ مٍوْقابِ اءااْلا وا مْكُبِ ُّللَّا ابها ذاال اوبُنِذْتُ اَْل وْال

“Jika kami tidak berdosa, maka Allah akan menggantikan kami dengan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu memohon ampunan, sehingga Allah pun mengampuni mereka.”

Contoh lainnya terdapat dalam penetapan jenis-jenis ibadah tertentu yang tidak akan terwujud tanpa penciptaan setan. Contohnya adalah Jihad yang merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling diridoi. Jihad tidak akan bisa diterapkan (jika bukan karena Iblis menyesatkan manusia). Andaikan semua orang adalah Muslim, maka ibadah-ibadah tersebut


image

98 Dalam kedua hal tersebut jelas sekali bahwa pahit dari obat dan kehilangan suatu anggota bada adalah sesuatu yang tidak dikehendaki pada asalnya tetapi hal tersebut dibutuhkan untuk terjadi demi tujuan lain yang dikehendaki, yaitu kesehatan pemilik tubuh tersebut (SAS)

99 Seperti Allah menerima Taubat hamba-Nya yang Allah lebih mencintai taubat seorang hamba dibanding seorang musafir yang kehilangan untanya di padang pasir kemudian menemukannya kembali (SAS).

dan yang menyertainya tidak akan ada. Contoh-contoh lainnya adalah cinta untuk Allah dan kebencian untuk Allah, memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan, bersabar, bertaubat dan lain sebagainya.

Mungkin ditanyakan: Bukankah mewujudkan yang di atas mungkin dilakukan tanpa sumber-sumber kejahatan ini? Ini adalah pertanyaan yang sudah salah dari awalnya. Ini sama dengan menciptakan suatu akibat tanpa ada sebab, seperti mengira adanya gerakan tanpa penggerak, dan pertaubatan tanpa adanya alasan untuk bertaubat.

Jika ditanyakan, bagaimana Allah menyukai suatu hal untuk dikerjakan hamba-Nya tetapi Dia tidak membantu hamba tersebut? Jawabannya adalah terkadang jika Dia membantu hamba tersebut, bantuan itu akan menyebabkan hilangnya sesuatu yang jauh lebih dicintai Allah daripada amal kebaikan yang mungkin dihasilkan dari si hamba. Bisa juga amal kebaikan yang dibantu-Nya malah menghasilkan sesuatu yang jauh lebih dibenci Allah daripada kebaikan itu sendiri. Allah telah menekankan hal itu, dalam ayat berikut ini:

عَمَ اْودُعُقۡٱ لَيقِوَ مۡهُطَبَّثَفَ مۡهُثَاعَبِۢنٱ ّلِلَُّٱ هَرِكَ نكِلَٰوَ ةٗدَّعُ ۥهُلَ اْودُّعَأََل جَورُخُلۡٱ اْودُارَأَ وۡلَوَﵟ ﵞ ٦٤ نَيدِعِقَٰلۡٱ

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46)

Allah sengaja menunjukkan kepada kita bahwa Dia tidak meridhoi mereka ikut rombongan bersama nabi. Kepergian mereka ke medan jihad akan menjadi amal ibadah yang baik. Namun, Allah tidak menyukainya. Setelah itu, Dia memberitahukan akibat buruk yang akan muncul jika mereka turut serta dengan Nabi. Allah () berfirman:

ﵞ٧٤ ... اٗلابَخَ اَّلإِ مۡكُودُازَ امَّ مكُيفِ اْوجُرَخَ وۡلَﵟ

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka (QS. At-Taubah: 47)

Kemudian Dia () menambahkan:

ﵞ٧٤ نَيمِلِظَّٰلٱبِ مَُۢيلِعَ ّلِلَُّٱوَ ٰۗٓمۡهُلَ نَوعُمَّٰسَ مۡكُيفِوَ ةَنَتۡفِلۡٱ مُكُنَوغُبۡيَ مۡكُلَلَٰخِ اْوعُضَوۡأََلوَ .....

Dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu, sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim (QS. At- Taubah: 47)

Maksudnya adalah mereka akan menyulut pertikaian di antara kalian dan diantara kalian termasuk orang-orang yang akan menanggapi mereka. Jika mereka turut serta dengan kalian, hal tersebut akan melahirkan lebih banyak keburukan daripada kebaikan. Oleh sebab itu, kebijaksanaan dan rahmat menjadikan mereka untuk menahan diri dari mengikuti jihad.

Ambillah contoh ini dan berikan contoh lainnya, jika kalian mau.

Jika ditanyakan: jika kekafiran itu terjadi karena Takdir Allah, dan kita diperintahkan untuk menerima Takdir, lalu bagaimana kita tidak meridoi kekafiran dan membencinya?

Pertama: kita tidak diperintahkan untuk ridho kepada ‘segala’ apa yang telah ditakdirkan Allah.100 Al-Quran dan Sunnah tidak menyatakan demikian. Karena dalam menghadapi takdir, ada yang kita ridhai dan ada yang tidak kita ridhai. Sebagaimana ada beberapa dari takdir yang bahkan Allah benci dan mencela takdir tersebut.

Kedua: Ada dua elemen yang terlibat di sini. Elemen pertama adalah takdir Allah. Ini adalah tindakan yang terkait dengan Dzat Allah. Elemen kedua adalah ketetapan takdir Allah. Ini adalah satuan peristiwa yang sudah terjadi dan tidak ada kaitannya dengan Dzat Allah. Elemen pertama, Takdir, sepenuhnya baik, adil dan bijaksana sehingga kita menyetujuinya secara keseluruhan. Adapun elemen kedua, satuan peristiwa yang ditakdirkan, terdapat dua jenis: ada yang kita ridhai dan ada yang tidak.

Ketiga: Takdir Allah itu terdiri dari dua aspek. Aspek pertama terkait dengan Allah. Dari sudut pandang aspek ini, kita harus meridhoinya. Aspek kedua terkait dengan makhluk-Nya. Aspek kedua ini pun dibagi lagi menjadi dua jenis: takdir yang bisa kita ridha padanya dan kita tidak bisa ridha kepadanya.

Contohnya pembunuhan. Takdir ini memiliki dua aspek. Di satu sisi ini merupakan takdir Allah, kehendak-Nya, perintah, dan ketetapan atas tindakan yang menjadi sebab tercapainya ajal sosok yang terbunuh. Dari tinjauan aspek ini, kita meridhainya. Namun, dari sudut pandang kejadiannya di tangan pembunuh, maka takdirnya adalah menjalankan pembunuhan itu dan berdosa terhadap Allah dengan perbuatannya itu. Untuk takdir yang satu ini kita harus menunjukkan kebencian dan ketidaksetujuan.

Perkataan Ath-Thahawi: “Oleh sebab itu, barangsiapa yang bertanya: “Mengapa Dia melakukannya? Telah menolak ketentuan Kitab Allah dan siapapun yang mengingkari ketentuan Al-Quran, maka ia telah kafir” adalah perkataan yang benar. Karena pondasi iman kepada Allah, Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Nya, terletak pada berserah diri kepada Allah dan dalam tidak mempertanyakan segala rincian atas kebijaksanaan yang terlibat di dalam perintah, larangan dan Syariah secara umum.

Begitu pula Allah tidak pernah mengisahkan suatu kaum, yang percaya kepada Rasul yang diutus kepada mereka, namun tetap meminta untuk mengetahui rincian hikmah dan kebijaksanaan di dalam apa yang diperintahkan dan dilarang Allah. Apabila kaum-kaum itu melakukannya, mereka tidak akan dianggap beriman kepada nabi mereka. Namun, mereka adalah umat yang berserah diri dan bertakwa. Jika mereka mengetahui hikmah dibalik perintah dan larangan, maka itu adalah kebaikan dan jika mereka tidak mengetahuinya, hal tersebut tidak lantas dijadikan alasan untuk menunda keimanan dan ketakwaan mereka.

Itu sebabnya, para Sahabat yang merupakan generasi pertama pengikut Nabi Muhammad adalah kaum generasi emas dan paling berilmu di antara umat islam. Mereka


image

100 Apa yang diwajibkan kepada manusia adalah sabar dalam menghadapi takdir. Sabar dalam menghadapi takdir adalah dengan tidak melakukan hal yang diharamkan ketika tadkir buruk menimpa seperti mencela Allah, berandai-andai, atau semisalnya. Adapun ridha atas ketetapan Allah, hukumnya Sunnah (SAS).

tidak pernah bertanya kepada Nabi mengapa Allah telah memerintahkan sesuatu atau mengapa Dia menetapkan sesuatu. Mereka menyadari bahwa sikap seperti itu bertentangan dengan keimanan dan ketakwaan.

image

FASAL: WALI-WALI ALLAH

Ini adalah pengetahuan yang dibutuhkan oleh mereka yang memiliki hati yang hidup di antara wali-wali Allah. Ini adalah derajat orang-orang berilmu. karena ilmu ada dua: ilmu yang Nampak dan gaib. Mengingkari ilmu yang Nampak itu kafir dan mencari ilmu yang gaib itu kafir. Dan tidaklah tetap iman kecuali dengan menerima ilmu yang Nampak dan meninggalkan ilmu yang gaib

Ketika Ath-Thahawi menyatakan “ini” pada kalimat di atas, yang beliau maksud adalah semua yang dinyatakan sebelumnya: tentang keimanan dan ibadah yang berkaitan dengan Syariah.

Pernyataan beliau: “derajat orang-orang berilmu” mengacu pada pengetahuan yang diterima dari Nabi (), secara global maupun rinci, baik yang ditetapkan maupun yang dinafikan.

Pernyataan: “ilmu yang gaib” yang beliau maksud adalah pengetahuan tentang Qadha dan Qadar Allah yang Allah sembunyikan dari hamba-Nya dan telah dilarang pencariannya.

Pernyataan: “ilmu yang nampak” berarti ilmu tentang syariat Islam, baik kaidah- kaidahnya maupun rincian-rinciannya.

Siapapun yang menyangkal ajaran yang dibawa Nabi telah kafir dan siapapun yang mengklaim mengetahui yang gaib pun menjadi kafir. Allah () berfirman:

نِيۡبَ نَۢمِ كُلُسۡيَ ۥهُنَّإِفَ لٖوسُرَّ نمِ يٰضَتَرۡٱ نِمَ اَّلإِ ٦٢ ادًحَأَ ۦٓهِبِيۡغَ ىَٰلعَ رُهِظۡيُ الَفَ بِيۡغَلۡٱ مُلِعَٰﵟ

لَّكُ يٰصَحۡأَوَ مۡهِيۡدَلَ امَبِ طَاحَأَوَ مۡهِبِ رَ تِلَٰسَٰرِ اْوغُلَبۡأَ دۡقَ نأَ مَلَعۡيَِ ل ٧٢ ادٗصَرَ ۦهِفِلۡخَ نۡمِوَ هِيۡدَيَ ﵞ ٨٢ ادََۢدَعَ ءٍيۡشَ

Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridoi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya. Agar Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul Allah itu sungguh, telah menyampaikan risalah Tuhannya, sedang ilmu-Nya

meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghisab segala sesuatu (QS. Al-Jinn: 26-28)

Sehingga, samarnya kebijaksanaan Allah bagi kita bukan berarti tidak ada, ataupun ketidaktahuan kita akan hal itu menjadi penghalang. Tidakkah kita pahami bahwa tidak mengetahui kebijaksanaan Allah pada penciptaan kalajengking dan makhluk lain sejenisnya - yang kita tahu hanya bahayanya- tidaklah cukup sebagai alasan untuk menyangkal bahwa Allah adalah penciptanya. Tidak berarti pula tidak ada hikmah yang tersembunyi dari kita. Kurangnya pengetahuan bukan berarti ketiadaan pengetahuan itu sendiri.

image

FASAL: IMAN KEPADA LAUH MAHFUZH DAN TAKDIR YANG TERTULIS DI DALAMNYA


Dan kita beriman dengan al-Lauh al-Mahfuds, pena (al-Qalam) dan segala yang tertulis padanya.

Allah () berfirman:

ﵞ ٢٢ ظِۭوفُۡحمَّ حٖوۡلَ ىفِ ١٢ د يجمَِّ ن اءَرۡقُ وَهُ لۡبَﵟ

Bahkan yang didusatakan mereka itu ialah Al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauhul Mahfudz. (QS, Al-Buruj: 21-22)

Lauh yang dimaksud di sini adalah Lauh yang padanya Allah menuliskan seluruh takdir makhluk. Sedangkan pena tersebut adalah yang Allah ciptakan dan dengannya Dia menulis takdir-takdir tersebut, sebagaimana hadits dalam Sunan Abu Dawud dari Ubadah bin ash-Shamit dia berkata:

ءٍ يْاش لِكُ رايدِاقاما بْتُكْا :لاااق ؟ بُتُكْاأ اماوا ،ب ِ را َيا :لاااق ، بْتُكْا :هُال لااقا اف ،مُلاقالْا ُّللَّا اقلااخ اما لُوَّاأ«

»ةُعا اسَّلا اموقُ ات َّتَّاح

“Aku mendengar Rasulullah (ﷺ) bersabda: “Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Lalu Allah berfirman padanya: “Tulislah.” Lalu pena pun bertanya: “Wahai Tuhanku, apa

yang harus aku tulis?” Dia () menjawab: “Tulislah takdir-takdir segala sesuatu hingga

Hari Kiamat.” 101

Para ulama berbeda pendapat, apakah makhluk pertama adalah Arsy ataukah Pena? Abul al-‘A’la Hamdani telah membahas perkara ini dan menyatakan bahwa yang benar Arsy- lah yang diciptakan terlebih dahulu. Hal ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Amr, dia berkata: Rasulullah (ﷺ) telah bersabda:

»ءِاما لْا ىالعا هُشُرْعاوا ،ةٍاناس افلْاأ ّيا سِمْاِبِ اضرْاْلْاوا تِاوااما سَّلا اقلَُْيا نْاأ البْ اق قِئِالااْلْا رايدِاقاما ُّللَّا رادَّاق«

“Allah menulis takdir makhluk-makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” Kemudian beliau menambahkan: “Dan Arsy-Nya berada di atas air” 102

Ini menunjukkan bahwa Takdir makhluk itu dituliskan setelah penciptaan Arsy, dan Takdir- lah yang pertama dituliskan setelah Pena.

Lalu, mengenai perkataan Nabi: “Yang pertama kali ... hingga akhir,” bisa dipahami sebagai satu kalimat atau dua. Jika diperlakukan sebagai satu kalimat –dan ini yang benar–,


image

101 Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4700) dan Ahmad (5/317)

102 Diriwayatkan oleh Muslim (2653)

maka artinya adalah “Hal pertama yang Dia perintahkan kepada Pena adalah ‘tulislah’...” Namun, jika dianggap dua kalimat, seperti dalam beberapa riwayat, maka artinya adalah: “Yang pertama kali...”. Keduanya bersesuaian dalam hadits Abdullah Ibn Amr yang menyatakan bahwa Arsy mendahului Takdir dan Takdir itu berbarengan dengan penciptaan pena.

Pena yang dimaksud adalah pena yang paling pertama dan paling mulia. Lebih dari satu ahli tafsir Al-Qur’an menyatakan bahwa pena yang dimaksud adalah pena yang Allah bersumpah dengannya:

ﵞ ٢ نٖونُجۡمَبِ كَبِ رَ ةِمَعۡنِبِ تَنأَ آمَ ١ نَورُطُسۡيَ امَوَ مِلَقَلۡٱوَ نۚٓﵟ

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis. Berkat ni’at tuhanmu kamu (Muhamamd) sekali- kali bukan orang gila. (QS. Al-Qalam: 1-2)

Pena yang lainnya adalah pena untuk wahyu, yaitu pena yang digunakan untuk menuliskan wahyu untuk para Nabi dan Rasul. Sosok yang memegang pena-pena ini adalah malaikat. Pena-pena lainnya membantu pena-pena mereka. Suara gerakan pena yang dibicarakan oleh Nabi kita dalam sebagian riwayat berkaitan dengan isra’ mi’raj adalah pena- pena ini. Dengan pena-pena inilah tertulis semua perintah Allah () dan disampaikan kepada mereka yang bertugas baik di atas maupun bawah dunia (maksudnya di seluruh alam semesta).

image

Jika semua makhluk bersepakat terhadap sesuatu yang Allah telah tetapkan untuk terjadi agar tidak terjadi, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya. Dan jika mereka bersepakat terhadap sesuatu yang Allah tidak tetapkan untuk terjadi agar terjadi, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya; pena telah kering (setelah menuliskan) semua apa yang akan terjadi hingga hari kiamat.

Hal ini dibenarkan oleh hadits yang diriwayatkan Jabir. Ketika Suraqah bin Malik bin Ju’syum datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan,

لُما عالْا اميفِ ،انْلْا اانقْلِخُ َنَّاأاك اان انيدِ اانال ّيْ ِاب ،ِّللَّا لاوسُرا َيا :لااقا اف ،مٍشُعْجُ نِبْ كِلِاما نُبْ ةُاقاراسُ اءااج«

هِبِ تْفَّاج اما يفِ لْاب ،َلا :لاااق ؟لُباقْ اتسْيُ اما يفِ مْاأ ؟رُيدِاقاما لْا هِبِ تْرااجوا مُالاقْْلْاا هِبِ تْفَّاج اما يفِاأ ؟اموْ ايلْا

»رُيدِاقاما لْا هِبِ تْرااجوا مُالاقْْلْاا

“Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepada kami tentang agama kami, seolah-olah kami baru

diciptakan pada hari ini, yaitu mengenai amal perbuatan hari ini, apakah berdasarkan pada apa yang telah tertulis oleh tinta pena (takdir) yang sudah mengering dan takdir-takdir yang telah ditentukan, atau berdasarkan dengan apa yang akan kita hadapi?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan berdasarkan pada tinta pena yang telah kering dan takdir-takdir yang telah ada.” 103

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma , ia mengatakan,

اّللَّا ظِفا حْا ؟تٍاما لِاك اكمُ ِلعا أُ َلااأ مُالاغُ َيا :لااقا اف ،امًوْ اي املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِب ِ ِنَّلا افلْاخ تُنْاك«

اةمَُّْلْا نَّاأ مْالعْاوا ،ِّللَِّبِ نْعِتاسْااف اتنْعا اتسْا ااذإِوا ،اّللَّا لِأا سْااف اتلْاأاس ااذإِ ، اكها ااَتُ هُدَْتِا اّللَّا ظِفا حْا ، اكظْفاُْيا

نْاأ ىالعا اوعُمااتجْا وِالوا ، اكال ُّللَّا هُاب اتاك دْاق ءٍ يْاشبِ َلَّإِ كاوعُفا نْ اي اَْل ءٍ يْاشبِ كاوعُفا نْ اي نْاأ ىالعا تْعامااتجْا وِال

هُاوارا . » فُحُصُّلا تِفَّاجوا ،مُالاقْْلْاا تِعافِرُ ، اكيْلاعا ُّللَّا هُاب اتاك دْاق ءٍ يْاشبِ َلَّإِ كاورُّضُاي اَْل ءٍ يْاشبِ كاورُّضُاي

حٌيحِاص نٌاساح ثٌيدِاح :لاااقوا ،يُّذِمَِتْ ِلا

“Pada suatu hari, aku pernah dibonceng di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ‘Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon (meminta), mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’ (Riwayat Tirmizi dan dinilai sebagai hadits shahih). 104

Jika seorang hamba telah menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, maka wajib baginya untuk takut hanya kepada Allah. Allah () berfirman:

ﵞ ٤٤ ... نِوۡشَخۡٱوَ سَانَّلٱ اْوُشَۡختَ الَفَ ....

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku (QS. Al- Ma’idah: 44)

Allah () pun berfirman:

﴾ انوزُئِافالْا مُهُ اكئِالوْأُاف هِقْ تَّ ايوا اّللَّا اشَْياوا هُالوسُراوا اّللَّا عِطِيُ نماوا ﴿

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan


image

103 Diriwayatkan oleh Muslim (2648)

104 Diriwyayakan oleh Tirmidzi (2516)

bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. An-Nur: 52)

Beberapa ulama terdahulu telah berkata: Jika seseorang bertakwa kepada Allah, maka dia tidak akan membutuhkan apapun lagi. Karena Allah () telah berfirman:

ﵞ٣ .... بُۚسِتَۡحيَ اَل ثُيۡحَ نۡمِ هُقۡزُرۡيَوَ ٢ اجٗرَۡخمَ ۥهُلَّ لعَۡجيَ ّلِلََّٱ قِتَّيَ نمَوَ....

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (QS. At-Talaq: 2)

Allah telah menjanjikan orang-orang yang bertakwa jalan keluar dari situasi yang tampak sulit bagi mereka dan akan memberikan rezeki dari sumber yang tidak disangka- sangka. Jika hal itu tidak terjadi, maka pasti ada yang kurang dalam ketakwaannya kepada Allah. Maka dia harus memohon ampunan Allah dan bertaubat.

Kemudian Allah () berfirman:

ﵞ٣ ... ۥٓهُۚبُسۡحَ وَهُفَ ِّلِلَّٱ ىَلعَ لۡكَّوَتَيَ نمَوَ...

Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan keperluannya

(QS. At-Talaq: 3)

Dengan kata lain, Allah sudah cukup baginya dan dia tidak boleh bergantung pada siapa pun selain Allah.

Beberapa orang meyakini bahwa bergantung kepada Allah (tawakkul) menafikan ikhtiar dan memutus segala sebab. Mereka berpendapat jika segala sesuatu telah ditakdirkan, maka tidak ada gunanya berusaha. Ini tidak benar. Karena ikhtiar, beberapa di antaranya wajib semantara yang lainnya disukai, dibolehkan, makruh, bahkan dilarang. Rasulullah (ﷺ) merupakan teladan yang sempurna dalam tawakal dan beliau tetap mengenakan mantel untuk pergi ke pasar mencari penghidupan. Bahkan orang kafir pun berkeberatan dengan hal ini. Mereka berkata:

ﵞ٧ .... قِاوَسۡأَۡلٱ ىِف يشِمۡيَوَ مَاعَطَّلٱ لُكُأۡيَ لِوسُرَّلٱ اذَهَٰ لِامَ ....

Dan mereka berkata: “Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar?

(QS. Al-Furqan: 7)

Ada pula yang berkeyakinan bahwa ikhtiar bertentangan dengan tawakal kepada Allah, karena bergantung pada pertolongan orang lain, baik dengan sedekah ataupun hibah.


image

Dan apa yang (ditakdirkan) luput dari seorang hamba tentu tidak akan menimpanya, dan apa yang (ditakdirkan) menimpanya tentu tidak akan luput darinya.

Hal ini sudah memiliki dasar pada pembahasan sebelumnya, yaitu apa yang telah ditetapkan pasti akan terjadi.

image

Seorang hamba hendaklah mengetahui bahwasanya Allah telah terlebih dahulu mengetahui segala sesuatu yang terjadi dari (dan pada) makhlukNya. Allah menakdirkan hal itu dengan takdir yang sempurna dan tetap. Tidak ada yang dapat membatalkan, tidak ada yang menyalahkan, tidak ada yang dapat menghapuskan, dan tidak ada yang bisa mengubah (semua ketetapanNya). Tidak ada yang kurang dan tidak ada yang lebih dari makhlukNya, baik di langit maupun di bumiNya.

Ini pun berdasarkan pembahasan sebelumnya tentang pengetahuan Allah yang mendahului segala sesuatu yang terjadi, dan bahwa Dia menetapkan ukuran segala hal sebelum penciptaan. Rasulullah (ﷺ) bersabda:

»ءِاما لْا ىالعا هُشُرْعاوا ،ةٍاناس افلْاأ ّيا سِمْاِبِ اضرْاْلْاوا تِاوااما سَّلا اقلَُْيا نْاأ البْ اق قِئِالااْلْا رايدِاقاما ُّللَّا رادَّاق«

“Allah menulis takdir makhluk-makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” Kemudian beliau menambahkan: “Dan Arsy-Nya berada di atas air” 105

Hal ini menunjukkan bahwa Allah sudah mengetahui dengan ilmu-Nya segala sesuatu yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu, mengikuti segala kebijaksanaan-Nya yang Maha Meliputi Segala sesuatu. Begitu pula, mereka menjadi ada sesuai dengan pengetahuan- Nya. Karena segala hal yang terwujud melibatkan kebijaksanaan yang menakjubkan yang beriringan dengannya. Hal ini tidak mungkin bisa terbayangkan kecuali di tangan Yang Maha

Mengetahui, yang pengetahuan-Nya mendahului keberadaan segala sesuatu. Allah ()

berfirman:

ﵞ ٤١ رُيبِخَلۡٱ فُيطِلَّلٱ وَهُوَ قَلَخَ نۡمَ مُلَعۡيَ اَلأَﵟ

Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan) dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Mulk: 14)

Beberapa sekte Muktazilah yang ekstrim membantah ilmu Allah sejak jaman azali. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui amalan apa yang akan dilakukan hambaNya, hingga mereka melakukannya. Maha Suci Allah dari semua itu.


image

105 Diriwayatkan oleh Muslim (2653)

image

Ini adalah di antara ikatan iman dan pokok ma’rifat, dan pengakuan terhadap tauhid dan rububiyah Allah, sebagaimana firman Allah di dalam kitab-Nya: “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan takdir-takdirnya dengan serapi-rapinya.” (Al-Furqan:2) Dan Dia juga berfirman: “Dan ketetapan Allah itu adalah suatu qadar (ketetapan) yang pasti berlaku (Al-Ahzab: 38)”

Ibnu Abbas diriwayatkan telah berkata:

‘Ketetapan Takdir adalah kerangka tauhid. Barangsiapa yang menyatakan keimanan terhadap Keesaan Allah namun mengingkari takdi, maka hal tersebut menggugurkan tauhidnya.’

Alasannya karena iman kepada Takdir Ilahi merupakan komponen dari keimanan kepada pengetahuan Allah atas segala sesuatu sejak jaman azali, yang Dia wujudkan dari Ilmu-Nya yang tak terbatas termasuk penulisan takdir makhluk-Nya. Beberapa dari kaum musyrikin, Saba, dan filsuf serta yang lainnya telah keliru dalam permasalahan ini. Mereka menyangkal pengetahuan Allah tentang hal-hal detail. Namun, ini dinilai sebagai penafian terhadap Takdir ilahiah itu sendiri. Qadariyah telah menyangkal sepenuhnya kekuasaan Allah atas segala sesuatu. Mereka berkata bahwa Dia tidak menciptakan perbuatan makhluk-Nya. Mereka telah menganggapnya di luar kekuatan Allah dan penciptaan-Nya.

Adapun takdir –yang tidak diragukan lagi telah dibuktikan Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’, dan sesuatu yang diperdebatkan oleh Qadariyah tanpa alasan– adalah ketetapan Allah terhadap makhluk-Nya. Kebanyakan pernyataan sahabat dan imam-imam besar terkait kritik yang disampaikan Qadariyah ditujukan untuk orang-orang semacam ini.


image

Maka celakalah bagi orang yang menjadi penentang Allah dalam (masalah) Qadar, dan menghadirkan hati yang sakit untuk mengkaji di dalamnya (Qada dan Qadar). Sungguh dia telah (berkutat) mencari dengan keragu-raguannya dalam meneliti perkara yang ghaib yang

merupakan rahasia yang tertutup rapat. Orang tersebut (hanya akan) berkata dengan perkataan seorang pendusta yang penuh dosa.

Ketahuilah bahwa hati itu hidup dan mati, sakit, dan sembuh; dan penyakit yang menimpanya jauh lebih serius daripada penyakit badan. Allah () berfirman:

تِمَٰلُظُّلٱ ىِف ۥهُلُثَمَّ نمَكَ سِانَّلٱ ىفِ ۦهِبِ يشِمۡيَ ارٗونُ ۥهُلَ انَلۡعَجَوَ هُنَٰيۡيَحۡأَفَ اتٗيۡمَ نَاكَ نمَوَأَ ١٢١ﵟ

ﵞ٢٢١ ... اۚهَنۡمِ جٖرِاَخبِ سَيۡلَ

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa yang keadaanya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya.? (QS. Al-An’am: 122)

yaitu, hati tersebut mati karena kekafiran kemudian kami hidupkan dengan keimanan.

Hati yang murni dan hidup bila dihadapkan dengan kepalsuan dan kebathilan, hati tersebut akan langsung berpaling dan tidak menyukainya. Sebaliknya, hati yang sakit tidak bisa membedakan antara baik dan buruk, seperti yang dinyatakan oleh Abdullah ibn Mas’ud:

“Binasalah orang yang hatinya tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah.” Juga benar bahwa hati menjadi sakit karena hawa nafsu jasmani menguasainya. Hati pun, karena kelemahannya, jatuh dalam segala hal yang memangsanya sesuai dengan lemahnya hati.

Adapun mengenai penyakit hati, ada dua jenis: penyakit syahwat dan penyakit syubhat. Dari keduanya, yang paling buruk adalah penyakit syubhat. Syubhat yang paling buruk adalah keraguan akan ketetapan takdir Allah.

Terkadang, hati menjadi sakit dan semakin memburuk tanpa disadari pemilik hati itu sendiri karena kesibukannya dalam urusan lain dan karena kelalaiannya dalam memperhatikan kesehatan hati serta mencari obatnya. Terkadang hati pun mati tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Tanda kematian hati adalah dia tidak bisa merasakan sakit atas kejahatan dan kezaliman. Orang seperti ini, kelalaiannya itu sama sekali tidak mengusiknya. Padahal, seperti kita tahu apabila hatinya hidup, maka hatinya akan merasa sakit setiap kali menghadapi kebathilan dan merasakan sedih akan kelalaian terhadap kebenaran. Seorang pujangga berkata: “Mayat tidak akan merasa sakit karena luka.”

Tentu saja, terkadang seorang manusia merasakan penyakit hati. Namun, obat yang pahit dan perawatan yang lama akan menyulitkannya. Dia lebih memilih penyakit itu daripada pahitnya obat. Karena pengobatan itu melibatkan pengendalian hawa nafsu dan keinginan jasmani. Hal itu sulit bagi jiwa tertentu meski tidak ada yang lebih baik darinya. Terkadang manusia memaksa dirinya untuk sabar tetapi menyerah terlalu cepat karena kurangnya kegigihan. Ini karena lemahnya ilmu, pemahaman, dan kesabarannya

Situasinya serupa dengan seorang manusia yang memasuki jalan yang berbahaya menuju ke jalan keselamatan. Dia tahu bahwa jika dia terus berjuang dia akan sampai pada

tempat yang aman. Dia membutuhkan keteguhan, kegigihan, dan keyakinan sepanjang perjalannya. Jika dia mulai lemah kesabarannya, maka dia mulai kembali menelusuri jejaknya untuk kembali ke tempatnya semula terutama jika tidak ada yang menemaninya dan kesepian menambah kesengsaraannya. Maka dia pun mulai bertanya-tanya: “Di manakah orang-orang yang membersamaiku?” Itulah yang terjadi pada sebagian besar orang dan itulah yang menyebabkan kehancuran mereka. Namun, orang yang teguh tidak khawatir dengan sedikitnya teman, jika dia menyadari bahwa dia menapaki jejak langkah para salaf.

ءِآدَهَشُّلٱوَ نَيقِيدِ صِ لٱوَ نَـۧيِ بِنَّلٱ نَمِ مهِيۡلَعَ ّلِلَُّٱ مَعَنۡأَ نَيذِلَّٱ عَمَ كَئِلَٰٓ َ وْأُفَ لَوسُرَّلٱوَ ّلِلََّٱ عِطِيُ نمَوَﵟ ﵞ ٩٦ اقٗيفِرَ كَئِلَٰٓ َ وْأُ نَسُحَوَ نَۚيحِلِصَّٰلٱوَ

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (An-Nisa: 69)

Benar yang dikatakan oleh Abu Muhammad Abdurramah bin Ismail yang dikenal sebagai Abu Syamah, dalam kitabnya ‘Al-Hawadits wal Bida’ ketika membahas tentang pentingnya tetap bersama jamaah:

“Makna sebenarnya adalah berpegang teguh pada kebenaran dan mengikutinya, meskipun yang mengikuti kebenaran itu hanya sedikit, dan lawannya banyak. Karena kebenaran adalah apa yang dipegang teguh oleh jama’ah di masa rasulullah (). Kita tidak menggubris jumlah yang besar ahli batil yang datang setelah mereka”

Hasan al-Bashri telah berkata:

“Sunnah itu – demi Dzat yang tiada tuhan selain Dia - di antara orang yang berlebih- lebihan dan orang yang meremehkan. Maka bersabarlah kalian di atasnya, semoga Allah merahmati kalian. Sebab ahlus Sunnah adalah minoritas di antara manusia di masa lalu dan juga minoritas pada masa sesudahnya. Yaitu orang-orang yang tidak pergi bersama orang-orang yang bermewah-mewahan dalam kemewahan mereka, dan juga tidak bersama orang-orang yang mengikuti bid’ah dalam kebid’ahan mereka, dan mereka sabar atas Sunnah hingga bertemu dengan Tuhan mereka. Maka dalam keadaan demikianlah kalian harus berada”

Tanda lain penyakit hati adalah tidak menyukai makanan yang sehat dan memilih yang tidak sehat serta membenci obat yang bermanfaat daripada obat yang membahayakan. Sehingga, kita condong pada empat hal: makanan yang sehat, obat yang menyembuhkan, makanan tidak sehat dan obat yang membahayakan. Hati yang sehat akan cenderung pada makanan yang sehat dan obat yang menyembuhkan dan menjauhi makanan yang tidak sehat dan obat yang membahayakan. Hati yang sakit akan bertindak sebaliknya.

Makanan yang paling sehat sejatinya adalah keimanan dan obat paling bermanfaat adalah Al-Qur’an. Keduanya menyediakan makanan dan juga obat. Barangsiapa mencari obat selain dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka dia adalah orang yang paling bodoh dan orang

paling sesat di antara yang paling sesat. Allah () berfirman:

كَئِلَٰٓ َ وْأُ ىٰۚمًعَ مۡهِيۡلَعَ وَهُوَ ر قۡوَ مۡهِنِاذَاءَ ىِٓف نَونُمِؤۡيُ اَل نَيذِلَّٱوَ ۚ ءآفَشِوَ ىدٗهُ اْونُمَاءَ نَيذِلَّلِ وَهُ لۡقُ...ﵞ ٤٤ دٖيعِبَ نِۭاكَمَّ نمِ نَوۡدَانَيُ

Katakanlah: “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman, pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur’an itu kegelapan pada mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (QS. Fussilat: 44)

Allah () telah berfirman:

ﵞ ٢٨ ارٗاسَخَ اَّلإِ نَيمِلِظَّٰلٱ دُيزِيَ اَلوَ نَينِمِؤۡمُلِۡ ل ةمَحۡرَوَ ءآفَشِ وَهُ امَ نِاءَرۡقُلۡٱ نَمِ لُزِ نَنُوَﵟ

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang- orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (QS. Al-Isra: 82)

FASAL: ARSY DAN KURSI ALLAH


image

Arsy dan Kursi adalah benar adanya

Dalilnya terdapat dalam ayat Allah berikut ini:

ﵞ٦١ دُيرِيُ امَِ ل ل اعَّفَ ٥١ دُيجِمَلۡٱ شِرۡعَلۡٱ وذُﵟ

Yang mempunyai Arsy lagi Maha Mulia. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya

(QS. Al-Buruj: 15-16)

Allah () juga berfirman:

ﵞ ٥١ .... شِرۡعَلۡٱ وذُ تِجَٰرَدَّلٱ عُيفِرَﵟ

Dialah yang Maha Tinggi derajat-Nya. Yang mempunyai Arsy (QS. Ghafir: 15) Dan firman-Nya,

ﵞ٥ ىٰوَتَسۡٱ شِرۡعَلۡٱ ىَلعَ نُمَٰحۡرَّلٱﵟ

(Yaitu) Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas Arsy (QS. Thaha: 5) Dan firman-Nya,

ﵞ ٦٢ ۩ مِيظِعَلۡٱ شِرۡعَلۡٱ بُّرَ وَهُ اَّلإِ هَلَٰإِ آَل ّلِلَُّٱ ﵟ

Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang Mempunyai Arsy yang besar

(QS. An-Naml: 26)

Bukhari telah meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda:

»نِاْحْرَّلا شُرْعا هُاقوْ افوا ،ةِنَّاْلْا طُاسوْاأوا ،ةِنَّاْلْا ىلاعْاأ هُنَّإِاف ، اسوْادرْفِلْا هُولُاأسْااف اةنَّاْلْا اّللَّا مُتُلْاأاس ااذإِ«

“Bila kalian memohon kepada Allah, maka memohonlah Surga Firdaus, karena ia adalah surga yang paling tengah, surga paling tinggi, dan di atasnya adalah Arsy Tuhan Yang Maha Rahman.” 106

Diketahui pula bahwa Arsy itu memiliki kaki-kaki yang dipukul oleh para malaikat, sebagaimana Rasulullah (ﷺ) telah bersabda:

يرِدْاأ الااف ،شِرْعالْا مِئِاوا اق نْمِ ةٍما ئِاقابِ ذٌخِآ ىاسوُِبِ َنااأ ااذإِاف ،قُيفِيُ نْما لاوَّاأ نُوكُاأاف ،انوقُعا صْاي اسانَّلا نَّإِاف«

»رِوطُّلا ةِقاعْاصبِ ايزِوجُ مْاأ يلِبْ اق قا اافاأ


image

106 Diriwayatkan oleh Bukhari (7423) dan Ahmad (2/335)

“Sesungguhnya manusia akan pingsan, lalu aku adalah orang pertama yang siuman, tapi ternyata aku melihat Musa memegang salah satu kaki Arsy. Aku tidak tahu apakah beliau siuman sebelumku atau beliau dibalas dengan pingsan di Bukit Thur.” (Bukhari Muslim).107

Secara bahasa Arsy dimaknai sebagai singasana raja atau para penguasa untuk diduduki (sebelum hadir di antara rakyatnya untuk berbicara kepada mereka). Allah pun menggunakan kata yang sama, saat menceritakan tentang Ratu Bilqis.

ﵞ٣٢ م يظِعَ شٌرۡعَ اهَلَوَ....

Serta mempunyai singasana yang besar (QS. An-Naml: 23)

Adapun bagi orang menyelewengkan makna Arsy dan memaknainya dengan Kerajaan, bagaimana kita memahami firman Allah () berikut ini:

ﵞ٧١ ةيَنِمَٰثَ ذٖئِمَوۡيَ مۡهُقَوۡفَ كَبِ رَ شَرۡعَ لُمِحۡيَوَ ....

Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (Al- Haqqah: 17)

Dan firman-Nya:

ﵞ٧ ...آمَلۡٱ ىَلعَ ۥهُشُرۡعَ نَاكَوَ ...

Dan adalah singasana-Nya (sebelum itu) di atas air (QS. Hud: 7)

Akankah dia berani berkata: Pada hari itu kerajaanNya akan dipikul oleh delapan malaikat? KerajaanNya di atas air? Atau Musa berpegangan pada salah satu kaki kerajaan? Akankah orang yang sehat akalnya menyatakan hal ini?

Adapun mengenai Kursi, Allah () berfirman:

ﵞ٥٥٢ .... ضَۖۡرأَۡلٱوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ هُيُّسِرۡكُ عَسِوَ...

Kursi Allah meliputi langit dan bumi (QS. Al-Baqarah: 255)

Sebagian ulama berpendapat bahwa Kursi Allah itu tidak lain adalah Arsy. Namun, sebenarnya, Kursi dan Arsy adalah dua hal yang berbeda. Inilah pendapat Ibnu Abbas dan yang lainnya.

Ibnu Abi Syaibah telah menyatakan dalam karyanya “Shifat Al-Arsy” serta Al-Hakim dalam Mustadraknya, -yaitu suatu riwayat yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh Bukhari Muslim, meskipun mereka tidak meriwayatkannya-. Dari Sa’id ibn Jubair meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas meriwayatkan, ketika membahas firman Allah (2:255) “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”, beliau berkata:

“Kursi adalah tempat bersemayam dua kaki Allah. Adapun Arsy, tidak ada yang tahu ukurannya kecuali Allah sendiri”


image

107 Diriwayatkan oleh Bukhari (2411) dan Muslim (2373)

Sebagian orang telah memarfukan hadits tersebut itu kepada Nabi sendiri. Namun, yang benar hadits tersebut mauquf sampai Ibnu Abbas.

Sebagian ulama lain menyatakan bahwa kursi berada di depan Arsy yang berfungsi sebagai pijakan.


image

Allah tidak membutuhkan Arsy dan semua yang ada di bawahnya. Allah meliputi segala sesuatu dan Dia di atas segala sesuatu itu. Dan Allah menantang (yang membuktikan kelemahan) MakhlukNya untuk meliputi segala sesuatu.

Bagian pertama dari pernyataan di atas memiliki dalil dari firman Allah berikut ini:

ﵞ ٦ نَيمِلَعَٰلۡٱ نِعَ يٌّنِغَلَ ّلِلََّٱ نَّإِ....

Sesungguhnya Allah benar-benar MahaKaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

(QS. Al-Ankabut: 6)

Ath-Thahawi menulis pernyataan ini setelah beliau membahas tentang Arsy dan Kursi untuk menjauhkan pikiran manusia dari pemikiran bahwa Allah membutuhkan Arsy dan yang ada dibawahnya. Arsy diciptakan sebagai tempat-Nya beristiwa bukan karena Dia membutuhkannya tetapi karena sebuah hikmah yang menuntutnya.

Sesuatu yang tinggi di atas sesuatu yang rendah tidak serta merta menunjukkan bahwa yang di bawah menyangga yang di atas, mengelilinginya dan memikulnya Tidak juga menunjukkan bahwa yang di atas memerlukan yang di bawahnya. Misalnya saja langit dan bumi. Langit berada di atas bumi, namun tidak membutuhkan bumi untuk menyangga.

Allah Maha Tinggi atas semua itu. Dia memiliki sifat berada di atas segala sesuatu. Allah-lah yang menjaga yang berada di bawahNya pada tempatnya. Yang di bawah memerlukan kekuatanNya. Allah berada di atas Arsy, dengan mereka yang memikulnya, dan dengan kekuasaan-Nya Allah menjaga mereka pada posisinya. Dia tidak memerlukan Arsy, namun Arsy-lah yang membutuhkan Allah, Allah meliputi Arsy, namun Arsy tidak mampu meliputi-Nya, prinsip ini sejalan dengan DzatNya terpisah dari makhluk-Nya.

Jika Ahlu Ta’thil yang menolak sifat-sifat Allah memahami perincian di atas, maka tentu saja mereka akan dibimbing ke jalan yang benar dan akan mendapati bahwa wahyu sejalan dengan akal. Mereka pun bisa berpegang pada pendapat yang bisa mereka pertahankan. Namun, mereka mengabaikan dalil dan kehilangan jalan yang lurus. Kaidah dalam permasalahan ini adalah perkataan Imam Malik yang menyatakan:

“Istiwa’ telah diketahui maknanya tetapi bagaimana kaifiahnya tidaklah kita ketahui”.

Adapun dengan perkataan Ath-Thahawi: “Allah meliputi segala sesuatu dan Dia di atas segala sesuatu itu,” kami sudah menyuguhkan dalil bahwa Allah berada di atas setiap

makhluk dan tidak ada satupun dari makhluk-Nya yang berada di atasnya.

Adapun untuk perkataan “Allah meliputi segala sesuatu,” mereka mendasarkannya pada firman Allah () berikut ini:

ﵞ ٦٢١ اطٗيِحمُّ ءٖيۡشَ لِ كُبِ ّلِلَُّٱ نَاكَوَ ضِٰۚۡرأَۡلٱ ىِف امَوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ ىفِ امَ ِّلِلَِّوَﵟ

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu. (QS. An-Nisa: 126)

Meskipun demikian, fakta bahwa Dia meliputi segala sesuatu bukan berarti Dia meliputi segala makhluk-Nya dengan cara langit meliputi bumi, seolah-olah makhluk ada dalam Diri Allah. Mahatinggi Allah dari semua itu. Yang dimaksud adalah Dia meliputi segalanya dengan Keagungan, Keluasan, Ilmu dan Kekuasaan, bahwa mereka dibandingkan dengan keagunganNya adalah seperti biji zarah.

Adapun bagi pernyataan Dia berada di atas makhluk-Nya, hal ini secara jelas dibuktikan dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan pernyataan dalam hadits. Allah () berfirman:

ﵞ ٨١ .... ۦهِۚدِابَعِ قَوۡفَ رُهِاقَلۡٱ وَهُوَﵟ

Dan Dialah Yang Maha Berkuasa atas hamba-hamba-Nya (QS. Al-An’am: 18)

Allah () pun berfirman:

ﵞ ٠٥ ..... مۡهِقِوۡفَ نمِ مهُبَّرَ نَوفُاَخيَﵟ

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka (QS. An-Nahl: 50)

Abu Hurairah mengabarkan hadits bahwa Nabi (ﷺ) telah bersabda:


“Manakala Allah menyelesaikan penciptaan, Dia menulis dalam sebuah kitab, lalu ia ada di sisiNya di atas Arasy, ‘Sesungguhnya rahmatKu mendahului murka-Ku” (Bukhari dan yang lainnya).

Selain itu, pada peristiwa Banu Quraizah, yang melibatkan Sa’ad bin Muadz, telah diriwayatkan bahwa ketika Sa’ad memberikan putusan untuk menghukum mati para prajurit, dan menjadikan wanita dan anak-anak budak, Rasulullah(ﷺ) bersabda:

تٍاواااْسا عِبْاس قِوْ اف نْمِ كِلِما لْا مِكُِْبِ مْهِيفِ اتمْاكاح دْقاال

“Engkau menjatuhkan hukuman berdasarkan hukum Raja yang ada di atas langit yang ketujuh’ 108


image

108 Diriwayatkan oleh Bukhari (3043) dan Muslim (1768) tanpa tambahan: “yang ada di atas langit yang ketujuh”. Tambahan tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqat (3/426) dan Adz-Dzahabi dalam Al-Uluw (Hlm. 102).

Ini adalah hadits yang shahih yang telah diriwayatkan Umawiy dalam “Maghazi”-nya dan dasarnya adalah dari shahih Bukhari dan Muslim.

Bukhari pun meriwayatkan dari Zainab bahwa beliau pernah membanggakan dirinya, di depan istri-istri Nabi lainnya dengan berkata:

)تٍاواااْسا عِبْاس قِوْ اف نْمِ ُّللَّا ِنِاجوَّزاوا ،نَّكُيلِاهااأ نَّكُاجوَّزا(

“Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, sementara aku, Allah yang menikahkanku dari atas langit yang tujuh.” 109

Diriwayatkan bahwa suatu hari Umar bin Khatab keluar bersama orang-orang. Lalu ia melewati seorang wanita tua. Wanita tua itu meminta Umar untuk berhenti. Umar pun berhenti dan mereka berdua bercakap-cakap. Seseorang berkata kepada Umar:


“Wahai Amirul Mukminin. Engkau menahan (perjalanan) orang-orang karena wanita tua ini.”Umar pun menjawab: “Celakalah engkau. Tidakkah engkau tahu siapa wanita ini? Dialah wanita yang telah didengar pengaduannya oleh Allah dari langit ke tujuh. Wanita ini adalah Khaulah bint Tsa’labah yang Allah ceritakan dalam firman-Nya:

ِّللَّا َلاإِ يكِاتشْاتوا اهاجِوْزا ِفِ اكلُدِااَتُ ِتِلَّا لاوْ اق ُّللَّا اعْسِا دْاق

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya (QS. Al-Mujadalah: 1)110

(Darami telah meriwayat hadits yang disebutkan di atas).

Barangsiapa yang memiliki pemahaman yang luas tentang hadits nabi dan pendapat ulama Salaf maka dia akan menemukan begitu banyak bukti yang mengkonfirmasi konsep Fauqiyah (Allah ada di atas). Dikatakan bahwa ada sekitar dua puluh jenis nash yang menegaskan bahwa Allah di atas segala ciptaan-Nya. Berikut ini sebagian di antaranya.

Pertama: Penggunaan huruf “min” yang menentukan keberadaanNya di atas. Seperti dalam pernyataan:

ﵞ ٠٥ ..... مۡهِقِوۡفَ نمِ مهُبَّرَ نَوفُاَخيَﵟ

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka (QS. An-Nahl: 50) Kedua: menyebutkannya tanpa huruf “min”.

ﵞ ٨١ .... ۦهِۚدِابَعِ قَوۡفَ رُهِاقَلۡٱ وَهُوَﵟ

Dan Dialah Yang Maha Berkuasa atas hamba-hamba-Nya (QS. Al-An’am: 18) Ketiga: Pernyataan tentang “naik” (kepadaNya) seperti:


image

109 Diriwayatkan oleh Bukhari (7420)

110 Diriwaytkan oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Uluw (Hlm. 113) dan menyatakan bahwa sanadnya terputus.

ﵞ٤ .... هِيۡلَإِ حُورُّلٱوَ ةُكَئِلَٰٓ َ مَلۡٱ جُرُعۡتَﵟ

Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan (QS. Al-Ma’arij: 4) Keempat: penggunaan kata “naik”seperti,

ﵞ٠١ ...بُيِ طَّلٱ مُلِكَلۡٱ دُعَصۡيَ هِيۡلَإِ...

Kepada-Nya lah akan naik perkataan-perkataan yang baik (QS. Fatir: 10) Kelima: Allah menaikkan sebagian dari hamba-Nya ke sisi-Nya, seperti:

ﵞ٨٥١ ... هِٰۚيۡلَإِ ّلِلَُّٱ هُعَفَرَّ لبَﵟ

Tetapi Allah mengangkat Isa ke hadirat-Nya (QS. An-Nisa: 158)

Dan firman-Nya:

ﵞ ٥٥ .... ىََّلإِ كَعُفِارَوَ كَيفِ وَتَمُ ى نِإِ ﵟ

Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku (QS. Al-Imran: 55)

Keenam: Pernyataan secara tegas dengan kata “al-uluw (ketinggian)”, baik mutlak yang menunjukkan segala tingkatan ketinggian, baik dzat, kedudukan, dan kemuliaan.

Sebagaimana firman Allah():

ﵞ ٥٥٢ مُيظِعَلۡٱ يُّلِعَلۡٱ وَهُوَ...

Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS. Al-Baqarah: 255)

Ketujuh: Pernyataan secara tegas dengan “turunnya Al-Qur’an dari sisiNya, seperti firman Allah:

ﵞ٢ مِيلِعَلۡٱ زِيزِعَلۡٱ ِّلِلَّٱ نَمِ بِتَٰكِلۡٱ لُيزِنتَﵟ

Al-Qur’an ini diturunkan dari Allah Mahaperkasa lagi MahaMengetahui (QS. Ghafir: 2)

Dan,

ﵞ٢ مِيحِرَّلٱ ِنَٰمۡحرَّلٱ نَمِ ل يزِنتَ ﵟ

Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (QS. Fussilat: 2)

Dan,

ﵞ٢٠١ .... تَبِ ثَيُلِ قِ حَلۡٱبِ كَبِ رَّ نمِ سِدُقُلۡٱ حُورُ ۥهُلَزَّنَ لۡقُﵟ

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar

(QS. An-Nahl: 102)

Kedelapan: Pernyataan secara tegas tentang kekhususan sebagian makhluk bahwa mereka berada di sisi-Nya, bahwa sebagian lagi lebih dekat dengan-Nya, dan semisalnya.

ﵞ ٦٠٢ .... كَبِ رَ دَنعِ نَيذِلَّٱ نَّإِﵟ

Sesungguhnya yang ada di sisi Tuhanmu (QS. Al-A’raf: 206)

Pada contoh di atas, Allah membedakan antara ‘siapa milikNya’ secara umum dengan “Siapa yang di sisiNya”, dari para malaikat dan hamba-hamba-Nya secara khusus.

Kesembilan: Pernyataan bahwa Dia berada di atas langit, seperti.

ﵞ٧١ ... اۖبٗصِاحَ مۡكُيۡلَعَ لَسِرۡيُ نأَ ءِآمَسَّلٱ ىفِ نمَّ متُنمِأَ مۡأَﵟ

Ataukah kamu merasa aman terhadap Allah yang berada di atas langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu (QS. Al-Mulk: 17)

Kesepuluh: Pernyataan bahwa Allah bersemayam di atas (istiwa) Arsy yang mana telah kita ketahui, berada di atas segala hal, di atas makhluk-Nya.

Kesebelas: Pernyataan secara tegas dengan diangkatnya tangan-tangan terhadap Allah, seperti sabda Nabi:

»ارًفْ صِ ااُهُدَّرُ اي نْاأ هِيْدااي هِيْالإِ اعافرا ااذإِ هِدِبْعا نْمِ يحِتاسْاي اّللَّا نَّإِ«

Sesungguhnya Tuhan kalian malu dari hambaNya, bila hamba mengangkat kedua tangannya kepadaNya, untuk mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” 111

Kedua Belas: Pernyataan “turunnya Allah setiap malam ke langit dunia.

Ketiga Belas: Isyarat kepada Allah secara materiil bahwa Dia tinggi (di atas sana), sebagaimana hal ini dilakukan oleh Rasulullah, orang yang paling mengetahui Allah, apa yang wajib dan apa yang tidak boleh bagi Allah dibanding semua manusia, hal itu terjadi pada perkumpulan paling besar yang tidak pernah terealisasi bagi siapapun selain beliau pada hari paling agung di tempat paling agung. Beliau mengangkat jari beliau yang mulia ke langit, dan berkata:


‘Ya Allah, saksikanlah.”112

دْها شْا مَّهُلَّلا

Keempat Belas: Penggunaan kata “di mana,” ketika Rasul bertanya kepada seorang budak wanita.


”Di manakah Allah?”113

ُّللَّا انيْاأ


image

111 Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (5/438), Abu Dawud (1488), At-Tirmidzi (3551), dan Ibnu Majah (3865)

112 Diriwayatkan oleh Muslim (1218)

Kelima Belas: kesaksian Rasulullah untuk wanita tersebut yang berkata Rabbnya di langit bahwa dia beriman.

Keenam Belas: Kabar dari Allah tentang Fir’aun yang berharap bisa naik ke atas langit untuk melihat Tuhannya Nabi Musa. Dia mendustakan Musa, tentang apa yang dia kabarkan bahwa Allah di atas langit.

هِالإِ َلاإِ اعلِطَّاأاف تِاوااما سَّلا اباابسْاأ ﴿﴾ اباابسْاْلْا غُلُ بْاأ يل ِعالَّ احًرْاص ِلِ نِبْا نُامااها َيا نُوْعارْفِ لاااقوا ﴿

﴾ِبًذِااك هُنُّظُاْلا ِن ِإِوا ىاسومُ

Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi

supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku benar-benar menduganya seorang pendusta (QS. Ghafir: 36-37)

Ketujuh Belas: hadits Nabi(ﷺ), bahwa beliau berkali-kali bolak-balik antara Nabi Musa dan Tuhannya untuk meminta pengurangan jumlah rakaat sholat. Beliau menyatakan bahwa beliau naik ke atas menghadap Allah, dan turun ke bawah untuk mendatangi Nabi Musa beberapa kali.

Kedelapan Belas: Dalil-dalil yang mengkonfirmasi bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah di Surga. Dalil-dalil itu dengan jelas menyatakan bahwa mereka sendiri akan melihat Allah. Satu riwayat berasal dari Nabi:

افراشْاأ دْاق هُلُالا اج لَّاج رُابَّاْلْا ااذإِاف ،مْهُاسوءُرُ اوعُ افرا اف ،رٌونُ مَُْلا اعاطاس ذْإِ ،مْهِمِيعِان ِفِ ةِنَّاْلْا لُهْاأ اان يْ اب«

مْكُيْالعا مٌالا اس ،ةِنَّاْلْا الهْاأ َيا :لاااقوا ،مْهِقِوْ اف نْمِ مْهِيْلاعا

‘Para penghuni Surga merasakan kenikmatan yang luar biasa. Mereka akan mengangkat kepala mereka. Allah yang Maha Agung menyapa mereka. Dia berkata: “Wahai para penghuni surga, salam bagi kalian semua!” (Imam Ahmad dalam Musnad dan yang lainnya).114

Karena tidak mungkin menafikan Allah berada di atas tanpa menafikan ru’yatullah, pada akhirnya Jahmiyah menolak kedua konsep itu, padahal Ahlu Sunnah wal Jamaah menetapkan keduanya.

Dalil-dalil yang disebutkan di atas sebagian saja dari keseluruhan dalil yang ada. Jika seseorang ingin mengumpulkan semua dalil yang bisa dihadirkan, maka jumlahnya akan mencapai sekitar seribu dalil. Oleh karena itu, barang siapa yang ingin menakwilkannya, silakan menyanggah seribu dalil tersebut. Mustahil dia bisa membawakan jawaban yang benar dari sisinya.

Sebaliknya, barangsiapa yang menafsirkan Ketinggian Allah dengan makna bahwa Allah lebih baik dan lebih utama dibandingkan makhluk-Nya, misalnya mengatakan: ‘Raja di


image

113 Diriwayatkan oleh Muslim (537)

114 Dhaif. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (184).

atas menteri,’ atau ‘ dinar di atas dirham,’ Ucapan seperti ini termasuk ucapan yang diingkari oleh akal sehat dan dimentahkan oleh hati yang lurus. Karena ucapan seseorang pertama kali, “Allah lebih baik dari hamba-hambaNya, lebih baik dari ArasyNya”, sejenis dengan ucapannya, “Es itu dingin, api itu panas; Nabi lebih utama daripada si Yahudi.’ Ini tidak mengandung pemuliaan, sanjungan, dan pengagungan.

Justru berada di atas, dalam artian lebih baik daripada mereka secara otomatis diperoleh dengan ketinggian yang mutlak yang kita bicarakan. Allah berada di atas segala hal baik dalam Kemahakuasaan-Nya maupun Dzat-Nya. Barangsiapa yang menerima sebagian dari makna itu, lalu menolak sebagian lainnya, maka dia telah keliru karena Allah berada di atas segala hal secara mutlak.

Jika dikatakan “konsep ketinggian Allah maksudnya adalah tertanam dalam hati melebihi dan di atas segala sesuatu”, bisa dijawab bahwa aspek makna yang demikian pun sudah termasuk di dalamnya. Jika Dia tidak berada di atas segala sesuatu secara mutlak, maka ketinggiannya di dalam hati pun tidak bisa dianggap benar.

Ketinggian Allah ditetapkan kebenarannya lewa Al-Quran dan Sunnah, juga termasuk hal-hal yang dipahami oleh fitrah. Muhammad bin Tahir bin Al-Maqdisi telah mengabarkan bahwa suatu ketika Syaikh Abu Ja’far al-Hamdani menghadiri suatu majelis yang diselenggarakan oleh Abu Al-Ma’ali al-Juwaini, yang dikenal dengan panggilan Imam Haramain. Imam Haramain menyangkal konsep Allah berada di atas, “Allah telah ada sebelum ada Arsy. Sekarang Dia berada di tempatnya semula.” Syaikh Abu Jafar bertanya kepadanya: “Terangkanlah kepada kami, tuanku, fitrah ini yang kita rasakan dalam hati kita: tidak ada yang mengenal Tuhan dan berkata: “Ya Allah,” melainkan hatinya otomatis akan mengarah ke atas. Dia tidak menoleh ke kanan ataupun ke kiri. Lalu bagaimana kita menyingkirkan hal ini?” Abu Al-Ma’ali menampar dirinya sendiri, turun dari mimbar dan berkata, sambil bercucuran air mata. “Hamdani membuatku terkesima.” Yang dimaksud Hamdani adalah Allah berada di atas telah tertaanam dalam fitrah kita, yang dengannya Allah menciptakan kita. Tidak diperlukan risalah dari rasul untuk memahaminya. Mereka sudah menenukannya ditempatkan di dalam hati mereka.

Dalil fitrah ini disanggah (sebagian kalangan) dengan perkataan, Saat berdoa hati tertuju ke atas, itu karena langit adalah kiblat doa, sebagaimana Ka'bah adalah kiblat shalat. Kemudian ia tertolak dengan meletakkan kening di tanah saat sujud, padahal Allah tidak di bawah:

Pertama: Ucapan kalian bahwa langit adalah kiblat doa, tidak seorang pun dari ulama terdahulu yang berkata demikian. Allah juga tidak menurunkan dalil yang menunjukkan demikian, ini termasuk perkara syar'i dan agama, tidak mungkin ia samar bagi para ulama dan salafush shalih.

Kedua: Bahwa kiblat doa sama dengan kiblat shalat, orang yang berdoa dianjurkan menghadap kiblat. Nabi menghadap kiblat saat berdoa dalam banyak kesempatan..

Untuk bantahan dengan meletakkan kening ke tanah saat sujud, ini adalah bantahan sangat rusak, karena maksud orang yang meletakkan kening di tanah adalah ketundukan kepada yang di atasnya dengan merendahkan diri kepadaNya, bukan dia condong kepadaNya

karena Dia ada di bawah iuga. Tak seorang pun yang bersujud yang memahami demikian.

Adapun perkataan Ath-Thahawi: “makhluk tidak bisa meliputiNya,” yang beliau maksud adalah makhluk tidak bisa meliputiNya baik dalam pengetahuan maupun penglihatan.

FASAL: IBRAHIM KHALILULLAH DAN MUSA KALIMULLAH


image

Kami (ahlus Sunnah) juga mengatakan, sesungguhnya Allah telah menjadikan nabi Ibrahim sebagai kekasih-Nya, dan Allah juga telah berbicara kepada Nabi Musa secara langsung, sebagai suatu keimanan, pembenaran, dan penyerahan (diri kepada Allah)

Allah () berfirman:

ﵞ٥٢١ الٗيلِخَ مَيهِرَٰبۡإِ ّلِلَُّٱ ذََختَّٱوَ....

Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai Kesayangan-Nya (QS. An-Nisa: 125)

Allah () juga berfirman:

ﵞ ٤٦١ امٗيلِكۡتَ يٰسَومُ ّلِلَُّٱ مَلَّكَوَ....

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung (QS. An-Nisa: 164)

Kata tekstual yang disebut sebagai “kekasih” pada ayat yang dikutip di atas adalah “khalil.’ Kata ini berakar dari khullah yang mengacu pada derajat kecintaan yang tinggi.

Jahmiyah mengingkari hakikat mahabbah (mencintai) dari keclua belah pihak. Mereka mengklaim bahwa mahabbah (mencintai) tidak terjadi kecuali karena adanya keserasian di antara pecinta dan yang dicinta, dan bahwa tidak ada hubungan keterkaitan antara Yang Qadim (Allah) dengan yang muhdats (makhluk) yang mengharuskan adanya

mahabbah (kecintaan) di antara keduanya. Mereka pun mengingkari Allah () berbicara

langsung kepada Nabi Musa. Namun, menurut kami, kami meyakini adanya cinta dan berbicara yang layak bagi Allah, seperti sifat-sifat Allah lainnya.

Sunnah Nabi pun dapat dikutip sebagai dalil untuk mendukung pernyataan kami. Telah dicatat dalam kompilasi yang shahih melalui Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah (ﷺ) telah berkata:

»ِّللَّا لُيلِاخ مْكُابحِااص نَّكِالوا ،الًيلِاخ رٍكْاب ِبااأ تُذْاَّتََّلا الًيلِاخ ضِرْاْلْا لِهْاأ نْمِ اذًخِتَّمُ تُنْكُ وْال«

“Seandainya aku mengangkat seorang Khalil (kekasih khusus) dari penduduk bumi, niscaya aku mengangkat Abu Bakar, tetapi teman kalian ini adalah Khalil (kekasih khusus) Allah.”

115


Dalam riwayat lain:


image

115 Diriwayatkan oleh Muslim (2383) dari Hadits Ibnu Mas’ud. Adapun jalur Abu Said diriwaytakan oleh Ibnu

Abi Syaibah (11/473) dalam Al-Mushannaf

الًيلِاخ اميهِارا بْإِ ذااَّتَّا اما اك الًيلِاخ ِنِذااَّتَّا اّللَّا نَّإِ

“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku seorang khalil, seperti halnya Dia menjadikan Ibrahim sebagai Khalil.”116

Padahal beliau secara terbuka menyatakan mencintai orang-orang tertentu. Sebagai contohnya, beliau berkata kepada Muadz bin Jabal:

» اكبُّحُِْلا ِن ِإِ ِّللَّاوا«

“Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu.” 117

Kami pun memiliki contoh serupa saat beliau menyebut kaum Ansar.

Dari sini diketahui bahwa khullah itu lebih khusus daripada sekedar mahabbah (cinta), dan orang yang dicintai karena kesempurnaannya adalah orang yang mencintai karena dirinya, dan bukan karena sesuatu yang lain.


image

Kami (ahlus Sunnah) juga beriman terhadap para malaikat dan para nabi. (Dan kami juga beriman) kepada kitab-kitab suci yang diturunkan (Allah) kepada para rasul, dan kami bersaksi bahwa mereka berada di atas kebenaran yang nyata.

Semuanya (malaikat, nabi dan kitab suci) merupakan rukun keimanan. Allah () berfirman:

... ۦهِلِسُرُوَ ۦهِبِتُكُوَ ۦهِتِكَئِلَٰٓ َ مَوَ ِّلِلَّٱبِ نَمَاءَ لٌّكُ نَۚونُمِؤۡمُلۡٱوَ ۦهِبِ رَّ نمِ هِيۡلَإِ لَزِنأُ آمَبِ لُوسُرَّلٱ نَمَاءَﵟ

ﵞ٥٨٢

Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya (QS. Al-Baqarah: 285)

Allah () juga berfirman:

رِخِٓأۡلٱ مِوۡيَلۡٱوَ ِّلِلَّٱبِ نَمَاءَ نۡمَ رَّبِلۡٱ نَّكِلَٰوَ بِرِغۡمَلۡٱوَ قِرِشۡمَلۡٱ لَبَقِ مۡكُهَوجُوُ اْولُّوَتُ نأَ رَّبِلۡٱ سَيۡلَّﵟ ﵞ٧٧١ ... نَـۧيِ بِنَّلٱوَ بِتَٰكِلۡٱوَ ةِكَئِلَٰٓ َ مَلۡٱوَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi


image

116 Diriwayatkan oleh Muslim (532)

117 Diriwayatkan oleh Bukhari (3662) dan Muslim (2384)

sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi (QS. Al-Baqarah: 177)

Bisa kita lihat pada ayat-ayat di atas, Allah menyatakan bahwa Iman adalah beriman kepada semua yang disebutkan dalam ayat. Allah juga menyebut mereka yang beriman kepada seluruh rukun iman tersebut sebagai seorang mukmin. Sebaliknya, Dia menyatakan orang yang tidak mengimani hal-hal di atas sebagai seorang kafir. Allah () berfirman:

ﵞ٦٣١ ادًيعِبَ اَۢلَلَٰضَ لَّضَ دۡقَفَ رِخِٓأۡلٱ مِوۡيَلۡٱوَ ۦهِلِسُرُوَ ۦهِبِتُكُوَ ۦهِتِكَئِلَٰٓ َ مَوَ ِّلِلَّٱبِ رۡفُكۡيَ نمَوَ...

Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul- Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya (QS. An- Nisa: 136)

Dalam riwayat yang masyhur, yaitu hadits Jibril, seperti yang diriwayatkan dalam Bukhari Muslim, ketika Rasul ditanya oleh Jibril apa itu “iman,” beliau menjawab:

»هِرِ اشوا هِْيِْاخ رِدا قالِْبِ انمِؤْ تُوا ،رِخِْلْا مِوْ ايلْاوا هِلِسُرُوا هِبِتُكُوا هِتِاكئِالاماوا ِّللَِّبِ انمِؤْ تُ نْاأ«

“Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” 118

Itulah sebabnya, mengapa dua ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah dinilai sangat penting dibandingkan ayat-ayat lainnya dari Surah tersebut. Abu Mas’ud Uqbah bin Amr telah meriwayatkan bahwa Rasulullah(ﷺ) telah bersabda:

»هُااتفا اك ةٍال يْال ِفِ ةِراقا ابلْا ةِراوسُ رِخِآ نْمِ ّيِْات ايْلْا اأرا اق نْما«

“Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” 119

Al-Qur’an dan Sunnah kemudian merinci jenis-jenis malaikat. Keduanya menerangkan kepada kita bahwa para malaikat mengemban tugas berbeda berkaitan dengan urusan manusia. Sebagian dari mereka pembawa rahmat. Sebagiannya lagi pembawa siksaan. Sebagiannya lagi memikul Arsy. Ada pula sebagian malaikat yang tidak melakukan tugas apapun kecuali bertasbih serta menyucikan Allah dan seterusnya.

Kata “malak” mempunyai konotasi tentang seseorang yang ditugaskan untuk menjalankan perintah. Mereka tidak memiliki hawa nafsu dan keinginan sendiri. Semuanya patuh pada perintah Allah, Yang Maha Berkuasa. Mereka hanya menjalankan perintah Allah,

sebagaimana firman Allah ():

ﵞ٧٢ نَولُمَعۡيَ ۦهِرِمۡأَبِ مهُوَ لِوۡقَلۡٱبِ ۥهُنَوقُبِسۡيَ اَل ﵟ

Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah- perintahh-Nya (QS. Al-Anbiya: 27)


image

118 Diriwayatkan oleh Muslim (8)

119 Diriwayatkan oleh Bukhari (4008)

Para malaikat adalah makhluk yang dimuliakan. Sebagian dari mereka mengelilingi Arsy. Sebagiannya lagi berdzikir kepada Allah. Tidak ada satupun di antara mereka melainkan memiliki kedudukan dan derajat khusus. Malaikat tidak pernah mengurangi atau melebihi perintah-Nya.

Malaikat yang paling dimuliakan adalah yang berada di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya:

ﵞ ٠٢ نَورُتُفۡيَ اَل رَاهَنَّلٱوَ لَيۡلَّٱ نَوحُبِ سَُي ٩١ نَورُسِحۡتَسۡيَ اَلوَ ۦهِتِدَابَعِ نۡعَ نَورُبِكۡتَسۡيَ اَل....

Mereka tidak angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya (QS. Al-Anbiya: 19-20)

Pemimpin mereka adalah tiga malaikat: Jibril, Mikail, dan Israfil, mereka bertugas mengurusi kehidupan. Jibril bertugas mengurusi wahyu yang merupakan kehidupan hati dan rohani. Mikail bertugas mengurusi hujan yang menjadi kehidupan bumi, hewan-hewan dan tanaman-tanaman, sedangkan Israfil bertugas meniup sangkakala yang menghidupkan makhluk sesudah kematian kelak.

Al-Qur’an banyak menyinggung tentang para malaikat, tugas-tugas dan derajat- derajat mereka. Terkadang Allah menyandingkan namaNya dengan nama mereka, shalawatNya dengan shalawat mereka, menisbatkan mereka kepadaNya pada konteks- konteks sanjungan, menyebutkan bahwa mereka mengelilingi arsy dan memikulnya. Terkadang Allah menyifati mereka dengan kemuliaan dan pemuliaan, kedekatan dan ketinggian, kesucian, kekuatan dan keikhlasan. Allah () berfirman:

ﵞ٣٤ ... رِٰۚونُّلٱ ىَلإِ تِمَٰلُظُّلٱ نَمِ مكُجَرِخۡيُلِ ۥهُتُكَئِلَٰٓ َ مَوَ مۡكُيۡلَعَ ي لِصَيُ يذِلَّٱ وَهُﵟ

Dialah yang membawa rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). (QS. Al-Ahzab: 43)

Allah () juga berfirman:,

نَيذِلَّلِ نَورُفِغۡتَسۡيَوَ ۦهِبِ نَونُمِؤۡيُوَ مۡهِبِ رَ دِمَۡحبِ نَوحُبِ سَُي ۥهُلَوۡحَ نۡمَوَ شَرۡعَلۡٱ نَولُمِۡحيَ نَيذِلَّٱﵟ ﵞ ٧ .... اْوۖنُمَاءَ

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (Qs. Ghafir: 7)

Allah () juga berfirman:

ﵞ ٥٧ ..... مۚۡهِبِ رَ دِمَۡحبِ نَوحُبِ سَُي شِرۡعَلۡٱ لِوۡحَ نۡمِ نَيِ فٓاحَ ةَكَئِلَٰٓ َ مَلۡٱ ىرَتَوَﵟ

Dan engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkari di sekeliling Arsy, bertasbih sambil memuji Tuhannya (QS. Az-Zumar: 75)

Allah () juga berfirman::

ﵞ ٨٣ ۩ نَومُ ـَسۡيَ اَل مۡهُوَ رِاهَنَّلٱوَ لِيۡلَّٱبِ ۥهُلَ نَوحُبِ سَُي كَبِ رَ دَنعِ نَيذِلَّٱفَ اْورُبَكۡتَسۡٱ نِإِفَﵟ

Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya pada malam hari dan siang hari, sedang mereka tidak pernah jemu (QS. Fussilat: 38)

Allah () juga berfirman:


Yang mulia di sisi Allah (QS. Al-Infitar: 11)

Allah () pun berfirman:

ﵞ١١ نَيبِتِكَٰ امٗارَكِﵟ


ﵞ١٢ نَوبُرَّقَمُلۡٱ هُدُهَشۡيَﵟ

Yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan kepada Allah (QS. Al-Mutaffifin: 21)

Sunnah juga tidak ketinggalan dalam meriwayatkan hadits-hadits tentang malikat.

Oleh karena itu, beriman pada malaikat merupakan salah satu rukun Islam.

Adapun mengenai Nabi dan Rasul, kita harus mengimani apa yang telah Allah sebutkan dalam kitab-Nya serta meyakini bahwa Allah mengutus Nabi dan Rasul selain mereka. Tidak ada yang mengetahui nama dan jumlah pasti dari Nabi dan Rasul kecuali Allah. Wajib bagi kita mengimani mereka secara global karena baik Al-Qur’an ataupun Sunnah tidak menyebutkan jumlah pastinya. Allah () berfirman:

ﵞ٨٧ ... كَيۡلَعَ انَصۡصَقَ نمَّ مهُنۡمِ كَلِبۡقَ نمِ الٗسُرُ انَلۡسَرۡأَ دۡقَلَوَﵟ

Sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelummu: diantara mereka ada yang Kami ceritakan perihalnya kepadamu (QS. Al-Mu’min: 78)

Kita juga wajib mengimani bahwa mereka menyampaikan seluruh risalah yang telah diamanahkan kepada mereka, sesuai dengan perintah dari-Nya, dengan penjelasan yang tidak menyisakan udzur ketidaktahuan120 bagi kaum mereka, dan tidak halal bagi mereka menyelisihinya.

Adapun mengenai ulul-Azmi, terdapat beberapa pendapat. Pendapat erbaik adalah apa yang dinukil oleh Baghawi dan lainnya dari Ibnu Abbas dan Qatadah bahwa ulul azmi itu berjumlah lima: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Mereka adalah para rasul yang disebutkan dalam ayat berikut ini:

ﵞ٧ ... مَۖيَرۡمَ نِبۡٱ يسَيعِوَ يٰسَومُوَ مَيهِرَٰبِۡإوَ حٖونُّ نمِوَ كَنمِوَ مۡهُقَثَٰيمِ نَـۧيِ بِنَّلٱ نَمِ انَذۡخَأَ ذِۡإوَﵟ

Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putera Maryam (QS. Al-Ahzab: 7)

Dan firman Allah () berikut ini:


image

120 Udzur bil Jahl (SAS)

يٰسَومُوَ مَيهِرَٰبۡإِ ۦٓهِبِ انَيۡصَّوَ امَوَ كَيۡلَإِ آنَيۡحَوۡأَ يٓذِلَّٱوَ احٗونُ ۦهِبِ يٰصَّوَ امَ نِيدِ لٱ نَمِ مكُلَ عَرَشَﵟ ﵞ ٣١ ...شۡمُلۡٱ ىَلعَ رَبُكَ هِٰۚيفِ اْوقُرَّفَتَتَ اَلوَ نَيدِ لٱ اْومُيقِأَ نۡأَ يَٰۖٓ سَيعِوَ

Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan), dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang- orang yang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. (QS. Asy- Syura: 13)

Adapun mengenai Nabi Muhamamd, kita harus membenarkan beliau dan mengikuti syariat yang beliau bawa secara baik yang disampaikan secara global maupun terperinci.

Adapn iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah, maka kami beriman kepada nama kitab yang tertera namanya dalam al-Quran seperti Taurah, Zabur, dan Injil. Kami beriman kepada kitab selain itu sebagai kitab-kitab yang Allah turunkan kepada nabi- nabiNya, tetapi tentang nama dan jumlahnya, hanya Allah yang mengetahui.

Adapun iman kepada Al-Qur’an, maka dengan mengakuinya dan mengikuti kandungannya. Ini adalah makna lebih dari iman kepada kitab-kitab. Kita wajib beriman bahwa kitab-kitab yang turun kepada para rasul Allah adalah benar datang kepada mereka dari sisi Allah, bahwa ia adalah kebenaran, hidayah, cahaya, penjelasan dan kesembuhan.

Allah () berfirman:

آمَوَ طِابَسۡأَۡلٱوَ بَوقُعۡيَوَ قَحَٰسِۡإوَ لَيعِمَٰسِۡإوَ مَـۧهِرَٰبۡإِ ىَٰٓ َ لإِ لَزِنأُ آمَوَ انَيۡلَإِ لَزِنأُ آمَوَ ِّلِلَّٱبِ انَّمَاءَ اْوٓلُوقُﵟ ٦٣١ نَومُلِسۡمُ ۥهُلَ نُۡحنَوَ مۡهُنۡمِ دٖحَأَ نَيۡبَ قُرِ فَنُ اَل مۡهِبِ رَّ نمِ نَويُّبِنَّلٱ ىَِتوأُ آمَوَ يٰسَيعِوَ يٰسَومُ ىَِتوأُ

Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Tidak kami beda-bedakan mereka dan kami adalah orang-orang yang berserah diri pada Allah (QS. Al-Baqarah: 136)

FASAL: MENGAFIRKAN AHLI KIBLAT


image

Dan Kami (ahlu Sunnah) menamakan orang-orang yang (shalat menghadap) kiblat kami, sebagai orang-orang muslim, orang-orang mukmin selama mereka mengakui apa yang dibawa oleh nabi dan membenarkan setiap yang beliau sabdakan dan beliau kabarkan.

Nabi (ﷺ) telah bersabda:

».اان يْالعا اما هِيْلاعاوا اانال اما هُال ،مُلِسْمُلْا وا هُ اف ،اان اتاحيبِاذ الاكاأوا ،اان اتلا بْقِ الباقْ اتسْاوا ،اان اتالا اص ىلَّاص نْما«

“Barangsiapa sholat dengan sholat kami, menghadap Kiblat, memakan sembelihan kami, maka dia adalah Muslim, mendapatkan hal yang sama dengan kami, menanggung kewajiban yang sama dengan kami.” 121

Ath-Thahawi mengisyaratkan dengan perkataan ini bahwa Islam dan iman adalah satu dan bahwa orang muslim tidak keluar dari Islam karena melakukan dosa selama bukan dosa yang menjatuhkannya kepada kekufuran. Maksud perkataan beliau “yang menghadap kiblat kami” adalah siapa saja yang mengaku Muslim dan menghadap ke Ka’bah sekalipun dia termasuk pengikut hawa nafsu atau termasuk ahli maksiat (tetap dianggal muslim) selama tidak mendustakan sesuatu dari apa yang dibawa oleh Rasulullah (ﷺ)


image

121 Diriwayatkan oleh Bukhari (391)

FASAL: BERDEBAT TENTANG ALLAH DAN AGAMANYA


image

Kita tidak boleh berbicara terlampau dalam tentang Allah dan tidak boleh juga berdebat (yang tidak punya makna) dalam Agama Allah

Ath-Thahawi mengajak meninggalkan ucapan ahli kalam yang batil, mencela ilmu mereka, karena mereka berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan tanpa dasar.

Dari imam Abu Hanifah bahwa beliau berkata:

“Seseorang tidak patut berbicara sesuatu tentang Dzat Allah, akan tetapi dia wajib menyifatiNya dengan apa yang Dia sifatkan diriNya”

Perkataan Ath-Thahawi: “Dan tidak boleh juga berdebat (yang tidak punya makna) dalam Agama Allah”, maknanya, kita tidak mendebat ahlul haq dengan melontarkan syubhat para pengikut hawa nafsu kepada mereka untuk menimbulkan keragu-raguan dan kecondongan mereka kepada kebatilan karena hal tersebut sama dengan mengajak kepada kebatilan, mengacaukan kebenaran, dan merusak agama.


image

Kami tidak berdebat tentang Al-Qur’an, dan kami bersaksi bahwasanya al-Quran adalah Kalam Tuhan alam semesta, yang dibawa oleh Ruhul Amin (Jibril), lalu dia mengajarkannya kepada penghulu para rasul, Muhammad . Al-Qur’an adalah kalamullah yang sedikit pun tidak sama dengan perkataan makhluk-makhluk. Kami tidak berpandangan bahwasanya Al- Qur’an adalah makhluk, dan kami juga tidak menyelisihi jamaah kaum muslimin.

Kata “Ar-Ruh al-Amin” mengacu pada malaikat Jibril. Jibril dinamakan demikian karena dialah yang menurunkan wahyu kepada Rasul, yang merupakan sumber kehidupan

hati. Dia adalah yang terpercaya dari semua yang terpercaya. Allah () berfirman:

ﵞ٥٩١ نٖيبِمُّ ىٖ بِرَعَ نٍاسَلِبِ ٤٩١ نَيرِذِنمُلۡٱ نَمِ نَوكُتَلِ كَبِلۡقَ ىَٰلعَ ٣٩١ نُيمِأَۡلٱ حُورُّلٱ هِبِ لَزَنَﵟ

Dan dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas (QS. Asy-Syu’ara: 193-195)

Allah () pun berfirman:

ﵞ ١٢ نٖيمِأَ مَّثَ عٖاطَمُّ ٠٢ نٖيكِمَ شِرۡعَلۡٱ يذِ دَنعِ ةٍوَّقُ يذِ ٩١ مٖيرِكَ لٖوسُرَ لُوۡقَلَ ۥهُنَّإِ ﵟ

Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar (firman Allah yang dibawa oleh ) utusan yang mulia (Jibril) yang mempunyai kekuatan yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arsy, yang dita’ati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya (QS. Takwir: 19- 21)

Semua ini adalah keunggulan sifat malaikat Jibril. Namun, ketika Allah () berfirman:

ﵞ ١٤ .... رٰٖۚعِاشَ لِوۡقَبِ وَهُ امَوَ ٠٤ مٖيرِكَ لٖوسُرَ لُوۡقَلَ ۥهُنَّإِ ﵟ

Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. (QS. Al-Haqqah: 40-41)

Ungkapan kata Rasul di ayat ini digunakan untuk Nabi Muhammad. Ath-Thahawi berkata: “Kami tidak mengatakan: Kami tidak berpandangan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, dan kami juga tidak menyelisihi jamaah kaum muslimin,” karena generasi ulama Salaf sepenuhnya sepakat bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk melainkan kalamullah.

FASAL: (LANJUTAN) MENGAFIRKAN AHLI KIBLAT


image

Kami tidak mengkafirkan seorang pun dari Ahlul Qiblah (kaum muslimin) karena (dosa yang dilakukannya), selama dia tidak menghalalkannya. Dan kami juga tidak mengatakan bahwa dosa tidak membahayakan keimanan pelakunya.

Dengan menyatakan “Ahlul Qiblah”, Ath-Thahawi menunjukkan mengenai mereka yang dibicarakannya ketika berkata: “orang-orang yang (shalat menghadap) Kiblat kami, sebagai orang-orang muslim,”

Ath-Thahawi membantah Khawarij yang mengkafirkan orang Muslim karena semua dosa. Ketahuilah semoga Allah merahmatimu dan kami, bahwa takfir adalah pintu yang besar bagi munculnya fitnah dan ujian, serta banyak pertikaian padanya.

Dalam vonis takfir untuk golongan yang menyimpang dari ajaran Rasul serta peyelisihan dalam penerapan vonis tersebut, manusia terbagi menjadi tiga golongan: dua sisi ekstrim dan mereka yang berada di pertengahan sebagaimana orang-orang terbagi dalam masalah kafir atau tidaknya orang yang berbuat dosa besar.

Ada kelompok yang berkata122, Kami tidak mengkafirkan siapa pun dari ahli kiblat (kaum Muslimin). Kelompok ini menafikan takfir (vonis kafir) dengan penafian yang umum, padahal di tengah-tengah ahli kiblat (kaum Muslimin) ada orang-orang munafik yang mereka itu lebih kafir daripada orang-orang yahudi dan Nasrani berdasarkan al-Qur'an, as-Sunnah, dan ijma,. Di samping itu, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan kaum Muslimin bila seseorang memperlihatkan pengingkarannya terhadap kewajiban-kewajiban agama yang jelas lagi mutawatir dan hal-hal yang diharapkan yang mutawatir dan yang sepertinya, maka dia dituntut bertaubat, bilaa dia bertaubat (maka diterima keislamannya), tetapi bila tidak, maka dihukum mati sebagai kafir (murtad).

Dari sini banyak imam yang menolak mengeluarkan pernyataan bahwa: “kami tidak mengkafirkan seseorang karena satu dosa” akan tetapi dikatakan: “Kami tidak mengkafirkan mereka karena semua dosa, sebagaimana yang dilakukan oleh Khawarij.” Dari sini -wallahu a'lam- maka ath-Thahawi membatasinya dengan berkata, “selama dia tidak menghalalkannya”. Ucapannya mengandung isyarat bahwa maksud dari penafian yang umum untuk semua dosa ini adalah dosa-dosa amaliah bukan ilmiah.

Selanjutnya, perkataan beliau: “Dan kami juga tidak mengatakan bahwa dosa tidak membahayakan keimanan pelakunya,” dimaksudkan untuk membantah Mur’jiah yang berkata,


image

122 Mereka adalah Murjiah (SAS)

“Dosa tidak berdampak buruk bersama adanya iman, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bersama adanya kekufuran”.

Murji'ah berada di satu sisi dan Khawarij di sisi yang lain. Khawarij berkata, "Kami mengkafirkan orang Muslim dengan setiap dosa atau dengan setiap dosa besar." Demikian juga Muktazilah yang berkata, "Iman seseorang batal dengan sebab dosa besar, tidak tersisa sedikit pun dari iman bersamanya." Khawarij berkata, "Dia keluar dari iman dan masuk ke dalam kekufuran." Sedangkan Mu'tazilah berkata, "Keluar dari iman, tetapi tidak masuk ke dalam kekufuran." Ini adalah manzilah bayna manzilatain. Kemudian, karena mereka mengeluarkannya dari iman, maka mereka mewajibkannya kekal di dalam neraka.

Di antara ahli kalam, ahli fikih dan bahkan ahli hadits, ada orang-orang yang mengucapkan akidah-akidah bid’ah, yaitu mereka yang mengkafirkan setiap orang yang mengucapkan pendapat tersebut tanpa membedakan antara ahli ijtihad, orang yang keliru dan lainnya, atau mereka mengkafirkan semua pelaku bid’ah. Orang-orang yang mengkafirkan secara umum ini berlebihan dalam masalah yang sangat penting. Terdapat banyak dalil untuk menetapkan bahwa siapapun yang memiliki iman di hatinya meskipun sangat sedikit pada akhirnya akan dikeluarkan dari neraka. Nash tentang berita gembira yang menjadi dasar argumen orang-orang ini, bertentangan dengan nash tentang ancaman yang dijadikan dasar oleh kelompok lain.

Secara singkat, yang ingin kami katakan adalah bahwa bid’ah pun salah satu hal itu (yang memerlukan evaluasi yang cermat). Terkadang seseorang yang memiliki akidah bid’ah tidak tertutup kemungkinan, adalah mukmin lahir dan batin, tetapi dia melakukan takwil yang salah, atau dia berijtihad atau dia orang yang lalai dan berdosa. Jadi tidak patut dikatakan bahwa imannya terhapus hanya karena itu, kecuali bila ada dalil syar’i yang menunjukkan kepadanya.

Mengkafirkan secara umum tanpa memperhatikan kaidah-kaidahnya adalah sejenis dengan pendapat Khawarij dan Muktazilah. Tetapi, kita juga tidak boleh berkata, dia tidak kafir, akan tetapi yang adil adalah sikap pertengahan, yaitu bahwa pendapat-pendapat batil, bid’ah, haram yang mengandung penolakan terhadap apa yang ditetapkan oleh rasulullah, atau menetapkan apa yang beliau nafikan, atau memerintahkan apa yang beliau larang, atau melarang apa yang beliau perintahkan, timbangan yang dipakai terhadap pendapat-pendapat seperti ini adalah kebenaran, ancaman yang ditetapkan oleh dalil-dalil diarahkan kepadanya, dan dijelaskan bahwa ia merupakan kekufuran, dan barangsiapa mengucapkannya maka dia kafir, dan yang sepertinya.

Adapun orang tertentu, bila kami ditanya, “Apakah kalian bersaksi bahwa orang ini termasuk orang-orang yang diancam oleh dalil dan bahwa dia adalah kafir?” Dalam kondisi ini kami tidak bersaksi atasnya, kecuali dengan sebuah dasar yang membolehkan kami untuk mengeluarkan kesaksian, karena termasuk kezhaliman paling besar bersaksi atas seseorang bahwa Allah tidak mengampuninya, tidak merahmatinya, dan mengekalkannya di dalam neraka, karena semua ini adalah hukum bagi orang kafir sesudah kematian Dan juga karena orang tertentu, bisa jadi dia adalah mujtahid yang salah dan diampuni atau dalil-dalil masalah belum sampai kepadanya, atau dia punya iman yang besar dan kebaikan-kebaikan yang karenanya dia mendapatkan rahmat dari Allah, sebagaimana Allah mengampuni laki-laki

yang berwasiat agar setelah mati jasadnya dibakar dan abunya ditebarkan di laut. Laki-laki ini menyangka bahwa Allah tidak kuasa membangkitkannya dan mengumpulkannya.

Walaupun kita tidak menetapkan hukum akhirat atasnya, namun itu tidak berarti kita tidak menghukumnya di dunia untuk mencegah bid’ahnya atau kita menuntutnya agar bertaubat, bila dia bertaubat (maka dia diperlakukan sebagai muslim) bila tidak maka dia dibunuh.

Kemudian bila perkataan itu sendiri adalah kekufuran, maka dikatakan untuknya bahwa itu kekufuran. Adapun orang yang mengucapkannya, maka ia kafir dengan terwujudnya syarat-syarat dan terangkatnya penghalang-penghalang, dan dia tidak demikian kecuali bila dia menjadi munafik yang zindiq. Tidak dibayangkan seseorang dari ahli kiblat (kaum muslimin) yang memperlihatkan Islam lalu dia dihukum mati, kecuali dia adalah munafiq yang zindiq.

Al-Quran menjelaskan hal ini, di mana Allah membagi manusia menjadi 3: Orang- orang kafir dari kalangan ahli kitab dan kaum musyrikin, mereka adalah orang-orang yang tidak mengakui dua kalimat syahadat; yang kedua orang-orang mukmin lahir dan batin; dan yang ketiga, orang-orang yang hanya mengakui secara lahir dan tidak secara batin. Ketiga kelompok ini tersebut dalam al-quran di awal surat al-Baqarah. Siapa pun yang terbukti kafir namun dia mengakui dua kalimat syahadat, maka dia adalah orang zindiq dan orang zindiq adalah munafik.

Di sinilah kekeliruan orang yang mengkafirkan siapa pun yang mengucapkan perkataan bid’ah secara batin, berarti itu mengharuskannya mengkafirkan orang-orang yang secara batin bukan orang-orang munafik, sebaliknya secara batin mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah dan rasulNya, beriman kepada Allah dan rasulNya sekalipun mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa. (Kasus semacam ini muncul di zaman nabi). Bukhari meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki di zaman Rasulullah bernama Abdullah yang dijuluki himar, dan dia biasa membuat rasulullah tertawa.

Rasulullah pernah mencambuknya karena minum khamar. Suatu hari (dia minum) lalu dibawa (kepada Rasulullah), maka beliau memerintahkan (agar dicambuk) dan dia pun dicambuk. Lalu seorang laki-laki dari orang-orang (yang hadir) berkata, ‘Ya Allah, laknatlah orang ini. Betapa sering dia dicambuk gara-gara minum.’ Maka rasulullah bersabda, ‘Jangan melaknatnya, karena sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasulNya.’

Hal ini adalah sesuatu yang dipastikan ada pada banyak aliran dan para tokoh agama dan ilmu, sebagian dari mereka mengucapkan pendapat-pendapat jahmiyah, atau Murjiah atau Qadariyyah, atau Syiah atau Khawarij. Tetapi para imam dalam ilmu dan agama tidak menjadi pengusung bid’ah tersebut secara umum, akan tetapi sebagian darinya saja.

Maka di antara aib ahli bid’ah adalah bahwa sebagian dari mereka mengkafirkan sebagian lainnya, sementara di antara kebaikan para ahli ilmu adalah bahwa mereka menyalahkan tetapi tidak mengkafirkan.

Namun di sini masih ada sisi yang musykil dari ucapa penulis, yaitu bahwa peletak syariat menamakan sebagian dosa dengan kekufuran, Allah berfirman (Al-Maidah:44):

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” Atau sabda Rasulullah(ﷺ), “Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran.” Nabi juga bersabda: “Sesungguhnya batasan antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka ia kafir.” Beliau (ﷺ) pun bersabda: “Ada dua jenis manusia yang keduanya kafir, yaitu mencela nasab dan meratapi mayat” Contoh-contoh tentang hal ini begitu banyak.

Jawabannya adalah: Ahlus Sunnah wal Jamaah sepakat dalam pendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar tidak keluar dari Islam dan menjadi kafir, seperti yang diyakini oleh Khawarij. Andaikan dia menjadi murtad sepenuhnya yang mendorongnya keluar dari Islam, maka ia seketika akan dinyatakan murtad. Apabila demikian, diyah tidak akan diterima darinya (jika dia membunuh), tidak pula hukuman hudud kepada pezina, pencurian ataupun meminum khamr. Semua ini adalah fakta yang sudah dikenal luas.

Ahlus Sunnah pun tidak berselisih pendapat mengenai orang yang melakukan dosa besar, orang tersebut tidak murtad dari Islam dan tidak menjadi kafir. Dia pun tidak dihukum di neraka selamanya bersama-sama dengan kaum kafir. Sehingga, pendapat sekte Muktazilah jelas-jelas salah mengenai hal ini. Allah sendiri menyatakan mukmin yang melakukan dosa besar sebagai mukmin. Allah () berfirman:

ﵞ٨٧١ .... يَۖلتۡقَلۡٱ ىفِ صُاصَقِلۡٱ مُكُيۡلَعَ بَتِكُ اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱ اهَيُّأَيَٰٓ َ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang- orang yang dibunuh (QS. Al-Baqarah: 178)

Ayat di atas pun diikuti oleh potongan berikut ini:

ﵞ٨٧١ .... فِورُعۡمَلۡٱبِ عَُۢابَتِ ٱفَ ءيۡشَ هِيخِأَ نۡمِ ۥهُلَ يَفِعُ نۡمَفَ ...

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik (QS. Al-Baqarah: 178)

Bisa dilihat dari dalil-dalil di atas bahwa Allah tidak memisahkan pembunuh dari orang mukmin. Melainkan Dia memanggilnya saudara bagi ahli waris dan istilah saudara digunakan dalam arti saudara dalam Islam.

Al-Qur’an dan Hadits juga menerangkan kepada kita bahwa seorang pezina, pencuri dan pemfitnah tidak boleh dibunuh, melainkan mereka harus dihukum dengan adil. Hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak melakukan kemurtadan dengan dosa tersebut. Kita pun mendapati riwayat dari Rasulullah (ﷺ) yang telah bersabda:

مٌهارْدِ انوكُاي َلا نْاأ البْ اق ،اموْ ايلْا هُنْمِ هُلْلَّاحتا ايلْ اف ءٍ يْاش وْاأ ضٍرْعِ نْمِ ةٌماالظْما اموْ ايلْا هِيخِاْلِ هُدا نْعِ تْانااك نْما«

تِاائ ِياس نْمِ ذا خِأُ تٌااناساح هُال نْكُاي اَْل نْإِوا ،هِتِماالظْما رِدْقابِ هُنْمِ ذا خِأُ حٌلِااص لٌما عا هُال انااك نْإِ ،رٌاانيدِ َلاوا

»رِانَّلا ِفِ ايقِلْأُ ثَُّ ،هِيْالعا تْاحرِطُاف هِبِحِااص

‘Barangsiapa yang pernah menzalimi seseorang baik kehormatannya maupun yang lainnya, maka mintalah dihalalkan hari ini, sebelum datang hari yang ketika itu tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka diambillah amal salehnya sesuai kezaliman yang dilakukannya, namun jika tidak ada amal salehnya, maka diambil kejahatan orang itu, lalu dipikulkan kepadanya. (Shahihain).123

Keterangan di atas menunjukkan bahwa pendosa akan diambil amal baik dari catatan amalan mereka yang akan diberikan untuk membayar perbuatan dosanya. Sejumlah riwayat yang shahih pun berkata demikian. Rasulullah(ﷺ) telah bersabda:

اموْ اي ِتَِْيا نْما سُلِفْمُلْا :لاااق ،رٌاانيدِ َلاوا مٌهارْدِ هُال َلا نْما اانيفِ سُلِفْمُلْا :اولُااق ؟مْكُيفِ اسلِفْمُلْا انودُّعُ ات اما«

،اذا ها افذااقوا ،اذا ها اماد اكفا اسوا ،اذا ها لااما ذا اخاأوا ،اذا ها امتااش دْاق ،لِاابِْلْا لُااثمْاأ تٌااناساح هُالوا ةِمااايقِلْا

اما ايضِقْا ي نْاأ البْ اق هُتُااناساح تْيانِاف ااذإِاف ،هِتِااناساح نْمِ اذا هاوا ،هِتِااناساح نْمِ اذا ها صُّتاقْ اي اف ،اذا ها ابرااضوا

»رِانَّلا ِفِ احِرطُ ثَُّ ،هِيْالعا تْاحرِطُاف مْهَُياااطاخ نْمِ ذا خِأُ هِيْالعا

“Tahukah kalian siapakah muflis (orang yang bangkrut)?” Mereka menjawab: “Orang bangkrut yang tidak ada dirhamnya dan tidak memiliki barang.” Beliau berkata: “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang dating pada Hari Kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa, dan zakat. Dia datang dan telah mencela si fulan, telah menuduh si fulan (dengan tuduhan yang tidak benar), memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Maka diambillah kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada si fulan dan si fulan. Jika kebaikan-kebaikan telah habis sebelum cukup untuk menebus kesalahan-kesalahannya maka diambillah kesalahan-kesalahan mereka (yang telah ia dzolimi) kemudian dipikulkan kepadanya lalu ia pun dilemparkan ke neraka.” (Muslim). 124

Muktazilah sejalan dengan Khawarij mengenai perkara ini. Mereka berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar akan masuk neraka selamanya. Satu-satunya perbedaan antara mereka adalah Muktazilah berpendapat bahwa pendosa itu kafir sedangkan Khawarij menyebutnya fasiq. Sehingga perbedaan antara keduanya hanya pada lafadzhnya.

Ahlu sunnah wal Jamaah berpendapat bahwa seorang pendosa layak mendapatkan hukuman yang telah dijanjikan. Bukti-bukti teks sangat jelas mengenai hal ini. Mereka berbeda dari Mur’jiah yang meyakini bahwa dosa besar tidak mempengaruhi seseorang selama dia seorang mu’min atau tidak akan ada kebaikan yang mempengaruhi seorang seorang kafir.

Namun, andaikan seseorang mencatat seluruh nash berita gembira yang digunakan oleh Mur’jiah dan nash ancaman yang digunakan oleh Khawarij dan Muktazilah, maka kesalahan keduanya menjadi jelas. Tidak ada gunanya mencari-cari pemikiran dan gagasan kelompok ini dan itu kecuali kalian akan menemukan dalam argument masing-masing kelompok berbagai hal yang akan mendiskreditkan argument kelompok lainnya.


image

123 Diriwayatkan oleh Bukhari (2449). Hadits ini tidak diriwayatkan oleh Muslim

124 Diriwayatkan oleh Muslim (2581)

Kembali pada Ahlu Sunnah wal Jamaah, kita dapati bahwa selain kesepakatan mereka pada masalah-masalah utama, mereka berbeda pendapat pada perinciannya. Namun perbedaan itu bukan dalam masalah penting, melainkan hanya bersifat lafdzhi yaitu apakah kekufuran itu bertingkat-tingkat, yaitu apakah ia kekufuran dalam sifat yang sama sekali berbeda. Seperti halnya mereka berbeda pendapat dalam masalah iman, apakah ia bertingkat- tingkat atau sifatnya saja yang berbeda?

Perbedaan ini bermula dari perbedaan mereka tentang iman, apakah ia adalah perkataan dan perbuatan yang bertambah dan berkurang atau tidak? Sesudah mereka sepakat bahwa kita menamakan kafir siapa yang Allah dan rasulNya namakan kafir, karena tidak patut bila Allah menamakan orang yang berhukum kepada selain apa yang Allah turunkan kafir dan Rasulullah menamakan orang tersebut kafir, lalu kita tidak menamakannya kafir.

Tetapi pihak yang berkata bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, ia bertambah dan berkurang, mereka berkata bahwa ia adalah kufur amali dan bukan akidah, kufur mereka bertingkat-tingkat, ada kufur di bawah kufur, seperti halnya iman.

Pihak yang berkata iman adalah membenarkan dan tidak memasukkan amal ke dalam iman dan kufur adalah pengingkaran, ia tidak bertambah dan tidak berkurang –orang-orang ini berkata bahwa kekafiran karena ketidakpatuhan hanya sebagai majaz, dan bukan kekafiran yang sebenarnya. Sebaliknya jenis kekafiran yang sebenarnya mengeluarkan manusia dari Islam. Beginilah mereka menjelaskan kata iman ketika digunakan Allah untuk amalan tertentu, yaitu, mereka berkata penggunaannya hanya sebagai majaz. Seperti pada ayat:

ﵞ٣٤١ ... مۚۡكُنَمَٰيإِ عَيضِيُلِ ّلِلَُّٱ نَاكَ امَوَ....

Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keimananmu (maksudnya adalah sholat kalian saat menghadap Yerussalem). (QS. Al-Baqarah: 143)

Di ayat ini sholat hanya berupa istilah kiasan untuk keimanan. Dan ada alasan yang bagus di baliknya. Sholat merupalan suatu aspek dan bukti keimanan. Sehingga, ketika seorang kafir sholat seperti kita sholat, maka dia akan dipanggil orang mu’min. Tidak ada perbedaan pendapat diantara ulama mengenai para pelaku dosa, bahwa mereka adalah orang- orang mukmin bila mereka mengakui lahir maupun batin, apa yang dibawa oleh Nabi- tetapi mereka tercakup ke dalam dalil-dalil ancaman sebagaimana yang diriwayatkan secara mutawatir dalam hadits-hadits. Namun, menyatakan bahwa mereka akan di neraka selama- lamanya, merupakan pendapat yang menyimpang, seperti yang dikatakan oleh Khawarij dan Muktazilah.

Namun, yang lebih buruk dari hal di atas adalah persangkaan terhadap mereka yang pemikirannya bertentangan, menyematkan kepada mereka sesuatu yang tidak layak disematkan, atau merasa jijik kepada mereka. Bagaimana bisa, ketika kita diperintahkan untuk berbuat adil bahkan kepada orang kafir sekalipun ketika beragumen dengan mereka, dan mereka dibantah dengan cara yang baik… lalu bagaimana bisa, sebagian dari kita tidak saling berlaku adil satu sama lain dalam masalah yang melibatkan pendapat yang kontroversial?

Walaupun demikian, satu catatan penting harus diingat. Bahwa berhukum dengan

selain apa yang Allah turunkan bisa menjadi kekafiran yang mengeluarkan seseorang dari Islam, atau, bisa menjadi dosa besar atau kecil. Pada contoh lain, dapat juga menjadi kufur, majazi atau kufur kecil menurut kedua pendapat yang telah disebutkan tadi, dan hal ini menurut keadaan orang yang menetapkan hokum. Bila dia meyakini bahwa berhukum kepada apa yang diturunkan Allah tidak wajib, bahwa dia boleh memilih atau meremehkannya padahal dia yakin itu adalah hokum Allah, maka ia adalah kufur akbar.

Lain daripada itu, jika dia meyakini kewajiban berhukum dengan wahyu Allah, dan dia mengetahuinya pada masalah tersebut, tetapi dia meninggalkannya padahal dia mengakui bahwa dengan itu dia mendapatkan hukuman, maka ia adalah pelaku maksiat, disebut kafir majazi atau kufur kecil.

Bila dia tidak tahu hukum Allah pada masalah tersebut, padahal dia sudah mengerahkan usaha dan dayanya untuk mengetahui hukum Allah tetapi dia keliru, maka dia orang yang salah, mendapatkan pahala atas usahanya dan kesalahannya diampuni.

Adapun tentang kata-kata penulis: “Dan kami juga tidak mengatakan bahwa dosa tidak membahayakan keimanan pelakunya,” digunakan untuk membantah Mur’jiah. Tampaknya mereka meyakini hal ini berawal dari beberapa insiden yang terjadi pada periode awal Islam. Dalam kasus yang sangat terkenal, (tentang beberapa orang yang minum khamr di masa Umar), para sahabat sepakat bahwa mereka harus dihukum mati, jika mereka tidak bertaubat. Qudamah bin Abdullah telah minum khamr bersama dengan sekelompok orang. Ketika ditanya alasannya, mereka mengutip ayat berikut ini:

اْولُمِعَوَ اْونُمَاءَوَّ اْوقَتَّٱ امَ اذَإِ اْوٓمُعِطَ امَيفِ

ح انَجُ تِحَٰلِصَّٰلٱ اْولُمِعَوَ اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱ ىَلعَ سَيۡلَﵟ ﵞ ٣٩ .... تِحَٰلِصَّٰلٱ

Tidak ada dosa bagi orang-orang beriman dan mengerjakan amalan sholeh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu selama mereka bertakwa, beriman, dan beramal shaleh (QS. Al-Ma’idah: 93)

Ketika perkara mereka diadukan kepada Umar ibn Al-Khatab, beliau sepakat bersama Ali dan para sahabat lainnya, yaitu jika mereka mengakui keharamannya, mereka harus dicambuk, namun, jika mereka meyakini khamr itu halal, maka mereka harus dihukum mati. Pada saat itu Umar memberitahu Qudamah: “Seandainya engkau bertakwa, beriman dan melakukan amal sholeh, maka engkau tidak akan minum khamr.”

Adapun kalimat dalam teks Al-Qur’an tersebut, itu karena ketika khamr diharamkan, - yang terjadi setelah Perang Uhud- sebagian sahabat merasa sangat sedih dan khawatir tentang rekan mereka yang sudah gugur di medan perang dengan alkohol di perut-perutnya. Menjawab hal inilah, Allah menurunkan ayat yang menjelaskan bahwa melakukan yang ketika itu belum dilarang tidak lah berdosa selama mereka bertakwa, beriman dan melakukan amal shalih, seperti dalam perkara perubahan arah Kiblat.

Setelah itu mereka yang mabuk merasa putus asa. Umar kemudian menuliskan ayat berikut ini kepada Qudamah:

.... بِاقَعِلۡٱ دِيدِشَ بِوۡتَّلٱ لِبِاقَوَ بِۢنذَّلٱ رِفِاغَ ٢ مِيلِعَلۡٱ زِيزِعَلۡٱ ِّلِلَّٱ نَمِ بِتَٰكِلۡٱ لُيزِنتَ ١ مٓحﵟ

ﵞ ٣

Ha Mim. Diturunkan kitab ini (Al-Qur’an) dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya (QS. Ghafir: 1-3)

Setelah itu Umar menambahkan:

“Aku tidak tahu yang manakah dari dua dosamu yang lebih besar, engkau menganggap yang haram sebagai halal atau engkau berputus-asa terhadap rahmat Allah.”

Inilah yang disepakati oleh para sahabat, dan ini pula kesepakatan diantara para Imam

besar.


image

Kami berharap bagi orang-orang muhsin (yang senantiasa berbuat kebajikan) dari orang- orang mukmin agar Allah mengampuni mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya, tapi kami tidak menjamin bagi mereka, dan kami juga tidak mempersaksikan mereka dengan surga. Kita memohonkan ampunan bagi orang-orang yang berbuat dari mereka, kita mengkhawatirkan mereka, dan kita tidak boleh memutuskan harapan (ampunan) bagi mereka.

Seorang mukmin harus meyakini apa yang Ath-Thahawi katakan ini untuk dirinya dan orang lain. Allah () berfirman:

ۥٓهُۚبَاذَعَ نَوفُاخَيَوَ ۥهُتَمَحۡرَ نَوجُرۡيَوَ بُرَقۡأَ مۡهُيُّأَ ةَلَيسِوَلۡٱ مُهِبِ رَ ىَٰلإِ نَوغُتَبۡيَ نَوعُدۡيَ نَيذِلَّٱ كَئِلَٰٓ َ وْأُﵟ

ﵞ٧٥ ارٗوذُۡحمَ نَاكَ كَبِ رَ بَاذَعَ نَّإِ

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa diantara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang harus ditakuti (QS. Al-Isra: 57)

Dalam Al-Musnad (milik imam Ahmad) dan Sunan at-Tirmizi telah meriwayatkan suatu hadits dari Aisyah. Beliau berkata:

ةٌالجِوا

مُِْبُولُ قُوا

اوْ اتآ اما

انوتُؤُْ ي انيذِلَّا ،ِّللَّا

لاوسُرا

َيا

: تُلْ قُ : تْالااق ،اها نْعا

ُّللَّا ايضِرا

اةاشئِاعا

نْعا «

لُجُرَّلا هُنَّكِالوا

،قِيدِ ص ِ

لا اةان بْا

َيا

،َلا

:لاااق ؟قُرِسْايوا

رامْاْلْا بُراشْايوا

ِنِزْ اي يذِلَّا

وا هُاأ ]60 :انونُمِؤْمُلْا[

»هُنْمِ الابقُْ ي َلا

نْاأ فُااَياوا

قُدَّاصات ايوا يل ِاصيُوا

مُوصُاي

“Aku berkata, “Wahai Rasulullah, firman Allah “Dan orang-orang yang telah memberikan apa yang telah diberikan, dengan hati yang takut.” Apakah dia orang yang berzina, minum khamr, dan mencuri?” Beliau (ﷺ) menjawab: “Tidak, wahai puteri As-Siddiq akan tetapi dia adalah seorang yang berpuasa, sholat, bersedekah dan dia takut amalnya tidak diterima Allah.”125

(Tentang orang-orang pada ayat yang dikutip oleh Aisyah), Hasan Al-Basri menyatakan:

“Demi Allah, mereka beramal dengan ketaatan-ketaatan, mereka bersungguh-sungguh padanya, mereka takut ia ditolak. Sesungguhnya seorang Mukmin menyatukan antara berbuat baik dengan rasa takut, sedangkan munafik menyatukan keburukan dengan rasa aman (dari azab Allah)”

Walaupun demikian, telah ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai apa yang termasuk ke dalam dosa besar dan dosa kecil. Namun, ada satu catatan kecil yang harus diperhatikan, yaitu terkadang dosa besar dilakukan namun disertai rasa malu dan hina, takut, dan perasaan telah melakukan kejahatan tercela. Maka hal ini menjadikannya dosa kecil.

Sebaliknya, sebagian dosa kecil dilakukan tanpa rasa malu sedikitpun, melakukannya seolah-olah sebagai urusan yang tidak ada konsekuensinya, dengan kurangnya rasa takut, dan disertai sikap meremehkannya –semua ini dapat terkumpul menjadi dosa besar. Sehingga yang terlibat di dalamnya adalah keadaan hati dan ini adalah tambahan dalam amalan fisik. Setiap orang harus mempelajari keduanya dari dirinya sendiri dan juga dari orang lain. Terkadang juga orang yang sholeh diampuni atas dosa yang dilakukannya tetapi orang lain tidak diampuni.

Selain itu, manusia yang berbuat kejahatan mungkin diampuni dan terbebas dari siksaan api neraka karena 10 alasan. Alasan-alasan itu dirangkum dari Al-Qur’an dan Sunnah sebagai berikut:

  1. Taubat: Taubat yang ikhlas dan menyeluruh juga dikenal sebagai taubatan nasuha tidak terkait dengan dosa tertentu. Namun, pertanyaannya adalah: Apakah sahnya taubat menuntut taubat umum dari semua dosa? Hingga jika seseorang bertaubat dari satu dosa, dan tidak dari dosa lainnya, maka taubatnya tidak sah? Yang shahih adalah tetap sah dan diterima.

  2. Istighfar (memohon ampunan dari Allah): Allah () berfirman:

    ﵞ ٣٣ نَورُفِغۡتَسۡيَ مۡهُوَ مۡهُبَذِ عَمُ ّلِلَُّٱ نَاكَ امَوَ....

    Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (QS. Al-


    image

    125 Hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad (6/159) dan Tirmidzi (3175)

    Anfal: 33)

  3. Amal Shalih: Amal Shalih dibalas 10 kali lipat, padahal dosa hanya diganjar satu kali. Kecelakan baginya yang 1 kesalahannya mengalahkan 10 kali lipat pahalanya. Allah () berfirman:

    ﵞ ٤١١ .... تِٰۚا ـَيِ سَّلٱ نَبۡهِذۡيُ تِنَٰسَحَلۡٱ نَّإِ ...

    Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan- perbuatan yang buruk (QS. Hud: 114)

  4. Musibah: Nabi (ﷺ) bersabda:

    - اها كُااشيُ ةِاكوْشَّلا َّتَّاح ،نٍزْحُ َلاوا

    م ٍ ها

    َلاوا

    م ٍ غا

    َلاوا

    ،بٍاصان َلاوا

    بٍاصوا

    نْمِ انمِؤْمُلْا بُيصِيُ اما« »هَُياااطاخ نْمِ ااِبِ رافِ كُ َلَّإِ

    “Seorang mu’min tidak tertimpa sakit, kelelahan, duka, kegelisahan dan kesedihan hingga duri yang menusuknya, kecuali kesalahan-kesalahannya dilebur karenanya.”

    126


    Sehingga kesulitan hidup itu dengan sendirinya merupakan kafarat dosa. Jika manusia itu bisa menanggung kesulitan dengan bersabar dan teguh, maka dia akan mendapatkan pahala tambahan. Sebaliknya, jika dia malah murka kepada Allah, maka dia berdosa.

  5. Doa orang mu’min lainnya, istighfar mereka ketika hidup dan sesudah mati.

  6. Pahala yang diberikan kepadanya sesudah mati berupa pahala sedekah, pembacaan Al-Qur’an atau pelaksanaan haji dan sebagainya.

  7. Ketakutan dan beban berat di Hari Pembalasan.

  8. Yang diriwayatkan dalam Shahihain bahwa ketika orang mu’min menyeberangi shirat, mereka akan berdiri di sebuah jembatan antara surga dan neraka. Lalu diadakan qisash dari sebagian atas sebagian lainnya, bila mereka sudah dibersihkan dan disucikan, mereka akan masuk surga.

  9. Syafaat dari para pemberi syafaat.

  10. Ampunan dari Allah Yang Maha Pengasih tanpa syafaat, sebagaimana firman-Nya:

ﵞ٨٤ .... ءُۚآشَيَ نمَلِ كَلِذَٰ نَودُ امَ رُفِغۡيَوَ...

Dia mengampuni segala dosa selain dosa syirik itu, bagi siapa yang Dia kehendaki

(QS. An-Nisa: 48)

Walaupun demikian, siapapun yang Allah tidak berkehendak mengampuninya karena dosanya yang besar, maka dia harus melalui api neraka untuk membersihkan dari noda-noda


image

126 Diriwayatkan Bukhari (5641) dan Muslim (2573)

dosa.

Kesimpulannya, siapa yang di dalam hatinya masih ada Iman sekalipun lebih ringan

dari semut hitam, tidak akan kekal di dalam neraka, bahkan siapa yang mengucapkan la ilaha illallah juga demikian, sebagaimana dalam hadits Anas yang telah hadir.

Dari penjelasan di atas, maka tidak boleh memastikan surga atau neraka bagi siapa pun dari umat ini, kecuali siapa yang ditetapkan oleh rasulullah, akan tetapi kita berharap bagi orang-orang baik sekaligus mengkhawatirkan mereka.


image

Rasa aman (dari azab neraka) dan putus asa (dari rahmat Allah); keduanya dapat mengeluarkan (pelakunya) dari agama Islam. Jalan kebenaran adalah di antara keduanya bagi ahlul qiblat.

Seorang hamba harus takut (kepada hukuman Allah) dan sekaligus berharap (kepada rahmat dan ampunan Allah). Karena takut yang benar dalam Islam adalah takut yang menghalangi seseorang dari melakukan sesuatu yang Allah haramkan. Namun, jika ketakutannya berlebihan, maka dikhawatirkan putus asa akan menyergapnya.

Kemudian, optimisme atau pengharapan yang dibenarkan adalah yang jika seorang hamba melakukan kebaikan menurut Syariah maka dia berharap akan diberikan pahala untuk kebaikannya itu. Atau, jika dia berbuat dosa, maka dia bertaubat dengan ikhlas, dan dia

berharap bisa diampuni. Allah () berfirman:

ر وفُغَ ّلِلَُّٱوَ ِّۚلِلَّٱ تَمَحۡرَ نَوجُرۡيَ كَئِلَٰٓ َ وْأُ ِّلِلَّٱ لِيبِسَ ىِف اْودُهَجَٰوَ اْورُجَاهَ نَيذِلَّٱوَ اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱ نَّإِﵟ

ﵞ ٨١٢ م يحِرَّ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al-Baqarah: 218)

Sebaliknya, jika seorang manusia tenggelam dalam dosa dan berlebih-lebihan, namun dia tetap berharap bahwa dosanya itu akan diampuni tanpa berbuat kebaikan, maka ini adalah kekeliruan yang menipu diri sendiri. Ini hanya ilusi dan harapan palsu. Abu Ali Raudzbari menyatakan:

“Takut dan harapan adalah seperti sepasang sayap burung, jika keduanya seimbang maka burung pun bisa terbang dengan baik. Jika salah satunya sakit maka terbangnya timpang, bila keduanya sakit, maka burung hampir mati.”

Allah telah memuji orang-orang yang bisa menyeimbangkan harap dan takut dalam ayat berikut ini:

ﵞ ٩ ... ۦٰۗٓهِبِ رَ ةَمَحۡرَ اْوجُرۡيَوَ ةَرَخِٓأۡلٱ رُذَۡحيَ امٗئِآقَوَ ادٗجِاسَ لِيۡلَّٱ ءَآنَاءَ تٌنِقَٰ وَهُ نۡمَّأَﵟ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri di waktu-waktu malam, sedang mereka takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmatnya? (QS. Az-Zumar: 9)

Pengharapan pun harus diimbangi rasa takut. Jika tidak demikian, maka seorang manusia akan ternggelam dalam rasa aman yang palsu. Sebaliknya, rasa takut pun memerlukan harapan. Jika rasa takut tidak diimbangi dengan harapan maka akan berakhir pada keputusasaan.

FASAL: TENTANG IMAN


image

Seseorang tidak keluar dari iman, kecuali karena mengingkari apa yang telah memasukkan dirinya ke dalam iman itu sendiri.

Dengan argumen ini, penulis mencoba untuk membantah Khawarij dan Muktazilah yang menyatakan bahwa seorang manusia akan menjadi kafir akibat perbuatan dosa besar yang telah dilakukannya.


image

Iman adalah pengakuan dengan lisan dan pembenaran dengan hati. Semua apa saja yang (telah diriwayatkan secara) shahih dari rasulullah berupa syariat dan penjelasan, semuanya adalah haq (benar) adanya. Iman adalah satu dan orang-orang yang beriman pada asalnya adalah sama. Perbedaan tingkatan keutamaan di antara mereka adalah dengan rasa takut dan ketakwaan kepada Allah, melawan hawa nafsu, dan senantiasa mencari yang paling utama.

Orang-orang berbeda pendapat tentang makna iman. Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, Ahli Hadits, penduduk Madinah Munawarah, Ahli Zahir, dan sebagian dari para ahli kalam meyakini bahwa Iman adalah pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan. Namun, sebagian besar ulama kami (yaitu para pengikut mazhab Hanafiyah) meyakini seperti yang Ath-Thahawi nyatakan, yaitu iman adalah pengakuan dengan lisan dan pembenaran dengan hati.

Sekte Karamiyah berpendapat bahwa iman adalah pernyataan lisan saja. Sehingga, menurut mereka orang-orang munafik adalah orang-orang yang beriman sempurna, walaupun orang-orang munafik itu tetap berhak mendapatkan ancaman yang Allah ancamkan kepada mereka. Pendapat mereka ini jelas rusak.

Al-Jahm bin Shafwan berpendapat bahwa iman adalah mengetahui dalam hati saja. Pendapat ini lebih jelas kerusakannya dibandingkan pendapat sebelumnya, karena konsekuensinya adalah bahwa Fir’aun dan kaumnya adalah orang-orang mukmin, mereka mengetahui Nabi Musa dan Nabi Harun benar, namun mereka tidak beriman kepada

keduanya. Itulah sebabnya nabi Musa berkata kepada Fir’aun:

ﵞ ٢٠١ ... رَئِآصَبَ ضِۡرأَۡلٱوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ بُّرَ اَّلإِ ءِآَلؤُهَٰٓ َ لَزَنأَ آمَ تَمۡلِعَ دۡقَلَ لَاقَ ﵟ

Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi.” (QS. Al-Isra: 102)

Singkatnya, keimanan adalah pengakuan dalam hati, pernyataan dengan lisan, dan diwujudkan dengan perbuatan, seperti yang diyakini oleh sebagian besar ulama dari generasi awal atau iman adalah pengakuan dalam hati dan pernyataan secara lisan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thahawi sebagai pendapat Imam Hanifah dan muridnya.

Meskipun demikian, perbedaan antara Abu Hanifah dan ulama lainnya adalah khilaf lafzhi, karena amal-amal anggota badan, apakah ia merupakan tuntutan iman dalam hati atau bagian dari iman, dengan kesepakatan bahwa pelaku dosa besar tidak keluar dari iman, akan tetapi di bawah kehendak Allah, bila Allah berkehendak, Allah mengampuninya atau Allah mengazabnya. Sehingga, perbedaan (antara kedua pendapat tersebut) adalah perbedaan lafdzhi yang tidak berkonsekuensi kerusakan akidah.

Adapun mereka yang mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat, menghadirkan dalil-dalil lain di samping dasar ini, karena Nabi (ﷺ) telah menafikan iman dari pezina, pencuri dan peminum khamr, namun hal itu tidak berarti bahwa iman mereka lenyap secara total, dan ini adalah ijma. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ahlus Sunnah bahwa yang Allah inginkan dari hamba-hamba adalah perkataan dan perbuatan. Akan tetapi, apa yang dituntut dari hamba-hamba ini, apakah ia tercakup oleh nama ‘iman’ atau iman hanya salah satu dari keduanya, yaitu perkataan saja, sedangkan perbuatan berbeda dengannya yang tidak tercakup oleh nama iman saat ia disebutkan secara tersendiri dan bila digunakan untuk keduanya maka ia bermakna majaz? Ini adalah titik perbedaan pendapat.

Mereka sepakat bahwa bila seseorang membenarkan dengan hatinya dan mengakui dengan lisannya, namun dia menolak beramal dengan anggota tubuhnya, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan rasulNya dan berhak mendapatkan ancaman.

Oleh sebab itu, nampaknya, meski wallahu a’lam, bahwa penulis, menambahkan, “dan orang-orang yang beriman pada asalnya adalah sama” untuk menyiratkan kesamaan dalam makna utamanya. Bukan berarti kesamaan dalam segala aspek. Namun perbedaan tingkatan cahaya yang terpancar dari kalimat tauhid “Laa ilaha illa Allah” dalam hati hanya bisa dinilai oleh Allah semata.

Oleh karena itu, ada sebagian manusia yang dalam hatinya bersinar seperti matahari. Hati orang yang lainnya dapat dibandingkan dengan bintang yang terang. Adapula yang hatinya terang benderang. Ada pula yang hatinya seperti lampu pijar, dan ada pula yang seperti lilin yang nyalanya meredup. Karena perbedaan di dunia inilah, cahaya-cahaya mereka terlihat dalam berbagai tingkatan di hari Kiamat: pada tangan kanan mereka dan di hadapan mereka, sesuai dengaan tingkatan cahaya Tauhid dan iman yang mereka miliki di hati mereka saat ini: dari ilmu dan amal. Setiap kali cahaya kesaksian ini mencerahkan, ia memembakar keraguan dan hawa nafsu: juga sesuai dengan intensitasnya.

Bukti mengenai bertambahnya dan berkurangnya iman sangat banyak dalam Al- Qur’an, Sunnah dan pernyataan kaum Salaf. Sebagai contoh, Allah () berfirman:

ﵞ٢ .... انٗمَٰيإِ مۡهُتۡدَازَ ۥهُتُيَٰاءَ مۡهِيۡلَعَ تۡيَلِتُ اذَِإوَ...

Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) (QS. Al- Anfal: 2).

Dan firman Allah ():

ﵞ ١٣ .... انٗمَٰيإِ اْوٓنُمَاءَ نَيذِلَّٱ دَادَزۡيَوَ......

Supaya orang beriman bertambah imannya (QS. Al-Muddasir: 31) Dan firman Allah ():

ﵞ٤.... ٰۗٓمۡهِنِمَٰيإِ عَمَّ انٗمَٰيإِ اْوٓدُادَزۡيَلِ نَينِمِؤۡمُلۡٱ بِولُقُ ىِف ةَنَيكِسَّلٱ لَزَنأَ يٓذِلَّٱ وَهُﵟ

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al-Fath: 4)

Nabi Muhammad (ﷺ) telah memberitahu kita bahwa siapapun yang di dalam hatinya masih terdapat keimanan sebesar biji zarah (sawi), maka dia akan diangkat dari Api Neraka. Lalu, bagaimana bisa dikatakan bahwa iman para penghuni langit dan bumi sama ukuran dan kualitasnya, atau bahwa perbedaan di antara mereka harus dipahami dengan pengertian yang berbeda.

Kita pun memiliki sejumlah pernyataan dari para Sahabat. Umar biasa berkata kepada mereka: “Ayolah. Marilah kita berupaya untuk menambah keimanan kita.” Abdullah bin Mas’ud pun berkata dalam doanya: “Ya Allah, tambahkanlah iman, keyakinan, dan pemahaman untuk kami.” Muadz ibn Jabbal pun berkata kepada salah satu temannya: “Marilah kita duduk sebentar dan menyegarkan keimanan kita.”

Adapun bahwa amal perbuatan merupakan bagian dari keimanan, banyak sekali dalil yang membuktikan hal itu. Riwayat-riwayat yang shahih telah memberitahukan bahwa Nabi (ﷺ) memerintahkan delegasinya Abdul Qais:

نْاأوا ،ةِااكزَّلا ءُاتايإِوا ،ةِالاصَّلا مُااقإِوا ،هُال اكيرِاش َلا هُدا حْوا ُّللَّا َلَّإِ اهالإِ َلا نْاأ ةٌاداها اش ؟ّللَِّبِِ نُااَيإلِْا اما انورُدْاتاأ

مِانغْما لْا انمِ اسمُُْلْا اودُّؤا تُ

“Tahukah kalian apakah beriman kepada Allah itu? (Yaitu) bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kemudian mendirikan sholat: menunaikan zakat, dan menyerahkan seperlima dari ghanimah (rampasan perang).” 127


image

127 Diriwayatkan oleh Bukhari (53) dan Muslim (17)

Tentu saja, beliau tidak bermaksud bahwa semua amalan ini adalah iman itu sendiri, tanpa adanya keimanan dalam hati, padahal dalam beberapa kesempatan lain beliau menegaskan bahwa tidak ada penolong pada kebaikan apapun tanpa keimanan dalam hati. Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa semua amal ibadah ini, bersama dengan keimanan yang benar di dalam hati, itulah yang membentuk keimanan. Dalil apa yang lebih baik dibandingkan pernyataan bahwa amal perbuatan adalah bagian dari keimanan? Dengan pengetahuan bahwa keimanan telah didefinisikan sebagai amal perbuatan, tanpa menyebutkan pernyataan lisan, maka kita bisa menyimpulkan bahwa amal perbuatan itu tidak ada harganya, jika dia menyelisihi (esensi keimanan itu sendiri).

Adapun mengenai pernyataan penulis: “Semua apa saja yang (telah diriwayatkan secara) shahih dari rasulullah berupa syariat dan penjelasan, semuanya adalah haq (benar) adanya,” pernyataan ini dimaksudkan untuk membantah Jahmiyah dan Muktazilah yang berpendapat bahwa riwayat yang dibawa oleh Nabi itu terdiri dari dua jenis: riwayat yang berasal dari banyak sumber (mutawatir) dan riwayat yang berasal dari sumber tunggal (ahad).

Riwayat yang mutawatir, meskipun rantai perawinya tsiqah (terpercaya), namun riwayat belum tentu memiliki implikasi dalil yang pasti (Qath’i Ad-Dilalah). Karena menurut mereka dalil lisan tidak bisa mengantarkan kepada kepastian. Sehingga, mereka menafikan semua Sifat Allah yang dinyatakan dalam teks-teks Al-Qur’an.

Adapun riwayat yang bersumber tunggal (ahad). Mereka menafikan seluruhnya, dengan alasan bahwa riwayat yang ahad itu tidak memiliki landasan yang kuat, oleh sebab itu tidak bisa menjadi landasan untuk argumen baik dari sisi matan yang terkandung di dalamnya maupun rantai perawinya. Dengan demikian, mereka telah mencegah hati mereka untuk memperoleh pengetahuan akan Nama, Sifat dan Perbuatan Allah, yang berasal dari Rasulullah (ﷺ). Mereka mengisi pemikiran orang-orang dengan pemikiran logika manusia dan khayalan yang fiktif.

Sebaliknya, metodologi yang diikuti oleh Ahlu Sunnah adalah menerima riwayat yang telah terbukti dan tidak menjadikannya subyek untuk penalaran pribadi mereka, seperti yang telah penulis siratkan dalam pernyataan di atas.

Bukhari berkata: Dikisahkan bahwa imam al-Humaidi sedang berada di sisi imam Syafi’i, kemudian datang seorang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah permasalahan. Imam Syafi’i menjawab, “Rasulullah memutuskan begini dan begini.” Orang itu malah balik bertanya, “Bagaimana dengan pendapatmu?” Beliau (Syafi’i) menegurnya dengan berkata, “Subhanallah, Apakah engkau melihatku sedang berada di gereja dan pura? Aku katakan rasulullah mengatakan demikian malah engkau bertanya, apa pendapatmu?”

Adapun mengenai sebuah riwayat ahad, ketika umat Islam secara umum menerimanya, mengamalkan dan mengakuinya, maka menurut pendapat mayoritas ulama, riwayat tersebut memberikan pengetahuan yang pasti (ilmu). Adapun jenis riwayat kedua, yaitu, sebuah riwayat dari banyak perawi (mutawatir). Tidak pernah ada perselisihan mengenai hal itu di kalangan ulama terdahulu.

Sebagai contoh, kita bisa mengutip riwayat dari Umar: “Amalan itu tergantung

niatnya.” Atau riwayat dari Abu Hurairah: “Tidak boleh seorang wanita dimadu dengan bibinya (baik dari sisi ayah ataupun sisi ibu).” Atau riwayat lainnya: “Diharamkan dengan sebab persusuan apa yang diharamkan dengan sebab nasab.” Semua riwayat itu berada dalam tingkat kemasyhuran yang sama dengan riwayat tentang seorang pria memberitahukan jamaah di Masjid Quba bahwa arah Kiblat telah diubah, saat dan mereka semua berganti menghadap Ka’bah.

Nabi pun biasa mengutus seorang utusan tunggal dengan sejumlah pesan lisan atau tertulis. Penerima pun tidak pernah berkata bahwa mereka enggan menerima utusan tunggal.

Mungkin, inilah cara Allah untuk menghinakan siapapun yang hendak memfitnah Nabi (ﷺ), baik selama beliau masih hidup, atau sepeninggalnya. Sufyan bin Uyainah berkata: “Allah tidak pernah membiarkan seseorang yang mendustakan Nabi dan memfitnahnya melainkan membuka kebohongannya.” Abdullah ibn Mubarak berkata: “Jika seorang yang berada di lautan mencoba mendustakan dan memfitnah Nabi, maka pasti manusia suatu hari akan berkata: “Fulan adalah pendusta.”

Riwayat, yang berasal dari perawi tunggal bisa benar atau salah, namun, perbedaan antara riwayat yang terpercaya dan yang tidak, bukan bagi setiap orang, melainkan seseorang yang menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari hadits, kehidupan perawi untuk mengetahui cara dan perkataan mereka, dan untuk menyadari betapa tangguhnya mereka melawan jalan yang salah. Mereka memilih mati daripada membiarkan siapapun mendustakan ataupun memfitnah Nabi (ﷺ), karena mereka jauh dari perbuatan keji tersebut. Mereka menyampaikan secara akurat apa yang telah diriwayatkan kepada mereka. Mereka adalah tiang keimanan, para peneliti kritis riwayat-riwayat dan penjaga hadits.

Namun, mereka yang menyangkal (hadits-hadits ahad) menggunakan ayat, “tiada yang menyerupai-Nya,” untuk menolak banyak hadits shahih. Setiap kali ada riwayat sampai pada mereka yang tidak sejalan dengan pemikiran, prinsip, dan falsafah mereka, mereka menolaknya dengan mendasarkan dalilnya pada ayat tersebut, dengan dalih tersebut mereka hanya berhasil meyakinkan orang yang hatinya lebih buta dari mereka, dan memaksakan makna ayat yang keluar dari konteksnya.

Mereka mengambil makna dari ayat-ayat tentang Sifat-Sifat Allah yang tidak pernah dimaksudkan baik oleh Allah maupun Utusan-Nya, bukan pula yang di pahami oleh para Imam, dalam suatu cara yang pemahaman sesat mereka menyerupakan Dia dengan makhluk- Nya. Kemudian, mereka menggunakan makna yang salah dari kata-kata tersebut, “tidak ada yang menyerupai-Nya,” untuk memelintir (bagian-bagian lain) dari kedua teks (Qur’an dan Sunnah).

Adapun mengenai perkataan penulis: “berupa syariat dan penjelasan,” pernyataan ini dibuat untuk menunjukkan bahwa secara esensi ada dua jenis riwayat yang berasal dari Nabi(ﷺ), yaitu mengenai Hukum yang berasal dari dan dijelaskan oleh Nabi sendiri, dan yang merupakan penjelasan dari apa yang Allah jelaskan dalam Kitab-Nya. Keduanya benar dan layak untuk diikuti.

FASAL: WALI ALLAH


image

Orang-orang Mukmin seluruhnya adalah para wali-wali (kekasih-kekasih) Allah Yang Maha Pengasih

Pernyataan di atas diambil dari ayat berikut ini:

ﵞ ٣٦ نَوقُتَّيَ اْونُاكَوَ اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱ ٢٦ نَونُزَۡحيَ مۡهُ اَلوَ مۡهِيۡلَعَ فٌوۡخَ اَل ِّلِلَّٱ ءَآيَلِوۡأَ نَّإِ آَلأَﵟ

Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa. (QS. Yunus: 62-63)

Kata wali dalam teks adalah dari kata walayah, yang merupakan lawan kata adaawah (permusuhan). Dalam qiraah Hamzah, kata tersebut dibacwa wilayah, meskipun Qari yang lainnya membaca kata tersebut walayah. Ayat tersebut sebagai berikut:

ﵞ ٢٧... ءٍيۡشَ نمِ مهِتِيَلَٰوَ نمِ مكُلَ امَ....

Kalian tidak bertugas memberi perlindungan pada mereka (QS. Al-Anfal: 72)

Sebagian ahli bahasa menilai bahwa kedua kata ini adalah dua kata yang berbeda. Selain itu, walayah berarti ‘pertolongan’ (atau ‘perlindungan’), sedangkan wilayah artinya ‘berkuasa’ atau ‘pemerintahan’. Zajjaj menyatakan bahwa kata wilayah pun boleh digunakan.128

Namun, yang terpenting adalah semua orang beriman adalah kekasih Allah dan Allah adalah Pelindung mereka, sebagaimana yang tersirat dalam ayat berikut ini:

ﵞ ١١ مۡهُلَ ىَٰلوۡمَ اَل نَيرِفِكَٰلۡٱ نَّأَوَ اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱ ىَلوۡمَ ّلِلََّٱ نَّأَبِ كَلِذَٰ ﵟ

Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung. (QS. Muhammad: 11)

Allah () pun berfirman:

٥٥ نَوعُكِرَٰ مۡهُوَ ةَوٰكَزَّلٱ نَوتُؤۡيُوَ ةَوٰلَصَّلٱ نَومُيقِيُ نَيذِلَّٱ اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱوَ ۥهُلُوسُرَوَ ّلِلَُّٱ مُكُيُّلِوَ امَنَّإِ ﵟ ﵞ٦٥ نَوبُلِغَٰلۡٱ مُهُ ِّلِلَّٱ بَزۡحِ نَّإِفَ اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱوَ ۥهُلَوسُرَوَ ّلِلََّٱ لَّوَتَيَ نمَوَ

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi


image

128 Catatan: Dalam buku ini ketika kata waliy digunakan untuk Allah, maka kata itu akan diterjemahkan sebagai Pelindung atau Teman. Namun, ketika digunakan untuk orang-orang beriman, maka akan diterjemahkan Kekasih

penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (QS. Al-Maidah: 55-56)

Ayat-ayat ini menetapkan bahwa orang-orang Mukmin, sebagian adalah wali (pembela dan penolong) bagi sebagian lainnya, bahwa mereka adalah para wali Allah, dan bahwa Allah adalah wali mereka dan maula bagi mereka. Dan barangsiapa yang memusuhi wali Allah, maka dia menantang perang melawan Allah. Wilayah ini adalah rahmat dan barakah dari Allah. Ini bukanlah hubungan antar manusia dengan maksud tertentu di baliknya. Allah berfirman:

نَمِ ى لِوَ ۥهُلَّ نكُيَ مۡلَوَ كِلۡمُلۡٱ ىفِ ك يرِشَ ۥهُلَّ نكُيَ مۡلَوَ ادٗلَوَ ذۡخِتَّيَ مۡلَ يذِلَّٱ ِّلِلَِّ دُمۡحَلۡٱ لِقُوَﵟ ﵞ ١١١ ارََۢيبِكۡتَ هُرِۡ بكَوَۖ لِ ذُّلٱ

Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya (QS. Al-Isra: 111)

Dengan demikian, Allah tidak membutuhkan teman, bahkan semua pujian hanya untuk Allah, berkebalikan dengan raja-raja dan lainnya yang berteman karena kehinaan dan kebutuhan sehingga mereka mendapat pertolongan. Wilayah pun sama dengan keimanan. Sehingga, maksud syaikh adalah bahwa mukmin dalam dasarnya adalah sama, tetapi dengan tingkatan berbeda: yang sempurna dan tidak sempurna. Pertolongan yang sempurna diberikan

kepada orang beriman yang ikhlas dan bertakwa, sebagaimana firman Allah():

مُهُلَ ٣٦ نَوقُتَّيَ اْونُاكَوَ اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱ ٢٦ نَونُزَۡحيَ مۡهُ اَلوَ مۡهِيۡلَعَ فٌوۡخَ اَل ِّلِلَّٱ ءَآيَلِوۡأَ نَّإِ آَلأَﵟ ﵞ٤٦ .... ةِٰۚرَخِٓأۡلٱ ىِفوَ ايَنۡدُّلٱ ةِوٰيَحَلۡٱ ىِف ىٰرَشۡبُلۡٱ

Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat. (QS. Yunus: 62-64)

Seorang mukmin mungkin dicintai dan sekaligus dibenci. Seorang mukmin bisa dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi lainnya, sebagaimana padanya ada kufur dan iman, syirik dan tauhid, takwa dan dosa, nifak dan iman.

Nabi (ﷺ) telah bersabda:

َّتَّاح قِافا ِنلا انمِ ةٌلَّاخ هِيفِ تْانااك نَّهُ نْمِ ةٌلَّاخ هِيفِ تْانااك نْماوا ،اصًلِااخ اقًفِاانمُ انااك هِيفِ نَّكُ نْما عٌابرْاأ«

»رااجاف اماصااخ ااذإِوا ، افلا خْاأ دا عاوا ااذإِوا ،رادا غا دا ها اعا ااذإِوا ، ابذا اك اثدَّاح ااذإِ :اهاعا دااي

Empat perkara barangsiapa hal itu padanya, maka dia munafik tulen dan barangsiapa ada padanya salah satunya, maka telah ada padanya sifat kemunafikan hingga dia meninggalkannya: apabila berbicara ia berdusta, bila melakukan perjanjian ia berkhianat, dan apabila ia berjanji menyelisihi, dan bila bertikai dia bertindak sewenang-wenang.” 129


image

129 Diriwayatkan Bukhari (34) dan Muslim (58)

Ketaatan termasuk cabang iman dan kemaksiatan adalah cabang kekufuran. Dan puncak cabang kekufuran adalah pengingkaran dan puncak cabang iman adalah membenarkan.


image

Yang paling mulia di antara mereka di sisi Allah adalah yang paling taat dan paling gigih mengikuti Al-Qur’an.

Orang mukmin yang paling mulia adalah yang paling taat kepada Allah dan apling gigih mengikuti Al-Quran, dialah yang paling bertakwa dan yang paling bertakwa adalah yang paling mulia. Allah () berfirman:

ﵞ٣١ ... مۚۡكُىٰقَتۡأَ ِّلِلَّٱ دَنعِ مۡكُمَرَكۡأَ نَّإِ....

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa (QS. Al- Hujurat: 13)

Nabi (ﷺ) bersabda:

ىالعا ادوا سْاْلِ َلاوا ،ادوا سْاأ ىلاعا اضيا بْاْلِ َلاوا ،ّبِراعا ىالعا يمِاجعالِ َلاوا ،يمِاجعا ىالعا ّبِراعالِ الضْاف َلا«

»بٍارا تُ نْمِ مُادآوا ،امادآ نْمِ سُانَّلا ،ىواقْ تَّلِبِ َلَّإِ ، اضاي بْاأ

“Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ‘Ajam (Non-Arab), tidak pula orang ‘ajam atas orang arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali atas dasar ketakwaan. Manusia adalah dari Adam dan Adam dari tanah”. 130

Dalil ini melemahkan perbedaan pendapat di antara orang-orang tentang siapa yang lebih utama di antara orang miskin yang sabar dengan orang kaya yang bersyukur. Keutamaan tidak kembali kepada kemiskinan atau kekayaan itu sendiri. Akan tetapi kembali kepada amal-amal keadaan-keadaan dan hakikat-hakikat. Keutamaan di sisi Allah adalah dengan takwa dan iman, bukan dengan miskin atau kaya. Karenanya Umar berkata:

“Allahu A’lam. Kaya dan miskin hanya kendaraan, aku tidak peduli mana dari keduanya yang aku tunggangi.”


image

130 Sanadnya Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (5/411)

FASAL: RUKUN IMAN


image

Dan iman adalah: Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul- rasul-Nya, hari akhir dan Qadar yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit (semuanya) adalah dari Allah.”

Apa yang disebutkan di atas adalah rukun Iman. Ini adalah jawaban Nabi dalam “hadits Jibril” yang disepakati shahih, saat Jibril datang kepada beliau dalam bentuk arab baduy dan bertanya kepada beliau tentang Iman.

Al-Qur’an dan Sunnah menyediakan banyak sekali dalil yang menegaskan bahwa keimanan seseorang tidak hanya berupa pengakuan dalam hati, tanpa disertai amal perbuatan. Selanjutnya, harus dipahami bahwa amal ibadah itu bukan sekedar sholat dan sedekah. Prinsip ini telah diperjelas oleh Sunnah. Sedangkan yang termasuk keimanan, hal ini sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

ىَٰلعَوَ انٗمَٰيإِ مۡهُتۡدَازَ ۥهُتُيَٰاءَ مۡهِيۡلَعَ تۡيَلِتُ اذَِإوَ مۡهُبُولُقُ تۡلَجِوَ ّلِلَُّٱ رَكِذُ اذَإِ نَيذِلَّٱ نَونُمِؤۡمُلۡٱ امَنَّإِﵟ ﵞ٢ نَولُكَّوَتَيَ مۡهِبِ رَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabia dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal (QS. Al-Anfal: 2)

Dan firman Allah():

امَّمِ

اجٗرَحَ مۡهِسِفُنأَ ىِٓف اْودُجيَِ اَل مَّثُ مۡهُنَيۡبَ رَجَشَ امَيفِ كَومُكِ َحيُ يٰتَّحَ نَونُمِؤۡيُ اَل كَبِ رَوَ الَفَﵟ ﵞ ٥٦ امٗيلِسَۡت اْومُِ لسَيُوَ تَيۡضَقَ

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa: 65)

Pada ayat di atas iman tidak dianggap hingga level (ketundukan) ini tercapai. menunjukkan bahwa ketundukkan wajib bagi semua manusia. Barangsiapa yang gagal mencapai tingkat ketundukan ini diancam oleh hukuman dan tidak ancaman azab yang telah dijanjikan dan tidak memenuhi keimanan yang diwajibkan atas dirinya.

Mungkin muncul pertanyaan: Jika, agar iman bernilai, amal yang diwajibkan Allah lebih dari lima yang disebutkan Nabi (ﷺ) dalam hadits Jibril yang masyhur, lalu mengapa Nabi berkata bahwa kelimanya adalah rukun Islam?

Sebagian ulama menjawab bahwa rukun Islam yang disebutkan Nabi adalah kewajiban Islam yang paling dikenal dan paling penting. Ketundukan tidak akan lengkap tanpa kelimanya, dan meninggalkan salah satunya adalah tanda kerusakan.

Namun, untuk lebih jelasnya, jawabannya sebagai berikut. Nabi menyebutkan kelima rukun tersebut sebagai bagian dari agama yang merupakan aspek ketundukan paling penting bagi manusia kepada Tuhannya: yaitu apa yang diwajibkan kepada setiap individu (fardhu ain), yang mampu memenuhi kewajiban-kewajiban ini adalah lima yang disebutkan oleh nabi.

Adapun selainnya, ia menjadi wajib bergantung pada keadaan dan situasi. Tidak mengikat kepada setiap orang sebagai aturan umum. Sebagian mungkin fardhu kifayah seperti jihad, mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran dan yang terkait dengannya seperti kepemimpinan, menjadi penengah bagi dua orang, menyampaikan pendapat hukum, belajar, mengajar, dan sebagainya. Terdapat juga kewajiban lainnya yang muncul dari hubungan seorang manusia dengan manusia lainnya.

Kewajiban-kewajiban tersebut mungkin diterapkan pada seseorang sebagai tuntutan karena adanya hak-hak orang lain atas dirinya, tetapi mungkin dihilangkan dari yang lain karena ketiadaan alasan-alasan tersebut, misalnya melunasi hutang, mengemban amanah, keadilan karena adanya kezaliman, pembayaran diyat (uang darah), harta dan kehormatan, hak-hak pasangan dan anak-anak, menjalin silaturahmi dan kekerabatan, dan sebagainya.

Dalam semua kasus ini, yang wajib untuk Zaid, mungkin tidak wajib untuk Bakar tidak seperti kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, ibadah haji, dan sholat lima waktu dan membayar zakat.

Pernyataan penulis, “yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit (semuanya) adalah dari Allah,” diambil dari firman Allah():

ﵞ ١٥ .... انَلَ ّلِلَُّٱ بَتَكَ امَ اَّلإِ آنَبَيصِيُ نلَّ لقُ ﵟ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami.” (QS. At-Taubah: 51)

Allah () pun berfirman:

اَل مِوۡقَلۡٱ ءِآَلؤُهَٰٓ َ لِامَفَ ِّۖلِلَّٱ دِنعِ نۡمِ ل كُ لۡقُ كَۚدِنعِ نۡمِ ۦهِذِهَٰ اْولُوقُيَ ةئَي ِ سَ مۡهُبۡصِتُ نِإوَ....ﵞ٨٧ اثٗيدِحَ نَوهُقَفۡيَ نَودُاكَيَ

Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah,” dan kalau mereka ditimpa musibah mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).” Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” Mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami

pembicaraan sedikitpun? (QS. An-Nisa: 78)

Allah () juga berfirman:

ﵞ ٩٧.... كَۚسِفۡنَّ نمِفَ ةٖئَِ يسَ نمِ كَبَاصَأَ آمَوَ ِّۖلِلَّٱ نَمِفَ ةٖنَسَحَ نۡمِ كَبَاصَأَ آمَّ ﵟ

Kebaikan apapun yang datang padamu adalah dari Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu adalah karena dirimu sendiri (QS. An-Nisa: 79)

Jika ditanyakan, bagaimana menyelaraskan kedua pernyataan tersebut: kalimat (pada ayat 78) di atas: “segala sesuatunya dari Allah,’ dan ayat lainnya (ayat 79), “dari dirimu?” Jawabannya adalah segalanya dari Allah, kemakmuran dan kekeringan, kemenangan dan kekalahan, semuanya itu berasal dari Allah. Adapun kata-kata “dari dirimu” yang dimaksud adalah musibah apapun yang menimpamu sebenarnya disebabkan dosa darimu dan adalah hukuman untukmu. Allah () pun berfirman:

ﵞ٠٣ ... مۡكُيدِيۡأَ تۡبَسَكَ امَبِفَ ةٖبَيصِمُّ نمِ مكُبَصَٰأَ آمَوَﵟ

Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri.

(QS. Asy-Syura: 30)

Makna di atas dikuatkan oleh yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas sebagai penjelasan ayat. Beliau membacakan ayat di atas: “Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri…” dan menambahkan, “Dan Aku (yaitu Allah) telah menakdirkannya.”

Kata al-hasanah dari teks di atas, yang dimaksud adalah rahmat, dan al-sayyi’ah adalah ungkapan untuk musibah. Tampaknya ini adalah penafsiran yang tepat. Meskipun demikian, sebagian orang telah menafsirkan al-hasanah sebagai ketakwaan dan al-sayyi’ah sebagai kemaksiatan.

Terdepat sejumlah poin tersembunyi dari firman Allah () “karena perbuatan kamu sendiri.” Agar manusia tidak merasa aman dari dirinya sendiri, karena keburukan tetap

tersembunyi di dalam dirinya. Keburukan itu tidak terlihat melainkan dari sumbernya. Seseorang tidak perlu mempedulikan celaan orang-orang, ataupun menyalahkan orang lain ketika mereka memperlakukan dirinya dengan buruk. Karena bencana yang menimpanya sebenarnya disebabkan oleh dosa-dosanya sendiri.

Seharusnya dia memikirkan kembali segala dosa yang telah diperbuatnya dan kembali kepada Allah untuk memohon perlindungan dari keburukan yang tersembunyi dalam dirinya, dan dari keburukan akibat amal perbuataannya. Dia pun harus memohon pertolongan Allah untuk melaksanakan amal baik. Dengan cara inilah, semua kebaikan akan menjadi miliknya dan semua keburukan akan dijauhkan darinya.

Sehingga, doa terbaik adalah yang dinyatakan adalam surat pembuka Al-Qur’an, surat Fatihah:

اَلوَ مۡهِيۡلَعَ بِوضُغۡمَلۡٱ رِيۡغَ مۡهِيۡلَعَ تَمۡعَنۡأَ نَيذِلَّٱ طَرَٰصِ

٦ مَيقِتَسۡمُلۡٱ طَرَٰصِ لٱ انَدِهۡٱ ٥ﵟ

ﵞ ٧ نَيِ لٓاضَّلٱ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Jika Allah menunjuki dia jalan yang benar, maka tentu Allah akan membantunya kepada ketakwaan dan menjauhkan kemunkaran. Tidak akan ada keburukan yang menghampirinya; baik di dunia maupun di akhirat. Dosa-dosa merupakan komponen alami pada jiwa manusia. Oleh sebab itu, dia membutuhkan petunjuk Allah setiap saat. Sungguh kebutuhan akan petunjuk Allah lebih besar daripada kebutuhan akan makanan dan minuman.

Tidak seperti yang dijelaskan oleh beberapa pensyarah, hingga jika dia sudah mendapatkan petunjuk, petunjuk seperti apa lagi yang harus dicari? Kemudian mereka menjawab bahwa ungkapan tersebut adalah untuk berpegang teguh pada petunjuk dan meningkatkan kualitas petunjuk.

Padahal penjelasan yang benar adalah seorang manusia butuh diajar oleh Allah, mengenai segala rincian yang harus dilakukan dalam setiap situasi, dan segala rincian tentang segala hal yang harus dijauhi. Itulah kebutuhan manusia setiap harinya. Selain itu, dia pun butuh akan ilham untuk melakukan apa yang dia ketahui sebagai hal yang benar untuk dilakukan.

Ilmu semata tidaklah cukup jika Allah tidak mengilhaminya untuk melakukan apa yang sudah dia ketahui. Jika tidak demikian, ilmu akan membinasakannya, dan dia tidak termasuk orang yang diberi hidayah. Lebih lanjut ia juga butuh diberi kekuatan untuk melakukan semua amal perbuatan yang ingin dilakukannya.

Apa yang harus diingat adalah apa yang tidak kita ketahui sangat banyak dibandingkan apa yang kita tahu, apa yang tidak ingin kita laksanakan karena kemalasan, kecerobohan, atau dengan alasan apapun juga jauh lebih banyak. Begitu pula, segala hal yang tidak mampu kita lakukan jauh lebih banyak dari segala hal yang bisa kita lakukan. Terakhir, kewajiban utama maupun rinciannya yang tidak kita ketahui dan abaikan juga tidak bisa dihitung. (Sehingga, amal perbuatan yang akhirnya kita usahakan pun berkurang menjadi sangat sedikit).

Oleh sebab itu, kita memerlukan petunjuk yang menyeluruh. Siapapun yang telah menguasai semua ini dapat memohon pijakan yang teguh kepada jalan yang benar: yang merupakan kewajiban yang terakhir. Setelah semua ini, selanjutnya adalah petunjuk terpenting: petunjuk menuju jalan ke Surga. Sehingga, manusia telah diperintahkan untuk berdoa memintanya dalam setiap sholat lima waktu.

Permohonan ini telah Nabi (ﷺ) gabungkan dalam doa-doa beliau, seperti yang diriwayatkan secara shahih kepada kita. Kita pelajari bahwa ketika beliau bangkit dari ruku, beliau mengucapkan doa berikut ini:

نْمِ اتئْشِ اما

اءلْمِوا

، ضِرْاْلْا اءلْمِوا

،تِاوااما سَّلا اءلْمِ .هِيفِ اكًرااابمُ ابً ِياط اًْيثِاك ادًْْحا

،دُمْاْلْا اكال اانَّ برا«

»دٌبْعا اكال اانلُّكُوا ،دُبْعالْا لاااق اما قُّاحاأ ،دِجْما لْاوا ءِاان ثَّلا الهْاأ ،دُعْا ب ءٍ يْاش

“Ya Allah, Ya Tuhan kami. Segala Puji bagi-Mu. Pujian, kekayaan, kesucian dan rahmat sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh apa yang Kau kehendaki setelahnya. Engkau adalah pemilik segala pujian dan kemuliaan, Engkau berhak atas apa yang dikatakan oleh hamba- Mu, dan seluruh dari kami adalah hamba-Mu.” 131

Pernyataan di atas adalah pujian. Itu adalah pujian kepada Allah dan rasa syukur kepada Allah () dan pujian dari semua hamba yang berhak Allah dapatkan. Setelah itu, Nabi pun berdoa:

دُّاْلْا اكنْمِ دِ اْلْا ااذ عُفا نْ اي اَلوا اتعْ انما اما لِ اىطِعْمُ اَلوا اتيْاطعْاأ اما لِ اعنِاما اَل

“Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya, hanyalah dari-Mu kekayaan itu.” 132

Inilah yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyah: dalam poin penciptaan, dalam sudut pandang takdir, baik itu permulaan segala sesuatu, atau akhirannya. Allah Maha Pemberi dan Yang Menahan segala sesuatu. Tidak ada yang bisa menahan apa yang Allah berikan. Dan tiada yang dapat memberikan apa yang Dia tahan.

Ini juga adalah Tauhid Uluhiyah; dari sudut pandang Hukum, perintah dan larangan. Meskipun jika para hamba diberikan kerajaan, pemerintahan dan kekuasaan, namun kepemilikan mereka dari segala sumber daya tidak sebanding dengan yang Engkau Miliki, yang artinya tidak mampu membantunya melarikan diri ataupun memperoleh keselamatan.

Siapapun yang mengetahuinya dengan cara yang seharusnya, maka pintu Tauhid akan dibukakan untuknya. Dia akan mengetahui bahwa tidak ada gunanya berdoa pada selain Allah, jauh dari menyembah selain-Nya, sehingga tidak ada gunanya menaruh kepercayaan atau menaruh harapan pada siapapun selain Allah.


image

Dan kami beriman kepada itu semua. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari para rasulNya, dan kami membenarkan mereka semua atas apa yang mereka bawa.

Kami tidak membeda-bedakan mereka dengan beriman kepada sebagian dari mereka dan kafir kepada sebagian lainnya, Sebab siapa yang beriman pada sebagian dan kafir kepada

sebagian lainnya, dia kafir kepada semuanya. Allah () berfirman:


image

131 Diriwayatkan Muslim (477) tanpa lafaz: Segala Puji bagi-Mu. Pujian, kekayaan, kesucian dan rahmat

132 Diriwayatkan Muslim (477)

مُهُ كَئِلَٰٓ َ وْأُ ٠٥١ الًيبِسَ كَلِذَٰ نَيۡبَ اْوذُخِتَّيَ نأَ نَودُيرِيُوَ ضٖعۡبَبِ رُفُكۡنَوَ ضٖعۡبَبِ نُمِؤۡنُ نَولُوقُيَوَ...ﵟ ﵞ ١٥١ .... اۚقٗ حَ نَورُفِكَٰلۡٱ

Mereka mengatakan: “Kami beriman kepada sebagian (yang lain), dan kafir pada sebagian yang lain” dan mereka bermaksud mengambil jalan tengah (iman dan kafir). Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. (QS. An-Nisa: 150-151)

Makna yang karenanya dia beriman kepada sebagian dari mereka ada pada sebagian lainnya yang tidak dia imani, rasul yang dia imani hadir membenarkan para rasul lainnya. Bila seseorang tidak beriman kepada sebagian rasul, berarti dia kafir kepada rasul yang dia mengaku beriman kepadanya, sebab rasul tersebut hadir membenarkan semua rasul, maka dia kafir dalam arti sebenarnya, walaupun dia menyangka dirinya mukmin.

image

FASAL: PELAKU DOSA BESAR

Para pelaku dosa-dosa besar dari Umat Nabi Muhammad tidak dikekalkan (dalam neraka), apabila mereka mati dalam keadaan bertauhid, sekalipun mereka tidak bertaubat, setelah (nanti) mereka bertemu Allah sebagai orang-orang yang mengetahui (lagi beriman), maka mereka berada pada kehendak dan ketentuan hukum-Nya, jika Allah menghendaki Dia (bisa) mengampuni mereka dengan karunia-Nya, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam kitab- Nya: “…dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendakiNya (An-Nisa: 48). Dan jika Dia menghendaki Dia (bisa) mengazab mereka di dalam neraka dengan keadilan-Nya, kemudian Allah mengeluarkan mereka darinya dengan Rahmat-Nya dan syafaat para pemberi syafaat dari orang-orang yang ta’at kepadaNya. Kemudian Allah akan mengirim mereka ke surgaNya. Karena Allah mencintai orang-orang yang berma’rifat terhadapNya (yaitu orang-orang yang beriman kepadaNya), dan tidak menjadikan mereka di dunia dan akhirat (sama) seperti orang-orang yang ingkar kepadaNya, yaitu orang-orang yang gagal mendapatkan hidayah-Nya, dan tidak dapat meraih kecintaanNya. Ya Allah, Wali (pembela) Islam dan pengikutnya, teguhkanlah kami atas Islam hingga kami bertemu dengan Engkau.”

Definisi yang paling akurat dari dosa besar (kabirah) sebagai berikut. Dosa besar adalah dosa (i) yang diancam hukuman had, (ii) yang diancam dengan api Neraka, atau (iii) yang diancam dengan laknat, atau (iii) yang diancam dengan murka Allah.

Adapun definisi yang paling mendekati kebenaran dari dosa kecil (Saghirah) yaitu dosa yang tidak diancam dengan hukuman had di dunia ataupun ancaman hukuman di akhirat.

Adapun yang dimaksud dengan “ancaman” yang disebutkan di atas, maksudnya adalah ancaman hukuman Neraka, atau laknat, atau murka Allah. Karena “ancaman” hukuman di akhirat dalam beberapa hal sama dengan ancaman hukuman dunia. Begitu pula, hukuman yang dijatuhkan di dunia ini (oleh pengadilan) yang melibatkan tindak kriminal yang mana hukuman khusus tidak ditentukan oleh Syariah (yaitu ta’zirat) bisa disamakan dengan hukuman di akhirat, namun bukan hukuman Api Neraka, atau hukuman yang disertai laknat atau ungkapan murka Allah.

Definisi apapun, (yang harus diingat adalah) semua yang memiliki dalil teks adalah dosa besar. Seperti dosa syirik, pembunuhan, perzinaaan, sihir, memfitnah wanita baik-baik sebagai pezina dan yang semacamnya. Atau bisa berupa jenis lainnya seperti lari dari medan perang, memakan harta anak yatim, usury, durhaka kepada orang tua, sumpah palsu dan yang lainnya.

Definisi di atas mengikuti pedapat para ulama terdahulu seperti Ibnu Abbas, Ibn Uyaynah, Ahmad bin Hambal dan yang lainnya. Yang kedua, terdapat satu ayat dalam Al- Qur’an yang dapat dikutip untuk mendukungnya, yang berbunyi:

ﵞ١٣ امٗيرِكَ الٗخَدۡمُّ مكُلۡخِدۡنُوَ مۡكُتِا ـَيِ سَ مۡكُنعَ رۡفِ كَنُ هُنۡعَ نَوۡهَنۡتُ امَ رَئِآبَكَ اْوبُنِتَۡجتَ نإِﵟ

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang pada kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An-Nisa: 31)

Yang ketiga, dalil di atas untuk membantah mereka yang berpendapat bahwa dosa besar adalah dosa yang telah disepakati syariat-syariat terdahulu. Gagasan tersebut keliru. Pendapat ini menyiratkan bahwa minum keras, menikah dengan mahram baik karena susuan atau hubungan pernikahan dan lainnya bukan termasuk dosa besar. Dengan cara yang sama pendapat yang juga keliru, yaitu bahwa dosa besar adalah dosa yang menutup ma’rifatullah atau dosa yang melenyapkan harta dan badan. Semua ini adalah definisi yang keliru.

FASAL: SHALAT DIBELAKANG IMAM FAJIR


image

Kami juga berpandangan bahwa sholat (boleh) dilaksanakan di belakang setiap (imam) yang sholih ataupun yang pendosa dari Ahlul Qiblah (kaum muslimin), juga (boleh mensholatkan yang sholih dan pendosa) yang meninggal dunia di antara mereka.

Konsep ini diambil dari sabda Nabi yang menyatakan:

»رٍجِاافوا رٍ اب لِكُ افلْاخ اولُّاص«

“Sholatlah di belakang setiap yang sholeh maupun tidak.” 133

Makhul telah meriwayatkannya dari Abu Hurairah. Daruquthni meriwayatkannya dengan menambahkan penilaiannya:

“Makhul tidak pernah bertemu dengan Abu Hurairah. Selain itu, ada satu sosok perawi bernama Mu’awiyah bin Saleh yang kejujuran dan kredibilitasnya diragukan. Namun, Muslim pernah meriwayatkan darinya dalam kitab haditsnya.

Daruquthni telah meriwayatkan hadits lainnya, begitu pula Abu Dawud yang meriwayatkan bahwa Mak-hul mengabarkan dari Abu Hurairah lagi, bahwa Nabi telah bersabda:

مْكُيْالعا بٌجِاوا دُاهاِْلْاوا ،رِئِااباكلِْبِ المِعا وا هُ نْإِوا ،رٍجِااف وْاأ رٍ اب ،مٍلِسْمُ لِكُ اعما مْكُيْلاعا ةٌابجِاوا ةُالاصَّلا«

»رائِااباكلْا المِعا ] نْإِوا[ ،رٍجِااف وْاأ رٍ اب ،ْيٍمِاأ لِكُ اعما

“Sholat diwajibkan atasmu di belakang setiap Muslim, baik imam itu shalih maupun pelaku dosa, bahkan jika dia berbuat dosa besar. Demikian pula, jihad diwajibkan atasmu masih di bawah kepemimpinan setiap pemimpin Muslim, baik dia itu shalih maupun pelaku dosa, bahkan meskipun dia berbuat dosa besar.” 134

Telah diriwayatkan dalam Bukhari bahwa Abdullah bin Umar biasa sholat di belakang Hajjaj bin Yusuf Tsaqafiyy demikian pula Anas bin Malik, meskipin Hajjaj bin Yusuf dikenal sebagai pemimpin yang kejam dan jahat.

Bukhari meriwayatkan hadits Nabi:

مْهِيْالعاوا مْكُال اف اوئطخأ نأو ،مَلو مكلف اوباصأ نْإِاف ،مْكُال انولُّاصيُ

“Mereka shalat untuk mengimami kalian. Jika mereka benar, maka pahala adalah untuk mereka dan untuk kalian, bila mereka salah maka pahala untuk kalian dan dosa mereka yang


image

133 Dhaif. Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni (2/57) dan Al-Bayhaqi (4/19)

134 Dhaif. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (594)

tanggung.” 135

Ketahuilah, semoga Allah merahmati kita semuanya, bahwa seseorang boleh shalat bermakmum kepada seseorang yang tidak diketahui fasik atau pelaku bid'ah, berdasarkan kesepakatan ulama dan bukan termasuk syarat bermakmum makmum mengetahui akidah imamnya, bukan pula menelitinya dengan bertanya, "Apu akidahmu?" Sebaliknya dia boleh shalat di belakang seseorang yang keadaannya belum diketahui.

Bila seseorang shalat di belakang ahli bid'ah yang menyeru kepada bid'ahnya, atau orang fasik yang jelas kefasikannya, sementara dia adalah imam rawatib yang tidak memungkinkan, kecuali shalat di belakangnya seperti imam dalam Shalat Jum'at dan Shalat Ied, imam dalam shalat haji di Arafah, dan yang sepertinya, maka makmum boleh shalat di belakangnya menurut mayoritas Salaf dan Khalaf. Barangsiapa meninggalkan Shalat Jum'at dan jamaah karena tidak mau bermakmum kepada imam fajir (pendosa), maka dia pelaku bid'ah menurut kebanyakan ulama.

Pendapat yang shahih adalah seseorang shalat dan tidak mengulanginya, karena para sahabat Shalat Jum'at dan jamaah di belakang para imam yang fajir, dan mereka tidak mengulangnya seperti halnya Abdullah bin Umar yang sholat di belakang Hajjaj bin Yusuf atau Anas bin Malik. Juga telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dan beberapa perawi hadits lain bahwa mereka biasa sholat di belakang Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ait meskipun orang tersebut biasa minum khamr.

Shalat orang fasik dan ahli bid'ah untuk dirinya sah, bila ada orang yang bermakmum kepadanya, maka shalatnya tidak batal. Dan sebagian ulama menyatakannya makruh, adalah karena amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah kewajiban yang salah satu bentuk-nya adalah barangsiaPa menampakkan bid'ah atau kemaksiatan maka dia tidak boleh diangkat sebagai imam bagi kaum Muslimin, dia berhak dita'zir hingga bertaubat, bila mungkin memboikotnya hingga dia bertaubat, maka ia bagus, bila sebagian orang menolak shalat di belakangnya dan memilih shalat di belakang orang lain, maka hal itu berdampak dalam mengingkari kemungkaran ini hingga pelakunya bertaubat atau digantikan atau orang-orang meninggalkan dosa seperti dosanya, maka tidak shalat dibelakangnya melahirkan kemaslahatan syar'i, di samping makmum juga tidak luput dari melaksanakan Shalat Jum'at dan shalat berjamaah

Adapun bila meninggalkan shalat di belakangnya mengakibatkan tertinggalnya Shalat Jum'at dan jamaah, maka dalam masalah ini tidak boleh meninggalkan shalat di belakangnya kecuali pelaku bid'ah yang menyelisihi para sahabat. Demikian juga bila imam shalat diangkat oleh para pemimpin, meninggalkan shalat di belakangnya tidak mengandung kemaslahatan syar'i, maka dalam keadaan ini shalat tetap dilakukan di belakangnya

Akan tetapi, jika memungkinkan melaksanakan sholat jumat dan sholat lainnya di belakang imam yang bertakwa dan sholeh, maka tentunya itu lebih baik dan lebih disukai daripada sholat di belakang imam yang lalim. Oleh sebab itu, jika seseorang melakukan hal itu, yaitu melaksanakan sholat di belakang imam yang lalim yang melakukan perbuatan dosa terbuka, tanpa alasan bagus, maka, beberapa ulama menyatakan bahwa dia harus mengulangi sholatnya, dan sebagian ulama lain berpendapat dia tidak perlu mengulangi sholatnya.


image

135 Lihat Mukhtashar Shahih Bukhari (383)

Bila seseorang sanggup tidak mengangkat orang yang memperlihatkan kemungkaran sebagai imam, maka dia wajib melakukan, tetapi bila imam tersebut diangkat oleh orang lain dan tidak mungkin melengserkannya dari kedudukannya sebagai imam, atau tidak memungkinkan melengserkannya dari kedudukannya sebagai imam, kecuali dengan keburukan yang lebih berbahaya daripada keburukan orang yang menampakkan kemungkaran tersebut, maka tidak boleh menepis kerusakan ringan dengan kerusakan besar, tidak boteh menolak mudarat ringan dengan mudarat berat, karena syariat hadir menyempurnakan kemaslahatan dan mewujudkannya, menghalangi keburukan dan meminimalkannya sebisa mungkin.

Tidak didirikannya Shalat Jum'at dan shalat jamaah adalah lebih besar kerusakannya dibanding melaksanakan keduanya di belakang imam yang fajir (pendosa), apalagi bila tidak shalat di belakangnya tidak menolak kefajiran, maka yang terjadi adalah terhalangnya diliburkannya kemaslahatan dan tidak tercegahnya kerusakan tersebut.

Akan tetapi, jika memungkinkan melaksanakan sholat jumat dan sholat lainnya di belakang imam yang bertakwa dan sholeh, maka tentunya itu lebih baik dan lebih disukai daripada sholat di belakang imam yang lalim. Oleh sebab itu, jika seseorang melakukan hal itu, yaitu melaksanakan sholat di belakang imam yang lalim yang melakukan perbuatan dosa terbuka tanpa alasan, maka beberapa ulama menyatakan bahwa dia harus mengulangi sholatnya, dan sebagian ulama lain berpendapat dia tidak perlu mengulangi sholatnya.

Sebaliknya, jika seorang Imam lupa (ketika sholat) atau melakukan kesalahan, namun para makmum tidak mengetahuinya, maka mereka tidak perlu mengulangi sholat mereka, menurut hadits sebelumnya. Umar, suatu saat pernah memimpin sholat dan beliau lupa bahwa waktu itu sedang dalam hadas besar. Lalu beliau mengulangi sholatnya namun tidak meminta jamaah sholat untuk turut mengulangi sholat. Meskipun demikian, jika seorang makmum menyadari bahwa imamnya tidak suci dari hadas atau tanpa wudhu, maka menurut Imam Abu Hanifah, makmum tersebut harus mengulangi sholatnya.

Namun, Malik, Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa hal itu tidak perlu. Ini pun berlaku bagi seorang imam yang melakukan sesuatu yang tidak dapat diterima oleh para makmumnya. Namun, semua perkara ini harus dibahas lebih lanjut, yang tentunya lebih tepat dikupas dalam kitab Fikih. Akan tetapi, jika seorang makmum sebelumnya sudah mengetahui bahwa Imam tersebut shalat tanpa wudhu, maka dia tidak perlu sholat di belakangnya, karena imam itu adalah pelawak dan bukan seorang yang bersungguh-sungguh.

Dalil-dalil al-Qur'an, as-Sunnah, dan ijma' Salaf menunjukkan bahwa ulil amri (pemimpin yang sah), imam dalam shalat, hakim, panglima perang dan petugas zakat, harus ditaati dalam perkara-perkara ijtihad, sedangkan dia sendiri tidak wajib menaati para pengikutnya dalam masalah-masalah tersebut, sebaliknya para pengikutnya wajib menaatinya dan meninggalkan pendapat mereka, karena kemaslahatan berjamaah dan bersatu, kerusakan perbedaan dan perpecahan adalah tebih besar dari pada perkara-perkara furu'iyah, karena itu sebagian dari para pemimpin tidak boleh menganulir keputusan sebagian lainnya.

Adapun riwayat yang Bukhari kabarkan yaitu Rasulullah (ﷺ) bersabda:

مْهِيْالعاوا مْكُال اف اوئطخأ نأو ،مَلو مكلف اوباصأ نْإِاف ،مْكُال انولُّاصيُ

“Mereka shalat untuk mengimami kalian. Jika mereka benar, maka pahala adalah untuk mereka dan untuk kalian, bila mereka salah maka pahala untuk kalian dan dosa mereka yang tanggung.” 136

merupakan dalil yang jelas bahwa bila imam salah, maka kesalahannya atas dirinya tidak atas makmum. Seorang mujtahid paling nyata darinya adalah bahwa dia keliru karena meninggalkan satu kewajiban yang dia yakini bukan kewajiban atau melakukan sesuatu yang dilarang yang dia yakini tidak dilarang.

Dalam keadaan demikian, seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak diperkenankan untuk menafikan hadits yang jelas ini. Hadits ini pun bisa dijadikan landasan argumen yang jelas untuk membantah beberapa pengikut madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali yang mengeluarkan fatwa bahwa jika Imam meninggalkan yang dirasa wajib oleh makmumnya, maka para makmum tidak dibenarkan untuk mengikutinya. Persatuan umat dan keharmonisan menuntut kita untuk mengabaikan segala pendapat yang menyulut perpecahan dan ketidaksepahaman.

Adapun pernyataan penulis, “juga (boleh mensholatkan yang sholih dan pendosa) yang meninggal dunia di antara mereka,” yakni kami berpendapat menyolatkan orang mukmin yang baik dan fajir, sekalipun dikecualikan dari keumuman ini para pemicu fitnah (kekacauan) dan begal (perampok jalanan), demikian juga orang yang mati bunuh diri, berbeda dengan Imam Abu Yusuf; bukan orang yang mati syahid, berbeda dengan Imam Malik dan Imam Syafi’i sebagaimana dibahas pada tempatnya.

Akan tetapi Imam Ath-Thahawi berkata demikian untuk menjelaskan bahwa kita tidak menolak menshalatkan siapa yang mati dari kalangan ahli bid’ah dan pelaku dosa. Bukan dalam konteks keumuman yang menyeluruh, akan tetapi orang-orang yang menampakkan Islam terbagi menjadi dua: mukmin dan munafik, barangsiapa diketahui kemunafikannya, maka tidak boleh menshalatkannya dan memohon ampunan baginya, dan barangsiapa yang tidak diketahui, maka dishalatkan.

Bila seseorang mengetahui kemunafikan seseorang, maka dia tidak boleh menshalatkannya, sedangkan siapa yang tidak mengetahuinya tetap menshalatkannya. Contohnya Umar yang tidak menshalatkan mayat yang tidak dishalatkan oleh Hudzaifah. Hal ini karena (pada ekspedisi Tabuk) Hudzaifah mengetahui kemunafikan orang-orang tertentu.

Lebih lanjut, Allah () telah melarang rasulullah menshalatkan orang-orang munafik, Allah

mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengampuni mereka walaupun nabi memintakan ampun untuk mereka.

Allah menyebutkan alasannya bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasulNya. Ini berarti barangsiapa yang beriman, maka telah dilarang menshalatkannya, sekalipun dia memiliki dosa-dosa di bidang akidah bid’ah atau dosa-dosa perbuatan apa yang dia miliki, karena Allah memerintahkan Rasulullah agar memohon


image

136 Lihat Mukhtashar Shahih Bukhari (383)

ampunan bagi orang-orang beriman. Allah berfirman:

ﵞ ٩١ ... تِِۗنَٰمِؤۡمُلۡٱوَ نَينِمِؤۡمُلۡلِوَ كَبِۢنذَلِ رۡفِغۡتَسۡٱوَ ّلِلَُّٱ اَّلإِ هَلَٰإِ آَل ۥهُنَّأَ مۡلَعۡٱفَﵟ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. (QS. Muhammad: 19)

Mengimani keesaan Allah adalah inti agama. Adapun memohon ampunan-Nya, terdiri dari dua jenis: umum dan khusus. Secara umum, yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat di atas. Adapun memohon ampunan secara khusus, yaitu dengan menyolatkan jenazah. Sehingga, tidak ada satu pun mukmin yang meninggal melainkan mukmin lainnya diperintahkan untuk menyolatkannya sebagai bagian dari pengurusan jenazah. Dan ketika melaksanakan sholat jenazah, mereka harus memohonkan ampunan bagi jenazah. Hal ini sejalan dengan sebuah riwayat dari Abu dawud dan Ibnu Majah, yang dikabarkan oleh Abu Hurairah yang berkata: “Aku pernah mendengar Rasul bersabda: “Ketika kalian menyolatkan jenazah, maka doakanlah pengampunan untuknya.”

FASAL: TIDAK BOLEH MEMASTIKAN SESEORANG MASUK SURGA ATAU NERAKA


image

Dan kami tidak memastikan tempat seseorang dari mereka di surga ataupun di neraka.

Maksudnya kami tidak berkata tentang seseorang dari ahli kiblat (kaum muslimin) bahwa dia termasuk penghuni surga atau neraka, kecuali siapa yang telah dinyatakan oleh rasulullah bahwa dia termasuk ahli Neraka atau Ahli Surga seperti 10 orang sahabat yang dijamin masuk surga. Sekalipun kami tetap berkata pelaku dosa besar akan masuk neraka bila Allah berkehendak demikian.

Kemudian Allah mengeluarkan dia darinya dengan syafaat para pemberi syafaat. Tetapi untuk orang tertentu menahan diri, tidak bersaksi baginya bahwa dia termasuk penghuni surga atau penduduk neraka, kecuali berdasarkan ilmu, karena kita tidak mengetahui hakikat batinnya dan akhir hidupnya, tetapi kita berharap bagi orang yang berbuat dan mengkhawatirkan orang yang berbuat buruk

Meskipun demikian, dapat menilai sesorang apakah dia akan masuk Surga jika kaum mukminin secara umum berpikir demikian. Ini sesuai dengan sebuah hadits dalam Shahihain tentang jenazah:

اها يْالعا ِناِثْأُاف ،ىراخُِْبِ رَّمُوا ، تْبااجوا :املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِبُِّنَّلا لااقا اف ،ْيٍِْبِا اها يْلاعا اوْ ان ثْاأاف ،ةٍزااانِبِِ رَّمُ«

؟ تْاباجوا اما ،ِّللَّا لاوسُرا َيا :رُما عُ لا اقا اف ،تٍارَّما اثالااث تْبااجوا :رارَّاك ةٍاياوارِ ِفِوا . تْاباجوا :لااقا اف ،رٍ اشبِ

ارًّاش هِيْالعا مْتُ يْ ان ثْاأ اذا هاوا ،ةُنَّاْلْا هُال تْبااجوا اْيًْ اخ هِيْلاعا مْتُ يْ ان ثْاأ اذا ها :املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا لااقا اف

» ضِرْاْلْا ِفِ ِّللَّا ءُادا ها شُ مْتُ نْاأ ،رُانَّلا هُال تْاباجوا

“Sesosok jenazah dibawa melewati para sahabat, lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan, maka Nabi bersabda: ‘wajib (mendapatkan surga).’ Lalu sesosok jenazah lain dibawa melewati para sahabat, lalu dia disanjung dengan keburukan, maka rasulullah bersabda: ‘wajib (mendapatkan neraka). Dalam sebuah riwayat lain Nabi mengulang: ‘wajib’ tiga kali, maka Umar berkata: “Wahai rasulullah, apa maksud wajib?” Rasulullah menjawab. “Kalian menyanjung jenazah itu dengan kebaikan, maka wajib surga baginya, sedangkan kalian menyanjung jenazah ini dengan keburukan, maka wajib neraka baginya. Kalian adalah para saksi Allah di bumi” 137


image

137 Diriwayatkan oleh Bukhari (1367) da Muslim (949)

image

Dan kami juga tidak mempersaksikan atas diri mereka dengan kekufuran, kesyirikan ataupun kemunafikan, selama hal itu tidak nampak pada diri mereka. Dan kami menyerahkan rahasia-rahasia (hal-hal yang tidak terlihat) pada diri mereka kepada Allah.

Alasannya karena kita diperintahkan untuk menetapkan hokum berdasarkan apa yang nampak (zhahir) dan kita dilarang berprasangka dan mengikuti apa yang kita tidak punya ilmu tentangnya. Allah () berfirman:

ﵞ٢١ ...مثۡإِ نِ ظَّلٱ ضَعۡبَ نَّإِ نِ ظَّلٱ نَمِ ارٗيثِكَ اْوبُنِتَجۡٱ اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱ اهَيُّأَيَٰٓ َ

“Wahai orang-orang beriman. Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

FASAL: TIDAK BOLEH MENGARAHKAN SENJATA KEPADA SESAMA MUSLIM


image

Dan kami juga tidak berpandangan bolehnya mengangkat senjata terhadap seorang pun dari umat nabi Muhammad kecuali orang yang memang wajib dihadapi sengan senjata.

Pernyataan ini sejalan dengan hadits shahih yang Rasulullah(ﷺ) bersabda:

،ِنِازَّلا بُ ِي ثَّلا :ثٍالااث ىدا حِِْبِ َلَّإِ ،ِّللَّا لُوسُرا ِن اِأوا ُّللَّا َلَّإِ هالإِ َلا نْاأ دُها شْاي مٍلِسْمُ ئٍرِمْا مُاد لُُّيِا َلا«

»ةعا اما اجلْلِ قُرِافامُلْا هنِيدِلِ كُرِاتَّلاوا ، سِفْ نَّلِبِ سُفْ نَّلاوا

“Darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan-Nya tidak halal, kecuali dengan salah satu dari tiga perkara: “Pezina muhshan, jiwa dengan jiwa dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jamaah.” 138


image

138 Diriwayatkan oleh Bukhari (6878) dan Muslim (1676)

FASAL: MEMBERONTAK KEPADA PEMIMPIN


image

Kami juga tidak berpandangan bolehnya memberontak kepada para penguasa dan pemimpin kami, sekalipun mereka zhalim. Dan kami juga tidak mendoakan mereka agar mendapatkan bencana atau kebinasaan. Dan kami juga tidak (membolehkan) mencabut tangan (bai’at) dari kewajiban taat kepada mereka. Kami berpandangan bahwa mentaati mereka yang merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah adalah suatu kewajiban, selama mereka tidak memerintahkan perbuatan maksiat. Kami berdoa bagi mereka agar mendapatkan keshalihan dan dianugerahi keafiatan.

Pernyataan ini sesuai dengan firman Allah():

ﵞ٩٥ ... مۖۡكُنمِ رِمۡأَۡلٱ ىِلوْأُوَ لَوسُرَّلٱ اْوعُيطِأَوَ ّلِلََّٱ اْوعُيطِأَ اْوٓنُمَاءَ نَيذِلَّٱ اهَيُّأَيَٰٓ َ

Wahai orang-orang beriman! Taatilah Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) (QS. An-Nisa: 59)

Riwayat dalam shahihain menyatakan bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda:

صِعْ اي نْماوا ،ِنِعا ااطاأ دْقا اف اْيمِْلْاا عِطِيُ نْماوا ،اّللَّا ىاصعا دْقا اف ِنِااصعا نْماوا ،اّللَّا اعااطاأ دْقا اف ِنِعا ااطاأ نْما«

»ِنِااصعا دْقا اف اْيمِاْلْا

“Barangsiapa mentaatiku, maka dia mentaati Allah, barangsiapa mendurhakaiku maka dia mendurhakai Allah. Dan barangsiapa mentaati pemimpin, maka dia mentaatiku dan barangsiapa mendurhakai Amir, maka dia mendurhakaiku.” 139

Abu Dzar telah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

نَّاأاك ي ٍ شِاباْلِ وْالوا« :ي ِ رِااخبُلْا دا نْعِوا . »فِاراطْاْلْا اعدَّاَمُ ايًّشِاباح ادًبْعا انااك نْإِوا اعيطِأُوا اعاْسْاأ نْاأ ِنِااصوْاأ

»ةٌابيبِزا هُاسأْرا

“Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah (), tetaplah mendengar


image

139 Diriwayatkan Bukhari (7137) dan Muslim (1835)

dan mentaati, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam…” 140

Riwayat lainnya yang valid pun mengabarkan:

اعْْسا الااف ةٍاي صِعْاِبِ رامِأُ نْإِاف ،ةٍاي صِعْاِبِ راماؤُْ ي نْاأ َلَّإِ ،اهرِاكوا بَّاحاأ اما يفِ ةُعا اطَّلاوا عُمْسَّلا مِلِسْمُلْا ءِرْما لْا ىلاعا « »ةاعا ااط َلاوا

“Seorang Muslim harus mendengar dan mentaati dalam apa yang dia suka dan dia benci, kecuali bila diperintah berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan tidak pula menaati.” 141

Selain itu, Auf bin Malik telah meriwayatkan bahwa Nabi (ﷺ) telah bersabda:

انيذِلَّا مُكُتِمَّئِاأ رُاراشِوا ،مْكُيْلاعا انولُّاصيُوا مْهِيْالعا انولُّاصتُوا ،مْكُانوبُُّيُِوا مَُْناوبُُّتُِ انيذِلَّا مُكُتِمَّئِاأ رُاايخِ«

؟ اكلِاذ دا نْعِ فِيْسَّلِبِ مْهُذُبِانُا ن الاافاأ ،ِّللَّا لاوسُرا َيا :اانلْقُ اف ،مْكُانونُعالْ ايوا مَُْناونُعالْ اتوا ،مْكُانوضُغِبُْ يوا مَُْناوضُغِبْ تُ

اما هْراكْايلْ اف ،ِّللَّا ةِاي صِعْما نْمِ ائً يْاش ِتَِيْا هُآرا اف ،لٍاوا هِيْلاعا ِلا وِا نْما َلااأ ،اةالاصَّلا مُكُيفِ اومُااقاأ اما ،َلا :لاااق

»ةٍعا ااط نْمِ ادًاي نَّعازِنْ اي َلاوا ،ِّللَّا ةِاي صِعْما نْمِ ِتَِيْا

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian, dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan mereka membeci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” Kami berkata: “Wahai rasulullah, bolehkah kita melawan mereka dengan pedang saat itu?” Rasulullah menjawab. “Tidak, selama mereka mendirikan shalat di antara kalian. Ketahuilah barangsiapa seorang pemimpin diangkat atasnya lalu dia melihat darinya sesuatu kemaksiatan kepada Allah, maka hendaknya dia membenci kemaksiatannya tersebut dan jangan menarik tangannya dari ketaatan kepadanya.” 142

Al-Qur’an dan Sunnah menunjukkan kewajiban taat kepada ulil amri (pemimpin yang sah) selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan.

Perhatikanlah firman Allah:

ﵞ٩٥ ... مۖۡكُنمِ رِمۡأَۡلٱ ىِلوْأُوَ لَوسُرَّلٱ اْوعُيطِأَوَ ّلِلََّٱ اْوعُيطِأَ اْوٓنُمَاءَ نَيذِلَّٱ اهَيُّأَيَٰٓ َ

Wahai orang-orang beriman! Taatilah Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) (QS. An-Nisa: 59)

Namun Dia tidak befirman,

“Taati Ulul Amri (pemegang kekuasaan) diantara kalian.”


image

140 Diriwayatkan Muslim (648)

141 Diriwayatkan Bukhari (2955) dan Muslim (7144)

142 Diriwayatkan Muslim (1855)

Alasannya karena, pemegang kekuasaan tidak dipatuhi secara independen, akan tetapi mereka ditaati dalam apa yang merupakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Adapun kewajiban mematuhi mereka, meskipun mereka berbuat zhalim, maka hal itu karena menentang mereka melahirkan efek buruk yang lebih berat dibanding akibat buruk dari kezaliman mereka. Justru sabar atas kesabaran mereka melebur keburukan-keburukan dan melipatgandakan pahala, karena Allah tidak membuat mereka berkuasa atas kita kecuali karena rusaknya amal kita, dan balasan itu sejenis dengan perbuatan. Karena itu kita harus bersungguh-sungguh dalam beristighfar, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan kita.

FASAL: MENGIKUTI JAMAAH


image

Kami mengikuti As-Sunnah dan al-Jama’ah, dan meninggalkan sikap menyelisihi jamaah (asy-Syuyudz), perselisihan (al-Khilaf) dan perpecahan (al-Furqah).

Sunnah adalah jalan hidup rasulullah (ﷺ). Jamaah adalah jamaah kaum muslimin, mereka adalah para sahabat dan para tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari kiamat. Mengikuti mereka adalah petunjuk, menyelisihi mereka adalah kesesatan.

Sebuah hadits yang dinyatakan shahih oleh Tirmizi bahwa Irbad bin Sariyyah berkata:

، بُولُقُلْا اها نْمِ تْالجِواوا ،نُويُعُلْا اها نْمِ تْفارااذ ،ةًاغيلِاب ةًاظعِوْما املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا ااناظعاوا«

عِمْسَّلِبِ مْكُي صِوأُ :لااقا اف ؟اان يْالإِ دُها عْ ات ااذامااف ؟عٍد ِوامُ ةُاظعِوْما هِذِها نَّاأاك ،ِّللَّا لاوسُرا َيا :لٌئِااق لااقا اف

انيدِشِارَّلا ءِافاالُْلْا ةِنَّسُوا ِتِنَّسُبِ مْكُيْلاعا اف ،اْيثًِ اك افًالاتِخْا ىاْيااساف يدِعْا ب مْكُنْمِ شْعِاي نْما هُنَّإِاف ،ةِعا اطَّلاوا

ةٍعا دْبِ لَّكُ نَّإِاف ،رِومُُْلْا تًِثا دا ُْمُوا مْكَُيَّإِوا ،ذِجِاوا نَّلِبِ اها يْلاعا اوضُّعاوا ،ااِبِ اوكُسَّاْتا ،يدِعْا ب نْمِ ّيا ِيدِهْما لْا

»ةٌالالا اض

“Rasulullah pernah menasihati kami dengan nasihat yang mendalam, yang karenanya mata menangis dan hati menjadi ketakutan. Seseorang berkata: “Ya Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan. Apa pesan anda kepada kami?” Rasulullah menjawab, ‘Aku berwasiat kepada kalian untuk mendengar dan taat; karena sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sesudahku niscaya dia melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglah kalian kepada sunnahku dan Sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat hidayah sesudahku, pegang teguhlah ia, gigitlah ia dengan gigi geraham, jauhilah ajaran- ajaran baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua bid’ah adalah kesesatan.” 143

Nabi juga bersabda:

ثٍالااث ىالعا قَُتِافْ اتاس اةمَُّْلْا هِذِها نَّإِوا ،ةًلَّمِ ّيا عِبْاسوا ّيِْات نْثِ ىالعا مْهِنِيدِ ِفِ اوقُاَتافْا ّيِْابااتكِلْا الهْاأ نَّإِ«

َيا ايهِ نْما :اولُااق :ةٍاياوارِ ِفِوا .ةُعا امااْلْا ايهِوا ،ةًدا حِاوا َلَّإِ رِانَّلا ِفِ اهالُّكُ ،اءاواهْْلْاا ِنِعْا ي ،ةًلَّمِ ّيا عِبْاسوا

»ّبِااحصْاأوا هِيْلاعا َنااأ اما :لاااق ؟ّللَّاِ لاوسُرا

“Sesungguhnya para pengikut dua ahli kitab telah berpecah belah dalam agama mereka menjadi 72 golongan, dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, - maksudnya adalah (pengikut) hawa nafsu- semuanya di neraka kecuali satu, yaitu al- jamaah.” Menurut riwayat lain mereka bertanya: “Wahai rasulullah, siapakah mereka (satu


image

143 Shahih. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2676), Abu Dawud (4603), dan Ibnu Majah (42)

golongan yang selamat) itu?” Beliau menjawab: “yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya”. 144

Di sini Nabi menjelaskan bahwa kebanyakan orang-orang yang berselisih itu celaka dari dua sisi, kecuali ahlus Sunnah wal jamaah.

Betapa bagus ucapan Abdullah bin Mas’ud:

دٍمَّاُمُ بُااحصْاأ اكئِالوأُ ،ةُان تْفِلْا هِيْلاعا نُماؤْ تُ َلا يَّاْلْا نَّإِاف ، اتاما دْاق نْاِبِ َتَّا سْايلْ اف انًّ اتسْمُ مْكُنْمِ انااك نْما

مُهُراااتخْا مٌوْ اق ،افًلُّاكات اهالَّ اقاأوا امًلْعِ اهاقاما عْاأوا ،ِبًولُ قُ اهارَّ اباأ ،ةِمَُّْلْا هِذِها الاضفْاأ اونُااك ،املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص

نْمِ مْتُعْاطاتسْا ااِبِ اوكُسَّاْتاوا ،مْهِرًِثا آ ِفِ مْهُوعُبِتَّاوا ،مْهُلاضْفا مَُْلا اوفُراعْااف ،هِنِيدِ ةِماااقإِوا هِ ِيبِان ةِابحْصُلِ ُّللَّا

مِيقِاتسْمُلْا يِدْاَلْا ىالعا اونُااك مَُْنَّإِاف ،مْهِنِيدِوا مْهِقِالا خْاأ

“Barangsiapa ingin meneladani, maka hendaknya meneladani orang-orang yang sudah meninggal dunia, sebab orang hidup tidak aman dari fitnah (godaan), mereka ini adalah para sahabat Muhammad, orang-orang terbaik umat ini, paling mulia hatinya, paling mendalam ilmunya, paling minim pemaksaan dirinya, suatu kaum yang Allah pilih untuk menyertai NabiNya dan menegakkan agamaNya. Maka ketahuilah jasa-jasa mereka, ikutilah jejak mereka, berpeganglah sebisa kalian kepada agama dan akhlak mereka, sebab mereka berjalan di atas petunjuk yang lurus.”145


image

144 Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (4/102) dan Abu Dawud (4597)

145 Diriwayatkan semisalnya oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi

FASAL: PERMASALAHAN BERMACAM-MACAM YANG BERKAITAN DENGAN AKIDAH


image

Kami mencintai orang-orang yang adil dan amanah, dan membenci orang-orang yang zhalim dan berkhianat.

Ini termasuk kesempurnaan iman dan ubudiyah, karena ibadah mengandung puncak kecintaan dan kesempurnaannya, puncak ketundukan dan kesempurnaannya. Mencintai para rasul, para nabi dan hamba-hamba Allah yang beriman termasuk kecintaan kepada Allah, bila kecintaan yang merupakan hak Allah yang tidak boleh diberikan kepada selainNya, maka selain Allah dicintai karena Allah, bukan bersama Allah.

Karena orang yang mencintai, mencintai apa yang dicintai oleh siapa yang dia cintai, membenci apa yang dia benci, membela siapa yang dia bela, memusuhi siapa yang dia musuhi, ridha karena ridhanya, marah karena marahnya, memerintahkan apa yang dia perintahkan, melarang apa yang dia larang, dia sejalan dengan siapa yang dicintainya dalam segala keadaannya.

Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik, orang-orang yang bertakwa, orang- orang yang bertaubat, orang-orang yang menyucikan diri, dan kita mencintai siapa yang Allah cintai. Allah tidak mencintai orang-orang yang berkhianat, orang-orang yang berbuaat rusak, orang-orang yang sombong dan kita juga tidak mencintai mereka, dan membenci mereka sebagai suatu sikap yang sesuai dengan yang diinginkan Allah.


image

Kami mengatakan: ‘Allahu A’lam’, dalam masalah yang tidak jelas bagi kami”

Telah lewat ucapan Ath-Thahawi, “Karena sesungguhna tidak ada orang yang selamat dalam agamanya, kecuali orang yang menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah dan rasulNya dan mengembalikan apa yang tidak jelas baginya kepada yang mengetahuinya.

Allah () berfirman:

ِّلِلَّٱبِ اْوكُرِشُۡت نأَوَ قِ حَلۡٱ رِيۡغَبِ يَغۡبَلۡٱوَ مَثۡإِۡلٱوَ نَطَبَ امَوَ اهَنۡمِ رَهَظَ امَ شَحِوَٰفَلۡٱ ىَِ برَ مَرَّحَ امَنَّإِ لۡقُ ﵟ ﵞ٣٣ نَومُلَعۡتَ اَل امَ ِّلِلَّٱ ىَلعَ اْولُوقُتَ نأَوَ انٗطَٰلۡسُ ۦهِبِ لۡزِ نَيُ مۡلَ امَ

Katakanlah (Muhammad): “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui. (Al-A’raf: 33)

Sesungguhnya Allah telah mengajarkan Nabi untuk menyerahkan pengetahuan yang tidak dia miliki kepada Allah. (Yaitu, dengan menyerahkan pengetahuan itu kepada Dia).

Allah () pun berfirman:

ﵞ ٦٢ ... ضِۖۡرأَۡلٱوَ تِوَٰمَٰسَّلٱ بُيۡغَ ۥهُلَ اْوۖثُبِلَ امَبِ مُلَعۡأَ ّلِلَُّٱ لِقُﵟ

Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua), milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan bumi (QS. Al-Kahf: 26)

Nabi bersabda ketika ditanya mengenai anak-anak musyrikin (apakah mereka di Neraka ataukah di Surga), beliau menjawab, “Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka lakukan”, merupakan dalil keshahihannya.


image

Kami juga berpandangan bolehnya mengusap dua khuf, ketika sedang safar (bepergian jauh) ataupun ketika bermukim, sebagaimana disebutkan di dalam atsar

As-Sunnah dari Nabi yang menetapkan mengusap dua khuf (alas kaki) dalam wudhu mutawwatir, dan begitu juga membasuh kedua kaki. Namun, syi’ah146 menentangnya.

Adapun ayat mengenai wudhu, ada dua qira’at. Ayat yang dimaksud adalah:

اْوحُسَمۡٱوَ قِفِارَمَلۡٱ ىَلإِ مۡكُيَدِيۡأَوَ مۡكُهَوجُوُ اْولُسِغۡٱفَ ةِوٰلَصَّلٱ ىَلإِ مۡتُمۡقُ اذَإِ اْوٓنُمَاءَ نَيذِلَّٱ اهَيُّأَيَٰٓ َ ﵟ ﵞ ٦ ... نِٰۚيۡبَعۡكَلۡٱ ىَلإِ مۡكُلَجُرۡأَوَ مۡكُسِوءُرُبِ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu sampai kedua mata kaki. (QS. Al-Ma’idah: 6)

Dua qira’at tersebut adalah dalam bentuk nashb (fathah) atau jar (kasrah) dalam pembacaan kata “arjulikum.” Alasan penandaan bisa dilihat dalam karya yang lebih besar. Namun, harus dicatat bahwa jika menyangkut mandi wajib, irab ini hanya bisa nashb.


image

146 Sebagian permasalah fikih seperti sahnya Shalat dibelakang Imam, mengusap khuff, haji dan jihad bersama pemimpin, dst masuk ke dalam bahasan Akidah karena telah menjadi syiar fikih khas sekte sesat tertentu. Contohnya Khawarij tidak menganggap sah shalat dibelakang Imam Fajir dan Syiah tidak menyakini bolehnya mengusap khuff (SAS)

FASAL: HAJI DAN JIHAD DILAKSANAKAN BERSAMA PEMIMPIN


image

Haji dan jihad tetap berlaku bersama pemimpin dari kaum muslimin, yang shalih maupun yang durjana dari mereka, sampai hari kiamat, dan (kedua syariat tersebut) tidak dapat dibatalkan dan digugurkan oleh apapun.”

Alasannya karena haji dan jihad adalah dua ibadah yang terkait dengan perjalanan. Oleh sebab itu, penting agar seseorang memimpin jamaah dan menghadapi musuh. Dan hal ini dapat dicapai di bawah pemimpin sholeh ataupun yang lalim.

FASAL: TUGAS-TUGAS MALAIKAT


image

Kami juga beriman kepada para Malaikat yang mulia yang bertugas sebagai pencatat amal, dimana Allah menjadikan mereka sebagai penjaga kita.

Allah () berfirman:

ﵞ ٢١ نَولُعَفۡتَ امَ نَومُلَعۡيَ ١١ نَيبِتِكَٰ امٗارَكِ ٠١ نَيظِفِحَٰلَ مۡكُيۡلَعَ نَِّإوَﵟ

Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat perbuatanmu. Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Infitar: 10-12)

Allah () juga berfirman:

د يتِعَ بٌيقِرَ هِيۡدَلَ اَّلإِ لٍوۡقَ نمِ ظُفِلۡيَ امَّ ٧١ د يعِقَ لِامَشِ لٱ نِعَوَ نِيمِيَلۡٱ نِعَ نِايَقِ لَتَمُلۡٱ يقَّلَتَيَ ذۡإِﵟ

ﵞ ٨١

(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang sebelah lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS. Qaf: 17-18)

Dan,

ﵞ ٠٨ نَوبُتُكۡيَ مۡهِيۡدَلَ انَلُسُرُوَ يَٰلبَ مٰۚهُىٰوَۡجنَوَ مۡهُرَّسِ عُمَسَۡن اَل انَّأَ نَوبُسَۡحيَ مۡأَﵟ

Ataukah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka. (QS. Az-Zukhruf: 80)

Dalam kompilasi hadits yang shahih, terdapat riwayat yang mengabarkan bahwa Rasulullah (ﷺ) bersabda:

دُعا صْاي اف ،رِصْعالْا ةِالااصوا حِبْصُّلا ةِالا اص ِفِ انوعُمِاتُْياوا ،رِاها نَّلِبِ ةٌاكئِالاماوا لِيْلَّلِبِ ةٌاكئِالاما مْكُيفِ انوبُ اقاعا ات اي«

مْهُوا مْهُاان يْ اتاأ :انولُوقُ اي اف ؟يدِاابعِ مْتُكْرا ات افيْاك :- مِْبِِ مُلاعْاأ وا هُوا - مَُْلُاأسْيا اف ،مْكُيفِ اونُااك انيذِلَّا هِيْالإِ

»انولُّاصيُ مْهُوا مْهُاان قْرااافوا ،انولُّاصيُ

“Kalian selalu diikuti malaikat pagi dan petang. Mereka berkumpul di waktu fajar dan setelah sholat ashar -dan Dia lebih mengetahui dari mereka- Allah bertanya: “Dalam keadaan apa kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Ketika kami

pergi, mereka sedang sholat.” 147

Sehingga, dalil-dalil di atas membuktikan bahwa para malaikat mencatat perkataan dan perbuatan kita. Mereka pun mencatat niat kita. Karena amalan hati tercakup oleh kata- kata yang disebutkan di atas: “Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” Konsep ini pun bisa disimpulkan dari sabda Nabi (ﷺ):

مَّها ااذإِوا ،ةًائ ِياس هِيْلاعا اهاوبُ تُكْااف اهاالمِعا نْإِاف ،هِيْالعا اهاوبُ تُكْات الااف ةٍائ ِياسبِ يدِبْعا مَّها ااذإِ :لَّاجوا زَّعا ُّللَّا لاااق«

»ارًشْعا اهاوبُ تُكْااف اهاالمِعا نْإِاف ،ةًاناساح هُال اهاوبُ تُكْااف اهالْما عْا ي مْلا اف ةٍاناساِبِ يدِبْعا

“Allah () telah berfirman: “Jika hamba-Ku hendak melakukan keburukan, maka jangan kalian mencatatnya sebagai dosa atasnya, bila dia melakukannya, maka catatlah sebagai

satu dosa atasnya. Bila hamba-Ku hendak berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya, maka tulislah satu kebaikan baginya, bila dia melakukannya, maka tulislah sepuluh kebaikan baginya.” 148

Nabi (ﷺ) pun bersabda:

اهاالمِعا نْإِاف ،هُوبُ قُرْا :لااقا اف - هِبِ رُاصبْاأ وا هُوا - ةًائ ِياس الما عْ اي نْاأ دُيرِيُ كا دُبْعا كا ااذ :ةُاكئِالاما لْا تِالااق«

»ايارَّاج نْمِ اها اكرا ات ااَّنَّإِ ،ةًاناساح هُال اهاوبُ تُكْااف اها اكرا ات نْإِوا ،اهالِثِِْبِ اهاوبُ تُكْااف

“Para malaikat berkata, “Ada seorang manusia berniat keburukan.” Meskipun Allah pasti mengetahuinya, namun Allah memerintahkan, “Ikuti dia. jika dia melaksanakannya, maka tuliskan satu keburukan yang sama. Jika dia meninggalkannya, maka tuliskan satu pahala kebaikan. Karena dia berhenti meninggalkannya demi Aku.” 149

Hadits ini diriwayatkan dalam Sahihain dan lafaznya milik Muslim.


image

Kami juga beriman kepada malaikat maut, yang ditugaskan untuk mencabut ruh semua makhluk.

Allah () berfirman:

ﵞ ١١ نَوعُجَرۡتُ مۡكُبِ رَ ىَٰلإِ مَّثُ مۡكُبِ لَكِ وُ يذِلَّٱ تِوۡمَلۡٱ كُلَمَّ مكُىٰفَّوَتَيَ لۡقُ ﵟ

Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu kamu akan dikembalikan. (QS. As-Sajdah: 11)

Pernyataan di atas tidak bertentangan dengan firman Allah:


image

147 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2800)

148 Diriwayatkan oleh Muslim (128)

149 Diriwayatkan oleh Muslim (129)

ﵞ ١٦ نَوطُرِ فَيُ اَل مۡهُوَ انَلُسُرُ هُتۡفَّوَتَ تُوۡمَلۡٱ مُكُدَحَأَ ءَآجَ اذَإِ يَٰٓ تَّحَ ....

Sehingga, apabila kematian datang kepada salah seorang diantara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya (QS. Al-An’am: 61)

Ataupun firman Allah():

تَوۡمَلۡٱ اهَيۡلَعَ يٰضَقَ يتِلَّٱ كُسِمۡيُفَ اۖهَمِانَمَ ىِف تۡمُتَ مۡلَ يتِلَّٱوَ اهَتِوۡمَ نَيحِ سَفُنأَۡلٱ ىَّفوَتَيَ ّلِلَُّٱﵟ ﵞ٢٤ نَورُكَّفَتَيَ مٖوۡقَِ ل تٖيَٰٓأَل كَلِذَٰ ىفِ نَّإِ ىٰۚمًّسَمُّ لٖجَأَ ىَٰٓ َ لإِ ىَٰٓ رَخۡأُۡلٱ لُسِرۡيُوَ

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur, maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain, sampai waktu yang ditentukan. (QS. Az- Zumar: 42)

Penjelasannya: Malaikat yang dimaksud adalah malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa manusia. Ketika dia selesai melaksanakan tugasnya, maka malaikat Munkar atau malaikat Nakir akan melanjutkan tugas berikutnya. Perintah dan ketetapan Allah yang menjadikannya. Oleh sebab itu, adalah tepat menisbatkan segala urusan kepada Allah.

FASAL: KEJADIAN ALAM KUBUR


image

Kami (kami juga beriman) kepada azab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, dan pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kuburnya tentang Rabbnya, Agamanya dan Nabinya, sebagaimana kabar-kabar yang datang dari Rasulullah, dan juga dari para sahabat yang mulia. Kubur adalah kebun indah di antara kebun-kebun Surga atau (sebaliknya) ia adalah salah satu lubang Neraka.

Pernyataan di atas diambil dari hadits riwayat Bukhari yang telah diriwayatkan melalui Anas bahwa Nabi (ﷺ) bersabda:

،هِنِادا عِقْ يُ اف ،نِااكالما هِيتِأْاي اف ،مَْلِِ اعانِ اعرْ اق عُما سْايال هُنَّإِ ،هُبُااحصْاأ هُنْعا َلَّوا اتوا هِبِْاق ِفِ اعضِوُ ااذإِ دا بْعالْا نَّإِ«

دُها شْاأ :لُوقُ اي اف نُمِؤْمُلْا امَّأااف ؟املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص دٍمَّاُمُ ،لِجُرَّلا اذا ها ِفِ لُوقُ ات اتنْكُ اما :هُال نَِلاوقُ اي اف

ااُهُااْيااف ،ةِنَّاْلْا انمِ ادًعاقْما هِبِ ُّللَّا اكالدا بْاأ رِانَّلا انمِ كا دِعاقْما َلاإِ رْظُنْا :هُال لُوقُ اي اف ،هُلُوسُراوا ِّللَّا دُبْعا هُنَّاأ

اعًيَجِا

“Seorang hamba (yang mati) baru saja diletakkan di kuburnya dan ditinggalkan oleh keluarganya, hingga ia mendengar langkah kaki sandal mereka (yang sedang beranjak pulang), yang kemudian dua malaikat mendatanginya. Mereka pun bertanya padanya: “Menurutmu siapakah pria ini, (yaitu Muhammad)?” Dia menjawab, “Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba dan Utusan Allah.” Mereka pun berkata: “Lihatlah tempatmu di Neraka yang telah ditukar dengan tempat di Surga,” Nabi pun bersabda, “Dia melihat kedua tempatnya itu (di Surga dan Neraka). Sedangkan orang kafir dan munafik, dia hanya bisa menjawab, “Aku tidak tahu menahu. Aku dahulu hanya mengulangi apa yang diucapkan orang-orang.” Lalu akan dikatakan padanya. “Engkau tidak mengetahui tidak pula mempelajarinya.” Lalu dia dipukul dengan kampak besi antara telinganya (yaitu pada dahinya). Dia menjerit dan menangis begitu keras hingga semua mendengarnya kecuali bangsa Jin dan manusia.” 150


image

150 Diriwayatkan oleh Bukhari (1338) dan Muslim (2870)

Qatadah menambahkan,

“Telah diriwayatkan kepada kami bahwa (bagi orang mukmin) liang lahat akan dilapangkan”

Ibnu Abbas telah diriwayatkan dalam Sahihain berkata:

ااُهُدُاحاأ امَّاأ ،ْيٍبِاك ِف نِِباذَّعاُ ي اماوا ،نِِباذَّعا يُال اماَُنَّإِ" :لا اقا اف ،نِيْابْقابِ رَّما املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِبَِّنَّلا نَّاأ«

،ّيِْفا صْنِ اهاقَّاشاف ،ةابطْرا ةدا يرِِبِا اعا دااف ،"ةما يمِنَّلِبِ يشَِْيا انااكاف رُاخْلْا امَّاأوا ،لِوْ ابلْا انمِ ئبُاتسْاي َلا انااكاف

»ااساب يْ اي اَْل اما اما هُ نْعا فُفََّيُا هلَّعاال" :لاااقوا

“Nabi (ﷺ) melewati dua kubur, Beliau berkata: “Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini diazab, dan keduanya tidak diazab karena perkara besar. Yang pertama tidak menutup diri dari (cipratan air kencing), dan yang kedua menyebarkan namimah (adu domba).” Nabi meminta dibawakan pelepah kurma yang basah, beliau membelahnya menjadi dua, dan beliau bersabda: “Semoga ini meringankan siksa keduanya selama keduanya belum mengering.” 151

Terdapat hadits-hadits yang mencapai derajat mutawatir dari rasulullah yang menetapkan tentang azab dan nikmat kubur bagi siapa yang berhak mendapatkannya, berikut pertanyaan dua malaikat. Maka wajib meyakini kebenarannya dan mengimaninya dan kita tidak membahas bagaimana (bentuk dan caranya), sebab akal tidak menjangkau seperti apa persisnya dan ia tidak memiliki padanan di alam ini. Syariat tidak hadir dengan sesuatu yang dinilai mustahil oleh akal, akan tetapi syariat kadang menghadirkan sesuatu yang mana akal ragu-ragu terhadapnya. Kembalinya ruh ke jasad tidak sebagaimana yang dipahami di dunia ini, akan tetapi ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang tidak seperti di dunia.

Pertanyaan di alam kubur bukan hanya untuk ruh saja, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hazm dan lainnya. Lebih rusak darinya adalah pendapat yang berkata bahwa ia untuk badan tanpa ruh. Hadits-hadits menolak keduanya. Demikian juga azab kubur, ia juga terhadap jiwa dan badan sekaligus sebagaimana kesepakatan ahlus Sunnah wal jama’ah. Jiwa merasakan kenikmatan dan diazab secara tersendiri dari badan dan bersambung dengan badan.

Ketahuilah bahwa azab kubur adalah azab alam barzakh. Siapa yang mati dan berhak diazab, maka dia mendapatkan bagiannya, dimakamkan atau tidak, dimakan hewan buas atau terbakar hingga menjadi abu dan ditebarkan di angin kencang atau disalib atau tenggelam di lautan, azab sampai pada ruh dan badannya sama seperti yang sampai kepada orang yang dimakamkan. Apa yang diriwayatkan tentangnya bahwa dia didudukkan, tulang rusuknya berantakan dan yang sepertinya, maksud rasulullah wajib dipahami tanpa berlebih-lebihan dan meremehkan.

Sabda nabi tidak patut dibebani sesuatu yang tidak dikandungnya, tidak pula dikebiri dari maksud beliau yang sebenarnya, yaitu menjelaskan dan membimbing, karena melalaikan


image

151 Diriwayatkan oleh Bukhari (216) dan Muslim (292)

hal ini dan meninggalkannya telah mengakibatkan lahirnya kesesatan dan penyimpangan yang hanya diketahui oleh Allah. Buruknya pemahaman terhadap Allah dan rasulNya adalah dasar setiap bid’ah dan kesesatan yang muncul dalam Islam, ia adalaah dasar setiap kesalahan dalam perkara pokok dan cabang, apalagi bila disertai dengan buruknya niat. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

Simpulannya, terdapat tiga tahapan: alam dunia, alam barzakh, dan alam akhirat. Allah telah menetapkan hukum-hukum khusus untuk masing-masing alam. Allah menyusun manusia dari jasad dan jiwa. Menetapkan hukum alam dunia atas jasad sementara ruh mengikutinya. Menetapkan hukum alam barzakh atas ruh dan badan mengikutinya. Bila hari kebangkitan tiba, orang-orang bangkit dari alam kubur mereka, maka hukum, nikmat, dan azab berlaku atas ruh dan jasad sekaligus.

Bila anda merenungkan makna ini dengan benar, Anda mengetahui bahwa kubur adalah salah satu kebun dari kebun-kebun surga atau salah satu kubangan neraka. Sejalan dengan akal bahwa bahwa ia adalah haq yang tidak diragukan, inilah pembeda antara orang- orang mukmin yang beriman kepada yang ghaib dari selain mereka.

Wajib diketahui bahwa api yang ada di dalam kubur atau kenikmatan di dalam kubur atau kenikmatan di dalam kubur tidak sejenis dengan api dan nikmat di dunia, Allah memanaskan tanah dan batu yang ada di atasnya dan di bawahnya hingga ia lebih panas dari bara api dunia, namun seandainya penduduk dunia memegangnya, dia tidak merasakan panas sedikit pun. Lebih luar biasa dari itu, dua mayit yang dikubur bertetangga, yang ini di dalam salah satu kubangan neraka dan yang itu di dalam kebun surga.

Panas neraka pada kubur pertama tidak terasa oleh penghuni kubur kedua, demikian juga sebaliknya, nikmat pada kubur kedua tidak dirasa oleh penghuni kubur pertama. Demikian juga sebaliknya, nikmat pada kubur kedua tidak dirasa oleh penghuni kubur pertama. Kuasa Allah lebih luar biasa dan lebih luas dari itu. Bila Allah berkehendak memperlihatkan sebagian darinya kepada sebagian dari hamba-hambaNya, maka Dia memperlihatkannya dan tidak kepada yang lain.

Seandainya Allah memperlihatkannya kepada penduduk bumi seluruhnya, niscaya hikmah iman kepada yang ghaib tidak ada lagi, orang-orang pun tidak akan saling memakamkan. Sebagaimana dalam ash-shahih dari nabi bahwa beliau bersabda: “Kalau bukan karena kalian saling menguburkan (satu sama lain), aku bisa saja berdoa kepada Allah agar Allah memperdengarkan azab kubur kepada kalian seperti yang aku dengar, (hanya saja aku khawatir nanti kalian tidak saling memakamkan).

Pertanyaannya: apakah azab kubur terus menerus atau terhenti? Jawabannya adalah siksa kubur terbagi dua jenis. Salah satunya akan berakhir. Allah () berfirman:

ﵞ٦٤ بِاذَعَلۡٱ دَّشَأَ نَوۡعَرۡفِ لَاءَ اْوٓلُخِدۡأَ ةُعَاسَّلٱ مُوقُتَ مَوۡيَوَ اۚيٗ شِعَوَ اوٗ دُغُ اهَيۡلَعَ نَوضُرَعۡيُ رُانَّلٱﵟ

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.”(QS. Ghafir: 46)

Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bara bin Azib yang diriwayatkan dalam Ahmad

pun menyatakan hal yang sama mengenai kaum kafir:

»ةعا اسَّلا اموقُ ات َّتَّاح اهايفِ هدِعاقْما َلاإِ رُظُنْ اي اف رِانَّلا َلاإِ بٌِبا هُلا حُاتفْ ُي ثَُّ«

“Kemudian dibukakan untuknya pintu ke Neraka, dia melihat tempat duduknya hingga hari Kiamat.” 152

Siksaan yang kedua adalah ia berlangsung beberapa waktu kemudian terputus. Ini adalah azab terhadap sebagian pelaku kemaksiatan yang kejahatan mereka ringan, dia diazab menurut perbuatannya kemudian diringankan.

Ada perbedaan pendapat tentang tempat ruh setelah kematian hingga hari Kiamat. Dalil-dalil yang ada adalah bahwa arwah di alam barzakh berbeda-beda dengan perbedaan yang besar. Di antara mereka ada arwah di illiyin tertinggi, di al-Mala al-A’la, mereka ini adalah arwah para nabi, sekalipun mereka juga berbeda-beda dalam kedudukan mereka.

Di antara manusia ada yang ruhnya berada di dalam perut burung hijau, beterbangan di surga sesukanya, mereka adalah arwah sebagian syuhada bukan seluruhnya. Karena sebagian dari mereka ada yang arwahnya tertahan dari masuk surga karena hutang yang belum dibayarnya, sebagaimana dalam al-musnad dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata:

لُيبِْجِ هِبِ ِنِرَّااس ،انيْدَّلا َلَّإِ :لاااق ،َلَّوا امَّلا اف ،ةُنَّاْلْا :لاااق ؟ّللَّاِ لِيبِاس ِفِ تُلْتِقُ نْإِ ِلِ اما :ِّللَّا لاوسُرا َيا

»افًنِآ

“Wahai rasulullah apa yang aku dapatkan jika aku terbunuh di jalan Allah?” Rasulullah menjawab. “Surga”, Manakala dia balik badan (untuk pergi), Nabi menambah, “Kecuali hutang, Jibril membisikiku dengannya baru saja.” 153

Di antara ruh-ruh ada yang tertahan di pintu surga, sebagaimana dalam hadits dimana rasulullah bersabda: “Aku melihat teman kalian tertahan di pintu surga.” Di antara ruh-ruh ada yang tertahan di kuburnya. Di antaranya juga ada yang di tungku pezina laki-laki dan perempuan. Arwah di sungai darah yang berenang di dalamnya dan dijejali dengan batu. Semua diperinci di dalam hadits. Allahu a’lam.

Tentang kehidupan yang khusus bagi orang yang mati syahid dan dia diistimewakan dengannya dari selainnya dalilnya terdapat dalam firman Allah ():

ﵞ ٩٦١ نَوقُزَرۡيُ مۡهِبِ رَ دَنعِ ءٌآيَحۡأَ لۡبَ اَۚۢتَوَٰمۡأَ ِّلِلَّٱ لِيبِسَ ىِف اْولُتِقُ نَيذِلَّٱ نَّبَسَۡحتَ اَلوَﵟ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati: bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (QS. Al-Imran: 169)

Itu adalah kehidupan yang istimewa bagi para syuhada. Allah menempatkan ruh


image

152 Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (4/295)

153 Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (4/350) dan An-Nasa’i (7/314-315)

mereka pada tembolok burung hijau seperti yang diriwayatkan oleh bin Abbas bahwa Nabi (ﷺ) bersabda:

،ةِنَّاْلْا راااَنْاأ دُرِات ،رٍضْخُ ْيٍْاط فِاوا جْاأ ِفِ مْهُاحاوارْاأ ُّللَّا العا اج - دٍحُأُ اموْ اي ِنِعْا ي - مْكُنُاوا خْإِ ابي صِأُ امَّال«

»شِرْعالْا لِظِ ِفِ ةٍاللَّذا مُ بٍها اذ نْمِ اليدِاان اق َلاإِ يوَِْتاوا ،اهارِااِثِ نْمِ لُكَُْتاوا

“Manakala saudara-saudara kalian gugur –maksudnya di perang Uhud- Allah menempatkan arwah mereka di perut burung hijau yang mendatangi sungai-sungai surga, makan dari buah-buahnya, beristirahat ke lentera-lentera (sangkar) dari emas yang tergantung dalam naungan arsy.” 154

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud, ada hadits semakna juga diriwayatkan dari bin Mas’ud diriwayatkan oleh Muslim.


image

154 Diriwayatkan Ahmad (1/266). Diriwayatkan oleh Muslim (1887) dari Ibnu Masud

FASAL: IMAN KEPADA HARI KEBANGKITAN


image

Kami juga beriman kepada Hari Kebangkitan (al-Ba’ts), pembalasan amal perbuatan di Hari Kiamat, berdiri menghadap Allah di padang masyhar, perhitungan amal, pembacaan kitab catatan amal, pahala dan azab, jembatan (as-Shirath) dan juga timbangan amal (al- Mizan).

Iman kepada Hari Kebangkitan kembali termasuk perkara yang ditetapkan oleh al- Quran, as-Sunnah, akal dan fitrah. Allah mengabarkan tentangnya dalam kitabNya yang mulia, menegakkan bukti-bukti atasnya, membantah orang-orang yang mengingkarinya dalam banyak surat Al-Quran.

Hal ini karena pengakuaan terhadap Tuhan adalah sesuatu yang umum bagi manusia, ia bersifat fitrah, semua manusia mengakui Rabb, kecuali siapa yang ngotot (bengal) seperti Fir’aun. Berbeda dengan Iman kepada Hari Akhir yang banyak diingkari. Dan karena nabi Muhammad adalah penutup para nabi, beliau diutus mendekati hari Kiamat seperti ini, maka beliau menjelaskan perincian kehidupan akhirat dengan penjelasan yang belum ada pada kitab-kitab para nabi sebelum beliau.

Al-Qur’an membahas tentang kembalinya ruh (di akhirat) pada saat kematian, dan kebangkitan jasad di Hari Penghisaban. Para filsuf mengingkari bahwa tidak satu pun di antara para Nabi terdahulu yang berbicara tentang akhirat. Namun, mereka berdusta. Al- Qur’an telah memberitahukan kepada kita tentang pengetahuan para Nabi terdahulu tentang akhirat. Nabi pertama yang dimaksud tentunya Nabi Adam, Allah () sendiri telah

berfirman:

ﵞ٤٢ نٖيحِ ىَٰلإِ عٌتَٰمَوَ رقَ تَسۡمُ ضِۡرأَۡلٱ ىِف مۡكُلَوَۖ ودُعَ ضٍعۡبَلِ مۡكُضُعۡبَ اْوطُبِهۡٱ لَاقَﵟ

(Allah) berfirman: “Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu yang telah ditentukan. (QS. Al- Araf: 24)

Ibrahim berkata:

ﵞ٢٨ نِيدِ لٱ مَوۡيَ يتِ ـَيٓطِخَ ىلِ رَفِغۡيَ نأَ عُمَطۡأَ يٓذِلَّٱوَﵟ

Dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat (QS. Asy- Syu’ara: 82)

Dan Musa berkata:


ﵞ٦٥١ ....ٓأۡلٱ ىفِوَ ةٗنَسَحَ ايَنۡدُّلٱ هِذِهَٰ ىِف انَلَ بۡتُكۡٱوَﵟ

Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia dan akhirat. (QS. Al-A’raf: 156)

Adapun mengenai pernyataan Ath-Thahawi: “pembalasan amal perbuatan,” pernyataannya itu berdasarkan firman Allah ():

ﵞ ٧١ نَولُمَعۡيَ اْونُاكَ امَبِ ءََۢآزَجَ...

Sebagai balasan terhdap apa yang mereka kerjakan (QS. As-Sajdah: 17)

Dan firman Allah():

امَ اَّلإِ تِا ـَيِ سَّلٱ اْولُمِعَ نَيذِلَّٱ ىزَۡجيُ الَفَ ةِئَِ يسَّلٱبِ ءَآجَ نمَوَ اۖهَنۡمِ ريۡخَ ۥهُلَفَ ةِنَسَحَلۡٱبِ ءَآجَ نمَ ﵟ

ﵞ ٤٨ نَولُمَعۡيَ اْونُاكَ

Barangsiapa datang dengan (membawa) kebaikan, maka dia akan mendapat (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu, dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan itu hanya diberi balasan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan (QS. Al-Qasas: 84)

Adapun dengan pernyataan penulis; “Berdiri menghadap Allah (di padang mahsyar), perhitungan amal, pembacaan kitab catatan amal, pahala dan azab,” didasarkan pada firman

Allah():

لُمِحۡيَوَ اۚهَئِآجَرۡأَ ىَٰٓ َ لعَ كُلَمَلۡٱوَ ٦١ ةيَهِاوَ ذٖئِمَوۡيَ يَهِفَ ءُآمَسَّلٱ تِقَّشَنٱوَ ٥١ ةُعَقِاوَلۡٱ تِعَقَوَ ذٖئِمَوۡيَفَﵟ

ىَِتوأُ نۡمَ امَّأَفَ ٨١ ةيَفِاخَ مۡكُنمِ يٰفَخۡتَ اَل نَوضُرَعۡتُ ذٖئِمَوۡيَ ٧١ ةيَنِمَٰثَ ذٖئِمَوۡيَ مۡهُقَوۡفَ كَبِ رَ شَرۡعَ

ﵞ ٠٢ هۡيَبِاسَحِ قٍلَٰمُ ى نِأَ تُننَظَ ى نِإِ ٩١ هۡيَبِتَٰكِ اْوءُرَقۡٱ مُؤُآهَ لُوقُيَفَ ۦهِنِيمِيَبِ ۥهُبَتَٰكِ

Maka pada hari itu terjadilah hari Kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi runtuh. Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arsy (singasana Tuhanmu), di atas kepala mereka. Pada hari itu, kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi. Adapun yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku ini. Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku. (QS. Al-Haqqah: 15-20)

Bukhari, mencatatkan hadits dari Aisyah dalam kompilasinya. Beliau (Aisyah) meriwayatkan bahwa Nabi(ﷺ) telah bersabda:

امَّاأاف{ " :َلااعا ات ُّللَّا لاااق دْاق اسيْالاأ ،ِّللَّا لاوسُرا َيا : تُلْقُ اف ، اكالها َلَّإِ ةِمااايقِلْا اموْ اي بُاسااُيُ دٌاحاأ اسيْال«

اكلِاذ ااَّنَّإِ املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا لااقا اف اًْيسِاي ِبًااسحِ بُاسااُيُ افوْاساف هِنِيمِايبِ هُابااتكِ اِتِوأُ نْما

» ابذِ عُ َلَّإِ ةِمااايقِلْا اموْ اي ابااسِْلْا شُاقاانُ ي دٌاحاأ اسيْالوا ، ضُرْعالْا

“Tidak ada satu manusia pun yang akan dihisab di akhirat kelak, kecuali dia celaka.” Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah berfirman, “Maka adapun yang orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah? (Al-Insyiqaq: 7-8)” Rasulullah menjawab, “Itu hanya dihadapkannya (orang mukmin kepada Allah), tidak ada seseorang yang dirinci hisabnya pada Hari kiamat kecuali dia disiksa.” 155

Maksudnya, seandainya Allah merinci hisabNya terhadap hamba-hambaNya, niscaya Allah menyiksa mereka dan Dia tidak berbuat zhalim kepada mereka, Akan tetapi Allah memaafkan dan memaklumi.

Perkataan penulis, “(kami meyakini) Shirath,” mengacu pada Sirath yang dibentangkan di atas Neraka. Ketika manusia telah melewati urusan (penghisaban) lainnya, mereka akan berakhir pada tempat yang gelap dengan jembatan (Sirath) di hadapannya, seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah bahwa Rasulullah menjelaskannya, ketika beliau ditanya, “Di mana manusia pada hari digantinya bumi dengan bumi lain dan langit (dengan langit yang lain)?” Nabi menjawab, “Dalam kegelapan sebelum Jembatan.”

Di tempat ini, orang-orang munafik berpisah dengan orang-orang mukmin, dan mereka tertinggal, kaum mukminin jauh di depan mereka. Lalu di antara kedua kubu ada benteng yang menghalangi mereka untuk sampai kepada orang-orang mukmin.

Meskipun demikian, para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud al-wurud yang tersebut dalam firman Allah (Surah Maryam, 71): “Dan tidak ada seorang pun diantara kalian, kecuali mendatanginya (neraka),” tentang tempat mana yang dimaksud? Jawaban

yang paling benar adalah jembatan (Shirath), sebagaimana firman Allah():

ﵞ ٢٧ ايٗ ثِجِ اهَيفِ نَيمِلِظَّٰلٱ رُذَنَوَّ اْوقَتَّٱ نَيذِلَّٱ يج ِ نَنُ مَّثُﵟ

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS. Maryam: 72)

Sejumlah riwayat yang shahih mencatat sabda Nabi:

،ِّللَّا لاوسُرا َيا : تُلْقُ اف :ةُاصفْاح تْلاااق ،ةِرااجشَّلا اتُْتا اعايِبا دٌاحاأ راانَّلا جُلِاي َلا ،هِدِايبِ يسِفْ ان يذِلَّاوا«

اوْقا تَّا انيذِلَّا يج ِ انُ ن ثَُّ{ :لاااق هِيعِما سْات اَْلاأ :لااقا اف ]71 :اميارْما[ اها دُرِاوا َلَّإِ مْكُنْمِ نْإِوا :لُوقُ اي ُّللَّا اسيْالاأ


image

155 Diriwayatkan Bukhari (103) dan Muslim (2876)

}ايًّثِجِ اهايفِ ّيا

مِلِاظَّلا رُذاانوا

“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak akan masuk neraka seseorang yang membai’at di bawah pohon.” Hafsah berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah ()

berfirman, Dan tidak ada seorang pun diantara kamu kecuali akan mendatanginya (neraka)?” (Maryam:71) Beliau menjawab, “Tidakkah kamu mendengar Allah berfirman: “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang bertakwa dan membiarkan orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut?” (Maryam: 72)156

Di sini Nabi mengisyaratkan bahwa mendatangi Neraka tidak berarti memasukinya, dan bahwa selamat dari keburukan tidak berarti keburukan itu terjadi, cukup terwujud sebabnya, karena siapa yang dicari oleh musuhnya untuk dibunuh tetapi musuh tidak menemukannya, maka sah dikatakan Allah menyelamatkannya darinya. Karena itu Allah () berfirman:

ﵞ ٨٥ ... ادٗوهُ انَيَّۡجنَ انَرُمۡأَ ءَآجَ امَّلَوَﵟ

Dan ketika azab Kami datang, Kami selamatkan Hud (QS. Hud: 58)

Dan,

ﵞ٦٦ .... احٗلِصَٰ انَيَّۡجنَ انَرُمۡأَ ءَآجَ امَّلَفَﵟ

Dan ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Sholeh (QS. Hud: 66)

Dan firman Allah():

ﵞ ٤٩ .... ابٗيۡعَشُ انَيَّۡجنَ انَرُمۡأَ ءَآجَ امَّلَوَﵟ

Dan ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu’aib (QS. Hud: 94)

Dan azab tidak menimpa mereka, akan tetapi menimpa selain mereka. Seandainya Allah tidak mengkhususkan mereka dengan sebab-sebab keselamatan, niscaya mereka ditimpa oleh apa yang menimpa mereka itu, demikian juga dengan orang-orang yang melewati api neraka, mereka akan lewat di atas jembatan itu, kemudian Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim berlutut di dalamnya.

Adapun mengenai timbangan (Mizan), dipahami dari ayat-ayat berikut ini:

لٍدَرۡخَ نۡمِ ةٖبَّحَ لَاقَثۡمِ نَاكَ نِإوَ اۖـٗ يۡشَ سفۡ نَ مُلَظۡتُ الَفَ ةِمَيَٰقِلۡٱ مِوۡيَلِ طَسۡقِلۡٱ نَيزِوَٰمَلۡٱ عُضَنَوَﵟَ ﵞ ٧٤ نَيبِسِحَٰ انَبِ يٰفَكَوَ ٰۗٓاهَبِ انَيۡتَأ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya sebesar biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (QS. Al- Anbiya: 47)

Dan,


image

156 Diriwayatkan oleh Muslim (2496)

اْوٓرُسِخَ نَيذِلَّٱ كَئِلَٰٓ َ وْأُفَ ۥهُنُيزِوَٰمَ تۡفَّخَ نۡمَوَ ٢٠١ نَوحُلِفۡمُلۡٱ مُهُ كَئِلَٰٓ َ وْأُفَ ۥهُنُيزِوَٰمَ تۡلَقُثَ نمَفَﵟ ﵞ٣٠١ نَودُلِخَٰ مَنَّهَجَ ىِف مۡهُسَفُنأَ

Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka jahanam. (QS. Al-Mu’minun: 102-103)

Al-Qurtubi berkata,

“Para ulama berkata, ‘Bila hisab (perhitungan amal) sudah selesai, maka sesudahnya adalah timbangan amal, karena timbangan adalah untuk pembalasan, maka ia patut setelah hisab. Karena hisab (perhitungan amal) untuk menetapkan amal dan al-mizan (timbangan) untuk menunjukkan kadarnya sehingga balasan disesuaikan dengannya.”

Sejumlah keterangan yang tercantum dalam hadits telah memberikan kita keterangan terperinci, seperti tentang dua daun timbangan, dan bahwa manusia itu sendiri akan ditimbang bersama dengan amal perbuatannya. Hal ini sejalan dengan hadits dari Bukhari. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi (ﷺ) telah bersabda:

:مْتُ ئْشِ نْإِ اوءُرا قْا :لاااقوا ،ةٍاضوعُا ب احااناج ِّللَّا دا نْعِ نُزِاي َلا ،ةِمااايقِلْا اموْ اي ّيُمِسَّلا مُيظِعالْا لُجُرَّلا ِتِأْايال هُنَّإِ«

}َنًزْوا ةِمااايقِلْا اموْ اي مَُْلا مُيقِنُ الااف{

“Sesungguhnya ada seorang laki-laki besar lagi gemuk datang pada Hari Kiamat tetapi dia tidak sebanding di sisi Allah dengan sayap nyamuk sekalipun.” Kemudian beliau menambahkan: “Bacalah bila kalian ingin, (Al-Kahfi, 105), “Dan Kami tidak mengadakan pertimbangan bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” 157

Ahmad telah meriwayatkan bahwa bin Mas’ud mencoba untuk mematahkan ranting untuk membuat siwak. Kedua betisnya sangat kecil maka angin menghempas kainnya dan orang-orang pun menertawakannya. Lalu Nabi (ﷺ) bersabda:

نْمِ نِازايمِلْا ِفِ لُقا ثْاأ اماَُلا ،هِدِايبِ يسِفْا ن يذِلَّاوا :لااقا اف ،هِيْ اقااس ةِقَّدِ نْمِ ،ِّللَّا ِبَِّان َيا :اولُااق ؟انوكُاحضْتا مَّمِ ».دٍحُأُ

“Apa yang kalian tertawakan? Mereka berkata: “Kami menertawakan kakinya yang sangat kecil.” Beliau berkata.” Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, keduanya lebih berat daripada Gunung Uhud di hari Penghisaban kelak.” 158

Ada juga hadits-hadits yang menerangkan bahwa amal-amal akan ditimbang. Shahih Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Malik al-Asy’ari yang mengabarkan bahwa Nabi(ﷺ) telah bersabda:


image

157 Diriwayatkan oleh Bukhari (4729) dan Muslim (2785)

158 Sanadnya Hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad (1/420-421)

»انازايمِلْا َُلاْْتا ِّللَِّ دُمْاْلْاوا ،نِااَيإلِْا رُطْاش رُوهُطُّلا«

“Bersuci adalah sebagian dari iman. Dan (membaca) hamdalah akan mengisi timbangan.”159

Dalam penutup kitab shahih Bukhari, kami menemukan sabda Nabi:

،هِدِمْاِبِوا

ِّللَّا انااحبْسُ :نِازايمِلْا

ِفِ نِااتاليقِاث ،نِاْحْرَّلا

َلاإِ نِاات ابيبِاح ،نِااس ِللا ىالعا

نِااتفايفِاخ نِااتما لِاك« »مِيظِعالْا ِّللَّا انااحبْسُ

“Dua kalimat yang ringan atas lisan, dicintai oleh Al-Rahman, dan berat dalam timbangan adalah: “Subhana Allahi wa bi hamdihi, subhana Allahi al-‘Azim.” 160

Oleh sebab itu, kita harus mengabaikan pendapat orang-orang atheis yang mengatakan bahwa amal perbuatan adalah sesuatu yang abstrak, tidak bisa ditimbang. Hanya materi yang bisa ditimbang. Jawabannya, Allah bisa membalik sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang materil

Selain itu, kita pun diwajibkan untuk mengimani yang Gaib, sesuai dengan yang telah dikemukakan oleh Nabi: tidak kurang dan tidak lebih.


image

159 Diriwayatkan oleh Muslim (223)

160 Diriwayatkan oleh Bukhari (6406) dan Muslim (2694)

FASAL: SURGA DAN NERAKA

image

Surga dan Neraka adalah makhluk, yang keduanya tidak akan fana dan tidak akan musnah. Dan bahwasanya Allah telah menciptakan Surga dan Neraka sebelum menciptakan makhluk lain, dan menciptakan penghuni bagi keduanya. Barangsiapa yang dikehendakiNya dari mereka, maka Ia akan masuk Surga sebagai karunia dariNya, dan barangsiapa yang dikehendaki dariNya dari mereka, maka ia akan masuk neraka sebagai suatu keadilan dariNya; Setiap orang beramal sesuai denganapa yang ditakdirkan untuknya, dan akan mudah kepada (ketetapan) yang untuk itu dia diciptakan. Kebaikan dan keburukan telah ditakdirkan atas hamba-hamba.

Ahlu Sunnah telah sepakat bahwa Surga dan Neraka telah diciptakan dan telah ada sekarang. Ahlu sunnah sepakat di atasnya sebelum lahir kelompok orang yang bernama Mu’atzilah dan Qadariyah yang mengingkari kebenaran ini. Mereka mengklaim bahwa Allah baru akan menciptakan keduanya (Surga dan Neraka) pada hari Kiamat.

Dasar dari kesesatan itu tidak lain karena didorong prinsip mereka yang rusak, yang mereka tetapkan bahwa Allah akan berbuat dengan cara demikian dan tidak menciptakan Surga dan Neraka terlebih dahulu. Mereka menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dalam perbuatan. Akibatnya, mereka mulai menafikkan sejumlah Sifat Allah. Mereka beranggapan bahwa menciptakan Surga sebelum penghisaban itu sia-sia, dan tidak ada manfaatnya. Sehingga, mereka mengingkari dalil-dalil dan prinsip yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka dan menganggapnya sebagai dalil yang menyimpang.

Berikut ini dalil-dalil yang dimaksud:

ﵞ٣٣١ نَيقِتَّمُلۡلِ تۡدَّعِأُ...

Dan surga disediakan bagi orang-orang bertakwa (QS. Al-Imran: 133)

Allah () berfirman tentang Neraka,

ﵞ١٣١ نَيرِفِكَٰلۡلِ تۡدَّعِأُ...

Dan neraka disediakan bagi orang-orang kafir (QS. Al-Baqarah: 24, QS. Al-Imran: 131)

Allah () juga berfirman:

ﵞ٥١ ىَٰٓ وَأۡمَلۡٱ ةُنَّجَ اهَدَنعِ ٤١ يٰهَتَنمُلۡٱ ةِرَدۡسِ دَنعِ ٣١ ىٰرَخۡأُ ةًلَزۡنَ هُاءَرَ دۡقَلَوَﵟ

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Siratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal (QS. An-Najm, 13-15)

Nabi (ﷺ) menyaksikan Sidratul Muntaha dan melihat Surga. Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik dalam Sahihain yang menerangkan kisah Isra:

تُلْاخاد ثَُّ :لاااق ،ايهِ اما يرِدْاأ َلا نٌاوالْاأ اها ايشِاغ اف ،ىها ات نْمُلْا اةرادْسِ ىاتاأ َّتَّاح ،لُيئِاابْاج ّبِ اقالاطنْا ثَُّ«

» كُسْمِلْا ااِبُارا تُ ااذإِوا ،ؤِلُؤْلُّلا ذُبِااناج ايهِ ااذإِاف ،اةنَّاْلْا

“Kemudian Jibril membawaku, hingga tiba di Sidratul Muntaha lalu ia diliputi warna-warna yang aku tidak ketahui apa itu.” Kemudian beliau menambahkan: “Kemudian aku masuk ke dalam Surga dan ternyata di sana ada kubah-kubah mutiara dan tanahnya adalah misik.” 161

Adapun mengenai syubhat (keraguan) yang diajukan sebagian orang bahwa jika Surga sudah ada niscaya ia pasti binasa pada hari kiamat, berdasarkan firman Allah () berikut ini:

ﵞ ٨٨ ....ۥهُهَجۡوَ اَّلإِ كٌلِاهَ ءٍيۡشَ لُّكُ...

Tiap-tiap sesuatu akan binasa kecuali Allah (QS. Al-Qasas: 88)

Allah pun meriwayatkan kepada kita kata-kata yang diucapkan oleh istri Fir’aun.

ﵞ ١١ .... ةِنَّجَلۡٱ ىِف اتٗيۡبَ كَدَنعِ ىلِ نِبۡٱ بِ رَ...

Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus. (QS. At-Tahrim: 11)

Jawaban dari syubhat di atas yaitu jika dikatakan bahwa Surga tidak diciptakan sebelum sangkakala ditiupkan dan manusia dibangkitkan, maka argumen tersebut terbantahkan dengan adanya doa dalam ayat di atas. Namun, jika berpendapat bahwa Surga itu telah diciptakan dan Allah menambahkan padanya apapun yang Dia kehendaki, dari waktu ke waktu, maka itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan.

Adapun mengenai argumen yang berdasarkan ayat di atas: “Tiap-tiap sesuatu akan binasa kecuali Allah,” maka mereka memahami syubhat ini secara salah. Dasar pengingkaran terhadap keberadaan Surga dan Neraka saat ini sama dengan dasar pengingkaran terhadap dihancurkannya surga dan neraka. Para ulama yang dimaksud ayat ini adalah segala sesuatu yang Allah tetapkan untuk binasa dan fana, maka ia binasa dan fana. Sedangkan surga dan neraka diciptakan untuk kekal (abadi) dan demikian juga arasy, karena ia adalah atap surga.


image

161 Diriwayatkan Bukhari (3207) dan Muslim (164)

Dalil-dalil ini telah jelas bahwa Surga dan Neraka tidak dihancurkan sampai kapan pun juga.

Pernyataan penulis, “Surga dan Neraka tidak akan fana dan tidak akan musnah,” merupakan pendapat jumhur imam dari kalangan salaf dan khalaf. Ada pendapat di kalangan sebagian salaf dan khalaf yang berkata surga abadi sedangkan neraka fana. Dua pendapat ini tersebut dalam banyak buku-buku tafsir dan lainnya. Al-Jahm bin Shofwan lah satu-satunya yang berbicara tentang dihancurkannya neraka demikian juga surga. Shofwan adalah pemimpin ahlu ta’thil (yang menafikan sifat-sifat Allah). Dia tidak memiliki dalil yang berasal dari kalangan sahabat maupun penigkut mereka yang mendukung pendapatnya. Para Imam Ahlus sunnah mengingkari dia dan memperingatkan kaum Muslimin dari dia.

Adapun mengenai keyakinan bahwa Surga tidak akan musnah ataupun sirna di masa depan, keyakinan ini diambil dari pengetahuan utama mengenai dalil-dalil tersebut. Al- Qur’an berkata:

ﵞ ٤٥ دٍافَنَّ نمِ ۥهُلَ امَ انَقُزۡرِلَ اذَهَٰ نَّإِﵟ

Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya. (QS. Sad: 54)

Allah () pun berfirman:


Senantiasa berbuah dan teduh (QS. Ar-Ra’d: 35)

ﵞ٥٣ ... اۚهَلُّظِوَ م ئِآدَ اهَلُكُأُ...

Adapun dalil dari Sunnah, sangat banyak. Seperti sabda Rasulullah (ﷺ):

اوتُوُْتا الااف اوْ ايُْتا نْاأوا ،ادًاباأ اومُراُْتا الااف اوبُّشِات نْاأوا ،ادًاباأ اومُقا سْات الااف اوحُّ صِتا نْاأ مْكُال نَّإِ ،ةِنَّاْلْا الهْاأ َيا«

»ادًاباأ

“Seorang penyeru memanggil, “Wahai penghuni surga, sesungguhnya kalian akan sehat dan tidak sakit selamanya, kalian selalu muda dan tidak pernah tua selamanya, dan kalian akan terus hidup, dan tidak akan mati selamanya.” 162

Meskipun demikian, ada berbagai pendapat mengenai keabadian neraka. Pendapat yang berkata neraka fana dan surga abadi dinukil dari Umar, bin Mas’ud, Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudri dan lainnya. Mereka berpendapat bahwa neraka adalah manifestasi murka Allah, sedangkan surga adalah manifestasi rahmat Allah. Dan Nabi (ﷺ) telah bersabda:

»ِبِاضغا تْقا اباس ِتِْحْا را نَّإِ :شِرْعالْا قا وْ اف هُدا نْعِ واهُ اف ،ِبًااتكِ ابتااك ،اقلْاْلْا ُّللَّا ىاضقا امَّال«

“Manakala Allah telah menyelesaikan penciptaan, Dia menulis dalam kitabNya, dan ia berada di sisiNya di atas Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” 163


image

162 Diriwayatkan oleh Muslim (2836)

163 Diriwayatkan oleh Bukhari (3194) dan Muslim (2751)

Ini adalah hadits yang diriwaytkan oleh Bukhari. Allah () pun telah memberitahukan kepada

kita tentang neraka sebagai “hari yang berat,” atau “hari yang pedih,” atau “hari yang menyengsarakan.” Namun Allah tidak menggunakan kata “satu hari” bahkan satu pun untuk menggambarkan surga. Sebaliknya Allah () berfirman:

ﵞ٦٥١ .... ءٰٖۚيۡشَ لَّكُ تۡعَسِوَ يتِمَحۡرَوَ ءُۖآشَأَ نۡمَ ۦهِبِ بُيصِأُ ىٓبِاذَعَ لَاقَ...

“Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapapun yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156)

Oleh sebab itu, tidak dapat dipungkiri, bahwa rahmat-Nya juga patut mencakup orang-orang yang diazab tersebut. Bila mereka terus menerus dalam azab tanpa akhir, niscaya rahmat Allah tidak mencakup mereka. Terlebih lagi, tidak ada kebijaksanaan dalam Kemahakuasaan menciptakan suatu makhluk untuk tujuan menyiksa mereka selamanya. Sebaliknya, jika Dia menciptakan makhluk dengan tujuan tidak lain untuk memberikan kebaikan dan merahmati mereka selamanya, maka tentu saja semua itu sesuai dengan rahmat- Nya.

Mereka yang menganut pendapat ini pun telah menjelaskan bahwa dalil-dalil yang menyatakan kekekalan selamanya di dalam neraka tidak akan pernah keluar darinya, adalah suatu kebenaran. Tidak ada pertentangan mengenai hal itu. Dalil-dalil yang ada harus dipahami bahwa keabadian neraka seperti ini, selama neraka itu masih ada. Yang keluar darinya saat neraka masih ada adalah ahli tauhid. Beda antara orang yang keluar dari hukuman saat penjaranya masih ada dengan orang yang masa hukumannya habis karena penjaranya hancur.

Adapun mereka yang mengimani keabadian neraka dan sifatnya yang tidak akan

musnah, mereka telah menilai dari firman Allah () berikut ini:


Dan mereka mendapat azab yang kekal (QS. Al-Ma’idah: 37)

Atau,


Mereka kekal di dalamnya (QS. Al-Bayyinah: 8)


ﵞ٧٣ م يقِمُّ ب اذَعَ مۡهُلَوَ...


ﵞ٨ ... ۖادٗبَأَ آهَيفِ نَيدِلِخَٰ....

Sunnah pun sangat spesifik menyebutkan tentang siapa saja yang mengucapkan la ilaha ilallah, maka dia akan keluar dari neraka. Hadit-hadits syafaat juga secara jelas menunjukkan dikeluarkannya ahli tauhid dari neraka dan bahwa hukum ini khusus bagi mereka. Seandainya orang-orang kafir keluar dari neraka, niscaya mereka sama dengan ahli tauhid dan keluar dari neraka bukan khusus untuk orang beriman.

Adapun perkataan Ath-Thahawi, “Dan Allah menciptakan penghuni bagi keduanya (surga dan neraka)” didasarkan pada firman Allah berikut ini:


ﵞ ٩٧١ ... سِۖنإِۡلٱوَ نِ جلِۡٱ نَمِ ارٗيثِكَ مَنَّهَجَلِ انَأۡرَذَ دۡقَلَوَﵟ

Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia (QS. Al- A’raf: 179)

Dan Nabi (ﷺ) telah bersabda:

ِفِ مْهُوا ااَلا مْهُقاالاخ ،الًهْاأ رِانَّللِ اقلااخوا ،مْهِئِِباآ بِالا صْاأ ِفِ مْهُوا ااَلا مْهُقاالاخ ،الًهْاأ ةِنَّاجلْلِ اقلااخ اّللَّا نَّإِ مْهِئِِباآ بِالا صْاأ

“Allah telah menciptakan penghuni untuk surga, dan Allah menciptakan mereka saat mereka masih dalam tulang sulbi bapak mereka, dan Allah juga telah menciptakan penghuni untuk Neraka, dan Allah menciptakan mereka saat mereka masih dalam tulang sulbi bapak mereka.” Riwayat Muslim dan Abu Dawud.164

Adapun perkataan penulis: “Barangsiapa yang dikehendakiNya dari mereka, maka ia akan masuk surga sebagai karunia dariNya, dan barangsiapa yang dikehendakiNya dari mereka, maka ia akan masuk neraka sebagai suatu keadilan dariNya,” harus dipahami bahwa Allah tidak menghalangi pahala kecuali bila hamba menghalangi sebabnya, yaitu amal shalih, karena:

ﵞ ٢١١ امٗضۡهَ اَلوَ امٗلۡظُ فُاَخيَ الَفَ ن مِؤۡمُ وَهُوَ تِحَٰلِصَّٰلٱ نَمِ لۡمَعۡيَ نمَوَ ﵟ

dan barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan dzalim (terhadapnya). (QS. Taha: 112)

Dengan cara yang serupa, tidak ada seorang pun yang dihukum melainkan telah ada sebab untuk mendapat hukuman.

ﵞ ٠٣ رٖيثِكَ نعَ اْوفُعۡيَوَ مۡكُيدِيۡأَ تۡبَسَكَ امَبِفَ ةٖبَيصِمُّ نمِ مكُبَصَٰأَ آمَوَﵟ

Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura: 30)

Allah adalah Maha Memberi dan Maha Menghalangi. Tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Allah beri dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Allah halangi. Jika Allah memberikan nikmat kepada seseorang dengan iman dan amal shalih, maka Allah tidak menghalangi konsekuensinya sama sekali. Sebaliknya Allah memberinya pahala dan kedekatan yang tidak dilihat oleh mata, tidak didengar oleh telinga dan tidak terbersit dalam benak manusia. Dan bila Allah menghalanginya, itu karena sebabnya memang tidak ada yaitu amal shalih.

Tidak diragukan lagi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, akan tetapi itu adalah hikmah dan keadilan. Jadi bila Allah menghalangi sebab-sebab yaitu amal-amal shalih, maka ia adalah karena hikmah dan


image

164 Diriwayatkan Muslim (2662) dan Abu Dawud (4713)

keadilanNya. Adapun akibat sesudah terwujudnya sebab-sebabnya, maka Allah tidak menghalangi sedikit pun, selama ia bukan sebab-sebab yang tidak shahih, seperti kerusakan pada amal perbuatan, atau karena adanya penghalang.

Bila Allah tidak memberi pahala dan menghukum, maka itu karena tidak adanya iman dan amal shalih, adapun Allah tidak memberikan iman dan amal shalih sejak awal, maka itu adalah karena sebuah hikmah dan keadilan. BagiNya segala puji dalam segala keadaan. Allah Maha Terpuji atas segala keputusanNya. Semua pemberian dariNya adalah karunia. Semua hukuman dariNya adalah keadilan. Karena Allah Mahabijak yang meletakkan segala sesuatu pada tempat-tempatnya yang tepat dengannya. Allah berfirman:

لُعَۡجيَ ثُيۡحَ مُلَعۡأَ ّلِلَُّٱ ِّۘلِلَّٱ لُسُرُ ىَِتوأُ آمَ لَثۡمِ ىَٰتؤۡنُ يٰتَّحَ نَمِؤۡنُّ نلَ اْولُاقَ ةيَاءَ مۡهُتۡءَآجَ اذَِإوَﵟ

ﵞ ٤٢١ .... ۥٰۗٓهُتَلَاسَرِ

Dan apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan percaya (beriman) sebelum diberikan kepada kami seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah. (QS. Al-An’am: 124)

FASAL: PERBUATAN MANUSIA


image

Kesanggupan yang menjadi sebab terjadinya suatu perbuatan, yang bersumber dari taufik Allah yang mana makhluk tidak boleh disifati dengannya; adalah kesanggupan yang menyertai (setiap) perbuatan. Sedangkan kesanggupan seperti kesehatan, kelapangan materi, kapabilitas dan bagusnya peralatan, semua itu adalah sebelum perbuatan tersebut. Dan dengan kesanggupan jenis inilah perintah (syariat) bergantung erat, sebagaimana Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah, 286)

Kesanggupan, kemampuan, kebiasaan, dan kekuatan adalah kata yang bermakna mirip. Kesanggupan terbagi menjadi dua, seperti yang disebutkan oleh penulis. Ini pun merupakan pendapat mayoritas Ahlu Sunnah sekaligus pendapat tengah. Meskipun demikian, Qadariyah dan Mu’tazilah telah beranggapan bahwa kesanggupan tidak ada kecuali sebelum perbuatan. Namun, Ahlus-Sunnah menentang bahwa tidak terjadi kecuali bersama perbuatan.

Pendapat yang dianut oleh kebanyakan ahlus Sunnah adalah bahwa hamba memiliki kemampuan yang menjadi titik tumpuan perintah dan larangan, ini terjadi sebelum perbuatan dan tidak wajib bersama perbuatan dan kemampuan yang dengannya perbuatan terwujud, ia harus bersama perbuatan, tidak boleh ada perbuatan dengan kesanggupan yang tidak ada.

Namun, kemampuan lainnya yaitu kesehatan, kesanggupan, kemapanan berbuat, dan bagusnya peralatan, maka ia mendahului perbuatan. Inilah kemampuan yang dibicarakan dalam ayat berikut ini:

ﵞ٧٩.... اۚلٗيبِسَ هِيۡلَإِ عَاطَتَسۡٱ نِمَ تِيۡبَلۡٱ جُّحِ سِانَّلٱ ىَلعَ ِّلِلَِّوَ.....

Dan di antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke baitullah bagi yang mampu menempuh perjalanan. (QS. Al-Imran: 97)

Dalam ayat di atas, Allah mewajibkan ibadah haji atas orang yang mampu. Seandainya tidak bisa melakukannya kecuali hanya orang yang menunaikan haji, niscaya haji tidak wajib kecuali atas siapa yang telah menunaikannya dan Allah tidak menghukum siapa pun karena meninggalkan haji. Ini bertentangan dengan apa yang diketahui secara mendasar dalam agama Islam.

Serta firman Allah ():


ﵞ٤ .... اۚنٗيكِسۡمِ نَيِ تسِ مُاعَطۡإِفَ عۡطِتَسۡيَ مۡلَّ نمَفَ....

Maka barangsiapa yang tidak mampu, maka wajib memberi makan enamp puluh orang miskin. (QS. Al-Mujadalah: 4)

Kata “kemampuan” dalam kasus ini adalah ketersediaan kemampuan dan sarana.

Adapun “kemampuan” yang pada kenyataannya adalah kekuatan untuk bertindak secara mandiri, para ulama telah berpendapat bahwa ia diungkapkan dalam ayat berikut ini:

ﵞ٠٢ نَورُصِبۡيُ اْونُاكَ امَوَ عَمۡسَّلٱ نَوعُيطِتَسۡيَ اْونُاكَ امَ....

Mereka tidak mampu mendengar (kebenaran) dan tidak dapat melihatnya (QS. Hud: 20)

Kemampuan apakah ini? Ini adalah “kemampuan” dan kekuatan untuk melaksanakan

perbuatan terpisah dari Allah. Bukan karena ketiadaan materi dan sarana fisik. Pengertian itu senada dengan perkataan sahabat Musa:

ﵞ ٧٦ ارٗبۡصَ يَعِمَ عَيطِتَسَۡت نلَ كَنَّإِ لَاقَﵟ

Dia menjawab: “Sungguh engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. (QS. Al-Kahfi: 67)

Yang dimaksud adalah hakikat kemampuan sabar dan bukan sebab-sebab sabar dan alatnya, yang tentu dia miliki.

Pandangan yang bertentangan dengan itu dikemukakan oleh Qadariyah bahwa Takdir Allah sama dalam bermurah hati kepada orang mukmin dan orang kafir. Mereka tidak mengakui bahwa Allah memilih orang mukmin yang taat untuk membantu yang dengannya ia memperoleh keimanan. Melainkan, mereka berpendapat bahwa orang ini (orang beriman) memilih untuk beriman dan orang kafir memilih untuk tidak beriman. Bagi mereka hal ini sama dengan seorang ayah yang memberikan sebilah pedang pada masing-masing kedua puteranya. Sehingga, salah satu dari mereka berperang di jalan Allah, sementara yang lainnya memilih untuk merampok di jalan dengan pedangnya itu.

Sebaliknya, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan Ahlu Sunnah –mereka yang mengimani Takdir Allah- mengenai apa yang ditentang oleh Qadariyah. Para ulama Sunni meyakini bahwa orang mukmin yang taat mendapatkan pertolongan dalam agama dari Allah yang khusus bagi dirinya, berkebalikan dengan orang kafir yang mengabaikannya, dan Allah memberikan pertolongan dalam ketaatan dan juga Dia tidak menolong orang kafir. Firman

Allah():

قَوسُفُلۡٱوَ رَفۡكُلۡٱ مُكُيۡلَإِ هَرَّكَوَ مۡكُبِولُقُ ىفِ ۥهُنَيَّزَوَ نَمَٰيإِۡلٱ مُكُيۡلَإِ بَبَّحَ ّلِلََّٱ نَّكِلَٰوَ....ﵟ ﵞ ٧ نَودُشِرَّٰلٱ مُهُ كَئِلَٰٓ َ وْأُ نَۚايَصۡعِلۡٱوَ

Tetapi Allah menjadikan kamu cinta pada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hatimua, serta menjadikan kamu benci pada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka

itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (QS. Al-Hujurat: 7)

Dan Allah () berfirman:

اجٗرَحَ اقًيِ ضَ ۥهُرَدۡصَ لۡعَۡجيَ ۥهُلَّضِيُ نأَ دۡرِيُ نمَوَ مِۖلَٰسۡإِلۡلِ ۥهُرَدۡصَ حۡرَشۡيَ ۥهُيَدِهۡيَ نأَ ّلِلَُّٱ دِرِيُ نمَفَﵟ ﵞ٥٢١ نَونُمِؤۡيُ اَل نَيذِلَّٱ ىَلعَ سَجۡرِ لٱ ّلِلَُّٱ لُعَۡجيَ كَلِذَٰكَ ءِٰۚآمَسَّلٱ ىِف دُعَّصَّيَ امَنَّأَكَ

Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki-Nya menjadi sesat, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman (QS. Al-An’am: 125)


image

Dan perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk Allah, sekaligus usaha dari hamba.

Orang-orang berselisih pendapat mengenai amal perbuatan seorang manusia yang dilakukan secara sukarela. Kelompok Jabariyah, yang pemimpinnya adalah Safwan bin Jahm berpendapat bahwa pengaturan perbuatan manusia seluruhnya adalah milik Allah. Seluruhnya adalah keterpaksaan, seperti gerakan orang menggigil, nadi yang berdetak, bergeraknya daun pada pohon. Penisbatannya kepada makhluk adalah majaz (kiasan).

Pendapat mereka ditentang Muktazilah dengan menyatakan bahwa semua perbuatan suka rela dari semua yang hidup merupakan penciptaan dari yang bersangkutan, tidak berkaitan dengan penciptaan Allah. Kemudian mereka berselisih pendapat di antara mereka sendiri dalam rincian-rinciannya, seperti mengenai perbuatan individu, apakah perbuatan individu itu ditakdirkan oleh Allah ataukah tidak.

Ahlu Sunnah telah berpendapat bahwa perbuatan manusia, yang dengannya mereka menjadi orang-orang taat atau orang-orang durhaka, ia adalah diciptakan Allah. Dan hanya Allah yang Mahahaq yang menciptakan seluruh makhluk. Tidak ada pencipta selain Allah. Jabariyah berlebih-lebihan dalam menetapkan Qadar, mereka mengingkari sama sekali perbuatan hamba.

Adapun sekte Qadariyah, mereka menganut pendapat ekstrim lainnya dengan mengingkari Qadar dalam setiap tindakan dan menyatakan bahwa manusia adalah pencipta tunggal dari semua perbuatannya. Karena pemahamannya itulah mereka dicap sebagai “Majusi dari umat ini.” Bahkan, mereka lebih buruk dari Majusi karena Majusi hanya menetapkan dua pencipta sedangkan mereka menetapkan banyak pencipta. mengimani dua pencipta (tuhan yang baik dan tuhan yang buruk).

Sedangkan Qadariyah mengimani sejumlah pencipta. Sebagai perbandingan, dengan mengatakan bahwa Allah adalah pencipta dari perbuatan manusia (namun perbuatan itu adalah perolehan mereka sendiri), Ahlu Sunnah lagi-lagi mendapat hidayah. Tentu saja, ini terjadi dengan rahmat Allah, Dia memberi petunjuk kepada siapapun yang Dia kehendaki pada jalan yang lurus.

Setiap dalil yang dipegang oleh Jabariyah hanya menunjukkan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, bahwa Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, bahwa perbuatan hamba termasuk bagian dari penciptaan-Nya, bahwa apapun yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi.

Walaupun demikian, hal ini tidak lantas mengarah pada kesimpulan bahwa hamba tersebut bukanlah pelaku, bahwa dia tidak berkehendak dan dia tidak memilih. Sesungguhnya penciptaan Allah akan amal perbuatan manusia, tidak lantas membuktikan bahwa pergerakan yang dilakukan seseorang serupa dengan gerakan orang yang menggigil atau seperti meletusnya gelumbung udara.

Begitu pula, setiap dalil shahih yang dipegang oleh Qadariyah hanya menunjukkan bahwa hamba adalah pelaku perbuatannya secara hakiki, bahwa dia menginginkan dan menghendakinya secara hakiki. Bahwa penyandaran dan penisbatan perbuatan kepadanya adalah haq. Tetapi mereka tidak menunjukkan bahwa Allah tidak berkuasa atasnya, bahwa mereka terjadi di luar kehendak dan kodratNya.

Oleh karena itu, bila anda menyatukan kebenaran yang dimiliki oleh masing-masing dari kedua kubu kepada kebenaran lawannya, maka ia menunjukkan apa yang ditunjukkan oleh al-Quran dan kitab-kitab samawi lainnya, yaitu keumuman kuasa dan kehendak Allah terhadap segala apa yang di alam semesta mencakup segala makhluk dan perbuatan mereka. Bahwa para hamba adalah pelaku perbuatan mereka secara hakiki, dan bahwa karenanya mereka berhak mendapatkan sanjungan atau celaan.

Inilah kebenaran sejati. Sebab dalil-dalil kebenaran tidak saling bertentangan satu sama lain. Satu fakta membenarkan fakta lainnya. Kami bisa saja mengumpulkan bukti dan dalil yang digunakan oleh kedua sekte tersebut dan membahasnya secara menyeluruh namun begitu panjang. Oleh karena itu, kami hanya mengambil satu atau dua contoh untuk menunjukkan bagaimana mereka sebenarnya keliru dalam menggunakan semua dalil tersebut demi tujuan mereka.

Sekte Jabariyah memperkuat argumen mereka dengan firman Allah () berikut ini:

ﵞ٧١ ... ىٰمَرَ ّلِلََّٱ نَّكِلَٰوَ تَيۡمَرَ ذۡإِ تَيۡمَرَ امَوَ ...

Dan bukan engkau (Muhammad) yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar (QS. Al-Anfal: 17)

Dalam ayat ini, Allah mengingkari bahwa nabi-Nya yang melempar pasir ke pasukan musyrikin di Perang Badar. Allah-lah yang melakukannya, membuktikan bahwa seorang hamba tidak bisa menjadikan suatu tindakan ada. Oleh sebab itu, mereka menyimpulkan bahwa amal perbuatan tidak menjadi dasar balasan di akhirat kelak. Mereka pun menggunakan hadits berikut ini untuk memperkuat argumen mereka, bahwa Rasulullah (ﷺ) telah bersabda:

ةٍاْحْرابِ ُّللَّا ِنِدا مَّاغ ات اي نْاأ َلَّإِ ،َنااأ

َلاوا

:لاااق ؟ِّللَّا

لاوسُرا

َيا

اتنْاأ

َلاوا

:اولُااق ،هِلِما عابِ اةنَّاْلْا دٌاحاأ الخُدْاي نْال«

»لٍضْافوا هُنْمِ

“Seseorang dari kalian tidak akan masuk surga karena amalnya.” Mereka bertanya, “Wahai rasulullah, termasuk anda?” Beliau menjawab: “Benar, termasuk aku, kecuali bila Allah memayungiku dengan rahmat dan karuniaNya.” 165

Adapun dengan sekte Qadariyah, mereka berargumen dengan berdasarkan pada dalil- dalil berikut ini:

ﵞ٤١ نَيقِلِخَٰلۡٱ نُسَحۡأَ ّلِلَُّٱ كَرَابَتَفَ....

Maha Suci Allah Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al-Mu’minun: 14)

Qadariyah juga berpendapat bahwa ganjaran di akhirat akan merupakan harga sempurna atas semua amal perbuatan mereka, sebagaimana firman Allah():

ﵞ٢٧ نَولُمَعۡتَ مۡتُنكُ امَبِ اهَومُتُثۡرِوأُ يٓتِلَّٱ ةُنَّجَلۡٱ كَلۡتِوَﵟ

Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan (QS. Az-Zukhruf: 72)

Adapun argumen Jabariyah yang berdasarkan ayat, “Dan bukan engkau (Muhammad) yang melempar ketika engkau melempar...”, argumen mereka dibantah oleh ayat itu sendiri, yang menisbatkan pelemparan kepada Nabi (ﷺ) dengan mengatakan: ‘engkau melempar,” tindakan pelemparannya tidak diingkari, melainkan, tindakan itu ditegaskan sebagai tindakan dan akhirnya mencapai sasaran. Keduanya disebut sebagai tindakan “pelemparan.” Artinya kemudian, hanya Allah yang Maha Mengetahui, dalam arti bukan engkau yang mengenai sasaran ketika melempar, melainkan Allah-lah yang mengenainya. Jika kita tidak menerima makna ini, maka kesimpulan logisnya adalah: “Bukan engkau yang berdoa, melainkan Allah- lah yang berdoa,” dan “bukan engkau yang berpuasa, melainkan Allah-lah yang berpuasa.” Maka kekeliruannya menjadi jelas.

Sehingga, baik Jabariyah dan Qadariyah keliru mengenai hubungan antara perbuatan dan balasan. Ahlu Sunnah memperoleh hidayah, segala puji bagi Allah. Penjelasannya: “ba” kalimat negatif berbeda makna dengan “ba” kalimat positif. “Ba” dari hadits Nabi pada kata “bi amalihi” bermakna “setara, pengganti atau, balasan yang penuh.” Dalam kata-kata yang lebih sederhana, amal perbuatan tidak menjadi “harga” yang harus dibayarkan untuk masuk surga, seperti yang dinyatakan oleh Muktazilah.

Mereka mengatakan bahwa Allah wajib memasukkan seseorang ke dalam surga sebagai balasan amal perbuatannya. Tetapi, seperti dalam hadits, hal itu terjadi karena karunia dan rahmat Allah. Di lain pihak, “ba” pada kata “bima kuntum ta’malun”, berarti ba sababiyah, sebab, atau alasan. Dengan kata lain, ayat tersebut berarti, “engkau masuk surga karena amal perbuatanmu”. Meskipun demikian, karena Allah adalah pencipta sarana, dan penyebab dari semua sebab, kedua dalil membenarkan bahwa karena karunia dan rahmat Allah manusia akan masuk surga.

Adapun argumen Muktazilah yang berdasarkan ayat ini:


image

165 Diriwayatkan oleh Bukhari (5673) dan Muslim (2816)

ﵞ٤١ نَيقِلِخَٰلۡٱ نُسَحۡأَ ّلِلَُّٱ كَرَابَتَفَ....

Maha Suci Allah Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al-Mu’minun: 14)

Makna dari ayat tersebut adalah Allah adalah sebaik-baik yang membentuk dan yang menetapkan takdir. Kata “khalaq” terkadang bermakna menetapkan takdir. Argumen ini

berdasarkan pada ayat lain, sebagaimana firman Allah():

ﵞ٢٦ .... ءٖۖيۡشَ لِ كُ قُلِخَٰ ّلِلَُّٱﵟ

Allah menciptakan segala sesuatu (QS. Az-Zumar: 62)

Yang artinya Allah adalah pencipta segala sesuatu yang telah diciptakan. Kata “segala sesuatu” di sini mencakup perbuatan manusia. Dari sinilah Muktazilah beragumen.

Namun untuk menyanggahnya, kita dapat menyebutkan bahwa hamba adalah pelaku perbuatannya sendiri tidak bertentangan bila dikatakan bahwa perbuatan tersebut terjadi atas kehendak Allah. Allah berfirman:

ﵞ ٨ اهَىٰوَقۡتَوَ اهَرَوجُفُ اهَمَهَلۡأَفَ ٧ اهَىٰوَّسَ امَوَ سٖفۡنَوَﵟ

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (QS. Asy-Syams: 7-8)

Dengan penggunaan kata “Allah mengilhamkan kepada jiwa itu “ dalam ayat-ayat ini baik menakdirkan (oleh Allah) telah dikonfirmasi begitu pula dengan peranan manusia itu sendiri dalam menciptakan (amal perbuatan). Hal ini bisa terwujud dengan menisbatkan ketakwaan atau kefasikan pada “dirinya,” agar diketahui bahwa hambalah yang jahat atau bertakwa.

Dan menariknya, pemahaman ini mengarahkan mereka pada keraguan lainnya yang memecah belah mereka sendiri. Mereka bertanya, “Bagaimana pendapat kalian dianggap benar bahwa Allah menyiksa orang yang mukallaf atas dosanya padahal Dia-lah yang menciptakan perbuatan tersebut pada mereka? Di mana keadilan Allah saat menyiksa mereka karena sesuatu yang Dia ciptakan dan lakukan pada mereka?

Syubhat ini menjadi perbincangan orang-orang, dan masing-masing dari mereka berbicara menurut kadar ilmunya. Akibatnya, dengan beragamnya jawaban, mereka pun mulai berselisih paham. Sebagian dari mereka yang tidak mampu mencocokkan keduanya telah mengingkari bahawa Allah memiliki kuasa atas perbuatan manusia. Yang lainnya telah menolak mengakui adanya hubungan sebab akibat dan menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut sama sekali. Adapun yang lainnya telah meyakini bahwa manusia tidak memiliki pilihan dan kebebasan berkehendak. Mereka dihukum untuk suatu hal di luar kuasa mereka.

Jawaban yang shahih tentang syubhat ini adalah bahwa dosa-dosa yang mana seorang hamba diuji karenanya, sekalipun Allah yang menciptakannya, tetapi ia merupakan hukuman atas dosa-dosa sebelumnya, karena dosa melahirkan dosa. Di antara hukuman dari keburukan adalah keburukan sesudahnya. Dosa adalah seperti penyakit yang sebagian darinya

melahirkan sebagian yang lain. Mungkin muncul pertanyaan baru, bila demikian, lalu bagaimana dengan dosa pertama yang melahirkan dosa-dosa sesudahnya? Jawabannya ia juga merupakan hukuman akibat tidak melakukan apa yang dia diciptakan dan difitrahkan atasnya. Allah telah memfitrahkan makhluk di atas kecintaan, penuhanan, dan penyerahan diri kepadaNya. Allah berfirman:

ﵞ ٠٣ ...اهَيۡلَعَ سَانَّلٱ رَطَفَ يتِلَّٱ ِّلِلَّٱ تَرَطۡفِ اۚفٗينِحَ نِيدِ للِ كَهَجۡوَ مۡقِأَفَ ﵟ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. Ar-Rum: 30)

Manakala hamba tidak melakukan apa yang dia telah diciptakan dan difitrahkan atasnya, berupa beribadah, mencintai, dan berserah diri kepadaNya, maka dia dihukum karena itu dengan kehadiran setan yang menghiasi kesyirikan dan kemaksiatan baginya. Allah menciptakan hati bersih dan kosong, siap menerima kebaikan dan keburukan. Seandainya hati berisi kebaikan yang menolak keburukan, niscaya keburukan tidak akan bersemayam padanya, sebagaimana Allah () berfirman:

ﵞ ٣٨ نَيصِلَخۡمُلۡٱ مُهُنۡمِ كَدَابَعِ اَّلإِ ٢٨ نَيعِمَجۡأَ مۡهُنَّيَوِغۡأَُل كَتِزَّعِبِفَ لَاقَﵟ

(Iblis) menjawab: “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka. (QS. Sad: 82-83)

Adapun mengenai ikhlas dalam teks tersebut, jika diaplikasikan pada hati bermakna hati yang bebas dari segala sesuatu selain Allah. Hati hanya menghambakan diri kepada Allah. Maka Setan tidak bisa menguasai hati itu. Namun, jika hati itu kosong, maka Setan pun bisa menempati ruang kosong dalam hati. Dalam keadaan demikian, Setan mendorongnya berbuat dosa dan kemunkaran, sebuah akibat dari kurangnya keikhlasan untuk

beribadah. Pengaturan ini memenuhi syarat keadilan Allah ()

image

Allah tidak membebani mereka kecuali dengan (kewajiban) yang mampu mereka (laksanakan). Dan mereka (manusia) tidak akan sanggup (melaksanakan) kecuali apa yang Allah bebankan pada mereka. Dan itulah tafsir kalimat image “Tidak ada daya dan kekuatan, kecuali dengan (pertolongan) Allah.” Kami katakan, bahwa tidak ada kemampuan, gerakan, dan tidak ada (kesanggupan untuk) berpaling bagi seseorang dari maksiat kepada Allah, kecuali dengan pertolongan Allah. Dan tidak ada kekuatan bagi seseorang untuk menegakkan ketaatan kepada Allah, dan teguh atasnya kecuali dengan taufik dari Allah. Segala sesuatu berjalan dengan kehendak Allah, ilmu, Qadha dan QadharNya. KehendakNya mengalahkan segala kehendak. KetetapanNya (QadhaNya) mengalahkan semua daya (makhluk). Allah berbuat apa yang dia kehendaki Dia sama sekali tidak pernah berbuat zhalim. Allah Mahasuci dari setiap aib dan kekurangan. “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya dan merekalah yang akan ditanyai.” (Al-Anbiya’:23)

Pernyataan pertama penulis yang disebutkan di atas sejalan dengan firman Allah ():

ﵞ ٦٨٢ ...اهَعَسۡوُ اَّلإِ اسًفۡنَ ّلِلَُّٱ فُِ لكَيُ اَل ﵟ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al- Baqarah: 286)

Adapun firman Allah () yang menyebut para malaikat:

ﵞ١٣ نَيقِدِصَٰ مۡتُنكُ نإِ ءِآَلؤُهَٰٓ َ ءِآمَسۡأَبِ ىِنو ـُبِۢنأَ....

“Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar“ (QS. Al-Baqarah: 31)

Mereka tidak diberikan tuntutan yang tidak masuk akal, menanyakan kepada mereka tentang sesuatu yang mereka tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Melainkan, pertanyaan itu diberikan kepada mereka untuk menyadarkan kepada mereka akan ketidaktahuan mereka.

Kata-kata dalam doa orang yang beriman ini pun dipahami dalam pengertian yang

sama.

ﵞ ٦٨٢ ... ۦهِۖبِ انَلَ ةَقَاطَ اَل امَ انَلۡمِ َحتُ اَلوَ انَبَّرَ....

Ya Allah ya Tuhan kami, jangan Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya (QS. Al-Baqarah: 286)

Ibnu Al-Anbari berkata:

“Yakni janganlah Engkau membebani kami dengan sesuatu yang pelaksanaannya berat atas kami sekalipun kami sanggup melakukannya dengan penuh keberatan dan beban yang luar biasa.”

Allah berbicara kepada orang-orang Arab dalam bahasa yang mereka pahami. Karena, ketika salah satu dari mereka membenci yang lainnya, maka dia akan berkata, “Aku tidak kuasa melihatmu.” Meskipun, sudah jelas dia mampu melihatnya, akan tetapi berat atasnya.

Pernyataan penulis: “Dan mereka (manusia) tidak akan sanggup (melaksanakan) kecuali apa yang Allah bebankan pada mereka” Yakni mereka tidak sanggup kecuali apa yang Allah membuat mereka sanggup. Kesanggupan ini adalah yang bermakna taufik, bukan bermakna kesehatan, kesanggupan, kemungkinan dan bagusnya peralatan. Ucapan “tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena Allah,” merupakan dalil menetapkan takdir, yang syaikh telah menafsirkannya sesudahnya.

Namun, dalam perkataan Ath-Thahawi mengandung sisi musykil, sebab taklif tidak digunakan dalam arti membuat mampu, akan tetapi dipakai untuk perintah dan larangan. Padahal Ath-Thahawhi berkata: “Allah tidak membebani mereka kecuali dengan (kewajiban) yang mampu mereka (laksanakan). Dan mereka (manusia) tidak akan sanggup (melaksanakan) kecuali apa yang Allah bebankan pada mereka”. Yaitu kedua kalimat kembali kepada makna yang sama. Tetapi tidak demikian karena mereka sanggup lebih dari apa yang Allah bebankan. Akan tetapi Allah menghendaki kemudahan dan keringanan.

Sebagaimana Allah berfirman:

ﵞ٥٨١ ... رَسۡعُلۡٱ مُكُبِ دُيرِيُ اَلوَ رَسۡيُلۡٱ مُكُبِ ّلِلَُّٱ دُيرِيُ....

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al- Baqarah: 185)

Dan,

ﵞ٨٢ افٗيعِضَ نُسَٰنإِۡلٱ قَلِخُوَ مۚۡكُنعَ فَفِ َخيُ نأَ ّلِلَُّٱ دُيرِيُ ﵟ

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. An-Nisa: 28)

Seandainya Allah menambah lebih dari apa yang telah Dia bebankan atas kita, niscaya kita sanggup, akan tetapi Allah menyayangi kita, memudahkan dan meringankan.

Jawaban dari musykil di atas, kata “kuasa” yang digunakan oleh penulis mengacu pada kekuatan yang berasal dari ilham Ilahiah. Bukan mengacu pada kekuatan fisik dan sarana materi, seperti kesehatan yang baik dan sarana materi dan sebagainya. Sebenarnya, kata-kata yang digunakan penulis sedikit rancu.

Dan mengenai kata-kata Ath-Thahawi: “Segala sesuatu berjalan dengan kehendak Allah, ilmu, Qadha dan QadharNya,” yang dimaksudkan adalah takdir kauni (universal) dan bukan takdir syar’i. Kata Takdir bisa mencakup takdir kauni dan takdir syar’i. Yang juga berlaku menurut kehendak dan perintah, otorisasi, apa yang dituliskan, penilaian, dan ketidaklegalan, kata-kata dan sebagainya. Adapun mengenai takdir kauni, Allah () berfirman:

... نِيۡمَوۡيَ ىفِ تٖاوَمَٰسَ عَبۡسَ نَّهُىٰضَقَفَﵟ

Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua hari (QS. Fussilat: 12)

Adapun mengenai takdir syar’i, Allah () berfirman:

ﵞ ٣٢ ... آَّلإِ اْوٓدُبُعۡتَ اَّلأَ كَبُّرَ يٰضَقَوَﵟ

Dan Tuhanmu memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia (QS. Al-Isra: 23)

Adapun berkenaan dengan kehendak kauni, kita bisa mengutip ayat berikut ini:

ﵞ ٢٠١ ...ِّلِلَّٱ نِذۡإِبِ اَّلإِ دٍحَأَ نۡمِ ۦهِبِ نَيرِ آضَبِ مهُ امَوَ ....

Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. (QS. Al-Baqarah: 102)

Berikut ini contoh dari kehendak syar’i.

ﵞ٥ ... ِّلِلَّٱ نِذۡإِبِفَ اهَلِوصُأُ ىَٰٓ َ لعَ ةًمَئِآقَ اهَومُتُكۡرَتَ وۡأَ ةٍنَيِ ل نمِ متُعۡطَقَ امَ ٤ﵟ

Apa yang kamu tebang di antara pohon kurma(milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan tumbuh (berdiri) di atas pokoknya, maka itu terjadi dengan izin Allah. (QS. Al- Hasyr: 5)

Adapun mengenai kitab kauni, kita bisa mengutip ayat berikut:

ﵞ ١١ ريسِيَ ِّلِلَّٱ ىَلعَ كَلِذَٰ نَّإِ بٍٰۚتَٰكِ ىِف اَّلإِ ۦٓهِرِمُعُ نۡمِ صُقَنيُ اَلوَ رٖمَّعَمُّ نمِ رُمَّعَيُ امَوَ ...

Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauhul Mahfuz). (QS. Fatir: 11)

Sebaliknya, mengenai suratan takdir syar’i, bisa dilihat pada ayat berikut:

ﵞ ٣٨١ ... مُايَصِ لٱ مُكُيۡلَعَ بَتِكُ اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱ اهَيُّأَيَٰٓ َ

Wahai orang-orang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Adapun mengenai hukum kauni, berikut ini dalil ayat yang bisa dikutip:

ﵞ ٢١١ نَوفُصِتَ امَ ىَٰلعَ نُاعَتَسۡمُلۡٱ نُمَٰحۡرَّلٱ انَبُّرَوَ قِِۗ حَلۡٱبِ مكُحۡٱ بِ رَ لَقَٰﵟ

Dia (Muhammad) berkata: “Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami yang Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kamu katakan. (QS. Al-Anbiya: 112)

Hukum syar’i dibahas dalam ayat berikut ini:

ﵞ ٠١.... مۖۡكُنَيۡبَ مُكُۡحيَ ِّلِلَّٱ مُكۡحُ مۡكُلِذَٰ...

Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu (QS. Mumtahanah: 10)

Adapun mengenai larangan bersifat universal (ينوكلا ميرحتلا), terdapat dalam firman Allah () berikut ini:

ﵞ٦٢ ....ضِۡرأَۡلٱ ىفِ نَوهُيتِيَ ۛۡ ةٗنَسَ نَيعِبَرۡأَ مۛۡۡهِيۡلَعَ ةٌمَرََّحمُ اهَنَّإِفَ لَاقَﵟ

(Allah) berfirman: “(Jika demikian) maka (negeri) itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun (selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. (QS. Al-Ma’idah: 26)

Adapun mengenai pengharaman syar’i (يعرشلا ميرحتلا) وterdapat dalam ayat berikut ini:


ﵞ٣ ..... رِيزِنخِلۡٱ مُحۡلَوَ مُدَّلٱوَ ةُتَيۡمَلۡٱ مُكُيۡلَعَ تۡمَرِ حُﵟ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (QS. Al-Ma’idah: 3)

FASAL: PERMASALAHAN TERKAIT DOA


image

Dalam doa orang-orang yang masih hidup dan sedekah-sedekah mereka terdapat manfaat bagi orang-orang yang telah meninggal dunia.

Ahlu Sunnah sepakat bahwa orang yang telah meninggal dunia mendapatkan manfaat dari usaha orang hidup melalui dua perkara: Pertama, apa yang mayit menjadi sebabnya saat ia masih hidup. Kedua, doa kaum muslimin, istighfar mereka, sedekah dan haji. Untuk sedekah dan haji ini ada sedikit perbedaan pendapat. Muhammad bin al-Hasan berkata bahwa yang sampai kepada mayit adalah pahala biaya haji dan pahala haji adalah untuk orang yang menunaikannya. Sementara menurut kebanyakan ulama pahala haji untuk orang yang dibadalhajikan. Dan ini adalah yang shahih.

Meskipun demikian, mengenai ibadah jasmani, seperti puasa, sholat, dan membaca Al-Qur’an, berdzikir dan sebagainya, terdapat perbedaan pendapat tentangnya. Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hambali meyakini semua amal ibadah fisik tersebut bisa memberikan manfaat bagi sang mayit. Sedangkan pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Syafi’i dan Imam Malik, tidak sampai.

Adapun mengenai mayit yang bisa memperoleh manfaat pahala dari amal perbuatan yang dulu dilaksanakannya selama masih hidup, dalil tersebut bisa ditemukan dalam Al- Qur’an, Sunnah dan ijma para ulama, serta analogi (Qiyas). Misalnya ayat dalam Al-Qur’an berikut ini:

ﵞ ٠١ .... نِمَٰيإِۡلٱبِ انَوقُبَسَ نَيذِلَّٱ انَنِوَٰخۡإِِ لوَ انَلَ رۡفِغۡٱ انَبَّرَ نَولُوقُيَ مۡهِدِعۡبَ نَۢمِ وءُآجَ نَيذِلَّٱوَﵟ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, (QS. Al-Hasyr: 10)

Konteks tersebut memberitahukan kepada kita bahwa ayat ini memuji mereka yang memohon ampunan atas diri mereka dan yang telah mendahului mereka. Ini membuktikan bahwa mendoakan yang sudah mati itu boleh.

Dalil pendukung lainnya yaitu dalam doa oleh para pelayat pada sholat jenazah, yang merupakan amalan yang diterima oleh ijma’. Begitu pula dengan doa mereka saat menziarahi kuburan. Buraidah bin Hashib meriwayatkan hadits dalam Muslim:

الهْاأ مْكُيْالعا مُالاسَّلا :اولُوقُا ي نْاأ رِبِاقاما لْا َلاإِ اوجُرااخ ااذإِ مُهُمُل ِعاُ ي املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا انااك«

»اةايفِاعالْا مُكُالوا اانال اّللَّا لُأا سْان ،انوقُحَِلا مْكُبِ ُّللَّا اءااش نْإِ َنَّإِوا ،ّيا مِلِسْمُلْاوا ّيا نِمِؤْمُلْا انمِ رَِيا دِ لا

“Rasulullah (ﷺ) mengajarkan doa untuk ziarah kubur kepada mereka: “Semoga keselamatan terlimpahkan atas kalian wahai penduduk negeri (kuburan) ini dari orang-orang Mukmin

dan orang-orang muslim, dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon keselamatan untuk kami dan kalian.”166

Adapun mengenai pahala sedekah yang diberikan atas nama mayat, sebuah hadits dalam Bukhari menyatakan bahwa seorang pria mendatangi Rasulullah (ﷺ) dan berkata:

ِن ِإِاف :لاااق ، »مْعا ان :لاااق ؟ تُقْدَّاصتا نْإِ اهاعُفا نْ اي لْها اف ،اها نْعا بٌئِاغا َنااأوا تْاي ِفوُ تُ يم ِأُ نَّإِ ،ِّللَّا لاوسُرا َيا

اها نْعا ةٌاقدا اص فِاراخْمِلْا يِاطئِااح نَّاأ كا دُهِشْأُ

“Ya Rasulullah. Sesungguhnya Ibuku wafat mendadak, dia belum berwasiat, apakah dia memperoleh pahala bila aku bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya.” Pria itu berkata, “Saksikanlah ya Rasul, aku telah menyedekahkan kebunku di Mikhraf atas nama ibuku.” 167

Adapun mengenai puasa, Sahihain meriwayatkan bahwa Rasulullah(ﷺ) bersabda:

هُيُّلِوا هُنْعا امااص مٌااي صِ هِيْلاعاوا اتاما نْما

“Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan menanggung puasa, maka wali (ahli waris)nya berpuasa untuknya.” 168

Adapun mengenai ibadah haji, Bukhari meriwayatkan:

جَُُّتا مْلا اف جَُُّتا نْاأ تْراذاان يم ِأُ نَّإِ : تْلااقا اف ،املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِب ِ ِنَّلا َلاإِ تْاءااج اةان يْها جُ نْمِ ةًاأرامْا نَّاأ

اوضُقْا ؟هُات اي ضِااق تِنْكُاأ ،نٌيْاد كِم ِأُ ىالعا انااك وْال تِيْاأرااأ ،اها نْعا يج ِ حُ" :لاق ؟اهنع جحأفأ ، تْتااما َّتَّاح

ءافولِب قُّاحاأ ُّللَّااف ،اّللَّا

“Seorang wanita dari Bani Juhainah mendatangi rasul dan berkata, “Sesungguhnya ibuku telah bernazar menunaikan ibadah haji tetapi dia belum menunaikannya hingga wafat, apakah aku menunaikan haji untuknya?” Nabi menjawab: “Ya tunaikanlah haji untuknya. Bagaimana menurutmu bila ibumu memikul hutang, apakah kamu yang membayarnya? Tunaikanlah hak Allah, karena Allah lebih berhak untuk dipenuhi.” 169

Para ulama pun telah sepakat bahwa melunasi hutang mayit atas namanya telah menggugurkan kewajiban bahkan jika dibayarkan oleh selain kerabatnya, dan bahkan jika dibayarkan dari selain harta yang ditinggalkannya. Ini dibuktikan dengan adanya peristiwa yang melibatkan Abu Qatadah yang berjanji akan membayar dua Dinar atas nama penghutang yang sudah meninggal. Ketika dia melunasinya, Rasulullah (ﷺ) berkata: “Sekarang pelunasan itu telah mendinginkan kulitnya.”


image

166 Diriwayatkan oleh Muslim (249)

167 Diriwayatkan oleh Bukhari (2756)

168 Diriwayatkan oleh Bukhari (1952) dan Muslim (1147)

169 Diriwayatkan oleh Bukhari (1852)

Semua yang disebutkan di atas adalah hukum Syari’ah. Hukum itu pun telah dikonfirmasi oleh analogi (Qiyas). Karena pahala adalah bagi orang yang telah melaksanakan amal baik, jika dia memberikannya untuk saudara Muslim, maka tidak ada yang bisa menghalanginya.

Syari’ah menetapkan sampainya pahala membaca Al-Qur’an bagi yang sudah meninggal dan ibadah jasmani juga sampai kepada mayit, sama halnya dengan puasa dengan penjelasan bahwa puasa tidak lain adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya dengan niat. Syariah memberitahukan kepada kita bahwa pahala puasa sampai pada mayat. Lalu mengapa tidak dengan pembacaan Al-Qur’an, sementara ia adalah juga amal dan niat?

Bagi sebagian orang, sulit untuk mencocokkan hal di atas dengan firman Allah () berikut ini:

ﵞ٩٣ يٰعَسَ امَ اَّلإِ نِسَٰنإِلۡلِ سَيۡلَّ نأَوَ ﵟ

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.

(QS. An-Najm: 39)

Para ulama telah menjawab keraguan itu dengan beberapa jawaban, yang paling shahih ada dua. Pertama, Manusia melalu usaha dan pergaulannya yang baik mendapatkan teman-teman, menikah, melahirkan anak-anak, memberikan kebaikan dan mendekatkan diri kepada mereka. Maka mereka pun mendoakannya agar Allah merahmatinya, menghadiahkan pahala kebaikan kepadanya, maka ini merupakan akibat dari usahanya sendiri.

Yang kedua, Al-Qur’an tidak mengingkari bahwa seorang manusia bisa memperoleh manfaat dari amal perbuatan orang lain. Melainkan, Al-Qur’an mengingkari hak seseorang dari amal perbuatan orang lain. Dalam kasus ini, orang yang melaksanakan amal baik-lah pemilik dari amal kebaikan itu. Dia bisa memberikan pahala itu kepada yang lain, atau menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Meskipun demikian, menyewa seseorang untuk membacakan Al-Qur’an (seorang qari) dan menyumbangkan pahala bagi yang sudah meninggal adalah suatu kebiasaan yang tidak pernah dilakukan oleh generasi ulama terdahulu, dan tidak pula dianjurkan oleh keempat Imam besar. Adapun bekerja sebagai qari untuk membacakan quran, semua ulama sepakat bahwa pekerjaan ini tidak diperbolehkan. Mereka hanya berbeda pendapat mengenai mendapatkan upah untuk mengajarkan bacaan Al-Qur’an dan (pelayananan keagamaan) lainnya.

Jawabannya jika seseorang membacakan Al-Qur’an dan mengajarkannya pada orang lain, dan sebagai balasannya mendapatkan hadiah atas bantuannya itu, maka hadiah yang dia terima akan dianggap sebagai sedekah, dan itu bisa diterima. Meskipun demikian, telah dinyatakan dalam Kitab “Al-Ikhtiyar” bahwa jika seseorang telah menuliskan wasiat bahwa sebagian dari hartanya harus diberikan kepada orang yang membacakan Al-Qur’an di kuburannya, maka wasiat semacam itu batal dan cacat, karena pemberian itu dianggap sebagai upah. Zahidi telah menuliskan dalam kitabnya Al-Ghaniyyah bahwa jika seseorang memberikan wakaf kepada orang yang akan membacakan Al-Qur’an di makamnya, maka pengkhususan seperti itu pun batal dan cacat.

Adapun mengenai pembacaan Al-Qur’an secara sukarela dan memberikan pahalanya bagi orang lain, maka amalan ini diperbolehkan seperti halnya ibadah haji, puasa dan sebagainya. Jika yang dikatakan adalah pembacaan Al-Qur’an seperti ini bukan kebiasaan yang diamalkan oleh para generasi Salaf terdahulu, atapun tidak pernah diriwayatkan dari Nabi, maka jawabannya, jika sang penanya mengakui legalitasnya sama dengan ibadah haji, puasa dan doa, maka dia bisa ditanya: apa perbedaan antara semua itu dengan pembacaan Al- Qur’an?

Adapun generasi Salaf tidak pernah melaksanakan kebiasaan ini, bagaimana kita menentukan larangan secara umum? Jika dikatakan bahwa Nabi(ﷺ) mengizinkan haji badal, puasa dan sebagainya, namun tidak mengizinkan pembacaan Al-Qur’an tersebut, jawabannya adalah ibadah haji, dan puasa dibolehkan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan para sahabah. Beliau tidak memulai pembahasan tentang topik itu. Seseorang bertanya tentang hukum menghajikan orang yang sudah meninggal dan beliau menjawab bahwa haji badal itu hukumnya mubah. Adapun bagi amal ibadah lainnya, beliau tidak mengeluarkan fatwa untuk amal ibadah lainnya.

Di satu sisi, jika seseorang mengatakan bahwa mayat memperoleh manfaat dari Al- Qur’an yang dibacakan di makam, karena dia mendengarkan ayat-ayat Allah, maka pernyataan itu tidak berasal dari Imam-Imam besar mana pun. Begitu pula dengan tiga pendapat mengenai pembacaan Al-Qur’an di sekitar makam. Apakah tidak dianjurkan? Atau, dibolehkan jika dilaksanakan ketika penguburan? Atau, apakah hal itu tidak dianjurkan setelah pemakaman?

Diantara mereka yang berpendapat bahwa semua kebiasaan itu harus dilarang sepenuhnya adalah Abu Hanifah, Imam Malik dan menurut satu riwayat juga Imam Ahmad. Mereka mengeluarkan fatwa bahwa kebiasaan itu adalah bid’ah karena Sunnah tidak pernah mengesahkannya. Argumen yang menguatkannya adalah amalan itu sama dngan sholat. Dan sholat dilarang di sekitar makam. Oleh sebab itu, fatwa yang sama berlaku untuk pembacaan Al-Qur’an di sekitar makam.

Namun, sebagian telah berpendapat bahwa tidak ada salahnya dan tidak ada ruginya membacakan Al-Qur’an di sekitar makam. Muhammad bin Hasan al-Syahbani dan menurut riwayat yang kedua, Imam Ahmad pun berpendapat demikian. Pendapat mereka itu berdasarkan pada kesaksian yang diutarakan oleh bin Umar agar ayat pertama dan terakhir di surah Al-Baqarah dibacakan di dekat makamnya, selama pemakaman. Pembacaan Surah Al- Baqarah itupun diriwayatkan oleh beberapa dari kaum Muhajirin. Adapun mengenai amalan lainnya, seperti menugaskan seseorang membaca quran di makam, hal ini tidak disukai karena Sunnah tidak menyebutkan sama sekali, atau apapun yang sejenisnya telah diriwayatkan oleh beberapa generasi awal muslim. Tampaknya ini adalah pendapat yang lebih kuat dibandingkan pendapat lainnya. Pendapat ini mengharmonisasikan kedua dalil tersebut.

image

Allah mengabulkan doa-doa dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan

Berikut ini ayat-ayat Al-Qur’an yang mendukung hal tersebut:

ﵞ٠٦ ... مۚۡكُلَ بۡجِتَسۡأَ ىٓنِوعُدۡٱ مُكُبُّرَ لَاقَوَ ﵟ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS. Al- Mu’min: 60)

Dan,

ﵞ ٦٨١ ... نِۖاعَدَ اذَإِ عِادَّلٱ ةَوَعۡدَ بُيجِأُ بٌۖيرِقَ ى نِإِفَ ينِ عَ يدِابَعِ كَلَأَسَ اذَِإوَﵟ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adakah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah: 186)

Keyakinan mayoritas manusia dari kalangan kaum muslimin dan para pengikut agama lainnya adalah bahwa doa termasuk sebab paling kuat dalam mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Allah mengabarkan tentang orang-orang kafir bahwa bila mereka ditimpa kesulitan di lautan, mereka memohon kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya.

Jawaban Allah terhadap doa hambaNya, Muslim atau kafir dan pemberianNya terhadap permintaan adalah sejenis dengan rizkiNya kepada mereka. Itu termasuk konsekuensi rububiyahNya yang mutlak atas hamba, selanjutnya itu bisa menjadi fitnah dan mudarat bagi hamba tersebut, sebab kekafiran dan kefasikannya menuntut demikian.

Ibnu Uqayl menuturkan bahwa nasihat Allah kepada doa-doa memiliki konotasi yang tersembunyi:

Pertama: Keberadaan (Dzat Allah), karena yang tidak ada tidak diseru dalam doa. Yang kedua: Kemahakuasaan. Yang membutuhkan orang lain tidak diseru.

Yang ketiga: Maha Mendengar. Yang tuli tidak diseru. Keempat: Maha Pemurah. Yang pelit tidak diminta.

Yang Kelima: Pengasih. Yang tidak mengasihi tidak bisa diminta.

Yang Keenam: Kekuatan. Yang tidak memiliki kekuatan tidak bisa diseru.

Selain itu, Allah sendiri yang menggerakkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Sehingga, rahmat ini berasal dari Dia dan kewajiban Dia untuk menjawabnya seperti pernyataan Ibnu Umar: “Aku tidak begitu mempedulikan jawaban (atas doaku) seperti aku mempedulikan doa itu sendiri. Jika aku diilhami untuk berdoa, maka jawaban doa akan mengikutinya.” Allah () berfirman:


نَودُّعُتَ امَّمِ ةٖنَسَ فَلۡأَ ۥٓهُرُادَقۡمِ نَاكَ مٖوۡيَ ىِف هِيۡلَإِ جُرُعۡيَ مَّثُ ضِۡرأَۡلٱ ىَلإِ ءِآمَسَّلٱ نَمِ رَمۡأَۡلٱ رُِ بدَيُ ٤ﵟ

ﵞ ٥

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. As-Sajdah: 5)

Ayat di atas bermakna hanya Allah yang memulai suatu urusan. Kemudian urusan yang telah Dia mulai itu dikembalikan pada-Nya. (Menerapkannya dalam situasi kita) Allah-lah

() yang mengilhami manusia untuk berdoa. Allah menjadikannya sarana untuk memberikan

pada hamba-Nya suatu kebaikan yang Dia kehendaki - sama seperti amal perbuatan lain dan pahalanya. Dia pula yang menggerakkan manusia untuk bertaubat. Sehingga, Dia-lah yang menerima taubat itu. Sama seperti Dia menggerakkan manusia pada kebaikan dan kemudian memberikan pahala atas kebaikan itu, dengan cara yang sama Dia memotivasi hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya dan menjawab doa-doa mereka.

Keraguan seringkali dimunculkan, yaitu beberapa manusia berdoa namun doa mereka tidak kunjung dikabulkan atau tidak diberikan apa yang mereka minta dalam doa mereka. Ada beberapa jenis jawaban doa. Yang pertama, jawaban doa bersifat lebih umum dari hanya sekedar memberikan apa yang diminta oleh seorang manusia, karena Nabi (ﷺ) telah menjelaskan:

امَّإِ .لٍااصخِ ثِالااث ىدا حْإِ ااِبِ هُااطعْاأ َلَّإِ مٍحِرا ةُعايطِقا َلاوا ثٌْإِ اهايفِ اسيْال ةٍواعْدا بِ اّللَّا وعُدْاي لٍجُرا نْمِ اما

لاوسُرا َيا :اولُااق ، »اهاال ثْمِ رِ شَّلا انمِ هُنْعا افرِصْاي وْاأ ،اهاال ثْمِ ْيِْاْلْا انمِ هُال راخِدَّاي وْاأ ،هُاتواعْاد هُال الج ِ عاُ ي نْاأ

رُ اثكْاأ ُّللَّا :لاااق ،رُثِكْنُ اذًإِ ،ِّللَّا

“Tidak ada seorang laki-laki yang berdoa kepada Allah dengan satu doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan rahim, kecuali Allah memberinya satu dari tiga perkara: menyegerakan doanya untuknya, atau menyimpan untuknya kebaikan sepertinya, atau memalingkan darinya keburukan sepertinya.” Mereka berkata: “Wahai rasulullah, kalau demikian, kami akan memperbanyak doa”, Beliau menjawab: “(karunia) Allah lebih banyak (lagi).” Hadits ini riwayat Ahmad namun disebutkan dalam Muslim.170

Jawaban lainnya doa merupakan sebab untuk mendapatkan apa yang diinginkan, dan sebuah sebab memiliki syarat-syarat dan penghalang-penghalang. Bila syarat-syaratnya terwujud dan penghalang-penghalangnya terangkat, maka terwujudlah apa yang diinginkan, bila tidak maka tidak terwujud, sebaliknya yang terwujud bisa selainnya. Doa tidak ubahnya seperti alat di tangan seorang tukang, pengaruhnya bergantung bagaimana ia menggunakannya, dan dengan kekuatan seperti apa. Terkadang muncul penghalang.

Nampaknya teks-teks yang saling kotradiktif menjanjikan atau memberikan akibat yang menakutkan adalah dari jenis ini. Seringkali, kita melihat manusia berdoa dengan lafadzh doa tertentu, dan doa mereka dijawab. Mungkin kebutuhan manusia, atau


image

170 Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (3/18) dan Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (71)

kecondongan hatinya kepada Allah, bersamaan dengan doanya, atau dia telah melakukan kebaikan yang bisa memicu jawaban yang baik dari Allah, atau bisa juga pendoa memanjatkan doa di waktu-waktu yang mustajab, dan sebagainya, banyak sekali alasan untuk mendapatkan jawaban doa yang baik. Namun, ada juga orang yang berpikir rahasia jawaban doa tergantung dari lafadzh doa. Sehingga, dia mengambil lafadzh dari para pendoa yang berhasil tanpa memenuhi syarat-syarat lainnya (sehingga dia gagal mendapatkan hasil yang serupa dengan temannya itu).

FASAL: ALLAH MEMILIKI SEGALA SESUATU


image

Allah memiliki segala sesuatu, dan Dia tidak dimiliki oleh sesuatu pun. Walaupun sekejap mata, tidak mungkin bagi makhluk untuk tidak membutuhkan Allah. Barangsiapa yang merasa tidak membutuhkan Allah walaupun sekejap mata, maka dia telah kafir dan dia termasuk di antara orang-orang yang binasa. Allah marah dan ridha, (tapi) tidak seperti (marah dan ridhanya) seseorang dari makhluk.

Pendapat para ulama dari kalangan Salafus salih dan Imam-Imam besar menetapkan sifat Murka Allah, Persetujuan, Kebencian, Cinta, dan sifat-sifat lainnya yang telah dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka pun melarang kita untuk mencari penjelasan lebih lanjut atau berusaha menakwilkannya (menafsirkan) dalam cara yang

dianggap menghinakan Allah. Allah () telah berfirman:

ﵞ ٨١ .... ةِرَجَشَّلٱ تَۡحتَ كَنَوعُيِابَيُ ذۡإِ نَينِمِؤۡمُلۡٱ نِعَ ّلِلَُّٱ يَضِرَ دۡقَلَّﵟ

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. (QS. Al-Fath: 18)

Dan Allah () pun berfirman:

ﵞ٣٩ .... ۥهُنَعَلَوَ هِيۡلَعَ ّلِلَُّٱ بَضِغَوَ...

Allah murka kepadanya dan mengutuknya (QS. An-Nisa: 93)

Penulis menambahkan: “(tapi) tidak seperti (marah dan ridhanya) seseorang dari makhluk,” untuk membantah para musyabbihah.

Juga tidak bisa dikatakan bahwa ridho berarti keinginan berbuat kebaikan, atau tentang kemurkaan, merupakan keinginan untuk menghukum. Jenis takwil (penafsiran) seperti ini berarti menafikan Sifat-Sifat Allah.

Yang menafsirkan Murka dan Ridha Allah sebagai niat Allah untuk menghukum atau berbuat kebaikan, bisa ditanya: mengapa engkau menafsirkannya seperti itu? Maka orang itu tidak punya cara selain menjawab karena murka tidak lain adalah mendidihnya darah dari dalam hati, dan ridha adalah kecenderungan hawa nafsu, dan keduanya tidak layak untuk Allah, sifat-sifat tersebut ditakwilkan. Ia dapat dijelaskan bahwa mendidihnya darah dari dalam hati adalah akibat dari kemarahan (dan bukan sebaliknya).

Hal yang sama dapat dikatakan mengenai keinginan kita. Ia adalah kecenderungan terhadap apa yang lebih sesuai dengan kebutuhan seseorang. Tak satu pun dari kita menginginkan selain apa yang bisa membantunya memperoleh kebaikan atau menjauhkan keburukan. Karena manusia membutuhkan apa yang dia inginkan dan bergantung kepadanya. Kebahagiaannya akan bertambah sejalan dengan perolehannya dan sebaliknya akan berkurang karena pengingkarannya. Sehingga, makna yang kalian berikan untuk kata-kata (murka dan ridha) bisa diartikan sama dengan makna yang engkau menolak untuk menerima. Jika salah satu diantara keduanya benar, maka yang lainnya juga benar. Jika salah satunya tidak mungkin, maka demikian pula yang lainnya.

Jika mereka menjawab bahwa niat yang dinisbatkan kepada Allah berbeda dengan niat yang dinisbatkan kepada makhluk-Nya, karena masing-masing memiliki konotasi tersendiri, maka bisa dikatakan sebagai jawabannya kalian harus menerima bahwa Murka dan Ridha yang telah Allah sebutkan tentang diriNya pada kenyatannya berbeda dari yang dinisbatkan kepada hamba-hambaNya, meskipun keduanya merupakan realitas dalam ekstistensinya sendiri.

Dalam keadaan tersebut, yang dikatakan tentang keinginan, juga berlaku sama dengan sifat-sifat ini. Sifat-sifat ini tidak membutuhkan takwil. Justru takwil harus dijauhkan karena dengan demikian, kalian akan terhindar dari kontradiksi. Sehingga kalian juga tidak perlu untuk menyangkal Nama-nama dan sifat-sifat Allah. Meninggalkan makna jelas dari ayat- ayat Quran, untuk memilih makna yang tersirat adalah dilarang. Terlebih, segala sesuatu yang tidak dapat diterima akal manusia tidak mengharuskan penakwilan. Kecerdasan berbeda antara orang yang satu dengan lainnya. Mungkin saja seseorang berkata bahwa kecerdasannya mengarahkan kepada sesuatu yang berkebalikan dengan arah kecerdasan dari orang lain.

Inilah yang bisa kita sampaikan kepada siapapun yang mengingkari Sifat Allah yang manapun karena ada yang setara -meskipun hanya dalam nama- di antara makhluk-makhluk- Nya. Karena jika hal ini dilakukan, maka tidak akan lepas dari menyifati Allah dengan sesuatu yang tidak Dia sifatkan kepada diriNya sendiri, bahkan, termasuk sifat Wujud. Wujud yang dimiliki oleh manusia itu jauh berbeda dari Wujud Allah, yang merupakan suatu sifat yang pantas untuk-Nya.

Wujud Allah contohnya menghapuskan ketiadaan-Nya. Sebaliknya, keberadaan makhuk tidak menghapuskan bahwa mereka akan menjadi tiada. Sehingga, nama yang Allah sifatkan bagi diriNya, juga yang disifatkanNya kepada makhlukNya, seperti hidup, berilmu, kekuatan, atau apa yang disifatkanNya pada diriNya sementara juga menyifatkannya pada hambaNya, seperti kemarahan, persetujuan, dan seterusnya, pada semua kasus ini, kita mengetahui karena keharusan, apa makna sesungguhnya istilah-istilah ini ketika disifatkan untuk Allah ().

Kita juga meyakini bahwa makna-makna tersebut adalah benar dan memang ada. Kita juga menyadari secara insting bahwa antara dua makna (yang disifatkan kepada Allah dan yang disifatkan untuk makhluk) terdapat suatu kesamaan. Namun (kita merasakan bahwa) makna yang disifatkan kepada Allah () tidak ditemukan pada dzat selain Allah. Bahkan

makna yang sepenuhnya sama tidak ada melainkan dalam pikiran, tak ada yang ditemukan di

luar itu di mana saja selain dalam arti yang spesifik. Sehingga, bagi keduanya (Allah dan makhlukNya) maknanya sesuai dengan yang pantas bagi masing-masing.

FASAL: SAHABAT NABI


image

Dan kami mencintai para sahabah nabi. Kami tidak berlebihan (ifrath) dalam mencintai seseorang di antara mereka. Kami tidak bara’ (bersikap anti) terhadap salah seorang dari mereka. Kami benci kepada orang yang membenci mereka. Dia (yang membenci para sahabat) menyebut-nyebut mereka dengan hal-hal yang tidak baik, sedangkan kami tidak menyebut-nyebut tentang mereka, kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah Agama, Iman dan Ihsan. Dan kebencian mereka adalah kekafiran, kemunafikan dan kedzaliman.

Karena Allah menyanjung mereka, demikian pula NabiNya. Allah ridha kepada mereka dan menjanjikan “kebaikan” bagi mereka, sebagaimana firman-Nya:

اْوضُرَوَ مۡهُنۡعَ ّلِلَُّٱ يَضِرَّ نٖسَٰحۡإِبِ مهُوعُبَتَّٱ نَيذِلَّٱوَ رِاصَنأَۡلٱوَ نَيرِجِهَٰمُلۡٱ نَمِ نَولُوَّأَۡلٱ نَوقُبِسَّٰلٱوَﵟ ﵞ ٠٠١ مُيظِعَلۡٱ زُوۡفَلۡٱ كَلِذَٰ اۚدٗبَأَ آهَيفِ نَيدِلِخَٰ رُهَٰنۡأَۡلٱ اهَتَۡحتَ يرِۡجتَ تٖنَّٰجَ مۡهُلَ دَّعَأَوَ هُنۡعَ

Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (QS. At-Taubah: 100)

Dan Allah () berfirman:

ﵞ ٩٢ ...ادٗجَّسُ اعٗكَّرُ مۡهُىٰرَتَ مۖۡهُنَيۡبَ ءُآمَحَرُ رِافَّكُلۡٱ ىَلعَ ءُآدَّشِأَ ۥٓهُعَمَ نَيذِلَّٱوَ ِّۚلِلَّٱ لُوسُرَّ د مََّحمُّﵟ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku dan sujud (QS. Al-Fath: 29)

Dalam Shahihain terdapat riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri. Riwayat itu tentang suatu perselisihan yang terjadi antara Khalid bin Walid dan Abdul Rahman bin Auf. Khalid mencaci Abdul Rahman, lalu Nabi (ﷺ) berkata:

هُفاي صِان َلاوا

مْهِدِاحاأ دَّمُ كارادْاأ اما

،ابًهُذُ دٍحُأُ الثْمِ اقفا نْاأ وْال مْكُدا احاأ نَّإِاف ،ّبِااحصْاأ نْمِ ادًاحاأ اوبُّسُات َلا

“Janganlah kalian mencela para sahabatku, sesungguhnya bila salah satu dari kalian menginfakkan emas sebesar uhud, niscaya dia tidak menyamai satu mud atau setengahnya yang mereka infakkan.” 171

Sehingga, kita bisa melihat larangan Nabi kepada generasi setelahnya (khalaf), untuk tidak menghina dan menentang salah satu sahabah terdahulu, karena Abdurrahman tergolong angkatan pertama para sahabat yang masuk Islam. Oleh sebab itu, jika seseorang seperti Khalid bin Walid saja, yang memeluk Islam sebelum fathul Mekah. Lalu bagaimana dengan orang yang sama sekali bukan sahabah Nabi?

Secara kebetulan, sabda Nabi,

»مْتُ يْدااتهْا مُتُ يْداات قْا مُهِ ِياِبِ ،مِوجُنُّلااك ّبِااحصْاأ«

“Sahabahku seperti halnya bintang. Siapapun yang kalian ikuti, maka kalian akan terbimbing,” 172

adalah riwayat yang lemah dan tidak ditemukan dalam kitab hadits yang shahih manapun. Namun, berikut ini riwayat yang shahih yang Nabi bersabda:

»ةِرااجشَّلا اتُْتا اعايِبا دٌاحاأ راانَّلا لُخُدْاي َلا«

“Tidak ada satupun dari sahabahku yang berbai’at di bawah pohon itu akan masuk Neraka.” 173

Abdullah bin Mas’ud menggambarkan mereka dengan sangat tepat:

،هِتِالااسرِبِ هُاثعا ات بْاوا ،هِسِفْ انلِ هُافااطصْااف ،دِاابعِلْا بِولُ قُ اْيْاخ دٍمَّاُمُ ابلْ اق دا اجوا اف ،دِاابعِلْا بِولُ قُ ِفِ رااظان اّللَّا نَّإِ

بِولُ قُ اْيْاخ هِبِااحصْاأ ابولُ قُ دا اجوا اف ،املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص دٍمَّاُمُ بِلْ اق دا عْا ب دِاابعِلْا بِولُ قُ ِفِ رااظان ثَُّ

هِ ِيبِان اءارازاوُ مْهُالعا اجاف ،دِاابعِلْا

“Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba, Dia mendapati hati Nabi Muhammad adalah hati manusia terbaik, maka Allah memilihnya untuk Diri-Nya, dan mengutus beliau untuk membawa risalahNya. Kemudian Allah melihat hati para hamba setelah hati nabi Muhammad, Allah melihat hati para sahabatnya adalah hati manusia terbaik. Maka Allah mengangkat mereka sebagai pendukung nabiNya” 174

Dengan mengacu pada pernyataan Ath-Thahawi, “Dan kebencian mereka adalah kekafiran, kemunafikan dan kedzaliman,” kami sudah membahas tentang pentakfiran saat membahas tentang para pelaku bid’ah. Kekafiran ini (sepert ucapan Ath-Thahawi) sejalan

dengan istilah yang disebutkan dalam firman Allah ():


image

171 Diriwayatkan oleh Bukhari (3673) dan Muslim (2541)

172 Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayani Ilmi wa Fadhlihi (2/91)

173 Shahih. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3859) dan Abu Dawud (4623)

174 Hasan. Hadits Mauquf. Diriwayatkan oleh Ahmad (1/379)

نورُفِااكلْا مُهُ اكئِ الوْأُاف ُّلل ا لازاناأ ااِبِ مكُُْيا َْلَّ نماوا

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

FASAL: AL-KHULAFA AR-RASYIDUN


image

Kami menetapkan kekhalifahan setelah Nabi: pertama, untuk Abu Bakar Ashiddiq, (sebagai sikap) mengutamakan, dan mendahulukannya dari semua Umat ini.

Ini adalah pendapat kami. Namun, Umat Islam berbeda pendapat mengenai pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah. Apakah dilaksanakan atas perintah dari Nabi, ataukah hanya berupa ijtihad? Hasan al-Basri dan sejumlah beberapa Ahli Hadits meyakini bahwa pengangkatan beliau atas perintah Nabi, meskipun secara samar dan isyarat, tetap berasal dari Nabi (ﷺ). Sebagian dari mereka menyatakan bahwa pengangkatan beliau dalam dalil yang jelas. Namun, sebagian dari Ahli hadits lainnya, Muktazilah dan Asy’ariyah telah berpendapat bahwa penunjukkan beliau didasarkan pada pilihan dan kerelaan.

Faktanya, kami mendapati beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa kekhalifahan Abu Bakar dilaksanakan berdasarkan perintah dari Nabi (ﷺ). Salah satu riwayat itu terdapat dalam Bukhari, yang diriwayatkan oleh Jubair bin Mut’im yang berkata:

؟كا دْجِاأ مْال اف تُئْجِ نْإِ اتيْاأرااأ : تْلاااق ،هِيْالإِ اعجِرْ ات نْاأ اهارامااأاف ،املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِبَِّنَّلا ةٌاأرامْا تِاتاأ«

رٍكْاب ِبااأ ِتِأْاف ِنِيدَِتِا اَْل نْإِ :لاااق ، اتوْما لْا دُيرِتُ ااَنَّاأاك

“Seorang wanita datang kepada Nabi (ﷺ). Beliau memerintahkannya agar kembali nanti. Dia bertanya, “Bagaimana bila aku datang lagi dan tidak mendapatkan anda?” Sepertinya maksudnya adalah kematian. Beliau menjawab, “Bila kamu tidak mendapatiku, maka datanglah kepada Abu Bakar.” 175

Ada pula riwayat-riwayat lainya yang mendukung riwayat ini yang bisa dikatakan sebagai dalil yang membahas pengangkatan tersebut.

Kemudian ada pula hadits dari Hudzaifah bin al-Yaman yang meriwayatkan bahwa Nabi (ﷺ) bersabda:

».راما عُوا رٍكْاب ّبِاأ :يدِعْ اب نْمِ نِيْذا لَّلِبِ اودُات قْا«

“Teladanilah dua orang sesudahku: Abu Bakar dan Umar.176

Para Ahli Hadits telah meriwayatkan hadits ini.

Shahihain juga meriwayatkan oleh Aisyah tentang ayahnya. Beliau berkata:


image

175 Diriwayatkan oleh Bukhari (3659) dan Muslim (7220)

176 Shahih. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3622) dan Ibnu Majah (97)

،كِااخاأوا كِِبااأ ِلِ يعِدْا :لااقا اف ،هِيفِ ائدِبُ يذِلَّا مِوْ ايلْا ِفِ املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا يَّالعا الاخاد«

»رٍكْاب ِبااأ َلَّإِ انومُلِ سْمُلْاوا ُّللَّا َباَْيا :لاااق ثَُّ ،ِبًااتكِ رٍكْاب ّبِاْلِ ابتُكْاأ َّتَّاح

“Di hari Rasulullah sakit keras, beliau (Rasul) masuk ke rumahku dan berkata: “Panggillah Abu Bakr, ayahmu dan saudaramu, sehingga aku tulis satu tulisan (wasiat). Allah dan Orang-orang beriman tidak akan meridhai selain Abu Bakar.”177

Berbagai riwayat tentang Nabi yang lebih memilih Abu bakar dibandingkan sahabah lainnya sangat masyhur. Salah satunya adalah:


“Mintalah Abu Bakar untuk memimpin sholat.”178

»سِانَّلِبِ لِاصيُلْ اف رٍكْاب ِبااأ اورُمُ«

Kompilasi-kompilasi yang terpercaya juga memiliki riwayat lainnya tentang sabda Nabi ketika di atas mimbar:

َلَّإِ ةٌاخوْاخ دِجِسْما لْا ِفِ ّيَّاقا بْ اي َلا ،الًيلِاخ رٍكْاب ِبااأ تُذْاَّتََّلا الًيلِاخ ضِرْاْلْا لِهْاأ نْمِ اذًخِتَّمُ تُنْكُ وْال« »رٍكْاب ّبِاأ ةُاخوْاخ َلَّإِ ، تْدَّسُ

“Seandainya aku boleh mengangkat seorang khalil -kekasih terdekat- selain rabbku niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku. Dan tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di (dinding) masjid ini, kecuali pintu Abu Bakar.”179

Adapun mereka yang berpandangan bahwa Nabi tidak menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah, setidaknya bukan melalui hadits yang valid. Mereka berargumen dengan riwayat dari bin Umar yang mengabarkan bahwa Umar bin al-Khatab berkata:

نْما فْلِخْتاسْاي مْلا اف ، فْلِخْتاسْاأ َلا نْإِوا ،رٍكْاب ِبااأ ِنِعْا ي ،ِن ِمِ ٌْيْاخ وا هُ نْما افال خْاتسْا دِقا اف فْلِخْاتسْاأ نْإِ

املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لاوسُرا ِنِعْا ي ،ِن ِمِ ٌْيْاخ وا هُ

“Bila aku menunjuk penerusku, maka orang yang lebih baik dariku telah melakukannya, maksudnya Abu Bakar. Dan bila aku tidak menunjuk penerusku, maka orang yang lebih baik dariku tidak melakukannya, maksudnya rasulullah.” 180

Abdullah bin Umar menambahkan:

Ketika beliau menyebutkan Nabi, aku tahu bahwa beliau tidak akan mengusulkan penerus untuknya.”181


image

177 Diriwayatkan oleh Muslim (2387)

178 Diriwayatkan oleh Bukhari (664)

179 Diriwayatkan oleh Muslim (2383)

180 Diriwayatkan oleh Bukhari (7218) dan Muslim (1823)

181 Tambahan ini tidak ada dalam naskah Asli Syarah Thahawiyah.

Yang benar tampaknya, meskipun hanya Allah Yang Maha Mengetahui, Nabi (ﷺ) tidak menuliskan perintah tertulis yang menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah sepeninggal beliau. Beliau memang berniat demikian. Namun berubah pikiran dan berkata:

رٍكْاب ِبااأ َلَّإِ انومُلِ سْمُلْاوا ُّللَّا َباَْيا

“Allah dan orang-orang beriman tidak akan meridhai siapapun kecuali Abu Bakar.” 182

Sebenarnya ini adalah cara penunjukkan yang lebih kuat.

Nabi membiarkan umat Muslim mengetahui pilihannya atas Abu Bakar sebagai penggantinya, dan mengarahkan mereka untuk menerima pilihan beliau dengan cara berbagai perkataan dan perbuatan. Beliau pun membicarakan tentang penunjukkannya itu dalam istilah-istilah yang halus, dengan cara mengungkapkan pilihannya. Seandainya semua ini bukan bukti yang cukup untuk mengumumkan pilihan beliau, maka beliau akan mengungkapkannya secara terang-terangan, tidak meninggalkan keraguan sedikit pun.

Bukhari Muslim memiliki riwayat lain tentang Nabi yang bersabda:

هِلِاماوا هِسِفْ انبِ ِنِااساواوا ، اتقْدا اص :رٍكْاب وبُاأ لاااقوا ، اتبْذا اك :مْتُلْقُ اف ،مْكُيْالإِ ِنِثاعا اب اّللَّا نَّإِ

“Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian, maka kalian ucapkan: ‘Engkau berdusta.’ Dan Abu Bakar berkata, “Dia (rasulullah ) jujur.’ Dan membantuku dengan jiwanya dan hartanya.”183

image

Kemudian, untuk Umar bin al-Khatab.

Yakni, kami menetapkan kekhalifahan sesudah Abu Bakar untuk Umar bin al-Khatab dan hal itu lewat penunjukkan Abu Bakar terhadapnya di samping kesepakatan umat atasnya. Keutamaan Umar sangat banyak dan tersohor sehingga tidak perlu disebutkan dan tidak mungkin diingkari. Muhammad bin al-Hanafiyah telah mengabarkan bahwa dia bertanya kepada ayahnya, Ali bin Abi Thalib,

،َلا ؟ تُلْقُ اف ؟ فُرِعْ ات اماوااأ ،ِنَّابُ َيا :لا اقا اف ؟املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لِوسُرا دا عْا ب سِانَّلا ُْيْاخ نْما ،تِاباأ َيا

اما .لااقا اف ؟ اتنْاأ ثَُّ : تُلْقُ اف !نُاما ثْعُ ثَُّ :لاوقُا ي نْاأ تُيشِاخوا ،رُما عُ :لاااق ؟ نْما ثَُّ : تُلْ قُ ،رٍكْاب وبُاأ :لاااق

ّيا مِلِسْمُلْا انمِ لٌجُرا َلَّإِ َنااأ

“Wahai Ayah, siapakah orang terbaik setelah Nabi?” Beliau menjawab: “Wahai putraku. Kamu belum tahu?” Aku menjawab: “Ya, aku belum tahu.” Beliau menjawab: “Abu Bakar.” Aku pun bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Umar.” Aku khawatir


image

182 Dirirwayatkan oleh Muslim (2385)

183 Diriwayatkan oleh Bukhari (3661)

bapakku akan berkata. “Kemudian, Ustman.” Maka aku mendahuluinya, “Kemudian anda.” Beliau menjawab.” Aku ini hanya seorang Laki-laki di antara kau Muslimin.”184

Shahih Muslim pun meriwayatkan bahwa bin Abbas mengatakan bahwa ketika Umar diletakkan di atas kerandanya, orang-orang mengerumuninya, sambil mereka mendoakan, memuji dan menyolatkannya, sebelum dia diangkat, aku di antara kerumunan orang-orang, tidak ada yang mengejutkanku kecuali seorang laki-laki yang memegang kedua pundakku dari belakangku. Aku menoleh ternyata dia adalah Ali. Lalu beliau mendoakan Umar dan berkata:

اعما ُّللَّا اكلاعاُْيا نْاأ نُّظُاْلا تُنْكُ نْإِ ،ِّللَّا ميُْاوا ، اكنْمِ هِلِما عا لِثِِْبِ اّللَّا ىقالْاأ نْاأ َِّلاإِ بَّاحاأ ادًاحاأ اتفْلَّاخ اما

رٍكْاب وبُاأوا َنااأ تُئْجِ :لُوقُا ي املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لاوسُرا عُاْسْاأ اما اًْيثِاك تُنْكُ ِن اِأ اكلِاذوا ، اكيْ ابحِااص

نْاأ نُّظُاْلا وْاأ ،وجُرْاْلا تُنْكُ نْإِاف ،رُما عُوا رِكْاب وبُاأوا َنااأ تُجْرااخوا ،رُما عُوا رٍكْاب وبُاأوا َنااأ تُلْاخادوا ،رُما عُوا

اما هُعاما ُّللَّا اكالعاُْيا

“Aku tidak meninggalkan seseorang yang lebih aku sukai untuk bertemu Allah dengan membawa amal seperti amalnya daripada dirimu. Demi Allah, aku yakin Allah menjadikanmu bersama kedua sahabatmu, hal itu karena aku sering mendengar Nabi berkata: “Aku datang bersama Abu Bakar dan Umar,” “Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar,” “Aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar,” Aku berharap atau aku yakin Allah menjadikanmu bersama keduanya.”185

Shahihain pun mencatatkan riwayat yang menyatakan bahwa Nabi bersabda:

» اكج ِ اف اْيْغا اجًّفا اكلااس َلَّإِ اجًّفا اكًلِااس نُااطيْشَّلا اكايقِلا اما ،هِدِايبِ يسِفْا ن يذِلَّاوا !بِاطَّاْلْا انبْا َيا اهًيإِ«

“Cukup wahai bin al-Khatab. Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, Setan tidak bertemu denganmu di satu jalan pun, kecuali dia mengambil jalan yang bukan jalanmu.”186


image

Kemudian untuk Utsman.

Yakni kami menetapkan kekhalifahan untuk Utsman setelah Umar. Bukhari pun mencatat riwayat yang panjang, yang membahas tentang detik-detik terakhir kehidupa Umar, konsultasi atas pengangkatan khalifah sepeninggal beliau dan bersumpah untuk Utsman. Diriwayatkan oleh ‘Amr bin Maimûn, ia memulai kisahnya dengan berkata: “Empat hari


image

184 Diriwayatkan oleh Bukhari (3671)

185 Diriwayatkan oleh Bukhari (3677) dan Muslim (2389)

186 Diriwayatkan oleh Bukhari (3294) dan Muslim (2396)

sebelum ditikam, aku melihat ‘Umar bin Khaththâb di Madinah menghampiri Hudzaifah bin Al-Yamân dan ‘Utsmân bin Hunaif.

Beliau bertanya, “Bagaimana pekerjaan kalian? Apakah kalian berdua takut membebani bumi dengan apa yang tidak dapat dipikulnya?” Mereka menjawab,”Kami telah membebaninya sebuah urusan yang dapat diselesaikan. Tidak banyak yang tersisa.” -Perlu diketahui, ‘Umar telah mendelegasikan mereka untuk memungut jiz-yah atas penduduk yang wajib membayarnya.-

Kemudian ‘Umar berkata lagi: “Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberiku keselamatan, niscaya tidak akan aku biarkan para janda di Irak membutuhkan seorang lelaki (pelindung) setelahku nanti.”

‘Amr melanjutkan: “Tidaklah empat hari berlalu setelah itu, kecuali beliau terkena tikaman. Aku berdiri di dekat beliau (dalam shalat) yang dipisahkan Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma pada hari penikaman. Setiap saat melewati antara shaf, beliau berseru: “Luruskan!”, hingga ketika sudah tidak terlihat adanya celah, maka beliau ke depan dan bertakbir untuk shalat Subuh. Kadang beliau membaca surat Yusuf atau An-Nahl atau yang sejenis di rakaat pertama, sampai orang-orang banyak berdatangan. Saat beliau ingin bertakbir, terjadilah penikaman. Ketika ditikam, beliau mengatakan: “Seekor anjing telah membunuhku (atau memakanku)”. Kemudian orang kafir (si penikam) itu membabi buta dengan pisau yang bermata dua. Dia tidak melewati orang di kanan kirinya, kecuali dengan menikamnya. Sampai berjumlah tiga belas orang. Tujuh di antaranya meninggal. Ketika melihat pemandangan itu, seorang lelaki melemparkan mantel orang itu. Maka, (tatkala) si penikam yakin akan tertangkap, akhirnya ia bunuh diri. ‘Umar Radhiyallahu anhu meraih tangan ‘Abdur-Rahman Radhiyallahu anhu yang berada di dekatnya (agar meneruskan shalat bersama jama’ah). Ia melihat semua kejadian itu. Sedangkan orang yang berada di belakang, tidak mengetahui apa-apa, hanya saja mereka sudah tidak lagi mendengar suara ‘Umar Radhiyallahu anhu. Mereka mengatakan: “Subhanallah!”. Maka ‘Abdur-Rahman bin ‘Auf meneruskan shalat yang pendek. Ketika orang-orang telah pulang, ‘Umar bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: “Coba lihat siapa yang membunuhku!

Ia berkeliling sejenak dan kembali dengan menjawab: “Ia budak Mughirah”.

‘Umar berkata: “Semoga Allah membinasakannya, sungguh aku telah memerintahkan dia berbuat ma’ruf. Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku beragama Islam. Sungguh dahulu kamu dan bapakmu suka bila orang kafir non Arab banyak berkeliaran di Madinah.” (Abbas adalah orang yang paling banyak memiliki budak). Ibnu Abbas berkata, “Jika anda menghendaki, aku akan lakukan apapun. Maksudku jika kamu menghendaki kami akan membunuhnya.” Umar menjawab, “Kamu salah, (mana boleh kalian membunuhnya) mereka telah berbicara dengan bahasa kalian, sholat menghadap Kiblat kalian dan beribadah haji seperti haji kalian?”

Setelah itu, beliau dibopong ke rumahnya. Kami pun turut serta. Kemudian kami membawanya ke rumah. Seolah-olah orang-orang tidak pernah tertimpa musibah sebelumnya dengan penikaman ‘Umar ini. Beliau diminumi susu, tetapi air susunya keluar melalui luka tusuknya. Maka orang-orang mengetahui, bahwa beliau akan meninggal. Kami menemui

beliau, orang-orang pun mulai menyanjungnya. Ada seorang lelaki muda datang dan berkata: “Bergembiralah, wahai Amirul-Mukminin dengan kabar gembira dari Allah, karena menjadi sahabat Rasulullah dan jasa baik dalam Islam yang telah engkau ketahui. Kemudian engkau memegang kepemimpinan, dan engkau berbuat adil dan meraih mati syahid”.

‘Umar berkomentar: “Aku berharap itu cukup. Tidak menjadi bebanku atau menjadi milikku.” Dalam riwayat Bukhari disebutkan: “Aku berharap, seandainya aku bebas dari pemerintahan, tidak menjadi masalah atau kemudahan buatku”.

Saat pemuda itu berbalik untuk keluar dan ‘Umar melihat pakaiannya menyentuh tanah, beliau menyuruh: “Panggil kembali pemuda itu”. Ketika pemuda datang, maka ‘Umar menasihati: “Wahai anak saudaraku. Angkatlah pakaianmu. Itu lebih memelihara pakaianmu dan lebih menunjukkan ketakwaanmu”.

Kemudian ‘Umar menoleh ke arah anaknya sembari berkata: “Wahai ‘Abdullah bin ‘Umar. Hitunglah utang-utangku”.

Ternyata setelah dihitung, hutang beliau mencapai delapan puluh enam ribu dinar atau kurang lebih sebesar itu.

‘Umar berkata: “Kalau harta keluarga ‘Umar bisa melunasinya, maka bayarlah dengan hartanya. Jika tidak, mintalah ke Bani ‘Adi bin Ka’ab. Jika tidak mencukupi, mintalah ke suku Quraisy. Setelah itu, jangan minta ke lainnya. Tolong, lunasi utangku, dan bergegaslah ke ‘Aisyah Ummul-Mukminin dan katakanlah,’Umar mengucapkan salam kepadamu, jangan sebut Amirul-Mukminin. Hari ini aku bukan lagi pemimpin mereka’. Katakanlah,’Umar bin Khaththab meminta untuk bisa dimakamkan bersama dua sahabatnya (maksudnya Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq)”.

Maka ‘Abdullah mengucapkan salam dan minta ijin masuk dan menemui ‘Aisyah yang sedang terduduk menangis.

Ia berkata,”‘Umar bin Khaththab menyampaikan salam untukmu dan meminta agar bisa dikuburkan bersama dua sahabatnya”.

‘Aisyah menjawab,”Sebenarnya aku ingin memakainya sendiri. Tetapi hari ini, aku akan mengutamakan dirinya daripada diriku”.

Begitu kembali, maka diberitahukan kalau ‘Abdullah bin ‘Umar telah datang. ‘Umar berkata,”Tolong angkat aku”. Seorang lelaki menyandarkan beliau di tubuhnya. Beliau bertanya,”Apa yang engkau dapatkan?” “Yang engkau sukai, wahai Amirul-Mukminin, ia mengijinkan,” jawab ‘Abdullah.

“Alhamdulillah. Tidak ada yang lebih aku pikirkan daripada itu. Kalau aku nanti meninggal, maka bawalah diriku kepadanya dan ucapkan salam, dan katakanlah ‘Umar bin Khaththab meminta ijin masuk. Bila ia memberi ijin, masukkan tubuhku. Kalau tidak, kuburkan aku di pemakaman umum”

Lalu, Ibu Mukminin, Hafsah pun tiba. Wanita-wanita lainnya pun menutupinya. Ketika kami melihat beliau kami beranjak pergi. Beliau menghampirinya dan tinggal di sana

beberapa saat sambil menangis. Kemudian, orang-orang lain meminta izin untuk masuk. Beliau masuk di tempat yang kami dapat mendengar tangisan beliau.

Para pelayat pun berkata: “Berwasiatlah wahai Amirul Mukminin, angkatlah penggantimu.”

Umar menjawab, “Aku tidak melihat ada yang lebih berhak atas perkara ini dibanding orang-orang yang rasulullah wafat dalam keadaan ridha kepada mereka.” Umar menyebut Ali, Utsman, az-Zubair, Thalhah, Sa’ad dan Abdul Rahman.

Umar berkata: “Abdullah bin Umar menjadi saksi kalian, tetapi dia tidak memiliki hak apapun dalam perkara ini.” Umar berkata demikian untuk menghiburnya. Umar berkata, “Bila kepemimpinan jatuh ke tangan Sa’ad, maka hal itu bagus, bila tidak, maka siapa pun dari kalian yang menjadi pemimpin, hendaknya meminta bantuannya, karena aku tidak memisahkan karena ketidakmampuan atau pengkhianatan.”

Umar pun berkata: “Aku perintahkan khalifah setelahku untuk berbuat baik kepada kaum Muhajirin. Dia harus mengetahui hak-hak mereka dan menjaga kehormatan mereka. Aku pun memerintahkan untuk memperlakukan kaum Anshar dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang lebih dulu tinggal di Madinah dan beriman. Aku memerintahkan agar kebaikan mereka dihargai dan perilaku buruk mereka diabaikan. Aku juga memerintahkannya untuk berbuat baik kepada umat Muslim di wilayah sekitarnya, karena mereka adalah para penolong agama Islam, sumber kekayaan, dan sebab bagi kemurkaan musuh. Aku pun memerintahkannya untuk tidak mengambil harta mereka kecuali kelebihan harta mereka, dan itupun diambil atas kerelaan mereka. Akhirnya, aku pun memerintahkannya untuk menjaga Arab Badui. Karena mereka adalah bangsa Arab sejati dan penyusun Islam. Oleh karenanya, aku memintanya untuk tidak mengambil ternak mereka kecuali kelebihannya, dan untuk dikembalikan pada yang fakir di antara mereka. Aku meminta para pengikutku, dengan kepercayaan Allah dan rasul-Nya, bahwa ia menepati janji-janji kepada Allah dan rasulNya, agar menjadi barisan terdepan Allah dan rasulNya, dan mereka tidak dibebani kecuali dengan apa yang mereka mampu.”

Ketika Umar wafat, kami pun berjalan menuju ke sana. Abdullah bin Umar mengucapkan salam. Ia berkata: “Umar bin Khattab meminta izin.”

“Masukkan dia”, jawab Aisyah.

Jasad Umar pun dibawa masuk. Kemudian ia dimakamkan bersama kedua sahabahnya. Manakala orang-orang selesai memakamkan Umar, keenam orang tersebut berkumpul. Abdurrahman menyarankan: “Serahkanlah urusan kalian ini kepada tiga orang dari kalian.”

Maka az-Zubair berkata, “Aku menyerahkan urusanku kepada Ali.” Thalhah berkata, “Aku menyerahkan urusanku kepada Utsman.”

Sa’ad berkata, “Aku menyerahkan urusanku kepada Abdurrahman bin Auf.”

Maka Abdurrahman menjawab, “Siapa di antara kalian berdua yang berlepas diri dari urusan ini sehingga kami menyerahkannya kepadanya? Allah adalah pengawas atasnya dan

Islam akan membuktikan siapa yang palig utama keyakinannya.” Maka Utsman dan Ali diam.

Abdurrahman berkata: “Apakah kalian menyerahkannya kepadaku? Demi Allah aku berjanji tidak meninggalkan yang terbaik dari kalian berdua.”

Keduanya menjawab, “baik.” Abdurrahman lalu memegang tangan salah satu dari keduanya dan berkata, “Anda punya kekerabatan dengan rasulullah dan jasa besar dalam Islam sebagaimana yang aku ketahui, dengan Nama Allah atas Anda, bila aku menunjuk anda sebagai pemimpin, maka Anda harus bersikap adil, dan sebaliknya bila aku menunjuk orang lain atas Anda, maka Anda harus mendengar dan menaati.”

Kemudian Abdurrahman menemui yang lain, lalu dia berkata sama, manakala Abdurrahman telah mengambil janji dari keduanya, dia berkata, “Utsman, ulurkanlah tanganmu.” Maka Abdurrahman membai’atnya, maka Ali juga membai’atnya dan orang- orang masuk dan membai’atnya.

Bukhari menambahkan dalam riwayatnya dari Humaid bin Abdul Rahman bin Auf bahwa Miswar bin Makhramah memberitahunya: “Orang-orang yang dicalonkan oleh Umar bin al-Khatab berkumpul untuk musyawarah. Abdul Rahman bin Auf berkata: “Apakah benar aku termasuk salah satu calon? Jika kalian meginginkan, aku akan memilih salah satu di antara kalian (dan mengundurkan diri). Mereka menyetujuinya. Dan ketika mereka menyetujuinya, mereka pun mengundurkan diri. Mereka mengikuti Abdul Rahman sambil terus memberikan masukan padanya. Hingga pada suatu malam beliau memberikan keputusan dan kami pun berbai’at kepada Utsman.

Miswar bin Makhramah berkata: “Abdurrahman mengejutkanku dengan mengetuk pintu rumahku di malam itu. Beliau tetap mengetuk pintu hingga aku terbangun. Beliau berkata, “Mungkin kamu tengah tertidur pulas. Demi Allah, aku belum bisa tidur nyenyak selama tiga malam terakhir ini. Keluarlah dan bawalah Zubair dan Sa’ad ke hadapanku.”

Lalu, aku pun keluar dan membawa mereka. Beliau bermusyawarah bersama mereka berdua. Kemudian, beliau memanggilku kembali dan berkata, “Bawa Ali kesini.” Aku pun membawanya. Beliau bermusyawarah dengan Ali sepanjang malam itu. Kemudian Ali pun keluar. Tampaknya beliau penuh pengharapan. Abdurrahman bimbang dengan jawaban Ali. Namun, beliau memintaku untuk membawa Utsman. Lalu aku keluar dan membawanya. Abdul Rahman berbicara kepadanya, hingga adzan mengentikan pembicaraan mereka. Ketika sholat Shubuh selesai, keenam orang ini berkumpul di dekat mimbar masjid. Abdurrahman mengutus kepada kaum Muhajirin dan Anshar di sekitar Madinah. Beliau pun mengutus kepada komandan sejumlah pasukan. Mereka telah datang (dari pos mereka) untuk berhaji bersama Umar. Ketika mereka semua berkumpul, Abdurrahman memanjatkan doa seperti biasa kemudian berkata: “Wahai Ali aku telah berusaha untuk membaca pikiran orang-orang. Aku mendapati mereka lebih condong memilih Utsman. Oleh sebab itu, semoga tidak ada rasa iri dan dengki di dalam hatimu. Kemudian beliau mendatangi Utsman dan berkata: “Aku berba’iat kepadamu pada Sunnah Allah dan Rasul Allah, dan dua khalifah setelah rasul.” Demikian lah Abdurrahman berbai’at dan orang-orang mengikutinya: kaum Muhajirin, Anshar, komandan pasukan dan orang-orang lainnya.

Di antara keutamaan Utsman, kita bisa menyebutkan bahwa beliau adalah menantu Nabi yang telah menikahi dua puteri beliau.

Shahih Muslim pun memiliki riwayat dari Aisyah:

وبُاأ اناذأْاتسْااف ،هِيْ اقااس وْاأ هِيْذا خِاف نْعا افًشِااك ،]هِتِيْ اب ِفِ[ اعًجِطا ضْمُ املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا انااك

ثَُّ ، اثدَّاحات اف ، اكلِذا اك وا هُوا هُلا انذِأااف ،رُما عُ اناذأْاتسْا ثَُّ ، اثدَّاحتا اف ،لِااْلْا اكلْتِ ىلاعا وا هُوا هُال انذِأااف ،رٍكْاب

اجرااخ امَّال اف ، اثدَّاحات اف الاخدااف ،هُاباايثِ ىوَّاسوا املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا اسلااجفا ،نُاما ثْعُ اناذأْاتسْا

الاخاد ثَُّ ،]هِلِااب تُ اَْلوا شتُت مْلا اف رُما عُ الاخاد ثَُّ[ ،هِلِااب تُ اَْلوا هُال شتُت ملف رٍكْاب وبُاأ الاخاد :ةُاشئِاعا تْلاااق

"ةُاكئِالاما لْا هُنْمِ ييحتست لجر نم ييحتسأ َلأ" :لاقف ؟كبايث اتيْوَّاسوا اتسْالاجاف نُاما ثْعُ

“Rasulullah sedang berada di rumah beliau dalam keadaan berbaring, tersingkap kedua paha atau betisnya, maka Abu Bakar meminta izin, beliau pun mengizinkan dan beliau masih dalam keadaannya sediakala. Abu Bakar berbincang dengan nabi. Kemudian Umar meminta izin, beliau juga mengizinkan dan beliau masih dalam keadaannya sediakala, Umar berbincang dengan nabi. Kemudian Utsman meminta izin, maka beliau duduk membenahi kainnya, lalu Utsman masuk dan berbincang. Manakala Utsman keluar, Aisyah bertanya, “Wahai rasulullah, Abu Bakar masuk dan engkau bergeming dan tidak mempedulikannya, kemudian Umar masuk dan engkau bergeming dan tidak mempedulikannya, kemudian Utsman masuk tiba-tiba engkau duduk dan membenahi kainmu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah aku malu kepada seorang laki-laki yang para malaikat pun malu kepadanya?”187


image

Kemudian untuk Ali bin Abi Thalib

Yakni kami menetapkan kekhalifahan untuk Ali setelah Utsman. Ketika Utsman terbunuh, orang-orang membai’at Ali, sehingga beliau menjadi imam yang haq yang wajib ditaati, beliau adalah khalifah di jaman beliau tersebut, dan kekhalifahan beliau adalah kekhalifahan nubuwah, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Safinah bahwa beliau bersabda:

"ءُااشاي نْما هكلم للا ِتؤي ث ،ةنس نوثالث ةوبنلا ةُافالاخِ"

“Kekhalifahan kenabian adalah 30 tahun. Kemudian sesudahnya Allah memberikan kerajaanNya kepada siapa yang Dia kehendaki.”188


image

187 Diriwayatkan oleh Muslim (2403)

188 Hasan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4634), At-Tirmidzi (2287), dan Ahmad (5/44)

Kekhalifahan Abu Bakar adalah selama 2 tahun 3 bulan. Kekhalifahan Umar selama 10 tahun dan 6 bulan. Kemudian kekhalifahan Utsman 12 tahun. Pada akhirnya, kekhalifahan Ali berakhir selama 4 tahun 9 bulan. Raja Muslim yang pertama adalah Mu’awiyah.

Meskipun demikian, ia menjadi raja yang adil, dalam pengertian sepenuhnya, hanya setelah Hasan bin Ali menanggalkan kekhalifahan untuknya. Karena penduduk Iraq telah berbai’at kepada Hasan bin Ali setelah terbunuhnya Ali. Dalam enam bulan Hasan mundur untuk Mu’awiyah. Masa kekhalifahan Hasan menggenapkan masa kekhalifahan menjadi 30 tahun, seperti yang diprediksikan Nabi: “Inilah puteraku, seorang pemimpin (sejati). Dua kekuatan besar pasukan Muslim akan ber-islah olehnya.”

Kekhalifahan Ali ditetapkan setelah Utsman berdasarkan bai’at para sahabat selain Muawiyah bersama penduduk Syam. Kebenaran berpihak pada Ali, ketika Utsman terbunuh, muncul banyak kebohongan dan kepalsuan terhadap Utsman dan terhadap sahabah besar di Madinah seperti Ali, Talha dan Az-Zubair. Syubhat menjadi besar di depan orang yang tidak mengetahui keadaan sebenarnya. Ambisi menjadi kuat pada jiwa para pemilik hawa nafsu yang tendensius.

Di kalangan pasukan Ali ada orang-orang pembangkang khawarij yang terlibat pembunuhan terhadap Utsman, walaupun Ali tidak mengetahui mereka secara pasti. Orang- orang yang didukung oleh kabilah-kabilah mereka, orang-orang yang hujjah tidak membuktikan perbuatannya dan orang-orang yang menyimpan kemunafikan yang mereka tidak sanggup menampakkan seluruhnya.

Thalhah dan Az-Zubair melihat bahwa bila khalifah Utsman asy-syahid yang dizhalimi tidak dibela semestinya dan para pembangkang dan para perusuh itu tidak dihentikan, niscaya akan mendatangkan murka Allah. Maka terjadilah fitnah perang Jamal tanpa diinginkan oleh Ali, Thalhah dan Az-Zubair, akan tetapi karena fitnah yang dihembuskan oleh para perusak tanpa keinginan orang-orang mulia itu. Kemudian terjadilah perang Shiffin karena suatu ijtihad. Yaitu bahwa penduduk Syam merasa tidak diberi keadilan, atau tidak mungkin memberikan keadilan kepada mereka selama mereka menahan diri (tidak membai’at) hingga umat bersepakat.

Mereka khawatir orang-orang yang menyusup ke dalam pasukan Ali akan berbuat rusuh kembali, sebagaimana mereka telah membuat rusuh hingga membunuh Utsman. Di saat yang sama Ali adalah Khalifah rasyid yang diberi petunjuk yang wajib ditaati. Kaum muslimin wajib bersatu di sekelilingnya. Dia berkeyakinan bahwa ketaatan dan persatuan yang wajib bisa diwujudkan dengan memerangi mereka. Sementara itu para sahaabat besar memilih menahan diri dengan tidak terlibat, karena mereka mengetahui adaa dalil-dalil yang memerintahkan menahan diri saat terjadi fitnah, mereka melihat fitnah yang kerusakannya mengalahkan kemaslahatannya. Dan pendapat yang haq untuk semuanya adalah:

آنَبَّرَ اْونُمَاءَ نَيذِلَِّ ل ا لٗغِ انَبِولُقُ ىِف لۡعَۡجتَ اَلوَ نِمَٰيإِۡلٱبِ انَوقُبَسَ نَيذِلَّٱ انَنِوَٰخۡإِِ لوَ انَلَ رۡفِغۡٱ انَبَّرَ...

ﵞ٠١ مٌيحِرَّ ف وءُرَ كَنَّإِ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudar-saudara kami yang telah beriman lebih

dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman: Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Hasyr: 10)

Allah telah menjaga tangan kita dari fitnah yang terjadi di zaman mereka, maka semoga Allah menjaga lisan kita darinya dengan nikmat dan karunia-Nya.

Adapun di antara keutamaan Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib, seperti yang diriwayatkan dalam Shahihain dari Sa’ad bin Abi Waqas. Beliau berkata:

يدِعْ اب ِبَِّان َلا هُنَّاأ َلَّإِ ،ىاسومُ نْمِ انورُاها ةِالزِنْاِبِ ِن ِمِ اتنْاأ

“Nabi (ﷺ) berkata kepada Ali: “Tidakkah engkau senang karena engkau bagiku seperti Harun bagi Musa?”189

Bukhari telah mencatat riwayat bahwa Nabi telah berkata (di Perang Khaibar):

ِلِ اوعُدْا :لااقا اف ،ااَلا اانلْواااطتا اف :لاااق ،هُلُوسُراوا ُّللَّا هُبُُّيُِوا ،هُالوسُراوا اّللَّا بُُّيُِ الًجُرا ادًغا اةايارَّلا ّيَّا طِعُْْلا«

»هِيْالعا ُّللَّا احاتفا اف ،هِيْالإِ اةايارَّلا اعافادوا ،هِيْ ان يْعا ِفِ اقاصاب اف ،دا مارْاأ هِبِ اِتِأُاف ،ايًّلِعا

“Sungguh Aku akan menyerahkan panji (perang) ini esok hari kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan rasulNya” Yang meriwayatkan hadits ini berkata kami semua mengharapkannya. Nabi (ﷺ) bersabda: “Panggillah Ali untukku.” Maka Ali dihadirkan dalam keadaan sakit mata, lalu Nabi (ﷺ) meludahi kedua matanya dan mendoakan

kesembuhannya. Lalu, menyerahkan panji kepadanya dan Allah () memberikan

kemenangan melaluinya.”190


image

Mereka adalah Al-Khulafa Ar-Rasyidun (para pengganti rasulullah yang lurus) dan para pemimpin yang mendapat petunjuk.

Pernyataan ini sejalan dengan sabda Nabi:

ذِجِاوا نَّلِبِ اها يْالعا اوضُّعاوا ،ااِبِ اوكُسَّاْتا ،يدِعْا ب نْمِ ّيا ِيدِهْما لْا انيدِشِارَّلا ءِافاالُْلْا ةِاناسوا ِتِنَّسُبِ مْكُيْلاعا اف

“Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur rasyidin yang terbimbing setelahku, berpeganglah kalian kepadanya, gigitlah ia dengan gigi geraham.” 191

Keempat penyusun Kitab Sunan telah mencatat riwayat ini yang dishahihkan oleh Tirmizi.


image

189 Diriwayatkan oleh Bukhari (3706) dan Muslim (2404)

190 Diriwayatkan oleh Bukhari (3009) dan Muslim (2406)

191 Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (4607), At-Tirmidzi (2678), dan Ibnu Majah (42)

Urutan para khalifah dalam keutamaan adalah seperti urutan mereka dalam kekhalifaha. Pendapat inilah yang dianut oleh mayoritas Ahl al-Sunnah. Shahih Bukhari telah mencatat riwayat dari Abdullah bin Umar yang berkata:

“Kami berkata saat Rasulullah masih hidup, bahwa umat terbaik sesudah nabi adalah Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Ustman.”192


image

192 Diriwayatkan oleh Bukhari (3697)

image

FASAL: PARA SAHABAT YANG DIJAMIN MASUK SURGA

Dan bahwasanya sepuluh orang yang disebutkan langsung nama-nama mereka oleh rasulullah dan beliau berikan kabar gembira dengan surga adalah (benar) sebagaimana yang dipersaksikan oleh rasulullah, dan sabda beliau adalah benar adanya, mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Sa’ad, Sa’id, Abdur Rahman bin Auf dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah kepercayaan umat ini, semoga Allah meridhai mereka semua.

Pada pembahasan sebelumnya, telah dibahas tentang keutamaan dari keempat sahabah pertama secara singkat. Berikut ini beberapa riwayat tentang enam sabahah lainnya.

Shahih Muslim telah mencatat riwayat dari Aisyah yang berkata:

ِنِسُرُُْيا ّبِااحصْاأ نْمِ اًْلِااص الًجُرا اتيْال" :لااقا اف ،ةٍلا يْال اتااذ املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا قا رِاأ

نُبْ دُعْاس لااقا اف " ؟اذا ها نْما" :املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِبُِّنَّلا لااقا اف ،حِالاس ِ لا اتوْاص اانعْْسِاوا : تْلاااق ،"اةلا يْلَّلا

امَنا ثَُّ اكسُرُحْاأ تُئْجِ ،ِّللَّا لاوسُرا َيا : صٍاقَّوا ّبِاأ

“Suatu malam, Nabi tidak bisa tidur, maka Beliau bersabda: “Seandainya ada seorang laki- laki shalih dari sahabatku yang menjagaku malam ini.” Aisyah berkata, lalu kami mendengar suara senjata. Maka Nabi bertanya, “Siapa?” Dia menjawab, “Saya Sa’ad bin Abi Waqqas, wahai Rasulullah, saya datang menjagamu.” Nabi (ﷺ) pun mendoakannya dan tidur.” 193

Dalam Shahihain pun terdapat riwayat yang mengabarkan bahwa Nabi (ﷺ) mengumpulkan anak panah untuk Sa’ad bin Abi Waqqas di Perang Uhud, seraya berkata:


image

193 Diriwayatkan oleh Bukhari (2410) dan Muslim (2410)



“Bidiklah, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.”194

يم ِأُوا

ّبِاأ كا ادا فِ ،مِرْا

Shahih Bukhari pun memiliki riwayat dari Qais bin Abi Hazim yang mengatakan:

تْلَّاش دْاق دٍحُأُ اموْ اي املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِبَِّنَّلا ااِبِ ىاقوا ِتِلَّا اةاحلْاط دااي تُيْاأرا

“Aku pernah melihat tangan Thalhah yang digunakan untuk melindungi Nabi di Perang Uhud telah lumpuh.”195

Dalam Shahihain pun terdapat riwayat dari Abu Utsman al-Nahdi yang mengatakan: “Di Perang Uhud yang sangat penting, tidak ada yang menyertai Nabi(ﷺ) di saat-saat genting kecuali Thalhah dan Sa’ad.

Di dalam Shahihain dan lafadhz ini adalah milik Muslim dari Jabir bin Abdullah yang menyatakan:

ثَُّ ،ُْيْابزُّلا ابداات نْااف ،مُِْباداان ثَُّ ،ُْيْابزُّلا ابداات نْااف قِدا نْاْلْا اموْ اي اسانَّلا املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا ابداان«

»ُْيْابزُّلا يَّرِاوا احوا ،يٌّرِاوا اح ِب ٍ ِان لِكُلِ :املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِبُِّنَّلا لااقا اف ،ُْيْابزُّلا ابداات نْااف ،مُِْباداان

“Nabi menyeru orang-orang pada perang Khandaq, maka Az-Zubair maju menjawab seruan beliau, kemudian beliau mengulang seruannya daan az-Zubair kembali menjawab, maka Nabi bersabda: “Setiap Nabi diberikan seorang Hawwari (pembela setia), dan Zubair adalah Hawwari-ku.”196

Tentang Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Sahih Muslim telah mencatat sabda Nabi (ﷺ):

»حِارَّاْلْا نُبْ اةدا يْ ابعُ وبُاأ :ةُمَُّْلْا اها تَُّ ياأ اان انيمِاأ نَّإِوا ،انًيمِاأ ةٍمَّأُ لِكُلِ نَّإِ«

Setiap umat memiliki Amin (orang kepercayaan)-nya dan orang kepercayaan kita wahai sekalian umat, adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”197

Musnad Ahmad dan Tirmizi telah mencatat sabda Nabi (ﷺ):

نُبْ ُْيْابزُّلاوا ،ةِنَّاْلْا ِفِ ةُاحلْاطوا ،ةِنَّاْلْا ِفِ نُاما ثْعُوا ،ةِنَّاْلْا ِفِ يٌّلِعاوا ،ةِنَّاْلْا ِفِ رُما عُوا ،ةِنَّاْلْا ِفِ رٍكْاب وبُاأ

وبُاأوا ،ةِنَّاْلْا ِفِ لٍيْفاُ ن نِبْ ورِمْعا نِبْ دِيْزا نُبْ دُيعِاسوا ،ةِنَّاْلْا ِفِ فٍوْعا نُبْ نِاْحْرَّلا دُبْعاوا ،ةِنَّاْلْا ِفِ مِاوَّعالْا

».ةِنَّاْلْا ِفِ حِارَّاْلْا نُبْ اةدا يْ ابعُ


image

194 Diriwayatkan oleh Bukhari (2905) dan Muslim (2411)

195 Diriwayatkan oleh Bukhari (3724)

196 Diriwayatkan oleh Bukhari (2846) dan Muslim (2415)

197 Diriwayatkan oleh Bukhari (3744) dan Muslim (2419)

“Abu Bakar di surga. Umar di surga. Ustman di surga. Ali di surga. Thalhah di surga. Zubair bin al-Awwam di surga. Abdurrahman bin Auf di surga. Sa’id bin Zaid di surga. Dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga.”198

Sa’id yang disebutkan di atas adalah sa’id bin Zaid bin Amar bin Nufail, dari suku Quraisy. Ayahnya adalah Ahnaf yang telah memilih agama Ibrahim yang lurus (bahkan sebelum Islam).

Ahlu Sunnah sepenuhnya sepakat dengan pendapat pengutamaan dan penghormatan yang disematkan kepada sepuluh sabahah ini karena sabda Nabi dan karena keutamaan akhlak dan ketakwaan mereka.


image

198 Shahih. Diriwayatkan oleh At-Tirmidiz (3748) dan Ahmad (1/193)

FASAL: LARANGAN MENCELA PARA SAHABAT


image

Barangsiapa yang berkata baik tentang para Sahabah Nabi, istri-istri beliau yang suci dari segala perbuatan keji, dan keturunan beliau yang suci dari segala perbuatan kotor; maka orang tersebut telah terbebas dari kemunafikan.

Pernyataan ini bersandar pada sabda Nabi yang diriwayatkan dalam Muslim. Beliau bersabda:

ثَّاحاف ،هِبِ اوكُسِمْاتسْاوا ِّللَّا بِااتكِبِ اوذُخُفا ،رُونُّلاوا ىداَُلْا هِيفِ ،ِّللَّا بُااتكِ اماَُلُوَّاأ :ّيِْلاقا اث مْكُيفِ كٌرَِتا َنااأ

ًثًالااث ،"ِتِيْ اب لِهْاأ ِفِ اّللَّا مُكُرُكِ اذأُ ،ِتِيْ اب لُهْاأوا :لاااق ثَُّ ،هِيفِ ابغَّراوا ِّللَّا بِااتكِ ىلاعا

“Aku meninggalkan tsaqalain (dua perkara yang sangat berharga) pada kamu. Yang pertama adalah kitab Allah, di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, oleh karena itu pegangilah dan pegang-teguhlah ia. Lalu beliau mendorong dan menyemangati untuk suka terhadap kitab Allah. Lalu beliau bersabda: “Dan Ahli Bait-ku, aku mengingatkan kamu atas nama Allah tentang ahli bait-ku, aku mengingatkan kamu atas nama Allah tentang Ahli Bait- ku, aku mengingatkan kamu atas nama Allah tentang ahli bait-ku”.199


image

Ulama Salaf dari generasi awal dan generasi setelah mereka dari kalangan tabi’in –para pengikut kebaikan dan atsar, ahli fikih dan pandangan (yang lurus)- tidk boleh disebut-sebut kecuali dengan pembicaraan yang baik, dan barangsiapa yang menyebut-nyebut mereka dengan keburukan, maka dia tidak mengikuti jalan (yang lurus).

Pernyataan ini berdasarkan pada firman Allah ():


image

199 Diriwayatkan oleh Muslim (2408)

ىَّٰلوَتَ

امَ ۦهِِ لوَنُ نَينِمِؤۡمُلۡٱ لِيبِسَ رَيۡغَ عۡبِتَّيَوَ ىٰدَهُلۡٱ هُلَ نَيَّبَتَ امَ دِعۡبَ نَۢمِ لَوسُرَّلٱ قِقِاشَُي نمَوَﵟ ﵞ ٥١١ ارًيصِمَ تۡءَآسَوَ مَۖنَّهَجَ ۦهِلِصۡنُوَ

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa: 115)

Maka wajib bagi setiap muslim, sesudah berwala’ (loyal) kepada Allah dan rasulNya untuk berwaala’ kepada orang-orang beriman, sebagaimana yang AlQuran katakan. Khususnya adalah pewaris nabi-nabi yang sepakat secara pasti atas kewajiban mengikuti rasulullah. Akan tetapi bila ditemukan sebuah pendapat dari sebagian mereka yang mana hadits shahih menyelisihinya, maka pemilik pendapat pasti punya alasan dalam meninggalkannya. Dan alasan tersebut adalah tiga kemungkinan:

  1. Yang bersangkutan tidak meyakini bahwa nabi bersabda demikian

  2. Yang bersangkutan tidak meyakini bahwa maksud nabi dengan sabda tersebut adalah mengenai masalah tersebut

  3. Yang bersangkutan meyakini bahwa hukum tersebut mansukh (dibatalkan)

Jika tidak, mereka (ulama salaf) lebih unggul daripada kita dan layak diikuti karena mereka mendahului kita dalam beriman, menyampaikan apa yang rasulullah sampaikan kepada kita, menjelaskan apa yang samar darinya kepada kita. Maka semoga Allah meridhai mereka.

FASAL: KARAMAH WALI


image


Kami tidak mengutamakan seorang pun dari para wali di atas para Nabi, bahkan kami berpandangan bahwa seorang Nabi lebih utama dari semua para wali.

Karena, tanpa adanya perbedaan pendapat di kalangan Ahlus Sunnah, kedudukan para Nabi adalah kedudukan yang tertinggi.


image

Kami percaya dengan apa yang terjadi dari karamah-karamah mereka (para wali), dan terdapat riwayat-riwayat shahih dari orang-orang yang tsiqah (kredibel) tentang kisah-kisah mereka.

Mukjizat secara bahasa mencakup segala perkara luar biasa, demikian juga karamah dalam istilah para imam terdahulu, seperti imam Ahmad bin Hambal dan lainnya, mereka menamakannya sebagai ayat. Akan tetapi, banyak kalangan muta’akhirin (generasi belakangan) membedakan di antara keduanya dari sisi lafadzh, lalu mereka menetapkan mukjizat untuk nabi dan karamah untuk wali. Keduanya bersatu pada perkara luar biasa.

Yang jelas sifat-sifat kesempurnaan kembali kepada tiga: ilmu, kemampuan, kemandirian. Ketiganya hanya laik secara sempurna untuk Allah semata. Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dan Dia tidak bergantung pada dunia dengan cara apapun. Demikian pula, Allah memerintahkan Nabi untuk berlepas diri dari tiga hal ini dengan mengatakan:

امَ اَّلإِ عُبِتَّأَ نۡإِ كٌۖلَمَ ى نِإِ مۡكُلَ لُوقُأَ آَلوَ بَيۡغَلۡٱ مُلَعۡأَ آَلوَ ِّلِلَّٱ نُئِآزَخَ يدِنعِ مۡكُلَ لُوقُأَ آَّل لقُﵟ ﵞ ٠٥ ... ىََّۚلإِ يَٰٓ حَويُ

Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. Al-An’am: 50)

Itulah yang dikatakan Nabi Nuh, Rasul pertama dan salah satu Nabi yang terpilih. Dan inilah yang dikatakan oleh Rasul terakhir, yang juga merupakan Nabi terakhir yang terpilih. Keduanya berlepas diri dari hal ini. Ini perlu dikatakan karena terkadang mereka (para Nabi) ditanya mengenai hal yang ghaib dan yang tidak diketahui, seperti:

ﵞ ٠٩ اعًوبُۢنيَ ضِۡرأَۡلٱ نَمِ انَلَ رَجُفۡتَ يٰتَّحَ كَلَ نَمِؤۡنُّ نلَ اْولُاقَوَﵟ

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami. (QS. Al-Isra: 90)

Di lain kesempatan, orang-orang mendapati kekurangan pada diri para Nabi karena kebutuhan fisik, sebagaimana firman Allah ():

ﵞ٧ ... قِاوَسۡأَۡلٱ ىفِ يشِمۡيَوَ مَاعَطَّلٱ لُكُأۡيَ لِوسُرَّلٱ اذَهَٰ لِامَ اْولُاقَوَﵟ

Dan mereka berkata: “Mengapa para rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar- pasar?” (QS. Al-Furqan: 7)

Allah memerintahkan rasulullah untuk mengabarkan kepada mereka bahwa beliau tidak memiliki dan hanya memiliki ketiganya (ilmu, kemampuan, kemandirian) dalam kadar yang Allah berikan kepada beliau. Beliau mengetahui apa yang Allah ajarkan kepada beliau. Beliau mampu melakukan apa yang Allah mampukan. Dan mandiri dari hal-hal yang Allah membuat beliau mandiri darinya dari perkara-perkara yang menyelisihi kebiasaan umum atau kebiasaan mayoritas manusia. Maka semua mukjizat dan karomah tidak keluar dari tiga hal ini

Kemudian mengenai kejadian yang luar biasa, bila ia mewujudkan sesuatu yang berfaidah dalam agama, maka ia termasuk amal shalih yang diperintahkan secara agama dan syariat, bisa wajib dan bisa sunnah. Bila ia mewujudkan sesuatu yang mubah, maka ia termasuk kenikmatan dunia yang harus disukuri. Dan bila ia mengandung sesuatu yang dilarang, baik dengan larangan pengharaman atau larangan makruh, maka ia adalah sebab azab dan murka.

Hal luar biasa terbagi menjadi 3: Yang terpuji dalam agama, yang tercela dan yang mubah. Bila yang akhir ini mengandung manfaat maka itu adalah nikmat. Bila tidak, maka ia sama dengan perkara-perkara mubah lainnya yang tidak mengandung manfaat.

Abu Ali al-Jawzajani menyatakan:

“Jadilah pencari istiqomah bukan pencari karamah. Sesungguhnya jiwamu tergerak untuk mencari karamah, sedangkan tuhanmu menuntutmu untuk istiqomah.”

Syaikh as-Suhrawardi dalam al-Awarif,

“Ini merupakan dasar besar dalam bab ini, karena banyak orang yang beribadah sungguh-sungguh mendengar tentang as-salafus ash shalih dan yang diberi karamah- karamah dan hal-hal luar biasa, juga mengharapkan mendapatkan sebagian darinya. Mereka ingin mendapatkan sedikit karomah, bahkan yang kecil sekalipun. Namun ketika belum kunjung mendapatkan karomah, mereka bersedih hati dan menuduh amalnya masih salah. Sekiranya mereka memahami rahasianya, niscaya perkara menjadi ringan bagi mereka. Harus diketahui bahwa Allah membuka pintu dengan ukuran tertentu untuk orang yang berjihad di jalanNya. Ini adalah untuk menambah iman mereka melalui karamah dan bukti kuasa Allah yang disaksikannya. Sehingga tekadnya untuk zuhud tehadap dunia dan membebaskan diri dari hawa nafsu semakin

kuat. Sehingga perilaku yang benar dari pencari yang ikhlas adalah memohon kepada istiqamah, inilah karamah yang sempurna.”

Harus disadari bahwa jika tiada dari yang ghaib ditampakkan pada seorang mukmin, atau jika tiada dari dunia ini yang ditundukkan untuknya, ini bukanlah tanda kerendahan derajatnya di sisi Allah. Sebaliknya, tidak dikaruniai hal-hal semacam itu, mungkin lebih bermanfaat baginya. Karena suatu kaum bisa berbahagia manakala mereka menaatiNya, sebaliknya, kaum lainnya sengsara manakala mereka mendurhakaiNya. Perkara luar biasa bisa terjadi bersama agama, atau bisa terjadi tanpanya. Jika seseorang berpegang kepada agama, maka perkara luar biasa akan menguntungkan baginya.

Contohnya kepemimpinan di dunia yang hanya akan bermanfaat jika ia menguntungkan agama seseorang. Demikian pula harta yang bermanfaat. Jika seseorang menjadikan semua itu sebagai tujuan, menomorduakan agama dan mengindukkan agama kepadanya dan menjadikannya sarana memperoleh semua itu, maka dia tidak berbeda dengan orang yang memakan dunia dengan mengorbankan agamanya. Keadaannya bukan seperti keadaan orang yang beragama karena takut neraka atau berharap surga.

Meskipun begitu, harus dipahami bahwa jika ibadah seseorang telah benar, dari sudut pandang ilmu maupun amal, maka tidak bisa tidak karamah itu muncul, ketika orang tersebut membutuhkannya. Allah berfirman:

ﵞ٣ ... بُۚسِتَۡحيَ اَل ثُيۡحَ نۡمِ هُقۡزُرۡيَوَ ٢ اجٗرَۡخمَ ۥهُلَّ لعَۡجيَ ّلِلََّٱ قِتَّيَ نمَوَ...

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. At-Talaq: 2-3)

Serta,

ﵞ ٩٢..... انٗاقَرۡفُ مۡكُلَّ لعَۡجيَ ّلِلََّٱ اْوقُتَّتَ نإِ....

Jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami memberikan kepadamu Furqan (QS. Al-Anfal: 29)

Dan Nabi pun diriwayatkan telah bersabda dalam riwayat Tirmizi: “Berhati-hatilah

dengan penglihatan seorang mukmin. Karena dia melihat dengan bantuan cahaya Allah.” Kemudian beliau mengutip ayat berikut:

ﵞ ٥٧ نَيمِسِ وَتَمُلِۡ ل تٖيَٰٓأَل كَلِذَٰ ىِف نَّإِ ٤٧ﵟ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (QS. Al-Hijr: 75)

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Nabi(ﷺ) atas nama Allah (Hadits Qudsi) berkata:

لُازا اي َلاوا ،هِيْلاعا تُضْاَتافْا اما ءِااداأ لِثِِْبِ يدِبْعا َِّلاإِ ابرَّقا ات اماوا ،ةِابراااحمُلِْبِ ِنِزاراِبا دْقا اف ايًّلِوا ِلِ ىاداعا نْما«

رُصِبُْ ي يذِلَّا هُرااصابوا ،هِبِ عُما سْاي يذِلَّا هُعاْْسا تُنْكُ هُتُ بْ ابحْاأ ااذإِاف ،هُبَّحِأُ َّتَّاح ،لِفِاوا نَّلِبِ َِّلاإِ بُرَّقا ات اي يدِبْعا

هُنَّذا يعُِْلِ ِنِاذاعا اتسْا نِئِالوا ،هُنَّ ايطِعُْْلا ِنِلااأاس نْئِالوا ،ااِبِ يشَِْيا ِتِلَّا هُال جْرِوا ،ااِبِ شُطِبْ اي ِتِلَّا هُداايوا ،هِبِ

“Allah berfirman, “Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya dariKu. Tidak ada yang paling aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah kepadaKu dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan baginya. Adapun jika hambaKu selalu melaksanakan perbuatan sunnah, niscaya aku akan mencintanya. Jika Aku telah mencintainya, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepadaKu, niscaya akan kuberikan dan jika dia minta ampun padaKu niscaya akan Aku ampuni, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku lindungi.” 200


image

200 Diriwayatkan Bukhari (6502)

FASAL: BERIMAN KEPADA TANDA-TANDA KIAMAT


image

Kami juga beriman kepada tanda-tanda hari Kiamat, seperti (akan) keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa bin maryam dari langit. Dan kami juga beriman akan terbitnya matahari dari sebelah barat, serta akan keluarnya binatang melata bumi (Dabbah) dari tempatnya.

Huzaifah bn Asid al-Ghifari telah meriwayatkan:

رُكُذْان :اولُااق ؟انورُكُذْات اما :لا اقا اف ،اةعا اسَّلا رُاكاذاات ان نَُْناوا اان يْلاعا املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِبُِّنَّلا اعالطَّا«

نْمِ سِمْشَّلا عُولُطُوا ،ةُبَّادَّلاوا ،لُاجَّدَّلاوا ،نُااخدُّلا :تٍَياآ رُشْعا ىرا تُ َّتَّاح اموقُ ات نْلا ااَنَّإِ :لااقا اف ،اةعا اسَّلا

فٌسْاخوا ،قِرِشْمُلِْبِ فٌسْاخ :فٍوسُخُ ةُاثالااثوا ،اجوجُأْماوا اجوجَُْياوا ،اميارْما نِبْا ىاسيعِ لُوزُُ نوا ،ااِبِرِغْما

»مْهِرِاشُْما َلاإِ اسانَّلا دُرُطْتا نِماايلْا انمِ جُرَُّتْا رٌَنا اكلِاذ رُخِآوا ،بِراعالْا ةِرايزِِبِا فٌسْاخوا ،بِرِغْما لِْبِ

“Nabi melihat kami saat kami sedang berbincang tentang hari kiamat. Maka beliau bertanya: “Apakah yang sedang kalian bicarakan?” Kami menjawab: “Kami berbincang tentang hari Kiamat.” Beliau bersabda: “Hari Kiamat tidak akan terjadi sebelum kalian melihat sepuluh tanda sebelumnya” Lalu beliau menyebutkan: asap, Dajjal, hewan melata, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa putra Maryam, Ya’juj Ma’juj, tiga pembenaman: pembenaman di timur, pembenaman di barat, pembenaman di Jazirah Arabia, dan yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke Mahsyar mereka.”201

Nabi pun bersabda dalam riwayat lain yang shahih:

هِيْ ان يْعا ّيا ْاب بٌوتُكْماوا ،راواعْاِبِ اسيْال مْكُبَّرا نَّإِوا ،رُواعْاأ هُنَّإِ َلااأ ،لااجَّدَّلا راواعْْلْاا هُماوْ اق راذا نْاأوا َلَّإِ ِب ٍ ِان نْمِ اما«

» رٌفِااك يْاأ :ةٍاياوارِ ِفِ هُراسَّاف را اف كا

“Tidak ada seorang pun nabi kecuali dia telah memperingatkan kaumnya dari Dajjal yang rusak salah satu matanya, ketahuilah bahwa salah satu matanya cacat, dan sesungguhnya Tuhan kalian tidak rusak sebelah mataNya. Dan tertulis di antara kedua matanya: Ka-Fa- Ra.” Dalam versi lainnya ada tafsirnya dengan, “Kafir.”202


image

201 Diriwayatkan oleh Muslim (2901)

202 Diriwayatkan oleh Bukhari (7131) dan Muslim (2933)

Bukhari telah mencatatkan riwayat lainnya dari Abu Hurairah bahwa rasulullah bersabda:

،رايزِنِْْلْا لُتُقْ ايوا ، ابيلِصَّلا رُسِكْاي اف ،َلًدْعا امًاكاح اميارْما نُبْا مُكُيفِ لازِنْ اي نْاأ نَّاكشِويُلِ هِدِايبِ يسِفْ ان يذِلَّاوا

اهايفِ اماوا ااي نْدُّلا انمِ اْيًْ اخ ةُدا جْسَّلا انوكُات َّتَّاح ،دٌاحاأ هُلا ابقْا ي َلا َّتَّاح لُاما لْا ضُيفِايوا ،اةايزْْلْاِ عُاضايوا

“Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, benar-benar sudah akan turun Isa putra Maryam di antara kalian sebagai hakim yang adil, dia menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah, harta melimpah sehingga tidak ada yang sudi menerimanya (sebagai sedekah), sehingga satu sujud lebih baik daripada dunia dan isinya.”203

Qur’an pun menyebutkan kemunculan binatang Dabbah dari dalam bumi:

﴾ انيرِبِدْمُ اوْلَّوا ااذإِ ءاعا دُّلا مَّصُّلا عُمِسْتُ َلاوا ىاتوْما لْا عُمِسْتُ َلا اكنَّإِ ﴿

Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami. (QS. An-Naml: 80)

Bukhari meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang mengabarkan bahwa Nabi (ﷺ) bersabda:

َلا ّيا حِ اكلِذااف ،اها يْلاعا نْما نُماآ سُانَّلا اها آرا ااذإِاف ،ااِبِرِغْما نْمِ سُمْشَّلا اعلُطْتا َّتَّاح ةُعا اسَّلا مُوقُ ات َلا«

»لُبْ اق نْمِ تْانماآ نْكُات اَْل ااَنُااَيإِ اسًفْ ان عُفا نْ اي

“Hari Kiamat tidak terjadi hingga matahari terbit dari barat. Bila manusia telah melihatnya, berimanlah siapa yang ada di bumi, yaitu saat dimana iman seseorang tidak bermanfaat lagi yang sebelumnya dia tidak beriman.”204


image

203 Diriwayatkan oleh Bukhari (2222)

204 Diriwayatkan oleh Bukhari (4635) dan Muslim (157)

FASAL: DUKUN DAN HAL GHAIB


image

Dan kami tidak membenarkan perkataan dukun dan tidak pula tukang tenung (tukang ramal). (Kami juga tidak membenarkan) orang yang mengklaim sesuatu yang bertentangan dengan al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’ umat ini.

Nabi (ﷺ) telah bersabda dalam sebuah hadits dalam Muslim:

»ةًال يْال ّيا عِابرْاأ ةُالا اص هُال لْباقْ تُ اَْل ،ءٍ يْاش نْعا هُالاأاساف افًارَّعا ىاتاأ نْما«

“Barangsiapa mendatangi seorang tukang ramal (paranormal) lalu bertanya sesuatu kepadanya, maka tidak diterima sholatnya selama 40 malam.”205

Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, beliau bersabda:

»دٍمَّاُمُ ىالعا لازِنْأُ ااِبِ رافا اك دْقا اف ،لُوقُا ي ااِبِ هُاقدَّاصفا ،انًهِااك وْاأ افًارَّعا ىاتاأ نْما«

“Barangsiapa mendatangi seorang tukang ramal atau seorang dukun, lalu dia mempercayai ucapannya, maka dia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.”206

Seorag ahli astrologi juga dikategorikan ke dalam istilah peramal.

Kita dapat bertanya pada diri kita: “Jika peringatan keras seperti itu telah dikeluarkan kepada mereka yang bertanya kepada peramal, lalu bagaimana dengan para peramal itu sendiri?

Sahihain telah mencatatkan suatu hadits dari Aisyah bahwa sebagian kaum muslimin bertanya kepada Rasulullah tentang para peramal. Beliau berkomentar:

ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا لااقا اف ؟اقًّاح نُوكُاي ءِ يْشَّلِبِ َنًاايحْاأ انوثُدِ اُيُ مَُْنَّإِ ،ِّللَّا لاوسُرا َيا :اولُاقا اف ،ءٍ يْاشبِ اوسُيْال

را اثكْاأ[ اهاعاما انوطُلِ خْيا اف ،هِيا ِلوا نِذُأُ ِفِ اهارُقِرْقا يُ اف ِنُّ ِِْلْا اها فُاطَْيا ق ِ اْلْا انمِ ةُما لِاكلْا اكلْتِ :املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا

»ةٍابذْكِ ةِائامِ ] نْمِ

"Mereka itu tidak ada apa-apanya." Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, terkadang mereka membicarakan suatu hal, ternyata hal itu betul-betul terjadi." Beliau berkata: "Itu adalah


image

205 Diriwayatkan oleh Muslim (2230)

206 Shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (2/408), At-Tirmidzi (135), dan Abu Dawud (3904)

kata-kata yang dicuri jin dari (berita langit), lalu dibisikkan ke telinga walinya (para dukun), lalu para peramal itu mencampurkannya dengan seratus kebohongan.." 207

Mengundi dengan mata panah pun termasuk dalam larangan ini, begitu pula dengan melemparkan tombak, menggambar garis pada tanah atau pasir (atau kertas). Maka sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, apapun yang mereka peroleh itu diharamkan seperti yang telah dinyatakan oleh Baghawi dan Qadi Ayad.

Shahih Bukhari mengabarkan bahwa Abu Bakar punya seorang hamba sahaya yang menyetorkan sebagian hasil usahanya kepadanya. Suatu hari hamba sahaya itu datang membawa sesuatu, lalu Abu Bakar makan sebagian darinya. Budak itu bertanya: “Tahukah Anda dari mana aku mendapatkannya?” Abu Bakar balik bertanya: “Dari mana ia?” Dia bercerita: “Aku pernah melakukan perdukunan untuk seseorang di jaman jahiliyah, sebenarnya aku tidak bisa menjadi dukun, aku hanya menipunya, lalu dia datang kepadaku dan memberiku karena itu, dan (hasilnya) adalah yang anda makan itu.” Maka Abu Bakar (segera) memasukkan tangannya ke tenggorokannya dan memuntahkan apa yang dimakannya tersebut semuanya.

Wajib atas waliyul amri (pemerintah) dan setiap Muslim yang punya kesanggupan berusaha melenyapkan para ahli nujum, para dukun, tukang ramal, orang-orang yang meramal dengan media pasir dan kerikil dengan membuat garis pada tanah, melarang mereka membuka praktik di kios-kios atau di jalan-jalan, dan melarang masyarakat mendatangi mereka.

Orang-orang yang melakukan hal-hal ini, yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah terdiri dari beberapa jenis. Sebagian dari mereka hanya penipu. Mereka bepura-pura kalau ada Jin dalam kendali mereka, seperti Nassabi Syukuh atau pendusta Turuqiyah. Mereka layak mendapatkan hukuman keras. Bahkan sebagian dari mereka mungkin layak mendapatkan hukuman mati, seperti orang yang mengatakan dia bisa meramalkan masa depan. Yang lainnya adalah penyihir sesungguhnya dan mayoritas ulama berfatwa bahwa penyihir itu harus dihukum mati. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Ahmad. Riwayat yang sama pun telah dikabarkan dari beberapa sahabat, seperti Umar, Utsman dan yang lainnya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kebenaran di balik sihir seperti halnya perkara sejenisnya. Sebagian besar dari mereka meyakini bahwa terkadang seseorang yang terkena sihir bahkan bisa mati karena sihir itu, tanpa ada penyebab fisik dari luar. Beberapa meyakini bahwa sihir tidak lain berupa fantasi dan imajinasi. Meskipun demikian, mereka semua menyatakan bahwa siapapun yang diajak memuja tujuh bintang, atau bersujud kepadanya, atau membuat-buat metode-metode untuk mendekatkan diri kepadanya, dengan peralatan tertentu, atau menggunakan cincin di jari, atau dengan bantuan asap, atau benda- benda sejenisnya, semua itu adalah tindakan kesyirikan. Mereka adalah pintu-pintu yang mengarah menyekutukan Allah dan harus ditutup rapat.

Para ulama sepakat bahwa jimat, berjanji, atau bersumpah dengan menggunakan kata- kata selain Allah tidak boleh diucapkan, bahkan jika tindakan itu untuk mengalahkan Jin.


image

207 Diriwayatkan oleh Bukhari (3210) dan Muslim (2228)

Begitu pula ucapan syirik pun tidak boleh. Sehingga, Nabi(ﷺ) pun bersabda: “Ruqyah itu boleh selama bukan syirik.”

Hukumnya pun haram untuk memohon perlindungan kepada Jin, berdasarkan dalil ayat Al-Qur’an berikut ini:

ﵞ ٦ اقٗهَرَ مۡهُودُازَفَ نِ جلِۡٱ نَمِ لٖاجَرِبِ نَوذُوعُيَ سِنإِۡلٱ نَمِ ل اجَرِ نَاكَ ۥهُنَّأَوَ ٥ﵟ

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin: 6)

Penafsiran ayat di atas itu berkaitan dengan masa Jahiliyah ketika sebagian orang turun ke sebuah lembah dan berkata: “Aku berlindung kepada penguasa lembah ini dari tindakan jahat anak buahnya.”

Allah () berfirman:

تَنأَ كَنَحَٰبۡسُ اْولُاقَ ٠٤ نَودُبُعۡيَ اْونُاكَ مۡكُايَّإِ ءِآَلؤُهَٰٓ َ أَ ةِكَئِلَٰٓ َ مَلۡلِ لُوقُيَ مَّثُ اعٗيمِجَ مۡهُرُشُۡحيَ مَوۡيَوَﵟ ﵞ١٤ نَونُمِؤۡمُّ مهِبِ مهُرُثَكۡأَ نَّۖجِ لۡٱ نَودُبُعۡيَ اْونُاكَ لۡبَ مۖهِنِودُ نمِ انَيُّلِوَ

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”Malaikat- malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka, melainkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan dari mereka beriman kepada jin itu.” (QS. Saba: 40-41)

Adapun orang yang mengaku bahwa malaikat-malaikat mendatangi mereka, mereka telah sesat. Bukan malaikat melainkan Jin-lah yang mendatangi mereka.

Prinsipnya, yang terbaik adalah menerapkan aturan Syari’ah pada berbagai hal yang dilakukan. Apapun yang sejalan dengan prinsip-prinsip syariah bisa diterima dan apapun yang bertentangan maka ditolak. Nabi (ﷺ) bersabda:

»دٌّرا وا هُ اف َنارُمْاأ هِيْلاعا اسيْال الًما عا المِعا نْما«

“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam agama kami ini yang bukan darinya, maka ia tertolak.” 208

Tidak ada jalan yang benar kecuali meneladani Nabi (ﷺ). Tidak ada kebenaran selain kebenaran yang beliau bawa. Tidak ada keimanan selain keimanan yang beliau bawa. Tidak ada yang akan meraih kedekatan dengan Allah, ridho dan surga-Nya kecuali dengan mengikuti apa yang telah diperintahkan Nabi, dalam semua aspek: baik yang lahir maupun batin.

Siapapun yang tidak mengimani apa yang telah dikabarkan oleh Nabi, maka dia tidak mematuhi yang beliau perintahkan, dalam urusan yang melibatkan anggota tubuh dan hati,


image

208 Diriwayatkan oleh Bukhari (2697) dan Muslim (1718)

maka dia bukan seorang mukmin, jauh dari menjadi Kekasih atau Wali Allah- sekalipun beberapa kejadian luar biasa terjadi padanya. Mungkin dia bisa terbang di udara, mengubah timah menjadi emas, dan memiliki pencapaian yang menakjubkan, namun dia akan akan menjadi –jika dia hidup tidak sesuai dengan kitab Allah- setan berwujud manusia.

Begitu pula dengan mereka yang terlena dengan lagu-lagu indah. Mereka adalah para pelaku bid’ah dan sesat. Tidak ada diantara para Sahabah ataupun tabi’in yang terlena pada keadaan apapun, bahkan ketika mereka mendengarkan lantunan Al-Qur’an, mereka seperti

yang digambarkan oleh firman Allah():

ﵞ٢ نَولُكَّوَتَيَ مۡهِبِ رَ ىَٰلعَوَ انٗمَٰيإِ مۡهُتۡدَازَ ۥهُتُيَٰاءَ مۡهِيۡلَعَ تۡيَلِتُ اذَِإوَ مۡهُبُولُقُ تۡلَجِوَ ّلِلَُّٱ رَكِذُ اذَإِﵟ

Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (QS. Al-Anfal: 2)

Adapun mengenai ucapan orang-orang yang terlena, ketika mereka dalam pengaruh musik dan lagu, mengucapkan kata-kata dari bahasa yang tidak mereka ketahui, maka Setan- lah yang berbicara melalui lisan mereka.

Adapun mengenai orang gila namun sebenarnya rasional, para ulama telah berkata baik mengenai mereka, mereka sebenarnya orang-orang baik. Namun, karena mereka kehilangan akal - meski tidak sepenuhnya. Setiap kali dalam waktu yang singkat, mereka normal kembali, mereka berbicara dengan bahasa yang cerdas karena keimanan mereka masih tertanam dalam hati mereka.

Sebaliknya, mereka yang memohon pengampunan dosa dengan berpantang makan, dan berpakaian seperti gembel, atau menyiksa diri mereka sendiri dalam berbagai cara, hidup menyendiri (berkhalwat), mengabaikan sholat Jum’at dan sholat berjamaah lainnya, maka sebenarnya orang-orang inilah yang upayanya sia-sia di dunia ini, meskipun mereka berpikir bahwa mereka berbuat kebaikan. Nabi(ﷺ) bersabda:

»هِبِلْ اق ىالعا ُّللَّا اعاباط ،رٍذْعُ ْيِْغا نْمِ َنًوُااُتا عٍاَجُ اثالااث كارا ات نْما«

“Barangsiapa meninggalkan tiga sholat Jum’at karena meremehkan dan tanpa udzur, maka Allah mengunci hatinya.”209

Adapun mengenai mereka yang berpaling dari Sunnah Nabi(ﷺ), jika dia adalah orang yang mengetahui maka dia dimurkai. Jika dia tidak mengetahui, maka dia sesat. Sehingga

Allah () telah memerintahkan kita untuk memohon petunjuk kepada jalan yang lurus dalam

setiap sholat kita: yaitu jalan orang-orang yang dianugerahi nikmatNya, jalan para Nabi, orang-orang yang benar, jalan para syuhada dan salafus salihin. Mereka adalah sebaik-baik teman.

Adapun bagi mereka yang berdalil dengan kisah Nabi Musa dan Khidr dan meninggalkan wahyu Allah untuk “ilm al-laduni”, orang itu adalah mulhid (atheis) lagi zindiq. Nabi Musa tidak diutus kepada nabi Khidr sebagai seorang Nabi, dan Nabi Khidr pun


image

209 Shahih. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (500), Abu Dawud (1052), Ibnu Majah (1125), dan An-Nasa’i (3/88)

tidak diperintahkan untuk mengikuti Musa. Itulah sebabnya, Khidr bertanya kepada Musa, “Apakah Anda Musa Bani Israil?” Musa menjawab “benar”. Namun, Nabi Muhammad diutus kepada seluruh jin dan manusia. Seandainya Musa masih hidup, maka mereka akan mengikuti Nabi Muhammad. Ketika Isa turun dari langit dia memerintah berdasarkan syariah Nabi Muhammad. Oleh karena itu, siapapun yang mengklaim bahwa dia dengan nabi Muhammad, seperti Musa dan Khidr perlu memperbarui keislamannya dalam Islam. Orang seperti ini telah meninggalkan Islam sepenuhnya. Jauh dari menjadi Wali Allah, sebenarnya justru dia adalah Wali Setan

FASAL: PERSATUAN DAN PERPECAHAN


image

Kami juga berpandangan bahwa persatuan adalah haq dan benar, dan (sebaliknya) perpecahan adalah kesesatan dan azab

Konsep ini berdasarkan firman Allah ();

ﵞ٣٠١ .... اْوۚقُرَّفَتَ اَلوَ اعٗيمِجَ ِّلِلَّٱ لِبَۡحبِ اْومُصِتَعۡٱوَﵟ

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada (tali) agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali Imran: 103)

Serta firman Allah():

م يظِعَ بٌاذَعَ مۡهُلَ كَئِلَٰٓ َ وْأُوَ تُۚنَٰيِ بَلۡٱ مُهُءَآجَ امَ دِعۡبَ نَۢمِ اْوفُلَتَخۡٱوَ اْوقُرَّفَتَ نَيذِلَّٱكَ اْونُوكُتَ اَلوَﵟ

ﵞ ٥٠١

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat. (QS. Ali Imran: 105)

Serta firman Allah():

اْونُاكَ امَبِ مهُئُبِ نَيُ مَّثُ ِّلِلَّٱ ىَلإِ مۡهُرُمۡأَ آمَنَّإِ ءٍٰۚيۡشَ ىفِ مۡهُنۡمِ تَسۡلَّ اعٗيَشِ اْونُاكَوَ مۡهُنَيدِ اْوقُرَّفَ نَيذِلَّٱ نَّإِ ﵟ ﵞ ٩٥١ نَولُعَفۡيَ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggungjawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.(QS. Al-An’am: 159)

Nabi (ﷺ) telah bersabda:

ثٍالااث ىالعا قَُتِافْ اتاس اةمَُّْلْا هِذِها نَّإِوا ،ةًلَّمِ ّيا عِبْاسوا ّيِْتا نْثِ ىلاعا مْهِنِيدِ ِفِ اوقُاَتافْا ّيِْابااتكِلْا الهْاأ نَّإِ«

. »ةُعا امااْلْا ايهِوا ،ةًدا حِاوا َلَّإِ رِانَّلا ِفِ اهالُّكُ ،اءاواهْاْلْا ِنِعْ اي ،ةًلَّمِ ّيا عِبْاسوا

»ّبِااحصْاأوا هِيْلاعا َنااأ اما :لاااق ؟ِّللَّا لاوسُرا َيا ايهِ نْما :اولُااق« :ةٍاياوارِ ِفِوا

“Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu “al-Jama’ah” Versi riwayat

lainnya menyebutkan bahwa para sahabat bertanya Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.” 210

Ini adalah keterangan yang jelas bahwa semua golongan akan menemui kehancuran, kecuali Sunnah dan Jamaah. Selain itu hadits itu pun menyiratkan perpecahan dan perbedaan yang akan terus terjadi.

Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits melalui Muadz bin Jabal yang mengabarkan sabda Nabi(ﷺ):

مْكُيْالعاوا ، اباعاش ِ لاوا مْكَُيَّإِاف ،اةياصِاقالْا اةاشَّلا ذُخَُْيا ،مِنااغلْا بِئْذِاك ،نِااسنْإلِْا بُئْذِ انااطيْشَّلا نَّإِ« ةِعا امااْلِْبِ

“Sesungguhnya setan itu seperti serigala, yang memburu manusia seperti serigala memburu domba. Ia menerkam domba yang menjauh sendirian. Maka hati-hatilah kalian dari tempat- tempat yang terpencil (bersikap memisahkan diri dari jama’ah -pent.), dan kalian wajib berpegang dengan jamaah.”211

Adapun perbedaan di antara umat, baik dalam prinsip (ushul) ataupun cabangnya (furu’), jika tidak dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kebenaran tidak akan terwujud. Dalam peristiwa tersebut, orang-orang yang berselisih tidak akan mendapatkan titik terang dalam urusan mereka. Sebaliknya, dengan rahmat dari Allah, sebagian akan sepakat dengan sebagian lainnya, daripada saling berbantah, seperti halnya para sahabah di masa Umar dan Utsman, yang ketika berselisih pendapat di antara mereka, sebagian dari mereka membenarkan sebagian yang lain, tidak menzhalimi ataupun dizhalimi; jika mereka melakukannya maka akan menghasilkan kebaikan bagi semuanya.

Namun, jika tidak, dan Allah tidak menunjukkan rahmat kepada mereka, maka jenis perbedaan yang tercela akan muncul di antara mereka, dengan sebagian dari mereka menzhalimi yang lainnya, baik dalam perkataan, seperti mengkafirkan atau memfasikkan, atau dengan tindakan, seperti menahan, memukul atau membunuhnya. Orang-orang yang menimpakan siksaan kepada masyarakat terkait dengan masalah “al-Quran adalah makhluk” termasuk ke dalam golongan mereka yang melakukan bid’ah. Lalu mengkafirkan siapa yang menyelisihi mereka dan menghalalkan pelanggaran terhadapnya dengan menghalangi hak dan menghukumnya.

Bila manusia tidak mengetahui apa yang dengannya Allah mengutus rasulullah, maka sikap mereka mungkin adil dan mungkin zhalim. Yang adil di antara mereka adalah yang beramal sesuai dengan petunjuk nabi yang sampai kepadanya dan tidak menzhalimi orang lain. Sedangkan yang zhalim adalah yang melanggar orang lain. Kebanyakan dari mereka berbuat zhalim padahal mereka mengetahui bahwa mereka berbuat zhalim, sebagaimana

firman Allah ():


image

210 Shahih. Diriwayatkan Abu Dawud (4597) dan Ahmad (4/102)

211 Dhaif. Diriwayatkan oleh Ahmad (5/232-233)

ﵞ٩١ ... ٰۗٓمۡهُنَيۡبَ اَۢيَغۡبَ مُلۡعِلۡٱ مُهُءَآجَ امَ دِعۡبَ نَۢمِ اَّلإِ بَتَٰكِلۡٱ اْوتُوأُ نَيذِلَّٱ فَلَتَخۡٱ امَوَ...

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka (QS. Al-Imran: 19)

Seandainya mereka mengikuti keadilan yang mereka ketahui, niscaya sebagian mereka akan menghormati sebagian yang lain. Seperti halnya orang-orang yang bertaklid kepada para imam, yang menyadari bahwa diri mereka tidak kuasa mengetahui hukum Allah dan hukum rasulNya dalam masalah-masalah tersebut. Lalu mereka menjadikan imam-imam mereka sebagai pengganti rasulullah dan mereka berkata: “Ini adalah kemampuan maksimal kami”. Yang bersikap adil dari mereka adalah yang tidak menzhalimi yang lain, tidak melanggarnya dengan kata-kata dan perbuatan, seperti berkata bahwa pendapat imamnya adalah pendapat yang shahih -tanpa hujjah- dan mencela pihak yang menyelisihinya, meski mengetahui bahwa pihak lain itu (orang awam juga: pent.) tidak memiliki jalan lain (selain mengikuti imamnya: pent.)

Perbedaan pada dasarnya terdiri dari dua jenis: perbedaan karena sifatnya yang beragam, dan perbedaan kontradiktif.

Perbedaan karena keragaman bisa terbagi menjadi beberapa jenis: di antaranya masing-masing pendapat atau perbuatan yang berbeda tersebut adalah haq yang disyariatkan. Misalnya perbedaan di antara para sahabah tentang qira’at (pembacaan Al-Qur’an). Ketika diberi tahu, Nabi menanyai kedua belah pihak dan menyatakan keduanya benar. Contoh lainnya adalah lafadzh adzan atau iqamah, kalimat istiftah (doa pembukaan), sajdatu al- syahw (cara sujud sahwi), tasyahud, sholat khauf, jumlah takbir dalam Sholat Id, dan yang sejenisnya.

Dalam contoh-contoh di atas, ada beberapa metode yang benar, meskipun satu dari kedua pendapat itu lebih disukai. Namun kalian akan mendapati para pengikut yang ini atau yang itu saling bertengkar, tentang isu-isu apakah harus mengucapkan kalimat adzan satu kali, atau dua kali. Maka perselisihan ini tercela. Terkadang dua pendapat sangat panjang sehingga keduanya saling membenarkan yang lain. Perbedaannya hanya terletak pada kalimatnya seperti yang dilakukan kebanyakan orang ketika berusaha memberikan definisi.

Adapun perbedaan kontradiktif, maka kedua pendapat saling bertentangan, bisa terjadi dalam perkara-perkara pokok (akidah) dan bisa pula dalam perkara furu’ (cabang- cabang fikih) yang menurut pendapat jumhur, bahwa yang benar hanya satu. Kami melihat banyak orang dari mereka yang terlibat dalam perbedaan pendapat jenis ini mengetahui bahwa penyelisihnya mengandung sisi kebenaran dalam batas tertentu, tetapi orang-orang cenderung menolak seluruhnya: yang salah dan bagian yang benar darinya. Akibatnya orang tersebut (diserang, meninggalkan kebenaraan) dan bertahan pada kesalahan yang sebelumnya dipegangnya. Hal ini banyak terjadi di kalangan ahl al-sunnah.

Adapun para ahlul bid’ah, sikap ini pada mereka jelas kentara. Barangsiapa yang menerima petunjuk dan Cahaya dari Tuhannya, dan memikirkan urusan mereka dengan baik akan menyadari manfaat Al-Qur’an dan Sunnah melarang sikap tersebut, meskipun hati-hati

yang murni akan secara insting mengingkari sikap tersebut. Jika demikian kasusnya maka inilah Cahaya di atas Cahaya.

Dalam perbedaan jenis pertama, Al-Quran menunjukkan bahwa kedua kelompok dalam masalah ini sama-sama terpuji bila sebagian tidak melanggar sebagian yang lain

sebagaimana firman Allah():

ﵞ ٥ .... ِّلِلَّٱ نِذۡإِبِفَ اهَلِوصُأُ ىَٰٓ َ لعَ ةًمَئِآقَ اهَومُتُكۡرَتَ وۡأَ ةٍنَيِ ل نمِ متُعۡطَقَ امَﵟ

Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah (QS. Al-Hasyr: 5)

Ayat tersebut diturunkan ketika dua golongan berselisih pendapat di antara mereka mengenai menebang pohon kurma Bani Nadhir.

Nabi (ﷺ) telah bersabda:

»رٌجْاأ هُال اف اأاطخْاأاف دا ها اتجْا ااذإِوا ،نِاراجْاأ هُال اف ابااصاأاف مُكِااْلْا دا ها اتجْا ااذإِ«

“Jika seorang hakim berijtihad lalu benar, maka ia berhak mendapat dua pahala, namun jika ia berijtihad lalu salah, maka ia mendapat satu pahala.” 212

Adapun mengenai jenis perbedaan yang kedua, yaitu perbedaan yang kontradiktif, yang dipuji hanya satu dari kedua belah pihak, sementara pihak yang lain dicela sebagaimana

firman Allah ():

اْوفُلَتَخۡٱ نِكِلَٰوَ تُنَٰيِ بَلۡٱ مُهُتۡءَآجَ امَ دِعۡبَ نَۢمِ مهِدِعۡبَ نَۢمِ نَيذِلَّٱ لَتَتَقۡٱ امَ ّلِلَُّٱ ءَآشَ وۡلَوَ....ﵟ ﵞ ٣٥٢ ..... رَۚفَكَ نمَّ مهُنۡمِوَ نَمَاءَ نۡمَّ مهُنۡمِفَ

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan. Akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada pula yang kafir. (QS. Al-Baqarah: 253)

Adapun mengenai Al-Qur’an, sebagian besar perbedaan yang terjadi muncul dalam hal penafsiran. Jalan yang paling aman adalah tetap berpegang pada yang disampaikan oleh Nabi kepada kita melalui riwayat Amr bin Syu’aib yang meriwayatkan dari ayahnya, yang meriwayatkan dari ayahnya, dengan mengatakan:

عُزِنْ اي اذا ها ،رِدا قالْا ِفِ انومُصِتْاَيا مْهُوا مٍوْ اي اتااذ هِبِااحصْاأ ىلاعا املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا اجرااخ«

اوبُرِضْات نْاأ ؟مْتُلْكِ وُ اذااِبِ مْاأ ؟َتُْرْمِأُ اذااِبِاأ :لااقا اف ،نِامَّرُّلا بُّاح هِهِجْوا ِفِ ائقِفُ ااَّنَّأا اكاف ،ةٍايِبِ عُزِنْ اي اذا هاوا ةٍايِبِ

»اوهُ ات نْااف هُنْعا مْتُيَِنُ اماوا ،هُوعُبِتَّااف هِبِ َتُْرْمِأُ اما اورُظُنْا ؟ ضٍعْ اببِ هُاضعْا ب ِّللَّا ابااتكِ


image

212 Diriwayatkan oleh Bukhari (7353) dan Muslm (1716)

“Suatu hari Nabi keluar kepada para sahabat beliau, saat itu mereka berdebat tentang qadar. Sebagian dari mereka berdalil dengan satu ayat, sebagaimana lainnya berdalil dengan ayat lain, maka Nabi marah hingga wajah beliau (merah) seperti dilempar biji delima, lalu beliau (ﷺ) bersabda: “Apakah dengan ini kalian diperintahan? Apakah dengan ini kalian ditugaskan? Kalian membenturkan sebagian dari Kitab Allah dengan sebagian lainnya? Lihatlah, apa yang diperintahkan kepada kalian lalu ikutilah, dan apa yang dilarang dari kalian, lalu jauhilah.” (Ahmad dalam Musnadnya)213

Dalam versi lainnya disebutkan tambahan kalimat berikut ini:

»رٌفْكُ نِآرْقُلْا ِفِ اءارامِلْا نَّإِوا ،اوفُال اتخْا َّتَّاح اونُعالُْ ي اَْل مْكُال بْ اق امماُْلْا نَّإِاف«

‘Sesungguhnya apa yang membinasakan kaum sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya. Perdebatan tentang Al-Qur’an adalah suatu kekafiran.”

Hadits yang disebutkan di atas sangat terkenal dan ditemukan dalam beberapa Musnad dan kitab Sunnah. Dalam Muslim pun terdapat riwayat yang bersanad dari Abdullah bin Rubah al-Ansari yang mengabarkan bahwa Abdullah bin Amr bin al-As berkata:

اان يْالعا اجرااخفا ،ةٍايآ ِفِ افاال اتخْا ّيِْلاجُرا اتاوا صْاأ اعمِاساف ،امًوْ اي املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لِوسُرا َلاإِ تُرْجَّها «

مْهِفِالاتِخِْبِ مْكُال بْ اق انااك نْما اكلاها ااَّنَّإِ :لااقا اف ، بُاضغلْا ا هِهِجْوا ِفِ فُراعُْ ي املَّاسوا هِيْلاعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا »بِااتكِلْا ِفِ

“Suatu ketika aku menemui Rasulullah. Beliau mendengar suara dua orang yang terngah berdebat tentang makna suatu ayat. Beliau keluar sambil marah, saking marahnya beliau berkata: “Kaum sebelum kalian binasa karena mereka memperdebatkan Kitab mereka.”214

Seperti telah diperkirakan, sebagian besar kelompok bid’ah berselisih dalam penafsirannya, meyakini sebagiannya dan mengingkari sebagian lainnya. Mereka menganggap sebagai ayat-ayat yang benar yang sejalan dengan pendapat mereka sendiri. Adapun ayat yang tidak sejalan dengan pendapat mereka, mereka memaknainya di luar konteks, atau akan berkata dengan mudahnya, “Kami tidak mengetahui apapun yang dimaksud dengan ayat tersebut.” Bisa dikatakan itu adalah jenis kekafiran juga, karena meyakini kata-kata tanpa maknanya merupakan sikap para Ahli Kitab yang mendapatkan

azab. Allah () telah berfirman:

ﵞ ٨٧ ... ىَِّنامَأَ آَّلإِ بَتَٰكِلۡٱ نَومُلَعۡيَ اَل نَويُّمِ أُ مۡهُنۡمِوَﵟ

Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong. (QS. Al-Baqarah: 78)


image

213 Diriwayatka oleh Ahmad (181) dan Ibnu Majah (85). Diriwayatkan oleh Muslim (2666) dari Hadits Abdullah bin Amr

214 Diriwayatkan oleh Muslim (2666)

Ayat tersebut ditujukan bagi orang yang membaca Kitab Suci tanpa mengetahui maknanya, tidak seperti seorang mukmin yang memahami sesuatu atau lainnya mengenai makna Al-Qur’an kemudian menghidupkannya. Adapun ayat yang maknanya tidak jelas bagi dia, dia serahkan maknanya kepada Allah.

FASAL: AGAMA YANG DIRIDHAI OLEH ALLAH


image

Agama Allah ada di langit dan bumi adalah satu, yaitu agama Islam. Allah berfirman: “Sesunguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali-Imran: 19) Allah pun berfirman: “Dan telah kuridhai Islam itu sebagai agama bagi kalian.” (Al-Maidah:3). Agama ini adalah (pertengahan) di antara sikap ekstrim (ghuluw) dan meremehkan; (juga pertengahan) antara tasybih (menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat manusia) dengan ta’thil (mengingkari Sifat-Sifat Allah); dan (juga pertengahan) antara (pandangan) Jabariyah dan Qadariyah, (juga pertengahan) antara rasa aman (dari azab Allah) dengan rasa putus asa (dari rahmat Allah).

Nabi (ﷺ) telah bersabda dalam riwayat yang terpercaya yang bersanad pada Abu Hurairah:


“Kami -para nabi- agama kami adalah satu.” 215

Dan Allah () berfirman:

»دٌحِاوا

اان نُيدِ ءِاايبِنْاْلْا راشِاعاما

َنَّإِ«

ﵞ٥٨ .... هُنۡمِ لَبَقۡيُ نلَفَ انٗيدِ مِلَٰسۡإِۡلٱ رَيۡغَ غِتَبۡيَ نمَوَﵟ

Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya (QS. Al-Imran: 85)

Meskipun ayat tersebut diturunkan karena situasi tertentu, namun risalahnya bersifat universal dan akan tetap demikian hingga akhir masa. Hanya rincian hukumnya saja yang

berbeda, sebagaimana firman Allah ():

ﵞ٨٤ ....اجٗاهَنۡمِوَ ةٗعَرۡشِ مۡكُنمِ انَلۡعَجَ لٖ كُلِ...

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (QS. Al- Ma’idah: 48)


image

215 Diriwayatkan oleh Bukhari (3443) dan Muslim (2365)

Sehingga agama adalah apa yang Allah nyatakan dengan lisan Utusan-utusanNya sepanjang masa. Karakteristik utamanya adalah agama sejelas kaca. Setiap orang yang berakal sehat, baik muda ataupun tua, Arab ataupun non-Arab bisa memasukinya kapan saja. Para utusan yang mendatangi Madinah (di masa awal perkembangan Islam) mempelajarinya dengan cepat, dan kembali ke negeri mereka masing-masing. Dan apa yang telah mereka pelajari sudah mencukupi bagi mereka.

Harus diperhatikan pula bahwa beberapa perbedaan yang dinyatakan dalam perintah Nabi yang beliau berikan kepada para delegasi dari negeri yang jauh, maka itu dibuat berdasarkan kebutuhan para individu yang bersangkutan. Jika mereka ternyata berasal dari negeri jauh, seperti Dumam bin Tsa’labah al-Najadi, atau delegasi dari Abdul al-Qays dari wilayah Bahrain, beliau mengajarkan apa yang mudah dipahami dan dihargai bahkan oleh yang paling jahil di antara mereka.

Beliau mengetahui bahwa agamanya akan tersebar luas dalam waktu yang singkat, mereka yang telah dibekali ilmu akan mengunjungi negeri-negeri itu lalu mengajarkan penduduknya apa yang paling penting untuk diketahui. Sebaliknya, ketika penanya adalah orang yang sering berkunjung, dan dapat menambah ilmunya secara bertahap, atau jika Nabi (ﷺ) mengetahui bahwa penanya tersebut telah mempelajari dasarnya, maka dalam kasus demikian, beliau memberikan jawaban sesuai dengan kebutuhan dan situasi orang tersebut. Contohnya adalah perkataan Nabi kepada seorang pemuda: “Katakan, “Aku beriman kepada Allah,” kemudian berpegang teguh kepadanya.”216

Thahawi pun telah menyatakan bahwa agama ini antara dua jalan yang esktrim, sebagaimana firman Allah ():

ﵞ ٧٧ .... مۡكُنِيدِ ىِف اْولُغۡتَ اَل بِتَٰكِلۡٱ لَهۡأَيَٰٓ َ لۡقُﵟ

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. (QS. Al-Ma’idah: 77)

Dan firman Allah():

نَيدِتَعۡمُلۡٱ بُِّحيُ اَل ّلِلََّٱ نَّإِ اْوۚٓدُتَعۡتَ اَلوَ مۡكُلَ ّلِلَُّٱ لَّحَأَ آمَ تِبَٰيِ طَ اْومُرِ َحتُ اَل اْونُمَاءَ نَيذِلَّٱ اهَيُّأَيَٰٓ َ ﵟ ﵞ ٨٨ نَونُمِؤۡمُ ۦهِبِ متُنأَ يٓذِلَّٱ ّلِلََّٱ اْوقُتَّٱوَ اۚبٗيِ طَ الٗلَٰحَ ّلِلَُّٱ مُكُقَزَرَ امَّمِ اْولُكُوَ ٧٨

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah Allah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya (QS. Al-Ma’idah: 87-88)

Shahihain pun memiliki riwayat dari Anas ia berkata,


image

216 (Perkataan ini mengacu pada insiden ketika seorang pemuda mendatangi Nabi dan meminta nasihat dengan perkataan yang dia tidak perlu dari bertanya kepada selain beliau. Nabi pun mengucapkan perkataan tersebut, pent)

املَّ اسوا هِ يْلاعا ُّللَّا ىلَّ اص ِّللَّا لِو سُرا اجاوازْاأ اولُاأ اس املَّ اسوا هِ يْلاعا ُّللَّا ىلَّ اص ِّللَّا لِو سُرا بِااح صْاأ نْ مِ ا سًَنا نَّاأ«

َلا :مْهُضُعْ اب لاااقوا ،اءااس ِنلا جُوَّزا اتاأ َلا :مْهُضُعْا ب لاااقوا ،امحْلَّلا لُكُآ َلا :مْهُضُعْا ب لااقا اف ؟رِ س ِ لا ِفِ هِلِما عا نْعا

؟اذا اكوا اذا اك مْهُدُ احاأ لُو قُا ي مٍاوا قْاأ لُِبا ا ما :لاا قا اف ،املَّ اسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِبَِّنَّلا اكلِاذ اغال اب اف ،شٍارافِ ىالعا مَُنااأ

»ِن ِمِ اسيْال اف ِتِنَّسُ نْعا ابغِرا نْمااف ،اءااس ِنلا جُوَّزا اتاأوا امحْلَّلا لُكُآوا ،مُوقُاأوا مَُنااأوا ،رُطِفْأُوا مُوصُاأ ِن ِ كِلا !

“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.” Kemudian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” 217

Ath-Thahawi pun menyatakan bahwa agama ini antara pengharapan dan rasa takut. Karena seorang manusia harus takut kepada azab Allah, namun dia harus tetap mengharapkan rahmat-Nya. Harap dan takut dalam Islam seperti kedua sayap seekor burung yang dibutuhkan oleh seorang hamba untuk terbang menuju Allah.

Ketika Imam Ath-Thahawi Abu Jafar Ahmad bin Salamah al-Ahzadi, semoga Allah merahmatinya, sampai pada poin ini, dan menyebutkan tentang aqidah Islam dan penyimpangannya, beliau mengakhiri risalah tulisannya dengan menyatakan:


image

217 Diriwayatkan oleh Muslim (1401)

image

Inilah agama dan akidah kami, lahir dan batin. Dan kami berlepas diri (bara’) kepada Allah dari orang-orang yang menyelisihi apa yang telah kami sebutkan dan telah kami jelaskan. Kami memohon kepada Allah kami agar meneguhkan kami di atas iman, dan menutup hidup kami dengannya. (Dan agar Allah) melindungi kita dari kecenderungan hawa nafsu yang saling berselisih, dan pikiranpikiran yang saling berpecah. (Dan agar melindungi kita) dari madzhab-madzhab yang celaka. Seperti al-Mutasabbihah, Muktazilah, Jahmiyah, Jabariyah, Qadariyah dan (golongan-golongan sesat) selain mereka, kelompok lainnya yang telah menyimpang dari Sunnah dan al-Jamaah dan (sebaliknya) berpihak kepada kesesatan. Dan kami berlepas diri dari mereka, dan mereka bagi kami adalah orang-orang sesat dan orang- orang yang celaka. Dan hanya kepada Allah-lah kami memohon perlindungan dan taufik.

Alasan dari kesesatan mereka dan kecondongan mereka adalah mengabaikan jalan lurus yang Allah perintahkan kepada kita untuk kita ikuti, seperti yang tertuang dalam firman

Allah():

ﵞ ٨٠١ .... يۖنِعَبَتَّٱ نِمَوَ ا۠نَأَ ةٍرَيصِبَ ىَٰلعَ ِّۚلِلَّٱ ىَلإِ اْوٓعُدۡأَ يٓلِيبِسَ ۦهِذِهَٰ لۡقُ ﵟ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (QS. Yusuf: 108)

Abdullah bin Mas’ud berkata:

نْعاوا هِنِيَِيا نْعا اطًوطُخُ طَّاخ ثَُّ ،ِّللَّا لُيبِاس اذا ها :لاااقوا اطًّاخ املَّاسوا هِيْالعا ُّللَّا ىلَّاص ِّللَّا لُوسُرا اانال طَّاخ«

اأرا اق ثَُّ ،هِيْالإِ وعُدْاي نٌااطيْاش لٍيبِاس لِكُ ىالعا ،لٌبُسُ هِذِها :لاااقوا ،هِرِااساي

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah,” kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan

kanan garis tersebut, lalu bersabda,”Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membaca :

مۡكُلِذَٰ ۦهِۚلِيبِسَ نعَ مۡكُبِ قَرَّفَتَفَ لَبُسُّلٱ اْوعُبِتَّتَ اَلوَ هُۖوعُبِتَّٱفَ امٗيقِتَسۡمُ يطِرَٰصِ اذَهَٰ نَّأَوَﵟ ﵞ٣٥١ نَوقُتَّتَ مۡكُلَّعَلَ ۦهِبِ مكُىٰصَّوَ

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah. Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-An’am: 153) 218

Berdasarkan ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa memohon perlindungan dan berdoa agar ditunjukkan jalan yang benar harus diutamakan di atas kebutuhan yang lainnya. Itulah alasan mengapa Allah telah memerintahkan kita untuk membaca Surah Al-Fatihah, dalam

setiap rakaat sholat. Allah () memerintahkan kita untuk:

نَيِ لٓاضَّلٱ اَلوَ مۡهِيۡلَعَ بِوضُغۡمَلۡٱ رِيۡغَ مۡهِيۡلَعَ تَمۡعَنۡأَ نَيذِلَّٱ طَرَٰصِ ٦ مَيقِتَسۡمُلۡٱ طَرَٰصِ لٱ انَدِهۡٱﵟ

ﵞ ٧

Tunjukkilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat. (QS. Fatihah: 6-7)

Nabi menjelaskan ayat-ayat tersebut dengan berkata:

»انولُّااض ىراااصنَّلاوا ،مْهِيْلاعا بٌوضُغْما دُوهُ ايلْا«

“Yang dimaksud adalah Yahudi, yaitu jalan yang dimurkai, sedangkan Nasrani adalah jalan yang sesat.” 219

Sejumlah riwayat yang terpercaya juga mengabarkan bahwa Nabi(ﷺ) bersabda:

َيا :اولُااق ،هُومُتُلْاخداال ب ٍ اض راحْجُ اولُاخاد وْال َّتَّاح ،ةِذَّقُلِْبِ ةِذَّقُلْا واذْاح مْكُال بْ اق انااك نْما اننااس نَّعُبِتَّ اتال«

! »؟ نْمااف :لاااق ؟ىراااصنَّلاوا دُوهُ ايلْا :ِّللَّا لاوسُرا

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” 220

Sebagian ulama dari generasi terdahulu telah berkata:


image

218 Shahih. Diriwayatkan oleh Ad-Darimi (1/67), Ahmad (1/435)

219 Shahih. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2954) dan Ahmad

220 Diriwayatkan oleh Bukhari (3456) dan Muslim (2669)

“Siapapun dari ulama ummat ini telah menyimpang, akan menyerupai Yahudi, sedangkan siapapun dari orang awam yang menyimpang, niscaya dia akan menyerupai Nasrani.”

Mari kita memohon kepada Allah untuk memberikan kita perlindungan dan keselamatan. Segala puji bagi Allah, Yang Maha Kuasa yang jauh dari segala yang mereka sekutukan. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.